Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Senin, 26 Oktober 2020

miftahul Jannah


Miftahul jannah laa ilaaha illallah. laa ilaha illallah, muhammadurrasulullah.

Kalimat itu acapkali kita dengar,  dilagukan dengan merdu sebagai pengingat. Kunci surga (adalah) tiada tuhan selain Allah. (Meyakini)  tiada Tuhan selain Allah swt,  Muhammad saw utusan Allah swt. Demikianlah artinya. 

Surga,  rasanya tak ada seorang pun  yang tak ingin memasukinya.  Surga, dengan segala kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan terlintas dalam hati manusia, juga memiliki pintu-pintu untuk memasukinya. Pintu-pintu surga itu memerlukan kunci untuk membukanya. Apakah gerangan kunci surga itu?

Kunci surga sesungguhnya telah dijelaskan secara gamblang oleh Baginda Rosulullah SAW dalam sabdanya 

مَنْ كاَنَ أَخِر كَلامِهِ لاإِلَهَ إلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنّةَ

“Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah laa ilaaha illallaah ( tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah),  maka ia akan masuk surga.” (HR Abu Dawud)

Ternyata, kunci surga adalah dua kalimat syahadat (syahadatain). Dua kalimat yang tak asing bagi umat Islam bahkan begitu sering didengar dan diucapkan. Namun, apakah semudah itu surga dapat dibuka dan dimasuki hanya dengan dua buah kalimat? Jika demikian tentu semua orang sangat mungkin bisa mengucapkannya meski harus dibimbing terlebih dahulu dan akhirnya berhak masuk surga.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa seseorang pernah bertanya kepada Imam Wahhab bin Munabbih, seorang tabi’in terpercaya dari Shan’a, “ Bukankah Laa ilaaha illallah itu kunci surga?” Wahhab menjawab, “Benar, akan tetapi setiap kunci pasti bergerigi. Jika engkau membawa kunci yang bergerigi, maka pintu surga itu akan dibukakan untukmu.”

Gerigi-gerigi kunci itulah yang kemudian menjadi syarat diterimanya dua kalimat syahadat. Asy-Syaikh Muhammad Said Al Qohthoni menjelaskan tujuh syarat diterimanya syahadat.
 
Pertama, Al ‘Ilmu (mengetahui). Setiap orang yang bersyahadat harus mengetahui dengan benar apa makna dan maksud yang terkandung dalam dua kalimat tersebut.   

 Allah swt berfirman, 

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

“ Dan janganlah engkau mengikuti apa-apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua akan dimintai pertanggungjawaban.”(QS. Al Isro’: 36). 

Syarat kedua, Al Yaqin (meyakini). Setiap orang yang mengikrarkan dua kalimat syahadat ini harus meyakini sepenuh hati tanpa ada keraguan di dalamnya. 

Allah swt berfirman, 

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNYA kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hujurat: 15). 

Syarat ketiga, Al Qobul (menerima). Syahadat baru diterima di sisi Allah SWT jika menerimanya dengan total atas konsekuensi yang menyertainya dengan hati dan lisannya. Jika seseorang mengucapkan syahadat hanya di lisannya tanpa mengakui kebenaran di hatinya maka syahadatnya ditolak. Ia adalah seorang munafiq I’tiqodiy.

 Allah swt mengecam kaum musyrik lagi munafiq yang menolak kalimat syahadat ini dalam firman-Nya, 

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ . وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ 
 
“ Orang-orang musyrik itu apabila dikatakan kepada mereka : (ucapkanlah) Laa ilaaha illallah, mereka menyombongkan diri seraya berkata : apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami hanya karena ucapan penyair yang gila ini.”(QS. Ash Shoffat : 35-36).

Syarat keempat, Al Inqiyad (tunduk patuh). Ikrar syahadat harus diikuti dengan sikap tunduk patuh terhadap kandungan maknanya. 

Allah SWT berfirman, 

وَأَنِيبُوٓا۟ إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا۟ لَهُ

“ Kembalilah ke jalan Tuhanmu, dan tunduklah kepadaNYA.” (QS. Az Zumar : 54). 

Firman Allah dalam Quran surah Luqman ayat 22 menjelaskan hal ini. 

وَمَن  يُسْلِمْ  وَجْهَهُۥٓ  إِلَى  اللَّهِ  وَهُوَ  مُحْسِنٌ  فَقَدِ  اسْتَمْسَكَ  بِالْعُرْوَةِ  الْوُثْقَىٰ  ۗ  وَإِلَى  اللَّهِ  عٰقِبَةُ  ﴾ الْأُمُورِ 

“ Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada ikatan tali yang amat kokoh (kalimat Laa ilaaha illallah).” 

Syarat kelima, Ash Shidq (jujur atau benar). Syahadat harus diucapkan dengan sungguh-sungguh tanpa kepalsuan dan kepura-puraan. Ucapan lisannya harus sejalan dengan pikiran dan hatinya. Karena Allah Maha Mengetahui setiap hamba yang jujur dalam keimanan dan yang melakukan penipuan. 

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الأَخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ . يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ . فِي قُلُوبِهِم مَّرَضُُ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذّابٌ أَلِيمُ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
“Dan di antara manusia ada yang mengatakan, “ Kami beriman kepada Allah dan hari Akhir,” padahal mereka itu sebenarnya bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal pada hakikatnya mereka hanya menipu diri sendiri, sedangkan mereka tidak sadar.”(QS. Al Baqoroh : 8-10).

Syarat keenam, Al Ikhlash (ikhlas). Ikrar syahadat harus dilakukan dengan penuh keikhlasan dan hanya mengharap ridha Allah swt.  

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

 “ Mereka itu tidaklah diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan kepatuhan kepadaNYA (ikhlas) dalam menjalankan agama secara lurus…”(QS. Al Bayyinah : 5).

Syarat terakhir adalah Al Mahabbah (cinta). Seorang yang telah mengikrarkan syahadat maka ia harus mencintai Allah di atas segalanya dan mencintai segala sesuatu dalam rangka mencintai Allah swt. 

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ 

 “ Dan di antara manusia ada orang-orang yang mengambil tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat mencintai Allah di atas segala-galanya.”(QS. Al Baqarah : 165).

Demikianlah syarat-syarat diterimanya syahadat yang merupakan gerigi-gerigi kunci surga. Seseorang yang hanya mengucapkan syahadat namun tidak memenuhi syarat-syaratnya maka ia bagaikan orang yang memegang kunci surga yang tak bergerigi. Ia tak dapat membuka pintu surga dan mustahil masuk kedalamnya. 

#Demak, 27102020

#Allahdulu
#Allahlagi
#Allahterus
#lailahaillallah
#muhammadrasulullah
#cintaislam
#cintakalimattauhid

Sabtu, 17 Oktober 2020

Belajar Dari Air

Bersabarlah seperti air. Terus mengalir ke bawah sesuai hukum alamnya. Ketemu rintangan dia berbelok, ketemu celah sempit dia menyelip, ketemu batu besar dia menyibak, ketemu tanggul dia mengumpulkan diri, membesar lalu meninggi dan menumpahkan diri melewati bendungan untuk terus mengalir lagi hingga kembali ke samudra luas. 

Dalam perjalanannya, terkadang ikut pula terbawa kotoran berbagai macam, terkadang mengotori lahirnya yang tak lagi terlihat bening, tapi keruh, menghijau, kecoklatan atau bahkan menghitam. Namun dia akan terus berjuang, walau terkadang panas mentari menghabiskan raganya hingga tak bersisa, atau tertatih- tatih hingga percikannya  sampai ke muara, membersihkan segala daki dan kembali suci lagi mensucikan dalam samudra luas.

Bersabarlah laksana air, yang terkadang terlihat seperti diam, tenang dan seolah tak melakukan apa-apa, sejatinya dalam tenang dan diamnya, dia terus berjuang habis-habisan agar bisa terus mengalir menuju muaranya.

Bersabarlah bagai air yang mengalir melewati apa saja. Sesungguhnya, bersabar itu bukan diam tak bergerak, tetapi terus berjuang menapaki jalan-Nya walau dalam kesunyian. Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.

Kamis, 01 Oktober 2020

Ketika Aku dan Kau Menjadi Kita (3)


Ketika seorang lelaki dan seorang menikah,  mereka tak hanya pindah dari satu status ke status yang baru. Dari lajang berganti menikah. Dari panggilan mas atau mbak menjadi tuan dan nyonya.  

Juga tak sekadar berpindah dari rumah yang lama ke rumah yang baru. Bukan cuma menambah keluarga lama dengan keluarga yang baru. Dulu hanya terikat dengan orangtua dan saudara-saudaranya sendiri saja. Setelah menikah maka masuk dalam lingkaran yang lebih luas lagi. Ada suami/istri, ada mertua dan keluarganya. 

Pernikahan menyatukan dua insan dalam satu ikatan yang lebih spesifik. Suami adalah pakaian istri,  demikian juga sebaliknya. Namun bukan pula sekadar berganti pakaian,  namun menjadi ruh dan nyawa dalam keluarga barunya. Mereka menjadi hal yang paling penting dan merupakan bagian inti di dalamnya. 

Suami istri ibarat sepasang paru-paru dan jantung dalam satu tubuh. Paru-paru bertugas mengikat oksigen yang masuk melalui organ pernapasan luar dan melepaskan karbon dioksida dalam darah yang mengalir menuju jantung.  Jantung kemudian mengalirkan darah bersih yang berisi oksigen ke seluruh tubuh dan membawa darah kotor yang berisi karbon dioksida untuk diproses dan dibersihkan oleh paru-paru. 

Begitupun suami dan istri. Mereka bertugas mengambil semua nilai-nilai kebaikan dari luar dirinya. Kemudian menanamkannya dalam rumah tangga. Mereka juga punya kewajiban untuk membersihkan setiap keburukan yang muncul dalam rumah tangga. Tanggung jawab untuk mengedepankan sifat-sifat positif dan menurunkan ego,  membuang sifat-sifat negatif yang acapkali muncul. Dengan demikian akan tercermin akhlak yang mulia dalam rumah tangga tersebut. Dalam diri suami,  istri maupun anak-anak yang lahir kemudian. 

Suami istri  ibarat organ pencernaan sekaligus organ pembuangan dalam satu tubuh. Mereka menyerap zat-zat baik dan berguna bagi tubuh dalam makanan yang dikonsumsi. Kemudian membuang ampasnya keluar tubuh. Mereka juga bertugas menyaring kembali zat-zat baik dan berguna dalam cairan hasil metabolisme. Lalu mengeluarkan sisanya bersama dengan cairan yang sudah kotor melalui saluran pembuangan. 

Begitulah suami istri. Punya kewajiban untuk mengambil manfaat dan membuang mudharat. Maka mereka juga harus memperhatikan  makanan dan minumannya. Menjaga kehalalan dan kethoyibannya. Agar lebih mudah menyaringnya dan tak semakin memperberat tugas. 

Lebih dari itu,  suami istri adalah qolbu sekaligus akal bagi rumah tangganya. Punya kewajiban untuk selalu membersihkannya.  Yang dengannya menampakkan aktifitas yang bermanfaat dan bernilai positif (kebaikan).  Bagi diri,  keluarga dan masyarakatnya. 

Rasulullah saw bersabda, "ingatlah,  di dalam jasad ada segumpal daging.  Bila ia baik maka baiklah seluruh jasad. Bila ia buruk maka burukkan seluruh jasad. Ingatlah,  ia adalah qolbu (hati). " Qolbu yang baik akan mendorong akal melakukan aktifitas kebaikan dan menjauhi aktifitas keburukan. Memberi manfaat dan tidak menimbulkan mudharat. 

Semoga Allah swt mengistiqomahkan kita dalam kebaikan agama ini. Dan memasukkan kita dalam golongan yang disebut khoirunnas. Khoirunnas anfauhum linnaas. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi umat. Aamiin. 

Nb: fotonya duduk semua ya,  udah capek berdiri. 

#anniversary 
#mitsaqongholidzon 
#29sept2020