Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Sabtu, 17 Februari 2018

Ketika Allah Menagih Cinta Kita

Ketika Allah Menagih Cinta Kita
Oleh: Titien SDFS

Senja masih bergayut indah di ujung ufuk. Cahayanya yang semburat kemerahan berpendar bak selendang para penari, meliuk-liuk semakin menjauh ditelan kelam.

"Aku diajak ke Bandung sama teman-teman. Boleh ya, Mi," pinta Khoirul, sulungku.

"Kapan? Naik apa? Acara apa? Sama siapa saja?" tanyaku tanpa menoleh.

"Besok Kamis sampai Ahad. Naik motor, Mi. Biar bisa muter-muter sekalian di Bandung. Sama teman-teman Husnul, berempat. Kakak kelasku di Husnul dulu married, entar nginep sana. Boleh ya, Mi," rengeknya lagi.

Aku menoleh perlahan, menatap pemuda yang baru beranjak dewasa itu lekat-lekat. Sebongkah cemas langsung hinggap di hati, manakala membayangkan anak-anak itu menempuh perjalanan Demak-Bandung dengan sepeda motor. Aku sangat tahu jalan menuju Bandung berbukit-bukit dan berbahaya, itu menurutku. Namun, melihat keinginannya yang begitu besar, membuatku tak tega melarangnya.

"Tunggu Abi pulang, kalau Abi mengijinkanmu, Umi tidak bisa melarang," kataku akhirnya.

Petang itu terasa begitu panjang bagiku, bagaimanapun sulit bagiku untuk melepas cemas yang semakin menggunung. Kusambut Mas Darma tanpa menyinggung permintaan Khoirul, aku memang tak ingin membicarakannya.

"Alhamdulillah, Abi sudah pulang. Aku diajak ke Bandung sama teman-teman Husnul, boleh gak, Bi?" cetus Khoirul begitu melihat abinya datang.

Mas Darma menatapnya sejenak, lalu berkata,"kapan? Naik apa? Sama siapa?"

"Ah, Abi sama Umi pertanyaannya sama. Besok Kamis sampai Ahad, Bi. Naik motor sama anak-anak Husnul. Kakak kelasku di Husnul dulu mau nikah."

"Lha bukannya seminggu lagi kamu mid semesteran?" tanya Mas Darma.

"Iya sih, refreshing dikit dong, Bi? ," rengek pemuda itu.

Kepalaku berdenyut-denyut, segunung cemas semakin kokoh saja mendengar penjelasan Khoirul kalau mereka juga mau menyempatkan mendaki, jadi bisa makan waktu semakin lama, duuuh ....

"Kalau Umi keberatan, gimana Mas?" tanyaku hati-hati, "pertama, kamu mau mid semesteran. Kedua, Umi cemas membiarkanmu motoran Demak-Bandung. Abi aja belum pernah je."

"Umi ki, mesti gitu, nganggep aku masih anak kecil terus. Katanya tadi, kalau Abi boleh, Umi gak akan melarang," protesnya.

Aku dan Mas Darma saling menatap, membuatnya menangkap kecemasan yang begitu besar dan membuat keputusan untuk tidak memberi ijin padanya. Kuharap tak terjadi sesuatu, tetapi aku salah. Anak itu berteriak marah seiring dengan keputusan kami.

"Tolong pahami Umi, Mas. Kecemasan orang tua tidak bisa dianggap main-main. Bukankah untuk hal-hal lain kami selalu mendukungmu?"

"Tidak, aku tidak mau mendengar kalimat itu lagi. Kalau Umi-Abi gak kasih ijin, aku tetep akan pergi!" teriaknya.

"Biarkan saja, Mi. Dia sudah cukup dewasa. Biar dia rasakan akibatnya kalau melawan orang tua!" teriak Mas Darma tak mau kalah.

Aku tergugu, benar-benar dibingungkan dengan kejadian ini, hingga tak tahu harus bagaimana, membiarkan sulungku pergi? atau menahannya? Hatiku benar-benar kosong, rasanya tak ada yang lebih menyiksa ketimbang menyaksikan pertengkaran ayah dan anak. Dan aku, tak tahu harus memihak siapa. Terlintas begitu saja sebuah pemikiran, anak itu pasti akan pergi ke rumah neneknya, karena dulu waktu kutinggal bekerja dia cukup lama diasuh neneknya/ibuku. Kupencet tuts telepon, memohon ibu untuk menasehatinya. Tak disangka, ibu bergegas datang ke rumah, sedang si sulung baru saja meninggalkan rumah.

"Ibu, kumohon, pulanglah. Dia pasti ke sana sekarang. Maaf, bukan mengusirmu, tapi ...."

"Ya, ibu tahu perasaanmu, mudah-mudahan benar, dia ada di sana," kata beliau berlinang air mata.

Malam itu, tak sepicing pun mata dapat terpejam, apalagi setelah adikku memberi kabar bahwa dia memang datang ke sana, namun pergi lagi dan tak tidur di sana.

Satu hari, dua hari hingga seminggu cepat berlalu. Tak pernah kulewatkan untuk mencari tahu kabar dan keberadaan Khoirul. Semua nihil, bahkan BBM dan WAku pun diblokir olehnya, tak terkecuali Mas Darma dan Muthi', adiknya. Tuhan, ada apa ini? jeritku dalam sujud.

Seminggu dua minggu pun berlalu, kulingkari setiap tanggal yang berlalu. Malam semakin melekat dengan sajadah dan air mata.

"Jangan terlalu dipikirkan, Mi. Khoirul sudah cukup dewasa, biarkan dia menentukan jalannya sendiri. Kewajiban kita hanya mendampingi sampai dia baligh ...," kata Mas Darma menenangkanku.

Apa yang salah dengan caraku mendidik anak? Sejak kecil, kuajarkan dia mengenal Tuhannya, juga ibadah yang menjadi kewajibannya. Kebutuhannya pun selalu terpenuhi. Tapi mengapa dia meninggalkanku? Kubuka Alqur'an sekenanya, dan berharap mendapat jawaban dari ketidakpastian ini. Terbaca olehku QS Attaubah ayat 24 yang artinya, "Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."

Ampuni aku ya Allah, mungkin ini adalah jawabannya. Dia hendak mengingatkanku yang mungkin terlalu mencintai anakku. Memikirkannya, lebih dari memikirkan Dia yang telah memberiku berjuta-juta kenikmatan. Airmata menganak sungai mengiringi sujud penuh taubat. Ya Rabb, kupasrahkan pada-Mu. Engkau Maha Mengetahui segala sesuatu, Engkau Maha Berkehendak. Aku hanya minta, kumpulkan kami sekeluarga dalam jannah-Mu. Selepas itu, dada terasa lapang, beban yang menghimpit pun hilang. Yang kuyakini, aku selalu mendidiknya sesuai petunjuk-Nya, maka sekarang biar Dia yang menjaga dan membawanya pulang kembali.

Di hari ke-23, telpon berdering, di seberang sana terdengar suara yang begitu kurindukan, "Mi, apa aku boleh pulang?"

Si anak hilang itu pun kembali, ketika kita menyerahkan segala urusan sepenuhnya pada Dia yang Maha Rahman, dengan mendahulukan cinta-Nya.

#Demak, 29112015

Rabu, 14 Februari 2018

MEMBANGUN RUMAH TANGGA IDEAL

MEMBANGUN RUMAH TANGGA IDEAL

Rahasia Perkawinan Bahagia - Kisah Kotak Sepatu
Ini adalah kisah seorang pria dan wanita yang telah menikah selama lebih dari 60 tahun. Mereka berbagi segalanya. Mereka berbicara tentang segala hal. Mereka tidak menyimpan rahasia satu sama lain kecuali bahwa wanita tua kecil itu mempunyai sebuah kotak sepatu yang ia letakkan di bagian atas lemari. Ia telah mengingatkan suaminya untuk tidak membuka atau bertanya tentang kotak sepatu itu.

Selama bertahun-tahun, pria itu tidak pernah berpikir tentang kotak itu, hingga suatu hari iistrinya itu sakit parah dan dokter mengatakan ia tidak akan dapat sembuh lagi. Dalam mencoba mengingat-ingat hubungan mereka, pria tua kecil itu mengambil kotak sepatu tersebut dan membawanya ke samping tempat tidur istrinya. Dia menilai sudah saatnya ia harus tahu apa yang berada di dalam kotak itu. Ketika ia membukanya, ia menemukan dua serbet kecil dan setumpuk uang sebanyak Rp.250 juta.

Dia lalu bertanya kepada istrinya tentang isi kotak sepatu itu. "Ketika kita akan menikah dulu itu," kata istrinya, "nenek saya bilang rahasia pernikahan yang bahagia adalah tidak pernah berdebat dengan suami. Dia bilang bahwa jika saya marah sama suami, saya hanya harus tetap tenang dan merenda sebuah serbet".

Mendengar jawaban sang istri, pria tua kecil itu begitu terharu, dan ia harus berjuang menahan tangis. Hanya dua serbet kecil yang berada di kotak. "Berarti ia hanya marah pada saya hanya dua kali selama bertahun-tahun hidup bersama". Pria itu hampir meledak penuh kebahagiaan.

Tetapi melihat ada setumpuk uang di kotak itu ia lalu bertanya lagi kepada istrinya, "Sayang," katanya, "itu tadi yang menjelaskan tentang serbet, tapi bagaimana tentang semua uang ini? Dari mana datangnya?"
"Oh," kata istrinya, "itu uang dari hasil menjual serbet yang saya buat."

Memiliki rumah tangga yang harmonis adalah dambaan semua pasangan suami istri. Kenyatannya, tidak semua pasangan mampu mewujudkannya.  Lihat saja, berita perceraian menjadi menu utama infotainment televisi kita. Betapa banyak pasangan yang mengakhiri kehidupan rumah tangganya dengan perceraian hanya karena alasan “tidak cocok lagi”. Ironis, tapi benar-benar ada di sekitar kita.

Kenapa kita menikah? Kenapa kita membangun keluarga? Agaknya pertanyaan ini harus kita jawab sebelum kita benar-benar melangkah ke jenjang pernikahan. Kenapa? Karena menikah adalah pintu memasuki kehidupan berumah tangga. Begitu mulia dan agungnya pernikahan, hingga Allah SWT menyebut pernikahan sebagai sebuah mitsaaqan ghalidza, perjanjian yang kokoh. Allah hanya menyebutkan “mitsaaqan ghalidza” sebanyak 3 kali dalam al Qur’an. Pertama, dalam surat Al Ahzab ayat 7, ketika Allah membuat perjanjian dengan para nabi, yakni Nabi Nuh as, Ibrahim as, Musa as, dan Isa as. Kedua, dalam surat An Nisa’ ayat 154, saat Allah mengangkat bukit Thur di atas kaum bani Israil dan meminta mereka bersumpah setia pada Allah SWT. Kali ketiga adalah janji pernikahan, dalam surat An Nisa ayat 21.

Bila saat ini kita terlanjur menikah, maka mempertanyakan kembali tujuan pernikahan kitapun bukan sesuatu yang terlambat. Rumah tangga seperti apakah yang akan kita bentuk? Keluarga macam apa yang akan kita bangun bersama pasangan kita? Pertanyaan-pertanyaan ini harus kita jawab sebelum kita melangkah lebih jauh.

Sebagian keluarga menganggap bahwa pernikahan hanyalah penyatuan dua manusia yang berbeda. Mereka menikah karena saling jatuh cinta, atau karena kedudukan, karena fisik, atau bahkan karena materi. Maka tak heran, bila yang terjadi kemudian adalah transaksi-transaksi antara suami-istri yang tidak lebih hanya mencari keuntungan pribadi masing-masing. Pada akhirnya, karena tidak adanya tujuan yang sama, keluarga-keluarga itu mudah rapuh dan hancur hanya karena persoalan-persoalan sepele.

Rumah Tangga Ideal
Mari kita simak ayat berikut ini:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untuk mu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Arrum: 21)

Demikianlah, sesungguhnya Allah telah menjamin bagi pasangan yang menikah akan ditumbuhkan dalam hati mereka kecenderungan satu sama lain, rasa tenteram, rasa kasih da rasa sayang. Rasa cinta, tenteram, kasih dan sayang itulah yang akan menjadi modal utama bagi berjalannya roda rumah tangga.

Dalam buku Wonderfull Family, Ustadz Cahyadi takariawan menyebutkan beberapa syarat yang harus dimiliki sebuah keluarga agar menjadi keluarga yang harmonis.

1. Visi yang Kuat
Saat membangun keluarga, kita harus memiliki visi yang kuat tentang akan kita jadikan apa keluarga kita. Visi adalah pernyataan yang luhur atas cita-cita yang ingin dicapai. Visi suami dan istri harus sama. apa jadinya bila dalam sebuah mobil sang sopir ingin pergi ke Jawa Barat sedangkan sang penumpang ingin ke Jawa Timur. Tentu saja akan terjadi perdebatan sengit atau bahkan pertengkaran yang tidak ada ujungnya.

Maka pertanyaan pertama yang harus segera dijawab oleh semua pasangan adalah: “mau dibawa kemana keluarga kita?” Akan kita jadikan apa anak-anak kita?

Maka karena kita seorang muslim, tujuan kita hanyalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Keluarga yang kita bentuk adalah keluarga muslim. Menjadikannya sarana untuk beribadah dan mengabdi. Menjadikan anak-anak kita manusia mulia yang kelak menjadi pemimpin dan penolong umat, meanjadikan keluarga kita sebagai aset dan tiket kita msuk syurga.
Sehingga jelaslah tujuan kita. Tinggal bagaimana kita mengupayakannya. Mencari peta, mencari kendaraan, mencari bahan bakar, dan bekal untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan kita tidak sebatas langit dunia, tapi tembus ke langit akhirat. Sehingga sangat tidak layak manakala alasan  ekonomi, tidak cantik lagi, sudah tidak perkasa, atau alasan duniawi lainnya menjadikan rumah tangga kita kita hancur.

Kalaupun ada alasan komunikasi, tidak cocok lagi, atau konflik-konflik keluarga yang lain, bagi keluarga yang bervisi kuat tidak lebih ibarat jalanan yang sedang macet. Harus sabar sembari mencari celah jalan agar kita tetap bisa melaju ke depan.

2. Pembagian Peran
Suami, istri, dan anak memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam keluarga tidak ada yang menjadi bos atau karyawan. Semua memiliki hak dan tanggung jawab masing-masing. Bila suami bertanggung jawab untuk memenuhi nafkah keluarga, melindungi dan mengayomi seluruh keluarga, maka istri bertanggung jawab mengurus urusan rumah tangganya serta menjaga harta suaminya.

Rasulullah tidak segan menjahit baju beliau sendiri. Ini menggambarkan, bahwa pembagian peran bukan sesuatu yang kaku. Suami tidak segan membantu pekerjaan istri, demikian pula istri tidak segan meringankan tugas suami.

3. Komunikasi efektif.
Banyak rumah tangga yang hancur karena gagal membangun komunikasi. Suami gagal memahami istri, sebaliknya istri juga sulit memahami suami. Suami merasa selalu dituntut, sebaliknya istri merasa tidak dimengerti.

Kemampuan mengkomunikasikan isi hati agar dapat dimengerti pasangan memang tidak dimiliki semua orang. Karena itu kita harus melatih dan mengasah kemampuan komunikasi kita masing-masing.

Banyak suami yang canggung memanggil istrinya dengan panggilan sayang, “dek” atau “yang”. Padahal Rasulullah SAW memanggil Aisyah dengan yaa humaira. Romantis sekali.

Banyak pasangan yang canggung mengucapkan “i love you”, padahal Rasulullah menganjurkan untuk mengungkapkan rasa sayang kita dengan bahasa lisan. Ternyata bahasa tubuh tidak cukup!

Banyak pasangan yang jarang memuji pasangannya, padahal pujian dapat menghilangkan sakit hati, menyenangkan pasangan, dan mempererat hubungan.

Begitulah, seringkali kehidupan rumah tangga kita terasa hanya rutinitas pagi hingga pagi lagi. Kehidupan kita tidak jauh dari tidur, makan, bekerja.

Bicaralah dengan pasangan anda. Ceritakan hal-hal yang anda alami hari ini. Jadikan pasangan kita tempat curhat terbaik kita. Sebaliknya, dengarkan curhatan pasangan anda. Jangan biarkan dia kecewa karena anda tidak mendengarkan ceritanya.
Bila kita mahir berkomunikasi, insya Allah, masalah beratpun akan terasa ringan. Masalahyang pelik akan mudah di urai.

4. Mengelola konflik
Konflik dalam rumah tangga ibarat garam dalam sayur. Harus ada agar rasa sayurnya mantap, tapi bila terlalu banyak juga tidak enak. Suka atau tidak suka, konflik pasti akan ada dalam kehidupan rumah tangga.

Rumah tangga yang ideal adalah rumah tangga yang mampu mengatasi setiap konflik yang dihadapinya. Konflik dijadikan pelatihan keluarga untuk menghadapi badai yang lebih besar.

Konflik diselesaikan dengan baik, dengan memperhatikan kemaslahatan keluarga, dimusyawarahkan bersama, dan disepakati bersama. Pada gilirannya, keluarga yang trampil mengelola konflik akan memiliki roadmap kehidupan rumah tangga. Mereka memiliki rumus untuk tiap konflik yang mereka hadapi.

5. Mendidik generasi
Tugas yang sangat fundamental dari sebuah keluarga adalah mendidik generasi. Anak adalah amanah dari Allah. Tugas orang tualah menjaga fitrahnya dan mengarahkannya agar menjadi manusia yang berakhlaq mulia.

Keberadaan anak sangat mempengaruhi kebahagiaan keluarga. Betapa banyak keluarga yang sukses secara materi, tapi memiliki anak yang sulit diatur, bahkan terjebak narkoba. Tapi ada juga keluarga yang secara ekonomi kurang, tapi memiliki anak-anak yang sholih dan sukses dunianya.

Fakta ini membuktikan bahwa kesuksesan mendidik generasi bukan perkara mudah. Tidak selalu berbanding lurus dengan tingkatekonomi atau tingkat pendidikan orang tuanya. Kesuksesan mendidik anak adalah buah dari kerja keras dan doa orang tua.

Seperti yang pernah diungkapkan ustadz Anwar Jufri, anak adalah hasil pesanan orang tua kepada Allah. Hal ini pernah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as. Beliau meminta kepada Allah diberi keturunan yang shalih, yang dilahirkan di tengah bangsa yang rusak, dan membawa perbaikan bagi kerusakan umat.

Barangkali ini yang kurang dari kita. Visi kita terhadap anak-anak kita kurang jelas. Atau bahkan kita membiarkan anak berkembang secara natural tanpa arah. Sesungguhnya anak kita milik Allah, maka mintalah pada Allah apapun terkait dengan anak kita. Sertakan anak kita di tiap doa kita. Kita bisa meniru apa yang dilakukan ibunda Abdurrahman as Sudais. Beliau menanamkan pada Abdurrahman sejak kecil bahwa dia kelak akan menjadi imam Masjidil Haram.

6. Interaksi Sosial
Kita tidak bisa hidup sendiri. Begitu pula keluarga kita. Manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Maka jadikan keluarga kita aset yang berharga bagi lingkungan kita. Tebarkan kemanfaatan keluarga kita untuk masyarakat luas.
Membangun keluarga ibarat membangun pondasi peradaban. Butuh komitmen dan kerja keras dari suami dan istri agar rumah tangga yang ideal bisa terbangun. Komunikasi, saling menerima, tidak saling menuntut, dan senantiasa bersyukur atas apa yang dianugerahkan Allah pada keluarga kita. Semoga Allah memudahkan kita menjadikan keluarga kita keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Menjadi tiket kita masuk syurga mencapai kebahagiaan hakiki. Aamiin.

#Demak,  14022016