Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Minggu, 31 Mei 2015

Aku mencarimu


Tema : Rindu Rabb
AKU MENCARIMU
Oleh; Titien SDF

Aku mencari-Mu Tuhan
Dalam dunia yang penuh kenikmatan
Pada anak keturunanku nan elok rupawan
Di bawah naungan rumah megah nan nyaman
Di antara semua harta perniagaan
Firman-Mu pun turun penuh ancaman
Di ayat dua puluh empat surah sembilan

Aku mengunjungi-Mu
Bawa semua keberdayaanku
Ringankan kesakitan  para hambaMu
Usap tangisan anak yatim penuh pilu
Dhuafa menahan lapar nan membelenggu
Yang tertindas dan terkapar sendu
Dengan sedikit uluran tanganku.

Aku memanggil-Mu, Ya Rohmaan
Lewat setiap huruf yang kueja
Tersemat firmanMu dalam kitab mulia
Menyelisik: pelajari maknanya
Coba pahami dan melaksanakan isinya
Membacakan dan mengajarkannya
Kepada setiap jiwa
:nan jahil dan tak tahu ada keberkahanMu di sana.

Aku menemui-Mu, Tuhan
Menyungkurkan kepala
Menyempurnakan ketundukan
Berbasah air mata, mendesah do'a
Sampaikan cemas akan untaian dosa
Melabuhkan harap, taubat Kauterima
Angankan ridho dan ampunan semata

Temuilah aku, Tuhan
Kepada siapa lagi, pinta kulantunkan
Engkau satu: pengabul setiap harapan

#Demak, 01062015

C

Kamis, 28 Mei 2015

Terperangkap dosa


Judul: Terperangkap Dosa
Oleh : Titien SDF

Bermula dari pandangan
Lalu ... entah mulai kapan
Tanganku sudah terikat tali keburukan
Membelit raga:  berkelindan
Mata, bibir, hingga semua anggota badan
Mencumbu maksiyat: hidup tanpa ikatan
Bercinta dengan para setan

Ragaku terperangkap
Dalam gelembung dosa nan senyap
Meluncur jauh ke dasar sumur nan pengap
Kenikmatan pun lenyap
Kucoba usir takut yang hinggap
Kematian seakan hendak mendekap
Bersama azab yang menyergap

Api pun datang menggulung
Kulum rasaku pada sesal yang menggunung
Pada bilangan dosa yang tak terhitung
Lembar amal sudah tak mungkin lagi disambung
Pada siapa aku berlindung
Bingung dan linglung
Tiada tempat bergantung

Dan kuterjatuh
Segala bayang pun luruh
Jasadku masih utuh
Di sini: dalam dunia nan rapuh
Untuk satu kesempatan lagi
Ceraikan nafsu yang kuasai hati
Jalan pertaubatan kutapaki
Menuju ampunan-Nya: kuberlari

#Demak, 28052015

Rabu, 27 Mei 2015

Sandal baru lilis

SANDAL BARU LILIS

Di depan etalase sebuah toko sepatu, seorang bocah perempuan berdiri mematung. Matanya tak lepas memandangi sepatu dan sandal yang berjajar rapi memenuhi etalase. Dibetulkannya letak jilbabnya yang mulai miring. Diusapnya peluh dengan ujung jilbabnya. Lalu, dengan perlahan dilangkahkannya kaki memasuki toko itu. Lama dia berdiri di salah satu barang yang menarik hatinya. Sebuah sandal bergambar bunga-bunga cantik berwarna merah muda.

"Kalau untuk beli sandal begini, pasti tabunganku cukup," gumamnya, "sandal yang cantik. Tak seperti sandal jepit biasa. Kalaupun bepergian, aku tak malu memakainya."

"Maaf, Mbak, sandal ini harganya berapa?" Lilis, anak perempuan itu, memberanikan diri bertanya pada seorang pramuniaga di sana.

"Oh, itu murah, Dik. Cuma dua puluh dua ribu rupiah," jawab mbak pramuniaga itu tersenyum manis, "Adik mau beli? Boleh dicoba kok."

Mbak pramuniaga itu mengambilkan sandal yang dimaksud, Lilis pun mencobakan pada kakinya. Pas, alhamdulillah.

"Jadi dibeli, Dik?" tanya mbak pramuniaga.

"Tolong disimpankan dulu ya, Mbak. Lilis mau ambil uangnya dulu," jawabnya malu-malu. Si mbak mengangguk dan tersenyum pada Lilis yang bergegas pulang.

Sesampai di rumah, Lilis bergegas masuk ke kamarnya. Rupanya ibu belum pulang dari tempatnya bekerja. Diambilnya celengan rumah-rumahan miliknya. Diputarnya kunci dan dikeluarkannya isinya.

"Sepuluh ribu ... dua puluh ribu ... dua puluh lima ribu ... dua puluh sembilan ribu ..., alhamdulillah, uangku cukup, masih sisa lagi," soraknya gembira.

Lilis mengambil semua uangnya, dia berencana membelanjakannya untuk membeli sandal dan beberapa alat tulis. Sudah lama Lilis ingin punya sandal baru yang bisa dipakai untuk bepergian . Dia tidak sampai hati meminta sepatu pada ibunya yang hanya seorang karyawan konveksi, sementara uang tabungannya tak mungkin cukup. Sepatu kan mahal. Sebenarnya, sepatunya masih bisa dipakai, tapi dia juga ingin memakai alas kaki baru seperti teman-temannya.

Lilis bergegas pergi ke toko sepatu dan membeli sandal yang diinginkannya. Sebelum pulang, disempatkannya membeli alat tulis yang dibutuhkannya.

Sesampai di rumah, Lilis buru-buru membungkus sandal barunya dan meletakkannya di bawah tempat tidurnya. Dia tak ingin adiknya melihat sandal barunya.

"Mbak Lilis sedang apa?" tanya Dinda dari balik pintu yang setengah terbuka. Rupanya dia  baru saja pulang dari belajar bersama di rumah temannya. Lilis yang masih dalam posisi jongkok menoleh kaget.

"Enggak, enggak apa-apa kok. Cuma memeriksa, kali-kali ada kotorannya," sahut Lilis, "tapi ternyata enggak ada."

"Oooh ..., ibu mana Mbak?" tanya Dinda.

"Belum pulang, mungkin sebentar lagi," jawab Lilis, "eh, sudah ashar, sholat dulu yuk."

"Iya. Habis ini kita masak telur dadar ya. Buat makan nanti. Di dapur sudah ada sayur asem buatan ibu, tinggal dipanasin."

Mereka pun beranjak berwudhu dan melaksanakan sholat ashar bersama. Selesai sholat, mereka menuju dapur untuk membuat telur dadar. Ibu memang sudah melatih mereka membuat telur dadar dan beberapa masakan lain, agar mereka bisa melakukannya sendiri sewaktu-waktu dibutuhkan.

"Assalamu'alaikum," terdengar sebuah suara. Rupanya ibu sudah pulang.

"Wa'alaikum salam," sahut Lilis dan Dinda. Mereka sudah selesai melakukan pekerjaannya.

"Subhanallah, kalian memang anak-anak yang sholihah. Ibu bangga pada kalian," seru ibu saat melihat sudah ada makanan yang tertata rapi di meja makan.

"Ibu juga punya sesuatu lho," kata ibu sambil mengeluarkan sebuah bungkusan. Ternyata isinya kue dan kolak pisang untuk mereka bertiga. Lilis dan Dinda bersorak kegirangan.

Dug dug dug ... allahu akbar ... allahu akbar .... Terdengar sayup-sayup bunyi adzan maghrib berkumandang. Alhamdulillah. Mereka pun  segera berwudhu dan menunaikan sholat maghrib. Setelah itu,  mereka makan bersama-sama. 

"Bu, Dinda ngaji dulu di masjid, nanti sekalian sholat isya'  ya," pamit Dinda.

"Gak bareng Mbak Lilis?" tanya Ibu.

"Mbak Lilis baru di kamar mandi, entar suruh nyusul aja," jawab Dinda sambil mencium tangan ibunya.

Tidak berapa lama, Lilis pun menyusul adiknya. Matanya terbelalak melihat sepasang sandal bergambar bunga-bunga cantik berwarna merah muda di teras masjid.

Lho, ini kan sandal yang kubeli tadi siang, batinnya gusar, pasti Dinda mengambilnya waktu aku ke kamar mandi. Sebenarnya Lilis ingin marah, tapi ditahannya, ini kan masjid, malu kalau dilihat orang-orang, masak sama adik sendiri berantem sih, pikirnya lagi. Lalu diputuskannya untuk membawa pulang sandal itu dan disimpan di tempat yang tersembunyi.

Lilis kembali ke masjid dan ikut bergabung dengan yang lain. Seusai mengaji, mereka lanjutkan dengan sholat isya bersama-sama.

Selepas sholat, anak-anak pun berlarian pulang. Lilis sengaja pulang paling akhir, dia ingin tahu bagaimana reaksi Dinda saat melihat sandalnya tidak ada di tempat. Pasti seru, pikirnya nakal.

"Lho, sandal baruku kok tidak ada? Siapa yang ngumpetin?" teriak sebuah suara. Lilis tertawa, tapi ... eh, itu bukan suara Dinda, pikirnya, siapa ya? Jangan-jangan ....

Lilis bergegas keluar. Ternyata Lia sedang menangis kebingungan, Dinda berusaha menghiburnya.

"Kenapa?" tanya Lilis.

"Huuu ... huuu ... sandal baruku ilang, huuu ... huuu ...tadi taktaruh di sini. Huuu ... warnanya merah muda, gambar bunga-bunga ... huuu ... huuu ...," jawab Lia sambil menangis.

Lilis merasa bersalah, dia melirik kaki Dinda, anak itu memakai sandalnya sendiri. Lilis semakin merasa bersalah.

"Eh ... oh ... eh ... mung ... mungkin aku yang salah, eee ... tadi kulihat sandal seperti sandal baruku, kupikir Dinda yang pakai jadi aku ambil. Ternyata aku salah ya. Maaf ya, Lia. Tunggu di sini, biar kuambilkan," kata Lilis malu-malu.

Lilis bergegas mengambil sandal yang disembunyikannya. Karena masih penasaran, ditengoknya bagian bawah tempat tidurnya. Sebuah bungkusan masih ada di sana. Dibukanya bungkusan itu, dijajarkannya dengan sandal yang tadi diambilnya dari masjid. Ternyata benar-benar sama, pantes aku jadi keliru, pikirnya. Segera diletakkannya lagi sandalnya ke tempat semula dan sandal Lia pun dikembalikan kepada pemiliknya.

"Maafkan aku ya, Lia," kata Lilis sambil mengulurkan sandal Lia.

"Ya, gak apa-apa. Alhamdulillah, sandalku gak jadi ilang," jawab Lia tersenyum.

"Maafkan aku ya, Dinda. Sudah berprasangka buruk padamu," kata Lilis malu.

"Yee, makanya, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Dilihat dulu dong," jawab Dinda agak kesal, tapi tak lama kemudian dia berkata," udah kumaafkan, Mbak Lilis. Lain kali jangan diulangi lagi ya," godanya. Mereka pun tertawa dan berkejaran pulang ke rumah.

#Demak, 26052015

Selasa, 26 Mei 2015

Sebuah pengakuan


Sebuah Pengakuan
Oleh : Titien SDF

Waktu berlari melaju begitu cepat
Bayangan ramadhan semakin dekat
Dan aku: sibuk mencuci hatiku yang berkarat
Jatuh dalam kubangan dosa dan maksiyat

Karat ini begitu cepat menjamur
Berlumuran debu, lumut dan berlumpur
Berkali kugosok dengan penuh tafakur
Namun seolah melekat kuat: tak jua luntur

Aduhai, cukupkah waktu
Ku bersiap menyambut hadirmu
Walau batin ini tak seputih salju
Kuharap rengkuh-Mu sucikanku

Tuhan, aku sangat tahu
Surga terlalu suci untukku
Di neraka pun aku tak mau
Hanya rahmat-ampunan-Mu yang kutunggu

#Demak, 26052015

Hafalan surat Adinda

HAFALAN SURAT ADINDA

Matahari mulai terbenam, hari mulai petang, sayup-sayup suara adzan maghrib berkumandang.

Allahu akbar allahu akbar, allahu akbar allahu akbar, asyhadu an laa illaha illallah ....

Muthi bergegas mengambil air wudhu, disambarnya mukena lalu dirapikannya jilbabnya. Gadis kecil itu pun segera melangkahkan kaki ke masjid di ujung gang.

"Mbak Muthi! Adinda ikut!" rengek seorang bocah sambil menarik baju Muthi. Muthi menoleh.

"Ish, anak kecil sholat di rumah saja. Sama Bunda!" hardiknya. Dan si kecil pun menangis sambil berlari kepada bundanya.

"Ajak adikmu, Mut. Biar dia belajar sholat jama'ah," seru Bunda.

"Tapi Bunda, Dinda cuma bikin malu aku. Dinda berjama'ah sama Bunda saja ah. Pokoknya Muthi gak mau ajak Dinda!" jawab Muthi gusar, meninggalkan tangisan Adinda dan guratan tanda tanya besar di hati Bunda.

Hemmm, ada apa ya? pikir Bunda. Digamitnya tangan Adinda, menuntunnya berwudhu dan memakaikan mukena.

"Dinda, sholat jama'ah sama Bunda ya. Tirukan Bunda dan jangan berisik," pesan Bunda sebelum mulai mengimami sholat. Adinda mengangguk.

Bunda pun mulai mengimami sholat. Bacaannya cukup terdengar oleh Adinda. Adinda pun mengikutinya dengan tenang. Hening, tak ada suara berisik sampai sholat selesai.

"Bunda, Adinda ingin ikut sholat jama'ah di masjid. Kata Bu guru, sholat jama'ah pahalanya lebih banyak dua puluh tujuh derajat," rengek Adinda.

Bunda tersenyum dan berkata, "baiklah. Nanti, kita sholat Isya' di masjid." Adinda mengangguk senang.

Seperti biasa, selesai sholat Bunda mengajar Adinda mengaji, menghafalkan surat-surat pendek. Kali ini diajarkannya surat Al Fiil. Diceritakannya kisah yang tergambar di dalamnya agar mempermudah hafalan putrinya. Bocah tujuh tahun itu mendengarkannya dengan takjub. Dia berhasil menghafalnya tepat sebelum adzan Isya' berkumandang.

Allahu akbar allahu akbar, allahu akbar allahu akbar, asyhadu an laa illaha illallahu ....

Bunda menyiapkan mukena dan sajadah lalu menggamit tangan Adinda. Dituntunnya menuju masjid. Sepanjang jalan Adinda melambai-lambaikan tangan pada teman-teman yang ditemuinya, memberi isyarat untuk mengikutinya. Bunda hanya tersenyum ketika melihat satu per satu mengikuti mereka. Alhamdulillah, Adinda suka mengajak teman-temannya untuk kebaikan, pikirnya. Hati Bunda dipenuhi rasa syukur.

Bunda mengambil tempat di deretan jama'ah wanita. Diambilnya tempat agak ke belakang, agar anak-anak tak mengganggu jama'ah di depannya. Bunda mengatur shoff mereka agar tak berebut.

Allahu akbar allahu akbar, asyhadu an laa illaha illallah, wa asyhadu anna muhammadur rasuulullah, hayya 'alal sholaah, hayya 'alal falaah, qodqoomatishsholah qodqoomatishsholah, allahu akbar allahu akbar, laa illaha illallah ....

Iqomat telah dikumandangkan, sholat segera akan dimulai. Bunda mengingatkan anak-anak agar sholat dengan tertib. Adinda mengambil tempat di sebelah Bunda, di belakang shoff Muthi, kakaknya.

Imam pun mulai bertakbir, semua makmum mengikutinya, tak terkecuali Adinda dan teman-temannya. Imam membaca surat Al Fatihah dengan suara keras dilanjutkan membaca surat pendek lainnya.

Bunda masih berusaha khusyuk saat telinganya menangkap suara Adinda. Anak itu ikut membaca dengan keras. Ketika dia selesai membaca lebih dulu, dia bergumam, "lebih keras bacaanku kan. Lebih cepat bacaanku kan, hehe." Tapi ketika sampai pada bacaan yang dia belum hafal, dia bergumam, "was wis wus, was wis wus."

Bunda berusaha tetap khusyuk walaupun hatinya seolah ingin menghentikan apa yang dilakukan Dinda. Tak lama kemudian, imam pun mengucap salam. Alhamdulillah, sholat telah selesai ditunaikan.

"Tuh kan, Muthi bilang juga apa. Dinda tuh berisik saja, bikin malu," seru Muthi sambil menoleh ke arah mereka.

Bunda menatap Adinda lembut, oh, jadi ini yang dimaksud Muthi, pikirnya. Diangkatnya wajah polos Adinda, lalu diciumnya lembut.

"Adinda sayang, sholat itu harus dilakukan dengan khusyuk. Kita ini makmum, tidak boleh mendahului imam, walaupun kita sudah hafal bacaan yang dibaca imam," kata Bunda lembut,  "Dinda ingat? waktu sholat maghrib di rumah bersama Bunda? Begitulah yang seharusnya. Kalau di rumah, Bunda menjadi imam dan Dinda makmum. Dinda bisa tenang dan khusyuk. Bunda acungin jempol. Tapi Bunda jadi sedih ...."

"Sedih kenapa, Bunda?" tanya Dinda mengerjapkan mata.

"Karena Dinda tidak khusyuk waktu sholat jama'ah di masjid. Makanya, Mbak Muthi tidak mau mengajakmu, Dinda berisik sih. Itu mengganggu jama'ah yang lain. Lain kali tidak boleh begitu ya, Dinda."

"Dinda cuma ingin mereka tahu kalau Dinda sudah hafal bacaan surat-surat pendek. Dinda salah ya, Bunda?" tanyanya polos.

"Sholat jama'ah bukan itu tujuannya, Dinda. Sholat itu beribadah kepada Allah, menjalankan perintahnya. Bukan untuk pamer hafalan. Surat-surat dalam Alqur'an itu untuk dibaca, dipelajari, dihafalkan dan diamalkan. Dinda mengerti?"

"Iya, Bunda. Sekarang Dinda mengerti. Maafkan Dinda, Bunda."

Dan Bunda pun memeluk Adinda penuh sayang. Sang kakak ikut menghambur dalam pelukan Bunda. Mereka bertiga beriringan pulang.

#Demak, 26052015

Senin, 25 Mei 2015

Dia yang kembali


Dia yang Kembali
Oleh : Titien SDF

Dia yang berjalan melintasi waktu
Adalah dia yang kemarin dan hari ini
Berpacu dengan masa yang cepat melaju
Terkadang merangkak, berjalan, bahkan berlari
Dia susuri pucuk-pucuk harap, menyulur tanpa ragu
Apapun dilakukan demi mengejar mimpi
Dholim pun tak apa, halal haram tak lagi berlaku
Peduli setan, dosa itu soal nanti

Tiba-tiba, berbilang pesan dia terima
Lewat kematian orang-orang tercinta
Dalam kehilangan materi dan harta benda
Pada kejahatan yang terendus lagi terbuka
Pada rasa sakit yang menghujam relung jiwa
Dan semua pergi tak tentu rimbanya
Tak terkecuali sanak saudara dan semua kolega
Luruh sudah kesombongan: tiada daya

Dia yang berjalan melintasi waktu
Adalah dia yang kemarin dan hari ini
Langkah dan tatap matanya tak setegak dulu
Menekuri hari mencari jalan kembali
Air mata dia tumpahkan di ujung malam yang bisu
Akrabi hari penuh sesal di balik jeruji
Ingin diputarnya waktu kembali ke masa lalu
Benahi hidup,  di atas jalan yang Dia ridhoi

#Demak, 26052015

Untuk kita renungkan

Untuk Kita Renungkan
Oleh: Titien SDF

Setiap kali, kita minta diberi kesempatan. Padahal Allah memberikannya tanpa perhitungan. Begitu banyak bahkan, Dia teramat tahu apa yang kita butuhkan. Di setiap situasi dan kondisi, tak terbatas oleh jarak dan ruang, selalu diselipkan. Terkadang tersemat di antara waktu luang, dalam kesenangan dan kebahagiaan. Namun acapkali berhimpit dengan kesempitan, dalam duka dan kesedihan. Seringkali, kesempatan itu luput dari pandangan, karena perhatian tak ke sana diarahkan. Lalu dia pun terlepas jauh dari genggaman. Kala tersadar, lisan berteriak meminta dia dikembalikan. Sedang sebelumnya telah kita sia-siakan. Astaghfirullahil adhiim, maafkan kami, Tuhan.

Setiap kali, kita minta diberi waktu. Padahal Dia telah memberikannya begitu banyak, menghitungnya pun tiada mampu. Namun diri ini mengeluhkannya selalu. Kekurangan ini itu, bahkan terbit keinginan membalikkan waktu. Padahal diri kita yang melalaikannya, meninggalkannya tanpa berbuat sesuatu. Atau memenuhinya dengan janji palsu dan angan-angan semu. Namun, masih saja dikuasai cemburu. Saat orang lain berhasil mengendarai waktu, dan menyematkan mahkota keberhasilan yang dikejarnya tanpa jemu.  Mungkinkah sukses itu menghampiri yang hanya diam dan menunggu. Oh, mana mungkin bisa begitu.

Waktu adalah ciptaan-Nya yang selalu baru. Yang kemarin hilang musnah, hari ini berlalu, besok berganti dengan yang baru. Walau satu menit tetap enam puluh detik, satu jam tetap enam puluh menit dan satu hari tetap dua puluh empat jam, dia tetap tak sama dengan yang telah berlalu. Lalu hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, dan seterusnya begitu. Akan selalu ada yang berubah dalam dirimu. Langkahmu takkan lagi setegar dulu. Satu demi satu helai uban kan hiasi rambutmu. Penglihatanmu, pendengaranmu, ingatanmu, juga semua kekuatanmu. Sedikit demi sedikit akan menurun seiring menanjaknya bilangan usiamu. Dosa dan pahala, siapa yang tahu? Semua bergantung pada buku catatan amalmu. Apa yang kaugoreskan di situ. Wahai jiwa, merenunglah, hisablah dirimu.

Semua kita diberi pilihan. Bebas, lepas dan tanpa paksaan. Mau ke kiri atau ke kanan: silahkan. Mau ingkar atau beriman pun diperbolehkan. Mau bersyukur atau tidak, itu pun terserah kalian. Tapi ingat, ada resiko yang harus ditanggung pada setiap pilihan. Ada yang ringan, sedang, ataupun berat membinasakan. Terkadang ada pula balasan dan imbalan. Berupa kesenangan dan kebahagiaan. Maka, pelajarilah semua pilihan agar tak menuai sesalan. Dunia hanya ladang persemaian. Alam akhiratlah rumah abadi kita sepanjang zaman. Duhai diri, letakkan nafsumu, mari kita renungkan.

#Demak, 25052015

Minggu, 24 Mei 2015

Cukuplah bagiku

Cukuplah Bagiku
Oleh: Titien SDF

Cukuplah bagiku
Menapakkan kaki pada waktu
Ikutinya dan sematkan rindu
Memutar dan mengikis asa yang tak perlu
Tetapkan yakinku

Cukuplah  untuk kutahu
Matahari, bulan dan bintang tiada mungkin bersatu
Bertemu dalam satu garis waktu
Namun tiada pernah terlukis cemburu
Senantiasa berkejaran tanpa jemu

Malam pun tak kuasa
Mematikan semua cahaya
Selalu saja ada dan ada
Seberkas sinar betapapun kecilnya
Isyaratkan huda, 'tuk ikutinya

Cukuplah sudah kurasa
Semua tanda telah kubaca
Berbilang pesan pun terima
Lalu kunyalakan dian asa
Meletakkannya di puncak kepala
Terus mengejar mimpi dan  berkata,
"Tak ada yang sia-sia,
Semua ada harganya
Semua ada balasannya"

#Demak, 25052015

Sabtu, 23 Mei 2015

Ruang rahasia

#Kamar_05
Ruang Rahasia
Oleh : Titien SDF

Jauh di seberang sisi Pantai Bandengan, Jepara, terletak sebuah pulau yang dikenal dengan nama Pulau Panjang. Pulau yang sering dijadikan persinggahan wisatawan, mengabadikan pemandangan yang eksotik menawan, atau sekadar mengguratkan nama di atas pasir putih yang ada di sana. Beberapa perahu silih berganti datang mengangkut wisatawan yang datang, sebagian menjauh memulangkannya ke bibir pantai.

Dina menikmati angin yang berhembus membelai wajahnya, matanya dipejamkan. Dirasainya sepasang tangan memeluknya dari belakangnya, sesuatu berbisik tepat di telinganya.

"Kau menikmatinya ya? Aku tahu tempat yang jauh lebih bagus dari ini."

Dina menoleh, wajahnya beradu dengan Agus yang sedang menatapnya penuh arti. Dina tersenyum, menarik tangan Agus merapatkan pelukannya.

"Ini sudah cukup indah buatku. Kalau harus ke tempat lain, kapan kita pulangnya?" tolaknya halus.

"Tak jauh dari sini kok, di belakang pulau ini ada sebuah lubang mirip gua panjang. Konon dulu sering dipakai tentara buat latihan perang. Kita lewat sana," bisik Agus mesra," sayang kan, kalau kita lewatkan. Sudah sejauh ini."

Dina menggigit bibirnya, ada rasa takut yang menjalari hatinya beriring dengan rasa ingin tahu.

"Kalau pas ada latihan perang gimana?" tanyanya.

"Gak, itu kan dulu. Ayuk ... keburu sore nanti, mumpung masih terang," ajak Agus menyeret tangan Dina. Setengah terpaksa, Dina mengikutinya. Mereka beriringan memutari pulau dan menemukan lubang yang dimaksud Agus.

"Kok Mas Agus tahu tempat seperti ini sih?" tanyanya heran.

"Aku kan asli daerah sini saja, jadi sering kemari," jawabnya. Dengan hati-hati dibimbingnya tangan Dina agar mengikutinya melewati lorong gua yang sebenarnya tidak terlalu panjang. Lubang itu ternyata berujung pada sebuah tempat lapang. Tak jauh dari situ, di balik semak-semak yang rimbun dan tinggi berdiri sebuah bangunan kuno mirip sebuah kastil.

"Wowww, klasik," desis Dina terkagum-kagum.

"Tuh kan, aku tak bohong kan? Yuk, ke sana."

"Itu ada yang menempati?"

"Setahuku tidak, kastil ini dulu milik orang Belanda. Bangunannya cukup kuat kok."

Mereka disambut dua orang perempuan berseragam rapi di depan pintu. Dina mengulurkan tangannya memberi salam, Agus tertawa.

"Kan sudah kubilang, kastil ini tidak ada penghuninya, mereka cuma patung lilin yang terlihat hidup. Kau terkecoh ya."

Dina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Patung-patung itu seperti benar-benar nyata. Dia benar-benar terkesima.

"Kau bisa menjelajah setiap tempat yang ada di sini, kecuali kamar 05. Aku mau ke toilet sebentar."

"Eh, aku jangan ditinggal!" seru Dina.

"Mau nemenin aku di toilet? Yakin?" goda Agus.

"Gaklah, ngapain," jawab Dina malu.

"Ya udah, silakan melihat-lihat. Aku cuma sebentar kok."

Dina mengangguk, mau tak mau dilangkahkannya kakinya memasuki setiap ruangan yang ada di sana. Agak berdebu, agaknya ada yang rutin membersihkan tempat ini, paling tidak seminggu sekali, pikirnya. Satu demi satu ruangan dimasukinya, selalu ada seorang perempuan yang berada di dalamnya. Dina tak ingin bertindak bodoh, kalau mereka hidup pasti sudah menoleh ke arahnya saat pintu dibuka. Ruangan pertama yang dimasukinya mungkin dulunya ruang keluarga. Ada dua perempuan yang duduk di atas sofa menghadap sebuah televisi usang. Mereka cantik dan terlihat hidup.

"Kenapa aku merinding ya," gumam Dina.  Menyesal tadi dia menolak mengikuti Agus ke toilet. Kan bisa menunggu di luar toilet, terus muter bareng-bareng. Kalau sendirian begini kan jadi takut juga. Hiii ....

Dina melangkahkan kaki ke arah mana Agus pergi. Sebuah pintu setengah terbuka didorongnya. Sebuah kamar tidur yang tertata apik, dindingnya penuh lukisan. Seorang gadis terlihat sedang asyik melukisi kanvas. Pasti patung lilin lagi, batinnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ditinggalkannya ruangan itu dan berpindah ke ruangan yang lain.

"Mas! Kamu di mana?" teriak Dina. Suaranya menggema riuh di kepalanya. Ekor matanya menangkap bayangan seseorang yang berlari menuju salah satu ruangan.

"Mas! Mas Agus! Tunggu aku, Mas!" teriaknya lagi. Dikejarnya larinya menuju salah satu ruangan. Kamar 05. Dina ingat kata-kata Agus tadi, diurungkannya langkahnya.

"Jangan-jangan tadi aku yang salah dengar. Mungkin Mas Agus ingin bilang kalau dia ada di kamar 05," gumam Dina Dilangkahkannya kaki memasuki kamar 05. Ruangan itu terlihat sangat indah dan terawat. Tempat tidur yang wangi dengan sprei yang rapi. Sebuah tirai tipis terlihat di seberang sisinya, terlihat bayangan seseorang di belakangnya. Dina mendengar gemericik air yang mengalir. Mungkinkah itu Mas Agus? pikirnya.

Tap ... terdengar suara pintu menutup. Dina menoleh, menghampiri pintu dan mencoba membukanya. Tapi sia-sia. Terdengar suara perempuan tertawa. Dina bergidik, bulu kuduknya mulai berdiri.

Dina memandang sekeliling, bayangan orang di balik tirai itu masih di sana. Diberanikannya melongok siapa yang ada di sana. Seorang perempuan tanpa selembar benang memegang shower yang menyala. Tak ada reaksi, kiranya dia pun cuma patung lilin belaka. Tapi, suara tertawa itu? Dina mengernyitkan dahi.

"Apa yang tersembunyi di sini?" gumamnya, "tak ada siapa-siapa, ini pasti ulah orang iseng."

Dina memutar pandangan ke seluruh ruang, matanya menangkap sebuah lemari dengan pintu sedikit terbuka. Tangannya segera membukanya, sesosok tubuh menjatuhinya begitu pintu terbuka.

"Argh!" pekiknya.

Dina berusaha menyingkirkan tubuh yang menindih tubuhnya dan bergegas bangun.

"Mas Agus?" serunya tak percaya," bangun Mas. Jangan bercanda, aku takut."

Tubuh itu tak bergerak sama sekali, Dina menempelkan telinganya ke dadanya, tak ada detak jantung. Dina mendekatkan telapak tangannya ke hidungnya, tak ada embusan napas. Dina semakin panik, dicarinya denyut nadinya, sia-sia.

"Mas Agus, bangun! Apa yang terjadi Mas?  Jangan tinggalkan aku di sini sendiri!"

Kau harus cari cara untuk keluar  Dina, pikirnya. Pasti ada, ayo, berpikirlah, segera mencari. Ya, aku harus berusaha. Dina mulai memutari seisi ruangan. Aneh memang, ruangan sebagus ini tak berjendela. Dina masih saja terus mencari, bulir-bulir keringat mulai bercucuran membasahi tubuhnya. Suara perempuan tertawa itu terus saja terdengar menusuk-nusuk telinganya.

Jangan takut Dina, setan itu tidak ada. Ada orang lain di sini, orang yang berbahaya. Jangan pingsan. Jangan teriak. Pikirkan sesuatu, bisik hatinya.

Dina teringat dengan ponselnya di saku celana. Astaga, baterenya habis, ini pasti karena terlalu banyak selfi tadi. Dasar bodoh. Dina merutuki dirinya. Dilangkahkannya kaki perlahan mendekati pintu, berharap ada yang membuka pintu dan dia punya kesempatan untuk lari.

Dina hampir tertidur saat dirasainya suara langkah kaki mendekat. Ceklek, suara kunci diputar, pintu pun terbuka. Dina menunggu dengan harap-harap cemas. Sudah beberapa lama, tak ada seorang pun yang masuk. Diberanikannya melangkah keluar dan ....

Buuk. Seeorang menangkapnya sambil tertawa. Suaranya khas dan sangat dikenali.

"Bagaimana pemandangan di dalam, sayang? Kau menikmatinya?"

Dina tergeragap, "Mas Agus? Lalu yang di dalam siapa?"

"Panggil sesukamu saja, sayang. Jangan takut, kita bersenang-senang." Laki-laki itu tersenyum menyeringai. Matanya berkilat-kilat menakutkan. Dina meronta, tapi sia-sia. Laki-laki itu menyeretnya masuk, melemparkannya ke atas kasur, menubruk dan menindihnya dengan beringas.

"Kau tahu yang dilakukan Mas Agusmu pada kekasihku? Akan kutunjukkan. Kau tak terlihat ketakutan. Hemmm, aku suka, kau tak seperti kekasihnya yang lain, yang langsung pingsan ketika aku baru mulai. Baik, mari kutunjukkan," katanya sambil mematahkan tangan Dina satu persatu.

"Argh ... argh ...."

"Menjeritlah, sayang. Aku makin suka," katanya sambil membungkam mulut Dina dengan mulutnya. Dina mendahului menggigit sebelum laki-laki itu menggigitnya.

"Kau mengajakku bermain, sayang," katanya menyeringai, "kau tahu? Ini yang dilakukan Mas Agusmu dan teman-temannya. Mereka menggilir kekasihku setelah mematahkan tangannya. Lalu membunuhnya dan meninggalkannya begitu saja."

"Kalau begitu, kalian sama-sama binatang!" teriak Dina menahan sakit.

"Binatang? Ya, bolehlah kauanggap begitu. Aku hanya membalas dendam. Kau tahu? Dia satu-satunya yang kucintai."

"Dia melakukan kesalahan, mengapa aku yang menanggungnya?" tanya Dina.

"Kau tahu? Melihat korbanmu sekarat itu menyenangkan. Ah, kau membuatku bersemangat. Mari kuperlihatkan sesuatu."

Laki-laki itu mengikat kedua tangan dan kaki Dina dan memencet sebuah tombol tersembunyi di belakangnya.  Langit-langit seperti membuka, sebuah layar flat ukuran besar keluar dari dalamnya. Laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dan memencetnya.

"Lihatlah sayang, aku merekam semuanya. Kau bisa melihatnya dan menikmatinya," katanya terkekeh.

Dina tak kuasa menatap adegan demi adegan yang terlihat di layar. Perutnya terasa mual dan ingin muntah. Ditengoknya laki-laki itu begitu asyik menikmati lintasan adegan yang dilakukannya. Dengan menahan sakit yang sangat, Dina berusaha melepaskan ikatannya.

"Haha, kau mau lari ya? Kaupikir bisa? Ayo bersenang-senang, sayang. Kuberi kau kematian yang indah."

Laki-laki itu menyuntikkan sesuatu di lengan Dina, sesuatu yang membuatnya melayang dan tak bisa melakukan perlawanan. Apapun yang dilakukannya pada Dina. Darah mulai bercucuran menghiasi tempat tidur. Tiba-tiba ....

Brakkk. Beberapa laki-laki kekar menerjang masuk dan menyeret sosok yang menindih tubuh Dina. Mereka menghajarnya berame-rame.

"Astaga, Dina!" teriak seorang lelaki. Dina membuka matanya, dalam keadaan setengah sadar dia berusaha mengenalinya.

"Deni ... tolong ... aku ...," katanya terbata.

Deni menyambar tirai dan membungkus tubuh Dina yang nyaris terbuka sempurna, lalu membawanya pergi. Di luar sudah penuh sekawanan polisi. Beberapa orang polisi membawa laki-laki misterius itu dalam keadaan babak belur. Satu tim medis diturunkan untuk memeriksa patung-patung lilin yang ditengarai sebagai korban-korban yang dimanipulasi sedemikian rupa. Mereka diduga perempuan-perempuan yang hilang dalam kurun waktu dua tahun terakhir.
###
Dua pekan berikutnya, kondisi fisik Dina sudah mulai membaik, tinggal pemulihan kedua tangannya yang patah. Namun ada luka yang menggores kondisi batinnya begitu dalam. Hampir setiap hari, Dina masih sering berteriak-teriak ketakutan. Semua kejadian di kamar 05 nyaris menghilangkan akal sehatnya.

#Demak, 19052015

Fenomena cabe-cabean, budaya atau penyakit zaman?

#Menggusur_Cabe_cabean
Fenomena Cabe-cabean, Budaya atau Penyakit Zaman?
Oleh : Titien SDF

Dewasa ini, fenomena cabe-cabean memang mulai meresahkan. Gaya hidup yang dijalani anak baru gede ini seolah menjadi trend zaman. Pacaran seolah bukan barang tabu dan layak dipertontonkan. Terkadang asyik mesra-mesraan di pinggir jalan dan di tempat keramaian. Terkadang meradang bila diingatkan.

Semua karena gemerlap dunia terasa menyilaukan. Budaya barat tak senonoh dipertontonkan. Menghiasi layar kaca, gedung bioskop, juga buku-buku bacaan. Perilaku menyimpang, tak ada yang mengingatkan. Berasa bangga eksis di jalan penuh kemaksiyatan.

Mereka tak sadar, harga dirinya telah dinistakan. Demi dunia yang mereka idam-idamkan. Sekadar jalan-jalan di mall ataupun makan-makan di restoran. Kehormatan hanya barang loakan, akhirnya berbuah janin yang tak diharapkan. Kekasih menghilang bersama perginya masa depan penuh impian.

Sebagian orang bilang, "biarkan saja, itu cuma budaya zaman. Lambat laun kan hilang terkikis arus zaman, tergantikan. Tak perlu risih dan comel seperti cacing kepanasan." Mereka lupa, bila tak diingatkan perilakunya akan semakin kebablasan. Sedikit demi sedikit melangkah menuju jurang kehancuran.

Mestinya kita semua membuka mata dan hati dalam menyikapi fenomena cabe-cabean. Karena ini menyangkut penyakit zaman yang membawa virus mematikan. Mudah menyebar dengan cepat tanpa memandang status orang tua dan jabatan. Jangan sampai buah hati belahan jantung terinfeksi dan ketularan.

Kepada para bunda pengemban amanah peradaban. Jaga buah hati, jangan lengah dari pengawasan. Putrimu adalah calon pengemban amanah peradaban. Selayaknya kaujaga selayak mutiara dasar lautan. Agar terjaga dari terkaman buaya-buaya laknat nan meremukkan.

Tanamkan iman yang mendalam, balutlah dia dengan pakaian ketaqwaan. Sirami dengan air kasih sayang nan menyejukkan. Pupuklah dengan sentuhan penuh kelembutan. Pagarilah dengan ilmu dan kecintaan kepada Tuhan. Hiasi dengan akhlak mulia, sebaik-baik teladan.

Kepada para ayah, pemimpin keluarga sebagai panutan. Dampingi bunda, lengkapi kelembutan kasih sayangnya dengan kehangatan dan ketegasan. Karena sesungguhnya semua berawal dari kurangnya perhatian. Orang tua terlalu asyik dengan dunianya yang penuh kesibukan. Sang anak merasa terabaikan dan mencari pelampiasan.

Kepada seluruh pembaca yang budiman, marilah kita saling mengingatkan. Karena fenomena cabe-cabean ini semakin merajalela memenuhi semua lahan. Dampaknya pun mau tak mau akan kita rasakan. Rusaknya tatanan masyarakat membawa kehancuran. Dan semua akan diperhitungkan di hari pembalasan.

#Demak, 21052015

Puasa pertama Aisya

PUASA PERTAMA AISYA
Oleh : Titien SDF

Siang itu matahari mulai meninggi, Aisya berlari-lari menuju kantin. Es lilin Bu Mumun sudah menggodanya sejak sebelum jam istirahat tiba. Dengan cepat dihampirinya termos es yang tergeletak di atas meja kantin. Tangan kecilnya sibuk memilih rasa yang sesuai selera. Dan ... hup, sebatang es lilin rasa kelapa muda telah tergenggam dalam jemarinya. Dikeluarkannya selembar ribuan untuk membayarnya, kemudian bergegas mengambil tempat duduk di bawah pohon angsana di salah satu sudut halaman sekolah.

Aisya masih asyik mencecap es lilinnya. Dua orang bocah kecil menatapnya berlama-lama.

"Kalian mau?" tanyanya, jengah.

Dua bocah itu menggeleng, "tidak, Mbak. Kami puasa. Mbak tidak puasa?"

"Puasa ...? Puasa apa?"

"Puasa ramadhan dong Mbak, ini kan bulan ramadhan. Mbak ndak puasa ya?"

"Memangnya kalian kuat? Kalian kan masih kecil."

"Yeee, biar cuma baru kelas satu SD, kami sudah bisa puasa sehari penuh," jawab mereka sambil terus bermain. Aisya tergagap.

"Mereka benar, Aisya. Sekarang bulan ramadhan, bulan puasa. Kamu ndak puasa, Nak?" tanya Bu Shofi yang entah sejak kapan berada di belakang Aisya.

"Tapi kan anak-anak belum wajib puasa ."

"Benar. Anak-anak memang belum wajib puasa, tapi sebaiknya belajar berpuasa."

"Puasa aja kok pake belajar," gumam Aisya sambil terus mengulum es lilinnya.

"Iya, supaya ketika sudah besar kita tidak merasakan berat lagi untuk puasa. Aisya sudah kelas tiga, sebaiknya besok mulai belajar puasa. Puasa itu juga ibadah, Allah sangat suka pada orang yang berpuasa. Aisya ingin disayang Allah?"

"Iya deh, besok Aisya mau latihan puasa. Aisya enggak mau kalah sama si kembar Inna dan Imma. Aisya mau disayang Allah juga, kata Aisya sambil membuang  bungkus es lilinnya.

"Nah, gitu dong. Aisya memang anak sholohah," puji Bu Shofi.
###

Hari ini adalah hari pertama Aisya berpuasa. Cuaca masih sepanas hari kemarin. Aisya mencoba mengisi waktu istirahatnya dengan membaca buku di perpustakaan. Tak urung rasa haus mulai mengetuk-ngetuk kerongkongannya saat melihat gambar es krim yang begitu menggiurkan di buku cerita. Ditutupnya buku itu dengan gemas dan beralih membaca buku cerita yang lain.

"Tumben, kau tidak ke kantin," celetuk Bayu si penunggu perpustakaan. Julukan itu dia sandangkan padanya karena hampir setiap kali dia masuk perpustakaan, Bayu selalu ada di sana.

"Aku puasa, tau ...," jawab Aisya kesal.

"Weh, tukang jajan bisa puasa juga ya," jawab Bayu menggoda. Aisya cuma tersenyum kecut, dia sedang tidak ingin berantem sekarang. Dilangkahkannya kaki keluar perpustakaan. Jendela kantin yang setengah terbuka seperti memanggil-manggil. Memang, kantin sekolah tetap buka di bulan ramadhan. Itu karena tak semua muridnya beragama Islam dan menjalankan ibadah puasa.

Aisya memutar pandangannya, halaman sekolah dipenuhi murid-murid kelas 1 dan 2. Yang lain lebih memilih di perpustakaan atau di kelas masing-masing. Aisya menelan ludah, beberapa anak dilihatnya santai menikmati es lilin sambil bercanda dengan teman-temannya.

Sudah, Aisya. Kalau tak kuat, batalin saja puasanya. Gak ada yang lihat kok. Biasanya kan, kamu juga enggak puasa, bisik suara dalam hatinya.

Jangan, Aisya. Ingat kata Bu Shofi, kamu sudah kelas tiga. Harus mulai berlatih puasa. Masak kalah sama Inna dan Imma sih. Mereka kan baru kelas satu, tapi sudah menjalankan puasa, bisik hatinya yang lain.

Yee, namanya baru latihan ya enggak apa-apa dong, enggak sampai maghrib, teriak nafsunya.

Ingat Aisya, latihan puasa itu banyak pahalanya dan disayang Allah. Kamu enggak mau disayang Allah? tanya suara hatinya.

"Iya deh, aku mau puasa sampai maghrib. Aku juga mau disayang Allah," gumam Aisya akhirnya. Diurungkannya langkahnya ke kantin, berbalik menuju kelas. Beruntunglah dia, sebentar kemudian bel tanda masuk berbunyi. Mereka pun kembali disibukkan dengan pelajaran agama yang disampaikan oleh Bu Shofi.

Tak terasa waktu berjalan, akhirnya tiba waktunya untuk pulang. Aisya bersyukur, dia bergegas mengambil sepedanya dari tempat parkir dan sehera mengayuhnya pulang.

"Bunda! Aisy sudah pulang, lapar nih!" teriaknya keras.

Bunda pun tergopoh-gopoh menghampirinya, "eh eh, salamnya mana, sayang?" tanyanya lembut.

"Assalamu' alaikum. Lapar nih ... sama haus," keluhnya.

"Wa'alaikum salam. Aisy masih puasa? Belum batal?"

"Iya, masih. Tapi lapar ... haus lagi ...."

"Orang puasa itu mesti haus dan lapar. Bunda juga, ayah juga, temen-temenmu juga. Tapi harus ditahan."

"Kenapa sih kita diwajibkan puasa?"

"Supaya, kita bisa merasakan lapar dan hausnya orang-orang yang miskin dan kurang beruntung. Sehingga, kita bisa menghargai rejeki yang diberikan Allah. Selain itu, supaya kita juga peduli dan mau berbagi dengan mereka ...."

Aisya menunduk, Bunda benar. Baru beberapa jam dia berpuasa, rasa lapar dan dahaga dirasakannya sangat menyiksa. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tak mempunyai sedikit pun makanan di rumahnya. Bagaimana mereka menghilangkan rasa lapar dan hausnya. Aisya jadi merasa bersalah karena lebih sering menghabiskan uang sakunya untuk jajan dan malas bersedekah.

"Selain itu, puasa juga melatih kesabaran dan melembutkan hati," jelas Bunda lagi.

"Kalau sudah enggak tahan boleh minum enggak? Entar puasa lagi," tawar Aisya.

"Eh, sebentar lagi beduk maghrib lho. Ayo ditahan, mandilah dulu kemudian mengaji sambil menunggu beduk maghrib," perintah Bunda. Aisya pun mematuhinya.

Tak lama kemudian, Aisya sudah rapi dengan baju panjang dan jilbab mungilnya. Dengan dibimbing Bunda, Aisya belajar mengaji.

Dug dug dug allahu akbar allahu akbar .... Terdengar bedug maghrib berkumandang.

"Alhamdulillah, hari ini Aisya sukses puasanya. Barokallah, Allah pasti sayang. Besok puasa juga ya Nak," kata Bunda mencium pipi Aisy dengan sayang.

"Iya Bunda, Aisya ingin selalu disayang Allah. Tapi, sekarang Aisyah mau makan. Bukanya pakai apa nih?" jawab Aisya.

Bunda membuka tudung saji yang menutup meja makan. Tara ... di sana sudah tertata es kolang-kaling, puding susu dan irisan buah mangga kesukaannya. Di sisi yang lain, terhidang pula nasi, soto lengkap dengan ayam goreng dan perkedel. Hmmm, nyammy ... makan di saat lapar ternyata berasa sekali nikmatnya. Alhamdulillah.

#Demak, 23052015

Buku dan kehidupan

Buku dan Kehidupan
Oleh : Titien SDF

Setiap kita adalah penulis sekaligus pembaca. Setidaknya itulah perintah tersembunyi dari maksud penciptaan manusia. Dia (Allah) memberi buku kehidupan pada setiap insan sejak saat meniupkan ruhnya. Lalu membersamai dalam setiap gerak dan langkahnya, juga dalam diamnya. Pada setiap mata yang terpejam dan terjaga, selalu ada pengawasan-Nya yang tak pernah lena. Hingga ketika saatnya tiba, Dia akan menilai setiap tulisan kita.

Setiap manusia, diberikan satu buku kehidupan yang putih bersih tanpa coretan di dalamnya. Tak ada satu pun yang diberi buku bekas atau buku daur ulang. Semua baru dan benar-benar terjaga, putih bersih belum bernoda. Itulah wujud kita saat dilahirkan ke dunia. Fitrah, suci tanpa dosa, dan selalu menghadirkan rasa kasihan dan sayang pada sesiapa yang memandangnya.

Lalu ditentukan-Nya kehendak-Nya, masing-masing dari kita diberikan ketebalan buku yang berbeda-beda. Setebal umur kita, terkadang Dia menambah ketebalannya atau bahkan menguranginya, semua tergantung dengan apa yang kita tuliskan di dalamnya.

Lalu, Dia putuskan pula perkara yang tak pernah bisa kita tulis di dalamnya, akhir usia kita, berjodoh dengan siapa, tentang rejeki yang diperuntukkan kita.

Kita memang tak pernah tahu, kapan Allah memanggil kembali. Kita hanya diberikan buku kehidupan dan diminta mengisinya, untuk kemudian menyerahkannya kembali saat Allah memintanya. Memang, terkadang kita bingung tentang apa yang harus dilakukan, tentang apa yang harus ditulis. Tapi Allah memberikan arahan dalam kalam-Nya, dalam QS Al 'Alaq ayat 1-5:

"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Dia menjadikanmu dari segumpal darah. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang Maha Mulia. Yang mengajarkan dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia, segala sesuatu yang tidak mereka ketahui sebelumnya."

Bukankah kalam-Nya sudah amat sangat jelas. Bacalah! belajarlah! pelajarilah! Apa yang harus dibaca? Apa yang harus dipelajari? Segala sesuatu yang Dia tuliskan dalam firman-Nya dalam kitab suci yang diturunkan-Nya. Mari simak firman-Nya dalam QS Albaqarah ayat 1-2:

"Alif lam mim, inilah kitab Alqur'an, yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa."

Dan memang, keseluruhan isinya adalah petunjuk. Lalu apa lagi yang harus dibaca. Apa lagi yang harus dipelajari? Adalah segala sesuatu yang Dia tuliskan dan sematkan dalam setiap hal yang diciptakan-Nya, segala sesuatu di sekeliling kita dan segala sesuatu peristiwa yang mengelilingi kita. Itu semua adalah pembelajaran. Itu semua adalah cara Dia mengajarkan segala sesuatu kepada kita. Mari simak firman-Nya dalam QS Ali Imron ayat 190-191:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpikir. Yaitu mereka yang senantiasa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaringnya dan senantiasa memikirkan hikmah dalam penciptaan langit dan bumi. Ya Tuhan kami tidaklah Engkau menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia, maka jauhkanlah kami dari adzab neraka."

Sungguh, Dia telah ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk, Dia lengkapi pula dengan akal dan jasad, Dia sempurnakan jua dengan penglihatan, pendengaran dan hati. Agar manusia bisa memilih apa yang akan dilakukannya, agar manusia bisa memilih apa yang akan ditulisnya dalam buku kehidupannya. Semua dipersilahkan. Allah hanya akan melihat apa yang kita kerjakan. Dia hanya akan melihat pada apa yang kita tuliskan. Lalu ada utusanNya yang bertugas mengumpulkan semua tulisan kita. Semua tanpa terkecuali, tak ada satu huruf pun yang kan tertinggal, tidak satu titik pun. Semua lengkap dan utuh, tak ada yang tertinggal, tak ada yang terbuang. Dan Dia akan menyimpannya dengan rapi dan teliti dan mengembalikannya pada kita, si penulis buku. Tak ada yang tertukar.

Lalu apa yang akan dilakukan-Nya dengan buku kita? Dialah yang Maha Melihat, Maha Mengawasi, Maha Menghitung dan Maha Adil. Dia akan memberikan balasan pada tiap-tiap hal yang kita kerjakan, pada tiap-tiap huruf yang kita tulis. Semua ada balasannya, semua ada nilainya, bahkan untuk satu titik yang amat sangat kecil.

Maka persiapkanlah bukumu. Baca dan pelajarilah segala petunjuk-Nya sebelum mulai menulis, sebelum mulai mengerjakan. Ingatlah firman-Nya dalam QS Al Hasyr ayat 18:

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa-apa yang diperbuatnya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Jadikan buku kehidupanmu sebaik-baik buku kehidupan, layak diteladani dan dijadikan inspirasi banyak orang dan tumbuh laksana pohon kebajikan. Dari sanalah royalti pahala mengalir tak berkesudahan. Dan engkau akan bahagia ketika Dia mengulurkannya padamu, disaksikan seluruh anggota tubuhmu, juga seluruh umat. Maka syafaat menaungimu dan mengantarkanmu kepada suatu peristirahatan penuh berkah lagi mulia. Di sana engkau bertetangga dengan para kekasih-Nya dan dapat melihat wajah-Nya nan Maha Mulia. Dalam jannah-Nya. Itulah sebaik-baik keberuntungan.
#Demak, 24052015

Minggu, 17 Mei 2015

Aku kembali

Aku Kembali
Oleh :Titien SDF

Tuhan ...
Aku kembali pulang
Mendedah mimpi sebelas bulan lalu
Memeluk-Mu dengan berlipat-lipat rindu
Mengumpulkan butir-butir taubatku
Biji tasbih istighfar menderas kelu
Mencoba menembus kedalaman kasih-Mu

Ya Robbi ...
Detik ini aku kembali
Menepati janji terucap abadi
Inna sholatii wa nusukii
Wa mahyaaya wa maamaatii
Lillahi robbil 'alamiin

Ya Tuhan ...
Sampaikan aku pada ramadhan
Padanya kutagih pahala berlipatan
Kuharap  menebus berjuta salah-khilafan
Dan berbunga ridho-ampunan
Di malam seribu bulan
Puncak ramadhan
Kuharap peluk-Mu nan mensucikan
Fitrah laksana bayi dalam buaian

#Demak, 08052015

The starry night

"The Starry Night"

Aku menangkap pesan yang kaukirim
Sepenggal kisah tentang Ibrahim
Saat gulita sembunyikan surya
Kesekian kali dia kehilangan tuhannya
Ingin diyakininya rembulan
Mengapa baru terindahkan
Bila berhias bintang
Ini jelas alpa yang terang

Seperti Ibrahim, aku pun terpekur
Sujudkan wajah batin tersungkur
Tak layak kami mengingkar syukur
Atas karunia-Mu tiada terukur

Malam tak membunuh siang
Mentari pun tak pernah hilang
Purnama mungkin berbedak gemintang
Lalu berganti untuk dikenang

Begitu pun sadarku ada-Mu
Kau membersamai setiap waktu
Dalam kehendak dan kuasa-Mu
Selalu beri terbaik untukku

#Demak, 07052015

Menahan matahari

#Kecil_Puisi_2_4
Menahan Matahari
Oleh : Titien SDF

Kaki-kaki waktu terus berlari
Mengejar laju matahari
Begitu banyak ingin tertinggal
Desah nafas pun makin tersengal

Mimpi-mimpi menari naik ke langit
Kupacu langkah mendaki pucuk bukit
Bisakah tangan kecilku meraihnya sedikit
Selimuti jiwa dari gigil nan menggigit

Tuhan, dengar pintaku
Bisakah kembalikan waktu
Ingin kuikat semua mimpi
:menahan matahari

#Demak, 13052015

Impianku

#Kecil_Puisi_2_4
Impianku
Oleh: Titien SDF

Biar kuberitahukan pada dunia
Impianku sederhana saja
Cukup sebuah gubuk cinta
Di tengah telaga percaya
Ikan-ikan di dalamnya bebas bercerita
:tanpa aksara dusta

Asaku terpaku padamu
Pada sulur-sulur yang merambat tanpa ragu
:tanpa rasa cemburu
Berharap bungaku berputik madu

Ingin kuteriakkan lantang
Mimpiku bukan sekedar kembang
Datang dalam lelap lalu menghilang
Laksana fajar berganti siang

Ingin kugenggam dunia
:tanpa terjebak di dalamnya
Semoga kan kudapat surga
:tak sebatas alam fana
:berujung dalam firdaus-Nya

#Demak, 16052015

Lelaki peramu kata

Lelaki Peramu Kekata
Oleh: Titien SDF

Aku mengenalnya hanya di dunia maya
Rerindu dia goreskan di ujung tajamnya pena
Imagi sarat religi teramu dalam belanga aksara
Elok terbaca sesiapa tiada merasa dicela
Fatamorganakah? Semoga bukan adanya

Serpih demi serpih asa tersusun rancak
Inginmu terlukis dalam aksara bersajak
Dedoa menyulur berkelindan memuncak
Diracik serupa untaian bunga mengundang decak
Indah, terkadang menampar telak
Qolbu pun terbangun bangkit bergerak

Ranumnya ukhuwah yang kautawarkan
Anganku berharap tumbuhkan pohon kebajikan
Zona aman itu adalah persahabatan
Akarnya iman yang mantap menghujam
Asah asih asuh merimbunkan keteduhan
Naluri beritsar adalah buah yang didamba setiap insan
#Demak, 07052015

Labaika ya ramadhan

#Kecil_Puisi_2_3
Labaika ya ramadhan
Oleh : Titien SDF

Telah kudengar panggilanmu
Lekat dengan kaki-kaki waktu
Terus berlari tanpa jemu
Menggulung hari dan minggu
Setahun terasa cepat berlalu

Aku membaca pesanmu
Tersemat di tiap helai uban ibuku
Ringkih memeluknya penuh rindu
Rabun menghias tatapnya nan sayu
Dan aku: terus mendekat ke masa itu

Labaika ya ramadhan
Panggilanmu bangunkan kesadaran
Dia yang Esa beri banyak kesempatan
Pintu taubat-Nya terbuka lebar untukku
Sepenuh tautan rindu yang menggebu

Aku pulang, ya Allah
Sambut seruan-Mu nan mulia
Jamuan ramadhan takkan kulewatkan
Semoga masa yang tersia tergantikan
Leraikan nafsu susuri jalan ketakwaan

#Demak, 09052015