Senin, 23 Maret 2015

Bab I DBT

#BAB_I_DBT
Penghuni Kamar Gelap
Oleh ; Titien SDF

Sebuah rumah besar nan mewah terletak di jantung Kota Semarang. Ada banyak kamar di dalamnya. Di salah satu bagiannya, terdapat sebuah ruang sempit dan gelap tanpa jendela. Kontras sekali dengan semua yang ada di sana. Hanya ada sebuah kasur, sebuah lemari dan sebuah meja kecil. Letaknya a ruang gak tersembunyi di dekat dapur, bersebelahan dengan kamar pembantu. Beberapa boneka dan mainan anak-anak berserakan di lantai.

Ini adalah kisah tentang Laisa. Seorang bocah perempuan berusia 12 tahun. Rambut hitamnya indah nan lebat, sayang kurang terawat. Bulu matanya lentik, menatap kosong tanpa cahaya, bagai sebuah boneka tanpa ekspresi.

Tak ada yang salah dengan anggota tubuhnya. Semua lengkap, hanya tulang kakinya yang sedikit bengkok membentuk huruf 'O' bila sedang berjalan, tertatih dan sedikit pincang. Namun, nyaris tak bisa diajak bicara. Mungkin hanya Mbok Nah yang paham dengan kata-katanya yang tak jelas, persis seperti bocah usia dua tahun. Biasanya, dia hanya duduk diam dan asyik bermain dengan saputangan kumal kesayangannya. Saputangan yang sudah pudar warnanya bercampur air liur, ingus dan kotoran lain yang terjamah oleh tangannya.

Seperti yang sudah-sudah, setiap pagi menjelang siang Mbok Nah menuntun Laisa keluar kamar. Kedua kakaknya sudah berangkat sekolah. Kedua orang tuanya pun sudah berangkat kerja. Hanya tinggal Laisa dan Mbok Nah. Pembantu rumah tangga yang sudah berpuluh tahun mengabdi kepada Tuan dan Nyonya Sampurno.

Mbok Nah begitu sabar memandikan dan menyuapi Laisa. Kemudian mendudukkannya di ruang keluarga, menunggui sambil menyelesaikan pekerjaan rumahnya.

Laisa masih asyik memainkan saputangan kumalnya dalam wadah berisi air dan mangkuk plastik kecil berisi sabun. Dia terlihat gembira menggosok-gosokkan saputangan penuh sabun ke dalam air. Ditiupnya gelembung-gelembung sabun dengan gembira.

"Tus... tus... dor... tus... tus... dor... hahaha... Na... Na...," serunya terkekeh-kekeh.

"Iya, bagus ya Non..., kayak balon," jawab Mbok Nah sambil mengerjakan pekerjaan lainnya.

"Tung... tung... Na...," seru Laisa lagi.

Perempuan setengah tua itu meletakkan pekerjaannya dan mendekati Laisa. Merapikan dan mengikat rambut hitamnya agar tak jatuh menutupi wajah cantiknya. Lalu memegang tangan Laisa dan mulai menghitung.

"Satu... dua... tiga... empat... banyak sekali Non," katanya sambil memperlihatkan sepuluh jari tangan Laisa. Laisa tertawa.

"Anyak... anyak... hahaha...," seru Laisa mengibas-ngibaskan kedua tangannya. Busa sabun pun berhamburan di mana-mana.

Mbok Nah menatap wajah cantik itu dengan iba. Seharusnya, anak seusianya bisa sekolah dan bermain dengan teman-teman sebayanya. Bukan seperti ini.

"Na... Na... tus... tus...."

Laisa masih terus asyik dengan mainannya. Kali ini, ditumpahkannya sabun dan air ke bajunya sendiri. Menggosok dan meniup berulang kali sambil tertawa gembira.

"Basah semua Non, ayuk ganti baju...," kata Mbok Nah.

"Hua... hua... tus... tus...," ronta Laisa. Hati Mbok Nah pun terenyuh.

"Mbok Naaah! Kenapa Laisa dibiarin mengotori karpet?!"

Mbok Nah menoleh kaget. Rupanya Angga, kakak Laisa sudah pulang dari sekolah.

"Den Angga sudah pulang?" tanyanya.

"Ya," jawab Angga pendek sambil menyeret tangan Laisa menuju kamarnya.

"Hua... hua... tus... tus...," tangis Laisa meronta-ronta.

"Jangan Den, biar Mbok Nah saja," pinta Mbok Nah pada Angga.

"Ya sudah. Urus anak sialan ini, dan jangan biarkan dia keluar dari kamarnya," teriak Angga akhirnya.

Mbok Nah menuntun Laisa yang masih terisak masuk ke kamarnya. Dengan iba, digantinya baju basahnya dengan yang kering. Mendudukkannya di atas kasur yang diletakkan di atas lantai begitu saja.

"Non Laisa di sini dulu ya, biar Mbok Nah ambilkan makan. Non lapar ya," bisik Mbok Nah. Digerakkannya tangannya ke arah mulut dan perut. Memberi isyarat seolah sedang makan. Laisa mengangguk gembira, menunjuk-nunjuk mulut dan perutnya sendiri.

Tak berapa lama, Mbok Nah pun kembali dengan sepiring nasi dan sayur bayam kesukaan Laisa. Bocah itu tampak lahap sekali makannya.

Mbok Nah meletakkan piring kosong di atas lantai. Dibelainya Laisa dengan penuh iba, mengantarkan tidurnya.

"Mimpilah yang indah Non," gumamnya. Satu per satu bulir air mata jatuh di pipinya. Semua untuk meratapi nasib Laisa. Bagaimana tidak? Lahir di tengah-tengah keluarga berada, seharusnya membuat Laisa bahagia. Tapi... tidak, nasib Laisa tak lebih baik dari kelinci-kelinci peliharaan orang tuanya. Kelinci-kelinci itu memang diberi makan dan perawatan, namun tak boleh keluar dari kandang.

Mbok Nah mengusap air matanya. Dadanya masih dipenuhi rasa sesak, untuk Laisa. Bocah perempuan malang itu tak pernah boleh keluar dari kamarnya. Apalagi kalau majikannya sedang ada acara. Laisa akan dikurung dalam kamar yang dikunci dari luar. Dan hanya Tuan dan Nyonya Sampurno yang memegang kuncinya. Tanpa makanan dan tanpa penerangan. Untunglah, mereka juga tak pernah mau melihat keadaan kamar Laisa sehingga mudah bagi Mbok Nah untuk menyusupkan beberapa kaleng roti dan air mineral dalam botol. Setidaknya, itu bisa mengganjal perut laparnya dan membungkam teriakannya.

"Jangan sampai ada orang yang tahu tentang Laisa. Anakku hanya Angga dan Lena."

Begitu kata Tuan Sampurno dan Nyonya Lilia yang harus diingatnya. Itulah mengapa, dia hanya berani mengeluarkan Laisa dari dalam kamar bila mereka semua sudah pergi. Karena dia tahu, bagaimana rasanya dikurung dalam kamar tanpa penerangan. Karena dia tahu, bagaimana rasanya diingkari keberadaannya oleh orang tua sendiri. Bahkan kedua kakak kandungnya tidak menyadari kedekatan hubungan mereka.

"Laisa... Laisa..., mungkin Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang istimewa buatmu," gumamnya sambil membelai tubuh mungil yang tertidur pulas di sampingnya. Ditariknya selimut untuk menyelimutinya. Dikecupnya lembut keningnya.

"Semoga satu hari nanti, semua orang bisa menerima kehadiranmu dengan senang hati," gumamnya lagi.

Mbok Nah bergegas keluar dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sebentar lagi Tuan dan Nyonya pulang, jadi dia harus cepat mempersiapkan semuanya.

"Ke mana Den?" tanyanya pada Angga yang kelihatan terburu-buru hendak pergi.

"Jemput Lena," jawabnya pendek.

Den Angga sayang sama Non Lena, pikirnya. Andai Den Angga tahu kalau Non Laisa itu adiknya juga, akankah dia berlaku sama? Menyayanginya seperti Non Lena? Kasihan Non Laisa, dia hanya butuh ditemani dan diajak bicara. Tapi... mana berani dia mengatakannya pada Den Angga dan Non Lena. Bagaimana kalau Tuan dan Nyonya marah dan mengusirku? Bagaimana nasib Non Laisa nanti. Ah... sudahlah.

Berjuta kecamuk tanya melintas di hati Mbok Nah. Pertanyaan yang selalu muncul dan tak pernah bisa dijawabnya. Menyisakan kepasrahan dan berlapis-lapis doa untuk seorang anak yang diasuhnya sejak kelahirannya. Anak yang harus diakuinya sebagai anaknya, Laisa.

#Demak, 17032015
 

Permata itu bernama kejujuran

"Permata Itu Bernama Kejujuran"

Permata adalah sesuatu yang sangat berharga, disuka dan dicari sesiapa pun di dunia.  Ada kalanya, orang harus rela menyelam dalam lumpur, mengeduk di kedalamannya untuk mencari keberadaannya. Kemudian, masih harus mengasah dan memolesnya agar terlihat sinarnya yang indah memendarkan pesona. Sebagian orang, mungkin tak perlu berpayah-payah melakukan proses demi proses untuk mendapatkannya. Namun, dia pun harus merogoh pundi-pundi sedalam-dalamnya. Atau bahkan harus rela mengorbankan atau menjual sesuatu miliknya untuk menebusnya.

Di dunia ini, banyak yang bernilai layaknya permata. Mereka susah dicari dan sangat bernilai harganya. Langka namun sangat diimpikan dan diinginkan oleh sesiapa. Salah satu permata itu adalah kejujuran dalam diri manusia. Diharapkan dapat menghiasi akal pikiran, hati dan amal perbuatannya.

Tak dapat dipungkiri, setiap orang menginginkan orang lain berlaku jujur padanya. Tak hanya di depan mata, namun juga jujur di belakangnya. Semua orang, tak terkecuali para pendusta, mereka pun menginginkan hal yang sama. Walaupun mereka sendiri tak bisa menjaga keberadaannya dan terus berdusta.

Dewasa ini, kejujuran menjadi sesuatu yang langka. Sebaliknya kedustaan mendominasi segala kondisi dan suasana. Para pedagang menyembunyikan kekurangan barang dagangannya dengan dusta. Pembeli menawar harga dengan semena-mena, bahkan kadang sampai mengarang cerita. Orang tua mengajarkan kebohongan pada anaknya. Anak-anak berbohong agar terhindar dari hukuman guru dan orang tuanya. Polisi lalu lintas mencari-cari alasan agar bisa menerbitkan surat tilangnya. Pengguna jalan berpura-pura tidak melihat lampu merah yang menyala ataupun rambu yang ada. Para demonstran menyuarakan haknya dengan melebih-lebihkannya,  mendramatisir suasana. Para pejabat menutup mata, telinga dan mulutnya. Berpura-pura tak tahu apa-apa yang terjadi di sekelilingnya. Ghibah dan fitnah di mana-mana. Salah siapa?

Benarkah kejujuran itu sudah pergi entah ke mana? Tidak, Allah menyertakannya pada tiap-tiap jiwa yang terlahir di alam dunia. Menyatu dengan fitrah manusia yang melekat atasnya. Lalu mengapa dia serasa tiada dan pergi entah ke mana? Kitalah yang lupa keberadaannya, sehingga dia tetap terkubur dalam-dalam di sudut hati kita. Menunggu tangan-tangan keimanan menyentuh dan mengangkatnya. Kemudian mengasah dan memolesnya hingga mewujud nyata dalam akhlak kita. Akhlak yang karimah dan penuh pesona.

Suatu ketika, seorang badui hendak masuk Islam dengan mengajukan syarat kepada Nabi saw. Syarat agar diberikan dispensasi untuknya tersebab tiga kebiasaannya yang susah dihilangkan yaitu, berzina, mabuk dan dusta. Rasulullah saw mengabulkan permintaannya dengan memintanya untuk selalu jujur dan menghindari dusta. Setiap kali bertemu, Rasulullah saw selalu menanyakan keadaannya dan apa yang telah dilakukannya. Pada akhirnya ketiga kebiasaan buruknya pun dapat dihilangkan karena rasa malu untuk melakukan dan membicarakannya.

Rasulullah saw bersabda, "hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa pada surga." (HR Bukhari)

Allah swt berfirman dalam Alqur'an surah Ashshaff ayat 2-3, yang artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Itu sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."

Kejujuran adalah sumber keberhasilan, kebahagiaan dan ketentraman yang harus selalu diasah dalam diri setiap muslim. Pun dimunculkan dari diri anak-anak mereka sejak dini.

Munculnya sikap jujur bisa jadi dipengaruhi oleh tiga hal, peran orang tua, peran pendidik dan peran lingkungan.

Orang tua mempunyai peran paling dominan dalam memunculkan sikap/karakter jujur dalam diri anak-anak mereka. Mendidik mereka dengan nasehat dan memberi teladan yang baik dalam ucapan maupun perbuatannya. Karena seorang anak akan meniru apa yang dilihat dan didengarnya. Memberikan rasa aman dan senantiasa menepati janjinya. Karena seorang anak selalu ingat pada apa yang dijanjikan padanya. Tanamkan pula nilai-nilai agama pada anak, bahwa dirinya tak lepas dari pengawasan Allah yang Maha Mengawasi segala makhluk-Nya. Orang tua pulalah yang harus memilihkan lingkungan tempat tinggal yang baik, memilihkan sekolah dan guru yang baik untuk anak-anaknya.

Seorang pendidik atau guru pun mempunyai peran yang tak kalah penting dari peran orang tua. Dialah pengemban amanat menggantikan peran orang tua bila anak didiknya berada dalam lingkungan sekolah. Memang tidak mudah karena seorang pendidik tak hanya membina satu orang anak saja, tetapi banyak siswa. Namun bukan pula sesuatu yang mustahil bila dilakukan terus menerus, dibiasakan dan dievaluasi sejauh mana keberhasilannya. Masukkan nilai-nilai agama dalam tiap mata pelajaran yang ada, buang budaya malas dan dusta.

Dewasa ini, kantin kejujuran menjamur di beberapa tempat. Setidaknya, ini pun merupakan upaya untuk mengasah nilai-nilai kejujuran yang ada dan membumikannya.

Apabila orang tua dan para pendidik mau mengoptimalkan perannya dan senantiasa menyertakan doa untuk anak-anak (didik) mereka, in sya Allah permata kejujuran akan terasah dan mewujud nyata dalam tingkah laku mereka. Mereka pun akan mendewasa bersamanya, menyertakannya dalam setiap aktivitas dan membumikannya. Tak ada lagi pelanggaran, dunia damai karenanya. Siapakah yang tak menginginkan itu semua?

Maka saudaraku, mari kita asah permata kejujuran dalam diri kita, dalam diri anak-anak (didik) kita, agar sinarnya memendar menerangi semesta.

#Demak, 12032015

Balada si Surti


Balada Si Surti
Oleh : Titien SDF

Adzan subuh baru saja terdengar. Hawa dingin menusuk tulang. Sesekali terdengar kokok ayam jantan memecah kesunyian. Selebihnya, hanya suara jangkrik yang mengantar beberapa orang untuk berjamaah di mushola Kampung Rambutan.

Di sebuah rumah di ujung gang, Surti melipat mukenanya, mematikan kompor dan meletakkan hasil masakannya dini hari tadi du atas meja. Bukan masakan istimewa, hanya sedikit nasi, dan tempe sisa kemarin.

Surti merapikan pakaiannya. Mencium kening Thole yang masih tidur. Dihampirinya suami yang sejak dua tahun lalu berhenti bekerja. Semua karena kecelakaan di pabrik tempat kerjanya, membuatnya kehilangan kedua kaki dan mata pencahariannya. Dan harus merelakan Surti untuk menggantikannya mencari penghidupan. Bukan di pabrik yang sama, tapi kepayahannya tak jauh berbeda.

"Aku pergi dulu, Pak," pamit Surti mencium tangan suaminya. Suaminya hanya bisa mengangguk lemah, mengantarnya pergi dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan.

"Mak...! Jangan pergi...!"

Surti berhenti menuntun sepedanya, menoleh ke arah suara. Di sana, si Thole sudah berdiri memeluk daun pintu, memintanya tinggal. Ah, anakku sayang, keluhnya dalam hati, Emak harus bergegas.

Surti menghampiri si Thole, mengecup keningnya dan berbisik di telinga bocah tiga tahun itu, "Emak harus kerja, karena kita harus beli sesuatu untuk kita makan. Emak titip Bapak ya... Thole anak Emak, Thole mesti bantu Emak. Jangan nangis, jaga Bapak, tunggu Emak pulang."

Surti bergegas berangkat tanpa menunggu jawaban si Thole, disimpannya perih yang menjalar di hati dalam-dalam. Digenjotnya sepeda sekuat tenaga, menyusuri areal persawahan, melintasi rel kereta, melewati jalan raya menuju pabrik tekstil tempatnya bekerja.

Pintu gerbang masih terbuka saat Surti tiba di sana.

"Cepat! Cepat! Kalian ini seperti kambing-kambing yang lamban jalannya...," sambut Pak Mandor kasar. Matanya jalang menjelajahi tubuh Surti dari atas kepala sampai ujung kaki. Perempuan itu hanya bisa diam sambil menuntun sepedanya saat tangan Pak Mandor meremas beberapa bagian tubuhnya. Bukan sekali ini Pak Mandor berbuat begitu. Terkadang saat bekerja, menyortir tekstil-tekstil yang tak layak jual, Pak Mandor memeluknya dari belakang dan melakukan hal serupa. Suara mesin yang begitu bising menenggelamkan jeritannya. Dan tenaganya tak seberapa untuk melawan lelaki kekar tak bermoral itu. Sakit dan perih terasa, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya buruh rendahan, dan dia sangat membutuhkan pekerjaan. Perlahan, air matanya bercucuran.

"Kenapa Ti? Kamu dijahili lagi?" tanya Mbak Mumun, temannya.

"Lain kali bawa pisau kecil dari rumah. Kalau dia mau melakukannya lagi, tusukkan pisaumu ke itunya, terus lari sekuat tenaga," saran perempuan gendut itu.

"Hallaaah..., nikmati ajah..., siapa tahu bisa jadi selingkuhannya. Kan uangnya ngalir juga...," sahut Ninin mencibirnya.

Surti hanya mengelus dada. Siapa yang mau jadi selingkuhan, aku ini punya agama Mbak. Aku gak mau dilaknat Tuhan, jeritnya dalam hati. Tapi aku juga tak seberani Mbak Mumun, apa aku bisa melakukannya? jerit hatinya lagi. Semua ini benar-benar tak membuatnya nyaman saat bekerja. Bila bukan karena beban keluarga yang harus ditanggungnya, dia pasti tak akan berada di sini.

Surti berusaha konsentrasi pada pekerjaannya. Kali ini dia bertukar tempat dengan Mbak Mumun. Memilih berada di ruang pencucian yang panas dan terbuka ketimbang di ruang penyortiran yang tertutup. Semoga Mbak Mumun tidak dijahili seperti dirinya, doanya dalam hati.

Waktu cepat sekali berputar, hari menjelang sore. Pekerjaan Surti sudah selesai. Bergegas dia menuju barisan, menunggu giliran Pak Mandor menyerahkan upah mingguannya. Surti menelan ludah, tak ada lagi pekerja yang ada di belakangnya. Dirapalnya semua doa yang dihapalnya, berharap tak terjadi sesuatu yang buruk.

Satu per satu pekerja menerima upahnya. Giliran Surti pun tiba. Dengan takut-takut, dilangkahkannya kakinya untuk meminta haknya.

"Aku kangen padamu...," bisik Pak Mandor menarik Surti ke dalam pelukannya. Diselipkannya amplop berisi upah ke balik baju Surti dan meremas isinya dengan gemas. Kata-kata Mbak Mumun pun terngiang-ngiang di kepalanya, "Kalau dia menjahilimu lagi, tusuk itunya dan lari sekuat tenaga."

Surti mengumpulkan seluruh keberaniannya, sekejap, matanya menangkap sebuah gunting di atas meja. Diambilnya diam-diam, dan dengan sekuat tenaga dihunjamkannya di bawah perut Pak Mandor.

"Arggghhh... kau mau membunuhku ya...!" teriak Pak Mandor memegangi barang berharganya. Darah mengucur membasahi celana, merembes di antara jari-jarinya.

Surti terperangah. Hanya sekejap lalu lari menuju sepedanya dan menggenjotnya sekuat tenaga. Pulang. Entah bagaimana pula nasibnya esok hari, dia tak lagi peduli.

#Demak, 13032015



Kamis, 12 Maret 2015

Balada perempuan pekerja


Balada Perempuan Pekerja
Oleh: Titien SDF

Pagi masih buta
Menutup mata untuk perempuan pekerja
Bersepeda menuju pabrik berkilometer jauhnya
Berbekal tangis anaknya yang masih balita

"Maafkan Emak, anakku sayang
Kalau tak datang, Emak pasti ditendang
Upah mingguan juga akan turut melayang
Kelaparan dan sakit pasti sudah menghadang"

Di pintu gerbang, sang mandor menyambut garang
Kata-katanya penuh berisikan kebun binatang
Matanya liar, tangannya comot sana sini tak keruan
Sang pekerja hanya bisa mengelus dada ketakutan

Saat gajian pun akhirnya tiba
Satu per satu tagihan ikut menyusulnya
Menyisakan lembaran rupiah tak seberapa
Sekadar cukup untuk mengganjal perut sekeluarga

"Maafkan Emak, anakku
Tiada oleh-oleh yang kubawa untukmu
Biarlah dekap hangatku menemani tidurmu
Mengusap perih dan menuntaskan rindu"
#Demak, 13032015

Dinda oh Dinda


Dinda oh Dinda
Oleh  : Titien SDF

"Busyeeet... sudah jam enam pagi," keluh Dinda, tergeragap bangun saat sinar matahari pagi menyoroti muka lewat kaca jendela kamarnya.

"Mom Lilis kok gak bangunin aku sih?!" teriaknya.

"Lah... gue juga baru bangun Non," sahut Mom Lilis, pembantu sekaligus teman curhat Dinda itu dengan kalem.

"Jadwal take off pesawat jam tujuh nih... bisa telat aku," kata Dinda lagi.

"Ya udah, buruan berangkat gih. Mandi sama sarapannya kan bisa nanti-nanti kalo dah nyampe tujuan. Beres kan," jawab Mpok Lilis lagi. Masih santai, membuat Dinda gemes. Bantuin kek... atau apa, pikirnya.

"Bawa tuh roti kirimannya Mas Aji Santos buat ngemil di jalan, biar gak kelaparan," sahut Mpok Lilis lagi.

Dinda bergegas lari ke kamar mandi, cuci muka dan sikat gigi ala kadarnya. Dia sedang tak ingin meladeni mulut bawel Mpok Lilisnya. Tak sampai lima menit, Dinda sudah siap dengan t-shirt dan celana bermuda kesayangannya. Sepatu kets nike pun sudah melekat di kedua kakinya. Busyeeet... cepet amat.

Dinda menyambar tasnya yang berisi laptop dan surat-surat penting (surat tanah, surat tagihan, surat panggilan, surat cinta dan segala macam surat lainnya). Tak lupa disambarnya kardus berisi rpti kiriman dari Aji Santos, cheff penggemar beratnya. Kalau aku sih, gak mau yang berat-berat... entar gak kuat bawa.

"Aku berangkat dulu Mom!" teriak Dinda sambil berlari.

"Ya... titi DJ... jangan berantem di jalan ya...," teriak Mpok Lilis tak kalah keras dari balik jamban.

Beruntung, sebuah taksi melintas di depan rumah sehingga Dinda tak perlu menunggu lama.

"Bandara Soekarno Hatta Bang," seru Dinda sambil membuka pintu taksi dan menghempaskan pantatnya. Dibukanya tas mencari bedak dan lipstik andalanya. Setidaknya, orang tak boleh tahu kalau dirinya belum mandi dong. Jaim.

"What?! Kagak ada?!" teriak Dinda mengagetkan Pak Sopir yang refleks menoleh kepadanya.

"Ada apa Mbak?"

"Petoook...! Pletak...!"

Terdengar suara ayam terlindas taksi berbarengan dengan Pak Sopir yang bertanya pada Dinda.

"Bang! Bang! Berhenti! Abang harus ganti rugi ayam saya!" teriak seorang ibu sambil berlari mengejar taksi yang ditumpangi Dinda. Pak Sopir pun berhenti dan mempersilahkan si ibu untuk meminta ganti rugi pada Dinda.

"What?! Situ yang nabrak aye yang suruh ganti rugi. Kagak salah Bang?!" teriak Dinda marah.

"Lah, Mbak kan yang mengagetkan saya sehingga gak lihat ada ayam di jalan?!" jawab Pak Sopir tak kalah keras. Suara mereka pun mengundang semakin banyak warga yang ingin tahu apa yang terjadi.

Melihat banyaknya warga yang mendekat, akhirnya Dinda pun mengalah dan berkata, "ya udah deh ya. Aye ganti, tapi pake uang Abang dulu ya. Dompet aye ketinggalan nih. Ayuh Bang, buruan... kita balik ke rumah yang tadi...."

Pak Sopir pun terpaksa menyerahkan isi dompetnya dan berputar haluan mengantar Dinda pulang.

Sesampai di rumah, Dinda lari secepat kilat mengambil dompet dan kembali lagi menuju taksi. Disuruhnya Pak Sopir pindah duduk di jok belakang.

"Biar aye supirin deh... keburu telat," kata Dinda membiarkan Pak Sopir yang duduk seperti orang linglung di jok belakang.

Tak sampai sepuluh menit, taksi yang mereka tumpangi pun mogok.

"Ya ampun... aye lupa ngisi bensin Mbak!" teriak Pak Sopir membuat Dinda gemas. Untunglah pom bensin tak terlalu jauh sehingga Pak Sopir tak perlu berlama-lama mendorong taksinya.

Dinda melirik jam tangannya. Jarumnya menunjuk waktu 06.30 wib. Diterjangnya semua lampu merah dan berdoa semoga tak ada polisi lalu lintas yang melihat aksinya. Tak dihiraukannya Pak Sopir yang ketakutan melihat aksi gilanya itu. Biarin... ngejar waktu nih, pikirnya.

Jam tepat menunjuk angka 06.50 wib saat Dinda sampai di Bandara Soekarno Hatta. Diulurkannya dua lembaran seratus ribu kepada Pak Sopir yang terkencing-kencing di celana.

"Ini buat bayar ongkos taksi sama ongkos takutnya Abang, makasih ya," katanya dan bergegas berlari mencari pesawat yang akan ditumpanginya. Ditunjukkannya tiket kepada seorang penjaga.

"Wah... itu sudah terbang baru saja Mbak," jawab si penjaga.

"Loh, ini kan masih kurang lima menit lagi," kata Dinda protes.

"Jam tangan Mbak yang salah kali... tuh di dinding sudah jam 07. 25 wib," jawab si penjaga.

"Jiaaaah... padahal sudah mengerahkan sekuat tenaga untuk sampai di sini... kok jamku salah sih...," keluh Dinda lemas. Kelelahan pun menggelayuti tubuhnya.

Pesawat sudah terlanjur berangkat, Dinda pun menumpahkan kekesalan dengan menghabiskan roti yang dibawanya sekardus-kardusnya. Kenyang deh.

#Demak, 12032015

Rumah sastra Dinda

Rumah Sastra Dinda
Oleh: Titien SDF

Rumah itu tak seberapa besar, namun tampak cukup kokoh. Terletak di salah satu sudut kota Yogyakarta. Dindingnya juga belum selesai dicat, ruangannya pun masih kosong, belum terisi apa-apa.

Dinda masih berdiri di depan teras, merasakan semilir angin senja Yogyakarta. Beberapa helai daun terbang terbawa angin, jatuh di halamannya. Mengingatkannya pada masa kecil. Pada kebebasan dan harmoni yang ingin dibangunnya.

Dinda menebarkan pandangannya, di ujung jalan berdiri sebuah percetakan langganannya. Sengaja dipilihnya tempat ini untuk mewujudkan rumah sastra impiannya. Rumah yang benar-benar ada, berdiri tegak dengan kegiatan sastra di dalamnya. Rumah yang dapat dilihat, disentuh dan diabadikan. Yang bisa dijadikannya tempat berkumpul anggota keluarganya di dunia maya. Agar dia bisa berkata, "inilah rumah kita. Rumah Din's dan penerbit Din's.

Din's, nama yang dilekatkannya pada sekelompok teman pena, yang tertarik untuk aktif dalam dunia kepenulisan, dunia sastra, dunia buku, dunia yang dicintainya sejak kecil.

"Apa project minggu ini, Mbak Dinda?"

"Mbak Dinda, kapan pengumumannya nih?"

"Woiii... karyaku dibaca gak sih?"

Kalimat-kalimat itu sangat akrab menyapanya, terkadang membuatnya kesal namun juga sangat dia rindukan. Kalimat yang membuatnya merasa berarti dan berharga di antara para membernya.

Memang, ada kalanya Dinda kesal setengah mati bila ada member yang tak paham-paham dengan arahannya. Menulis disingkat-singkat, tidak sesuai EYD, bahkan mereka yang tak paham dengan apa yang mereka tulis. Namun, seringkali Dinda juga merasa bahagia, bila ada member yang makin pinter menulis. Apalagi bila ada yang karyanya berhasil dibukukan/ diterbitkan.

"Beep... beep... beep," beberapa pesan di ponselnya.

"Di mana nih, Mbak Dinda?" tulis Wantie.

Dua pesan yang serupa dikirim oleh Bu Lilis dan Lia.

Dinda pun menuliskan sebuah alamat dan meminta mereka bertiga segera menyusulnya.

"Ogah, aku lagi asyik mengamati Masjid Aya Sofia. Mau bikin yang serupa di rumah," tulis Bu Lilis.

"Maaf Mbak Dinda, lagi ketimbun karya member Din's," tulis Lia.

"Sorry Boss, lagi kopdar sama Wahyu. Ngerjain tugas," tulis Wantie.

What? Kalian yang nanya di mana aku, malah gak mau kusuruh kemari.... Jiaaah, gak bisa dibiarkan nih, pikirnya kesal.

"Nek, udah tua jangan liat kartun Putri Sofia dong... itu kan pantesnya buat cucu nenek," balas Dinda pada Bu Lilis.

Bu Lilis kesal sekali membacanya, orang lihat Masjid Aya Sofia dibilang nonton kartun Putri Sofia. Dasar gila! pikirnya. Segeralah ditulis pesan balasan.

"Mau kutulis buat project dongeng Din's berikutnya. Hehe."

Di tempat lain Lia gemes membaca pesan balasan Dinda.

"Loh, katamu cinta mati sama sastra, bagus kan kalau jadinya terkubur hidup-hidup di dalamnya."

Sedang Wantie dan Wahyu senyum-senyum sebal oleh bunyi balasan Dinda.

"Kalau masih mau jadi member Din's segera kemari. Jangan pacaran ajah." Siapa yang pacaran sih? Wantie dan Wahyu saling berpandangan. Mereka pun saling mengangguk dan secepat kilat menyusul Dinda. Tak lupa dibawakannya sepatu boot Dinda yang tertinggal di rumah Wantie. Masak sih?

Dinda sedang mereka-reka rencana penataan rumah sastra barunya, tiba-tiba tiga buah taksi hampir berbarengan berhenti di depan rumah. Dari dalamnya keluar Bu Lilis, Lia, Wantie dan Wahyu dengan tergopoh-gopoh.

Bu Lilis langsung saja nyelonong masuk sambil membawa dipan lengkap dengan kasur dan bantal gulingnya.

"Mau ngapain nek?" tanya Dinda heran.

"Numpang tidur... ini rumahku juga kan," jawab Bu Lilis santai.

"Jiaah... ini mau ngapain juga?" seru Dinda saat dilihatnya Lia asyik menempelkan sesuatu di dinding rumahnya.

"Biar nggak menimbun, karya-karya ini mau taktempelin sini ajah, ngirit cat... ini rumahku juga kan," kata Lia kalem.

Dinda makin garuk-garuk kepala melihat Wantie dan Wahyu asyik menata sepatu boot dan barang-barang Dinda lainnya di depan pintu.

"Kamu juga... lagi ngapain," tanyanya.

"Kali ada yang lewat... terus tertarik... mau beli... kan uangnya bisa buat beli laptop sama perabotan yang lain," kata mereka nyengir kuda.

Dan Dinda pun pingsan, tak berkutik dibuatnya.

#Demak, 03032015

Cinta memang harus menunggu

Cinta Memang Harus Menunggu
Oleh: Titien SDF

Pelajaran sekolah baru saja usai. Anisa bergegas mengemasi buku-buku dan memasukkannya dalam tas. Sebuah tepukan di pundak mengagetkannya.

"Rifa... ada apa?" tanya Anisa sambil menoleh.

"Sstt... jangan keras-keras, aku cuma mau ngasihkan ini...," kata Rifa lirih. Diulurkannya sebuah kertas terlipat rapi sambil berkata," dari abangku."

Anisa menyimpan amplop itu di sela-sela buku sekolah dalam tasnya dan bergegas pulang ke asrama.

Sampai di kamar, Annisa meletakkan tasnya di atas tempat tidur, mengganti baju seragamnya dan bergegas naik ke atas ranjang. Beruntung, tempat tidurnya berada di ranjang atas. Memang merepotkan, karena harus naik tangga untuk merebahkan badan. Namun juga menguntungkan, karena barang-barang yang diletakkan di atas jauh lebih aman daripada yang diletakkan di bawah.

Anisa membuka tasnya, mengambil lipatan kertas yang diselipkannya dan membaca isinya.

"Sudah kudengar kabar tentangmu
Perempuan sholihah dambaan kalbu
Bisakah kita bertemu di satu waktu?
Sungguh ku ingin lebih dekat mengenalmu
.......dari: Hanif"

Annisa melipatnya kembali dan menyimpannya. Benaknya menyisakan tanda tanya, apa maksudnya?

Annisa bergegas turun dan keluar kamar. Matanya mencari-cari sosok Rifa di antara teman-temannya. Segera digamitnya menjauh dari mereka.

"Ada apa Nis? Sudah kaubaca?" tanya Rifa sesaat setelah mereka tiba di UKS. Kebetulan UKS sedang sepi dan sekarang giliran Annisa untuk berjaga.

"Apa maksudnya ini Rifa?" tanyanya sambil menunjukkan lipatan kertas yang diberikan Rifa tadi siang.

"Abangku menaruh hati padamu," jawab Rifa.

"Terus....?" tanya Annisa.

"Ya... ingin menjadi kekasihmu," jawab Rifa lagi.

"Bukankah kamu tahu bahwa aturan sekolah tidak memperbolehkan hubungan lawan jenis? Bukankah kau pernah cerita kalau abangmu punya kekasih juga? Bukankah dalam Islam tak ada pacaran sebelum pernikahan?" tanya Annisa bertubi-tubi.

"Ya... jangan sampai ketahuan dong. Please Nis, abangku bilang, kalau kau mau menjadi kekasihnya dia akan berubah menjadi lebih baik," bujuk Rifa.

"Rifa... Rifa..., abangmu memang pintar, cakep, suaranya bagus, prestasinya juga banyak. Tapi... untuk yang satu ini, maaf aku tidak bisa," jawab Annisa.

"Bilang padanya, kalau laki-laki berduaan dengan perempuan, yang ketiganya adalah syetan," katanya lagi.
###

Hanif terpekur mendengar jawaban Annisa dari mulut Rifa, adiknya. Dia tak bisa menyalahkan Annisa, semua yang dikatakannya benar. Entah sudah berapa gadis yang dipacarinya, dengan sembunyi-sembunyi tentunya. Semua itu dilakukannya hanya agar disegani teman-temannya, agar dibilang macho, idola kaum hawa. Tanpa pernah memikirkan bagaimana perasaan mereka terhadapnya.

Annisa memang tak seperti gadis-gadis yang dikenalnya, yang mau saja diajak pacaran sembunyi-sembunyi. Padahal aturan sekolah sudah jelas, kalau ketahuan menjalin hubungan dengan lawan jenis pasti dapat sanksi dan peringatan.

Hanif menghela nafas, menata kembali hatinya yang gelisah. Bayang-bayang Annisa tak juga hilang dari pikirannya. Wajah ayunya, sikapnya yang cuek terlihat begitu anggun di matanya.

Hanif memandang langit yang kian muram menjemput malam. Semuram hatinya yang bertepuk sebelah tangan. Terlintas lagi kata-kata Rifa, adiknya, tadi siang.

"Abang benar-benar mencintai Nisa? Bukan cuma tertarik seperti yang sudah-sudah?" tanya Rifa.

"Entahlah Rif, Abang tak tahu... hanya saja... wajahnya selalu terbayang-bayang di pelupuk mata," jawabnya waktu itu.

"Annisa itu selalu menjaga sikapnya Bang, dia juga rajin ibadah dan menjaga hafalan. Dia bilang, Umi dan Abinya pernah berkata, "cinta itu sepaket dengan pernikahan. Jadi hendaklah setiap mukmin menjaga dan mempersiapkannya untuk pernikahan mereka. Tak ada pacaran yang halal sebelum pernikahan. Dan sesuatu yang haram tidak akan menghasilkan kecuali keburukan," kata Rifa lagi.

Hanif terpekur karenanya, dia hanya diam memikirkan kata-kata adiknya.

"Pantaskan dirimu dulu... kelak bila kau sudah siap dengan tanggungjawab dalam pernikahan... datanglah padanya lagi. Aku akan membantumu," kata Rifa, menepuk pundaknya sambil berlalu.

"Kau benar Rifa... aku akan berusaha memantaskan diriku. Dan bila saat itu tiba, semoga Annisa masih belum ada yang punya. Semoga.... Ah, cinta memang harus menunggu," gumamnya.

Bintang-bintang mulai menyembul membagikan kerlipnya, menghalau gundah seorang pemuda yang dilanda cinta.

#Demak, 12032015

Biodata penulis:
Titien Sumartini Dwifatmasari, ibu delapan anak ini mulai aktif dalam dunia kepenulisan sejak tiga tahun lalu. Sebagian karyanya dapat dinikmati dalam buku antologi puisi dan cerpen seperti Senandung Serunai, I love U Mom, Kilauan Permata Jiwa, dan masih banyak lagi. Penulis dapat dihubungi via facebook di akun yang sama atau via email di alamat titienfatmasari@gmail.com

Senin, 09 Maret 2015

Batu-batu dalam sejarah

BATU-BATU DALAM SEJARAH

Batu adalah, salah satu ciptaan Allah yang paling dikenal dan acapkali digunakan dalam berbagai keadaan. Sejak zaman primitif yang kita sebut zaman 'batu', pun hingga sekarang walau orang menyebut zaman 'gadget' atau zaman 'mileneum' atau apa sajalah yang mengisyaratkan kecanggihan. Batu tetap mengambil peran dalam semua peradaban.

Batu pun diabadikan dalam Alqur'an saat peristiwa pasukan gajah menyerang Ka'bah. Tahun di mana Muhammad Rasulullah saw dilahirkan, yang kemudian diabadikan sebagai 'Tahun Gajah'. Di mana pasukan Raja Abrahah dari Yaman binasa oleh serangan batu-batu yang dibawa oleh burung ababil. Batu-batu yang khusus didatangkan dari neraka.

Batu masih menjadi senjata andalan hingga zaman kekinian. Setidaknya ia adalah saksi bahwa Palestina hingga saat ini masih eksis dan tak terhapus dari peta dunia. Tak lagi menunggu burung-burung ababil mengambilnya dari neraka. Batu-batu itu cukup tersedia di bumi kita. Lewat tangan-tangan bocah-bocah yang belum baligh usianya. Bocah-bocah Palestina yang sejak lahir diajarkan rindu syahid dan cinta pada Allah dan Rasul-Nya. Batu-batu itu serupa batu biasa, namun menjadi serupa batu-batuan neraka di tangan bocah-bocah Palestina. Meruntuhkan keberanian tentara Israel yang berlindung di balik baju anti peluru, tank-tank dan segenap persenjataannya. Membuat mereka tak berdaya, lalu kelicikan membungkus akal mereka untuk menebar racun dan senjata kimia. Berusaha membungkam nyawa bocah-bocah Palestina agar tak sempat dewasa. Namun, adakah yang sanggup menentang kuasa-Nya.

Allah berfirman dalam Alqur'an surah Muhammad ayat 7:
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."

Dan Dia membuktikan janji-Nya. Seberapa pun tentara Israel membantai bocah-bocah Palestina, mereka akan terus ada. Bersenjatakan batu andalan mereka, dengan tekad membebaskan bumi Allah tercinta.

Lain di Palestina, lain pula cerita batu yang menyejarah di negeri kita tercinta, Indonesia. Orang bilang bumi Indonesia terkenal suburnya, sampai-sampai tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Namun sekarang tanaman tumbuh pun enggan. Mungkin karena terlalu banyak batu jadi-jadian memenuhi lahan. Batu-batu yang didatangkan dari negeri tetangga dan diangkut kapal-kapal dalam bentuk bahan makanan.

Pada zaman kekhalifahan seorang ibu memasak batu untuk menenangkan anak mereka yang kelaparan. Lalu khalifah Umar bin Khaththab memergokinya dan menggantinya dengan sekarung bahan makanan. Dibawanya sendiri dengan tangannya, kemudian mengolah dan menyajikan. Berbuah kisah dengan sebaik-baik teladan. Zaman sekarang kisah pun berulang. Banyak ibu yang memasak batu jadi-jadian untuk mengganjal perut yang kelaparan. Tak hanya berujud batu, bahkan di salah satu sudut negri ini mayat pun terpaksa disajikan. Na'udzubillah min dzalik. Namun nyaris tak ada Umar-Umar lain yang menggantikannya dengan bahan makanan. Padahal para pejabat hartanya berlimpahan, tapi nyaris hilang sisi kemanusiaan. Hanya disibukkan menata batu-batu untuk meninggikan jabatan. Menyusunnya menjadi tangga untuk meraih kekuasaan seolah-olah hidup takkan pernah terakhirkan. Bila ada yang mengingatkan, dianggap sebagai batu sandungan. Padahal batu-batu telah bertahta menggantikan hati mereka yang mati dan penuh kebutaan. Na'udzubillahi min dzalik.

Lain pula dengan generasi mudanya, terlalu lama mengenyam pendidikan hedonisme semata. Mereka berlaku bak penghuni hutan rimba. Siapa cepat dapat, kalau tak bisa amarahlah pamungkasnya. Batu-batu beterbangan mereka lemparkan, apabila kelompoknya merasa dikalahkan. Tak ada lagi cinta dan kasih sayang. Batu dan kekerasan sudah menjadi penentu kebijakan. Hati membatu tanpa petunjuk cahaya iman, hingga mata buta tak melihat berbagai peringatan. Dunia menanggung beban, akhirat menuai azab tak tertahankan.

Batu memang sesuatu yang sering dipandang sebelah mata. Namun sebenarnya memuat pelajaran yang sangat berharga. Di balik sifat kerasnya, dia masih meneteskan air mata karena rasa takut pada Allah, Sang Maha Pencipta.

Allah berfirman dalam Alqur'an surah Albaqarah ayat 74:
"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang airnya memancar daripadanya. Ada pula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.

Bagaimana kabar hati anda hari ini? Semoga petunjuk hidayah-Nya masih melingkupi. Sehingga bisa membedakan yang haq dan yang bathil, lalu tak salah memilih jalan yang dilalui. Agar tak menyelisihi jalan yang diambil Rasulullah saw, sang penyempurna risalah Illahi.

#Demak, 10032015

Kamis, 05 Maret 2015

Surat rindu untuk bapak

Surat Rindu untuk Bapak
Oleh: Titien SDF

Salam takzim untukmu, Bapak
Walau raga tiada mungkin akan kembali bersua
Kuyakin untaian kekata dapat kaudengar nyata
Kubisikkan dalam tiupan lembut sang kembara
Membelai kuntum-kuntum bunga di atas pusara
Mendekap butiran embun membasahi peraduanmu, Bapak

Lisan membasah dedzikir mendoa keselamatan
Buah kasih sayang yang kauurai dan kautebarkan
Tangan kecilku memungutinya penuh kegirangan
Mendekapnya meniti masa tak terlewatkan
Mendewasa usia namun serasa selalu dalam buaian
Lalu kau pergi, dan semua hanya tinggal kenangan

Bulir air yang menggenangi pipi ini melagukan nyanyian rindu
Bersimfoni dalam alunan kalam-Nya mengetuk-ngetuk kalbu
Adakah suatu hari nanti Dia mengijinkan kita bertemu
Dalam surganya tak menyisakan duka dan tangisan pilu

#Demak, 06032015

Biodata penulis:
Titien Sumartini Dwifatmasari, ibu delapan anak yang mencintai dunia kepenulisan. Baginya, menulis adalah pembelajaran dan cara berbagi kebaikan, wadah untuk saling mengingatkan. Beberapa karyanya dapat dibaca pada antologi Senandung Serunai, Melati untuk Ibu, I love U Mom, Kilauan Permata Jiwa dan masih banyak lagi. Penulis dapat dihubungi via facebook dengan akun yang sama atau via email dengan alamat titienfatmasari@gmail.com

Rabu, 04 Maret 2015

Tertolong oleh cinta-Nya

Tertolong oleh Cinta-Nya
Oleh: Titien SDF

Hari yang cerah. Matahari mulai meninggi saat aku selesai menuntaskan cucian dan menjemurnya. Anak-anak sudah berangkat sekolah. Rumah pun sudah rapi, hanya tinggal menyiapkan masakan.

Kuambil wudhu, melakukan sholat dhuha, menghasung rasa syukur dan mendo'a keselamatan. Semoga Sang Pencipta memberikan hidup yang barokah.

Aku baru selesai melipat mukena dan sajadah, saat ponselku berbunyi.

"Tuut... tuut... tuut...."

Kulangkahkan kaki menuju bufet di mana ponsel kuletakkan. Sebuah pesan masuk, dari suamiku.

"Afwan, Yang. Hari ini Abi ada kunjungan kerja ke Karanganyar. Mungkin malam baru pulang."

Kuketikkan pesan balasan, "hari ini Umi ada agenda di gedung IPHI Demak, Bi. Umi harus bagaimana ini?"

Kubaca pesan BBM dari suami berkali-kali, berharap ada pesan balasan. Pikiranku mendadak kacau, bagaimana tidak. Siang ini ada kajian yang harus diisi, sudah kusanggupi sejak lama. Tempatnya pun 30 km jauhnya. Dan aku, terbiasa menjadi tuan putri yang ke mana-mana diantar suami.

Semenjak menikah, suami memang amat berhati-hati menjagaku. Beliau setia mengantar ke mana pun aku pergi. Apalagi waktu itu kami hanya punya satu motor. Dan kami tinggal di daerah perumahan yang masih tergolong baru. Penduduknya masih sedikit, jarak dari jalan raya pun mencapai enam kilometer. Angkutan yang ada hanya bus damri, itu pun hanya empat armada dan terjadwal tiga kali sehari. Seperti aturan minum obat, jam enam pagi, jam dua siang dan jam enam petang. Di luar itu tak ada angkutan.

Dulu, aku bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit swasta yang jam kerjanya terbagi dalam tiga shift. Bisa pagi sampai siang, siang sampai malam, atau malam sampai pagi. Praktis suami satu-satunya yang bisa diandalkan. Semenjak anak-anak lahir, suami memintaku berhenti bekerja.

"Bekerja, mencari nafkah itu tugas suami, lagi pula menjaga dan mendidik anak-anak kita lebih utama untuk kaukerjakan," katanya waktu itu.

Semenjak berhenti bekerja, aku terfokus dengan lingkungan sekitar. Dengan bekal ketrampilan dan pengetahuan yang ada, aku berbagi dengan masyarakat di perumahan dan sekitarnya. Kukumpulkan mereka dan ajarkan berbagai ketrampilan, menjahit, menyulam, merenda, juga menganyam. Di hari-hari tertentu, kami berbagi petuah, mempelajari Qur'an dan hadits, menghidupkan sunnah.

Biasanya, suami yang mengantarku. Terkadang, ada di antara mereka yang menjemputku.

"Umi, jangan hanya terfokus dengan masyarakat di sini. Abi lihat mereka sudah lebih mandiri. Baiknya, Umi juga berbagi dengan lingkup yang lebih besar lagi. Dakwah kekurangan orang lho Mi."

Butuh berbulan-bulan untuk mengiyakan permintaan suami, karena berbagai pertimbangan. Namun, aku tetap berusaha mempersiapkan diri. Seiring jalan, teman-teman lamaku mendirikan sekolah berbasis Islam. Satu di komplek perumahan yang kutempati, dan satu lagi jauh di Demak kota. Di sinilah jalanku, bukan sebagai guru tetap tetapi sebagai nara sumber yang tidak terikat untuk kajian-kajian Islam yang diadakan sekolah.

Segala sesuatunya ada yang mengatur. Suamiku welcome asal tugas sebagai ibu rumah tangga terselesaikan, dan anak-anak tetap mendapat perhatian penuh dan kasih sayang. Alhamdulillah, segalanya bisa seiring sejalan.

"Tuuut... tuuut... tuuut...."

Terdengar nada tanda ada pesan baru, segera kutekan tombol untuk membacanya.

"Afwan, Yang. Umi naik motor saja lewat jalan pintas, titipkan motornya di Onggorawe lalu sambung naik bis ke arah Demak Kota. Hati-hati di jalan ya."

Aku bergegas menyiapkan masakan dan menatanya di meja makan agar saat anak-anak pulang mereka tak terabaikan. Kutitipkan kunci rumah pada tetangga sebelah, agar anak-anak tidak menunggu di luar rumah.

Bergegas, kupacu motor meninggalkan perumahan walau penuh rasa gamang. Sampai di depan Pasar Mranggen, aku harus berbelok, melewati jalan sempit sepanjang 15 km. Jalan yang sama sekali tak menyisakan ruang bila dua truk besar berpapasan, sementara kanan kirinya sungai dan minim bangunan rumah tinggal. Sejauh mata memandang, kebanyakan hanya ladang jagung dan areal persawahan.

Ciut sudah nyaliku melihat truk-truk besar berlalu lalang. Apalagi sudah terlalu lama aku tak membawa motor di jalan raya. Apa boleh buat?

Kulantunkan surah-surah yang melekat dalam ingatan untuk menghilangkan kecemasan. QS Al Mulk, Al Qolam pun mengalun menghilangkan resah gelisah yang ada.

Juz 29 hampir selesai kubaca, kuberanikan diri untuk menyalib truk besar di depan yang berjalan terlalu lambat. Jauh dari arah berlawanan meluncur pula truk besar serupa. Mungkin, aku kurang perhitungan, atau terlalu tegang mengemudikan kendaraan. Sebuah motor dengan keranjang di kanan kirinya terlihat menyalib truk besar, menghabiskan jalan yang ada di depan, membuatku tak berani terus menekan gas lebih kencang. Motor itu lewat di sampingku dengan enaknya, meninggalkan rasa takut yang luar biasa. Bagaimana tidak? Jalan sempit ini hanya selebar dua badan truk besar. Sedang di samping dan depanku ada truk besar yang sedang berjalan.
Pasrah, kubiarkan motor tetap melaju perlahan. Mundur ke belakang sudah tak memungkinkan. Hatiku menjerit , Allah... Allah... Allahu akbar.... Maafkan Umi, Abi... ya Rabb, aku pasrah pada ketetapan-Mu... kutitipkan keluargaku dalam penjagaan-Mu....

Aku tak berani membuka mata, hanya mendengar suara tertahan dan suara patahan entah pada bagian mana. Apapun yang terjadi, terjadilah...

Entah untuk berapa lama, tak kudengar apa-apa. Hanya desir angin, tiada kesakitan yang terasa, inikah surga? Ah... kuberanikan diri membuka mata. Aku masih hidup, alhamdulillahi robbal 'alamiin.

Truk di sampingku sudah melaju jauh di depan, truk yang di depan pun sudah jauh di belakangku. Kendaraanku masih utuh, hanya spion kiri kanan yang patah dan terjatuh di jalan. Tubuhku pun utuh tanpa goresan luka sedikit pun. Meski hati  benar-benar seperti mau lepas saja. Sungguh ini adalah mukjizat yang menakjubkan.

Kulantunkan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir berkali-kali. Mengucap kesyukuran atas kasih sayang Allah yang baru saja kuterima.

"Ya ayyuhalladziina aamanuu, intanshurullahu yanshurkum, wa yutsabbit aqdaamakum. (Hai, orang-orang yang beriman, barangsiapa menolong agama Allah maka Allah akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya di muka bumi ini.)"

Bunyi Quran Surah Muhammad ayat 7 itu terngiang-ngiang di telinga. Aku baru saja membuktikannya. Membuatku semakin yakin menapaki jalan yang telah ditunjukkan-Nya. Menguatkan niat dan tekadku untuk terus lebur di dalam dakwah, menyebarkan ajaran risalah-Nya. Juz 28 kembali mengalun pelan, meluncur indah dari lisan sepanjang perjalanan.

Kucatat semua sebagai pelajaran, menuliskan dan membaginya untuk menguatkan keyakinan. Bahwa Allah selalu membersamai dan tak pernah menelantarkan.

Kuwariskan kesyukuran pada buah hati tercinta. Ajarkan pula pada mereka untuk senantiasa berjalan di atas risalah-Nya. Mempelajari Alqur'an menghafal dan mengamalkannya. Hidupkan terjaga, terlindungi oleh cinta-Nya.

#Demak, 12022015

Senin, 02 Maret 2015

Bersinarlah sepanjang masa

. #Puisi_Dinda_DoaHarapan

Bersinarlah Sepanjang Masa
Oleh : Titien SDF

Dinda, sebuah nama yang belum lama kukenal
Impian yang dia bawa bak virus liar dan binal
Nan menggila,  mendekat dan menular tanpa sesal
Demi mimpinya itu, sesiapa pun dikritiknya tanpa rasa sebal
Aneh namun terjadi walau kadang ku merasa kesal

Padamu penulis Marnie Monroe yang miskin jelita
Rasa terima kasih kuungkapkan sepenuh asa
Andaikan jarak tak jauh memisahkan kita
Mungkin kaki ini berlari mengejar di mana kau berada
Entahlah, mungkin lisan ini terlalu banyak bicara
Sebenarnya aku hanya ingin memberi selamat dan doa
Wadah yang kaupunya telah menyatukan kita
Anganku menaruh asa, harapan serta doa
Ringanlah langkahmu, semoga tercapailah cita
Iringi kesuksesan nan bersinar sepanjang masa

#Demak, 0203015

Dalam pusaran badai

DALAM PUSARAN BADAI

Senja belum berganti malam, saat Marni sampai di rumah. Diparkirnya motor di teras yang asri. Bunga-bunga anggrek mulai bermekaran, tangkainya yang menjulur panjang seolah ingin memberikan salam.

"Assalamu'alaikum," serunya seraya membuka pintu. Sepi, tak ada sambutan. Rupanya Ari belum pulang sejak pamit bermain futsal tadi pagi. Ada apa gerangan dengannya? pikirnya.

Marni bergegas mengeluarkan barang belanjaannya. Menghangatkan sayur dan menyiapkan makan malam. Dihempaskannya tubuhnya di atas sofa sambil menunggu suami dan anaknya pulang.

"Beep... beep... beep." Terdengar nada pesan masuk dari ponselnya. Spontan diraihnya dan membaca nama yang terpampang di layar. Dari Tri, adiknya.

"Mbak, segera pulang ke rumah Ibu. Ari kecelakaan."

Marni membaca sms itu berkali-kali. Segera ditekannya nomor adiknya, meminta penjelasan.

"Ya, gimana Mbak?" tanya suara di seberang.

"Smsmu?" tanya Marni belum percaya.

"Iya Mbak, Ari kecelakaan. Tadi sudah kubawa ke rumah sakit. Tulang belikat dan lengan atasnya patah. Tapi sepertinya yang lain baik-baik saja. Sekarang dia di rumah Ibu," jawabnya panjang lebar.

"Bagaimana kejadiannya?" tanya Marni lagi.

"Katanya lagi mau nganter teman perempuannya pulang di Pamularsih. Pas mau belok, tahu-tahu ada yang nyebrang yaaa... gitu... lah," jawabnya.

"Dia sama perempuan?" tanya Marni. Ada rasa geram yang menyelusup dalam hati, bukankah tadi dia pamit untuk futsal? pikirnya penuh tanda tanya.

"Iya..., tadi dia telpon aku. Ya aku segera ke sana. Dia bilang kalau gak ditolongi dia mau berdiri di tengah jalan raya aja," jawab Tri lagi.

"Mas Darma sudah tahu? Terus bagaimana dengan orang yang ditabraknya?" Marni masih terus bertanya.

"Yang seorang kakinya patah, satunya tidak apa-apa. Mereka sudah diurus Mas Darma," jawab Tri, Marni sedikit lega mendengarnya.

"Pulang ya Mbak. Ibu pesan, jangan dimarahi," kata Tri menutup pembicaraan.

Marni menghela napas. Selalu begitu, pikirnya. Ibu terlalu memanjakan Ari sejak kecil, jadi anak itu terkadang susah diatur. Kalau dimarahi uminya, mesti lari ke neneknya.

"Bu, jangan terlalu memanjakan Ari dong," katanya waktu itu.

"Enggak, Ibu nggak memanjakannya. Cuma memberi kasih sayang, kan kautinggal kerja sama suamimu," begitu jawab Ibu waktu itu.

Diputuskannya pulang ke rumah Ibu yang jaraknya tak seberapa jauh dari rumah. Benaknya dipenuhi rasa gundah. Bagaimana tidak, remaja tanggungnya itu berkali-kali memberinya ujian. Dari peristiwa berantem di sekolah, kabur pada jam pelajaran. Nilai-nilai yang jauh dari harapan. Kecelakaan ini pun sudah yang kesekian kalinya dalam setahun ini. Ah, Marni mendesah perlahan. Berikan kesabaran yang lebih untukku ya Allah, pintanya dalam hati.

Sesampai di rumah Ibu, Ibu sudah menyambutnya dengan sekeranjang pesan dan omelan.

"Jangan dimarahi... ini bukan salah dia semata-mata...," ujarnya. Lho... lalu salah siapa? pikir Marni.

"Kamu harusnya mengadakan ruwatan untuk Ari. Dulu waktu hamil dia, kamu nggak mau diadakan upacara mitoni. Itu kesalahan yang pertama. Terus... waktu dia lahir, wetonnya sama dengan abinya. Orang Jawa bilang, anak yang wetonnya sama dengan orang tuanya harus dipisahkan dari orang tuanya. Diadakan ritual 'buang anak,' kamu juga nggak mau...."

"Tapi Bu, masak sudah capek-capek mengandung harus dibuang dan dipisahkan," protes Marni memotong pembicaraan. Dipelototkannya mata sipitnya pada Tri yang diam-diam tertawa di belakang Ibu.

"Itu kan cuma sanepo, kiasan... bayinya diletakkan di atas pengki seolah-olah dibuang. Kan nggak dibuang beneran, cuma dipisahkan...."

"Lha nanti yang nyusuin siapa? Lagi pula kan Ari juga sering kutinggal kerja dan diasuh Ibu. Sama saja kan?" jawab Marni membela diri.

"Masak iya sih aku harus ngadakan ritual buang sekarang?" tanyanya lagi.

"Ya nggak. Ari kan sudah gede, mana mau dia ditidurkan di dalam pengki, nggak muat juga kan, haha...," sahut Tri tertawa. Ibu mendelik.

"Marni lihat keadaan Ari dulu ya Bu," kata Marni kemudian.
Marni merasakan sakit di sekujur tubuhnya saat dilihatnya remaja tanggung itu tertidur dengan luka-luka di sekujur badan sebelah kirinya. Gips membalut lengan kirinya. Diletakkannya pantat untuk duduk di sebelah Ari. Diusapnya kepala anak semata wayangnya dengan penuh kasih. Mengapa kaubohongi Umi, Nak? jeritnya dalam hati. Perlahan, bulir-bulir air matanya menetes, membasahi wajah yang disayanginya itu.

"Umi..., Umi datang menjengukku...? Umi nggak marah...?" katanya saat terbangun. Marni tak bisa berkata-kata. Air matanya menderas menandakan hatinya sedang terluka.

"Umi... Umi jangan marah... Umi jangan nangis... Ari janji... setelah ini, Ari akan selalu dengar kata-kata Umi... Umi... Umi...," katanya lagi sambil terisak. Dipaksakannya untuk bangun dan memeluk Marni. Mereka pun berpelukan dalam tangis.

"Sudah... jangan nangis lagi, ajak anakmu makan dulu. Dari tadi dia nggak mau makan, katanya nunggu uminya," tegur Ibu dari balik pintu.

Marni melepaskan pelukannya dan berkata lirih, "benar begitu?"

"Tadi kan habis futsal ada acara makan-makan Mi, jadi masih kenyang. Tapi sekarang kan Umi sudah di sini..., Ari lapar lagi," bisiknya nakal.

Marni tersenyum kecut. Entah mengapa, kemarahannya selalu hilang saat melihat wajah baby facenya. Selalu saja terbayang dalam ingatannya saat-saat melahirkan Ari  yang penuh kesulitan dan hampir merenggut nyawanya. Dengan gemas, dijentiknya hidung mancung milik remaja 15 tahun itu.

"Au... sakit...!" teriak Ari meringis kesakitan.

"Biar Umi ambilkan makananmu... di situ saja ya...," pesan Marni. Segera bergegas diambilnya makanan untuk mereka berdua dan kembali ke kamar Ari.

Di sela-sela makan, Marni banyak memberikan nasehat pada anak lelakinya, tentang hidup, ujian, pembelajaran dan kesyukuran. Memberikan pengertian bahwa hidup juga harus dipertanggungjawabkan kepada Sang Pencipta, Tuhan seluruh semesta.
###
Dua minggu setelah kejadian, adalah hari dimulainya masa MOS SMANH di Sukoharjo. Marni dan suaminya mengantar Ari yang belum sembuh benar ke asrama. Meninggalkannya dengan sederet pesan pada wali asrama dan guru kelas Ari agar pada Ari tak diberlakukan MOS seperti siswa lainnya. Juga pesan untuk Ari agar tak lupa meminum obatnya.

Hari-hari dilalui tanpa mengesampingkan komunikasi. Solo-Semarang bukan jarak yang dekat untuk menjenguk setiap hari. Hanya lewat telpon mereka bisa berkabar setiap malam.

"Umi, besok Sabtu jenguk ya... Badanku bengkak semua... rasanya cepet sekali capek nii...," telponnya di hari kelima.
Marni kaget sekali. Malam itu juga Marni dan Darma berangkat ke asrama Ari dan membawanya pulang ke Semarang. Tentu saja sepengetahuan guru kelas dan wali asramanya.

Keesokan harinya mereka membawa Ari ke RSUD Kota Semarang. Di sana Ari harus menjalani bermacam pemeriksaan yang lama dan melelahkan.

"Ibu, kalau menurut pemeriksaan laborat dan USG yang sudah kita lakukan, Dik Ari ini terdiagnosa kena gagal ginjal akut. Apa Dik Ari pernah mengalami gangguan ginjal sebelumnya?" tanya dr Wahyu.

Marni terdiam, berusaha mengingat-ingat. Sejurus kemudian dia berkata, "apa mungkin disebabkan kecelakaan ya dok? Beberapa minggu yang lalu dia mengalami kecelakaan. Sekujur badannya sebelah kiri penuh luka-luka, tulang belikat dan lengan atas kiri patah. Tapi saat itu dokter yang memeriksanya tidak mengatakan ginjalnya kena. Di perut dan pinggangnya juga tidak ada luka, hanya jejas biru yang ada di sana," cerita Marni.

"Bisa jadi Bu. Untuk memperjelas diagnosa, Ari perlu menjalani pemeriksaan lagi. Akan dimasukkan alat untuk mengambil sedikit jaringan ginjalnya dan dilakukan pemeriksaan laborat. Untuk itu Ari harus dirawat inap di RSDK Semarang, karena rumah sakit kami belum bisa melakukannya. Bagaimana Bu?" tanya dr Wahyu.

Tak ada pilihan lain, Marni dan Darma pun mengantar anak mereka ke RSDK untuk menjalani pemeriksaan selanjutnya. Hasilnya, positif gagal ginjal akut sebelah kiri. Ada jaringan mati pada seperlima bagian ginjal sebelah kiri. Artinya, Ari harus dirawat sampai waktu yang tidak ditentukan. Ya Robbi, ampuni kelalaian kami, doa Marni dalam hening.

Sepanjang ramadhan, Marni menunggu Ari di rumah sakit, bergantian dengan ayah dan neneknya. Setiap hari darah dan urinenya harus diperiksa. Selama itu pula banyak pantangan makanan yang harus dijalaninya, dan membiasakan diri minum obat yang begitu banyaknya.

"Umi, Ari ingin lebaran di rumah. Ari sudah bosan dirawat di sini," katanya suatu hari.

Akhirnya, dua hari menjelang lebaran, dokter memperbolehkannya pulang. Tentunya dengan catatan periksa laborat rutin dan kontrol tiap seminggu sekali. Juga berpantang pada beberapa jenis makanan harus tetap dijalani.

Keadaan Ari sungguh jauh berbeda dari sebelumnya. Wajah cute yang dia punya sudah mengembang sempurna serupa bulan purnama. Bundar dan penuh berisi. Badannya yang atletis pun menjadi gemuk tapi tanpa daya. Berlari sebentar saja sudah membuatnya terengah-engah kelelahan. Semua kegemarannya dahulu benar-benar tak dapat dia lakukan. Berenang, basket, futsal, semua seolah tinggal kenangan. Ari pun mulai uring-uringan.

"Umi..., Ari bosan..., Ari ingin sekolah lagi...," katanya suatu hari. Karena memang sudah dua bulan tidak masuk sekolah, akhirnya Marni dan Darma pun mengantarkannya ke asrama. Berbekal sederet pesan dan permintaan dispensasi, agar Ari dibebaskan dari pelajaran olah raga, juga agar setiap Sabtu bisa pulang dan kontrol ke rumah sakit.

Hari-hari dilalui Ari dengan sangat terpaksa. Obat yang harus dikonsumsinya ternyata membawa efek samping yang membuat Marni mengelus dada. Sekujur tubuh Ari menjadi sangat rentan kulitnya. Gatal selalu menemani malam-malamnya dan akan langsung menjadi luka bila digaruk. Luka bekas garukan itu meninggalkan bekas seperti luka sayatan di kulitnya. Di pinggang, perut, sekujur tangan dan kakinya. Obat itu juga membuatnya mengantuk sepanjang siang. Hampir semua teman menjauhi dan mencemoohnya.

"Umi..., doakan Ari cepat dipanggil Tuhan ya Mi..., doa Umi kan tidak tertolak... Ari sudah nggak kuat...," begitu pintanya setiap malam, saat Marni menelponnya, menemani malam-malamnya yang menggelisahkan. Memberinya semangat dan dorongan untuk terus hidup, berjuang melawan penyakitnya.

Jumat adalah hari yang selalu dinanti-nantinya, sorenya dia dapat pulang ke rumah karena Sabtu adalah hari periksa buatnya.

"Marni, Ari harus segera diruwat. Biar jauh dari sengkala (sesuatu yang tidak baik)," kata Ibu suatu hari.

"Kenapa Bu?" tantanya.

"Anakmu itu ontang anting (anak tunggal), julung sungsang lagi (lahir di tengah hari), Betara Kala suka dengan anak-anak semacam itu. Makanya dia kena sengkala terus, kena sial, sakit nggak sembuh-sembuh," jawab Ibu menerangkan kepercayaan kejawennya. Marni hanya tersenyum.

"Sudah kuruwat setiap malam kok Bu, dalam setiap sholat tahajudku. Marni minta langsung sama Allah, yang telah menitipkan Ari pada Marni," jawabnya lirih, mematahkan argumentasi Ibu.

Hari berganti bulan pun berlalu, tak terasa waktu penerimaan rapot tiba. Marni tak berharap banyak akan nilai rapot Ari. Alhamdulillah, dia bisa menyelesaikan kelasnya walau dengan nilai pas-pasan.

Di kelas berikutnya, mulai nampak perubahan yang berarti. Pemakaian obat dikurangi, jadwal kontrolnya pun berganti sebulan dua kali.

Marni bersyukur, Ari mulai tumbuh percaya diri. Satu demi satu teman-temannya mulai mendekati dan bisa diajak berbagi. Doa dan harapan terus Marni untai setiap malam untuk sang buah hati.

Semester berikutnya, Ari mulai mencoba mengikuti pelajaran olah raga. Wajahnya sudah tak sebulat bulan purnama. Badannya pun mulai meramping seperti dulu. Pemakaian obat berangsur dikurangi, jadwal kontrolnya pun berubah sebulan sekali.

Hampir dua tahun lamanya, Ari bergantung dengan obat melawan penyakitnya. Hingga kemudian benar-benar dinyatakan sembuh total dari gagal ginjal yang pernah diidapnya. Prestasi demi prestasi diraihnya, membuat orang tua dan para gurunya bangga.

"Umi, terima kasih... sudah menjadi ibuku..., Ari hanya bisa membalas dengan prestasi," katanya saat memberikan sertifikat lomba yang dimenangkannya.

Marni memeluknya haru, membisikkan cinta, harapan dan keyakinan untuknya.

"Hidup adalah pembelajaran, bermuara pada cinta, harapan dan keyakinan. Pada Tuhan yang menjadikan kita ada, dan pada orang-orang yang mencintai kita."

#Demak, 02032015

Minggu, 01 Maret 2015

Debaran membawa petaka

Debaran yang Membawa Petaka
Oleh: Titien SDF

"Ari berangkat dulu, Mom!" teriak Ari sambil berlari.

"Ke mana?" tanya sang ibu mengejarnya.

"Futsal, sama teman-teman SMA!" jawab Ari. Distaternya motornya tanpa menunggu sahutan ibunya. Sang ibu hanya bisa geleng-geleng kepala mengelus dada. Anak zaman sekarang..., pikirnya.

Lapangan futsal SMAN 9 masih terlihat sepi, Ari pun melangkahkan kaki menuju kantin Bu Lilis yang terletak tak seberapa jauh. Dipesannya semangkuk mie ayam bakso dan segelas es jeruk kesukaannya.

"Wah, yang ditunggu sudah datang"

Sebuah suara terdengar di belakang telinga Ari. Dia menoleh.

"Eh..., Dinda. Tahu-tahu nongol, kayak setan aja," seru Ari garuk-garuk kepala. Terasa berdebar hatinya ditatap gadis tomboy itu. Sialan, rutuknya dalam hati.

"Gue emang tunggu elu di sini, tahu!" sergah Dinda kesal, "futsalnya pindah ke lapangan SMA Taruna Nusantara. Kita mo sparingan."

"Entar deh, gue habisin ini dulu. Gak lama kok," jawab Ari. Dimakannya pesanannya dengan tergesa. Mereka pun segera berangkat bersama.

"Gue bonceng elu ya. Ban motor gue bocor," rajuk Dinda. Jadilah mereka berdua berboncengan.

Dinda melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Ari, menerbitkan debaran-debaran kencang di dada remaja tanggung itu. Diakuinya, wajah cantik Dinda membuatnya terpesona. Tapi, penampilan tomboynya membuatnya berpikir berkali-kali untuk mendekatinya. Apalagi untuk menyatakan cinta.

Ari mempercepat laju motornya. Dinda semakin merapatkan tubuhnya, dipeluknya pinggang Ari erat-erat dan berbisik di telinga, "percepat lagi dong. Masak laki gak berani ngebut."

Merah rasanya kuping Ari dibuatnya. Bisikkan Dinda terasa bagai ciuman di telinganya. Ditekannya gas kuat-kuat, berharap Dinda semakin memeluknya erat.

"Lihat-lihat jalan dong, Say... ada mobil di depan!" teriak Dinda saat mereka mendekati tikungan. Namun terlambat,... Duarrrr... kecelakaan tak terelakkan.

"Ariiii...!" teriak Dinda keras. Gelap pun menyelimuti dunia mereka berdua. Seiring darah yang mengucur menggenangi jalan raya.

#Demak, 01032015

Dunia semut

Dunia Semut
Oleh: Titien Sumartini Dwifatmasari

Kecil mungil engkau diciptakan
Begitu banyak hidupmu menginspirasikan
Walau terkadang keberadaanmu tak diinginkan
Berbagai kebaikan telah engkau ajarkan

Semut kecil mengajarkan nilai persaudaraan
Selalu bertegur sapa bila bertemu teman
Acapkali mereka saling memberi pertolongan
Bermasyarakat dengan penuh kerukunan

Mungkin engkau hanya serupa titik kecil
Kekuatanmu begitu besar bukan mustahil
Mengangkat beban berpuluh kali dari beratmu yang mungil
Dengan penuh semangat baja tiada pernah usil

Sungguh, engkau makhluk teristimewa
Bahkan Nabi Sulaiman menghentikan tentaranya
Memberimu waktu berlalu di hadapannya
Agar tak ada rakyatmu yang terinjak kaki-kaki mereka

Terkadang, miris kami rasakan pula
Kalian perlihatkan hukuman yang seharusnya
Saat ada di antara kalian yang berdusta
Selembar nyawa untuk menebus dosa

Wahai makhluk pengajar kesetiaan
Ajarkan kami arti segala kesyukuran
Agar tak salah dalam mengambil teladan
Mengisi alam dunia nan penuh kepalsuan

#Demak, 27022015

Biodata:
Titien Sumartini Dwifatmasari, penyuka seni, pegiat dunia literasi. Karya-karyanya dapat kita temui, dalam buku antalogi Senandung Serunai, Samudera Aksara Pujangga, Putik Desemberku, I love U Mom, Melati Untuk Ibu, dan masih banyak lagi. Penulis dapat dihubungi via facebook dengan nama akun yang sama, atau via email di titienfatmasari@gmail.com

Teman sejati

Teman Sejati
Oleh : Titien SDF

Sudah beberapa hari ini Nisa uring-uringan. Bagaimana tidak? Teman-temannya berencana datang ke pesta Valentin di villa Rosi di Puncak. Dia sudah minta ijin Umi untuk ikut, tapi Umi tidak mengijinkannya.

"Bukan Umi ndak sayang Nisa. Tapi, Umi ndak lihat sisi positifnya acara pesta-pestaan gitu," jawab Umi saat Nisa meminta ijin.

"Umi kayak ndak pernah muda saja...," gerutunya marah. Dibantingnya pintu kamar. Pokoknya Nisa mau mogok makan sampai besok, tekadnya.

"Ting tong... ting tong... assalamu'alaikum."

Terdengar suara bell pintu dipencet seseorang. Nisa masih bertahan di dalam kamar, merajuk dan marah.

"Srek... srek... srek...  wa'alaikumussalam." Terdengar suara langkah kaki di depan kamar diikuti suara Umi menjawab salam.

"Eh Aisyah, ada apa ya... ?" tanya Uminya.

"Eh Tante, Nisanya ada? Aisy mau minta ditemani ke pondoknya Mbak Hana. Bisakah?" tanyanya sopan.

"Pondoknya Hana yang di Pabelan itu? Rencana berangkat kapan?" tanya Umi.

"Besok pagi Tante. Aisy ingin ikut Festival Remaja Islam yang diadakan di sana. Mumpung masih liburan," jawab Aisyah.

"Loh, Aisy ndak ikut acara pesta Valentin di villanya Rossi?" terdengar suara Umi bertanya lagi.

"Endak Tante," jawabnya pendek.

Nisa mendengar semua percakapan itu dari dalam kamarnya dengan gemas. Kenapa sih, anak udik itu malah datang ke sini? rutuknya dalam hati.

Aisyah memang teman sekampusnya. Tapi, sepupunya itu terlalu kampungan, menurut Nisa. Dan juga terlalu cerewet baginya, terkadang dia suka mengomentari penampilannya. "Nis, jangan pake celana jins dong. Pake rok panjang saja, lebih feminin. Kerudungnya dipanjangin, jangan kayak kerudung anak kecil. Jangan pake lipstik, jangan pake wangi-wangian... bla... bla... bla...." Begitu kata-katanya selalu, Nisa sampai hapal.

Huh, aku kan masih muda. Pengen tampil cantik juga seperti Siska, Rosi dan Vina. Mereka jadi rebutan cowok-cowok cakep di kampus, bikin ngiri saja, pikir Nisa.

"Nisa..., buka pintu sayang. Ada Aisyah nih...," terdengar suara Umi dari balik pintu.

"Mau ngapain?" tanya Nisa ketus, dibukanya pintu kamar dengan muka ditekuk.

"Mau diajak ke Pabelan. Ikut Festival Remaja Islam. Ikut ya... Umi anterin deh," bujuk Umi.

"Iya Nis, ada book fairnya juga lho. Rugi lho kalau ndak ikut, ada stand karya ANPH dan Kang Abik lho," Aisyah ikut membujuknya.

"Sebenarnya..., kalau Umi mengijinkan Nisa ingin ikut Siska cs berpesta. Tapi... Umi tidak memberi ijin sih, jadi... daripada bengong di rumah ya..., oke deh... Nisa ikut. Tapi Umi janji ya..., di book fair Nisa boleh borong buku," jawab Nisa akhirnya.

Keesokkan harinya mereka pun berangkat. Sepanjang perjalanan Aisyah terus bercerita dengan Umi. Nisa lebih memilih diam membayangkan kehebohan pesta Valentin di villa Rosi. Andre, Roni, Johan dan Mario pasti juga datang ke sana. Empat sekawan tiruan bintang KPop itu idola anak-anak kampus. Hiiih..., padahal dia ingin bersama mereka. Nisa bersungut-sungut sendiri menatap keluar jendela. Sungguh perjalanan yang membosankan.

Sampai di Pondok Pabelan mereka disambut oleh Mbak Hana dan teman-temannya. Stand book fair langsung terlihat begitu mereka memasuki gerbang pondok. Melihat buku-buku cantik yang tertata apik, rasa kesal di hati Nisa berangsur sirna. Dia langsung tenggelam dalam keasyikannya di antara tumpukkan buku-buku yang tersedia di sana.

"Ayo Nis, konsernya sudah dimulai nih. Ada taujih Salimafillah, jangan sampai ketinggalan," bisik Aisyah sambil menarik tangan Nisa. Mau tidak mau Nisa mengikutinya.

Festival hari itu cukup mengobati kegundahan hati Nisa. Tak rugi rasanya datang ke pondok, mengorbankan pesta yang diimpi-impikannya. Apalagi di sana dia menemukan buku Api Tauhid karya Kang Abik yang diidam-idamkannya.

Dua hari festival meninggalkan kesan mendalam di hati Nisa. Teman-teman Mbak Hana berkenan menampung mereka untuk bermalam di kamarnya. Mereka begitu santun dalam bertutur dan bersahaja. Membuat Aisyah, Nisa dan Uminya bagai di rumah saja.

Dalam perjalanan pulang, mereka mampir ke suatu tempat untuk makan malam. Nisa mengambil tempat duduk tepat di depan televisi layar lebar yang diletakkan di sudut ruangan.

"Aparat menggerebek sebuah villa di daerah Puncak, Jawa Barat. Diketemukan 11 orang remaja terdiri dari 4 remaja putri dan 7 remaja putra sedang mengadakan pesta sex dan narkoba. Pemilik villa ditengarai seorang mahasiswi berinitial R putri seorang pejabat publik bernama AR...."

Nisa terhenyak mendengar isi berita yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Terlihat dilayar remaja-remaja itu diarak petugas kepolisian. Nisa terbelalak, itu seperti Rosi, Siska, Vina, empat KPop idolanya dan teman-temannya. Jadi... mereka.... Nina merasakan kedua lututnya mendadak lemas.

"Ada apa Nisa?" tanya Umi terheran-heran melihatnya.

"Itu... itu... teman-teman Nisa, Mi...," jawabnya tergugu, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah layar televisi.

Nisa merasa malu, selama ini dia terpikat dengan penampilan mereka yang elegant. Syukur berangsur menjalari dada, karena Umi dan Aisyah telah mencegahnya mengikuti mereka. Entah apa jadinya bila kemarin dia nekat pergi bersama mereka, naudzubillah.

Nisa memandang Aisyah dan Umi penuh rasa terima kasih. Disadarinya kini, Aisyah, sepupunya itu benar-benar teman sejati, yang selalu mengingatkan dan menjaganya dalam kebaikan. Yang tidak menjerumuskannya dalam kesesatan. Kuatkanlah ikatan tali persaudaraan kami ya Robb, pintanya dalam hati.

#Demak, 01032015

Biodata:
Titien Sumartini Dwifatmasari, penyuka seni, pegiat dunia literasi. Karya-karyanya dapat kita temui, dalam buku antalogi Senandung Serunai, Samudera Aksara Pujangga, Putik Desemberku, I love U Mom, Melati Untuk Ibu, dan masih banyak lagi. Penulis dapat dihubungi via facebook dengan nama akun yang sama, atau via email di titienfatmasari@gmail.com