Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 30 April 2015

Possesif

Posessif
Oleh : Titien SDF

Cintamu terlalu kencang mengikatku
Mengiris rasa menorehkan sembilu
Meneteskan hujan: membisu
Meniupkan bosan: menderu

Kasih yang kautebar membelenggu
Menghimpit dunia luasku
Menyesak berjejal rasa rindu
Pada kebebasan yang dulu: tanpamu

Kasih, beri aku ruang
Ingin kukejar mimpi setinggi bintang
Membaginya 'tuk semua tersayang
Yang mengenapi hidup: tak cuma kau seorang

#Demak, 07042015

Inginku

INGINKU
Oleh : Titien SDF

Aku ingin mengendarai angin
Pada siapa kutitip segala ingin
Menyematkannya pada helai daun jatuh
Menerbangkannya pada garis waktu: menjauh

Berlari dari putus asa
Melempar gulana di ujung nestapa
Mengejar mimpi menelusup kepala
Mengeluarkannya mewujud nyata

Duhai angin ...
Lepaskah daku dari jerat dunia
Yang mengikat langkahku mula pertama
Tangkaplah hatiku, lempar pada muara-Nya
Pada siapa kulabuhkan bahtera
Setelah mabuk terguncang di atas samudra

#Demak‬, 07042015

Lelah

LELAH
Oleh : Titien SDF

Saat kekata meluah memenuhi kepala
Isakannya menyedu dalam rongga dada
Kedua tanganku sibuk menangkap isyaratnya
Hujan menderas menimbun telaga
Dan langkahku terpaku tak hendak kemana

Aduhai jiwa
Dengan apa pula kukumpulkan bianglala
Jika hujan membadai tanpa jeda
Namun masih saja kuhidupkan lilin asa
Dalam lelah menjaganya agar tetap ada

#demak‬, 07042015

Andai engkau tahu


Andai Engkau Tahu
Oleh : Titien SDF

Pagiku datang saat kalian sudah pergi
Siang dan petang pun hanya bersama bibi
Tidur malamku sepi tiada yang menemani
Kalian ada tapi serasa tak kumiliki

Andai kalian tahu ...
Hatiku tak terbuat dari batu
Inginkan kasih sayang tercurah darimu
Bukan segalanya ditemani pembantu

Aku sama sekali tak bahagia
Punya papa pengusaha yang habis waktunya
Mama sibuk berkarir dan sosialita
Serasa yatim piatu aku dibuatnya

#demak, 04042015

Beri aku waktu, bunda


Titien Sumartini Dwifatmasari
Beri Aku Waktu, Bunda
Oleh : Titien SDF

Beri aku waktumu, Bunda
Banyak pe er yang ingin kutanyakan
Temanilah, aku sendiri kesepian
Dekaplah, malam begitu menakutkan

Beri aku waktumu, Bunda
Begitu lama tiada peluk cium untukku
Bunda seakan kehabisan waktu
Hingga terlupa 'tuk sekedar menyapaku

Begitu pentingkah Bunda?
Karir dan harta kaukejar tanpa lelah
Di sini anakmu tertunduk pasrah
Bunda pulang hanya beri amarah

#Demak‬, 03042015

Percayalah

Percayalah
Oleh : Titien SDF

Istana  yang kaubangun begitu megah
Bak menara penjara cinta
Bila setiap langkah kaujilat habis tanpa bekas
Menjerat kaki tak leluasa menapak: bebas

Cawan-cawan rayumu menyisa sembilu
Penuh jejak cemburu
Mengurung rasaku
Memagari mimpi yang terus melaju

Percayalah,
Aku tak kan lari darimu
Hatiku telah tertambat: tak ragu
Namun putiknya meranggas seiring waktu
Terinjak belenggu cintamu

Lepaskanlah,
Beri sedikit ruang untukku
Agar bungaku bertumbuh: tak layu
Meninggi sulurnya menembus langit
Memetik bintang dan merakit impian
Untukmu
Untukku
Untuk kita

#Demak, 09042015

Tanah tak bertuan

Tanah tak Bertuan
Oleh : Titien SDF

Seperti pagi merangkaki  malam
Mentari menuju terbenam
Terang berganti gelap: kelam
Serupa masa menenggelam

Selintas dulu
Masih serupa kolam susu
Setiap mata berbinar tanpa ragu
Hujan badai pun tetap  arungimu

Usia menua
Renta menggurita
Menggarami hidup: tak lagi ceria
Bahtera tak bernahkoda
Ikan-ikan tak lagi disapa
Sauh tertambat tanpa jeda
Kehilangan pemuda
Bermigrasi ke dunia maya
Jati diri entah ke mana

Raganya masih ada di sini
Mendiami tanah kami
Kosong, nyaris tanpa isi
Ironi: tak ada yang peduli
Negri ini bagai mati
Bak tiada penghuni
: hampa nian
Tanah tak bertuan

#Demak, 16042015

Semua hanya semu

Semua Hanya Semu
Oleh : Titien SDF

Seperti bayangan air di padang pasir
Embus napasmu terasa begitu dekat: semilir
Memaksa jantung berputar laksana kincir
Untai berharap-harap rasa kan hadir
Angan melayang ikuti bayu mendesir

Hanyut bahtera jiwa
Anggunmu menggelayut manja
Netra tiada lelap sekejap saja
Yang terlihat hanya indah belaka
Aku tertipu terpedaya

Seperti pelangi di permukaan air
Engkau hanya kembara yang mendesir
Menerbangkan angan bak mimpi tiada akhir
Untaian rasaku terputus garis takdir

#Demak, 23042015

Hanya debur ombak

Hanya Debur Ombak
Oleh : Titien SDF

Laksana ombak pada lautnya
Cintaku mengalun berirama
Terkadang mengalir sunyi
Dalam riak-riak kecil nan rapi
Terkadang mendebur kencang
Meninggikan pasang gelombang
Atau ikuti terjun bebas
Kejar langkahmu ke laut lepas
Seia sekata: kurasa
Menyatu dalam asa

Dan debu yang meniup
Bangunkanku dari harap sayup
Sedekat apapun ombak pada laut
Tiada selamanya mengikut
Laut lebih memilih asin
Lengkapi hidup di belahan bumi yang lain
Saat gayung mengambilnya
Ombak tak lagi mendebur di atasnya
Berasa sia-sia
Semua hanya sementara

#Demak, 29042015

Bab_6_DBT

#Bab_6_DBT
Pintu yang Setengah Terbuka
Oleh : Titien SDF

Matahari sudah sepenggalah, saat Mbok Nah selesai dari pekerjaannya. Laila masih di dalam kamar, begitu pun Laisa.

Kenapa Non Laisa tak kedengaran suaranya ya, pikir Mbok Nah sambil membuka pintu kamar Laisa. Gadis kecil itu terlihat masih tergolek di atas kasurnya.

"Non ... Laisa ..., bangun Non. Sudah siang," serunya mengguncang-ngguncang tubuh Laisa. Tapi, apa ini? Mengapa badannya terasa panas sekali. Oh tidak, ini pasti gara-gara kehujanan kemarin,' pikirnya.

"Na ... Na ...," gumam Laisa pelan. Gadis kecil itu terlihat menggigil. Mbok Nah segera mengambil termometer di kotak obat dan memasangnya di bawah ketiak Laisa.
"40°," gumamnya kuatir. Diambilnya segelas minuman dan sirup turun panas dan segera diminumkan ke mulut Laisa. Gadis itu hanya membuka mata sebentar, lalu memejamkannya lagi.

"Non, makan dulu. Dari tadi Non belum makan. Ayo Non, biar Mbok Nah suapin."

Perempuan itu masih saja berusaha membangunkan Laisa, tapi sia-sia saja. Mata yang terpejam itu tiba-tiba terbelalak. Kedua tangan dan kakinya kaku mengejang.

"Non Laisa! Jangan ... Non! Nyonya! Tolong ...!" teriak Mbok Nah panik.

Laila yang sedang berada di kamarnya segera turun. Tak biasanya Mbok Nah berteriak-teriak seperti ini, pikirnya bertanya-tanya.

"Ada apa Mbok?!" tanyanya tak kalah keras.

"Non Laisa kejang, Nyonya! Tolong ...!" teriak Mbok Nah semakin panik.

Apa? Laisa kejang? Tiba-tiba kecemasan memenuhi dada Laila. Setengah berlari dia menuju kamar Laisa. Disambarnya sebuah sendok di atas meja makan. Dengan sigap dibukanya mulut Laisa dan meletakkan ujung sendok di atas lidahnya.

"Kompres es batu,  Mbok! Cepat!" perintahnya. Tanpa pikir panjang, dipencetnya telpon, menelpon dokter Ardian, dokter keluarga mereka.

"Kenapa bisa begini, Mbok?" tanyanya, "apa Laisa pernah begini sebelumnya?"

Mbok Nah menggeleng sambil menangis, "Non Laisa tidak pernah begini, biasanya kalau meriang dikerokin juga sembuh. Saya takut Nyonya."

"Husss, jangan bilang begitu. Sebentar lagi dokter Ardian datang. Dia tak akan kenapa-napa," kata Laila berusaha menenangkan Mbok Nah dan dirinya sendiri.

Ting tong ... assalamu'alaikum. Terdengar suara bel pintu. Laila bergegas melangkahkan kaki dan  membukanya.

"Wa'alaikum salam, ayo cepat dokter, di sini," sambut Laila pada dokter Ardian. Ditariknya dokter Ardian menuju kamar Laisa.

"Gelap sekali," katanya, "bisakah dia dipindahkan ke tempat yang lebih terang?"

Mbok Nah dan Laila berpandangan. Satu-satunya kamar yang rapi dan tidak dipakai adalah kamar untuk tamu di dekat ruang tengah. Mereka pun mengangguk pelan.

"Mari saya bantu," tawar dokter Adrian sopan. Digendongnya tubuh lemah Laisa mengikuti langkah Laila sementara Mbok Nah mengikuti sambil membawakan tas perlengkapan dokternya.

Dokter Ardian membaringkan Laisa di atas pembaringan, kemudian dengan hati-hati menyuntikkan sesuatu ke tubuh Laisa. Tak berapa lama, serangan kejang itu berangsur hilang.

"Apa dia sering seperti ini?" tanya dokter Ardian.

"Tidak, dokter. Baru kali ini, saya takut sekali," jawab Mbok Nah cemas.

"Siapa namanya? Umurnya?" tanya dokter itu lagi.

"Laisa, umur 12 tahun dokter," jawab Mbok Nah.

"Ini siapanya Bu Laila? Saya kok gak pernah lihat?" tanyanya lagi.

Deg, pertanyaan itu seperti palu godam menghantam jantung Laila. Mbok Nah terdiam, begitu pun Laila. Tak lama kemudian, "momongan saya dokter," kata Mbok Nah pelan.

"Oooh ...," gumam dokter Adrian. Laila sedikit lega. Dokter Adrian pun menuliskan resep untuk Laisa, "biarkan dia banyak beristirahat. Kalau sewaktu-waktu keadaannya memburuk, segera hubungi saya atau bawa ke rumah sakit," pesannya.

"Bagaimana kalau Tuan pulang dan melihat Laisa di sini, Nyonya?" tanya Mbok Nah sepeninggal dokter Ardian, cemas.

"Biar aku yang bicara padanya Mbok. Tolong jaga dia ya. Kompres sampai panasnya turun ya," pesan Laila sebelum meninggalkan kamar, "Mbok, terima kasih ya."

"Nyonya tak perlu berterima kasih kepada saya, untuk apa?" tanya Mbok Nah heran.

"Untuk jawabanmu tadi," jawab Laila lirih.

Laila bergegas kembali naik ke kamarnya. Percakapan dengan dokter Adrian tadi sungguh membuat rasa tak nyaman dalam hatinya. Bukan salah dokter itu, bisik hatinya.

Ayolah, Laila. Bukankah telah kaulihat? Seperti apa dia? Berhentilah membencinya. Berhentilah mengutuknya. Dia darah dagingmu sendiri, Laila. Sembilan bulan dia dalam rahimmu. Tak pernah kausyukuri, tapi Tuhan menghendaki dia hidup. Ini bukan maunya, Laila. Berdamailah dengan fitrahmu, berdamailah dengan rasa keibuanmu, bisik suara hatinya.

Tapi ini juga bukan mauku, teriak sisi hatinya yang lain.

"Astahhfirullah, ampuni aku ya Allah," gumamnya pelan, "beri aku petunjuk. Apa yang harus kulakukan ya Allah?"

Laila bergegas mengambil wudhu, digelarnya sajadah, menunaikan sholat dhuha, menenangkan hatinya, memohon petunjuk dari Tuhannya. Ditekurinya sujudnya yang dalam, serasa ada kesejukan yang mengaliri raganya, terus mengalir ke dalam jiwanya hingga terasa tenang. Pintu itu sudah setengah terbuka. Pintu kesadarannya akan kehadiran Laisa yang membutuhkan dirinya, sentuhannya, dan perhuatiannya sebagai seorang ibu.

Sementara itu Mbok Nah masih berjaga di samping Laisa. Tangannya masih sibuk mengompres dahinya walau panasnya berangsur turun. Sebentar-sebentar terdengar suaranya mengigau memanggil namanya.

"Na ... Na ...."

Mbok Nah menghela napas, mengembuskan sedikit beban yang menghimpit jiwanya. Setidaknya Laila masih punya rasa, pikirnya. Apakah itu hanya bagian dari rasa kemanusiaannya atau bagian dari rasa keibuannya? Bagi Mbok Nah tak terlalu penting. Bukankah dia belum mau mengakui Laisa sebagai putrinya? Itu terlihat pada roman mukanya tadi. Tapi ..., mengapa ada cemas yang tak dapat disembunyikannya dari wajahnya? Kecemasan seperti apakah? Ah, aku tak harus berprasangka seperti ini, pikir Mbok Nah kemudian.

"Mbok, aku ke apotik sebentar. Mau nebus obat," kata Laila membuyarkan lamunan Mbok Nah. Perempuan tua itu hanya mengangguk.

"Na ... Na ...," Laisa masih terus mengigau.

"Mbok di sini, Non," jawabnya mencoba menenangkan. Diusapnya kepala gadis kecil itu dengan lembut, digenggamnya tangannya.

Ting tong ... assalamu'alaikum. Bel pintu kembali berbunyi. Mbok Nah melepaskan genggamannya pada Laisa dan bergegas membukanya.

"Wa'alaikum salam. Non Renata, Non Laisa sakit, Non," sambutnya saat melihat Renata di depan pintu.

"Loh, kemarin baik-baik saja. Di mana dia sekarang? Aku boleh masuk kan, Mbok?" tanya Renata. Mbok Nah menggamit tangannya, menariknya ke tempat Laisa.

"Laisa, ini aku, Renata ...," bisiknya di telinga Laisa. Tak ada reaksi, gadis itu tetap terdiam, terpejam, tergolek tak berdaya.

#Demak, 30042015


Kepak sayap terpatah


Kepak Sayap Terpatah
Oleh : Titien SDF

Aku mencintaimu seperti siut pada kembara
Bercuit nyaring dalam kencangnya
Bersepoi mengikut semilirnya
Selalu menjajar langkah ke mana jua

Dan aku bahagia
Berbunga-bunga terpesona
Tak sedetikpun mengerjap mata
Agar kebersamaan tak berjeda
Terbang bersamamu selamanya

Lalu: hujan menyambutmu mesra
Berbutir-butir airnya membuatmu terlena
Mendekap dan mengiringinya
Tinggalkanku:  terjebak rasa
Memburumu tak lagi kuasa
Sayapku: terpatah tanpa daya

#Demak, 28042015

Antara kau, aku dan ustadzah

ANTARA KAU,  AKU DAN USTADZAH

Seperti sebuah titik di tengah-tengah lingkaran, kau terlihat begitu asing. Berbeda. Entah siapa yang salah sehingga kau seperti ini.

"Waktu berjalan begitu cepat," katamu, "kita harus melakukan sesuatu," katamu waktu itu.

"Apa?" tanyaku.

"Apa saja. Jangan sampai kita ketinggalan kereta. Dunia ini kejam, dia bisa membinasakan siapa saja. Harus kautundukkan. Letakkan dia di atas telapak tanganmu, jangan di hatimu," katamu memintaku berpikir. Aku yang baru 13 tahun tak habis mengerti.

Dan sejak saat itu engkau berubah. Jarang kudengar suara tawamu yang renyah seperti dulu. Sekeras apapun usahaku memancing gelakmu, hanya senyum yang kudapat. Senyum yang kaupaksakan, seolah kau hanya ingin menjaga perasaanku. Dan aku merasa semakin konyol di depanmu saat kau bilang, "banyak tertawa mematikan hati."

Malam itu malam ulang tahunmu yang ke-17. Orang bilang sweet seventeen. Tak ada kue ulang tahun, tak ada hadiah, tak ada ciuman, bahkan tak ada ucapan selamat. Kutunggu reaksimu sekian lama. Namun sia-sia, tak ada keluhan, tak ada kesedihan, semua berjalan seperti biasa. Sungguh aku tak tahu, terbuat apakah hatimu?

"Aku sudah mendapatkan semua," katamu, "jadi, aku tak banyak berharap dengan semua itu. Sudah cukup kok."

Kata-katamu memang benar. Juga soal ayat yang kaubacakan padaku, "wa intaudhu ni'matillahi laa tuhshuuhaa. Dan apabila engkau hendak menghitung nikmat Allah, niscaya engkau tak akan bisa menghitungnya." Kau terlihat sudah seperti seorang ustadz di mataku. Ustadz muda.

Kaubilang, semua yang kita alami adalah nikmat, juga ujian. Dan kulihat, engkau benar-benar tegak seperti sebatang pohon besar yang tinggi menjulang. Sepertinya akarmu benar-benar menghunjam ke dalam tanah. Tak tergoyahkan. Nyaris sempurna. Tak heran banyak gadis yang mengharapkanmu.

Kau hanya tersenyum saat kutanya, "apa kau mencintaiku?"

Dan kau menggeleng saat kutawarkan untuk jadian.

"Agama kita melarang pacaran sebelum nikah. Itu mendekati zina," katamu membuatku putus asa.

Kupikir itu hanya alasan karena kau tak mencintaiku. Lalu kutanyakan padamu perihal gadis yang kaucintai. Lagi-lagi hanya senyuman yang kudapat. Kau tetap bergeming. Membuatku berharap.

Lalu kau pergi melanjutkan kuliahmu. Membayar biayanya dengan bekerja paruh waktu. Praktis hari-hari berlalu tanpa sosokmu. Entah mengapa tak jua bisa kuhapus bayangmu.

Saat kembali, penampilanmu masih sama. Nyaris tak ada yang berubah, hanya kumismu yang bertambah lebat, dengan bulu-bulu halus di dagu. Kau semakin tampak matang.

"Ke mana jilbabmu? Kau sudah 17 tahun sekarang, agama kita mewajibkan semua muslimah untuk menutup aurat. Berjilbablah," katamu.

Ceramah lagi, rutukku dalam hati. Kautahu? Aku cukup besar untuk memilih jalanku. Dan aku tersinggung saat kau tak lagi mau menerima jabat tanganku. Terlalu. Bukankah kaubilang aku sudah seperti adikmu? Dan lima tahun berpisah sudah menggunungkan rinduku.

Lalu ... lagi-lagi kau pergi. Tanpa kabar dan tanpa kepastian.
###

Waktu terus berjalan seperti katamu. Namun bagiku terasa begitu lambat. Menumpuk kebosanan tinggi-tinggi. Dan aku menyiapkan sebuah telaga yang penuh berisi air mata kerinduan, menanti dalam sepi.

Aku menghitung hari yang terus berganti, bulan dan tahun. Tanpa lelah. Karena aku tak ingin berhenti berharap.

Lihatlah aku sekarang, sudah bukan Sari yang dulu. Yang selalu merengek minta kaubacakan kisah-kisah Rasulullah saw agar bisa menikmati wajahmu. Aku sudah lancar membaca Alqur'an dan khatam berkali-kali. Beberapa juz sudah kuhapal di luar kepala.

Aku juga banyak belajar memperbaiki diri. Dari buku 'Salon Kepribadian'nya Asma Nadia, aku banyak belajar. Melembutkan suara, memperhalus lisan, membuang semua kebiasaan burukku. Aurat pun terjaga dengan pakaian taqwa.
###

"Bertaqwa bukan hanya bagian luarnya, Sari," begitu kata Mbak Diah, ustadzahku.

"Bertaqwa itu harus meliputi semuanya. Sisi luar dan sisi dalam. Jasadmu dan juga ruhmu. Ucapkan dengan lisan, benarkan dengan hati dan tunjukkan dengan perbuatan. Itu baru iman. Dan taqwa itu adalah berhati-hatinya kita dalam menjaga iman. Karena iman itu bisa naik dan bisa turun kadarnya," lanjutnya lagi.

Aku tercenung, memikirkan ucapannya. Hari ke hari membuatku semakin ingin mengenalnya. Dan hatiku terpesona.

Dia seorang perempuan biasa. Lulusan sarjana yang belajar wiraswasta dengan berjualan busana muslimah dan buku-buku islami. Masih lajang di usianya yang sudah lebih dari 25 tahun. Piatu dengan dua orang adik. Tapi nyaris tanpa keluhan. Walau sebagian besar pelanggannya adalah mahasiswi, yang sering mengambil dulu barang dagangan dan baru membayar bila sudah terima kiriman uang dari orang tua. Itu pun masih nyicil, seperti aku.

"Rejeki sudah ada yang ngatur, Sari. Takkan ada yang nyerobot. Percaya saja, Dia tak pernah lupa," katanya, "kalaupun tak segera sampai ke tangan kita, itu karena kita mengambil jalan yang berlawanan arah dengan arah datangnya."

Tuh, berteka-teki lagi kan, seperti kamu. Entah mengapa, setiap kata-katanya selalu mengingatkan padamu. Dia seperti dirimu yang berwujud perempuan.

Saat kuceritakan tentangmu dan perasaanku, dia membenarkanmu.

"Bukankah menyatakan cinta adalah wujud syukur juga?" tanyaku padanya.

"Benar, jika jatuhnya pada tempat yang dibenarkan agama. Artinya, hanya boleh dinyatakan kepada pasangan syah kita. Bukan pada yang belum syah secara agama. Belum halal," jawabnya serius. Aku tertawa.

"Kenapa Mbak Diah belum menikah?" tanyaku memancing. Dia tersipu.

"Itu skenario Allah. Doakan saja Mbak segera bertemu jodoh," katanya, tak ada nada tersinggung.

Hari-hari berikutnya semakin mendekatkanku dengannya. Dan aku ikut bahagia ketika mendengar seorang ikhwan telah datang mengkhitbahnya. Hatiku ikut berbunga-bunga menanti hari bahagianya. Kubayangkan, andai itu diriku dan dirimu, amboi senangnya.
###

Mas, aku masih menaruh besar harapan padamu. Menyiapkan telaga berisi air mata kerinduan. Agar engkau bisa menyelaminya dan menemukan mutiara cintaku.

Membayangkan kau menggendongku kala sakit, menghibur dengan kisah-kisahmu. Semua masih kuanyam dengan setia.

Lalu tiba-tiba kau datang dengan penuh senyuman, aku sungguh girang.

"Sari, aku sudah menemukannya," katamu sambil tersenyum

"Menemukan apa Mas?" tanyaku penasaran.

"Gadis yang menjadi jodohku. Dia begitu dekat," jawabnya. Aku sungguh merasa kalau itu diriku.

Semua terasa begitu berbeda, saat kauulurkan sebuah undangan. Badanku terasa lemas. Saat kubuka, tertulis namamu dan nama Mbak Diah di sana. Sungguh, aku tak tahu, harus sedih ataukah bahagia.

#Demak, 26042015

Bab 5 DBT

#Bab_5_DBT
Suara Hati Bunda
Oleh : Titien SDF

Ruangan itu masih terang benderang. Jam dinding menunjuk waktu pukul sebelas malam. Laila mondar-mandir di dalamnya dengan penuh gelisah. Suaminya sudah mendengkur dari tadi. Tapi entah mengapa matanya belum mau dipejamkan juga. Wajah Laisa yang dilihatnya tadi pagi seakan menari-nari di pelupuk mata. Matanya yang bulat hitam, rambutnya yang panjang, hidungnya, ah ... Laila tak bisa menghalaunya dari pelupuk mata.

Perlahan dibukanya pintu kamar. Sepi ... mungkin semua orang sudah lelap, pikirnya. Dikuatkannya langkahnya menuruni tangga, berbelok menuju ruangan di samping dapur dan kamar pembantu. Kamar gelap. Kamar Laisa.

Laila menempelkan telinga di pintu kamar. Hening, hanya bunyi napas yang teratur ditingkah suara jangkrik dari belakang rumah. Dicobanya mengintip dari lubang pintu. Gelap ... tentu saja, bukankah dia yang melarang Mbok Nah memasang lampu di situ. Itu karena dia tak ingin tahu ada kehidupan di dalamnya.

Kau harus mengambil senter, kata hatinya, kalau tidak kau takkan bisa melihat apapun. Laila memutar langkah, kembali ke kamarnya dan mencari-cari senter yang biasa disimpannya di atas meja rias. Untuk berjaga-jaga bila tiba-tiba mati lampu. Tak sengaja tangannya menyenggol gelas.

Proook ... pyar ....

Sampurno  menggeliat, meraba-raba mencari istrinya sebelum membuka mata. Kosong ..., dibukanya mata menatap sekelilingnya. Matanya berhenti pada sosok Laila yang sedang bersimpuh membelakanginya.

"Belum tidur Ma? Ada apa?" tanyanya dengan mata setengah terbuka.

"Ndak apa-apa. Hanya gelas." sahut Laila. Tangannya sibuk mengumpulkan pecahan gelas yang berserakan di bawah meja.

"Kau belum tidur Ma?"

"Tadi kebangun karena haus. Habis minum mau taktaruh eh gelasnya malah mrucut ... lepas ... jatuh ...," jawab Laila berbohong, "maaf, mengagetkanmu."

Sampurno bangun dan menghampiri istrinya. Dibantunya istrinya membersihkan pecahan-pecahan gelas. Dipandanginya wajah lelah perempuan itu lekat-lekat.

"Laila, kau menyembunyikan sesuatu?" tanyanya penuh selidik, "atau ... kau masih terbayang kejadian tadi pagi?"

Laila menggeleng pelan, diangkatnya wajahnya menatap suaminya. Mencari sisa-sisa amarah yang barangkali masih tersisa di sana. Mata itu terlihat begitu cemas menatapnya. Namun entah mengapa bibirnya tak juga mau bersuara. Hanya helaan napas yang bisa dikeluarkannya, agar sesak yang menghimpit rongga dadanya sirna.

Sampurno mengulurkan tangannya. Menenggelamkan wajah Laila dalam dadanya, siap menerima hujan tangis yang mungkin akan segera jatuh. Waktu berjalan tanpa suara, hanya hati yang bicara. Masing-masing terhanyut dalam angan yang entah. Tak ada yang ingin memulai bicara, hanya tangan yang saling mendekap erat. Hingga kaki-kaki mereka melangkah, membenamkan malam pada peraduan yang senyap.
###

Adzan subuh belum lagi terdengar saat Laila selesai membasuh tubuhnya. Suaminya masih terlelap tidur. Dengan cepat dirapikannya piyama, membungkus rambut basahnya dengan handuk dan bergegas keluar menuruni tangga. Laila berhenti sejenak di dapur, menuang air panas ke dalam gelas, menambahkan kopi dan gula, mengaduknya, lalu meletakkannya di atas meja. Bau kopi yang khas menyeruak memenuhi dapur. Hemmm ... Laila menghirupnya dalam-dalam.

"Nyonya sudah bangun?" tanya Mbok Nah yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.

Laila menghirup kopinya, merasakan hangat yang mengaliri tenggorokannya.

"Aku agak pusing. Mau istirahat dulu," jawab Laila pendek.

Laila menghabiskan kopinya dan beranjak bangkit. Adzan subuh mulai terdengar. Rasanya begitu syahdu memanggilnya. Disempatkannya menengok kamar Laisa. Gadis itu masih tidur dengan mengulum jari. Wajah polosnya yang terpejam serupa bayi tanpa dosa. Ada rasa bersalah yang merayap pelan. Sudah dua belas tahun, dan dia belum pernah sekalipun memperhatikan wajahnya.

Gila! rutuknya dalam hati. Lihatlah dia! Rambutnya, hidungnya, bibirnya, bukankah dia serupa engkau di masa kanak-kanak? Apakah tak ada bekasnya? Rasa yang kautanggung saat mengandungnya? Atau sudah tertutup dendam dan putus asa?

Laila menggigit bibirnya, bergegas keluar meninggalkan kamar Laisa. Ditahannya rasa yang menghentak jiwanya agar air matanya tak menetes keluar. Dia mengingatkan pada masa lalu yang menyakitkan. Yang susah payah ingin kaulupakan. Dia memang seharusnya hilang bersama masa lalu, sergah sisi hatinya yang lain.

Tidak, dia tak berdosa. Dia tak ada sangkut pautnya dengan  penjahat-penjahat itu, bisik hatinya.

Kalau demikian, kenapa tak kaucoba tes dna saja? Untuk memastikan siapa ayahnya. Agar ketahuan sekalian siapa yang harus kaubenci dan yang tidak, kata hatinya yang lain.

"Astaghfirullah," gumamnya. Laila bersegera mengambil air wudhu. Subuh itu, ditumpahkanlah semua keluh yang mengganjal dalam dada di atas sajadah. Memohon petunjuk dari Sang Empunya Takdir, perihal apa yang seharusnya ia lakukan.

Sementara itu, Laisa tergeragap kaget saat mendengar suara pintu kamarnya ditutup seseorang.

"Na ... Na ...," panggilnya. Biasanya hanya Mbok Nah yang keluar masuk kamarnya.

Mbok Nah yang baru selesai menunaikan sholat subuh bergegas mendatanginya. Tapi ternyata gadis kecil itu sudah tertidur lagi. Diusapnya kening Laisa lembut, dan ditinggalkannya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dibukanya kulkas, mengeluarkan sayuran dan sosis yang ada di dalamnya. Dengan cekatan, disiapkannya sarapan pagi.

"Pagi Mbok," sapa Lena ramah. Gadis 14 tahun itu sama cantiknya dengan Laisa. Namun dia lebih beruntung daripada Laisa walaupun mereka lahir dari rahim yang sama. Karena orang tua mereka lebih perhatian dan sayang kepada Lena daripada Laisa.

"Sarapan dulu Non," sapanya. Gadis itu duduk diam menikmati sarapannya. Diulurkannya piring makannya kepada Mbok Nah dengan sopan, "ini Mbok. Mama mana?"

"Nyonya di kamarnya, kelihatannya sedang kurang sehat. Tengoklah ke kamarnya," kata Mbok Nah.

Lena bergegas menaiki tangga menuju kamar orang tuanya.

"Ma, Lena berangkat ya," pamitnya.

"Angga juga, Ma," kata Angga menyusul.adiknya.

Laila membuka matanya, menerima uluran tangan kedua putranya dan mengangguk kepada mereka,  "hati-hati ya," pesannya.

"Aku berangkat dulu, Ma," kata Tuan Sampurno kepada Laila, "yakin? tak apa-apa kutinggal?"

Laila menggeleng lemah, tersenyum dan berbisik, "jangan cemas. Aku cuma butuh istirahat."

Mbok Nah menutup pintu pagar. Menyeduh teh hangat dan menyiapkan sarapan untuk Laila. Perlahan, dibawanya semua ke kamar Laila dengan hati-hati.

"Sarapan dulu, Nyonya," sapanya. Diletakkannya semua di atas meja.

"Mbok," panggil Laila. Perempuan tua itu menoleh dan menghampirinya.

"Laisa sudah bangun?" tanya Laila.

"Belum, Nyonya," jawabnya lirih. Hatinya bertanya-tanya, tak biasanya Laila menanyakan Laisa.

"Ceritakan padaku tentang Laisa, Mbok. Aku berhak tahu kan?" tanyanya. Perempuan tua itu semakin terhenyak.

"Laisa anak baik, Nyonya ...." Akhirnya, Mbok Nah pun menceritakan segala sesuatu tentang Laisa. Sejak saat Laila memintanya untuk tidak membicarakan Laisa dan memintanya untuk merawat Laisa di kamar tanpa cahaya. Dan tanpa tahu alasannya. Juga tentang perkembangan Laisa sampai saat ini. Laila mendengarkannya tanpa menyela. Diam-diam diperhatikannya, perempuan itu berusaha menahan perasaannya.

"Sepertinya Laisa sakit, Nyonya. Badannya panas ...," kata Mbok Nah pelan. Perempuan itu tak berani menatap wajah Laila walaupun dia sangat ingin tahu reaksi Laila. Masih adakah perasaan keibuanmu untuk Laisa? bisik hatinya ngilu.

#Demak, 23042015





Bab 4 DBT

#Bab_4_DBT
Kejadian tak Terduga
Oleh : Titien SDF

Sudah hampir satu minggu Tuan dan Nyonya Sampurno keluar kota. Selama itu pula Renata rajin datang untuk mengajari Laisa membaca dan menemaninya bermain. Dia juga membawakan buku gambar dan crayon warna-warni untuk Laisa. Laisa memang agak sulit diajak belajar membaca. Dia lebih suka mencorat-coret buku dengan crayonnya.

Ini masih waktu yang sama. Dengan keasyikan dan gairah yang luar biasa, mereka melakukannya lagi. Renata dan Laisa. Yang satu menjadi guru dan satunya adalah muridnya. Hebatnya, hampir tak ada pertengkaran di antara dua gadis sebaya itu. Pembelajaran yang mereka mainkan mengundang banyak harapan dalam hati Mbok Nah. Betapapun, dia belum pernah melihat Laisa semanis ini kepada orang lain. Dia selalu saja berontak bila didekati Den Angga dan Non Lena. Dan tak acuh pada mama papanya. Tapi dengan Renata tidak. Mungkin karena Renata juga bersikap manis dan apa adanya padanya, pikir perempuan sederhana itu.

"Pegang pensilnya begini, Laisa. Terus gerakkan seperti ini," kata Renata memperagakan cara menulis  sambil tangannya membimbing Laisa.

"Sa, mau ... tu," jawab Laisa menunjuk crayon warna-warni.

Apa boleh buat. Renata mengambil crayon dan menggambar bunga cantik di atas kertas gambar, lalu menyodorkannya pada Laisa. Gadis itu pun menggoreskan crayon dengan gembira.

Dua pasang mata menatap dalam dua gadis kecil yang asyik bermain crayon, tertawa-tawa. Tuan dan Nyonya Sampurno. Mereka tertegun di depan pintu, lalu perlahan mendekati Laisa dan Renata.

"Lena ...," panggil Nyonya Sampurno. Renata pun menoleh kaget ke arah suara yang asing baginya.

"Dia bukan Lena," sahut Tuan Sampurno mengernyitkan dahi.

"Mbok Nah! Siapa dua gadis kecil ini Mbok?" tanya Nyonya Sampurno. Dilihatnya Renata dan Laisa berganti-ganti. Laisa menggeser duduknya dengan takut.

Mbok Nah terperangah. Hari ini memang hari kepulangan Tuan dan Nyonya Sampurno. Dia terlupa memberitahu Renata akan hal ini. Dengan takut-takut, dihampirinya mereka berdua.

"Maaf Tuan, ini Non Laisa dan Non Renata, anak tetangga sebelah," jawabnya lirih.

Tuan dan Nyonya Sampurno saling berpandangan. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau Laisa, anak yang selama ini dikurungnya dalam kamar gelap sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik.

"Maaf Om, Tante, saya main tanpa ijin Om dan Tante dulu," kata Renata, "saya mohon pamit dulu ya."

"Ta ... ja ... ngan ... per ... gi ... ," ucap Laisa. Tangannya menarik tangan Renata agar kembali.

Nyonya Sampurno tersenyum kecut, melepas genggaman Laisa pada Renata dan berkata, "pulanglah, kami mau istirahat."

Renata melangkah keluar diiringi tangisan Laisa yang masih ingin ditemani. Mbok Nah mendekapnya erat dan menuntunnya kembali ke kamarnya.

"Bukankah sudah kubilang kalau tak boleh ada yang tahu tentang Laisa? Kenapa kau malah membiarkan anak itu bermain bersamanya? Kenapa Mbok?"

"Tapi Tuan, Non Laisa tak punya teman. Kasihan, dia pasti ingin punya teman," kata Mbok Nah memelas.

"Kau sudah pintar membantah ya ...," kata Tuan Sampurno geram.

Mbok Nah terdiam. Laisa masih terisak dalam dekapannya. Berjuta rasa kecewa memenuhi rongga dadanya. Rasa yang selama ini selalu dipendamnya penuh takut. Tiba-tiba dia melonjak, melepaskan dekapan Mbok Nah dengan sekali sentak.

"Hua ... hua ... Sa ...Ta ... Na ... hua ...," teriak Laisa sambil berlari, melewati Tuan dan Nyonya Sampurno yang berdiri di depan pintu. Tanpa dikomando, mereka pun berlari mengejarnya.

Blaaarrr ....Tiba-tiba suara guntur membelah angkasa. Langit pun seketika menumpahkan air hujan sedemikian derasnya. Dinginnya mengguyur tubuh kecil Laisa yang terus berteriak dalam tangis.

"Biarkan dia," kata Tuan Sampurno.

Mbok Nah tak menghiraukan ucapan majikkannya. Tubuh tuanya menangkap Laisa yang terduduk dalam kuyup di tengah jalan.

"Tak boleh begini Non. Nanti Non sakit. Kita pulang ya ...," katanya lembut. Tak urung cairan bening keluar dari dua bola matanya. Bagaimana mungkin, ada orang yang semena-mena terhadap anak kandungnya sendiri.

Laisa masih bergeming, menangis dan meronta dampai lelah menidurkannya. Lalu perempuan tua itu membopongnya dalam hujan. Membawanya pulang dan membaringkannya di kamarnya.

Sementara itu, di dalam kamar utama ....

"Sudah kubilang, jangan terlalu keras pada Laisa."

"Kau sendiri tak pernah mengakui dia anakmu kan, Laila?"

"Tapi aku tak membahayakannya."

"Lalu mengapa dulu kau berusaha menggugurkannya?"

Laila terdiam. Terbayang kembali peristiwa 13 tahun silam saat perampok menyatroni rumah mereka. Saat itu Mbok Nah sedang pulang kampung. Anak-anak tidur di kamarnya. Dan dia bersama suaminya sedang memadu cinta.

Malam itu sebelumnya terasa begitu indah. Mereka melambung tinggi di puncak asrama. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba sekawanan perampok telah masuk ke dalam kamar mereka. Mereka tak hanya merampas harta benda yang ada, tapi juga merenggut kehormatannya bergantian. Dan suaminya tak bisa berbuat apa-apa dengan pisau yang menempel di lehernya.

"Andai kaubiarkan aku mati saja, waktu itu," gumam Laila lirih.

"Bagaimana mungkin? Aku dan anak-anak membutuhkanmu," kata suaminya.

"Ya, dan aku berusaha bertahan hidup dengan menanggung malu. Apalagi setelah aku mengandungnya. Kita sama-sama tak rela dia ada."

Sampurno menghampiri istrinya. Perempuan itu terlihat amat terluka. Sama seperti dirinya, mereka sama-sama menganggap Laisa bukan darah dagingnya. Karenanya, mereka pun berusaha menggugurkannya dengan berbagai cara. Namun Tuhan berkehendak lain. Laisa tetap saja lahir walau tak sempurna. Kelahirannya tetap saja tak menumbuhkan cinta. Tak setetes pun air susunya diberikan untuk Laila. Namun Laisa tetap bertumbuh walau seadanya. Dan untuk alasan kemanusiaan maka dia membiarkan Mbok Nah merawatnya. Agar mereka tak dicap sebagai pembunuh. Naif? Ya. Bukankah memang demikian watak manusia?

Laila mengusap air matanya. Bayangan Laisa melintas di kepala. Gadis kecil itu terlihat begitu cantik, wajahnya jelas-jelas tak mewarisi wajah-wajah buas yang dibencinya.  Tapi hatinya terlanjur terluka. Luka yang membekas dan mungkin tak akan pernah hilang.

#Demak, 08042015

Semestinya putri Indonesia

#Kartini_Putri_Indonesia_NME
Semestinya Putri Indonesia
Oleh : Titien SDF

Semestinya putri Indonesia
Bukanlah yang suka hura-hura
Aurat mengembara seantero dunia
Tertawa; bencana disambut mesra

Apalah yang kaucari
Hingga hilang harga diri
Bendera ideologi sesat selimuti diri
Katamu hanya untuk menghormati

Coba kaulihat sejarah
Di bumi ini darah tertumpah
Menebus iman kepada Allah
Di ujung jari komunis bedebah
Jangan ulangi lagi
Mata ini terlanjur sakit hati
Terkhianati berkali-kali
Tiada boleh terulang lagi

Semestinya putri Indonesia
Junjung tinggi budaya mulia
Aurat jangan biarkan terbuka
Atas nama cantik pada dunia

Elokmu anugrah karunia
Lindungi ia dengan busana taqwa
Penduduk dunia segan; terpesona
Penduduk langit mengiring dedoa

Ikuti jalan lurus-Nya
Terukir dalam kalam suci mulia
Padanya tersemat sebaik-baik piala
Tiada bandingan hingga ujung dunia

Semestinya putri Indonesia
Berhalus budi bahasa
Bergemulai perilaku utama
Cermin kehormatan bangsa

Benahilah dirimu
Hiasi dengan rasa peduli
Bumi Indonesia pinjaman semata
Usah hasungkan ke mulut durjana
Lihatlah bukit emas kita
Tertinggal cangkang telur raksasa
Isinya terbang melanglang buana
Papua gigit jari tak berdaya

Reguklah cawan ilmu
Agar durjana tak curi hasil bumimu
Membeli murah tenagamu
Cekik lehermu dengan utang baru
Kepala kita: otak isinya
Bukan pundi-pundi imitasi belaka
Asahlah bak mutiara
Agar izzah mulia termahkota

Semestinya putri Indonesia
Dekap sempatmu: usah ditunda
Jejakkan sejarah: ukir nama bangsa
Pahatkan pada decak kagum dunia
Akan indah alamnya
Meluah hasil bumi terkelola
Bunuh narkoba, hidupkan adat budaya
Prestasi generasi menggunung nyata
Menggemakan cinta
Pada negeri tercinta
Semoga tak sia-sia
Kau terpilih mewakili bangsa

#Demak, 20042015

Bab 3 DBT

#Bab_3_DBT
Buku untuk Laisa
Oleh : Titien SDF

"Ting tong ... ting tong ... assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum salam!" teriak Mbok Nah sambil berlari. Siapa sih yang bertamu pada jam sibuk begini, pikirnya. Tuan dan Nyonya Sampurno baru akan pulang lima hari lagi. Den Angga dan Non Lena juga sekolah. Mudah-mudahan pengantar kue pesanannya," pikirnya lagi.

"Eh, Non Renata," serunya kaget sesaat setelah membuka pintu.

"Boleh main kan Mbok? Aku ndak punya temen di rumah," pinta gadis itu penuh harap. Ada beberapa buku dalam dekapannya.

"Buku-buku itu buat apa Non?" tanya Mbok Nah penasaran.

"Ini buku-buku cerita Mbok. Barangkali Laisa mau baca. Main mainan yang itu-itu bosen loh ...," jawab Renata.

"Tapi Non Laisa kan belum bisa baca Non ...," potong Mbok Nah.

"Ntar Renata bacain," jawabnya.

"Na ... Le ... na ... ta ..., Na ...?" seru Laisa. Gadis itu tertatih menghampiri mereka. Wajahnya berbinar-binar melihat Renata. Mbok Nah terpaksa mengijinkan Renata masuk. Tak tega rasanya menghapus binar ceria di wajah Laisa. Tak apa Nah, mumpung tak ada siapa-siapa, biarkan Non Laisa punya teman," pikirnya.

Renata meletakkan buku-bukunya di atas karpet. Berdua dengan Laisa, dinikmatinya pisang goreng buatan Mbok Nah yang sekejap sudah tenggelam dalam kesibukannya di dapur.

"Laisa tidak sekolah?" tanya Renata memecah sunyi.

"Se ... ko ... lah ... apa ...?" tanya Laisa tak mengerti.

"Be-la-jar ..., mem-ba-ca ..., me-nu-lis ...," jawab Renata berusaha memberi pengertian. Laisa hanya menggeleng.

Renata mengambil salah satu buku dan membukanya. Diperlihatkannya apa yang tertulis di sana pada Laisa. Laisa melihat gambar-gambar yang ada di sana dengan gembira.

"Ni ... apa ...Ta?" tanyanya sibuk menunjuk-nunjuk gambar yang ada di buku. Sesekali Mbok Nah menghampiri mereka, memastikan Laisa baik-baik saja.

"Ini buku cerita Laisa, aku bacakan ya ...," jawab Renata. Cerita demi cerita dibacakannya, ada dongeng cinderella, ada kisah sepasang sahabat dan yang lainnya. Laisa terlihat asyik mendengarnya sambil ikut membolak-balik halamannya.

"Laisa pengen bisa baca?" tanya Mbok Nah melihat Laisa asyik membolak-balik buku. Laisa mengangguk senang.

"La ... isa ... bisa ... ba ... ca ...?" tanyanya sambil menunjuk dadanya sendiri. Sungguh ini sebuah permainan menarik baginya. Permainan yang belum pernah ia mainkan.

"Tentu, kalau Laisa mau belajar," jawab Mbok Nah.

"Renata ingat, mama masih menyimpan buku pelajaran membaca di rumah. Kata mama, buku-buku itu tak boleh dibuang walau sudah tak dipergunakan. Suatu saat nanti pasti ada yang butuh ...," kata Renata tiba-tiba.

"Boleh pinjam Non? Punya Den Angga dan Non Lena sudah diloakkan," kata Mbok Nah.

"Den Angga dan Non Lena siapa ya Mbok?" tanya Renata.

"Anak-anak Tuan Sampurno Non. Mereka sedang sekolah," jawab Mbok Nah.

"Oh ... pantas, aku belum pernah ketemu. Mereka kakaknya Laisa ya?" tanya Renata ingin tahu.

"Boleh pinjem bukunya kan Non?" tanya Mbok Nah lagi. Renata mengangguk. Laisa masih asyik membolak-balik buku-buku yang dibawa Renata.

"Non, tolong dengar kata-kata Mbok Nah ya. Ini rahasia," bisik Mbok Nah di telinga Renata.

"Rahasia apa sih Mbok?" tanya Renata serius.

"Tuan Sampurno dan anak-anaknya tidak suka kalau ada yang mendekati Non Laisa. Jadi, kalau Non mau main kemari, mainnya tiap jam-jam segini. Saat mereka sedang tidak di rumah," bisik Mbok Nah lagi. Apa boleh buat, rahasia harus menjadi rahasia, pikirnya.

"Memangnya kenapa Mbok?" tanya Renata lagi.

"Karena Non Laisa tak seperti gadis lainnya. Tolong Non, ingat, ini rahasia kita," kata Mbok Nah. Renata mengangguk, dadanya membuncah, dia merasa jadi orang penting.

Hari-hari berikutnya Renata rajin berkunjung menemani Laisa. Dibawanya buku-buku lamanya untuk mengajari Laisa membaca.

"A-pel...," tunjuk Laisa pada huruf-huruf di bawah gambar apel.

"Bo-la ...," tunjuknya lagi pada huruf di bawah gambar bola.

"Bu-a-ya ...," serunya saat melihat gambar  cecak, mungkin dia teringat boneka buayanya.

"Bukan Laisa, itu ce-cak, bukan buaya," jelas Renata.

"Do-nat ...," baca Laisa lagi. Mbok Nah tersenyum. Buku itu penuh berisi gambar benda yang mudah dikenali Laisa. Jadi tak terlalu sulit untuk menghafalnya. Dan Renata begitu sabar menemani Laisa. Sungguh berbeda dengan Den Angga dan Non Lena.

"Non Renata sudah seperti bu guru," puji Mbok Nah mengacungkan dua jempolnya.

"Aku memang ingin jadi guru Mbok. Mamaku guru Sekolah Luar Biasa. Aku pernah diajak melihat ke sana. Banyak loh anak-anak yang kayak Laisa di sana," jawab Renata.

"Oh ... pantas, Non Renata biasa saja melihat Non Laisa," gumamnya.

"Ta ... Ta ..., bu-ku ... i-ni ... bu-at ... Sa ... ya ...," kata Laisa mendekap buku-buku Renata di dadanya.

"Boleh, besok Ta bawa yang lebih banyak," jawab Renata menganggukkan kepala. Dalam benaknya tersimpan satu rencana. Dia ingin mengajar Laisa sampai bisa membaca. Dan memberi kejutan pada mama bahwa dia bisa menjadi guru sebaik mama. Tekadnya sudah bulat kini.

"Besok Ta bawa yang lebih banyak. Semua untuk Sa, tapi ... Sa harus mau belajar membaca sama Ta ... ya ...," kata Renata pada Laisa. Mereka pun kembali asyik belajar.

"Duh Gusti, mudahkanlah Non Laisa belajar. Tunjukkanlah pada keluarganya bahwa mereka salah menilai Non Laisa ... aamiin," pinta Mbok Nah dalam doanya.

#Demak, 31032015

Pentingnya ketahanan keluarga

"Pentingnya Ketahanan Keluarga dalam Mewujudkan Ketahanan Nasional"

Ketahanan nasional adalah kondisi dinamik suatu bangsa yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi dalam keuletan dan ketangguhan untuk mengembangkan kekuatannya dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan , baik yang datang dari dalam maupun luar untuk menjamin identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan Negara, serta perjuangan mencapai tujuan nasional.

Ketahanan nasional suatu bangsa, sedikit banyak dipengaruhi oleh kondisi rakyatnya, baik secara ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Suatu bangsa dikatakan kokoh apabila kondisi rakyatnya sejahtera, melek politik dan bersemangat untuk memajukan bangsa, beradab dan berbudaya, menghargai hak-hak sesama dan jauh dari perilaku yang nista.

Suatu bangsa bermula dari sebuah keluarga. Yang menyatukan berjuta-juta keluarga, saling bergandeng tangan dalam satu tujuan yang sama. Mengukir sejarah, berharap jejak yang terhormat dan mulia. Oleh karenanya, membangun ketahanannya harus dimulai dari keluarga.

Bagaimana dengan bangsa kita tercinta, Indonesia?

Konsepsi ketahanan nasional Indonesia adalah konsepsi pengembangan kekuatan nasional melalui pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang seimbang, serasi dan selaras dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh dan menyeluruh serta terpadu berlandaskan Pancasila, UUD 1945 dan wawasan nusantara.

Adapun asas-asas ketahanan nasional adalah :

1)    Asas kesejahteraan dan keamanan. Realisasi kondisi kesejahteraan dan keamanan dapat dicapai dengan menitik beratkan kepada kesejahteraan, tanpa mengabaikan keamanan. Sebaliknya, memberikan prioritas pada keamanan tidak boleh mengabaikan kesejahteraan. Baik kesejahteraan maupun keamanan harus selalu berdampingan pada kondisi apa pun. Dalam kehidupan nasional, tingkat kesejahteraan dan keamanan nasiona yang dcapai merupakana tolak ukur ketahanan nasional.

2)    Asas Komprehensif integral : Sistem kehidupan nasional mencakup segenap aspek kehidupan bangsa secara utuh, menyeluruh, terpadu dalam perwujudan persatuan dan perpaduan yang seimbang, serasi dan selaras dalam seluruh aspek kehidupan.

3)    Asas mawas diri ke dalam dan keluar. Mawas ke dalam bertujuan menumbuhkan hakikat, sifat dan kondisi kehidupan nasional itu sendiri berdasarkan nilai-nilai kemandirian yang proporsional untuk meningkatkan kualitas derajat kemandirian bangsa yang ulet dan tangguh. Hal ini tidak berarti bahwa ketahanan nasiona mengandung sikap isosiasi atau nasionalisme sempit. Mawas Diri ke luar bertujuan untuk dapat berpartisipasi dan ikut berperan mengatasi dampak lingkungan strategis luar negeri serta menerima kenyataan adanya saling interaksi dan ketergantungan dalam dunia internasional.

4)    Asas kekeluargaan; mengandung keadilan, kearifan, kebersamaan, kesamaan, gotong royong , tenggang rasa, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sudah kokohkah ketahanan nasional bangsa kita?

Ibarat tubuh manusia, dikatakan kokoh bila dia bisa berdiri tegak di atas dua kakinya. Tulang punggungnya kuat sehingga bisa menopang seluruh tubuhnya. Begitu pun dengan suatu bangsa, bisa dikatakan kokoh bila bisa berdiri di atas dua kaki sendiri. Ini bisa dilihat pada profil pemudanya sebagai tulang punggung negara.

Bagaimana profil pemuda kita, Indonesia? Bagaimana kondisi anak-anak kita? Bagaimana realitas calon pewaris negeri ini?

Seperti kita ketahui, anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga broken home/ bermasalah, cenderung mengalami dampak negatif, yaitu:
- gangguan psikologis, di antaranya adalah, anak-anak yang cenderung introvert/menutup diri, berjiwa labil, temperamental/mudah terbawa emosi atau bahkan cenderung apatis dan tidak peduli dengan sekelilingnya.
- masalah akademik dan turunnya prestasi karena turunnya semangat belajar/ malas.
-perilaku menyimpang, di antaranya adalah hilangnya konsep diri, berusaha eksis dengan melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji seperti bullying, merokok, minum miras, menggunakan narkoba, berjudi, mencuri, free sex (pergaulan bebas) dan perilaku seks yang menyimpang.

Hampir tiap hari juga terjadi kasus terhadap anak berupa eksploitasi ekonomi, kejahatan seksual, kekerasan fisik dan mental, penculikan, perdagangan, kasus pedophilia, penelantaran, penganiayaan, bahkan anak sebagai korban pembunuhan.

Dari kementrian agama, diperoleh data:
* 20 tahun yang lalu, angka perceraian di Indonesia mencapai 7,5%
* 15 tahun yang lalu, angka perceraian meningkat menjadi 12,5%
* 5 tahun yang lalu, angka perceraian meningkat tajam menjadi 22%

* tahun demi tahun selalu meningkat

Ini adalah potret kegagalan sebuah keluarga dalam membangun eksistensi dan ketahanan dirinya. Dan, kegagalan sebuah keluarga yang diikuti oleh kegagalan keluarga-keluarga lainnya, bisa menjadi bom waktu yang mengancam ketahanan nasional negara kita.

Bayangkan, bila lebih dari 25% keluarga di negara ini merupakan keluarga gagal/bermasalah. Berapa banyak anak-anak yang terkena dampak negatifnya. Sudah barang tentu, ini merupakan ancaman yang serius bagi masa depan bangsa ini. Karena anak-anak kita, pemuda-pemuda kita, adalah tulang punggung negara. Di pundak merekalah nasib/ masa depan bangsa ini diletakkan. Kalau saat ini saja ketahanan nasional bangsa kita belum kokoh, apa jadinya masa depan bangsa kita di tangan pemuda-pemuda yang bermasalah.

Inilah yang harus kita pikirkan untuk masa depan generasi pewaris negeri ini. Apa yang bisa kita lakukan? Membuat program penguatan ketahanan keluarga adalah pilihan yang bijak.

Ketahanan keluarga yang dimaksud adalah kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik materiil dan psikis mental-spiritual guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir maupun kebahagiaan batin.

Disinyalir ada beberapa faktor yang menjadi pemicu utama berkembangnya masalah anak dan keluarga. Beberapa diantaranya yaitu pembangunan yang tidak merata antara pedesaan dan perkotaan, disharmoni keluarga dan pola pengasuhan yang salah serta pola dan gaya hidup. Bahkan tidak sedikit orang tua yang justru secara sengaja mendidik anaknya menjadi anak yang tidak baik, seperti anak jalanan, anak jambret/copet, dll. Untuk itu salah satu pola pembinaan yang harus diupayakan pemerintah adalah dengan terus berupaya melakukan bimbingan untuk mengokohkan ketahanan keluarga terhadap para keluarga pelaku anak-anak yang bermasalah serta kepada keluarga yang berpotensi mengikuti jejak ke arah itu. Dalam hal ini, setiap elemen masyarakat bisa dilibatkan. Karena ketahanan keluarga dibutuhkan oleh setiap lapisan masyarakat.

Ketahanan keluarga juga merupakan konsep dalam menjaga kehidupan rumah tangga Islami dari virus-virus kejahiliahan dan westernisasi. Dimana virus-virus ini dapat mengancam eksistensi nilai-nilai Islam dalam tatanan kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Kehidupan global yang begitu dahsyatnya dapat memberikan dampak negatif dalam kehidupan manusia, walau di sisi lainnya juga meberikan dampak positif. Oleh karena itu, terwujudnya ketahanan keluarga menjadi sesuatu yang amat penting agar kehidupan berkeluarga bisa berlangsung sebagaimana yang diharapkan. Baik harapan yang berusaha membangun kehidupan keluarga sejahtera dan menjadikannya samara (sakinah, mawaddah, wa rohmah) maupun harapan masyarakat yang ada di sekitarnya.

Secara operasional, keluarga sejahtera berkarakteristik keluarga yang dapat melaksanakan 8 fungsi keluarga, yakni :

(1) Fungsi Keagamaan.
Sebuah keluarga mestinya menjadi tempat di mana setiap penghuninya bisa beribadah secara benar dan nyaman. Orang tua memberikan pendidikan sesuai yang diajarkan risalah agama. Atau mengundang ulama/ahli agama untuk menambah pengetahuan agama.

Kesholehan seorang muslim tidak hanya bersifat pribadi. Dengan makna bahwa ia menjadi baik tidak hanya untuk dirinya sendiri dan kepentingan keluarganya saja tapi kesholehannya juga harus ditunjukkan dalam bentuk kesholehan sosial. Hal ini karena dalam Islam ada dua hubungan yang harus dijalani dan berjalan seimbang. Yaitu hubungan vertikal kepada Allah SWT yang disebut dengan “hablum minallah”, dan hubungan horizontal kepada sesama manusia dan alam sekitarnya yang disebut dengan “hablum minannas”.

(2) Fungsi Sosial Budaya
Sebuah keluarga mestinya menjadi tempat yang mengajarkan nilai-nilai sosial dan budaya. Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan, dan masing-masing daerah tempat tinggal kita memiliki adat dan budaya. Namun, tidak kemudian kita harus mengikuti adat dan budaya yang masuk ke ranah kita begitu saja. Namun harus memilih dan memilahnya agar tak menyelisihi syari'at agama.

Kehidupan masyarakat kita, baik dalam skala kecil maupun besar menghadapi begitu banyak persoalan yang menuntut pemecahan dan jalan keluar. Karena itu peran sosial keluarga di tengah masyarakat sangat diperlukan, sehingga keberadaannya dan kemanfaatannya bisa dirasakan oleh masyarakat banyak. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling besar kemanfaatannya bagi umat manusia.

(3) Fungsi Cinta Kasih
Sebuah keluarga mestinya menjadi tempat yang memberikan cinta dan kasih sayang pada setiap penghuninya. Menjadi surga dunia bagi setiap penghuninya, yang menjadikan mereka merasa nyaman dan ingin selalu pulang. Yang menjadikan mereka leluasa untuk saling curhat, berbagi dan saling menguatkan. Yang menjadikan semua masalah lebih cepat diketahui dan lebih cepat diselesaikan.

(4) Fungsi Melindungi
Sebuah keluarga hendaknya saling memenuhi hak dan kewajiban setiap penghuninya. Orang tua wajib memenuhi hak-hak anak (hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan kasih sayang, hak untuk menyatakan pendapat, hak untuk mendapatkan perlindungan, dll). Orang tua pun punya hak untuk didengar dan dipatuhi.

(5) Fungsi Reproduksi
Sebuah keluarga adalah sebuah tempat yang dihalalkan oleh agama untuk pemenuhan kebutuhan seksual. Di mana salah satu tujuan berkeluarga itu adalah untuk memperbanyak keturunan. Namun demikian, sebuah keluarga mestinya juga memberikan pengetahuan yang benar tentang fungsi seksual sesuai ajaran agama dan kesehatan. Semua ini diperlukan untuk melindungi anak-anak yang dilahirkan agar tak jatuh dalam pemahaman konsep seksual yang salah. Tidak melakukan kegiatan seksual yang menyimpang dan agar kesehatan alat reproduksinya terjaga dan terpelihara baik. Lebih-lebih pada anak perempuan, padanya nanti tertanggung tugas untuk melahirkan generasi. Dewasa ini >45% perempuan Indonesia berresiko terkena kanker serviks, dan itu setara dengan 52 juta jiwa. Celakanya, penyakit kanker serviks merupakan penyebab kematian no 1 bagi perempuan yang seringkali terlambat penanganannya. Karena baru disadari keberadaannya pada stadium II, III atau bahkan lebih parah lagi. Dari data 2009, didapatkan angka 3-4 kematian perempuan karena kanker serviks setiap jamnya.

(6) Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan
Sebuah keluarga mestinya menjadi tempat yang mengajarkan kepada anak-anak, bagaimana cara bersosialisasi/bermasyarakat yang baik, yang sesuai ajaran agama. Bagaimana cara kita menghormati orang lain yang berbeda agama dan berbeda keyakinan. Bagaimana cara kita menunjukkan kepedulian dengan hal-hal yang terjadi di masyarakat. Sebuah keluarga juga seharusnya menjadi tempat berbagi pengetahuan. Orang tua memilihkan sekolah yang baik untuk anak-anaknya. Menyediakan buku-buku pengetahuan yang diperlukan, baik yang berkaitan dengan pengetahuan agama maupun yang memuat pengetahuan ilmu terapan seperti ilmu hitung, ilmu alam, ilmu sejarah dan masih banyak lagi. Dan ada kalanya memanggil guru/pendidik ke rumah untuk mengajarkan suatu pengetahuan yang diperlukan anak, atau kemudian orang tua ikut belajar bersama.

(7) Fungsi ekonomi
Manusia tidak bisa lepas dari kebutuhan ekonomi, untuk pemenuhan kebutuhannya kepada pangan, sandang, papan dan kebutuhan terhadap sarana-sarana lainnya. Oleh karena itu, ayah berkewajiban mencari nafkah yang halal untuk memenuhinya. Ibu bertugas mengelola keuangan rumah tangga, namun bisa ikut berpartisipasi dalam mencarinya (nafkah)  dengan tidak mengabaikan tugasnya dalam rumah tangga dan sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya. Anak-anak diajarkan kejujuran, bersedekah dan membelanjakan sesuai kebutuhan. Semua ini diperlukan agar mereka nanti mendewasa dengan nilai-nilai kejujuran, amanah, tidak korupsi dan tidak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain dan negara.

(8) Fungsi Pembinaan Lingkungan.
Sebuah keluarga mestinya menjadi tempat untuk melakukan pembinaan lingkungan. Membiasakan anak-anak untuk peduli dan melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Juga memberi contoh dalam pemeliharaan kebersihan lingkungan dan fasilitas-fasilitas umum di sekitarnya.

Ketahanan keluarga hanya dapat tercipta apabila keluarga yang bersangkutan dapat melaksanakan 8 fungsi keluarga secara serasi, selaras dan seimbang. Sebuah keluarga tidak akan pernah mencapai tahapan sejahtera apabila fungsi-fungsi keluarga tersebut berjalan secara timpang atau beberapa fungsi tidak dapat dilaksanakan meskipun fungsi lainnya mampu berjalan secara mantap.
Di tengah pola kehidupan masyarakat yang cenderung hedonis dan permisif ini, menjadi suatu kewajiban bagi keluarga muslim untuk membangun ketahanan dalam keluarganya. Kehidupan masyarakat sekarang dengan tantangan yang sedemikian berat menuntut kehadiran keluarga yang memiliki ketahanan yang kokoh sehingga diharapkan akan lahir masyarakat dengan ketahanan pribadi yang baik.

Dengan melaksanakan hal tersebut, berarti keluarga telah memberikan kontribusi besar terhadap masyarakat dan bangsa, karena keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat dan bangsa itu sendiri.

Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang kokoh (ketahanan keluarganya kuat) akan tumbuh mendewasa menjadi pribadi-pribadi yang beriman, bertaqwa, jujur, peduli, mandiri dan bertanggung jawab. Sehingga, kelak mereka bisa memimpin negeri ini dengan amanah, penuh pertimbangan dalam mengambil kebijakan, tidak mementingkan kepentingan pribadi dan golongan tertentu, berusaha adil dan mendahulukan kemaslahatan umat, bangsa dan negara. Di tangan orang-orang yang demikianlah, pemerintahan dapat sampai pada ketahanan nasional yang kokoh dan berdaulat, mandiri secara ekonomi dan tidak bergantung pada bangsa lain. Juga berbudaya dan mengukir sejarah yang harum dan mulia.

Oleh karena itu, program penguatan ketahanan keluarga merupakan agenda penting yang harus dilakukan di seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya untuk masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah, tetapi juga untuk kaum elitnya ( golongan ekonomi kelas atas). Begitupun, program ketahanan keluarga ini perlu dimasukkan dalam setiap elemen masyarakat, di instansi-instansi, departemen, bahkan dalam kegiatan  PKK maupun komunitas sosial lainnya.

#Demak, 20 April 2015








Perempuan penambang padas


Segenggam Harap
Oleh : Titien SDF

Parmin baru saja menjalankan truknya keluar dari jembatan Rowosari. Dua orang polisi menghentikannya dan memintanya turun.

"Surat-surat saya lengkap kok Pak," katanya protes.

"Itu, muatanmu ... batu padas dari mana? Kamu angkut dari Brown Canyon ya?" tanya polisi itu galak.

Parmin menelan ludah, berbohong pun takkan dipercaya. Pasti mereka melihatnya keluar dari area Brown Canyon.

"Saya bukan penambang Pak. Saya cuma diminta mengangkut padas-padas ini ke suatu tempat," jawab Parmin membela diri.

"Ayo ikut saya, bawa saya ke pemiliknya!" seru polisi itu galak. Mau tak mau, Parmin memutar truknya kembali ke Brown Canyon.

Siang semakin memanas. Sudah sejak 1997 bukit setinggi 500 meter itu menjadi tempat penambangan padas dan pasir. Letaknya  berada di dusun Dongko, Kelurahan Kebonbatur, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, berbatasan dengan desa Rowosari, Kelurahan Tembalang, Kecamatan Semarang Timur, Kodya Semarang. Sebutan Brown Canyon sendiri baru populer setelah 2013, saat tersisa empat bukit yang terlihat artistik dan mengingatkan kita tentang keindahan Grand Canyon di Colorado.

Truk sudah mulai masuk area Brown Canyon, Parmin membelokkan truknya ke arah salah satu bukit yang terlihat seperti benteng alam dengan banyak gua di bawahnya. Dihentikannya truk di depan salah satu gua. Seseorang terlihat keluar dari dalam gua dengan gerobak kecil berisi bongkahan padas. Dia memakai penutup muka, kaos lengan panjang, dan celana panjang yang dimasukkan dalam sepatu boot hitam.

"Kok kembali lagi Min?" tanyanya. Rupanya dia belum menyadari adanya dua polisi yang mengikuti Parmin.

"Maaf Yu, aku ndak bisa," jawabnya lirih, "ndak boleh."

Orang itu membuka kaos yang diikatkan menutup kepala dan sebagian mukanya. Seorang perempuan, usianya mungkin belum empat puluh tahun, kulitnya menghitam oleh panas matahari.

"Maaf Bu. Terpaksa kami harus menangkap Ibu," kata polisi yang mengikuti Parmin.

"Kenapa Pak? Bukit ini tak berpenghuni bukan?" jawab Sumi, perempuan itu.

"Apa Ibu tidak tahu? Pak Gubernur sudah melarang penambangan liar. Bahaya Bu ...."

"Tapi kami sudah melakoninya sejak 1997. Nyatanya juga tidak apa-apa," Sumi membela diri.

"Justru itu Bu, Ibu lihat!  bukit padas itu hampir habis. Takkan ada lagi resapan air yang memadai menampung hujan. Bahaya Bu, bisa banjir bandang. Makanya sejak awal 2015 Pak Gubernur melarangnya. Ayo! Ibu ikut saya ke kantor polisi!"

Deg. Sumi tergeragap, bagaimana lagi dia menghidupi keluarganya. Bukit ini sudah bertahun-tahun menghidupi keluarganya. Penghidupan yang dipilihnya saat memutuskan menikah dengan Koh Ah Yun. Saat kemudian mereka harus terkucil dari keluarga yang tak merestui perkawinan mereka yang dianggap menyalahi adat dan aturan. Dia hanya perempuan Jawa yang miskin dan Koh Ah Yun terlahir sebagai anak pengusaha Cina. Cinta memang bisa menjatuhi siapa saja. Dan mereka pun memilih meninggalkan tanah kelahirannya dan menetap di sini.

"Bapak boleh tangkap saya, tapi tolong antarkan saya pulang dulu. Keluarga saya berhak tahu," pintanya memelas.

"Ibu jangan bersiasat. Kalau Ibu melarikan diri, kami tak segan menggunakan kekerasan," balas polisi itu.

"Tidak. Saya tak akan lari," jawab Sumi gusar.

Dua polisi itu pun membawa Sumi dan Parmin dalam mobil mereka. Berkali-kali Sumi menoleh ke belakang. Memandangi truk yang penuh berisi padas, juga gerobak, alat-alatnya dan setumpuk padas yang baru saja dikumpulkannya. Jerih payahnya beberapa hari.

Sumi menghela napas, wajah suaminya terbayang di depan mata. Dulu, mereka selalu berangkat bersama memecah batu-batu padas. Dengan canda dan tawa, semua tak terasa melelahkan walau seharian bekerja. Kini, mungkin dia satu-satunya penambang padas yang masih tersisa. Sejak setahun lalu, stroke memakan gerak suaminya. Lumpuh.

Bayang-bayang suaminya berangsur berganti wajah buah hatinya yang seharusnya lulus SD tahun ini. Bocah laki-laki yang mewarisi kulit putih ayahnya, tampan dan periang. Namun tiba-tiba terserang lumpuh layuh saat permulaan masuk kelas empat SD. Dia sudah membawanya berobat ke mana-mana. Namun tak juga ada hasilnya. Mungkinkah ini karma? keluh hatinya.

"Maaf ya Yu, jadi menambah masalahmu," kata Parmin, lirih.

Sumi menghapus air matanya, "bukan salahmu, Min. Mungkin ini sudah takdirku."

"Stop di sini, Pak polisi. Itu rumah saya." Sumi menunjuk sebuah rumah papan di ujung desa. Perempuan itu bergegas turun dari mobil dan berlari menuju rumah yang terbuka pintunya. Ditariknya tangan dua polisi agar mengikutinya.

"Kemari, Pak. Ada yang ingin kutunjukkan pada kalian," katanya tergesa.

Hanya ada satu ranjang di rumah itu. Dua buah bangku dan sebuah meja di salah satu sudutnya. Di sudut yang lain terlihat perapian tanpa nyala api. Wajan, panci dan dandang tergantung di dinding. Tak ada makanan, hanya sepiring singkong rebus dan secerek air putih.

"Lihat itu, Pak polisi!" Sumi menunjuk ke arah ranjang yang hanya satu-satunya. Di sana tergolek dua nyawa tak berdaya. Koh Ah Yun, suaminya dan Ami, buah hatinya. Mata mereka berdua terlihat bingung menatap Sumi dan dua polisi itu.

"Tangkap kami semua, Pak. Karena tak ada lagi yang merawat mereka bila aku ditangkap," katanya getir, "kami tak punya keluarga. Untuk alasan itulah saya melakukan pekerjaan yang menyalahi fitrah saya sebagai perempuan. Saya tak mungkin jadi TKI meninggalkan mereka. Saya juga tak punya keahlian apa-apa."

"Tapi Bu, kami hanya menjalankan tugas. Kami harus tetap membawa Ibu ke kantor polisi."

Koh Ah Yun mendengar semua pembicaraan mereka. Hatinya terasa perih, dia telah merasa gagal sebagai seorang lelaki. Harusnya, dia yang mencari nafkah untuk istri dan anaknya. Harusnya, dia yang melindungi Sumi dan Ami, bukan sebaliknya. Lelaki itu berkomat-kamit seakan ingin mengucapkan sesuatu, "ja ... ngan ... ba ... wa ... is ... tri ... ku ...."

Sumi menghampiri mereka berdua, mendekap erat-erat dalam pelukannya. Tak ingin ada yang memisahkannya dari mereka. "Kita datang ke sini bersama-sama, pergi pun akan tetap bersama. Kalau perlu mati pun aku akan bersama kalian. Kalian adalah segenggam harap yang kupunya," bisiknya berurai air mata. 

#Demak, 18042015

Biodata:
Titien Sumartini Dwifatmasari,, ibu delapan anak ini menulis untuk berbagi cerita, hikmah dan kebaikan. Dan bersama-sama penulis yang lain telah menelorkan beberapa buku antologi cerpen dan puisi. Beberapa karyanya juga menghiasi media Islampos. Penulis dapat dihubungi via facebook dengan akun yang sama. Juga bisa dihubungi via email di alamat titienfatmasari@gmail.com atau via hape di no 087733846543

Haruskah bertahan


"Haruskah Bertahan?"

Ruangan itu tak begitu luas. Dua lemari besar dan ranjang ukuran no 1 sudah menghabiskan lebih dari separuh ruangan. Seorang perempuan tengah baya masih terpekur di atas sajadah. Dalam balutan mukena, sesekali diusapnya pipinya yang membasah.

"Ibuk ... bapak mana Buuuk ...."

Ngatmi, perempuan itu menoleh. Rupanya bungsunya mengigau mencari bapaknya. Gadis kecil 8 tahun itu memang sedari lahir hampir tak terpisahkan dengan bapaknya. Diusapnya lembut wajah bungsunya, mendekap dan menenangkannya hingga tertidur kembali.

Ngatmi beranjak bangun, dadanya terasa sesak, mungkin segelas air bisa menenangkan sedikit gundahnya.

"Belum tidur Mi?" tanya ibunya saat berpapasan di dapur. Ngatmi menggeleng lemah.

"Ibu sendiri?" tanyanya, "ndak bisa tidur?"

Perempuan tua itu hanya mengusap bahu Ngatmi lembut. Helaan napasnya terdengar panjang, "Ibu bisa mengerti perasaanmu. Ibu tahu ...."

Ngatmi terdiam, diteguknya sisa air dalam gelasnya. Dipandanginya punggung ibunya sampai tak terlihat lagi olehnya. Dilangkahkannya kaki menuju kamar si sulung. Ditengoknya anak lelakinya yang beranjak dewasa. Dia sudah kelas tiga SMA. Terngiang lagi olehnya percakapan mereka dua hari lalu.

"Buk, harusnya Ibuk bisa tegas sama Bapak. Masak Ibuk kerja kayak gini Bapak ndak bantuin malah ngabisin uangnya. Main gila sama abg-abg," begitu kata sulungnya waktu itu.

"Ndak bisa begitu, Le. Bapakmu pemimpin keluarga, bisa kualat nanti. Doakan saja, bapakmu segera sadar."

"Aku malu Buk, punya bapak kayak gitu."

"Huss ... sudah ...," jawabnya yang diikuti dengan dengusan sulungnya.

Ngatmi kembali masuk ke kamarnya. Merebahkan badan di samping bungsunya. Matanya menerawang ke masa awal pernikahannya. Bagaimanapun, ia merasa tersanjung saat Mas Tono berkeras menikahinya walau ayah bundanya tak merestui pernikahan mereka. Bagaimanapun, ia merasa tersanjung saat Mas Tono yang direktur sebuah restoran mahal berkenan memilihnya yang hanya seorang tukang masak, lulusan SMP, dan usianya dua tahun lebih tua. Pun saat Mas Tono memutuskan keluar dari pekerjaannya untuk menjaga perasaannya dan memilih memulai segalanya dari nol bersamanya. Semua benar-benar melambungkan angannya.

"Kamu yang masak di rumah, nanti aku yang menjualkan," begitu kata Mas Tono dulu. Dan dia setuju. Usaha mereka memang kecil, hanya diawali dengan berjualan kue 'ku' (nama makanan yang terbuat dari tepung ketan dan diisi kacang ijo di bagian dalamnya). Mas Tono pun rela mengedarkannya ke kios-kios di pasar. Seiring waktu, yang mereka jual pun bertambah. Tak hanya kue 'ku' namun segala jenis snack yang dia bisa membuatnya.

Tahun berganti, kehadiran sulungnya seperti menurunkan hujan rejeki. Mereka kini tak perlu bersusah payah menawarkan dari kios ke kios, dari toko ke toko. Para pelanggan mau memesan dalam jumlah banyak dan mengambilnya sendiri. Tugas Mas Tono kini hanya belanja bahan-bahan yang mereka butuhkan.

Hidup memanglah ujian. Ramainya usaha mereka ternyata juga menumbuhkan kebiasaan buruk suaminya. Seringkali, uang laba dipakainya untuk membeli video-video musik dan video berisikan film biru. Dia berusaha memahaminya, untuk menyenangkan suaminya. Terlambat disadarinya, kebiasaan suaminya menghabiskan malam dengan film-film itu membuatnya tak bisa bangun awal. Akhirnya, tugas suaminya pun terpaksa dilakukannya sendiri.

"Mi, aku mau kerja. Malu kalau cuma duduk-duduk di rumah saja," kata Mas Tono suatu hari.

Ada rasa haru yang menjalari dada Ngatmi saat mendengarnya. Maka direlakannya sebagian modalnya untuk modal suaminya berjualan hape beserta pernak-perniknya. Usaha yang diharapkannya dapat meringankan beban di pundaknya, terlebih dengan kehadiran si Bungsu. Semua dirasa menggenapi rasa bahagianya.

Ujian belum selesai. Mas Tono memang masih selalu menidurkan si bungsu setiap malam, saat dirinya sibuk menyelesaikan pesanan untuk esok hari. Tak jarang kedua adik dan ibunya membantunya begadang menyelesaikan pesanan. Ia cukup menerima walau suaminya tak pernah membantu. Satu yang mengganjal benaknya, ke mana penghasilan Mas Tono? Kenapa ia tak pernah ikut menikmatinya.

"Ibuk! Lihat ini ... Bapak main gila," kata sulungnya tiba-tiba.

"Eh, ngomong apa kamu Le?" jawabnya saat itu. Ia tak suka anaknya menjelek-jelekkan bapaknya. Tapi ia tak bisa berkata apa-apa lagi, saat remaja tanggung itu memperlihatkan sepucuk surat dan hape milik suaminya. Sepucuk surat dari seorang wanita yang ternyata telah menikah siri dengan suaminya. Kepadanyalah penghasilan Mas Tono selama ini dikirimkan. Dan dia tak pernah merasa berbuat salah padanya.

Ah, Ngatmi menggigit bibirnya. Peristiwa tiga tahun lalu tergambar jelas di kepalanya. Dan lelaki yang dulu sangat dikaguminya itu sudah berjanji untuk menyudahi permainannya. Susah payah dibangunnya lagi rasa percaya dan hormat. Demi anak-anaknya.

"Ibuk ... kenapa sih Ibuk masih percaya saja sama Bapak. Ibuk tahu? Bapak buat facebook dengan nama dan status palsu. Bapak berpacaran dengan teman-temanku," kata sulungnya tiga bulan lalu. Ngatmi tak ingin percaya begitu saja. Diselidikinya informasi yang diberikan anak sulungnya. Dan dia harus menerima kenyataan kalau itu benar adanya.

"Mengapa kaulakukan, Mas?" tanyanya mencari jawaban.

"Aku khilaf," katanya membela diri.

"Dengan empat abg sekaligus? Ingat, Mas. Mereka seumuran anakmu. Ngaca ...Mas, ngaca ...."

"Terus kamu mau apa. Kamu sudah semakin tua dan mereka muda. Apa salahnya kalau aku tertarik pada mereka dan mereka tertarik padaku," jawabnya kasar. Dan kemudian, dia menghilang begitu saja. Hingga hari ini.

Untaian peristiwa demi peristiwa terus saja berputar dalam ingatan Ngatmi, memusingkan dan menidurkannya.
###

"Ibuk,  berangkat dulu ya," lirih remaja tanggung itu berbisik di telinga ibunya. Ngatmi tergeragap bangun.

"Sudah pagi to, Le? Adikmu?" tanya Ngatmi ketika melihat bungsunya tak lagi di sampingnya.

"Sudah berangkat, Buk," jawab sulungnya.

"Kalian sudah sarapan?"

"Sudah, adik juga sudah. Nenek bilang, semalam Ibuk ndak tidur. Sekarang Ibuk istirahat saja dulu. Tadi ada telpon dari sekolahan, katanya mau pesan snack sama makan siang buat seminar besok. Sudah takcatat di agenda. Aku berangkat dulu ya Buk."

Ngatmi mengulurkan tangannya, mengusap bahu remaja yang dipaksa menjadi dewasa itu dengan haru. Dipeluknya tubuh kurus itu, membisikkan harapannya, "belajarlah yang rajin, berlakulah yang benar, jangan kecewakan ibu."

Istirahat satu dua jam terasa menyegarkan, Ngatmi membuka kembali daftar pesanan. Ia sedikit lega, tak ada pesanan untuk hari ini. Artinya, ia tak harus terburu-buru menyiapkan pesanan untuk besok.

Kriiing ... kriiing ...kriiing

"Hallo ... assalamu'alaikum ...," jawab Ngatmi.

"Mi, ini aku," kata suara di seberang.

"Mas Tono? Njenengan di mana Mas?" tanya Ngatmi penasaran.

"Di Lampung."

"Untuk apa Mas? Kapan pulang?"

"Memang Mas mau pulang. Tapi sama Isah, istri Mas."

Deg. Serasa sebuah palu godam menghantam jantungnya, Ngatmi tak bisa berkata-kata. Tangannya terasa bergetar.

"Aku mau pulang, tapi sama Isah. Kalau kau tak mau serumah dengannya. Biar kucarikan kontrakan. Kami akan membantumu setiap hari melayani pesanan, tapi kau harus memberinya upah. Dan malamnya kami pulang ke rumah kontrakan kami sendiri. Bagaimana ...?"

Ide gila apalagi ini. Selama ini aku yang kerja, untuk menafkahi keluarga, menyekolahkan anak-anak. Dan dia hanya bersenang-senang tanpa memikirkan keluarga. Sekarang dia meminta hal yang aneh, rutuknya dalam hati.

"Suamimu ? Mi?"

Ngatmi menoleh ke arah suara, menghambur ke pelukan ibunya yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya.

"Haruskah aku bertahan, Bu?" bisiknya berurai air mata.

#Demak, 17042014




Begitulah cintaku 2

Begitulah Cintaku
Oleh : Titien SDF

Seperti siut pada kembara
Terkadang melirih sepoi: tanpa suara
Mengelus lembut bilah rindu dalam dada
Perlahan mendesah badai berpusing menerbangkan segala
Bila keangkuhan menggunung di depan mata

Seumpama ricik air nan mengalir tenang
Menghanyutkan cemburu lepas menyamudra
Terkadang membuih mendebarkan ombak prasangka
Selalu berakhir pada air terjun menggemuruh suara
Lalu lepas berbutir-butir menyatu tirta segara
Rasa: asa berlingkar-lingkar
Menyusul kasih yang mengular
Padamu: untukmu
Begitulah cintaku

#Demak, 16042015

Biodata penulis:
Titien Sumartini Dwifatmasari, menulis adalah caranya untuk berbagi cerita, hikmah dan kebaikan. Karya-karyanya memang baru mewarnai buku-buku antalogi. Saat ini baru meliris buku tunggal karyanya sendiri (doakan cepat selesai ya). Penulis dapat dihubungi via facebook dengan akun yang sama atau via email di alamat titienfatmasari@gmail.com atau via hp di no 087733846543.

Begitulah cintaku

Begitulah Cintaku
Oleh : Titien SDF

Seperti siut mengikuti angin
Terkadang begitu lirih: tak berasa
Menyepoi membuat terlena
Kali lain menggempita suara
Menerbangkan semua yang dilewatinya

Begitulah cintaku
Hampir tanpa suara
Mata berpijar pancarkan segala rasa
Menghangat meluapkan asa
Membadai hancurkan angkuhmu bak rama-rama

Laksana ricik melengkapi air
Terkadang tenang tak beriak
Lalu melaju menaiki ombak
Terhempas dan terjun bebas
Semua beban terlempar lepas

Begitulah sayangku
Menghanyutkan cemburu
Merakit bahtera rindu
Lewati karang terjal berliku
Mendeburkan maaf atas janji yang semu

Walau rimbun mengangkangi bunga
Mawar tak pernah lepaskan durinya
Walau kasih menanti di ujung sana
Menggapai ridho-Nya takkan kulupa
#Demak, 16042015

Wanita hebat itu ibuku

PEREMPUAN HEBAT ITU IBUKU

Beliau lahir 21 April 1948, barangkali itu yang membuatnya terilhami semangat Kartini. Ayahnya memberinya nama Endang Djuwitaningsih. Sebagai putri seorang wedana, beliau bebas menuntut ilmu di sekolah mana saja. Namun sayang, kepergian sang ayah untuk ikut serta dalam pembebasan Irian Barat merupakan perpisahan abadi untuk keluarganya. Sang ibu menginginkan agar beliau menikah saja.

Juwita menolak keinginan ibunya. Usianya baru 16 tahun. Demi menamatkan SMEAnya yang tinggal satu tahun, beliau rela pergi dari rumah. Mendatangi kerabat-kerabat ayahnya agar tak dinikahkan. Beliau juga mengajar SD Pribadi, sebuah SD swasta di kota Semarang waktu itu. Honor yang diterima, digunakannya untuk menamatkan SMEAnya.

Tamat SMEA, diterimanya lamaran seorang lelaki yang berusia 18 tahun di atasnya. Bukan karena jatuh cinta, tapi hanya karena parasnya mirip dengan mendiang ayah tercinta. Harapannya sirna, karena perangainya sungguh jauh berbeda dengan budi halus dan sikap peduli ayahanda. Tahun demi tahun anak-anak lahir dari rahimnya. Celotehan dan tingkah laku mereka adalah pelipur segala duka. Semua beliau tuliskan di buku hariannya.

Bapak hanya seorang montir panggilan, yang beliau bawa pulang terkadang hanya habis buat makan. Sedang usia kami beranjak besar, waktunya mulai belajar segala hal. Ibu mulai mengajar lagi. Kali ini di sebuah TK swasta. Aku dan adikku ikut nebeng mendengarkan pelajarannya. Usia 5 tahun aku dititipkan ke SD, tahun berikutnya sudah naik kelas 2.

Bapak bertemperamen keras, juga ringan tangan. Masa kanak-kanaknya yang habis untuk ikut berperang mungkin yang membuatnya tidak terlalu peduli dengan pendidikan. Baginya, bisa membaca, menulis dan berhitung, itu sudah cukup. Karenanya, saat kami lulus SD, Bapak tak terlalu suka kami melanjutkan sekolah.

Ibulah yang senantiasa mendorong kami agar terus sekolah. Beliau rela nyambi apa saja, yang penting halal. Pagi beliau ngajar di TK, siang ngadep pecel, kolak dan gorengan di depan rumah. Terkadang sorenya menerima panggilan pijat refleksi. Diajaknya salah satu dari kami agar kami tahu pekerjaannya adalah pekerjaan yang halal. Terkadang, dibawanya buku-buku sekolah bekas anak pelanggannya yang diberikan cuma-cuma. Dan kami menerimanya dengan suka cita.

"Perempuan ndak boleh lemah, Nduk. Hidup ini pembelajaran. Selagi kita masih hidup, kita harus terus belajar," begitu nasehatnya saat aku merasa cukup tamat SMA saja. Rasanya tak tega membebaninya terlalu banyak, empat adikku juga butuh sekolah dan Bapak? Beliau berkata ,"aku dulu hanya tamatan SR juga masih bisa kerja. Sekolah tinggi-tinggi  kalau ndak kerja juga buat apa."

"Mengeluh tak menyelesaikan masalah. Justru dari masalah itu, kita belajar tegar menghadapi segala persoalan," pesan Ibu padaku.

"Kamu harus tetep sekolah. Jangan kecewakan Ibu. Anak-anak Ibu harus dapat pendidikan yang lebih baik dari Ibu," katanya lagi.

Pernah kutanyakan satu hal kepadanya, "mengapa Ibu tak minta cerai dari Bapak begitu tahu karakter Bapak yang sebenarnya?"

"Tidak, Nduk. Ibu menghormati Bapak. Bagi Ibu hanya ada satu pernikahan seumur hidup.  Lagipula Ibu berharap seiring waktu Bapak bisa berubah menjadi lebih baik," begitu alasannya.

Begitulah Ibu. Saat kami beranjak dewasa, Ibu juga mulai aktif berorganisasi, di PKK, di LKMD, juga di LSM. Beliau bilang, "umur seharusnya tak menghalangi untuk terus belajar. Kalau tak di sekolah formal, di non formal pun bisa dicari."

Begitu bersemangatnya Ibu, hingga beliau sering diundang untuk mengisi pelatihan dan seminar tentang perempuan dan anak-anak. Padahal beliau hanya berijazah SMEA.  Kegiatannya semakin bertambah saat anak-anaknya menikah dan mempunyai rumah sendiri. Apalagi setelah Bapak berpulang ke rahmatullah.

"Tinggallah bersama kami Bu," pintaku padanya.

"Tidak Nduk. Ibu tidak ingin adik-adikmu meri. Ibu juga tidak ingin membebanimu. Lagipula masih banyak yang harus Ibu kerjakan di sini," jawabnya. Dan aku tak bisa memaksanya.

Beberapa kali Pemilu, beberapa partai memintanya bergabung dan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Beliau menolak dengan alasan, ingin lebih netral memperjuangkan kepentingan perempuan dan anak-anak. Lima tahun belakangan ini beliau bergabung dengan Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak di bawah Yayasan Setara.

Begitulah Ibuku, usia yang hampir 70 tahun tak menyurutkan semangatnya. Beliau sebenar-benar Kartini di mataku, inspirasi dan motivasiku.

Ah Ibu, rindu ini masih milikmu. Terkadang kuingin memutar waktu, mengulang masa kanak-kanak bersamamu.

#Demak, 14042015

Bertobatlah selagi bisa

Tema: Surat terbuka pada terpidana narkotika
Judul: Bertaubatlah Selagi Bisa
Oleh : Titien SDF

Kutuliskan surat ini sebagai ungkapan rasa. Karena kita dipersaudarakan tersebab nasab nabi pertama. Negeri kita pun bertetangga teramat dekat jaraknya. Sudah selayaknya kuperlakukan kau bagai sesama manusia.

Aku memang tak pernah mengenalmu semula. Hanya kabar berita dari berbagai media. Tentangmu yang salah arah dan berbuat tercela. Mengedarkan narkoba mencelakakan generasi bangsa.

Aku sungguh tak habis mengerti. Dirimu bersalah negrimu membela setengah mati. Mengungkit bantuan yang dulu pernah mereka beri. Di sini, terkadang aku merasa sedih sendiri.

Wahai perusak masa depan generasi. Nyawamu bukan sesuatu yang berarti. Berjuta jiwa karenamu menjadi zombi.
Hidup tak berharga mati pun masih membebani.

Tersebab kita sesama umat manusia. Selarik nasehat kuuntai agar kaubaca. Hukuman mati sudah terjadwal di depan mata. Maka, bertaubatlah segera selagi bisa.

#Demak, 01032015

Tema : Berguru pada kata
Judul : Hidup adalah Pembelajaran
Oleh  : Titien SDF

Hakikat hidup adalah pembelajaran
Isilah dengan sesuatu yang mengesankan
Dunia hanyalah ladang amal dan perbuatan
Usah berhenti walau kautemui sebuah kegagalan
Padanya berujung awal keberhasilan

Ada banyak hal bisa kita amati
Dari setiap kekata yang acapkali ditemui
Akankah ia tertulis atau tersirat di alam ini
Lesapkan dalam akal pikiran dan pahami
Agar bisa mengambil pelajaran dan maknai
Hati kan paham, raga pun mampu menjalani

Pada setiap kekata kita berguru
Entah dia merujuk yang hidup ataupun ungkapan bisu
Menguntai dan mengurainya bukanlah hal yang tabu
Berusahalah menelaah 'tuk mendapatkan suatu ilmu
Edarkanlah pandangmu ke segala arah penjuru
Larilah mengejar sari patinya bila perlu
Agar mendewasa menyempurna kehidupanmu
Jangan terpaku pada segala permainan tidak bermutu
Asah pola pikir, jangan ulangi kesalahan masa lalu
Renungkan masa depan tunjukkan jati dirimu
Ajak semua generasi bersama melangkah maju
Nyalakan semangat, ukir sejarah peradaban baru

#Demak, 01032015

Konde kesayangan


Konde Kesayangan
Oleh : Titien SDF

"Ada maling ... ada maling ... bangun ... bangun ...," kata Mak Siti membangunkan suaminya.

Pak Lurah tergeragap bangun oleh guncangan dan teriakan Mak Siti. Dibetulkannya sarungnya yang melorot, menengok ke seluruh penjuru, " mana ? Mana malingnya?"

"Oalah ... Pak, Pak, kalau belum lari udah kutangkap sendiri. Ndak perlu mbangunke sampeyan," gerutunya. Dengan kesal Mak Siti menghempaskan badannya ke ranjang. Dibiarkannya Pak Lurah mondar-mandir memeriksa setiap pintu dan jendela.

"Wong kemalingan kok liat pintu jendela to Pak," celetuk Mak Siti.

"La ini, pintu sama jendela ndak ada yang rusak, malingnya liwat mana?" gumam Pak Lurah penasaran, "memangnya, yang hilang apa sih?"

"Konde kesayanganku ... huuu ... huuu ...," jawab Mak Siti mewek. Lintasan kenangan simpang siur berjalan di kepalanya. Saat Pak Lurah melamarnya, ibu mertuanya bilang, "Nduk cah ayu, nanti waktu ijab pakai sanggul ini ya, khusus Ibu pesankan sendiri buat kamu."

Mak Siti masih berlinangan air mata mengenang konde kesayangannya. Terngiang di telinganya pujian Pak Lurah di malam pengantin,"kamu terlihat cantik sekali memakai sanggul. Nyi Roro Kidul saja kalah cantik." Dan setelahnya, hampir setiap malam dia memakainya dan baru mencopotnya sebelum tidur.

"Bukankah semalam masih mbokpakai Mak?" tegur suaminya halus.

"Iya, sebelum tidur kutaruh di atas meja dapur, habis minum lupa belum taksimpen ...," jawab Mak Siti bingung.

"Maling ndak mungkin mencuri konde, Mak. Jangan-jangan digondol kucing," sahut Pak Lurah.

"Memangnya kondeku ikan asin?" Sampeyan tuh ...," tukas Mak Siti kesal. Dicarinya lagi ke seluruh pelosok rumah, ke kolong ranjang, di kolong meja kursi, di balik perapian, di balik lemari. Tapi semuanya nihil.

"Ujang! .... Ujang!" teriak Paj Lurah memanggil anak semata wayangnya.

"Ada apa Pak," sahut Ujang sambil membawa telur-telur ayam di atas jerami.

"Kamu lihat konde ibumu?" tanya Pak Lurah.

"Ujang pinjem sebentar Pak," jawab Ujang kalem.

"Buat apa? Memangnya kamu mau pake konde juga?" tanya Mak Siti emosi. Dia mulai berpikir yang bukan-bukan tentang anak lelaki semata wayangnya itu.

"Eh ... oh ... maaf Mak, ini tadi Si Blorok sama Si Blirik berantem, rebutan jerami buat ngerami telur. La karena jeraminya cuma satu, Ujang pinjem kondenya emak dulu buat naruh telurnya Si Blirik. Jadi masing-masing bisa ngerami telurnya sendiri-sendiri," jawab Ujang panjang lebar.

"Apaaa?!" teriak Mak Siti dan Pak Lurah histeris.

#Demak, 13042015

Panggil aku, Tyo


Panggil Aku Tyo
Oleh : Titien SDF

"Kau sudah siap Lis?" tanya mama padaku.

"Apa Lilis punya pilihan Ma?" jawabku lirih.

"Mama hanya ingin memastikan pilihanmu. Karena akan ada banyak hal yang harus berubah daripada sebelumnya."

Kutatap wajah teduh mama, mencari jawab adakah mama lebih suka aku yang akan datang atau yang sebelumnya. Aku menggigit bibir, resah, gelisah.

"Apapun yang terjadi, kau tetap anak Mama, Lis. Sama seperti empat kakakmu."

Mendung tebal menggelayut di ufuk sana. Persis seperti hatiku, gelap. Harusnya aku bahagia, Mama mendukungku penuh untuk keputusan ini. Tapi aku masih saja gamang.

"Tunggu apalagi? Kita berangkat sekarang," kata Papa. Rona mukanya begitu sumringah berseri-seri. Tentu saja, harapannya untuk punya anak lelaki sudah di depan mata. Empat kakakku terlahir sebagai perempuan. Begitu juga aku. Hanya saja, mereka betul-betul feminin, tapi aku merasa sangat tidak feminin. Atau ini akibat nama yang diberikan papa padaku? Sulistyo Darmawan. Sulistyo, karena dia berharap aku terlahir sebagai laki-laki. Sulistyo Darmawan karena nama papa 'Darmawan.' Namun, tetap saja mereka memanggilku 'Lilis' karena aku terlahir sebagai perempuan.

Kuikuti papa masuk ke dalam mobil yang akan membawaku ke RSDK. Mama ikut mendampingi juga. Pikirku menerawang jauh sepanjang perjalanan.

"Perempuan tak berguna. Tak bisa melahirkan anak lelaki."

Begitu kata papa saat mama melahirkanku dulu, menurut cerita mama. Begitu pun saat aku kecil, papa sering mengatakannya bila ada yang tak berkenan di hatinya. Tak jarang papa mengayunkan tangannya, memukul mama dan mama hanya diam.

"Stop Pa, bukan begitu caranya  memperlakukan perempuan," kataku waktu itu, saat melihat papa memukuli mama.

"Dasar perempuan, cerewet," jawab papa makin marah. Kutangkap tangannya yang mulai terayun lagi.

"Papa marah kan, karena Lilis perempuan. Papa ingin Lilis jadi lelaki kan? Ayo, ajari Lilis jadi lelaki. Bukan dengan cara memukuli mama seperti ini," tantangku padanya tiga tahun lalu. Saat itu aku duduk di bangku SMA, saat aku merasa ada yang berbeda padaku dibanding teman-teman karibku lainnya.

"Woi! Jangan memandangiku seperti itu. Pandanganmu menakutkan," tegur Dina, teman sebangkuku. Lekuk tubuhnya yang indah selalu meninggalkan desiran halus di hati. Membuat mataku tak lepas memandanginya. Sungguh berbeda dengan tubuhku sendiri yang cenderung maskulin. Aku pun lebih suka memakai celana dan hem ketimbang memakai gaun.

"Din, gimana rasanya menstruasi?" tanyaku padanya suatu hari.

"Lho, memangnya kamu belum pernah menstruasi to Lis?" jawabnya balik bertanya. Kugelengkan kepala, kalau pernah mengalaminya aku takkan bertanya.

"Gimana ya ... susah jelasinnya. Tanya saja pada kakakmu," jawabnya cuek.

"Aku malu," dengusku, "lagipula mereka semua sudah menikah dan hidup dengan keluarganya di luar kota."

"Periksa saja. Jangan-jangan kau memang bukan perempuan," katanya di saat yang lain.

"Periksa ke mana?" tanyaku bingung. Dibawanya aku menemui dokter Boyke, pamannya. Pemeriksaan demi pemeriksaan harus kulalui. Sungguh suatu proses yang panjang. Beruntung, Dina selalu menemaniku, walau dia hanya menunggu di luar kamar periksa Itu membuat rasa aneh dalam hatiku bertumbuh subur. Apakah ini cinta? Jangan-jangan, aku memang seharusnya terlahir sebagai laki-laki.

"Menurut hasil pemeriksaan yang telah kita lakukan pada anda, organ dalam anda laki-laki. Tidak ada rahim dan indung telur. Tapi ada kelenjar prostat. Hormon androgen anda sama kuatnya dengan hormon esterogen sehingga alat kelamin tidak terbentuk sempurna."

Begitu kata dokter Boyke setelah enam bulan kulalui dengan serangkaian pemeriksaan yang melelahkan. Setelahnya, aku baru berani menceritakannya pada mama dan papa.

"Kalau begitu, tuntaskan saja. Berapapun biayanya," kata papa. Terlihat jelas binar-binar harapan di kedua bola matanya. Harapan untuk punya anak lelaki. Kulirik wajah mama. Perempuan itu hanya diam mempermainkan ujung bajunya.

"Bicaralah Ma? Lilis butuh dukungan dari Mama."

"Seperti yang Papa bilang. Kalau memang hasil pemeriksaan menjelaskanmu sebagai laki-laki, tuntaskan saja."

Hari-hari selanjutnya kulewati dengan serangkaian pengobatan. Dokter bilang, hormon androgenku perlu ditambah agar ciri-ciri fisik sebagai laki-laki semakin tampak. Namun, aku belum berani menunjukkan diri sebagai laki-laki.

Lepas SMA, aku dan Dina diterima pada Universitas yang sama dan jurusan yang sama. Fakultas Hukum sebuah universitas swasta di kota Semarang. Masalahnya, semua berkasku masih mencantumkan jenis kelamin sebagai perempuan. Begitu pun, sanak saudara dan teman-teman mengenalku sebagai perempuan.

"Ayo turun, kita sudah sampai,"  kata papa membuyarkan lamunan.

"Ayo Lis, semua demi masa depanmu," sahut mama menarikku keluar dari dalam mobil.

"Woi! Kenapa suntuk begitu? Ini sudah kautunggu-tunggu bukan?" sambut Dina menyambutku. Rupanya dia lebih dulu sampai.

"Aku ragu-ragu Din," jawabku lirih.

"Eit, tidak boleh begitu. Jangan-jangan kamu mau bertahan dengan status perempuan biar bisa peluk cium sesuka hati. Biar dianggap muhrim, biar bla ... bla ... bla ...," serang Dina memerahkan telinga.

"Bukan begitu, aku hanya takut dibilang cari sensasi, nyleneh, melawan kodrat dan sebagainya," jawabku gusar.

"Ya udah, lakukan saja. Toh semua hasil pemeriksaanmu mengarah ke laki-laki. Gak usah pedulikan omongan-omongan orang. Lagipula, aku sudah gak sabar ingin melihatmu sebagai laki-laki," jawab Dina mencubit pinggangku. Sekilas kulihat rona merah di pipinya. Dan dadaku berdesir, mungkinkah dia merasakan hal yang sama? Yang jelas, ucapannya menguatkan niatku untuk menjalani operasi ini. Operasi ganti kelamin.

"Kalau begitu, jangan panggil Lilis lagi dong. Berasa perempuan," kataku setengah menggoda, "panggil aku Tyo."

"Ya,Tyo boleh juga," celetuk mama dan papa di belakangku.

"Gimana Sulistyo? Sudah siap?"

Kami menoleh ke sumber suara, ternyata dokter Boyke sudah tiba. Dia memberi isyarat padaku untuk mengikutinya.

"Sudah puasa kan?" tanyanya yang kujawab dengan anggukan kepala.

"Tenang, tak akan lama kok," katanya lagi menenangkanku.

Aku melangkah mantap menuju ruang operasi. Bismillah, semoga ini menjadi awal yang baik untuk kehidupan baruku. Aamiin.

#Demak, 10042015

Tafakur

Tafakur
Sesaat rohmu kan berpisah dari jasad
Begitu banyak tanya yang harus kaujawab
Wahai anak Adam,
Engkaukah yang meninggalkan dunia?
Atau dunia yang meninggalkanmu?
Engkaukah yang merengkuh dunia?
Atau dunia yang merengkuhmu?
Di mana tubuhmu yang kuat itu?
Mengapa kini tak berdaya?
Di mana suaramu yang lantang itu?
Mengapa kini terdiam?
Di mana mereka yang mengasihimu?
Mengapa kau tergeletak sendirian?
Pergilah, engkau takkan pernah kembali
Naikilah tandu seperti seorang raja
Karena takkan ada lagi sesudahnya

Wahai anak Adam, berbahagialah
Dengan taubatmu, ketaatanmu dan amal sholihmu
Mereka sebaik-baik teman dalam penantian
Penuh cahaya dan kedamaian

Celakalah engkau
Tanpa taubat, ketaatan dan amal sholih
Berteman gelap dan amal buruk
Mereka seburuk-buruk teman dalam penantian
Itulah bekal yang kausiapkan semasa hidup

Dia memberi yang kubutuhkan

Dia Memberi yang Kubutuhkan

Sering kita berdoa kepada Allah meminta bunga, tapi diberi-Nya kaktus berduri
Kita meminta kupu-kupu, tapi diberi-Nya ulat bulu
Lalu, kita pun masygul, sedih dan kecewa
Namun, tiba-tiba kaktus berduri itu berbunga cantik sekali
Ulat bulu itu berubah jadi kupu-kupu indah berseri
Begitulah, Allah seringkali bekerja secara misterius dalam menyelamatkan kita
Kadang-kadang, yang kita anggap baik tak selamanya baik untuk kita, begitu pun sebaliknya
Allah selalu menjawab doa kita, tidak selalu dengan 'ya'
Tapi selalu dengan memberi yang terbaik yang kita butuhkan
Subhanallah

#kutipan

Musim semi di hokkaido


"Musim Semi di Hokkaido"

Pesawat baru saja tiba di bandara Kushiro. Muthy merapatkan jaketnya sebelum turun. Saat transit di Bandara Haneda tadi dia sudah merasa kedinginan. Konon suhu udara di Hokkaido paling rendah di antara wilayah Jepang lainnya, jadi dia juga melilitkan syal di lehernya. Itu sedikit membantu mengurangi dingin yang dirasakan. Sedikit? Tentu saja, di Indonesia dia terbiasa dengan suhu udara 25° sedang di sini suhu udara bisa di bawah -8° pada musim semi. Sangat dingin.

"Nee chan! Muthy chan!"

Muthy memutar pandangannya mencari-cari asal suara. Seorang gadis bermata sipit berbalut gamis biru dan kerudung putih melambai ke arahnya.

"Itsumi Tetsuya?" serunya memastikan. Tak terlalu sulit mencari sosoknya karena perempuan berjilbab di sana masih sedikit. Gadis itu tersenyum lebar menyambutnya.

"Nee chan, alhamdulillah. Akhirnya sampai juga," serunya gembira. Dibentangkannya tangan menyambut Muthy dalam pelukannya.

"Alhamdulillah. Brrr, fuyu," kata Muthy. Ditatapnya teman penanya tak percaya, "nee, anata wa kirei."

"Nee, tentu saja. Haru, musim semi," jawabnya sambil tertawa, "ayo, kuantar kau ke rumah."

Muthy mengikuti langkah Itsumi. Gadis itu ternyata jalannya cepat sekali. Muthy mempercepat langkahnya,  Tiba-tiba, seseorang menyenggolnya, hampir saja dia terjatuh.

"Ups!" teriaknya.

"Moshiwake arumasenga  watashiwa isoide," kata si penabrak. Muthy mengibas-ngibaskan lengan bajunya, melihat ke arah suara. Seorang gadis berpakaian khas Jepang seperti terburu-buru.

"Yoi. Watashi wa genkidesu," balasnya.

"Nee chan, ada apa?" tanya Itsumi. Rupanya dia kembali saat menyadari Muthy tidak terlihat di belakangnya, "maaf, aku lupa kau baru tiba."

"Tak apa-apa," jawabnya. Mereka pun bergegas menuju bis yang membawa mereka ke arah Porotokotan. Sebuah kampung yang berada di tepi Danau Poroto. Perkampungan Suku Ainu, penduduk asli Hokkaido. Tak sampai satu setengah jam, mereka sudah tiba di sana.

Kedatangan mereka disambut Tuan dan Nyonya Tetsuya dengan ramah. Mereka bukan orang baru bagi Muthy karena Tuan Tetsuya teman lama ayahnya saat bertugas di Kedutaan RI di Jepang. Mereka juga acapkali berkunjung ke rumahnya di Banjarbaru, Kalimantan.

Tak seperti kebanyakan penduduk Jepang yang menganut agama Budha dan Sinto, keluarga Tetsuya beragama Islam. Itulah yang membuatnya nyaman memenuhi undangan mereka untuk menghabiskan liburannya di Hokkaido. Lagipula, cerita tentang keindahan Hokkaido dan keunikan penduduk  aslinya membuatnya makin tertarik.

Itsumi menarik tangan Muthy, mengajaknya duduk di atas zabuton yang ditata sedemikian rupa di atas tatami mengelilingi meja. Di atasnya sudah tertata cangkir-cangkir kecil dan dua buah poci teh. Satu berisi ocha dan satunya berisi kocha.

"Ocha atau kocha?" tanya Itsumi, "teh hijau atau teh hitam? Eh ... teh hijau aja yah?" Muthy mengangguk.

Cekatan, Itsumi membalikkan cangkir-cangkir dan menuangkan teh ke dalamnya. Bau harum teh menyeruak memenuhi ruangan. Wanginya menenangkan.

"Bagaimana kabar orang tuamu?" tanya Tuan Tetsuya lembut.

"Baik, Om?" jawab Muthy. Itsumi terkikik, disikutnya pinggang Muthy. Untung saja Tuan Tetsuya tidak terlihat terganggu dengan ucapannya.

"Eh, aku belum sholat dhuhur ki chan," bisik Muthy pada Itsumi. Gadis itu segera mengajaknya masuk ke dalam kamar.

Kamar Itsumi cukup luas, hanya ada tatami dan sebuah meja kecil di sudut. Itsumi menggelar sajadah di atas tatami lalu menggamit Muthy ke ofuro, sebuah tempat pemandian khas Jepang, "wudhu di sini saja, itu keran air panas jadi kau tak akan kedinginan.

"Aku tak melihat kasur?" celetuk Muthy.

"Orang Jepang tidur pakai futon, bukan kasur," jelas Itsumi menunjuk gulungan futon di atas meja. Muthy melihatnya mirip gulungan bed cover, "kau ingin tidur dulu?"

"Tidak, aku ingin segera berkeliling. Habis ini," jawab Muthy.

Seusai sholat, mereka berjalan-jalan di sekitar Danau Poroto.  Beraneka bunga tumbuh di sekelilingnya. Sungguh indah menawan. Ada sebuah museum di dekatnya bernama Porotokotan. Bentuknya seperti replika kampung Suku Ainu.

"Kau beruntung, hari ini ada pertunjukan di Porotokotan," kata Itsumi. Mereka pun bergegas menuju salah satu rumah yang menjadi tempat pertunjukan.

"Itu seperti Suku Dayak di tanah kami," seru Muthy menunjuk tiga orang gadis yang sedang menari.

"Itu gadis-gadis Ainu yang sedang menari Sarorunchikap rimse atau tarian burung bangau. Pakaian dan assesoris mereka memang seperti Suku Dayak, makanya kubilang padamu kalau kau bakal ketemu saudaramu," jawab Itsumi tertawa.

"Mereka juga pintar memainkan Tonkori lho," imbuhnya.

"Sebentar, apa itu alat musik yang seperti harpa?" tanya Muthy.

"Kau benar. Ke sana yuk," ajak Itsumi, "kukenalkan pada seseorang."

Muthy hanya menurut saja saat Itsumi membawanya pada seorang gadis berpakaian yukata (gaun tradisional Jepang) yang sedang asyik melukis sesuatu di tepi danau.

"Nee chan, Mikasa chan, chotto kite kudesi," seru Itsumi. Gadis itu menoleh dan menghampiri mereka.

"Anata wa ...," seru Muthy tertahan. Gadis itu yang menabraknya tadi di bandara.

"Moichido, watashi wa moshiwake arimasen," katanya membungkuk.

"Watashi wa genkidesu," jawab Muthy.

"Eh, kenapa ini?" tanya Itsumi pada Muthy.

"Aku sudah ketemu dengannya tadi, di bandara," jawab Muthy.

"Aitsu wa Muthy," Itsumi memperkenalkan Muthy.

"Hajime mashite, watashi wa Mikasa, "jawab Mikasa ramah. Mereka bertiga pun terlibat dalam obrolan yang cukup panjang dan menyenangkan. Dengan bantuan Itsumi tentunya, karena kemampuan Bahasa Jepangnya Muthy pas-pasan.

"Itsumi chan, aku lapar," bisik Muthy.

"Saa kaerou. Iratashitachi wa iku," kata Itsumi pada Mikasa, "arigato gozaima."

"Doo itashimashite," jawab Mikasa tersenyum. Dia pun kembali asyik menyelesaikan lukisannya.

Itsumi mengajak Muthy kembali. Di rumah, Nyonya Tetsuya sudah menyiapkan menu yang sangat ramai. Ada sashimi, sushi, ramen, dan masih banyak lagi. Kebanyakan berbahan dasar ikan mentah. Muthy mengambil semangkuk ramen dan menghabiskannya dengan cepat. Hawa dingin membuat perutnya benar-benar terasa lapar.

"Kau tak coba sashimi? Itu protein tinggi loh," seru Itsumi. Muthy menggeleng. Aku tak terbiasa makan ikan mentah, batinnya. Lagipula dua mangkok ramen sudah sukses berpindah dalam perutnya.

###

Tak terasa sepekan sudah berlalu. Muthy menghitung waktu. Mengingat kembali keindahan Taman Shiretoko, Kebun binatang Asahiyama, Taman Nasional Daisetsuzan, mengunjungi Sapporo, melintasi Taman Odori, melihat keindahan Danau Toya dan bunga Shibazakura. Ah, tujuh hari serasa belum cukup.

Wajah cantik Mikasa pun melintas, gadis Ainu itu banyak bercerita tentang kebudayaan asli sukunya. Ingin rasanya melihat dari dekat kehidupan mereka. Tapi, waktu liburan telah habis. Besok ia harus kembali. Ada yang tak bisa dia lupakan tentang ucapannya:
"Sei wo uke sorezore ga jinsei wo ouka (kita diberi kehidupan dan setiap kehidupan kita sendiri). Yappa hibi wa ikan sen kou so tsu natsu (jadi apa yang kaulakukan dengan hari-harimu)."

"Sampaikan salamku pada Mikasa," pesan Muthy pada Itsumi saat mengantarnya ke bandara Haneda. Mereka pun berpelukan erat sebelum berpisah.

Sayonara Hokkaido, sayonara Itsumi, Mikasa. Kalian telah membuka mataku cara menghargai budaya. Ah, musim semi memang selalu menumbuhkan tunas-tunas baru. Hamparan lavender yang terlihat dari jendela pesawat seakan meneriakkan pesan untuk kembali. Suatu saat nanti.

#Demak, 24042015
Kamus kecil:
Nee chan: kakak
Moshiwake arimasenga watashi wa isoide: maaf, saya terburu-buru
Watashi wa genkidesu: saya baik-baik saja
Anata wa kirei: kamu cantik sekali
Nee: tentu saja
Fuyu: musim dingin
Haru: musim semi
Moichido, watashi wa moshiwake arimasen : sekali lagi saya minta maaf
Anata wa : kamu
Watashi wa: aku
Aitsu wa: dia
Hajime mashite: salam.kenal
Saa kaerou: saatnya pulang
Iratashitachi wa iku: kita mohon pamit
Arigato gozaima: terima kasih
Doo itashimashite: terima kasih kembali