Rabu, 30 September 2015

Revolusi mental dan pendidikan ala Nabi

REVOLUSI MENTAL DAN PENDIDIKAN ALA NABI (SHIBGHOH WAL 'INQOLAB)

Kita teramat sering mendengar ungkapan 'revolusi mental' disebut dan diperbincangkan di berbagai media. Ungkapan ini seolah menjadi kalimat yang spektakuler dan menyihir, sampai-sampai Kementrian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, merasa perlu membuat website dan mencanangkan 'Gerakan Nasional Revolusi Mental' dengan biaya fantastis, 140 milliar dan menuai banyak kritikan karena dianggap tak profesional dan menghambur-hamburkan uang negara.

Ungkapan 'revolusi mental' sendiri pertama kali diungkapkan oleh Bung Karno, bapak presiden I negeri ini di tahun 1957. Pada waktu itu, beliau melihat semangat nasionalisme cenderung terus menurun pasca kemerdekaan. Mereka yang sebelum kemerdekaan bertindak dan berpikir 'aku untuk semua, aku untuk Indonesia', mulai berubah. Sedikit demi sedikit terjadi pergeseran nilai,  nasionalisme pun terkikis, keegoisan membudaya, mindset berubah menjadi 'aku untuk aku." Karenanya, beliau mencanangkan gerakan revolusi nasional, melalui perubahan besar-besaran. Dari mulai langkahnya yang memutus ketergantungan dengan negara Barat dan mencanangkan ekonomi kerakyatan sampai pada sektor pendidikan dan kesehatan. Memang bukan langkah yang langsung terlihat hasilnya dalam waktu dekat, karena proses ini perlu waktu yang teramat panjang dan berkelanjutan.

Kemudian, ungkapan 'revolusi mental' ini pun mencuat lagi da dipopulerkan oleh Pak Jokowi yang pada waktu itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Yang kemudian banyak diperbincangkan masyarakat seolah hal yang baru dan banyak yang tak memahami artinya. Kehadirannya yang seolah tak membawa perubahan yang berarti, sehingga tumbuh idiom di masyarakat serupa sindiran 'revolusi mental atau revolusi mental?' Kalau yang pertama bermakna perubahan pola pikir yang lebih baik, kata yang kedua merujuk pada perbendaharaan bahasa Jawa yang berarti revolusi yang gagal (mental=memantul=berbalik ke belakang).

Dalam Islam sendiri, revolusi mental hanya bahasa lain dari 'shibghoh wal inqolab.' Terjemahannya 'terwarnai dan berubah total.' Maknanya adalah bahwa seseorang yang berIslam, akan mempelajari syariat dan hukum-hukumnya secara menyeluruh, kemudian mengamalkannya dan mengajarkannya sepanjang sisa kehidupan. Maka kita kemudian mengenal Sayyidina Umar ibnul Khaththab ra, yang sebelum Islam adalah seorang pegulat, preman pasar yang kasar lagi keras, yang mengikuti tradisi jahiliyah dengan mengubur putrinya hidup-hidup, yang menyelesaikan segala sesuatu dengan kekerasan. Dan ketika cahaya Islam menyelimutinya, kemudian kita mendapati beliau sebagai kalifah berhati lembut dan sangat memikirkan rakyatnya. Beliau memanggul sendiri persediaan makanan untuk seorang ibu yang terpaksa memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya yang kelaparan. Beliau menggunakan tangannya sendiri dan istrinya untuk menolong musafir yang hendak melahirkan. Beliau menerjang badai pasir yang ganas demi menyelamatkan anak unta bagian dari zakat yang lepas dan tersesat. Pada kekhalifahan beliau semua hak umat ditunaikan dengan adil, dan harta hasil zakat hampir tak mempunyai daftar penerima karena semua penduduk merasa tak layak menerima zakat.

Dan kita pun mengenal seorang yang dulunya penyamun, berasal dari daerah yang sebagian besar masyarakatnya hidup dari barang rampokan. Setelah berIslam, Rasulullah saw mengganti namanya menjadi 'Abi Dzar Al-ghifari' dan mengutusnya kepada kaumnya. Di sana beliau berdakwah dan berhasil mengislamkan mereka semua. Mereka pun bertaubat dan memulai penghidupan secara halal dan berhenti berbuat dholim.

Ada banyak lagi kisah yang tak kalah menakjubkan. Mereka yang berhasil tershibghoh wal inqolab, mereka yang berhasil merevolusi mental dirinya, dari mana mereka mulai? Jawabannya, tak lain dan tak bukan adalah karena apa yang diajarkan Rasulullah saw kepada mereka, karena pendidikan Nabi saw yang menyentuh, tak hanya kulit luarnya, namun juga sampai ke pori-porinya, terus menembus ke dalam hati mereka.

Kita bisa melihat, sepanjang kurun waktu gerakan nasional revolusi mental ini dicanangkan, tak ada perubahan yang berarti. Budaya korupsi, kolusi dan nepotisme seolah mengakar kuat tak mau tumbang. Para pejabat hanya bisa teriak 'revolusi mental' sementara perut mereka terisi penuh tangis kelaparan rakyat yang tempat tinggalnya dirampas, dengan tatapan kosong mereka yang tak bisa berobat dan tak bisa sekolah. Dan anak-anak sekolah lebih disibukkan tawuran dan ikut arus pergaulan bebas daripada belajar.

Apa yang salah? Apa pencanangan gerakan nasional revolusi mental yang digagas pemerintah salah? Tidak. Hanya saja, pencanangan itu perlu pembuktian yang nyata, sebagai pembelajaran seluruh elemen bangsa. Bukan dengan membuat website yang menghabiskan 140 milliar setahun yang mungkin tak akan pernah dibaca seluruh penduduk Indonesia, kecuali beberapa gelintir saja. Gunakan saja dananya untuk memperbaiki sekolah-sekolah yang sudah tak layak ditempati, bukannya malah mengambrukkan bangunannya dan mendirikan bangunan lain yang tak ada sangkut pautnya dengan pendidikan. Gunakan saja dananya untuk menggaji guru-guru madrasah yang berlelah-lelah mengajar anak-anak ilmu pengetahuan dan budi pekerti. Gunakan saja dananya untuk menjamin pendidikan anak-anak tak mampu. Bukankah dalam Undang-Undang Dasar negeri ini tercantum bahwa, "fakir miskin dan anak terlantar dibiayai negara?"

Manusia adalah makhluk peniru dan pembelajar ulung. Apa yang dia lihat dan alami akan menjadi bahan ajar yang akan ia ikuti. Maka pencanangan gerakan nasional revolusi mental itu perlu pembuktian. Merevolusi mental para pemimpinnya dan para pejabatnya sebagaimana Rasulullah saw merevolusi mental Sayyidina Umar, Abi Dzar Al-ghifari dan sahabat-sahabatnya yang lain sehingga mereka tershibghoh dan benar-benar menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan bermanfaat,  berbeda dari sebelumnya. Dengan pendidikan ala Nabi saw, menjadikan mereka merasa diawasi Tuhan tanpa henti, sehingga berpikir berribu kali ketika akan melakukan tindakan yang tak terpuji. Rakyat pun akan merasa terayomi, sehingga bisa bekerja dan berbakti untuk negeri sepenuh hati.

Maka perlu pula merevolusi mental para guru sebagai ujung tombak pendidikan. Dengan pendidikan robbani, pendidikan ala Nabi saw. Agar tak ada lagi guru-guru yang keluyuran pada jam pelajaran, menyerahkan tugas pada mahasiswa keguruan yang baru praktek mengajar. Agar tak ada lagi guru-guru yang malas masuk kelas, hanya memberikan tugas dan catatan. Agar tak ada lagi guru-guru yang melanggar adab kesopanan dan suka melecehkan. Maka akan terbentuk siswa-siswa yang beradab, berpengetahuan dan berbudi pekerti menakjubkan. Mereka akan tumbuh menjadi pemuda-pemudi yang bertanggungjawab, sadar akan tugas dan kewajiban. Kelak tangan mereka akan merubah masa depan, menghapus yang suram, menorehkan sejarah yang menawan. In syaa Allah.

Revolusi mental dalam Islam, hanya bisa ditanamkan melalui pendidikan ala Nabi saw, oleh mereka yang mengerti dan memahami syariat dan hukum-hukum Allah. Mereka yang mendidik tak hanya akal pikiran, namun juga hati dan seluruh anggota badan, menyelaraskan amal dan perbuatan. Maka muliakanlah para ulama, hidupkan pesantrennya, karena di sanalah pola pendidikan ala Nabi saw diwariskan. Bukan dengan mencurigai mereka dan menghembuskan tuduhan yang tak beralasan. Agar manusia tak hanya mengerti ilmu pengetahuan tapi juga beriman dengan sebenar-benar iman. Mereka yang beriman selalu lebih peka menolong yang membutuhkan. Mereka yang beriman selalu lebih peduli dan mudah mengulurkan tangan. Mereka yang beriman selalu mengedepankan etos kerja dan amal, tidak menjatuhkan diri dalam permainan dan kesia-siaan. Mereka yang beriman selalu lebih mudah diingatkan ketika melakukan kesalahan. Mereka yang beriman selalu lebih mengutamakan persatuan dan kebersamaan dan mengecilkan 'keakuan'.

Pada akhirnya, inilah sebuah jawaban 'dari mana hendaknya revolusi mental harus dimulakan?' Dengan pendidikan ala Rasulullah saw, dengan menumbuhkan iman di setiap hati dan jiwa manusia, merubah keburukannya dan membangunkan sifat kebajikan. Butuh waktu lama dan terus menerus, namun dengan doa, usaha, istighfar dan tawakal, yakinlah semua akan indah pada waktunya.

Ingat pula firman-Nya dalam QS Ar-Ra'du ayat 11, "Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
Negeri ini adalah negeri kita, maka kitalah yang harus merubahnya menjadi jauh lebih baik, agar kita tak mewariskan keburukan untuk generasi selanjutnya. Kita bisa, in syaa Allah.

#Demak, 27082015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar