Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 30 April 2015

Musim semi di hokkaido


"Musim Semi di Hokkaido"

Pesawat baru saja tiba di bandara Kushiro. Muthy merapatkan jaketnya sebelum turun. Saat transit di Bandara Haneda tadi dia sudah merasa kedinginan. Konon suhu udara di Hokkaido paling rendah di antara wilayah Jepang lainnya, jadi dia juga melilitkan syal di lehernya. Itu sedikit membantu mengurangi dingin yang dirasakan. Sedikit? Tentu saja, di Indonesia dia terbiasa dengan suhu udara 25° sedang di sini suhu udara bisa di bawah -8° pada musim semi. Sangat dingin.

"Nee chan! Muthy chan!"

Muthy memutar pandangannya mencari-cari asal suara. Seorang gadis bermata sipit berbalut gamis biru dan kerudung putih melambai ke arahnya.

"Itsumi Tetsuya?" serunya memastikan. Tak terlalu sulit mencari sosoknya karena perempuan berjilbab di sana masih sedikit. Gadis itu tersenyum lebar menyambutnya.

"Nee chan, alhamdulillah. Akhirnya sampai juga," serunya gembira. Dibentangkannya tangan menyambut Muthy dalam pelukannya.

"Alhamdulillah. Brrr, fuyu," kata Muthy. Ditatapnya teman penanya tak percaya, "nee, anata wa kirei."

"Nee, tentu saja. Haru, musim semi," jawabnya sambil tertawa, "ayo, kuantar kau ke rumah."

Muthy mengikuti langkah Itsumi. Gadis itu ternyata jalannya cepat sekali. Muthy mempercepat langkahnya,  Tiba-tiba, seseorang menyenggolnya, hampir saja dia terjatuh.

"Ups!" teriaknya.

"Moshiwake arumasenga  watashiwa isoide," kata si penabrak. Muthy mengibas-ngibaskan lengan bajunya, melihat ke arah suara. Seorang gadis berpakaian khas Jepang seperti terburu-buru.

"Yoi. Watashi wa genkidesu," balasnya.

"Nee chan, ada apa?" tanya Itsumi. Rupanya dia kembali saat menyadari Muthy tidak terlihat di belakangnya, "maaf, aku lupa kau baru tiba."

"Tak apa-apa," jawabnya. Mereka pun bergegas menuju bis yang membawa mereka ke arah Porotokotan. Sebuah kampung yang berada di tepi Danau Poroto. Perkampungan Suku Ainu, penduduk asli Hokkaido. Tak sampai satu setengah jam, mereka sudah tiba di sana.

Kedatangan mereka disambut Tuan dan Nyonya Tetsuya dengan ramah. Mereka bukan orang baru bagi Muthy karena Tuan Tetsuya teman lama ayahnya saat bertugas di Kedutaan RI di Jepang. Mereka juga acapkali berkunjung ke rumahnya di Banjarbaru, Kalimantan.

Tak seperti kebanyakan penduduk Jepang yang menganut agama Budha dan Sinto, keluarga Tetsuya beragama Islam. Itulah yang membuatnya nyaman memenuhi undangan mereka untuk menghabiskan liburannya di Hokkaido. Lagipula, cerita tentang keindahan Hokkaido dan keunikan penduduk  aslinya membuatnya makin tertarik.

Itsumi menarik tangan Muthy, mengajaknya duduk di atas zabuton yang ditata sedemikian rupa di atas tatami mengelilingi meja. Di atasnya sudah tertata cangkir-cangkir kecil dan dua buah poci teh. Satu berisi ocha dan satunya berisi kocha.

"Ocha atau kocha?" tanya Itsumi, "teh hijau atau teh hitam? Eh ... teh hijau aja yah?" Muthy mengangguk.

Cekatan, Itsumi membalikkan cangkir-cangkir dan menuangkan teh ke dalamnya. Bau harum teh menyeruak memenuhi ruangan. Wanginya menenangkan.

"Bagaimana kabar orang tuamu?" tanya Tuan Tetsuya lembut.

"Baik, Om?" jawab Muthy. Itsumi terkikik, disikutnya pinggang Muthy. Untung saja Tuan Tetsuya tidak terlihat terganggu dengan ucapannya.

"Eh, aku belum sholat dhuhur ki chan," bisik Muthy pada Itsumi. Gadis itu segera mengajaknya masuk ke dalam kamar.

Kamar Itsumi cukup luas, hanya ada tatami dan sebuah meja kecil di sudut. Itsumi menggelar sajadah di atas tatami lalu menggamit Muthy ke ofuro, sebuah tempat pemandian khas Jepang, "wudhu di sini saja, itu keran air panas jadi kau tak akan kedinginan.

"Aku tak melihat kasur?" celetuk Muthy.

"Orang Jepang tidur pakai futon, bukan kasur," jelas Itsumi menunjuk gulungan futon di atas meja. Muthy melihatnya mirip gulungan bed cover, "kau ingin tidur dulu?"

"Tidak, aku ingin segera berkeliling. Habis ini," jawab Muthy.

Seusai sholat, mereka berjalan-jalan di sekitar Danau Poroto.  Beraneka bunga tumbuh di sekelilingnya. Sungguh indah menawan. Ada sebuah museum di dekatnya bernama Porotokotan. Bentuknya seperti replika kampung Suku Ainu.

"Kau beruntung, hari ini ada pertunjukan di Porotokotan," kata Itsumi. Mereka pun bergegas menuju salah satu rumah yang menjadi tempat pertunjukan.

"Itu seperti Suku Dayak di tanah kami," seru Muthy menunjuk tiga orang gadis yang sedang menari.

"Itu gadis-gadis Ainu yang sedang menari Sarorunchikap rimse atau tarian burung bangau. Pakaian dan assesoris mereka memang seperti Suku Dayak, makanya kubilang padamu kalau kau bakal ketemu saudaramu," jawab Itsumi tertawa.

"Mereka juga pintar memainkan Tonkori lho," imbuhnya.

"Sebentar, apa itu alat musik yang seperti harpa?" tanya Muthy.

"Kau benar. Ke sana yuk," ajak Itsumi, "kukenalkan pada seseorang."

Muthy hanya menurut saja saat Itsumi membawanya pada seorang gadis berpakaian yukata (gaun tradisional Jepang) yang sedang asyik melukis sesuatu di tepi danau.

"Nee chan, Mikasa chan, chotto kite kudesi," seru Itsumi. Gadis itu menoleh dan menghampiri mereka.

"Anata wa ...," seru Muthy tertahan. Gadis itu yang menabraknya tadi di bandara.

"Moichido, watashi wa moshiwake arimasen," katanya membungkuk.

"Watashi wa genkidesu," jawab Muthy.

"Eh, kenapa ini?" tanya Itsumi pada Muthy.

"Aku sudah ketemu dengannya tadi, di bandara," jawab Muthy.

"Aitsu wa Muthy," Itsumi memperkenalkan Muthy.

"Hajime mashite, watashi wa Mikasa, "jawab Mikasa ramah. Mereka bertiga pun terlibat dalam obrolan yang cukup panjang dan menyenangkan. Dengan bantuan Itsumi tentunya, karena kemampuan Bahasa Jepangnya Muthy pas-pasan.

"Itsumi chan, aku lapar," bisik Muthy.

"Saa kaerou. Iratashitachi wa iku," kata Itsumi pada Mikasa, "arigato gozaima."

"Doo itashimashite," jawab Mikasa tersenyum. Dia pun kembali asyik menyelesaikan lukisannya.

Itsumi mengajak Muthy kembali. Di rumah, Nyonya Tetsuya sudah menyiapkan menu yang sangat ramai. Ada sashimi, sushi, ramen, dan masih banyak lagi. Kebanyakan berbahan dasar ikan mentah. Muthy mengambil semangkuk ramen dan menghabiskannya dengan cepat. Hawa dingin membuat perutnya benar-benar terasa lapar.

"Kau tak coba sashimi? Itu protein tinggi loh," seru Itsumi. Muthy menggeleng. Aku tak terbiasa makan ikan mentah, batinnya. Lagipula dua mangkok ramen sudah sukses berpindah dalam perutnya.

###

Tak terasa sepekan sudah berlalu. Muthy menghitung waktu. Mengingat kembali keindahan Taman Shiretoko, Kebun binatang Asahiyama, Taman Nasional Daisetsuzan, mengunjungi Sapporo, melintasi Taman Odori, melihat keindahan Danau Toya dan bunga Shibazakura. Ah, tujuh hari serasa belum cukup.

Wajah cantik Mikasa pun melintas, gadis Ainu itu banyak bercerita tentang kebudayaan asli sukunya. Ingin rasanya melihat dari dekat kehidupan mereka. Tapi, waktu liburan telah habis. Besok ia harus kembali. Ada yang tak bisa dia lupakan tentang ucapannya:
"Sei wo uke sorezore ga jinsei wo ouka (kita diberi kehidupan dan setiap kehidupan kita sendiri). Yappa hibi wa ikan sen kou so tsu natsu (jadi apa yang kaulakukan dengan hari-harimu)."

"Sampaikan salamku pada Mikasa," pesan Muthy pada Itsumi saat mengantarnya ke bandara Haneda. Mereka pun berpelukan erat sebelum berpisah.

Sayonara Hokkaido, sayonara Itsumi, Mikasa. Kalian telah membuka mataku cara menghargai budaya. Ah, musim semi memang selalu menumbuhkan tunas-tunas baru. Hamparan lavender yang terlihat dari jendela pesawat seakan meneriakkan pesan untuk kembali. Suatu saat nanti.

#Demak, 24042015
Kamus kecil:
Nee chan: kakak
Moshiwake arimasenga watashi wa isoide: maaf, saya terburu-buru
Watashi wa genkidesu: saya baik-baik saja
Anata wa kirei: kamu cantik sekali
Nee: tentu saja
Fuyu: musim dingin
Haru: musim semi
Moichido, watashi wa moshiwake arimasen : sekali lagi saya minta maaf
Anata wa : kamu
Watashi wa: aku
Aitsu wa: dia
Hajime mashite: salam.kenal
Saa kaerou: saatnya pulang
Iratashitachi wa iku: kita mohon pamit
Arigato gozaima: terima kasih
Doo itashimashite: terima kasih kembali




Tidak ada komentar:

Posting Komentar