Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 30 April 2015

Wanita hebat itu ibuku

PEREMPUAN HEBAT ITU IBUKU

Beliau lahir 21 April 1948, barangkali itu yang membuatnya terilhami semangat Kartini. Ayahnya memberinya nama Endang Djuwitaningsih. Sebagai putri seorang wedana, beliau bebas menuntut ilmu di sekolah mana saja. Namun sayang, kepergian sang ayah untuk ikut serta dalam pembebasan Irian Barat merupakan perpisahan abadi untuk keluarganya. Sang ibu menginginkan agar beliau menikah saja.

Juwita menolak keinginan ibunya. Usianya baru 16 tahun. Demi menamatkan SMEAnya yang tinggal satu tahun, beliau rela pergi dari rumah. Mendatangi kerabat-kerabat ayahnya agar tak dinikahkan. Beliau juga mengajar SD Pribadi, sebuah SD swasta di kota Semarang waktu itu. Honor yang diterima, digunakannya untuk menamatkan SMEAnya.

Tamat SMEA, diterimanya lamaran seorang lelaki yang berusia 18 tahun di atasnya. Bukan karena jatuh cinta, tapi hanya karena parasnya mirip dengan mendiang ayah tercinta. Harapannya sirna, karena perangainya sungguh jauh berbeda dengan budi halus dan sikap peduli ayahanda. Tahun demi tahun anak-anak lahir dari rahimnya. Celotehan dan tingkah laku mereka adalah pelipur segala duka. Semua beliau tuliskan di buku hariannya.

Bapak hanya seorang montir panggilan, yang beliau bawa pulang terkadang hanya habis buat makan. Sedang usia kami beranjak besar, waktunya mulai belajar segala hal. Ibu mulai mengajar lagi. Kali ini di sebuah TK swasta. Aku dan adikku ikut nebeng mendengarkan pelajarannya. Usia 5 tahun aku dititipkan ke SD, tahun berikutnya sudah naik kelas 2.

Bapak bertemperamen keras, juga ringan tangan. Masa kanak-kanaknya yang habis untuk ikut berperang mungkin yang membuatnya tidak terlalu peduli dengan pendidikan. Baginya, bisa membaca, menulis dan berhitung, itu sudah cukup. Karenanya, saat kami lulus SD, Bapak tak terlalu suka kami melanjutkan sekolah.

Ibulah yang senantiasa mendorong kami agar terus sekolah. Beliau rela nyambi apa saja, yang penting halal. Pagi beliau ngajar di TK, siang ngadep pecel, kolak dan gorengan di depan rumah. Terkadang sorenya menerima panggilan pijat refleksi. Diajaknya salah satu dari kami agar kami tahu pekerjaannya adalah pekerjaan yang halal. Terkadang, dibawanya buku-buku sekolah bekas anak pelanggannya yang diberikan cuma-cuma. Dan kami menerimanya dengan suka cita.

"Perempuan ndak boleh lemah, Nduk. Hidup ini pembelajaran. Selagi kita masih hidup, kita harus terus belajar," begitu nasehatnya saat aku merasa cukup tamat SMA saja. Rasanya tak tega membebaninya terlalu banyak, empat adikku juga butuh sekolah dan Bapak? Beliau berkata ,"aku dulu hanya tamatan SR juga masih bisa kerja. Sekolah tinggi-tinggi  kalau ndak kerja juga buat apa."

"Mengeluh tak menyelesaikan masalah. Justru dari masalah itu, kita belajar tegar menghadapi segala persoalan," pesan Ibu padaku.

"Kamu harus tetep sekolah. Jangan kecewakan Ibu. Anak-anak Ibu harus dapat pendidikan yang lebih baik dari Ibu," katanya lagi.

Pernah kutanyakan satu hal kepadanya, "mengapa Ibu tak minta cerai dari Bapak begitu tahu karakter Bapak yang sebenarnya?"

"Tidak, Nduk. Ibu menghormati Bapak. Bagi Ibu hanya ada satu pernikahan seumur hidup.  Lagipula Ibu berharap seiring waktu Bapak bisa berubah menjadi lebih baik," begitu alasannya.

Begitulah Ibu. Saat kami beranjak dewasa, Ibu juga mulai aktif berorganisasi, di PKK, di LKMD, juga di LSM. Beliau bilang, "umur seharusnya tak menghalangi untuk terus belajar. Kalau tak di sekolah formal, di non formal pun bisa dicari."

Begitu bersemangatnya Ibu, hingga beliau sering diundang untuk mengisi pelatihan dan seminar tentang perempuan dan anak-anak. Padahal beliau hanya berijazah SMEA.  Kegiatannya semakin bertambah saat anak-anaknya menikah dan mempunyai rumah sendiri. Apalagi setelah Bapak berpulang ke rahmatullah.

"Tinggallah bersama kami Bu," pintaku padanya.

"Tidak Nduk. Ibu tidak ingin adik-adikmu meri. Ibu juga tidak ingin membebanimu. Lagipula masih banyak yang harus Ibu kerjakan di sini," jawabnya. Dan aku tak bisa memaksanya.

Beberapa kali Pemilu, beberapa partai memintanya bergabung dan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Beliau menolak dengan alasan, ingin lebih netral memperjuangkan kepentingan perempuan dan anak-anak. Lima tahun belakangan ini beliau bergabung dengan Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak di bawah Yayasan Setara.

Begitulah Ibuku, usia yang hampir 70 tahun tak menyurutkan semangatnya. Beliau sebenar-benar Kartini di mataku, inspirasi dan motivasiku.

Ah Ibu, rindu ini masih milikmu. Terkadang kuingin memutar waktu, mengulang masa kanak-kanak bersamamu.

#Demak, 14042015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar