Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Sabtu, 27 Juni 2015

Wonderful couple

Wonderful
Ustadz Cahyadi Takariawan setelah sukses dengan wonderful family dan wonderful husband. Kini Pak Cah, begitu biasa ia dipanggil, hadir kembali dengan buku terbarunya, Wonderful Couple. nah, apa kata Pak Cah tentang buku barunya ini? kita lihat yuk bersama-sama seperti yang ia ditulis dilaman kompasiana-nya. Mengapa Wonderful Couple? Jika kita perhatikan, pada awalnya sebuah keluarga dibangun oleh seorang suami dan seorang istri, kemudian lahirlah anak-anak dari pernikahan tersebut. Seperti apapun kondisi keluarga yang dibangun oleh pasangan suami istri, sangat tergantung kepada kualitas suami, kualitas istri dan kualitas hubungan di antara mereka berdua. Apakah keluarga akan kokoh atau hancur, apakah keluarga akan bahagia atau sengsara, apakah keluarga akan mapan atau berantakan, semua kembali kepada dua insan yang membentuk keluarga dari awalnya. Jika suami dan istri selalu berada dalam kondisi kebaikan, kemudian hubungan di antara mereka berdua juga selalu berada dalam kebaikan, maka insyaallah keluarga mereka juga akan selau berada dalam kebaikan. Namun jika suami dan istri, atau salah satu dari keduanya, membiasakan diri dengan hal-hal yang jelek dan melanggar ajaran agama, melanggar hukum negara, melanggar norma dan etika kepatutan yang menjadi nilai umum di masyarakat, bisa dipastikan keluarga yang dibangun menjadi rapuh dan mudah roboh. Dengan demikian wonderful couple adalah hal menjadi pasangan suami istri yang baik, yaitu pasangan dalam iman, yang saling menguatkan, saling mengingatkan, saling memuliakan, saling menjaga, saling percaya, saling mencinta, saling setia, saling menasehati, saling menyayangi, saling memberi, saling melindungi, saling menghargai, dan juga saling menghormati. Untuk mencapai kualitas hubungan suami istri yang “saling” dalam kebaikan tersebut, pada awalnya diperlukan sejumlah karakter pribadi dari suami dan istri. Pada kesempatan kali ini saya nukilkan pendapat dari Syaikh Muhammad Utsman Al-Khusyt tentang suami dan istri teladan. Selanjutnya, di buku Wonderful Couple nanti akan saya kupas secara lebih mendalam tentang hal ini, insyaallah. Karakter Suami Teladan Syaikh Muhammad Utsman Al-Khusyt menyebutkan beberapa karakter suami teladan sebagai berikut: 1. Suami yang sejak awal telah menunjukkan kejujuran dan sikap terus terang. Kelemahan dan kekurangan yang dimiliki tidak disembunyikan sejak melamar. 2. Suami yang menggauli istrinya dengan baik, lembut, memuliakan, dan menerima kelebihan maupun kekurangan keluarga istrinya. 3. Suami yang mampu menghibur dan bersikap lembut terhadap istri. Ia berkata dengan bahasa yang menarik, mau mengerti dan mendengar perkataan istri jika memang pendapatnya logis. 4. Suami yang tidak terlalu pencemburu, tidak mengumbar prasangka, tidak suka memata-matai, dan tidak berlebihan. 5. Suami yang memberikan belanja yang cukup kepada istri, tidak boros, dan tidak pula bakhil. 6. Suami yang selalu tampil di muka istrinya dengan rapi dan meyakinkan. Ia selalu menjaga penampilan dan kebersihannya, sehingga yang tercium darinya hanyalah bau harum semerbak. 7. Suami yang senantiasa menjaga rahasia rumah tangga. Hal ini mencegah orang-orang sekitarnya menggunjing keluarga mereka. 8. Suami yang senantiasa menjaga kejantanannya, baik secara fisik maupun psikis, sehingga memancarkan kewibawaan. Karakter Istri Teladan Berikutnya Syaikh Muhammad Utsman Al-Khusyt memberikan beberapa kriteria istri teladan sebagai berikut: 1. Istri yang senantiasa memperhatikan kebersihan, baik dirinya sendiri, suami, anak-anak, maupun rumah tempat tinggaln¬ya. 2. Istri yang senantiasa taat kepada suami, selama suami tidak dalam kemaksiatan. 3. Istri yang mendidik sendiri anak-anak mereka, tidak menyerahkan kepada orang lain. 4. Istri yang merasa cukup bahagia dengan pemberian suaminya. Ia tidak menuntut suami untuk melakukan hal-hal yang di luar batas kemampuannya. Ia harus pandai mengatur kebutuhan rumah tangga, sehingga apa yang diberikan suami bisa mencukupi. 5. Istri yang berakhlak mulia dan selalu tampil di setiap kesempatan dalam keadaan baik. Perkataan dan pembicaraannya senantiasa menyenangkan suami. 6. Istri yang selalu menjaga perasaan suami, serta merasa selalu senasib dan sepenanggungan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keharmonisan rumah tangga dan memperkuat ikatan cinta dalam keluarga. 7. Istri yang selalu berterima kasih dengan apa yang dilakukan suami, sehingga hal ini mendorong suami untuk berbuat lebih baik lagi bagi keluarganya. Demikianlah beberapa karakter suami dan istri ideal, yang insyaallah nanti akan saya kembangkan pembahasannya secara lebih luas dalam buku Wonderful Couple. ------------- 

Anak-anak laut


ANAK-ANAK LAUT
Oleh : Titien SDF

Bau khas air laut dihirupnya dalam
Seolah membaui hidangan dalam diam
Memenuhi perutnya yang menghitam
Terbakar siang didinginkan malam

Kepiting, bulu babi dan juga kelomang
Tak lagi bisa lukai tubuh nan kering kerontang
Berbekal ember dalam genggaman
Mereka mengumpul membisikkan kelegaan

Kaki-kaki telanjang itu masih berlari
Memburu hingga ember penuh terisi
Terlalu lama menunggu ayah pulang melaut
Sementara gendang bertalu dari dalam perut
Tak apalah, hasil tak seberapa
Asal lapar tak lagi bersuara

Anak-anak laut :sederhana
Menagih hidup pada kedalamanya
Menaiki ombak menghempas tanpa jeda
Berdamai dengan badai
Menyambut tsunami berderai-derai
Lalu kembali mendekap laut:melandai

Mereka: anak-anak laut
Diajarkan tak kenal rasa takut
Hanya pada-Nya tempat berlutut
Mohon dimudahkan menundukkan laut
Agar badai tak mampu memagut
Kesedihan tiada menyelimut
Hidup kan terus berlanjut
Kecil bersama laut
Besar bersama laut
Mati  pun bersama laut
#Demak, 23062015

Biodata penulis:
Titien SDF, ibu delapan anak yang menyukai dunia kepenulisan. Baginya menulis adalah cara untuk berbagi. Berbagi rasa, hikmah dan apa saja yang dapat memberi manfaat. Terkadang, menulis juga menjadi caranya menunjukkan kepedulian terhadap sesuatu. Setiap orang memiliki buku kehidupan, maka tulislah kebajikan agar selalu dikenang dan menginspirasi orang lain. Penulis dapat ditemui di rumah kecilnya di Jl Pucang Permai 16 no 12, Batursari, Mranggen, Demak. Atau dihubungi via facebook dengan akun Titien Sumartini Dwifatmasari, atau via email titienfatmasari@gmail.com

Jangan pergi

Jangan Pergi
Oleh : Titien SDF

Tuhan membawakanmu ke rumah
Menjinjing begitu banyak hadiah
Tak terlihat berkilau mewah
Netraku buta anggapnya sampah

Hari-hari kulewati
Bersamamu dalam baiti
Dari kalam-Nya namamu terpatri
Berjuta berkah-Nya di genggammu kini

Ramadhan, aku tlah salah mengenali
Anggap dirimu hanya beban tak terperi
Acuhkanmu: tak layani sepenuh hati
Satu demi satu keutamaanmu berlalu bersama hari

Ramadhan, tetaplah di sini
Kan kutebus hari tersisa nanti
Dengan amal ibadah sepenuh hati
Berkah, rahmat, maghfirah-Nya amat kunanti

Ramadhan, usah pergi
Nikmatilah jamuanku ini
Sampaikan pada penguasa langit dan bumi
Aku mencinta-Nya dalam hidup dan mati

#Demak, 22062015

Rabu, 24 Juni 2015

Kopiah pak haji

Judul: Kopiah Pak Haji
Oleh : Titien SDF
Jenis: Cermin

Siang begitu terik serasa membakar kulit kepala. Kuangkat keranjang cucian ke atas kepala, berharap dapat mengurangi sedikit rasa panasnya. Keranjang itu lama-lama terasa berat juga. Isinya cucian bersih yang sudah disetrika. Ibuku memang buka usaha laundry di rumah, dan aku bertugas mengantarkan ke pemiliknya.

Kuturunkan keranjang dari atas kepala. Sebuah kopiah tersembul di atasnya. Kebetulan nih, pikirku sambil memakainya. Sedikit mengurangi panas matahari, batinku. Rumah pak haji sudah terlihat, tak sampai lima menit lagi cucian ini sampai ke pemiliknya. Pak Haji Yusman orang baik, dia pasti tak keberatan kalau kopiahnya kupinjam sebentar.

"Hoi! Siapa saja yang di situ! Tolong  bantu saya sebentar!" teriak sebuah suara. Sepertinya dari arah rumah Bu Khosnia.

Kuhentikan langkah, meletakkan keranjang cucian di poskamling depan rumah Bu Khosnia, lalu memberanikan diri masuk halaman rumahnya. Terlihat Bu Khosnia sedang berada di dalam kolam pojok halaman rumahnya. Beliau tampak sibuk.

"Eh, Wahyu! Tolong kamu jaga dekat pojok kolam sana. Jangan sampai ikannya menerobos lubang masuk dalam selokan!" perintahnya sambil masih sibuk mencari sesuatu di dalam kolam.

Aku melangkah ke arah yang ditunjukkan Bu Khosnia, ternyata air mengalir deras ke arah sana. Ikan-ikan lele peliharaannya ikut terbawa menuju selokan besar.

"Mau dikuras, Bu?" tanyaku sambil menutupi lubang dengan dua tanganku, tapi masih ada celah juga.

"Iya, tadi sudah kutaruh keranjang untuk menutup lubangnya, tapi malah diambil Ryu buat main pasar-pasaran. Duuuhhh ...," keluhnya.

Tanpa pikir panjang, kulepas kopiah di atas kepala, kupakai untuk menutup lubang lalu menahannya dengan dua tangan. Air tetap mengalir deras, tapi ikan-ikannya tak dapat melewatinya. Beberapa lama tanganku tetap menahannya sampai air habis. Kubantu Bu Khosnia memunguti ikan-ikan yang menggelepar kehabisan air dan menaruhnya dalam.ember besar.

"Terima kasih ya, Wahyu. Kamu boleh bawa beberapa ikan untuk dimasak ibumu. Ini, bawalah ...," katanya sambil memasukkan beberapa ikan lele ke dalam kantong plastik, lalu diberikannya padaku.

"Alhamdulillah, terima kasih, Bu. Ibu pasti senang," jawabku.

Selesai menolong Bu Khosnia, aku teringat pada tugas yang belum selesai kukerjakan. Kuangkat kembali keranjang cucianku dan mengantarkannya ke rumah pak haji.

Pak haji sedang duduk-duduk di teras saat aku sampai ke rumahnya.

"Eh, Nak Wahyu sudah datang. Sini, sini, sudah saya tunggu sejak tadi. Kopiah saya ndak ketinggalan to? Nanti mau saya pakai untuk tarawih di masjid," sambutnya ramah.

Kopiah? Aku tersentak kaget. Bagaimana ini? Pasti masih tertinggal di kolam Bu Khosnia. Aku yang salah, aku akan jujur saja, tekadku.

"Eh, oh, maaf, Pak Haji ..., tadi ... bla-bla-bla .... Jadi, kopiahnya ... belum bisa saya kembalikan," jawabku takut-takut.

"Oh begitu? Ya sudah, ndak apa-apa. Kalau begitu tolong anterin Bapak beli kopiah baru ya," sahutnya ringan. Sedikit beban terlepas dari hatiku. Alhamdulillah.

"Naik apa, Pak?" tanyaku, masih takut-takut. Kan tadi cuma jalan kaki dari rumah.

"Ealah, ya masak jalan kaki to, Nak Wahyu. Naik motor Bapak saja. Bapak kan sudah tua, jadi kamu yang boncengin Bapak."

Aku mengangguk lega, alhamdulillah. Karena kopiah pak haji, aku bisa menolong orang. Karenanya pula, ibu bisa memasak ikan. Dan Pak Haji tidak marah padaku, sepanjang jalan beliau malah memujiku karena menggunakan kopiahnya untuk hal yang baik dan berterus terang kepadanya. Beliau bahkan memberiku hadiah sarung lengkap dengan pecinya. Alhamdulillah, kopiah pak haji memang benar-benar berkah.

#Demak, 23062015

Kopiah pak haji

KOPIAH PAK HAJI

Siang begitu terik serasa membakar kulit kepala. Kuangkat keranjang cucian ke atas kepala, berharap dapat mengurangi sedikit rasa panasnya. Keranjang itu lama-lama terasa berat juga. Isinya cucian bersih yang sudah disetrika. Ibuku memang buka usaha laundry di rumah, dan aku bertugas mengantarkan ke pemiliknya.

Kuturunkan keranjang dari atas kepala. Sebuah kopiah tersembul di atasnya. Kebetulan nih, pikirku sambil memakainya. Sedikit mengurangi panas matahari, batinku. Rumah pak haji sudah terlihat, tak sampai lima menit lagi cucian ini sampai ke pemiliknya. Pak Haji Yusman orang baik, dia pasti tak keberatan kalau kopiahnya kupinjam sebentar.

"Hoi! Siapa saja yang di situ! Tolong  bantu saya sebentar!" teriak sebuah suara. Sepertinya dari arah rumah Bu Khosnia.

Kuhentikan langkah, meletakkan keranjang cucian di poskamling depan rumah Bu Khosnia, lalu memberanikan diri masuk halaman rumahnya. Terlihat Bu Khosnia sedang berada di dalam kolam pojok halaman rumahnya. Beliau tampak sibuk.

"Eh, Wahyu! Tolong kamu jaga dekat pojok kolam sana. Jangan sampai ikannya menerobos lubang masuk dalam selokan!" perintahnya sambil masih sibuk mencari sesuatu di dalam kolam.

Aku melangkah ke arah yang ditunjukkan Bu Khosnia, ternyata air mengalir deras ke arah sana. Ikan-ikan lele peliharaannya ikut terbawa menuju selokan besar.

"Mau dikuras, Bu?" tanyaku sambil menutupi lubang dengan dua tanganku, tapi masih ada celah juga.

"Iya, tadi sudah kutaruh keranjang untuk menutup lubangnya, tapi malah diambil Ryu buat main pasar-pasaran. Duuuhhh ...," keluhnya.

Tanpa pikir panjang, kulepas kopiah di atas kepala, kupakai untuk menutup lubang lalu menahannya dengan dua tangan. Air tetap mengalir deras, tapi ikan-ikannya tak dapat melewatinya. Beberapa lama tanganku tetap menahannya sampai air habis. Kubantu Bu Khosnia memunguti ikan-ikan yang menggelepar kehabisan air dan menaruhnya dalam.ember besar.

"Terima kasih ya, Wahyu. Kamu boleh bawa beberapa ikan untuk dimasak ibumu. Ini, bawalah ...," katanya sambil memasukkan beberapa ikan lele ke dalam kantong plastik, lalu diberikannya padaku.

"Alhamdulillah, terima kasih, Bu. Ibu pasti senang," jawabku.

Selesai menolong Bu Khosnia, aku teringat pada tugas yang belum selesai kukerjakan. Kuangkat kembali keranjang cucianku dan mengantarkannya ke rumah pak haji.

Pak haji sedang duduk-duduk di teras saat aku sampai ke rumahnya.

"Eh, Nak Wahyu sudah datang. Sini, sini, sudah saya tunggu sejak tadi. Kopiah saya ndak ketinggalan to? Nanti mau saya pakai untuk tarawih di masjid," sambutnya ramah.

Kopiah? Aku tersentak kaget. Bagaimana ini? Pasti masih tertinggal di kolam Bu Khosnia. Aku yang salah, aku akan jujur saja, tekadku.

"Eh, oh, maaf, Pak Haji ..., tadi ... bla-bla-bla .... Jadi, kopiahnya ... belum bisa saya kembalikan," jawabku takut-takut.

"Oh begitu? Ya sudah, ndak apa-apa. Kalau begitu tolong anterin Bapak beli kopiah baru ya," sahutnya ringan. Sedikit beban terlepas dari hatiku. Alhamdulillah.

"Naik apa, Pak?" tanyaku, masih takut-takut. Kan tadi cuma jalan kaki dari rumah.

"Ealah, ya masak jalan kaki to, Nak Wahyu. Naik motor Bapak saja. Bapak kan sudah tua, jadi kamu yang boncengin Bapak."

Aku mengangguk lega, alhamdulillah. Karena kopiah pak haji, aku bisa menolong orang. Karenanya pula, ibu bisa memasak ikan. Dan Pak Haji tidak marah padaku, sepanjang jalan beliau malah memujiku karena menggunakan kopiahnya untuk hal yang baik dan berterus terang kepadanya. Beliau bahkan memberiku hadiah sarung lengkap dengan pecinya. Alhamdulillah, kopiah pak haji memang benar-benar berkah.

#Demak, 23062015

Pergilah, aku ikhlas

Judul: Pergilah, Aku Ikhlas
Oleh: Titien SDF

Aku masih termenung menatap gundukan tanah. Merahnya masih basah berselimut hamparan kembang tujuh rupa. Aku masih tak percaya, dirimu terbaring di dalamnya.

Ingatanku melayang tiga tahun lalu, saat pertemuan pertama denganmu. Kau terlihat begitu dingin dan kaku mendampingi suamimu, nyaris tanpa suara.

Beberapa lama mengenalmu, gunung es itu mulai mencair. Nama panggilan kita kebetulan sama, kesukaan kita pun tak jauh berbeda. Tapi kau terlihat jauh lebih dewasa dari usiamu yang lima tahun di bawahku. Kepergian ibumu menjadi TKI membuatmu harus bersikap sebagai ibu untuk keempat adikmu. Itu mungkin yang membuatmu lebih dewasa.

Kita pun sering bersama mengurus segala sesuatu, kau sebagai istri kepala desa dan aku sebagai istri aleg. Kita juga sepakat untuk memajukan perekonomian desa kita, membina dan mendampingi tumbuhnya kelompok usaha bersama ibu-ibu PKK di desa kita. Dua tahun ini semua berjalan begitu baik.

"Bu, mulai bulan ini njenengan yang menghandle tugas-tugas saya. Saya percaya, njenengan lebih bisa," begitu katamu tiga bulan lalu.

"Kenapa Bu? Njenengan kan ndak ke mana-mana," tanyaku.

"Aku sudah letih. Mau menikmati kehamilanku. Lagi pula, ndak akan berpengaruh banyak kok. Kita kan sama-sama Titin. Njenengan sudah lebih dulu berkecimpung ngurusi orang banyak. Jadi, akan mudah bila cuma ngurusi PKK desa dan kecamatan. Tolong ya, jangan menolak," pintamu.

"Baiklah, aku tahu njenengan pasti sangat menanti kehadiran si kecil setelah beberapa kali keguguran. Aku mau bantu, tapi jangan putus komunikasi denganku," pintaku.

Engkau pun mengangguk. Dan hari-hari selanjutnya kulalui dengan ikhlas. Beban tanggungjawab yang kaupikulkan menambah sederet bebanku sendiri. Namun semua terasa ringan dengan komunikasi yang kita bangun. Walau waktu terasa begitu cepat berjalan, aku berharap engkau dapat segera menimang si kecil yang sangat kauidam-idamkan.

"Impian terakhirku adalah mempersembahkan seorang putri bagi suamiku," katamu waktu itu.

Aku hanya tergugu mendengarnya. Setelah apa yang banyak dia lakukan padamu, engkau selalu memaafkan dan memberi yang terbaik baginya. Terkadang aku kesal dengan sikapmu. Aku sangat tahu, sifat suamimu yang kurang menghargai perempuan dan suka mencari kesenangan sendiri. Harusnya laki-laki yang suka menyakiti hati istrinya itu diberi pelajaran. Tapi tidak, engkau memang istri sholihah. Dan kami, teman-temanmu, hanya menyimpan bara kekesalan pada suamimu dan kekaguman padamu

Aku masih bergulat dengan tugas-tugas yang menggunung ditemani sms dan bbm darimu. Juga teman-teman kita. Sesekali terdengar suaramu renyah menyapaku via telepon.

"Tak usah sering-sering ke rumah melihat keadaanku. Tugasmu sudah numpuk. Aku bisa jaga diri kok, entar aku laporan tiap hari wes," katamu beberapa minggu lalu. Jelas terlihat, wajah ayumu begitu pucat dan terlihat lelah.

"Bener ya, kalau ada sesuatu cepat hubungi aku," jawabku waktu itu.

Aku masih berusaha tenang saat memimpin acara-acara yang seharusnya kaupimpin. Menyelesaikan apa yang seharusnya kauselesaikan. Juga saat banyak yang menanyakanmu. Kujawab kalau dirimu baik-baik saja

Lalu kau mulai mengacuhkanku, saat anak sulungmu dirawat di rumah sakit. Tak ada kabar yang kuterima, sms dan bbm pun tak kaubalas. Nekat, kucari kalian dan kutemukan, alhamdulillah.

"Maaf, aku ndak ingin terlalu merepotkanmu. Lagi pula aku baik-baik saja," katamu, "berhentilah mencemaskanku. Aku sudah lelah, ingin istirahat saja."

Bagaimana mungkin aku tidak cemas. Tidak, kau terlalu baik dan terlalu berharga untuk diacuhkan begitu saja. Apa kau tak sadar? Kami semua merindukan saat-saat bersamamu? Dan kemudian, tak ada lagi sms dan bbm darimu.

Hari itu tanggal 11 Juni, tanggal perkiraan lahirnya bayimu. Sejak subuh, kucoba hubungi ponselmu, sms, bbm, tak ada jawaban. Siang pun begitu. Kulakukan tugas seperti biasa, semoga tak terjadi sesuatu yang buruk denganmu, doaku dalam hati.

Adzan isya baru terdengar saat motorku sampai di depan rumah. Aktivitas seharian Semarang-Demak benar-benar menguras energiku. Dinginnya air mandi menyegarkan tubuh. Bungsu yang seharian tak ketemu ibunya pun nggelendot minta ditemani tidur.

Mataku masih terasa berat saat si sulung memberitahukan ada telpon untukku, ternyata dari adikmu.

"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un, Bu, Mbak Titin meninggal ...," katanya menyentak pikirannku.

"Mbak Titin siapa? Ini Mbak Titin," jawabku mencari kejelasan.

"Mbak Titinku, Bu. Tadi perdarahan, habis operasi caesar ...," jawabnya lagi diikuti suara isakan. Darahku benar-benar tersirap.

Malam itu juga kupacu motor ke kediamanmu. Ambulance baru saja tiba membawamu. Kau begitu terlihat pasrah dan ikhlas, senyum tersungging di bibir yang pucat membiru.

"Bagaimana bayinya?" tanyaku pada Mila, adikmu.

"Bayinya perempuan, sehat, 3,3 kg. Mbak Titin sempat melihat dan menciumi bayinya kok. Dia bilang, "titip anakku ya, Nok. Tolong dibantu mengasuh sampai dia besar."

Orang-orang mulai pergi meninggalkan pusaramu. Suami dan dua putramu masih terduduk di sana. Mereka terlihat ikhlas, walau mereka juga tahu ada unsur keteledoran dari pihak rumah sakit.

"Njenengan tidak menuntut pihak rumah sakit?" tanya teman-teman pada suamimu.

"Apa itu bisa mengembalikannya seperti sedia kala?" dia balik bertanya.

"Njenengan benar, ini bagian dari takdir Allah. Ikhlaskan saja, in syaa Allah, dia husnul khotimah," kataku tercekat.

"Tolong, Bu. Apa yang sudah njenengan mulai dengan istri saya, jangan dihentikan. Dia pasti berharap, njenengan bisa menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya. Saya mohon," katanya.

Kupandang suami dan anak-anakmu berganti-ganti. Ada banyak harapan di sana, dan terlukis wajahmu sedang tersenyum di sana. Hatiku bergemuruh. Bagaimana pun, engkau sahabat terbaikku.

"Pergilah, aku ikhlas. Selamanya kita akan tetap jadi saudara," gumamku lirih. Kutinggalkan area pemakaman dengan lunglai, serasa ada sebagian anggota tubuhku yang tertinggal di sana.

#Demak, 22062015

Kumohon pada-Mu


Tema: Lepaskan aku dari dendamku
Judul: Kumohon Pada-Mu
Oleh: Titien SDF

Hari-hari bergulir tanpa berhenti
Tlah kulahap segala muak dan caci
Menggunungkan dendam nan tinggi
Membendung, melautkan benci

Asaku bagai pulau kecil terpencil
Terkungkung samudra iri dengki
Dan nuraniku semakin terkucil
Letih lunglai mencari jalan kembali

Kumohon pada-Mu ya Robbi
Berikan saja tsunami
Robohkan gunung kesumat ini
Agar segenap nyeri membanjir pergi

Payungi aku ya Illahi
Dengan cahaya nan tak bertepi
Agar nurani hidup kembali
Berseri suci di ramadhan ini
#Demak, 20062015

Rintihan hati Nuning

RINTIHAN HATI NUNING

Mendung bergayut di bumi Banjarnegara. Beberapa kilo dari Bukit Karangkobar, sebuah perkampungan mulai terlihat ramai. Bencana longsor di akhir tahun lalu masih menyisakan duka. Warga mulai mengelola lahan bekas longsoran yang sudah memadat. Mereka mencangkuli dan menanaminya dengan sayur-sayuran dan palawija.

Nuning termangu memandang Bukit Karangkobar. Juga kawasan Hutan Tlogolele di sekitarnya. Ingatannya menerawang jauh ke masa-masa lalu, saat suami dan ketiga anaknya masih bersamanya.

"Mak, Isah mau belajar puasa," kata anak ketiganya usai Sholat Idhul Adha tahun lalu.

"Pinter," sahut suaminya sambil menjentik ujung hidung Isah, "Isah kan sudah kelas satu SD."

"Nanti belajar puasa dhuhur dulu," sahut Mila, kakaknya.

"Iya, seminggu puasa dhuhur, lalu belajar puasa sampai ashar seminggu juga. Habis itu latihan puasa sampai maghrib," sahut sulungnya, Sofiyah.

"Pinter semua, ramadhan tahun depan Isah bisa mulai belajar puasa. Emak sama Bapak seneng sekali," sahut Nuning pula. Senyumnya mengembang melihat kepolosan tiga orang putrinya.

Alhamdulillah, ya Allah, Kau karuniakan kami putri-putri penyejuk hati. Semoga Kaugenapkan kami dengan putra keempat yang sholih dan menyholihkan, pinta Nuning dalam hati. Diusapnya perutnya yang membuncit, usia kandungannya sudah masuk bulan ke enam kini.

Nuning menyeka bulir-bulir air mata yang tak bisa ditahannya. Dua minggu lagi ramadhan, bulan yang sangat diimpikannya dahulu. Menyiapkan sahur dan berbuka untuk suami dan anak-anaknya. Menemani mereka tarawih di masjid, tadarus bersama, atau sekedar menghias rumah seperti yang biasa dilakukannya saat ramadhan. Tapi semua hanya impian yang harus dia lupakan. Impian yang tak mungkin dia kejar.

Hujan tak begitu deras waktu itu. Suaminya masih menyempatkan mencari kayu bakar di kawasan Hutan Tlogolele. Mereka memang masih memanfaatkan ranting-ranting kayu kering yang banyak terdapat di hutan. Untuk persediaan bilamana gas sulit didapat. Nuning sama sekali tak punya firasat buruk. Dia pun mengiyakan saja saat ketiga putrinya merengek ingin ikut sang ayah.

"Tak apa-apa, Mak. Ini cuma gerimis. Biar mereka belajar membantu mencari kayu bakar," sahut Kang Asep, suaminya, "kalau bareng-bareng, pasti cepat selesai."

Mereka belum dua jam meninggalkan rumah, saat Nuning mendengar suara gemuruh dari arah Bukit Karangkobar. Nuning bergegas lari keluar rumah. Senyumnya mengembang saat melihat suami dan ketiga putrinya sudah mulai terlihat dari teras rumah.

"Lekas pulang, Kang! Anak-anak! Sepertinya akan ada longsor!" teriaknya keras-keras.

Nuning baru selesai bicara, Bukit Karangkobar bergemuruh terpatah. Petir menyambar secepat kilat, air bagai ditumpahkan selautan dari atas langit. Teriakan bersahut-sahutan, suaranya tertelan air bah yang meluncur cepat, membawa gumpalan lumpur dan segala dari atas bukit. Menyapu semua yang ada.

"Kang Aseeep!!!" teriak Nuning panik. Di depan matanya air bah bercampur lumpur menggulung suami dan ketiga buah hatinya. Kakinya berlari menghampiri mereka, tak ayal dia pun ikut tergulung di dalamnya.

Tuhan, selamatkan kami. Demi bayi tak berdosa dalam rahimku ini, ya Allah, selamatkan kami, jerit hatinya berulang-ulang.

Nuning serasa terpendam dalam rawa hitam pekat, diayunkannya kaki dan tangan sekuat tenaga. Sambil tak henti berdoa, dia berenang dalam lumpur. Tak dihiraukannya rasa sakit yang mencengkeram perutnya. Allahu akbar, selamatkan kami, ya Allah. Selamatkan keluargaku, pintanya terus menerus. Entah sudah berapa lama, tiba-tiba seperti ada yang menuntun tangannya untuk meraih batang pohon yang tumbang. Dipegangnya erat, dikumpulkanya tenaga untuk naik di atasnya.

Nuning mengusap wajahnya yang berlumpur, dibukanya mata lebar-lebar melihat sekelilingnya. Hanya sepi, tak ada sesiapa. Tak ada suami dan buah hatinya. Hanya lumpur yang menggenang, dan kampungnya telah hilang binasa.

"Ada orang di tengah rawa!" terdengar orang-orang riuh berdatangan. Nuning sempat melihat mereka sekilas, untuk kemudian tak sadarkan diri. Tahu-tahu dirinya sudah berada di rumah sakit, dan bayinya sudah terbaring di sampingnya.

"Di mana suami dan anak-anak saya, dokter?" tanya Nuning pada setiap petugas yang mendekat.

"Yang terpenting sekarang, memulihkan kondisi Ibu. Kita akan bantu sebisa kami. Mereka tentu juga sedang mencari Ibu. Yang sabar ya, Bu. Ada banyak orang yang seperti Ibu," hibur mereka. Dan Nuning terus menunggu, seminggu, sebulan ..., mereka seperti hilang ditelan bumi. Hingga Nuning pulih, mereka tetap tak kembali.

"Ikhlaskan mereka, Bu Ning. Fokus pada dedek bayi. Mungkin Allah punya rencana lain, "tutur Mbak Menik, relawan yang menyediakan rumahnya untuk penampungan sementara.

Nuning masih menatap nanar Bukit Karangkobar. Bukit itu kini tak setegar dulu. Bayang-bayang suami dan putri-putrinya seolah berlarian di sana.

"Oaaa ... oaaa ... oaaa ...."

Nuning menyeka bulir-bulir air matanya. Suara tangisan si Asep kecil membangunkannya dari lamunan. Bocah enam bulan itu sudah bangun dari lelap rupanya.

"Ya, sayang," sahut Nuning sambil berlari. Diangkatnya si kecil dari ayunan. Digendong dan disusuinya dengan penuh kasih. Bagaimanapun, kehadirannya harus disyukuri.

"Em ... mam ... mam ...," celoteh si kecil dengan lucunya. Nuning menjentik hidung mungilnya.

"Tak apa, sayang. Emak masih punya kamu. Kau masih punya Emak. Dan kita, masih punya Allah. Dia tak akan menelantarkan kita, sayang," gumamnya pada si kecil.

Asep kecil menghentikan isapannya, menatap ibunya lekat-lekat, lalu dimasukkannya tangan mungilnya dalam mulut ibunya. Nuning menangkap tangan mungilnya, dan mengusap kepalanya lembut. Dibawanya si kecil keluar rumah. Rumah yang sudah ditempatinya sejak empat bulan lalu. Rumah sederhana yang dibangun dari kebaikan penduduk desa dan bantuan dari pemerintah Kabupaten Banjarnegara. Memang tak sebesar rumahnya dulu, tapi cukuplah untuk berteduh dia dan bayinya.

"Lihat, sayang. Bapak dan kakak-kakakmu melambai di sana. Mereka mengingatkan kita. Ramadhan sudah dekat. Mereka menunggu kiriman doa-doa kita. Kalau Emak puasa nanti, Asep jangan rewel ya," gumam Nuning pada bayinya. Anak itu tertawa-tawa seolah mengiyakan perkataan ibunya. Setidaknya, tawanya menepis sedikit duka yang masih menyelimuti hati Nuning. Duka karena kehilangan suami dan tiga buah hatinya.

#Demak, 04062015

Pergilah, aku ikhlas

Judul: Pergilah, Aku Ikhlas
Oleh: Titien SDF

Aku masih termenung menatap gundukan tanah. Merahnya masih basah berselimut hamparan kembang tujuh rupa. Aku masih tak percaya, dirimu terbaring di dalamnya.

Ingatanku melayang tiga tahun lalu, saat pertemuan pertama denganmu. Kau terlihat begitu dingin dan kaku mendampingi suamimu, nyaris tanpa suara.

Beberapa lama mengenalmu, gunung es itu mulai mencair. Nama panggilan kita kebetulan sama, kesukaan kita pun tak jauh berbeda. Tapi kau terlihat jauh lebih dewasa dari usiamu yang lima tahun di bawahku. Kepergian ibumu menjadi TKI membuatmu harus bersikap sebagai ibu untuk keempat adikmu. Itu mungkin yang membuatmu lebih dewasa.

Kita pun sering bersama mengurus segala sesuatu, kau sebagai istri kepala desa dan aku sebagai istri aleg. Kita juga sepakat untuk memajukan perekonomian desa kita, membina dan mendampingi tumbuhnya kelompok usaha bersama ibu-ibu PKK di desa kita. Dua tahun ini semua berjalan begitu baik.

"Bu, mulai bulan ini njenengan yang menghandle tugas-tugas saya. Saya percaya, njenengan lebih bisa," begitu katamu tiga bulan lalu.

"Kenapa Bu? Njenengan kan ndak ke mana-mana," tanyaku.

"Aku sudah letih. Mau menikmati kehamilanku. Lagi pula, ndak akan berpengaruh banyak kok. Kita kan sama-sama Titin. Njenengan sudah lebih dulu berkecimpung ngurusi orang banyak. Jadi, akan mudah bila cuma ngurusi PKK desa dan kecamatan. Tolong ya, jangan menolak," pintamu.

"Baiklah, aku tahu njenengan pasti sangat menanti kehadiran si kecil setelah beberapa kali keguguran. Aku mau bantu, tapi jangan putus komunikasi denganku," pintaku.

Engkau pun mengangguk. Dan hari-hari selanjutnya kulalui dengan ikhlas. Beban tanggungjawab yang kaupikulkan menambah sederet bebanku sendiri. Namun semua terasa ringan dengan komunikasi yang kita bangun. Walau waktu terasa begitu cepat berjalan, aku berharap engkau dapat segera menimang si kecil yang sangat kauidam-idamkan.

"Impian terakhirku adalah mempersembahkan seorang putri bagi suamiku," katamu waktu itu.

Aku hanya tergugu mendengarnya. Setelah apa yang banyak dia lakukan padamu, engkau selalu memaafkan dan memberi yang terbaik baginya. Terkadang aku kesal dengan sikapmu. Aku sangat tahu, sifat suamimu yang kurang menghargai perempuan dan suka mencari kesenangan sendiri. Harusnya laki-laki yang suka menyakiti hati istrinya itu diberi pelajaran. Tapi tidak, engkau memang istri sholihah. Dan kami, teman-temanmu, hanya menyimpan bara kekesalan pada suamimu dan kekaguman padamu

Aku masih bergulat dengan tugas-tugas yang menggunung ditemani sms dan bbm darimu. Juga teman-teman kita. Sesekali terdengar suaramu renyah menyapaku via telepon.

"Tak usah sering-sering ke rumah melihat keadaanku. Tugasmu sudah numpuk. Aku bisa jaga diri kok, entar aku laporan tiap hari wes," katamu beberapa minggu lalu. Jelas terlihat, wajah ayumu begitu pucat dan terlihat lelah.

"Bener ya, kalau ada sesuatu cepat hubungi aku," jawabku waktu itu.

Aku masih berusaha tenang saat memimpin acara-acara yang seharusnya kaupimpin. Menyelesaikan apa yang seharusnya kauselesaikan. Juga saat banyak yang menanyakanmu. Kujawab kalau dirimu baik-baik saja

Lalu kau mulai mengacuhkanku, saat anak sulungmu dirawat di rumah sakit. Tak ada kabar yang kuterima, sms dan bbm pun tak kaubalas. Nekat, kucari kalian dan kutemukan, alhamdulillah.

"Maaf, aku ndak ingin terlalu merepotkanmu. Lagi pula aku baik-baik saja," katamu, "berhentilah mencemaskanku. Aku sudah lelah, ingin istirahat saja."

Bagaimana mungkin aku tidak cemas. Tidak, kau terlalu baik dan terlalu berharga untuk diacuhkan begitu saja. Apa kau tak sadar? Kami semua merindukan saat-saat bersamamu? Dan kemudian, tak ada lagi sms dan bbm darimu.

Hari itu tanggal 11 Juni, tanggal perkiraan lahirnya bayimu. Sejak subuh, kucoba hubungi ponselmu, sms, bbm, tak ada jawaban. Siang pun begitu. Kulakukan tugas seperti biasa, semoga tak terjadi sesuatu yang buruk denganmu, doaku dalam hati.

Adzan isya baru terdengar saat motorku sampai di depan rumah. Aktivitas seharian Semarang-Demak benar-benar menguras energiku. Dinginnya air mandi menyegarkan tubuh. Bungsu yang seharian tak ketemu ibunya pun nggelendot minta ditemani tidur.

Mataku masih terasa berat saat si sulung memberitahukan ada telpon untukku, ternyata dari adikmu.

"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un, Bu, Mbak Titin meninggal ...," katanya menyentak pikirannku.

"Mbak Titin siapa? Ini Mbak Titin," jawabku mencari kejelasan.

"Mbak Titinku, Bu. Tadi perdarahan, habis operasi caesar ...," jawabnya lagi diikuti suara isakan. Darahku benar-benar tersirap.

Malam itu juga kupacu motor ke kediamanmu. Ambulance baru saja tiba membawamu. Kau begitu terlihat pasrah dan ikhlas, senyum tersungging di bibir yang pucat membiru.

"Bagaimana bayinya?" tanyaku pada Mila, adikmu.

"Bayinya perempuan, sehat, 3,3 kg. Mbak Titin sempat melihat dan menciumi bayinya kok. Dia bilang, "titip anakku ya, Nok. Tolong dibantu mengasuh sampai dia besar."

Orang-orang mulai pergi meninggalkan pusaramu. Suami dan dua putramu masih terduduk di sana. Mereka terlihat ikhlas, walau mereka juga tahu ada unsur keteledoran dari pihak rumah sakit.

"Njenengan tidak menuntut pihak rumah sakit?" tanya teman-teman pada suamimu.

"Apa itu bisa mengembalikannya seperti sedia kala?" dia balik bertanya.

"Njenengan benar, ini bagian dari takdir Allah. Ikhlaskan saja, in syaa Allah, dia husnul khotimah," kataku tercekat.

"Tolong, Bu. Apa yang sudah njenengan mulai dengan istri saya, jangan dihentikan. Dia pasti berharap, njenengan bisa menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya. Saya mohon," katanya.

Kupandang suami dan anak-anakmu berganti-ganti. Ada banyak harapan di sana, dan terlukis wajahmu sedang tersenyum di sana. Hatiku bergemuruh. Bagaimana pun, engkau sahabat terbaikku.

"Pergilah, aku ikhlas. Selamanya kita akan tetap jadi saudara," gumamku lirih. Kutinggalkan area pemakaman dengan lunglai, serasa ada sebagian anggota tubuhku yang tertinggal di sana.

#Demak, 22062015

Syukur

"Syukur"

Malam ini aku sendirian. Menekur di antara pot-pot tanaman di teras samping Mushola Alhikmah. Terkadang, percikan air wudhu beberapa orang yang sedang iktikaf memuncrat mengenai tubuhku. Dinginnya mengusir semua rasa kantuk yang hampir mendekap.

Langit gemerlap penuh bintang. Bulan terkantuk-kantuk memetik kesunyian. Sayup-sayup terdengar lantunan ayat-ayat suci Alqur'an. Begitu merdu, begitu syahdu, begitu menenangkan jiwa-jiwa rindu sepertiku.

Mataku berkeliling, mencari-cari istri tercinta. Biasanya dia selalu setia di sampingku, tapi kali ini entah di mana. Ini pasti karena ulah anak-anak iseng yang suka bermain di teras mushola. Mereka tidak bisa duduk diam mengikuti jamaah sholat tarawih sampai selesai. Biasanya mereka keluar setelah sholat beberapa raka'at, lalu bermain apa saja di teras mushola. Kemudian kembali duduk saat imam membaca doa dan berbalik pulang dengan tergesa-gesa.

Jamaah sholat tarawih sudah usai dari jam sembilan tadi. Hanya tertinggal orang-orang yang tadarusan, tilawah, membaca Alqur'an. Begitu pun majikanku, Haji Sulchan. Usianya yang mungkin sudah tujuh puluhan tahun, tak membuatnya memilih beribadah di rumah. Beliau tak pernah absen dalam setiap kegiatan ramadhan yang diselenggarakan Mushola Alhikmah ini.

Nah, itu dia. Beliau tampak menoleh ke sana kemari, pasti mencari keberadaanku.

"Hoi! Pak Haji! Aku di sini!" teriakku sekeras mungkin.

Pak Haji terus saja berjalan bertelanjang kaki memutari teras mushola, tapi beliau tak juga melihat ke arahku. Tentu saja, anak-anak iseng itu menyembunyikanku di sini. Di antara pot-pot tanaman. Mata tuanya tentu tak melihat keberadaanku.

Aku masih saja berharap seseorang membantunya menemukanku. Tapi sia-sia, kulihat pak haji akhirnya pulang bertelanjang kaki. Dan aku masih di sini, sendirian, tanpa istri dan tanpa pak haji.

Esok harinya, penjaga mushola menemukanku.

"Ah, cuma sebelah. Mungkin sengaja ditinggalkan pemiliknya," gumamnya pelan. Ditentengnya tubuhku dan dimasukkannya ke dalam tong sampah besar di ujung jalan. Aku berusaha meronta, tapi sia-sia. Apalah daya ini.

Kuterima takdirku dengan sedih, setelah sekian lama mengikuti pak haji ke mana pun beliau pergi, aku harus berhenti di sini. Dalam tong sampah yang kotor dan bau. Padahal, biasanya pak haji memakaiku untuk memelihara kakinya agar tetap bersih.

"Kaukah itu, suamiku?"

Eh, itu suara istriku. Di mana dia? Mataku mencari-cari keberadaannya. Kugeser tubuhku sedikit demi sedikit, dan akhirnya ... kutemukan dia. Alhamdulillah, ya Allah.

"Bagaimana kau bisa sampai di sini, istriku?"

"Anak-anak iseng itu melemparkanku sampai jalanan. Seseorang memungutku dan membuangku di sini," jawabnya sedih.

"Oh, pantas. Mereka juga menyembunyikanku di antara pot-pot tanaman. Pagi ini penjaga mushola menemukanku dan membuangku kemari. Awalnya, aku sedih sekali, tapi sekarang sudah agak berkurang karena menemukanmu di sini. Semalaman aku mencarimu."

Percakapan kami terhenti ketika seseorang membuka tutup tong sampah. Aku mengenalinya, dia adalah salah satu anak yang suka iseng di mushola. Matanya berbinar melihat kami.

"Alhamdulillah, akhirnya ketemu. Aku harus segera mengembalikannya pada kakek," katanya riang.

Tangan kecil itu mengangkat  dan membersihkan tubuh kami. Guyuran air dan sabun terasa begitu menyegarkan. Dengan hati-hati, dia mengeringkan tubuh kami dengan lap kering dan memasukkannya dalam kantong plastik. Beberapa lama kami berayun-ayun dalam genggamannya.

"Assalamu'alaikum, kakek. Ihsan membawa sesuatu untukmu." katanya pada seseorang.

Sebuah tangan terjulur ke dalam kantong plastik tempat kami berada. Tangan yang sangat kukenal, tangan Haji Sulchan.

"Subhanallah, Ihsan. Ini kan sandal jepit kakek," katanya gembira. Segembira hatiku bertemu majikanku. Allah memang selalu memberi yang terbaik. Alhamdulillah.

#Demak, 24062015

Kami dai, bukan teroris

#KAMI DAI,  BUKAN TERORIS

Rahman melangkah pasti, menuruni tangga pesawat yang membawanya pulang ke kotanya, Solo. Bandara ini sudah jauh berubah. Lima tahun berada di negeri orang membuatnya tak mengenali arah mata angin. Dilangkahkannya kaki keluar bandara, di sana beberapa taksi berbaris rapi menanti penumpang.

"Hai, assalamu'alaikum, Kak Rahman, sini!" seru seorang gadis melambai ke arahnya.

Rahman menoleh, mencoba mengingat-ingat pemilik suara bergaun panjang biru tua dengan kerudung warna senada.

"Kak Aman! Lupa padaku yah?" kata gadis itu lagi.

Rahman menepuk kepalanya. Bodoh, hanya ada satu orang yang memanggilnya Aman, siapa lagi kalau bukan Muna, adik kandungnya. Wah, sudah dewasa dia rupanya, dulu waktu dia tinggalkan baru lulus SMP. Lima tahun telah mengubahnya menjadi perempuan anggun sedemikian rupa. Pantas, dia hampir tak mengenalinya.

"Wa'alaikum salam, Muna rupanya. Kakak hampir tak mengenalimu, bagaimana kau bisa cepat mengenali kakak?" tanyanya penasaran.

"Kak Aman tak banyak berubah. Dan, cara kakak berjalan itu, Muna hapal sekali," jawab gadis itu tertawa, "abah dan umi memintaku menjemputmu."

"Kau sendirian? Naik apa? Tak baik anak gadis bepergian sendirian," tanya Rahman.

"Kak Aman berlebihan, aku sudah dewasa. Lagi pula, ini tak terlalu jauh dari rumah. Aku bawa mobil abah. Ayo, Kak. Mereka pasti sudah menunggu."

Rahman mengikuti Muna masuk ke dalam mobil. Dibiarkannya Muna memegang kemudi. Sepanjang perjalanan, Rahman mencoba mengingat kembali setiap jalan yang dilewatinya.

Keterlaluan kau, Man. Lima tahun tak pernah pulang. Untung kedua orang tuamu masih hidup, kalau tidak, kau pasti akan menyesal, teriak sebuah suara dalam kepalanya.

Itu karena penduduk kampungnya sebagian besar masih menganut aliran kepercayaan. Mereka suka percaya tahayul dan klenik, itu yang tak kusukai, sergah sisi lain batinnya. Beda dengan di Kairo, hidupku dikelilingi orang yang tahu agama. Jadi termotivasi oleh mereka.

"Nak Rahman, setiap muslim punya kewajiban berdakwah. Menyeru pada kebajikan, menyeru pada agama. Maka Allah menjadikan umat manusia itu dengan berbagai macam sifat dan karakter, adat dan budaya. Dan Dia turunkan pengetahuan atas orang-orang yang mau mempergunakan akalnya. Agar mereka senantiasa menyelaraskan kehidupan dunianya dengan bekal akhiratnya. Kau sudah meluluskan kuliahmu. Kau juga sudah mengkhatamkan hapalan qur'anmu. Pulanglah ke negrimu, bantu orang tuamu berdakwah. Lagi pula, mereka pasti sangat merindukanmu."

Kata-kata Ustad Syafiurrahman benar-benar menggores dan menyadarkanku. Seolah baru bangun dari tidur panjang. Padahal abah dan umi yang mengirimku ke sini.

Maafkan Rahman, Abah, Umi. Rahman kurang peduli pada isi hati kalian, keluhnya. Perlahan, bulir air mata menetes jatuh satu-satu di pipinya.

"Kak Aman menangis?" sentuh Muna pada pipinya.

"Kak Rahman ingat abah-umi," jawabnya sekenanya.

Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah. Rahman tersentak melihat bangunan di sisi barat rumahnya tinggal reruntuhan. Bangunan itu dulunya sebuah surau kecil tempat abah dan umi mengajar anak-anak membaca alqur'an.

"Ada apa dengan surau kita, Muna?"

"Ceritanya panjang, Kak. Nanti saja ceritanya, sekarang Kakak temui abah umi dulu. Mereka sudah menunggu."

Rahman mengikuti langkah adiknya. Rumah mereka yang dulu agaknya baru selesai direnovasi. Abah dan umi ternyata sudah menunggu di ruang tamu.

"Assalamu'alaikum Rahman, bagaimana kabarmu lima tahun ini," sambut Umi memeluknya. Wajah teduh itu terlihat begitu tua dan lelah.

Rahman mencium tangan umi dan abah bergantian seraya berkata, "maafkan Rahman, Umi, Abah, Rahman terlalu sibuk dengan diri sendiri sehingga lupa memberi kabar. Alhamdulillah, kuliah Rahman sudah selesai, hapalan qur'an Rahman juga sudah khatam."

"Alhamdulillah, barokallah ya, Nak," kata abah mengelus kepala Rahman.

"Apa yang terjadi dengan surau kita, Abah, Umi?" tanya Rahman penasaran.

"Abah juga kurang mengerti, Nak. Dua tahun lalu, teman SMAmu, Umar, berkunjung ke sini. Dia kasihan melihat Abah, Umi dan adikmu mengajar anak-anak  baca tulis alqur'an. Dia pun datang bersama teman-temannya menawarkan bantuan. Mereka memoles surau kita hingga terlihat lebih baik dari sebelumnya. Mereka membantu mengajar anak-anak tanpa dibayar. Kalau dulu hanya beberapa anak yang mau belajar, sejak kedatangan Umar dan teman-temannya, mereka terus bertambah. Dalam sekejap, surau kita menjadi begitu hidup. Tak hanya itu, mereka juga menggelar pengajian umum setiap Jumat malam. Abah dan Umi sangat senang. Rasanya seperti mimpi. Maka, Abah sediakan kamar untuk mereka menginap di sini...."

"Lalu mengapa sekarang tinggal puing, Abah?" sela Rahman. Muna menarik tangan kakaknya, memberi isyarat agar dia bersabar mendengarkan cerita abah.

"Lalu ... tiba-tiba saja orang kampung seberang datang bersama beberapa orang polisi merobohkan surau kita. Mereka bilang surau kita dijadikan markas teroris. Entahlah, fitnah keji itu datang dari mana, Abah tidak tahu. Yang Abah tahu, apa yang selama ini temanmu lakukan itu hanya berdakwah. Amar ma'ruf nahy munkar. Mengajak kepada kebaikan, mencegah kepada maksiyat, mengajak menjauhi bid'ah, tahayul dan khurafat," sambung abah lagi.

"Ada yang merasa terganggu dengan kegiatan kami, Kak. Yang pasti, sejak kajian dihidupkan, jumlah pemabuk dan pezina di kampung ini menurun drastis. Kami bersyukur, tapi rupanya ada ujian yang lain. Rupanya masih banyak yang merasa terganggu dengan kegiatan kami. Mereka memanfaatkan isu terorisme untuk memfitnah kami. Kebetulan, salah satu teman Mas Umar jebolan Pondok Pesantren Ngruki, milik Ustad Abu Bakar Ba'asyir. Sudah menjadi rahasia umum kalau beliau dan wajihah yang dipegangnya didiskreditkan dan dianggap ada hubungannya dengan kegiatan terorisme. Jadilah mereka disangkut-pautkan dengannya. Apalagi penampilan Mas Umar dan teman-temannya kayak Kak Aman," kata Muna menambahkan.

"Maksudmu?" tanya Rahman heran.

"Bercambang, berkumis dan berjenggot, celananya cingkrang kayak tukang sate madura," jawab Muna lagi.

"Ini sunnah nabi lho. Eh, kelanjutannya bagaimana?"

"Saat rame-rame ada isu teroris masuk ke kampung kita, delapan bulan lalu, surau kita didatangi polisi. Mereka diikuti oleh tukang pukul-tukang pukul pemilik pabrik miras, pemilik lokalisasi dan juga orang-orang yang suka nyambi jadi dukun atau paranormal. Warga sekitar tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah, mereka takut dianggap melindungi teroris. Rumah kita pun sebagian ikut dirobohkan. Umar dan teman-temannya ikut dibawa ke kantor polisi ...."

"Jadi Umar dan teman-temannya  ...?"

"Satu minggu kemudian, mereka dilepas, karena tidak terbukti menjadi anggota jaringan teroris. Tapi surau ini sudah tinggal puing. Rumah kita pun sebagian ikut hancur ...," jelas umi dengan mata berkaca-kaca.

"Sudahlah, Mi. Ini sudah digariskan Allah," sela abah. Kemudian beliau melanjutkan ceritanya, "mereka datang ke sini meminta maaf. Mereka menawarkan untuk memperbaiki surau dan rumah kita."

"Abah menyetujuinya?" tanya Rahman.

Abah menggeleng pelan, "Abah tak sampai hati. Bukan salah mereka. Mereka pun mengumpulkan warga untuk bergotong royong memperbaiki rumah kita hingga jadi seperti ini. Tapi Abah melarang mereka mendirikan surau itu kembali."

"Mengapa, Abah? Rahman tidak mengerti ...."

"Itu tugasmu, Rahman. Kau yang harus mendirikannya dan menghidupkannya lagi. Abah yakin, kamu bisa. Dengan ilmu pengetahuan yang kaumiliki, kamu pasti bisa. Kami semua akan membantumu."

Abah bangkit dari tempat duduknya, menatap lekat bola mata Rahman dan menepuk-nepuk pundaknya. Ada banyak harapan di sana. Harapan yang disusunnya selama lima tahun ini, dengan menepiskan segala kerinduan yang terkurung rapat di relung hatinya. Rindu dan harapan akan masa depan anak keturunannya kelak.

"Assalamu'alaikum ...."

Rahman menoleh ke arah pintu. Terlihat lima orang pemuda berdiri di sana dengan santun. Satu yang dikenalinya adalah Umar, sahabatnya semasa SMA.

"Wa'alaikum salam, kau ... Umar?" tanya Rahman ingin memastikan.

"Rahman! Kau sudah kembali?" Umar menghambur memeluk sahabatnya. Kedua sahabat itu saling memeluk erat dan menumpahkan rindu.

"Jazakumullah khoiron katsiro sobat, kau telah menjaga keluargaku selama aku tak ada," bisik Rahman di telinga Umar.

"Syukron billah, mereka sudah seperti keluargaku sendiri, Man."

Umar melepaskan pelukannya kemudian memperkenalkan teman-temannya satu per satu, "oh ya, kenalkan, Man. Ini Musa, Ismail, Ahmeed dan Udin. Kita siap membantumu menyelesaikan tugas."

"Tugas? Tugas apa?" Rahman mengerutkan kening, tidak mengerti.

"Tugas dari abahmu. Tugas untuk mendirikan dan menghidupkan surau ini lagi."

"Kamu tahu?"

"Kan, Abah yang bilang tadi ...," jawab Umar santai.

"Kau tidak takut kejadian yang lalu terulang lagi?" tantang Rahman.

"Justru itu, kami ingin membuktikan pada semua bahwa kami da'i bukan teroris," jawab Umar dan teman-temannya mantap.

Suasana mendadak hening, semua larut dengan perasaannya masing-masing. Sejurus kemudian ....

"Baik, kita buktikan pada semua, kita adalah da'i bukan teroris, kita membangun kebaikan bukan merusak tatanan kehidupan," jawab Rahman kemudian.

"Allahu akbar, Rahman ..., ini  baru anak Abah dan Umi," sambut Abah dan Umi gembira, "mudahkanlah kami, ya Allah. Aamiin."

#Demak, 24062015

Sabtu, 06 Juni 2015

Serpihan Asa

Judul : Serpihan Asa
Oleh : Titien SDF
Malam begitu tenang berjalan
Kesiur angin pun tak bisa mengusir rembulan
Sinarnya menari ditemani bintang berkelipan
Melagukan nina bobok 'tuk semua insan

Entah mengapa mata ini enggan terpejam
Rasaku berlarian tak hendak diam
Menggulana, simpan bara dalam sekam
"Adakah jawaban?" tanyaku muram

Ya Rabb, aku menyungkurkan kepala
Menjual diri segenap jiwa dan raga
Untuk cinta-Mu nan kudamba
Cinta yang mematikan luka

Ya Rabb, aku menapaki jalan-Mu
Acuhkan onak, duri dan sembilu
Dan ku terus berlari menuju ampunan-Mu
Berharap Kaurengkuh segenap rinduku

#demak, 05062015

Alif


Judul : Alif
Oleh  : Titien SDF

Aku melihat Alif
Terlukis pada batang-batang pohon peneduh
Tersemat pada tangkai-tangkai bunga berputik peluh
Terukir di atas dedaun hingga luruh
Menggoyangkan rerumput :debu pun menjauh

Aku menatap Alif
Menyelusup di setiap yang tercipta
Di langit, di bumi dan antara keduanya
Terkadang menghardikku keras dan nyata
Acapkali menyentuh halus buat aku terpana

Aku membaca Alif
Nama-Mu yang Maha Satu
Kusungkurkan kepala bersujud pada-Mu
Berharap Kautuntaskan rinduku
Mendekapnya dalam kasih-sayang-Mu
:mudahkanlah jalan untuk bertemu
:agar dapat kunikmati wajah-Mu
Ya Robbii,  peluk aku dalam rahmat-Mu

#Demak, 03052015
Catatan: Alif:huruf alif, huruf awal pada lafal Allah, bisa diartikan satu, atau Allah sebagai Sang Maha Satu.