Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 30 April 2015

Haruskah bertahan


"Haruskah Bertahan?"

Ruangan itu tak begitu luas. Dua lemari besar dan ranjang ukuran no 1 sudah menghabiskan lebih dari separuh ruangan. Seorang perempuan tengah baya masih terpekur di atas sajadah. Dalam balutan mukena, sesekali diusapnya pipinya yang membasah.

"Ibuk ... bapak mana Buuuk ...."

Ngatmi, perempuan itu menoleh. Rupanya bungsunya mengigau mencari bapaknya. Gadis kecil 8 tahun itu memang sedari lahir hampir tak terpisahkan dengan bapaknya. Diusapnya lembut wajah bungsunya, mendekap dan menenangkannya hingga tertidur kembali.

Ngatmi beranjak bangun, dadanya terasa sesak, mungkin segelas air bisa menenangkan sedikit gundahnya.

"Belum tidur Mi?" tanya ibunya saat berpapasan di dapur. Ngatmi menggeleng lemah.

"Ibu sendiri?" tanyanya, "ndak bisa tidur?"

Perempuan tua itu hanya mengusap bahu Ngatmi lembut. Helaan napasnya terdengar panjang, "Ibu bisa mengerti perasaanmu. Ibu tahu ...."

Ngatmi terdiam, diteguknya sisa air dalam gelasnya. Dipandanginya punggung ibunya sampai tak terlihat lagi olehnya. Dilangkahkannya kaki menuju kamar si sulung. Ditengoknya anak lelakinya yang beranjak dewasa. Dia sudah kelas tiga SMA. Terngiang lagi olehnya percakapan mereka dua hari lalu.

"Buk, harusnya Ibuk bisa tegas sama Bapak. Masak Ibuk kerja kayak gini Bapak ndak bantuin malah ngabisin uangnya. Main gila sama abg-abg," begitu kata sulungnya waktu itu.

"Ndak bisa begitu, Le. Bapakmu pemimpin keluarga, bisa kualat nanti. Doakan saja, bapakmu segera sadar."

"Aku malu Buk, punya bapak kayak gitu."

"Huss ... sudah ...," jawabnya yang diikuti dengan dengusan sulungnya.

Ngatmi kembali masuk ke kamarnya. Merebahkan badan di samping bungsunya. Matanya menerawang ke masa awal pernikahannya. Bagaimanapun, ia merasa tersanjung saat Mas Tono berkeras menikahinya walau ayah bundanya tak merestui pernikahan mereka. Bagaimanapun, ia merasa tersanjung saat Mas Tono yang direktur sebuah restoran mahal berkenan memilihnya yang hanya seorang tukang masak, lulusan SMP, dan usianya dua tahun lebih tua. Pun saat Mas Tono memutuskan keluar dari pekerjaannya untuk menjaga perasaannya dan memilih memulai segalanya dari nol bersamanya. Semua benar-benar melambungkan angannya.

"Kamu yang masak di rumah, nanti aku yang menjualkan," begitu kata Mas Tono dulu. Dan dia setuju. Usaha mereka memang kecil, hanya diawali dengan berjualan kue 'ku' (nama makanan yang terbuat dari tepung ketan dan diisi kacang ijo di bagian dalamnya). Mas Tono pun rela mengedarkannya ke kios-kios di pasar. Seiring waktu, yang mereka jual pun bertambah. Tak hanya kue 'ku' namun segala jenis snack yang dia bisa membuatnya.

Tahun berganti, kehadiran sulungnya seperti menurunkan hujan rejeki. Mereka kini tak perlu bersusah payah menawarkan dari kios ke kios, dari toko ke toko. Para pelanggan mau memesan dalam jumlah banyak dan mengambilnya sendiri. Tugas Mas Tono kini hanya belanja bahan-bahan yang mereka butuhkan.

Hidup memanglah ujian. Ramainya usaha mereka ternyata juga menumbuhkan kebiasaan buruk suaminya. Seringkali, uang laba dipakainya untuk membeli video-video musik dan video berisikan film biru. Dia berusaha memahaminya, untuk menyenangkan suaminya. Terlambat disadarinya, kebiasaan suaminya menghabiskan malam dengan film-film itu membuatnya tak bisa bangun awal. Akhirnya, tugas suaminya pun terpaksa dilakukannya sendiri.

"Mi, aku mau kerja. Malu kalau cuma duduk-duduk di rumah saja," kata Mas Tono suatu hari.

Ada rasa haru yang menjalari dada Ngatmi saat mendengarnya. Maka direlakannya sebagian modalnya untuk modal suaminya berjualan hape beserta pernak-perniknya. Usaha yang diharapkannya dapat meringankan beban di pundaknya, terlebih dengan kehadiran si Bungsu. Semua dirasa menggenapi rasa bahagianya.

Ujian belum selesai. Mas Tono memang masih selalu menidurkan si bungsu setiap malam, saat dirinya sibuk menyelesaikan pesanan untuk esok hari. Tak jarang kedua adik dan ibunya membantunya begadang menyelesaikan pesanan. Ia cukup menerima walau suaminya tak pernah membantu. Satu yang mengganjal benaknya, ke mana penghasilan Mas Tono? Kenapa ia tak pernah ikut menikmatinya.

"Ibuk! Lihat ini ... Bapak main gila," kata sulungnya tiba-tiba.

"Eh, ngomong apa kamu Le?" jawabnya saat itu. Ia tak suka anaknya menjelek-jelekkan bapaknya. Tapi ia tak bisa berkata apa-apa lagi, saat remaja tanggung itu memperlihatkan sepucuk surat dan hape milik suaminya. Sepucuk surat dari seorang wanita yang ternyata telah menikah siri dengan suaminya. Kepadanyalah penghasilan Mas Tono selama ini dikirimkan. Dan dia tak pernah merasa berbuat salah padanya.

Ah, Ngatmi menggigit bibirnya. Peristiwa tiga tahun lalu tergambar jelas di kepalanya. Dan lelaki yang dulu sangat dikaguminya itu sudah berjanji untuk menyudahi permainannya. Susah payah dibangunnya lagi rasa percaya dan hormat. Demi anak-anaknya.

"Ibuk ... kenapa sih Ibuk masih percaya saja sama Bapak. Ibuk tahu? Bapak buat facebook dengan nama dan status palsu. Bapak berpacaran dengan teman-temanku," kata sulungnya tiga bulan lalu. Ngatmi tak ingin percaya begitu saja. Diselidikinya informasi yang diberikan anak sulungnya. Dan dia harus menerima kenyataan kalau itu benar adanya.

"Mengapa kaulakukan, Mas?" tanyanya mencari jawaban.

"Aku khilaf," katanya membela diri.

"Dengan empat abg sekaligus? Ingat, Mas. Mereka seumuran anakmu. Ngaca ...Mas, ngaca ...."

"Terus kamu mau apa. Kamu sudah semakin tua dan mereka muda. Apa salahnya kalau aku tertarik pada mereka dan mereka tertarik padaku," jawabnya kasar. Dan kemudian, dia menghilang begitu saja. Hingga hari ini.

Untaian peristiwa demi peristiwa terus saja berputar dalam ingatan Ngatmi, memusingkan dan menidurkannya.
###

"Ibuk,  berangkat dulu ya," lirih remaja tanggung itu berbisik di telinga ibunya. Ngatmi tergeragap bangun.

"Sudah pagi to, Le? Adikmu?" tanya Ngatmi ketika melihat bungsunya tak lagi di sampingnya.

"Sudah berangkat, Buk," jawab sulungnya.

"Kalian sudah sarapan?"

"Sudah, adik juga sudah. Nenek bilang, semalam Ibuk ndak tidur. Sekarang Ibuk istirahat saja dulu. Tadi ada telpon dari sekolahan, katanya mau pesan snack sama makan siang buat seminar besok. Sudah takcatat di agenda. Aku berangkat dulu ya Buk."

Ngatmi mengulurkan tangannya, mengusap bahu remaja yang dipaksa menjadi dewasa itu dengan haru. Dipeluknya tubuh kurus itu, membisikkan harapannya, "belajarlah yang rajin, berlakulah yang benar, jangan kecewakan ibu."

Istirahat satu dua jam terasa menyegarkan, Ngatmi membuka kembali daftar pesanan. Ia sedikit lega, tak ada pesanan untuk hari ini. Artinya, ia tak harus terburu-buru menyiapkan pesanan untuk besok.

Kriiing ... kriiing ...kriiing

"Hallo ... assalamu'alaikum ...," jawab Ngatmi.

"Mi, ini aku," kata suara di seberang.

"Mas Tono? Njenengan di mana Mas?" tanya Ngatmi penasaran.

"Di Lampung."

"Untuk apa Mas? Kapan pulang?"

"Memang Mas mau pulang. Tapi sama Isah, istri Mas."

Deg. Serasa sebuah palu godam menghantam jantungnya, Ngatmi tak bisa berkata-kata. Tangannya terasa bergetar.

"Aku mau pulang, tapi sama Isah. Kalau kau tak mau serumah dengannya. Biar kucarikan kontrakan. Kami akan membantumu setiap hari melayani pesanan, tapi kau harus memberinya upah. Dan malamnya kami pulang ke rumah kontrakan kami sendiri. Bagaimana ...?"

Ide gila apalagi ini. Selama ini aku yang kerja, untuk menafkahi keluarga, menyekolahkan anak-anak. Dan dia hanya bersenang-senang tanpa memikirkan keluarga. Sekarang dia meminta hal yang aneh, rutuknya dalam hati.

"Suamimu ? Mi?"

Ngatmi menoleh ke arah suara, menghambur ke pelukan ibunya yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya.

"Haruskah aku bertahan, Bu?" bisiknya berurai air mata.

#Demak, 17042014




Tidak ada komentar:

Posting Komentar