Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Jumat, 30 Januari 2015

selalu ada cahaya

"Selalu Ada Cahaya"

"Apa yang harus kulakukan, Tuhan?" keluh Salsa.

Pagi ini dia melakukan semuanya seperti biasa. Bangun lebih awal, menyiapkan semua perlengkapan yang akan dipakai suami dan anak-anak. Menyiapkan sarapan mereka, dan sejumlah tugas-tugas rumah tangga lainnya. Nyaris sempurna menurutnya, setidaknya ada rasa bahagia melihat semua menghabiskan masakannya dengan lahap tak bersisa.

Anak-anak sudah berangkat bersama ayahnya. Si bungsu masih lelap di kamarnya. Direbahkannya sebentar badan di atas sofa, sedikit mengurai penat sebelum pergi berbelanja sambil menunggu Bungsu terjaga dari tidurnya.

"Tok...tok...tok...."

Terdengar pintu diketuk, Salsa pun bangkit bergegas membuka pintu rumahnya.

"Apa ini rumah Pak Hendra?" tanya seorang bapak kepada Salsa.

"Benar, ada apa ya Pak?" jawabnya sambil balik bertanya.

"Saya hanya mengantarkan tagihan atas nama Pak Hendra. Tolong segera diselesaikan sebelum jatuh temponya. Karena kalau tidak, rumah ini akan kami lelang."

Petir serasa menyambar di pagi hari. Salsa bingung tak habis mengerti. Tergagap, cepat dikuasainya hati lalu memberi jawaban.

"Oh...maaf Pak, surat ini kami terima. Biar saya bicarakan dulu dengan suami saya. Mohon pengertiannya."

Si Bapak mengangguk dan segera berlalu, meninggalkan Salsa yang termangu. Tangannya membuka sampul dan membaca isinya dengan lesu. Hutang sebegini besar mengapa dia tak pernah diberitahu. Untuk apa? Mengapa? Haruskah sampai menggadaikan sertifikat rumahnya? Kapan? Mengapa tak sepengetahuannya?..." sejuta tanya memenuhi rongga dadanya.

Salsa tak ingin gegabah, baiknya menunggu suami pulang sajalah. Segera disimpan surat di dalam lemari tanpa celah, agar tak hilang dan jelas segala masalah. Dilihatnya Bungsu duduk menatapnya berlama-lama. Rupanya sudah hilang lepas kantuknya. Diraihnya segera diajak berbelanja, untuk makan siang, malam dan esok hari yang hendak tiba.
###

Makan siang sudah siap di atas meja. Bungsu bermain di teras sesudah menghabiskan makan siangnya. Satu per satu anak-anak pulang, mencium tangan Salsa yang bergegas mengambilkan makan siang mereka.

Anak-anak yang polos dan menyenangkan. Cukup menjadi hiburan pengganti lelah seharian bagi Salsa. Si Sulung mulai hafal surat-surat pendek dalam juz 'amma. Si Tengah yang terbata-bata tak mau kalah dengan kakaknya. Ketiga, satu-satunya jagoan kecil belajar menghafal doa-doa. Dan Bungsu, dua tahun tapi acapkali menirukan apa yang diucapkan kakak-kakaknya. Mereka adalah permata paling berharga di dunia.

"Assalamu'alaikum."

Salsa mendongakkan kepala. Disambutnya suami tercinta dengan mencium tangannya. Anak-anak mengikuti apa yang dilakukan bundanya.

"Ayah bawa apa hari ini?" celetuk Ketiga, jagoan kecilnya. Salsa memberi isyarat telunjuk di mulutnya, memintanya agar tak menyusahkan sang ayah. Ketiga merengut, Salsa sigap merengkuhnya, menyembunyikan bulir bening di mata ananda.

"Maaf, Ayah lelah. Mau istirahat."

Hendra bergegas masuk ke dalam kamar, menghempaskan tubuhnya di kasur. Sekejap kemudian hanya suara dengkuran yang terdengar. Salsa mengelus dada, ditahannya kesabaran yang ingin segera melempar tanya. Sudahlah, nanti malam saja, setelah hilang semua lelahnya.

"Kring...kring...kring...."

Telepon berbunyi, Salsa sigap mengangkatnya. Ternyata Sang Ibu yang menanyakan kabar cucu-cucunya.

"Tak apa-apa Bu, semua baik-baik saja," jawab Salsa menenangkan Sang Ibu.

"Jangan bohong sama Ibu, Salsa. Ibu sangat tahu kesulitan keuanganmu saat ini. Andai kau masih kerja seperti dulu, tentu Ibu tak terlalu cemas denganmu," sahut Sang Ibu di seberang sana.

"Tak apa Bu, kalau Salsa tetap bekerja siapa yang menjaga anak-anak. Salsa bisa menghemat uang belanja kok, dan juga memangkas pengeluaran untuk dua pembantu per bulannya," Salsa masih mencoba meyakinkan Sang Ibu atas keputusannya menjadi ibu rumah tangga.

"Memangnya Hendra bisa kauandalkan. Suamimu itu hanya numpang hidup. Kalau dulu kamu tak kerja pasti sampai sekarang tak punya rumah dan perabotan."

Salsa mengelus dada, kata-kata Sang Ibu ada benarnya. Namun, bukankah Hendra suaminya, imamnya, hatinya merasa harus memberi kesempatan pada suaminya untuk menunjukkan tanggungjawabnya sebagai kepala rumah tangga.

"Sudahlah Bu, mohon doanya saja. Semoga Mas Hendra dimudahkan urusannya dan bisa menjadi suami dan ayah yang baik."

Salsa menutup telepon, menghentikan pembicaraan. Dia tak ingin terjebak dalam obrolan berkepanjangan, agar tak terlepas rahasia hati yang disimpannya rapat, meskipun dengan Sang Ibu tercinta.
###

Malam merangkak dalam gelap. Anak-anak telah didekap lelap. Salsa menyiapkan dirinya untuk lelaki tercinta. Lelaki yang mengikatnya dalam ikatan suci, disaksikan orang-orang tercinta. Sejauh ini dia telah memberikan segalanya, salahkah bila dia meminta kejelasan? Dikuatkannya hati untuk bertanya, sesaat setelah melihat gurat kepuasan di wajah yang pernah amat dikaguminya, dan sekarang pun masih dihormatinya.

"Mas, ada masalah apakah? Hingga harus berhutang begitu banyak?" tanyanya penuh kehati-hatian.

Hendra terhenyak dalam diam. Dibiarkannya Salsa bercerita tentang kejadian pagi tadi.

"Bukan apa-apa. Hanya investasi masa depan," jawab Hendra ringan.

"Apa Mas Hendra tidak memikirkan untung ruginya?" tanya Salsa gusar.

"Habis bagaimana? Sudah terlanjur. Ya sudah, dibayar saja," jawab Hendra lagi. Dipunggunginya Salsa dan melanjutkan tidurnya. Dibayar pakai apa? Salsa hanya bisa mengelus dada.

"Mas, cobalah minta tolong ayah bundamu. Mungkin mereka bisa meminjami kita dulu," kata Salsa sambil menggoyang-goyangkan tubuh Hendra.

"Kenapa tidak ayah ibumu saja?" balas Hendra malas.

"Aku malu Mas, selama ini sudah banyak merepotkan mereka," jawab Salsa.

"Ya," jawab Hendra sambil melanjutkan tidurnya. Setidaknya, itu mengurangi sedikit beban di hati Salsa. Malam itu masih menyisakan segurat gulana di dalam dada.

Salsa terjaga dari tidurnya yang gelisah, dilangkahkannya kakinya ke kamar mandi. Diambilnya wudhu, lalu mengguyur sekujur badannya, membersihkan setiap kotoran yang tersisa. Dingin malam yang menyegarkan, aku siap menemuimu Tuhan, bisik hatinya.

Hati-hati digelarnya sajadah, menekuni rakaat demi rakaat pertemuan dengan Tuhan, memanjangkan sujud, menghiba sepenuh pinta, mohon ditunjukkan jalan keluar dari masalah yang ada. Serasa Tuhan membelainya lembut, tiupkan kantuk menghantar tidur dalam sujud.

Azan subuh membangunkan lelapnya. Bergegas ditunaikannya salat subuh, kemudian memulai aktifitas seperti biasa. Hampir tiada beda dari hari lainnya. Diantarnya suami dan anak-anak di depan pintu, mengantar kepergian mereka dengan doa nan tulus.
###

Salsa baru selesai memasak, saat didengarnya pintu depan dibuka. Dibalikkannya badannya mencari tahu siapakah adanya? Kiranya Sang Ibu Mertua telah melangkah masuk ke dalam rumahnya.

"Ibu, bagaimana kabarnya?" sapa Salsa sopan, digamitnya tangan Sang Mertua dan diciumnya.

"Tak usah pura-pura baik," jawabnya ketus. Salsa hanya diam.

"Harusnya kau tak keluar dari pekerjaanmu. Harusnya kaubantu suamimu. Bukan hanya menghambur-hamburkan uangnya," katanya lagi penuh amarah.

Salsa tersentak, selama ini justru dirinya yang menanggung beban keluarga. Apa salah bila dia ingin memposisikan suami pada tempatnya. Agar Mas Hendra tak dipandang sebelah mata oleh keluarga besarnya. Hati Salsa berontak, namun rasa hormat pada mertua melarangnya bicara. Dia hanya diam sambil menahan air mata.

Puas berbicara, Sang Mertua pergi begitu saja. Hilang sudah harapan untuk mendapatkan pinjaman, diputarlah otak mencari jalan keluar. Samar-samar terdengar suara ceramah di sebelah rumah, kiranya ada kajian di rumah tetangga. Ingin bergabung tetapi malu rasanya, biarlah dirinya mencuri dengar saja.

"Ibu-ibu yang dirahmati Allah, kita semua terlahir hebat. Coba pikirkan, adakah yang sanggup membawa anak dalam kandungan selama sembilan bulan kecuali wanita? Adakah yang sabar berkarib dengan kotoran dan air mata balita selain wanita? Siapa yang disebut dan dicari saat sakit? Ibu! Wanita!"

Salsa menghela nafas, semua itu benar adanya. Dipasangnya lagi telinganya lebar-lebar.

"Karena itu ibu-ibu, jangan pernah putus asa. Semua pasti ada jalan keluarnya. Inna ma'al 'usri yusro. Fainna ma'al 'usri yusro ( sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan).
Allah menjamin semua. Dia hanya menguji sesuai kemampuan kita. Kalau bersabar, hadiahnya surga. Adakah orang yang tidak ingin masuk surga?" jelas Sang Ustazah panjang lebar.

"Bagaimana kalau ujiannya itu bertubi-tubi Ustazah? Lama-lama kan habis juga sabarnya," terdengar suara ibu-ibu bertanya.

"Rasulullah saw mengajarkan kita, sering-seringlah baca QS Albaqarah ayat terakhir, di dalamnya adalah doa yang artinya: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."

Salsa mengusap wajahnya penuh syukur, apa yang didengarnya tadi menguatkan keyakinan bahwa Tuhannya tidak tidur. Dia Maha mendengar setiap doa. Diambilnya sebuah buku, dicatatnya semua pelajaran hari ini. Kan kubaca setiap waktu agar tak lupa ada Dia yang menjagaku dengan rahmat-Nya, bisiknya.

Samar-samar terdengar suara orang-orang berpamitan dari rumah sebelah, kiranya kajian sudah selesai. Terdengar alunan nasyid sesudahnya, berirama syahdu menghentak-hentak jiwanya.

"Saat lelah, tanpa arah
Terus melangkah, jangan pernah menyerah
Tetap tegar, janganlah pudar
Harus dikejar, biarkan dia berpijar
Meraih semua mimpi, cinta kerja harmoni
Tetap tegak berdiri, bangkitlah dan berlari
Bila ada cahaya, sambutlah dengan cinta
Hapus jejak derita, tetap terus bekerja
Hingga mentari pagi, menumbuhkan harmoni..."

Salsa bersyukur, dadanya kini terada lapang. Selalu ada cahaya, selalu ada jalan keluar, bisiknya penuh percaya.

#Demak, 29012015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar