#Kamar_05
Ruang Rahasia
Oleh : Titien SDF
Jauh di seberang sisi Pantai Bandengan, Jepara, terletak sebuah pulau yang dikenal dengan nama Pulau Panjang. Pulau yang sering dijadikan persinggahan wisatawan, mengabadikan pemandangan yang eksotik menawan, atau sekadar mengguratkan nama di atas pasir putih yang ada di sana. Beberapa perahu silih berganti datang mengangkut wisatawan yang datang, sebagian menjauh memulangkannya ke bibir pantai.
Dina menikmati angin yang berhembus membelai wajahnya, matanya dipejamkan. Dirasainya sepasang tangan memeluknya dari belakangnya, sesuatu berbisik tepat di telinganya.
"Kau menikmatinya ya? Aku tahu tempat yang jauh lebih bagus dari ini."
Dina menoleh, wajahnya beradu dengan Agus yang sedang menatapnya penuh arti. Dina tersenyum, menarik tangan Agus merapatkan pelukannya.
"Ini sudah cukup indah buatku. Kalau harus ke tempat lain, kapan kita pulangnya?" tolaknya halus.
"Tak jauh dari sini kok, di belakang pulau ini ada sebuah lubang mirip gua panjang. Konon dulu sering dipakai tentara buat latihan perang. Kita lewat sana," bisik Agus mesra," sayang kan, kalau kita lewatkan. Sudah sejauh ini."
Dina menggigit bibirnya, ada rasa takut yang menjalari hatinya beriring dengan rasa ingin tahu.
"Kalau pas ada latihan perang gimana?" tanyanya.
"Gak, itu kan dulu. Ayuk ... keburu sore nanti, mumpung masih terang," ajak Agus menyeret tangan Dina. Setengah terpaksa, Dina mengikutinya. Mereka beriringan memutari pulau dan menemukan lubang yang dimaksud Agus.
"Kok Mas Agus tahu tempat seperti ini sih?" tanyanya heran.
"Aku kan asli daerah sini saja, jadi sering kemari," jawabnya. Dengan hati-hati dibimbingnya tangan Dina agar mengikutinya melewati lorong gua yang sebenarnya tidak terlalu panjang. Lubang itu ternyata berujung pada sebuah tempat lapang. Tak jauh dari situ, di balik semak-semak yang rimbun dan tinggi berdiri sebuah bangunan kuno mirip sebuah kastil.
"Wowww, klasik," desis Dina terkagum-kagum.
"Tuh kan, aku tak bohong kan? Yuk, ke sana."
"Itu ada yang menempati?"
"Setahuku tidak, kastil ini dulu milik orang Belanda. Bangunannya cukup kuat kok."
Mereka disambut dua orang perempuan berseragam rapi di depan pintu. Dina mengulurkan tangannya memberi salam, Agus tertawa.
"Kan sudah kubilang, kastil ini tidak ada penghuninya, mereka cuma patung lilin yang terlihat hidup. Kau terkecoh ya."
Dina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Patung-patung itu seperti benar-benar nyata. Dia benar-benar terkesima.
"Kau bisa menjelajah setiap tempat yang ada di sini, kecuali kamar 05. Aku mau ke toilet sebentar."
"Eh, aku jangan ditinggal!" seru Dina.
"Mau nemenin aku di toilet? Yakin?" goda Agus.
"Gaklah, ngapain," jawab Dina malu.
"Ya udah, silakan melihat-lihat. Aku cuma sebentar kok."
Dina mengangguk, mau tak mau dilangkahkannya kakinya memasuki setiap ruangan yang ada di sana. Agak berdebu, agaknya ada yang rutin membersihkan tempat ini, paling tidak seminggu sekali, pikirnya. Satu demi satu ruangan dimasukinya, selalu ada seorang perempuan yang berada di dalamnya. Dina tak ingin bertindak bodoh, kalau mereka hidup pasti sudah menoleh ke arahnya saat pintu dibuka. Ruangan pertama yang dimasukinya mungkin dulunya ruang keluarga. Ada dua perempuan yang duduk di atas sofa menghadap sebuah televisi usang. Mereka cantik dan terlihat hidup.
"Kenapa aku merinding ya," gumam Dina. Menyesal tadi dia menolak mengikuti Agus ke toilet. Kan bisa menunggu di luar toilet, terus muter bareng-bareng. Kalau sendirian begini kan jadi takut juga. Hiii ....
Dina melangkahkan kaki ke arah mana Agus pergi. Sebuah pintu setengah terbuka didorongnya. Sebuah kamar tidur yang tertata apik, dindingnya penuh lukisan. Seorang gadis terlihat sedang asyik melukisi kanvas. Pasti patung lilin lagi, batinnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ditinggalkannya ruangan itu dan berpindah ke ruangan yang lain.
"Mas! Kamu di mana?" teriak Dina. Suaranya menggema riuh di kepalanya. Ekor matanya menangkap bayangan seseorang yang berlari menuju salah satu ruangan.
"Mas! Mas Agus! Tunggu aku, Mas!" teriaknya lagi. Dikejarnya larinya menuju salah satu ruangan. Kamar 05. Dina ingat kata-kata Agus tadi, diurungkannya langkahnya.
"Jangan-jangan tadi aku yang salah dengar. Mungkin Mas Agus ingin bilang kalau dia ada di kamar 05," gumam Dina Dilangkahkannya kaki memasuki kamar 05. Ruangan itu terlihat sangat indah dan terawat. Tempat tidur yang wangi dengan sprei yang rapi. Sebuah tirai tipis terlihat di seberang sisinya, terlihat bayangan seseorang di belakangnya. Dina mendengar gemericik air yang mengalir. Mungkinkah itu Mas Agus? pikirnya.
Tap ... terdengar suara pintu menutup. Dina menoleh, menghampiri pintu dan mencoba membukanya. Tapi sia-sia. Terdengar suara perempuan tertawa. Dina bergidik, bulu kuduknya mulai berdiri.
Dina memandang sekeliling, bayangan orang di balik tirai itu masih di sana. Diberanikannya melongok siapa yang ada di sana. Seorang perempuan tanpa selembar benang memegang shower yang menyala. Tak ada reaksi, kiranya dia pun cuma patung lilin belaka. Tapi, suara tertawa itu? Dina mengernyitkan dahi.
"Apa yang tersembunyi di sini?" gumamnya, "tak ada siapa-siapa, ini pasti ulah orang iseng."
Dina memutar pandangan ke seluruh ruang, matanya menangkap sebuah lemari dengan pintu sedikit terbuka. Tangannya segera membukanya, sesosok tubuh menjatuhinya begitu pintu terbuka.
"Argh!" pekiknya.
Dina berusaha menyingkirkan tubuh yang menindih tubuhnya dan bergegas bangun.
"Mas Agus?" serunya tak percaya," bangun Mas. Jangan bercanda, aku takut."
Tubuh itu tak bergerak sama sekali, Dina menempelkan telinganya ke dadanya, tak ada detak jantung. Dina mendekatkan telapak tangannya ke hidungnya, tak ada embusan napas. Dina semakin panik, dicarinya denyut nadinya, sia-sia.
"Mas Agus, bangun! Apa yang terjadi Mas? Jangan tinggalkan aku di sini sendiri!"
Kau harus cari cara untuk keluar Dina, pikirnya. Pasti ada, ayo, berpikirlah, segera mencari. Ya, aku harus berusaha. Dina mulai memutari seisi ruangan. Aneh memang, ruangan sebagus ini tak berjendela. Dina masih saja terus mencari, bulir-bulir keringat mulai bercucuran membasahi tubuhnya. Suara perempuan tertawa itu terus saja terdengar menusuk-nusuk telinganya.
Jangan takut Dina, setan itu tidak ada. Ada orang lain di sini, orang yang berbahaya. Jangan pingsan. Jangan teriak. Pikirkan sesuatu, bisik hatinya.
Dina teringat dengan ponselnya di saku celana. Astaga, baterenya habis, ini pasti karena terlalu banyak selfi tadi. Dasar bodoh. Dina merutuki dirinya. Dilangkahkannya kaki perlahan mendekati pintu, berharap ada yang membuka pintu dan dia punya kesempatan untuk lari.
Dina hampir tertidur saat dirasainya suara langkah kaki mendekat. Ceklek, suara kunci diputar, pintu pun terbuka. Dina menunggu dengan harap-harap cemas. Sudah beberapa lama, tak ada seorang pun yang masuk. Diberanikannya melangkah keluar dan ....
Buuk. Seeorang menangkapnya sambil tertawa. Suaranya khas dan sangat dikenali.
"Bagaimana pemandangan di dalam, sayang? Kau menikmatinya?"
Dina tergeragap, "Mas Agus? Lalu yang di dalam siapa?"
"Panggil sesukamu saja, sayang. Jangan takut, kita bersenang-senang." Laki-laki itu tersenyum menyeringai. Matanya berkilat-kilat menakutkan. Dina meronta, tapi sia-sia. Laki-laki itu menyeretnya masuk, melemparkannya ke atas kasur, menubruk dan menindihnya dengan beringas.
"Kau tahu yang dilakukan Mas Agusmu pada kekasihku? Akan kutunjukkan. Kau tak terlihat ketakutan. Hemmm, aku suka, kau tak seperti kekasihnya yang lain, yang langsung pingsan ketika aku baru mulai. Baik, mari kutunjukkan," katanya sambil mematahkan tangan Dina satu persatu.
"Argh ... argh ...."
"Menjeritlah, sayang. Aku makin suka," katanya sambil membungkam mulut Dina dengan mulutnya. Dina mendahului menggigit sebelum laki-laki itu menggigitnya.
"Kau mengajakku bermain, sayang," katanya menyeringai, "kau tahu? Ini yang dilakukan Mas Agusmu dan teman-temannya. Mereka menggilir kekasihku setelah mematahkan tangannya. Lalu membunuhnya dan meninggalkannya begitu saja."
"Kalau begitu, kalian sama-sama binatang!" teriak Dina menahan sakit.
"Binatang? Ya, bolehlah kauanggap begitu. Aku hanya membalas dendam. Kau tahu? Dia satu-satunya yang kucintai."
"Dia melakukan kesalahan, mengapa aku yang menanggungnya?" tanya Dina.
"Kau tahu? Melihat korbanmu sekarat itu menyenangkan. Ah, kau membuatku bersemangat. Mari kuperlihatkan sesuatu."
Laki-laki itu mengikat kedua tangan dan kaki Dina dan memencet sebuah tombol tersembunyi di belakangnya. Langit-langit seperti membuka, sebuah layar flat ukuran besar keluar dari dalamnya. Laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dan memencetnya.
"Lihatlah sayang, aku merekam semuanya. Kau bisa melihatnya dan menikmatinya," katanya terkekeh.
Dina tak kuasa menatap adegan demi adegan yang terlihat di layar. Perutnya terasa mual dan ingin muntah. Ditengoknya laki-laki itu begitu asyik menikmati lintasan adegan yang dilakukannya. Dengan menahan sakit yang sangat, Dina berusaha melepaskan ikatannya.
"Haha, kau mau lari ya? Kaupikir bisa? Ayo bersenang-senang, sayang. Kuberi kau kematian yang indah."
Laki-laki itu menyuntikkan sesuatu di lengan Dina, sesuatu yang membuatnya melayang dan tak bisa melakukan perlawanan. Apapun yang dilakukannya pada Dina. Darah mulai bercucuran menghiasi tempat tidur. Tiba-tiba ....
Brakkk. Beberapa laki-laki kekar menerjang masuk dan menyeret sosok yang menindih tubuh Dina. Mereka menghajarnya berame-rame.
"Astaga, Dina!" teriak seorang lelaki. Dina membuka matanya, dalam keadaan setengah sadar dia berusaha mengenalinya.
"Deni ... tolong ... aku ...," katanya terbata.
Deni menyambar tirai dan membungkus tubuh Dina yang nyaris terbuka sempurna, lalu membawanya pergi. Di luar sudah penuh sekawanan polisi. Beberapa orang polisi membawa laki-laki misterius itu dalam keadaan babak belur. Satu tim medis diturunkan untuk memeriksa patung-patung lilin yang ditengarai sebagai korban-korban yang dimanipulasi sedemikian rupa. Mereka diduga perempuan-perempuan yang hilang dalam kurun waktu dua tahun terakhir.
###
Dua pekan berikutnya, kondisi fisik Dina sudah mulai membaik, tinggal pemulihan kedua tangannya yang patah. Namun ada luka yang menggores kondisi batinnya begitu dalam. Hampir setiap hari, Dina masih sering berteriak-teriak ketakutan. Semua kejadian di kamar 05 nyaris menghilangkan akal sehatnya.
#Demak, 19052015