Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Jumat, 09 Januari 2015

bening

.
BENING
Penulis: Titien Sumartini Dwi Fatmasari

Senja baru saja tiba saat Sri sampai di rumah. Diparkirnya motor di halaman rumah mungil nan asri. Serumpun melati dan anggrek tanah tertata rapi, bunganya yang putih berseri seolah tersenyum menyambut sang majikan pulang. Sri menunduk, mengecup kuntum-kuntum melati, merasakan kesegarannya, kemudian bergegas masuk ke dalam.

"Assalamu'alaikum," ucap Sri sambil meletakkan barang belanjaan di atas meja.

"Wa'alaikum salam, horee... Umi sudah pulang," sambut keempat anaknya sambil mencium tangan Sri. Sri membuka belanjaannya, mengeluarkan sebungkus roti tawar dan susu kental manis. Diambilnya selembar, dituangkannya susu dengan hati-hati, diambilnya selembar roti lagi, ditangkupkannya di atasnya.

"Siapa yang mau roti?" tanyanya sambil menyodorkan setangkup roti isi susu. Dibuatnya beberapa tangkup lagi. Senang rasanya melihat anak-anak menyambutnya, berebut menerima oleh-olehnya dan memakannya dengan lahap. Dibantunya si bungsu Hamzah
"memotong-motong roti dan menyuapkan ke mulutnya. Dalam sekejap oleh-olehnya sudah tak bersisa.

"Bulik di mana? Belum pulang kuliah?" tanyanya pada si sulung Fafa. Sudah satu semester ini Yuni, adiknya ikut tinggal bersamanya. Kampusnya memang lebih dekat dijangkau dari rumahnya ketimbang dari rumah Ibu.

"Kata Bulik Yuni tadi, pulang kuliah langsung balik ke rumah Nenek," jawab Fafa.

"Oh... ya sudah," jawab Sri. "Mungkin Bulik lagi ada perlu."

Sri bergegas membereskan rumah dan membersihkan anak-anak. Seperti biasa, dia ingin saat suaminya pulang, rumah dalam kondisi bersih dan tertata rapi.

"Tuuut...tuuut...tuuut," ponsel berdering, terbaca di layar, nama adiknya, Tri.

"Assalamu'alaikum, ada apa Tri?" tanyanya agak cemas. Tadi Yuni langsung pulang ke rumsh Ibu dan sekarang Tri telfon, ada aps dengan Ibu ya, pikirnya.

"Mas Abi dah pulang, Mbak?" tanya duara di seberang.

"Belum, ada apa Tri? Apa Ibu sakit?"

"Ndak kok Mbak. Ini tentang Mas Abi."

"Mas Abi kenapa?" tanya Sri kaget.

"Mbak yang sabar ya. Ibu sama Mas Eko tadi sudah manggil Mas Abi kok."

"Memang ada apa dengan Mas Abi?" Sri semakin bingung.

"Tadi Yuni pulang sambil nangis, katanya semalam Mas Abi mengganggunya."
"Mengganggu bagaimana?"

"Emm... ya... berbuat tidak pantas." Sri dipenuhi kecamuk rasa. Tergambar lagi beberapa peristiwa akhir-akhir ini. Dulu Mas Abi begitu memujanya, hampir tak pernah berkata kasar padanya. Akhir- akhir ini dirasakannya memang berubah, Mas Abi jadi suka menyindirnya. Dengan Yuni, Mas Abi seolah tak punya capek, dia bahkan selalu menawarkan diri untuk membantu mengedit skripsinya, dia jadi agak malas membantu pekerjaan rumahnya. Sri benar-benar kecewa, ditutupnya ponselnya begitu saja.

Malam telah lama datang, anak-anak sudah tidur, Sri tak juga bisa memejamkan mata. Kandungannya yang sudah menginjak usia delapan bulan membuatnya tak nyaman dalam posisi apa saja, apalagi dengan rasa gulana seperti ini. Sri beranjak bangun, dibuatnya dua cangkir kopi panas sambil menunggu suaminya. Bagaimana pun, Mas Abi adalah imamnya, dia merasa harus tetap menghormatinya, apalagi apa yang disampaikanTri belum tentu benar, dia merasa harus mendengar dari mulut Mas Abi sendiri. Karenanya, dia tidak ingin tertidur saat Mas Abi pulang.

Jam menunjukkan pukul dua belas malam saat terdengar ketukan di pintu, dibukanya dan diciumnya tangan orang terkasih itu.

"Mau mandi dulu, Bi? Umi masakkan air ya," tawarnya halus. Mas Abi menggeleng.

"Gak usah, Mi. Biar Abi mandi pakai air dingin saja,"

Sri menunggu suaminya dengan sabar, disiapkannya kopi yang tadi dibuatnya di meja. Digelarnya matras di sampingnya, dibaringkannya badannya di sana.

"Lho, kok tiduran di bawah, Mi? Nanti masuk angin lho, ingat kandunganmu."

Sri hanya diam, hatinya masih sakit,' tega kau Mas, mengkhianatiku, menggoda adik kandungku sendiri, sekarang masih berpura-pura mencemaskanku? Munafik,' jerit hati Sri. Air matanya menetes satu-satu.

"Eh, kok malah nangis?" Mas Abi menghampiri Sri, berbaring di sampingnya dan memeluknya dari belakang.

"Apa yang Mas rasakan saat memeluk Yuni seperti ini, Mas?" akhirnya, keluar juga pertanyaan yang inginditahannya. Mas Abi kaget, dilonggarkannya pelukannya.

"Si...siapa yang bilang? Yuni...?"

"Siapa pun yang bilang, apa bedanya, Mas memang melakukannya kan? Sejauh mana, Mas?"

"Tidak, ini hanya salah paham. Kukira itu dirimu."

"Apa Mas tidak bisa membedakan tidurnya perempuan hamil dan yang bukan? Lagi pula, aku dan Yuni selisih sepuluh tahun, bagaimana mungkin tidak berbeda. Naif sekali kau, Mas."

"Oke, aku salah. Aku melihatnya tidur dengan celana pendek. Aku seperti melihatmu saat seumur dengannya, dan aku khilaf. Aku merangkulnya dari belakang, persis seperti sekarang. Dia terbangun, menoleh dan menampar mukaku. Lalu aku kembali untuk minta maaf, tapi dia malah marah."

"Sampai dua kali, Mas?"

"Tidak, yang kedua aku hanya ingin minta maaf padanya."

Sri diam, hatinya masih sakit, namun dia berusaha percaya pada suaminya. Malam itu ditunaikannya tugasnya dengan hati kosong. Dibiarkannya laki-laki terkasih itu menghapus air matanya yang terus berderai.

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari hampa bagi Sri. Hanya tawa anak-anak yang menghiburnya. Tak ada lagi rasa untuk suaminya, kecuali hanya sekedar menunaikan kewajiban saja.

Usia kandungan Sri pun telah mencukupi waktunya. Entah mengapa, tiba-tiba Mas Abi seperti kesakitan, sebentar-sebentar memegangi perutnya, kemudian punggungnya, mengaduh dan mengerang. Sri pun mengajaknya ke rumah sakit. Mas Abi membawa mobil sambil menahan rasa sakit, kasihan sekali Sri melihatnya. Untunglah, tak berapa lama kemudian mereka sampai di sana. Sri baru saja membuka pintu mobil dan berdiri, tiba-tiba... shorrr... keluar cairan dari bagian bawah Sri, kiranya ketubannya sudah pecah, Sri mau melahirkan. Mas Abi kaget, mendadak rasa sakitnya hilang. Sekarang Sri yang jadi pasien. Tak berapa lama, lahirlah seorang bayi perempuan. Begitu suka cita Mas Abi, diciumnya kening Sri.

"Umi, jangan hukum Abi dengan aksi diammu. Abi tidak tahan. Abi tahu Abi salah, tapi Abi serius ingin memperbaiki, demi kita, demi anak-anak."

Sri memandang wajah sayu itu, berangsu-angsur kemarahannya mencair.Mas Abi benar, semua orang pernah berbuat salah, dan setiap orang berhak diberi kesempatan untuk memperbaiki. Dilihatnya, satu per satu anak-anaknya, bagaimana bisa dia mengurusnya sendirian. Bagaimana mungkin merenggut seorang ayah dari sisi mereka. Dihelanya nafas, dia sudah menemukan jawaban, bebannya kini berkurang seiring dengan pintu maaf yang mulai terbuka. Biarlah waktu yang menyembuhkan lukanya. Disambutnya uluran tangan Mas Abi, diciummya lembut dan diletakkan di dadanya.

"Umi ikhlas, Abi. Abi masih tetap imamku. Ayah dari anak-anakku. Semua orang pernah salah, Umi pun merasa bersalah, karena Umi yang mengusulkan Yuni tinggal dengan kita. Umi lupa, ipar adalah bahaya, karena dia bukan mahram. Jadi, maafkan Umi juga ya."

Hari pun menjadi cerah, satu per satu mendung pun menjauh, meninggalkan semburat cahaya kemerahan di ufuk barat.

"Kunamakan dia Bening, sebening hati ibu yang melahirkannya. Semoga demikian juga dengan persangkaan kita satu sama lain. Karena engkau pakaianku dan aku pakaianmu, 'hunna libasulakum wa antum libasulahunna'." Kata-kata Mas Abi benar-benar meredam hati Sri, memberi ketenangan, menyemaikan harap 'esok kan lebih baik'.

#tamat#
#Demak, 27122014#






Tidak ada komentar:

Posting Komentar