Segenggam Harap
Oleh : Titien SDF
Parmin baru saja menjalankan truknya keluar dari jembatan Rowosari. Dua orang polisi menghentikannya dan memintanya turun.
"Surat-surat saya lengkap kok Pak," katanya protes.
"Itu, muatanmu ... batu padas dari mana? Kamu angkut dari Brown Canyon ya?" tanya polisi itu galak.
Parmin menelan ludah, berbohong pun takkan dipercaya. Pasti mereka melihatnya keluar dari area Brown Canyon.
"Saya bukan penambang Pak. Saya cuma diminta mengangkut padas-padas ini ke suatu tempat," jawab Parmin membela diri.
"Ayo ikut saya, bawa saya ke pemiliknya!" seru polisi itu galak. Mau tak mau, Parmin memutar truknya kembali ke Brown Canyon.
Siang semakin memanas. Sudah sejak 1997 bukit setinggi 500 meter itu menjadi tempat penambangan padas dan pasir. Letaknya berada di dusun Dongko, Kelurahan Kebonbatur, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, berbatasan dengan desa Rowosari, Kelurahan Tembalang, Kecamatan Semarang Timur, Kodya Semarang. Sebutan Brown Canyon sendiri baru populer setelah 2013, saat tersisa empat bukit yang terlihat artistik dan mengingatkan kita tentang keindahan Grand Canyon di Colorado.
Truk sudah mulai masuk area Brown Canyon, Parmin membelokkan truknya ke arah salah satu bukit yang terlihat seperti benteng alam dengan banyak gua di bawahnya. Dihentikannya truk di depan salah satu gua. Seseorang terlihat keluar dari dalam gua dengan gerobak kecil berisi bongkahan padas. Dia memakai penutup muka, kaos lengan panjang, dan celana panjang yang dimasukkan dalam sepatu boot hitam.
"Kok kembali lagi Min?" tanyanya. Rupanya dia belum menyadari adanya dua polisi yang mengikuti Parmin.
"Maaf Yu, aku ndak bisa," jawabnya lirih, "ndak boleh."
Orang itu membuka kaos yang diikatkan menutup kepala dan sebagian mukanya. Seorang perempuan, usianya mungkin belum empat puluh tahun, kulitnya menghitam oleh panas matahari.
"Maaf Bu. Terpaksa kami harus menangkap Ibu," kata polisi yang mengikuti Parmin.
"Kenapa Pak? Bukit ini tak berpenghuni bukan?" jawab Sumi, perempuan itu.
"Apa Ibu tidak tahu? Pak Gubernur sudah melarang penambangan liar. Bahaya Bu ...."
"Tapi kami sudah melakoninya sejak 1997. Nyatanya juga tidak apa-apa," Sumi membela diri.
"Justru itu Bu, Ibu lihat! bukit padas itu hampir habis. Takkan ada lagi resapan air yang memadai menampung hujan. Bahaya Bu, bisa banjir bandang. Makanya sejak awal 2015 Pak Gubernur melarangnya. Ayo! Ibu ikut saya ke kantor polisi!"
Deg. Sumi tergeragap, bagaimana lagi dia menghidupi keluarganya. Bukit ini sudah bertahun-tahun menghidupi keluarganya. Penghidupan yang dipilihnya saat memutuskan menikah dengan Koh Ah Yun. Saat kemudian mereka harus terkucil dari keluarga yang tak merestui perkawinan mereka yang dianggap menyalahi adat dan aturan. Dia hanya perempuan Jawa yang miskin dan Koh Ah Yun terlahir sebagai anak pengusaha Cina. Cinta memang bisa menjatuhi siapa saja. Dan mereka pun memilih meninggalkan tanah kelahirannya dan menetap di sini.
"Bapak boleh tangkap saya, tapi tolong antarkan saya pulang dulu. Keluarga saya berhak tahu," pintanya memelas.
"Ibu jangan bersiasat. Kalau Ibu melarikan diri, kami tak segan menggunakan kekerasan," balas polisi itu.
"Tidak. Saya tak akan lari," jawab Sumi gusar.
Dua polisi itu pun membawa Sumi dan Parmin dalam mobil mereka. Berkali-kali Sumi menoleh ke belakang. Memandangi truk yang penuh berisi padas, juga gerobak, alat-alatnya dan setumpuk padas yang baru saja dikumpulkannya. Jerih payahnya beberapa hari.
Sumi menghela napas, wajah suaminya terbayang di depan mata. Dulu, mereka selalu berangkat bersama memecah batu-batu padas. Dengan canda dan tawa, semua tak terasa melelahkan walau seharian bekerja. Kini, mungkin dia satu-satunya penambang padas yang masih tersisa. Sejak setahun lalu, stroke memakan gerak suaminya. Lumpuh.
Bayang-bayang suaminya berangsur berganti wajah buah hatinya yang seharusnya lulus SD tahun ini. Bocah laki-laki yang mewarisi kulit putih ayahnya, tampan dan periang. Namun tiba-tiba terserang lumpuh layuh saat permulaan masuk kelas empat SD. Dia sudah membawanya berobat ke mana-mana. Namun tak juga ada hasilnya. Mungkinkah ini karma? keluh hatinya.
"Maaf ya Yu, jadi menambah masalahmu," kata Parmin, lirih.
Sumi menghapus air matanya, "bukan salahmu, Min. Mungkin ini sudah takdirku."
"Stop di sini, Pak polisi. Itu rumah saya." Sumi menunjuk sebuah rumah papan di ujung desa. Perempuan itu bergegas turun dari mobil dan berlari menuju rumah yang terbuka pintunya. Ditariknya tangan dua polisi agar mengikutinya.
"Kemari, Pak. Ada yang ingin kutunjukkan pada kalian," katanya tergesa.
Hanya ada satu ranjang di rumah itu. Dua buah bangku dan sebuah meja di salah satu sudutnya. Di sudut yang lain terlihat perapian tanpa nyala api. Wajan, panci dan dandang tergantung di dinding. Tak ada makanan, hanya sepiring singkong rebus dan secerek air putih.
"Lihat itu, Pak polisi!" Sumi menunjuk ke arah ranjang yang hanya satu-satunya. Di sana tergolek dua nyawa tak berdaya. Koh Ah Yun, suaminya dan Ami, buah hatinya. Mata mereka berdua terlihat bingung menatap Sumi dan dua polisi itu.
"Tangkap kami semua, Pak. Karena tak ada lagi yang merawat mereka bila aku ditangkap," katanya getir, "kami tak punya keluarga. Untuk alasan itulah saya melakukan pekerjaan yang menyalahi fitrah saya sebagai perempuan. Saya tak mungkin jadi TKI meninggalkan mereka. Saya juga tak punya keahlian apa-apa."
"Tapi Bu, kami hanya menjalankan tugas. Kami harus tetap membawa Ibu ke kantor polisi."
Koh Ah Yun mendengar semua pembicaraan mereka. Hatinya terasa perih, dia telah merasa gagal sebagai seorang lelaki. Harusnya, dia yang mencari nafkah untuk istri dan anaknya. Harusnya, dia yang melindungi Sumi dan Ami, bukan sebaliknya. Lelaki itu berkomat-kamit seakan ingin mengucapkan sesuatu, "ja ... ngan ... ba ... wa ... is ... tri ... ku ...."
Sumi menghampiri mereka berdua, mendekap erat-erat dalam pelukannya. Tak ingin ada yang memisahkannya dari mereka. "Kita datang ke sini bersama-sama, pergi pun akan tetap bersama. Kalau perlu mati pun aku akan bersama kalian. Kalian adalah segenggam harap yang kupunya," bisiknya berurai air mata.
#Demak, 18042015
Biodata:
Titien Sumartini Dwifatmasari,, ibu delapan anak ini menulis untuk berbagi cerita, hikmah dan kebaikan. Dan bersama-sama penulis yang lain telah menelorkan beberapa buku antologi cerpen dan puisi. Beberapa karyanya juga menghiasi media Islampos. Penulis dapat dihubungi via facebook dengan akun yang sama. Juga bisa dihubungi via email di alamat titienfatmasari@gmail.com atau via hape di no 087733846543
Tidak ada komentar:
Posting Komentar