Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Selasa, 29 September 2020

Ketika Kau dan Aku Menjadi Kita (2)

Ketika kau dan aku menjadi kita,  maka hakikatnya kita melebur menjadi satu. Apapun yang berkaitan dan mengenai rumah tangga kita,  kita hadapi dan selesaikan bersama. 

Suami istri adalah sepasang tangan dan sepasang kaki yang melakukan berbagai aktifitas dan pergerakan bagi rumah tangganya. 

Tangan kanan biasanya dipakai untuk melakukan aktifitas-aktifitas yang berkelas dan dipandang orang. Untuk berjabat tangan,  interupsi,  mengetuk palu,  menulis,  mengangkat, memberi,   memotong,  memukul,  dan aktifitas lainnya.  Begitulah simbol seorang qowwam. 

Seorang qowwam harus kuat menanggung beban dan berusaha mencukupi kebutuhan keluarganya dengan pekerjaan yang halal dan mulia. Dia juga harus dapat membawa nama baik dan kehormatan keluarga/ rumah tangganya di mata publik. 

Sementara istri,  seorang istri lebih  sering mewakili tangan kiri.  Dia bisa melakukan apa yang dilakukan tangan kanan dengan porsi/kekuatan yang sedikit lebih rendah di bawahnya.  Namun,  ada kelebihan yang acap dilakukan tangan kiri dan tak biasa dilakukan dengan tangan kanan. Aktifitas yang berhubungan dengan urusan belakang yang sering dianggap remeh tapi penting. Urusan yang dianggap tidak berkelas tapi harus dilakukan,  seperti cebok dan sejenisnya. 

Begitupun dengan urusan yang berhubungan dengan anak. Ada hal-hal yang tak bisa dilakukan para ayah dan hanya bisa ditunaikan oleh para ibu yaitu mengandung dan menyusui. Maka Allah muliakan ibu dan mendahulukannya daripada ayah. Begitupun membersamai anak-anaknya di tiga tahun pertama dan di masa sakit mereka. Merupakan tugas yang lebih sering disandangkan pada ibu. 

Begitulah pekerjaan seorang istri/pekerjaan rumah tangga,  seringkali tidak dianggap sebagai pekerjaan yang berkelas dan menghasilkan.Namun dia setara dengan beberapa profesi sekaligus. Dan bila beberapa profesi itu dinilai sesuai  standar gajinya,  maka seorang suami takkan sanggup menggaji istrinya.

Suami istri ibarat sepasang tangan bagi rumah tangganya. Ada kalanya mereka melakukan aktifitas yang sama,  ada kalanya mereka melakukan pembagian tugas dengan aktifitas yang berbeda.  Ketika yang satu tidak berfungsi,  maka pekerjaan yang harus ditunaikan pun akan terasa lambat dan tidak sempurna. 

Suami istri ibarat sepasang kaki dalam mengarahkan keluarga/rumah tangganya. Dalam adab keseharian  disunnahkan mendahulukan yang kanan untuk setiap aktifitas. Dan yang kiri akan mengikutinya.  Dibawa ke masjid dia ikut,  dibawa ke pasar dia ikut,  dibawa kemana pun dia ikut.   

Begitupun seorang qowwam,  dia bertanggungjawab  dan  berkewajiban mengarahkan rumah tangganya untuk kebaikan. Membawanya menapaki jalan menuju kemenangan/surga.

Sepasang kaki selalu melangkah bersama,  baik saat berjalan maupun berlari.  Ketika kaki kanan di depan,  maka dia pasti akan menunggu pasangannya dan takkan meninggalkannya, bahkan mendorongnya maju selangkah lagi. Ketika kaki kiri di depan, dia pun akan menanti pasangannya dan mendorongnya untuk maju selangkah lagi. Saat yang satu naik,  yang lain ikut naik. Ketika yang satu turun,  yang lain akan mengikuti dan menahannya agar tak terjerembab. 

Begitu pun suami istri,  saling mendorong pasangannya untuk lebih maju dan tidak meninggalkannya saat berada di posisi belakang. Di saat mapan dan berjaya, pun di saat lemah dan terpuruk. 

Alhamdulillah,  27 tahun suka duka telah kita lalui bersama. Allah swt telah pilihkan engkau sebagai qowwamku. Maka bawalah kami untuk istiqomah menapaki jalan menuju cinta dan keridhoan-Nya. Dan semoga kelak kita beserta keluarga dan keturunan kita  termasuk dalam golongan orang-orang yang dikumpulkan Allah swt di dalam firdaus-Nya yang kekal,  aamiin. 


#anniversary 

#mitsaqongholidzon 

#29sept2020

Senin, 28 September 2020

Ketika Kau dan Aku Menjadi Kita (1)


Dua puluh tujuh tahun yang lalu,  kau dan aku sepakat melebur menjadi kita. Ikrar yang terucap dari lisanmu disaksikan Sang Maha Cinta,  pemilik semesta beserta segenap isinya. Menjadi mitsaqon gholidzon sepanjang sisa usia.

Ketika kau dan aku melebur menjadi kita,  hakikatnya kita menyatu dalam satu tubuh, saling seiring,  selaras,  seia sekata dalam banyak hal.

Ibarat sepasang mata,  kau  sebelah kanan dan aku sebelah kiri. Bila kau terbuka,  akupun terbuka. Apa yang ada padaku tak luput dari penglihatanmu,  begitupun sebaliknya. Baik burukku,  puji celaku tiada yang luput dari netramu,  begitupun sebaliknya. 

Engkau adalah pakaianku dan aku adalah pakaianmu. Maka kita saling menampakkan apa yang biasa terlihat  dan menyembunyikan apa yang tidak seharusnya terlihat. Keburukanmu aman dan mengendap bersamaku,  aibku pun aman dan terlindung bersamamu. 

Bila kau mengerjap,  akupun mengerjap,  bila kau terpejam,  akupun terpejam. Apa yang membuatmu berbinar pasti membuatku berbinar bahagia. Apa yang membuatmu menangis,  sudah pasti juga membuatku menangis. 

Ketika kau dan aku menjadi kita,  ibarat dua telinga,  kita saling mendengarkan meski terkadang jarak memisahkan. Kalam Illahi menjadi panduan hingga desau bising suara-suara yang mengganggu kan terabaikan. Dia menjanjikan adanya sakinah mawaddah warrohmah ketika kita selalu menapaki jalan sesuai petunjuk-Nya. 

Maka jadilah pelita kami,  ya Robbana. Ihdinash shirotol mustaqim,  shirotolladziina 'an amta 'alaihim,  wala addhooliin. Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota 'ayuni waj'alna lil muttaqiina immaman,  aamiin. 

#anniversary
#mitsaqongholidzon
#29sept2020