.
PENGORBANAN SEORANG IBU
Aku mengelus-elus perut. Hari ini kandunganku genap berusia delapan bulan, berarti tak lama lagi anak pertamaku akan segera lahir. Aku dan Mas Anto sudah menyiapkan beberapa nama, untuk bayi laki-laki dan perempuan. Kami memang belum tahu jenis kelaminnya, aku menolak diUSG walaupun mendapatkan fasitas gratis di RS tempatku bekerja. Biar surprise, laki-laki atau perempuan sama saja, toh selama ini kandunganku baik-baik saja.
Setahun ini aku ditugaskan di Ruang Kebidanan setelah tiga tahun sebelumnya bertugas di Ruang ICU. Praktis, aku sudah biasa melayani pasien yang akan melahirkan sehingga tidak kawatir. Kami telah menyiapkan baju-baju dan perlengkapan bayi lainnya.
Siang itu, seorang pasien masuk dengan diagnosa G2P1A0, 32 tahun, usia kehamilan 36 minggu, gemeli, bekas sc. Aku segera memeriksanya.
"Bukaan 4, ketuban masih utuh, satu letak kepala, satu sungsang, kepala sudah turun, djj jelas, " kataku pada Bu Woro, bidan seniorku.
" Sipp," sahut Bu Woro," tapi pasien minta diusahakan partus normal. Tolong kau konsulkan ke dokternya Wi," katanya lagi.
Aku segera menghubungi dr Risty, kebetulan beliau sudah selesai dengan praktek siangnya sehingga bisa langsung datang ke ruangan.
"Oke, kita upayakan normal dulu. Bayinya tidak besar kok, insya Allah bisa. Anak pertama sudah empat tahun kan," kata dr Risty setelah memeriksa keadaan pasien.
"Mbak, kayaknya sudah bukaan 7 nih, siapkan alat-alatnya sekarang ya," katanya lagi.
Kami pun segera menyiapkan alat-alat dan mulai membantu persalinan. Alhamdulillah, Bu Kamila, pasien itu, tidak termasuk pasien yang rewel. Bibirnya tak henti-henti berdzikir. Kami pun bisa bekerja dengan tenang.
Memang, ada sebagian ibu yang terus menangis dan berteriak-teriak selama proses persalinan, dan yang begini kami rasa agak mengganggu. Terkadang, teman-teman yang kurang sabar sampai berkata," istighfar to bu, bikinnya aja ketawa-ketawa kok sesudah jadi, tinggal ngeluarin aja pake teriak-teriak."
Tak sampai 30 menit bayi pertama pun lahir, seorang bayi perempuan, lengkap dan sehat. Tangisnya nyaring sekali. Kami sedikit lega, Bu Woro segera menyerahkannya pada Mbak Marni untuk dibersihkan. Tinggal satu bayi lagi.
Aku memberi minum Bu Kamila, memberi sedikit waktu baginya untuk memulihkan tenaganya. Dia meminumnya sedikit dan melanjutkan dzikirnya. Dr Risty melakukan palpasi di perutnya untuk mengetahui posisi bayi yang kedua.
"Subhanallah, posisinya berbalik," serunya tertahan," sekarang kepalanya sudah mulai turun."
Sepuluh menit kemudian bayi perempuan yang kedua lahir, lengkap dan sejat pula. Tangisnya tak kalah keras dari yang pertama. Tak berapa lama placentanya pun keluar. Alhamdulillah, ibu dan bayinya selamat.
"Alhamdulillah," desisku lega. Sejujurnya, aku ikut tegang selama proses persalinan. Perutku mengeras karena kontraksi. Mungkin bayiku juga merasakan ketegangan yang sama, kuelus-elus perutku untuk menenangkannya.
Kejadian itu sangat membekas di hatiku, menenangkan hatiku menghadapi kelahiran bayiku yang semakin dekat.
#####
Seminggu kemudian...
Saat itu pukul sembilan malam. Aku dan Mas Anto sedang asyik menonton TV di rumah. Kami suka acara 'dagelan' Semar, Gareng, Petruk. Mereka bertiga sukses mengocok perut kami. Perutku sampai keras sekali dibuatnya.
"Yang, ambilkan minum dong. Kering nih," pinta suamiku manja.
Aku segera bangun. Tapi, apa ini, pikirku. Aku tidak merasa buang air kecil, tetapi mengapa banyak sekali air yang keluar dari bawah perutku. Kiranya ketubanku telah pecah. Bajuku basah semua. Mas Anto panik.
"Kamu kenapa Yang?," tanyanya kebingungan.
"Mungkin sudah waktunya Mas," kataku. Aku bergegas mengganti bajuku yang basah kuyup dan memberitahu Ibu di kamarnya. Memang, sejak 4 bulan lalu kami memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuaku supaya bisa membantu Ibu merawat Bapak yang terkena Gagal Ginjal Akut. Alhamdulillah sekarang Bapak sudah membaik, sudah bisa turun dari tempat tidur dan ke kamar mandi sendiri.
Mas Anto segera memesan taksi. Ibu membawakan tas yang sudah kupersiapkan sejak seminggu yang lalu. Malam itu juga aku berangkat ke RS ditemani suami dan ibuku. Aku belum merasakan sakit sedikitpun.
Perjalanan ke RS hanya memakan waktu 20 menit dari rumah. Teman-teman menyambutku dengan canda. Aku menolak duduk di kursi roda dan memilih jalan sendiri sampai ruangan. Bu Woro dan Bu Wahyu menyambutku sambil tersenyum.
"Ndak takut kan, Dewi. Ndak apa-apa kok, ingat Bu Kamila?," tanya Bu Woro.
Kulukis sebentuk senyum di bibirku," ya, Dewi ingat kok. Insya Allah Dewi bisa," kataku kemudian.
"Bapak dan Ibu keluar sebentar ya, kami mau periksa Dewi dulu," kata Bu Wahyu pada suami dan ibuku. Mereka pun segera keluar ruangan.
"Gimana Wi, sudah mulai sering kontraksi? Tiap berapa menit?," tanya Bu Wahyu sambil melakukan palpasi di atas perutku.
"Ehm...belum sering sih Bu, kira-kira tiap seperempat jam," jawabku sambil mengingat-ingat berapa kali tadi sudah kontraksi.
" Kepalanya masih tinggi nih, belum turun," katanya.
"VT dulu ya Wi," kata Bu Wahyu.
Aku mengangguk, menekuk kedua kakiku dan membukanya lebar-lebar.
"Baru bukaan dua, ketuban sudah pecah, kepala belum turun," katanya lagi.
Bu Woro mengambil vetalphone, mengoleskan jelly di atas perutku dan mulai memainkan sticknya mencari letak denyut jantung bayiku. Terdengar suara detaknya olehku, aku lega, bayiku baik- baik saja.
"Masih lama Wi. Jangan turun dulu, nanti ketubanmu habis. Biar kupanggilkan suami dan ibumu. Kalau sudah mulai sering kontraksi bilang ya. Kami mau melihat keadaan para bayi dulu," pamit Bu Woro.
Hatiku mulai dag dig dug.
Suami dan ibuku pun masuk. Ibu banyak bercerita tentang saat-saat beliau melahirkan aku dan adik-adikku. Semua berjalan normal dan baik-baik saja. Tentunya beliau ingin menenangkanku agar tidak terlalu tegang.
Mas Anto menghiburku dengan cerita-cerita lucu sehingga membuatku ingin tertawa walau perutku mulai mengencang, punggungku terasa pegal-pegal.Kugigit bibirku, berusaha menahan semua kesakitan yang kurasakan. Ibu memintaku berbaring miring, beliau memijat-mijat punggungku dengan lembut. Itu sedikit mengurangi rasa sakitku. Mas Anto berhenti bercerita, digenggamnya tanganku erat-erat seolah ingin menyalurkan kekuatannya padaku.
Jam dinding menunjukkan pukul 02.10 saat Bu Woro dan Bu Wahyu datang untuk memeriksaku kembali. Suami dan ibuku keluar. Gigiku gemeriyut menahan sakit.
"Aku periksa lagi ya Wi," kata Bu Wahyu. Aku mengangguk.
"Baru bukaan tiga. Sebentar, aku konsulkan dr Risty ya Wi kayaknya harus dipacu. Takut ketubannya keburu habis."
Bu Wahyu segera menelpon dr Risty mengabarkan keadaanku.
Tak berapa lama dia sudah membawa infus dan peralatan lainnya. Aku hanya diam saat jarum infus menusuk lenganku. Hatiku mulai ciut, rasa takut mulai merayap. Obat pemacu dimasukkan ke dalam cairan infus yang terpasang di lenganku. Perlahan-lahan rasa sakit di perutku semakin lama semakin bertambah. Ya Robbana, seperti inikah sakit yang dirasakan Ibu saat melahirkanku.
Aku memejamkan mata mencoba berdzikir, namun sakit ini tiada berkurang juga. Bayang-bayang kenakalanku melintas silih berganti. Betapa seringnya aku menyakiti hatinya. Betapa seringnya aku membuatnya menangis. Ampuni aku Ya Allah, aku merasa jadi anak durhaka. Kupanggil Ibu dan suamiku. Kupegang tangan mereka berdua dan meminta maaf atas semua salahku. Ibu memelukku, membuatku agak tenang.
"Ya Robbi, aku sudah minta maaf pada ibuku tapi mengapa sakit ini semakin menjadi, " aku gusar, aku meracau. Suamiku membawakan semangkuk bubur kacang hijau hangat dan memintaku makan, tapi aku tidak merasa lapar.
"Makanlah Wi biar cuma sedikit. Supaya kamu ada tenaga untuk mengejan nanti." Ibu mengulurkan tangannya menyuapiku. Perutku terasa mual, ingin muntah rasanya. Mas Anto menggenggam tanganku erat-erat.
"Dewi ndak kuat Bu."
"Istighfar Wi. Mohon ampun pada Allah. Mohon diberi kekuatan. Berjuanglah Wi, kamu kuat. Kamu pasti bisa." Mas Anto masih menggenggam erat tanganku. Perlahan air matanya menetes satu-satu. Kesadaranku pulih. Ya Robb, bila ini caraMu memanggilku, aku ikhlas. Bila ini caraMu mensucikan dosa-dosaku, aku ikhlas.
"Bu, boleh Dewi minta sesuatu?," tanyaku.
Ibu mengangguk, memandangku sambil berurai air mata.
"Apapun Wi," katanya," andai Ibu bisa menggantikan penderitaanmu, Ibu ikhlas."
"Kalau Dewi harus pergi nanti, tolong sampaikan permintaan maaf Dewi pada Bapak, pada adik-adik dan semuanya." Aku memandang Ibu dan Mas Anto penuh harap. Mereka mengangguk. Perutku serasa diaduk-aduk, semakin lama tak bisa kutahan. Kumuntahkan isi perutku, lagi, lagi dan lagi sampai tak ada lagi yang bisa kumuntahkan. Mulutku terasa pahit, tenagaku habis. Lelah sekali rasanya.
"Mas, aku ingin mendengarkan Surah Yasin. Bisakah Mas bacakan untukku," kataku kemudian. Mas Anto mengangguk, diambilnya Alqur'an yang selalu ada di dalam tasku. Lantunan suaranya merdu membuatku tertidur. Aku serasa ada dalam dunia antara ada dan tiada. Rasanya melayang-layang. Entahlah, aku tak tahu apa yang terjadi, tapi rasa sakit itu hilang lenyap.
Aku masih menikmati kesunyianku yang menyenangkan, tapi...ada suara-suara memanggilku. Begitu dekat di telingaku.
"Wi, Dewi, bangun sayang. Kita periksa lagi ya," kata Bu Wahyu.
Aku mengangguk pelan. Aku tak tahu sejak kapan dia datang. Aku melihat jam dinding, sudah pukul 04.40. Sudah subuh ternyata. Rasa sakit itu datang lagi, lebih hebat dari sebelumnya. Kubiarkan Bu Wahyu memeriksaku.
"Bukaan tujuh Wi. Insya Allah tak lama lagi. Sabar ya," katanya.
Aku mengangguk, badanku terasa lemas.
####
Sementara itu, di mushola RS, jamaah sholat subuh sudah bubar. Hanya tinggal seorang lelaki muda dan perempuan setengah baya. Mereka larut dalam isak tangis, melantunkan doa untuk orang yang dicintai, yang berjuang dalam di antara hidup dan mati untuk melahirkan keturunannya.
Tak berapa lama kemudian, mereka kembali ke dalam ruangan, mencari tahu keadaan orang yang dikasihi.
Dr Risty sudah datang sejak pukul enam tadi. Dewi sudah mulai ingin mengejan.
"Miringkanlah badanmu, tahan dulu, jangan mengejan sekarang. Jalan lahir belum terbuka sempurna. Simpan tenagamu," katanya.
Ya Robbi, berapa lama lagi? Akankah Kau memanggilku pulang atau Kauselamatkan aku dan bayiku? keluhku dalam hati.
Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi, rasanya aku ingin buang air.
.
"Dok," aku mencengkeram lengan dr Risty," aku sudah tidak kuat, aku ingin buang air," kataku sambil menahan sakit.
Dr Risty mengangguk, memeriksaku lalu memberi isyarat. Bu Woro dan Bu Wahyu segera menghampiri dengan seperangkat alat partus. Aku mengerahkan segenap tenagaku. Hhhh..., aku mulai mengejan.
"Ambil nafas sedalam-dalamnya Wi, angkat kepalamu lalu keluarkan." Bu Wahyu mulai memberikan aba-aba.
"Ayo Wi, sedikit lagi. Kepalanya sudah mulai kelihatan," kata Bu Woro pula. Aku mengerahkan segenap tenagaku, sampai tak bersisa, namun bayiku tak keluar juga. Anggota badanku serasa dilepas satu persatu. Aku lelah. Aku pasrah padaMu ya Allah.
"Sepertinya terlilit tali pusat, kalau dia mengejan ujung kepala keluar tapi kalau berhenti kepala masuk lagi. Kita akan coba vacum extraction lebih dulu. Kalau 15 menit tak keluar juga terpaksa sectio.Tolong persiapkan ruang operasi. Salah satu memberitahu keluarganya. Yang lain bantu saya," perintah dr Risty.
Aku merasakan sesuatu dipasang di bagian bawah tubuhku. Aku merasakan kontraksi yang sangat kuat, tapi aku sudah tak punya tenaga untuk mengejan. Kedua mataku terasa berat.
"Wi, Dewi, jangan tidur Wi. Berjuanglah Wi, Ayo Wi, jangan menyia-nyiakan usaha kami Wi." Aku mendengar suara teman-temanku tapi aku benar-benar payah.
"Ayo kita lakukan,' dr Risty memberi aba-aba. Aku masih sadar walaupun tanpa daya. Kulihat Bu Wahyu dan Bu Woro naik ke sisi kanan dan kiri tempat tidurku. Mereka mendorong dari atas perutku sementara dr Risty menarik dari bawah. Kurasakan bayiku keluar pelan-pelan diikuti sesuatu, mungkin placentanya. Namun aku tak mendengar tangisannya. Kalau aku harus kehilangan bayiku, aku ikhlas Ya Allah, bisikku dalam hati.
Bu Woro mengusap kepalaku lembut, sementara yang lain membawa bayiku entah kemana.
"Sudah berakhir," katanya ," istirahatlah Wi. Kau pasti lelah sekali."
Dia memanggil suami dan ibuku setelah selesai membersihkan tubuhku.
Ibu memelukku begitu lama seolah-olah kami telah berpisah begitu lama. Begitu pula Mas Anto.
"Aku takut kehilanganmu Wi," bisiknya di telingaku. Aku menangis haru.
"Anak kita Mas?," tanyaku padanya.
"Anak kita laki-laki, lengkap, sempurna," katanya.
"Tapi aku tak mendengar dia menamgis," kataku tak percaya.
"Dia hidup sayang, hanya sedikit lemah. Biar dokter yang menanganinya. Sekarang, istirahatlah. Kau pasti sangat lelah. Aku dan Ibu akan menunggu di sini."
Aku lega sekali. Perlahan rasa kantuk membawaku pergi ke alam mimpi. Mimpi yang menyenangkan. Sampai sebuah ciuman membangunkanku.
"Sudah sore sayang, si kecil ingin dipeluk nih. Sejak lahir jam sepuluh tadi belum ketemu ibunya," kata Mas Anto sambil meletakkan bayi kami di sampingku. Aku menyentuhnya, indah, sempurna. Aku merasa benar-benar menjadi perempuan. Aku bahagia menjadi seorang ibu, walau harus melalui perjuangan yang amat sangat berat.Aku menatap wajah Ibu, kulihat ada bahagia di sana.
"Terima kasih Bu, Ibu adalah ibu yang terbaik bagiku," kataku sambil mencium tangannya. Ibu balas memelukku penuh haru.
"Boleh gabung ndak nih," protes suamiku.
Aku tersenyum dan mengedipkan mataku. Diciumnya pipiku dengan gemas. Aku berdoa dalam hati, Ya Robbana ampuni dosa kami, jadikanlah pendamping kami dan anak-anak kami sebagai penyejuk hati, berikanlah kebaikan di dunia dan di akhirat dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang shalih. Aamiin.
Semarang, 5 Desember 2014.
catatan kecil:
G2P1A0 : istilah medis, artinya kehamilan kedua, pernah melahirkan satu kali, tidak ada riwayat abortus/keguguran
gemeli : kembar
sc : sectio caesar (tindakan operasi pada persalinan)
djj : detak jantung janin
partus ; melahirkan
palpasi : pemeriksaan dengan cara meraba
vt ; vaginal touche ( pemeriksaan dalam )
vetalphone ; alat untuk mendengarkan detak jantung janin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar