SEMUA BERKAT DOA IBU
"Berusahalah, kau masih punya ibu. Doanya adalah sebaik-baik bekalmu.
Kata-kata itu kutulis tebal-tebal di atas secarik kertas dan kusimpan di bawah tumpukan baju di dalam lemari. Kubaca dan kubaca setiap saat, bila kelelahan dan kesulitan serasa menimbun menggelayut tubuh lemah ini. Selalu ada energi yang disusupkannya ke dalam rongga dada, menyalakan dian yang hanya setitik kecil.
"Ais berangkat dulu ya Bu," pamitku, kucium tangannya dengan lembut.
"Hati-hati di jalan. Jangan tergesa-gesa," pesan beliau. Beliau mengikuti dengan tatapan teduh mengiringi laju sepedaku yang menghilang di ujung gang.
Ayah sudah lama meninggal, dan ibu tetap menjanda karena ingin fokus kepada kami, kelima putrinya. Tak banyak yang ditinggalkan Ayah. Ibu terpaksa menjual rumah kami satu-satunya. Ibu mempergunakan setengah haail penjualan rumah kami untuk membeli sebuah gubuk kecil di daerah pinggiran kota Semarang dan menabung sebagian lainnya untuk biaya sekolah kami berlima. Dan aku anak pertama.
"Maaf Nduk, ibu hanya bisa menyekolahkanmu sampai tamat SD, biar adik-adikmu juga bisa menamatkan SD."
Begitu kata ibu sepuluh tahun lalu, saat aku lulus SD, setahun sesudah Ayah meninggal. Aku mengerti dan tidak berani meminta lebih. Bagaimana pun, ibu sudah rela menjadi buruh cuci dan penjual gorengan untuk menghidupi kami berlima. Maka, setelahnya kuputuskan untuk menjadi penjaga kantin di sebuah Madrasah Tsanawiyah yang dekat dengan rumah. Sekalian menitipkan gorengan ibu. Di saat-saat jam pelajaran, terkadang sengaja aku lalu lalang di depan kelas, ikut mencuri dengar pelajaran yang diberikan guru. Kebiasaan ini akhirnya diketahui oleh Pak Suko, salah seorang guru di sekolah ini.
"Kamu ingin sekolah?" tanyanya halus mencairkan rasa takut yang menggumpal dalam dada.
"Kami tak punya biaya Pak," jawabku menunduk lesu.
"Kau boleh pinjam buku-buku pelajaran bekas milik anak saya," jawabnya yang langsung kusambut dengan anggukan kuat.
Keesokan harinya, beliau membawakan buku-buku yang dijanjikannya. Aku membacanya saat kantin sepi, terkadang kutanyakan hal-hal yang susah dipahami pada beliau. Begitulah hari-hari kulalui hingga suatu ketika beliau berkata, "kamu sudah belajar mandiri selama dua tahun. Cobalah ikut ujian persamaan SMP. Bapak yakin kamu bisa."
"Bagaimana caranya Pak?" tanyaku ingin tahu. Terus terang, tawarannya benar-benar menyalakan semangatku untuk sekolah lagi. Dan juga untuk menyemangati adik-adikku.
"Kamu ikut daftar di PKBM saja, nanti akan diberi materi tambahan sebelum ikut ujian persamaan," jawab beliau.
"PKBM? Apa itu Pak?" tanyaku.
"PKBM itu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Di sana, kamu bisa belajar dengan sistim kejar paket. Ada Kejar Paket A untuk yang belum pernah sekolah atau tak lulus SD. Kejar Paket B untuk yang setara SMP dan Kejar Paket C untuk pembelajaran setara SMA. Di sana juga ada pelatihan ketrampilan dan kewirausahaan," jawabnya panjang lebar.
"Tapi, pekerjaan saya bagaimana Pak?" tanyaku bimbang.
"Tak apa, kamu bisa mendaftar dan membawa pulang semua modulnya. Kerjakan semuanya di rumah, kalau ada yang tidak tahu tanyakan saja. Saya akan bantu. Seminggu sekali kamu kumpulkan ke PKBM supaya bisa dinilai. Kemudian tinggal tunggu jadwal ujian saja."
Kusampaikan berita ini kepada ibu sesuai penjelasan Pak Suko.
"Kalau demikian, ajak Riri sekalian. Ibu hanya bisa beri doa untuk kalian," jawab beliau.
Begitulah, aku dan Riri mulai belajar di PKBM. Kami pun lulus ujian persamaan SMP di tahun yang sama. Aku masih 'nyambi' menjaga kantin sekolah, sementara Riri juga belajar menjahit dan ketrampilan lainnya. Bila di rumah, Riri mengajariku semua yang dipelajarinya. Kami pun mulai memberanikan diri mengambil pekerjaan dari usaha konveksi. Pekerjaan kami hanya menyulam dan membuat aplikasi. Hasil yang sedikit kami kumpulkan untuk membeli mesin jahit. Tak puas sampai di sini, aku dan Riri berburu buku-buku ketrampilan bekas di loakan. Isinya kami praktikkan untuk memulai wirausaha kecil-kecilan.
Ibu dan ketiga adikku yang lain tertarik dengan apa yang kami kerjakan. Jadilah usahaku dan Riri menjadi usaha keluarga. Awalnya kami hanya membuat bross-bross dan aksesoris dari kain flanel dan perca yang kami kumpulkan dari beberapa teman yang punya usaha menjahit. Barang-barang itu kami jual di sekolah-sekolah. Akhirnya banyak yang memesan souvenir untuk pernikahan atau acara-acara tertentu. Alhamdulillah.
Aku dan Riri pun mulai menjadwal kegiatan kami. Pekerjaan menjadi penjaga kantin kutinggalkan. Sebaliknya, kami membuka kursus ketrampilan di rumah. Siangnya, ibu berjualan pecel, rujak dan gorengan. Juga es dan kolak. Aku dan Riri melanjutkan belajar di PKBM hingga lulus dan mendapatkan ijazah setara SMA. Satu demi satu adikku yang lain mengikuti jejak kami. Belajar di PKBM dan mendapatkan ijazah yang kami butuhkan.
"Jangan cepat puas dengan apa yang kalian raih. Kalian harus hidup lebih baik daripada ibu. Kalian harus mandiri. Jangan sampai ada yang meremehkan kalian karena kalian perempuan. Ibu selalu berdoa untuk kebaikan kalian. Maka berusahalah, kalian masih punya ibu," nasehat ibu.
Waktu berjalan begitu cepat. Dengan bekal ijazah persamaan aku dan Riri mendaftar kuliah di IAIN. Usaha kami tetap jalan dan terus berkembang. Kami pun mulai menambah dengan aneka rajutan, souvenir maupun tas dan sepatu. Lewat jejaring sosial yang ada, produk-produk hasil karya kami promosikan. Terkadang kami diundang untuk mengisi pelatihan ketrampilan ibu-ibu pkk.
Sepuluh tahun berlalu, aku dan Riri lulus dan diwisuda pada hari yang sama. Ibu tak henti-henti mengucap syukur melihat kelulusan kami berdua.
"Ibu seperti mimpi Ais ... tapi Ibu berharap, dapat memimpikan hal yang sama terjadi pada ketiga adik kalian juga," katanya penuh gembira.
"Alhamdulillah Ibu, semua ini berkat doa Ibu juga. In syaa Allah, adik-adik dapat melaluinya juga, biidznillah, dengan doa Ibu juga," jawabku lirih.
#Demak, 26032015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar