Kemajuan teknologi ini memang
membawa dampak yang cukup signifikan terhadap cara hidup masyarakat, termasuk
dalam kehidupan keluarga. Di sisi pengetahuan dan kemudahan banyak sisi
positifnya. Namun di sisi yang lain, tidak sedikit pula sisi negatifnya yang
dapat mengancam keberlangsungan kehidupan berkeluarga.
Bila ditelaah lebih
lanjut, era globalisasi telah membawa dampak sebagai berikut:
1. 1.. terjadinya perubahan dari pola hidup sederhana dan produktif cenderung berubah ke arah konsumtif.
Hal ini terjadi karena masuknya hegemonisasi food (makanan), fun (hiburan), fashion (mode), dan thought (pemikiran) secara massif melalui informasi yang sangat mudah diakses. Manusia cenderung menyukai apa yang terlihat menyenangkan baginya dan mereka cenderung berusaha meniru dan mengadopsinya.
2. 2. Terjadinya perubahan struktur keluarga, dari extended family cenderung ke arah nuclear family, bahkan sampai single parent family.
Hubungan kekeluargaan/emosional antar anggota keluarga besar (extended family) yang semula lekat dan hangat (family right), cenderung menjadi longgar (family loose). Yang tadinya antar keluarga adik dan kakak masih sering berkunjung dan saling bantu, akhirnya tidak. Bahkan tak jarang terjadi pertikaian antar saudara masalah warisan dan perawatan orang tua mereka yang sudah lansia. Tidak sedikit pula yang memilih menitipkan orang tua mereka ke panti jompo atau penitipan manula.
Hubungan emosional antar keluarga inti pun ikut berubah, antara suami-istri dan anak seringkali tidak memiliki waktu yang cukup untuk bertemu secara kuantitas maupun kualitas. Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri, keluarga sudah bukan prioritas lagi, perbedaan pendapat lebih sering terjadi, akhirnya banyak yang memilih menjadi single parent.
3. 3. Terjadi
perubahan nilai, yang awalnya memegang teguh nilai-nilai agama, sedikit demi
sedikit cenderung berubah ke arah sekuler dan serba membolehkan (premisive
society);
Hal ini sering terjadi karena kurangnya pemahaman nilai-nilai agama yang benar dan mendasar. Orang cenderung lebih suka searching hal-hal yang menyenangkan dan menghibur ketimbang searching ilmu agama yang seringkali dianggap membebani dan memberatkan. Akhirnya, yang halal dan haram pun menjadi campur aduk dan tidak lagi dianggap sebagai hal yang penting.
4. 4. Perubahan gaya hidup dan pemikiran banyak memberi masukan bagi manusia untuk melakukan tawar-menawar dalam perkawinan. Banyak di antara mereka yang menikah atas dasar kesenangan dan kenikmatan hidup bersama, tetapi abai dalam memikirkan tanggungjawab bersama. Padahal, yang namanya kesenangan dan kenikmatan sudah tentu mudah berubah. Akhirnya, ketika kesenangan dan kenikmatan itu sudah tidak mereka dapatkan dalam pernikahan, mereka memilih bercerai.
Banyaknya angka perceraian yang terus meningkat dari tahun ke tahun menjadikan lembaga perkawinan mulai diragukan dan masyarakat cenderung memilih hidup bersama tanpa nikah. “Buat apa nikah, kalau cuma untuk sementara, lebih enak begini. Tidak usah ngurus surat nikah, tidak repot ngurus surat cerai. Selesai ya selesai.” Demikian alibi mereka.
5. 5. Ambisi karir dan materi juga punya andil besar dalam mengganggu hubungan ipersonal, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Ambisi karir ini mendorong istri untuk berkarir di luar biasanya mengakibatkan:
pertama, suami sering mengeluh bahwa sejak istri turut bekerja dan berpenghasilan, dirasakan wibawa dirinya terhadap istri menurun karena istri telah belajar mandiri dan mengurangi ketergantungannya kepada suami;
kedua, bagi istri yang karir dan berpenghasilan lebih tinggi dari pada penghasilan suami, dapat mengakibatkan rasa rendah diri pada suami dan menimbulkan rasa cemburu,
ketiga, peran sebagai kepala rumah tangga dan sebagai pencari nafkah dapat berbalik manakala suami tidak bekerja. Kondisi seperti ini akan mengakibatkan rasa rendah diri, harga diri menurun wibawa menurun di dahadapan istri dan anak-anak berkurang, dan kendali kepemimpinan keluarga berpindah kepada istri.
6. 6. Terjadinya perubahan pola hidup masyarakat dari sosial religius cenderung ke arah individu materialistik. Sikap individualis/egois merebak dan merajalela, menimbulkan kerenggangan hubungan antar anggota keluarga dan relasi dengan masyarakat. Sikap kepedulian mulai terkikis karena sebagian besar orang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Referensi:
Mustofa, Imam. 2008.
“Keluarga Sakinah dan Tantangan Globalisasi”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar