Ketika Allah Menagih Cinta Kita
Oleh: Titien SDFS
Senja masih bergayut indah di ujung ufuk. Cahayanya yang semburat kemerahan berpendar bak selendang para penari, meliuk-liuk semakin menjauh ditelan kelam.
"Aku diajak ke Bandung sama teman-teman. Boleh ya, Mi," pinta Khoirul, sulungku.
"Kapan? Naik apa? Acara apa? Sama siapa saja?" tanyaku tanpa menoleh.
"Besok Kamis sampai Ahad. Naik motor, Mi. Biar bisa muter-muter sekalian di Bandung. Sama teman-teman Husnul, berempat. Kakak kelasku di Husnul dulu married, entar nginep sana. Boleh ya, Mi," rengeknya lagi.
Aku menoleh perlahan, menatap pemuda yang baru beranjak dewasa itu lekat-lekat. Sebongkah cemas langsung hinggap di hati, manakala membayangkan anak-anak itu menempuh perjalanan Demak-Bandung dengan sepeda motor. Aku sangat tahu jalan menuju Bandung berbukit-bukit dan berbahaya, itu menurutku. Namun, melihat keinginannya yang begitu besar, membuatku tak tega melarangnya.
"Tunggu Abi pulang, kalau Abi mengijinkanmu, Umi tidak bisa melarang," kataku akhirnya.
Petang itu terasa begitu panjang bagiku, bagaimanapun sulit bagiku untuk melepas cemas yang semakin menggunung. Kusambut Mas Darma tanpa menyinggung permintaan Khoirul, aku memang tak ingin membicarakannya.
"Alhamdulillah, Abi sudah pulang. Aku diajak ke Bandung sama teman-teman Husnul, boleh gak, Bi?" cetus Khoirul begitu melihat abinya datang.
Mas Darma menatapnya sejenak, lalu berkata,"kapan? Naik apa? Sama siapa?"
"Ah, Abi sama Umi pertanyaannya sama. Besok Kamis sampai Ahad, Bi. Naik motor sama anak-anak Husnul. Kakak kelasku di Husnul dulu mau nikah."
"Lha bukannya seminggu lagi kamu mid semesteran?" tanya Mas Darma.
"Iya sih, refreshing dikit dong, Bi? ," rengek pemuda itu.
Kepalaku berdenyut-denyut, segunung cemas semakin kokoh saja mendengar penjelasan Khoirul kalau mereka juga mau menyempatkan mendaki, jadi bisa makan waktu semakin lama, duuuh ....
"Kalau Umi keberatan, gimana Mas?" tanyaku hati-hati, "pertama, kamu mau mid semesteran. Kedua, Umi cemas membiarkanmu motoran Demak-Bandung. Abi aja belum pernah je."
"Umi ki, mesti gitu, nganggep aku masih anak kecil terus. Katanya tadi, kalau Abi boleh, Umi gak akan melarang," protesnya.
Aku dan Mas Darma saling menatap, membuatnya menangkap kecemasan yang begitu besar dan membuat keputusan untuk tidak memberi ijin padanya. Kuharap tak terjadi sesuatu, tetapi aku salah. Anak itu berteriak marah seiring dengan keputusan kami.
"Tolong pahami Umi, Mas. Kecemasan orang tua tidak bisa dianggap main-main. Bukankah untuk hal-hal lain kami selalu mendukungmu?"
"Tidak, aku tidak mau mendengar kalimat itu lagi. Kalau Umi-Abi gak kasih ijin, aku tetep akan pergi!" teriaknya.
"Biarkan saja, Mi. Dia sudah cukup dewasa. Biar dia rasakan akibatnya kalau melawan orang tua!" teriak Mas Darma tak mau kalah.
Aku tergugu, benar-benar dibingungkan dengan kejadian ini, hingga tak tahu harus bagaimana, membiarkan sulungku pergi? atau menahannya? Hatiku benar-benar kosong, rasanya tak ada yang lebih menyiksa ketimbang menyaksikan pertengkaran ayah dan anak. Dan aku, tak tahu harus memihak siapa. Terlintas begitu saja sebuah pemikiran, anak itu pasti akan pergi ke rumah neneknya, karena dulu waktu kutinggal bekerja dia cukup lama diasuh neneknya/ibuku. Kupencet tuts telepon, memohon ibu untuk menasehatinya. Tak disangka, ibu bergegas datang ke rumah, sedang si sulung baru saja meninggalkan rumah.
"Ibu, kumohon, pulanglah. Dia pasti ke sana sekarang. Maaf, bukan mengusirmu, tapi ...."
"Ya, ibu tahu perasaanmu, mudah-mudahan benar, dia ada di sana," kata beliau berlinang air mata.
Malam itu, tak sepicing pun mata dapat terpejam, apalagi setelah adikku memberi kabar bahwa dia memang datang ke sana, namun pergi lagi dan tak tidur di sana.
Satu hari, dua hari hingga seminggu cepat berlalu. Tak pernah kulewatkan untuk mencari tahu kabar dan keberadaan Khoirul. Semua nihil, bahkan BBM dan WAku pun diblokir olehnya, tak terkecuali Mas Darma dan Muthi', adiknya. Tuhan, ada apa ini? jeritku dalam sujud.
Seminggu dua minggu pun berlalu, kulingkari setiap tanggal yang berlalu. Malam semakin melekat dengan sajadah dan air mata.
"Jangan terlalu dipikirkan, Mi. Khoirul sudah cukup dewasa, biarkan dia menentukan jalannya sendiri. Kewajiban kita hanya mendampingi sampai dia baligh ...," kata Mas Darma menenangkanku.
Apa yang salah dengan caraku mendidik anak? Sejak kecil, kuajarkan dia mengenal Tuhannya, juga ibadah yang menjadi kewajibannya. Kebutuhannya pun selalu terpenuhi. Tapi mengapa dia meninggalkanku? Kubuka Alqur'an sekenanya, dan berharap mendapat jawaban dari ketidakpastian ini. Terbaca olehku QS Attaubah ayat 24 yang artinya, "Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."
Ampuni aku ya Allah, mungkin ini adalah jawabannya. Dia hendak mengingatkanku yang mungkin terlalu mencintai anakku. Memikirkannya, lebih dari memikirkan Dia yang telah memberiku berjuta-juta kenikmatan. Airmata menganak sungai mengiringi sujud penuh taubat. Ya Rabb, kupasrahkan pada-Mu. Engkau Maha Mengetahui segala sesuatu, Engkau Maha Berkehendak. Aku hanya minta, kumpulkan kami sekeluarga dalam jannah-Mu. Selepas itu, dada terasa lapang, beban yang menghimpit pun hilang. Yang kuyakini, aku selalu mendidiknya sesuai petunjuk-Nya, maka sekarang biar Dia yang menjaga dan membawanya pulang kembali.
Di hari ke-23, telpon berdering, di seberang sana terdengar suara yang begitu kurindukan, "Mi, apa aku boleh pulang?"
Si anak hilang itu pun kembali, ketika kita menyerahkan segala urusan sepenuhnya pada Dia yang Maha Rahman, dengan mendahulukan cinta-Nya.
#Demak, 29112015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar