Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Senin, 31 Agustus 2015

HOS Cokroaminoto

Santri Menulis ▼ Minggu, 01 Maret 2015 Pemikiran Islam H.O.S. Cokroaminoto “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat...” Kutipan di atas adalah ungkapan yang paling masyhur dari seorang guru bangsa kita: H.O.S. Cokroaminoto. Tokoh Sarekat Islam itu tidak hanya seorang pemikir Islam, tetapi juga seorang bapak ideologis yang melahirkan para pendiri republik ini. Soekarno yang nasionalis, Kartosuwiryo yang islamis, dan Muso-Alimin yang komunis adalah tiga tokoh yang dibesarkan dalam asuhan Cokroaminoto. Dalam tulisan ini saya akan memperkenalkan tokoh besar ini. Meski hanya sekilas semoga catatan ini memberikan manfaat bagi pembaca yang budiman.   Biografi Singkat H.O.S. Cokroaminoto H.O.S. Cokroaminoto lahir dilahirkan pada tanggal 16 Agustus 1882 Bakur, Ponorogo, Jawa Timur. Umar Said, nama kecilnya, dibesarkan dalam lingkungan keluarga bangsawan Jawa yang religius. Raden Mas Tjokromiseno, Ayahnya, menjadi salah satu pegawai Belanda sebagai Wedana di Kepatihan Pleco. Dari ayahnya ini Umar Said mendapatkan pendidikan agama yang ketat, di samping pendidikan Barat sebagaimana lazimnya anak pejabat pada waktu itu.[1] Perpaduan antara pendidikan agama dan pendidikan ala pendidikan Barat inilah yang kemudian membentuk cakrawala pemikiran Cokroaminoto. Sebagai anak pejabat pemerintah, Cokro kemudian dikirim ke Magelang untuk melanjutkan pendidikannya di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA), yaitu sekolah administrasi pemerintahan yang diselesaikannya pada tahun 1902. Pada waktu itu, OSVIA dikenal sebagai lembaga pendidikan yang mencetak para pegawai Belanda. Oleh karena itu, begitu lulus dari OSVIA, Cokro kemudian diangkat menjadi juru tulis pada Patih[2] Ngawi. Bekerja sebagai pegawai pemerintah ternyata membosankan baginya. Ia pun keluar dan pergi ke Surabaya[3] dan bekerja di perusahaan gula sambil aktif menulis di harian Bintang Surabaya dan harian Fadjar. Bersama istrinya, Suharsikin, ia mendirikan tempat kos di rumahnya. Di rumah inilah dia membesarkan Sukarno, Kartosuwiryo, dan Muso. Cokroaminoto terkenal dengan sikapnya yang radikal dengan menentang kebiasaan-kebiasaan yang memalukan bagi rakyat banyak. Ia mengecam tingkah merunduk-runduk di hadapan orang Belanda. Baginya, antara pribumi dan totok adalah sederajat. Dengan manusia mana pun kita adalah sederajat. Sikapnya ini dan juga keberaniannya untuk tidak tunduk kepada pemerintah kolonial di kemudian hari menjadikan dia dikenal sebagai Gatotkoco Sarekat Islam.[4] H.O.S. Cokroaminoto dan Sarekat Islam Cokroaminoto bergabung dengan SI pada bulan Mei 1912 atas ajakan dari H. Samanhudi untuk memperkuat organisasi tersebut.[5] Nama Cokroaminoto menjadi terkenal setelah dia sukses menyelenggarakan kongres SI pertama di Surabaya pada tanggal 26 Januari 1913. Dalam sebuah pertemuan di Yogyakarta pada tanggal 18 Februari 1914, SI membentuk suatu pengurus pusat di mana Cokroaminoto duduk sebagai ketuanya dan H. Samanhudi sebagai ketua kehormatan. Mulai tahun 1916, partai ini sudah menggunakan istilah nasional dalam kongres-kongres yang diadakannya. Cokroaminoto segera mengembangkan SI menjadi sebuah gerakan politik terbesar di Indonesia dengan menegakkan cita-cita nasionalisme dan Islam sebagai sebuah ajaran dasar pemikirannya.[6] Pada kongres nasional pertama tahun 1916 di Bandung , SI telah berani mengajukan tuntutan Indonesia merdeka yang merupakan inti aspirasi masyarakat Indonesia. Dalam kongres tersebut Cokroaminoto berkata bahwa bangsa Indonesia mempunyai hak untuk berpartisipasi di dalam masalah politik. Dia juga menuntut agar bangsa Indonesia juga ikut andil dalam memutuskan berbagai undang-undang dan peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Selanjutnya, pada kongres nasional kedua tahun 1917, SI menyampaikan tuntutan untuk peningkatan pertanian, peningkatan subsidi pemerintah dalam bidang pendidikan, penghapusan hak-hak bangsawan pribumi dan perluasan hak pilih warga Indonesia.[7] Kongres tersebut juga memutuskan bahwa SI akan duduk dalam Volkstraad (Dewan Rakyat) dengan tujuan untuk terus berusaha untuk memperjuangkan mengubah Volkstraad menjadi sebuah parlement yang sejati.[8] Pada tanggal 18 Mei 1918, Cokroaminoto duduk sebagai anggota Volksraat mewakili SI. Dalam posisinya ini tak kenal lelah dia mengingatkan kepada penyelenggara negara untuk menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan dalam menjalankan roda pemerintahan.[9] Karena sikap kritisnya kepada pemerintah Belanda menyebabkan Belanda menjadi gerah karenanya. Pada tahun 1920, Cokroaminoto dipenjarakan selama delapan karena dianggap terlibat dalam sejumlah pemberontakan di Tanah Air. Selama 8 bulan dia mendekam di dalam jeruji besi danb SI, sebagai gerakan nasional yang dipimpinnya, mulai melemah.[10]   Pemikiran Keagamaan H.O.S. Cokroaminoto Seperti halnya Ahmad Hassan dan para pembaharu lainnya, Cokroaminoto sangat menekankan pentingnya pemahaman tauhid secara benar. Kepribadian yang tangguh, bebas dari rasa takut dan sedih akan diperoleh umat Islam jika berpegang pada tauhid yang benar.  Selain itu, dia juga menganjurkan agar umat Islam tidak hanya berdebat dalam permasalahan furu’ (cabang) saja, tetapi harus berkiprah dalam persoalan yang lebih besar yang sedang di hadapi umat Islam. Menurutnya, sebagai agama yang rasional, modern dan memiliki landasan tauhid yang benar, maka penguasaan atas ilmu pengetahuan harus digalakkan, di samping menanamkan rasa keislaman yang mendalam dan memberikan penghargaan terhadap tanda-tanda kebesaran tradisi Islam.[11] Ungkapan “semurni-murni tauhid” yang diserukannya itu juga harus mewujud dalam amal nyata. Artinya, Islam sebagai sistem keyakinan itu harus terwujud dalam langkah nyata di tengah kehidupan masyarakat. Kerja-kerja sosial kemanusiaan dalam bentuk peningkatan pertanian dan pemberian subsidi bagi kaum pribumi merupakan bagian dari pelaksanaan ajaran agama.[12] Dengan begitu, menurut penulis, Cokroaminoto menyerukan kepada umat Islam agar memikirkan kepada sendi-sendi kehidupan masyarakat yang luas. Umat Islam sudah seharusnya ikut berkiprah dalam membangun demokrasi, mengentas kemiskinan, meningkatkan kualitas pendidikan, dan lain sebagainya, tidak hanya sibuk berdebat mempermasalahkan urusan-urusan cabang dalam agama Islam.       Pemikiran Politik H.O.S. Cokroaminoto Dalam bidang politik, Cokroaminoto mempunyai pemikiran tentang negara demokrasi melalui perwakilan di parlemen (Ahl al Hal wal Aqd) untuk memilih orang-orang yang berhak memegang kekuasaan (Ahlul Imamah) yang bebas dari penjajahan.[13] Agama Islam merupakan alat yang tepat untuk membangun persatuan dan rasa nasionalisme di Indonesia. Adapun visi politik Cokroaminoto adalah membentuk sosialisme Islam di mana bangunan ekonomi sosialistik menjadi dasar pijakannya tanpa ada monopoli, riba, dan eksploitasi. Cokroaminoto mencita-citakan bangunan masyarakat yang berdasarkan persaudaraan, kemerdekaan dan persamaan, namun tetap religius dan cinta Tanah Air. Pemikiran politik dan keislaman Cokroaminoto ini tertuang dalam karyanya Sosialisme Islam. Di lain kesempatan semoga saya bisa mengupas kandungan karya tersebut.             [1] Kholid O. Santosa, Manusia di Panggung Sejarah: Pemikiran dan Gerakan Tokoh-Tokoh Islam, (Bandung: Sega Asri, 2009), hlm. 55. [2] Patih adalah pejabat dalam lingkungan pegawai negeri pribumi sebagai pembantu utama seorang bupati. Lihat Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: LP3ES, 1982), hlm. 121. [3]  Kholid O. Santosa, Manusia di Panggung Sejarah...hlm. 55. [4]  Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam...,hlm. 121-122. [5] Ibid., hlm. 118. [6] Ibid., hlm. 126. [7] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam Jilid III terj. Gufron A. Mas’adi (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 331. [8]  M. Masykur Amin, H.O.S. Cokroaminoto: Rekonstruksi Pemikiran Dan Perjuangannya, (Yogyakarta: Cokroaminoto University Press, 1995), hlm. 69. [9] Yudi Latif, Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan (Bandung: Mizan, 2014), hlm. 103. [10] M. Masykur Amin, H.O.S. Cokroaminoto..., hlm. 72. [11]Ibid., hlm. 39. [12] Yudi Latif, Mata Air Keteladanan, hlm. 103. [13] M. Masykur Amin, H.O.S. Cokroaminoto:, hlm. 95. Azis Ahmad Pukul 02.44 Berbagi Tidak ada komentar: Poskan Komentar ‹ › Beranda Lihat versi web Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 18 Agustus 2015

Tentang kiai bustam

SOCIO-POLITICA Dari Kebenaran Lahir Keadilan MenuSkip to content Home About Kisah Seorang Kiai Jawa di Masa Kolonial Belanda SEPTEMBER 22, 2009 BY SOCIOPOLITICA Sebuah kisah selingan pasca lebaran “Bekerja untuk pemerintahan kolonial, namun juga berbuat banyak bagi rakyat jajahan, tak terkecuali bagi umat Islam. Dan, berperan untuk mengakhiri sebuah peperangan, yang kemudian melahirkan Kesultanan Yogyakarta yang bertahan hingga tahun 1949 sebagai suatu kerajaan, dengan pengakuan keistimewaan yang berlangsung hingga saat ini di masa Indonesia merdeka. Bagaimana sejarah akan menempatkannya?”. MASA penjajahan yang berlangsung tak kurang dari 350 tahun lamanya di Nusantara ini, memberikan pilihan-pilihan terbatas bagi para penghuni kepulauan ini. Paling banyak ada tiga pilihan: “melawan dengan atau tanpa senjata”, “takluk dan bekerjasama” atau “menolak tapi tak melawan”. Tetapi sebenarnya masih ada suatu situasi keempat, yang bukan termasuk pilihan, yakni “tak memahami perbedaan-perbedaan kekuasaan yang ada dan menerimanya sebagai bagian dari takdir kehidupan”. Keadaan yang disebut terakhir ini, situasi keempat, barangkali adalah yang paling banyak dijalani oleh rakyat Nusantara. Di masa kekuasaan kolonial maupun di masa kekuasaan bangsa sendiri. Mungkin tak tercatat dalam buku-buku sejarah, namun dalam catatan pemerintah Hindia Belanda, disebutkan tentang seorang Jawa, “terkenal sebagai Bapa Boestam yang telah menunjukkan banyak pengabdiannya yang tulus kepada Gubernemen”. Dalam catatan itu –yang terjemahannya dilampirkan Mr Hamid Alqadri dalam bukunya mengenai Snouck Hurgronje, Penerbit Sinar Harapan, 1984– lebih jauh menyebutkan bahwa “Gubernemen, demi kehormatannya, menjanjikan, sepanjang matahari dan bulan memancarkan sinarnya dan pulau Jawa berada dalam kekuasaan pemerintah Hindia Belanda, akan membantu Kiai Boestam atau anak turunannya”. Kiai ini, yang lebih dikenal secara lengkap sebagai Kiai Boestam Kertoboso, dari sudut pandang penguasa Hindia Belanda memang besar jasanya sebagai bumper dalam menghadapi dan mengendalikan rakyat secara ‘damai’, khususnya yang beragama Islam di Semarang dan wilayah sekitarnya. Tetapi lebih dari itu ‘jasa’ terbesarnya adalah bahwa Kiai Boestam adalah orang yang bersedia membawa surat Panglima Militer VOC yang berkedudukan di Semarang, Johan Frederik Cobius, atas nama Gubernur Jenderal, kepada Pangeran Mangkubumi yang sedang melakukan perlawanan bersenjata. Para bupati Jawa dari Semarang, Demak, Jepara, Pati, Rembang, Kaliwungu, Batang dan Pekalongan, tak ada yang bersedia membawa surat itu, karena berangapan bahwa itu sama artinya dengan menghantar nyawa, tetapi Kiai Boestam Kertoboso bersedia melakukannya. Surat penguasa militer VOC di Hindia Belanda itu, yang disahkan oleh Gubernur Jenderal yang berkedudukan di Batavia, berisi pengakuan atas diri Pangeran Mangkubumi sebagai Raja Mataram. Surat ini mengakhiri perlawanan bersenjata Pangeran Mangkubumi yang kemudian berlanjut pada Perjanjian Giyanti 13 Februari tahun 1755, yang menetapkan Pangeran Mangkubumi sebagai penguasa atas separuh wilayah Kerajaan Mataram serta separuh lainnya diserahkan kepada Pakubuwono III sebagai raja yang berkedudukan di Surakarta. Tepat sebulan kemudian, 13 Maret 1755, Pangeran Mangkubumi yang naik dengan gelar Sultan Hamengkubuwono –dikenal kemudian sebagai Sultan Hamengkubuwono I– menetapkan wilayahnya sebagai sebuah kesultanan, yakni Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Yogyakarta. Lahirnya seorang setiawan. TITIK penting kehidupan Kiai Boestam Kertoboso, adalah tatkala ia berusia 27 tahun. Ia hidup di masa Gubernur Jenderal VOC Johan van Hoorn (1653-1711) yang memerintah Hindia Belanda antara 1704 hingga 1709. Johan van Hoorn adalah putera seorang pabrikan mesiu yang kaya raya Pieter Janzen dari Amsterdam. Ia menjadi Gubernur Jenderal menggantikan mertuanya (ayahanda isterinya yang ketiga, Suzanna) Willem van Outhoorn. Selama menjadi Gubernur Jenderal, van Hoorn berhasil mengembangkan perkebunan kopi di daerah Priangan. Dalam masa jabatannya ia menghadapi perang suksesi pertama antara raja-raja Jawa 1704-1708 Van Hoorn yang sempat menikah sampai empat kali, meninggal 6 bulan setelah kembali dari Hindia Belanda di tahun 1711. Pada mulanya, van Hoorn memilih posisi ‘tak memihak’, namun pada akhirnya menentukan juga dukungan-dukungannya. Tahun 1705, penguasa VOC di Batavia melakukan perjanjian dengan Mataram, yang menetapkan Jawa bagian Barat ada dalam penguasaan VOC. Belanda lalu mengangkat Pangeran Puger, salah seorang turunan Sultan Agung (yang memerintah Mataram1613-1645) dan Amangkurat I (1645-1677), menjadi penguasa baru Mataram pada tahun 1705 tersebut dengan sebutan Pakubuwono I (1704-1719) menggantikan Amangkurat III yang hanya berkuasa dua tahun, 1703-1705. Amangkurat III sendiri adalah penerus Amangkurat I dan Amangkurat II (1677-1703). Pengangkatan Pakubuwono I mengakhiri masa Kerajaan Mataram sebagai suatu negara berdaulat penuh. Secara formal politis tetap negara merdeka, namun punya kewajiban ekonomis kepada pemerintah Batavia, antara lain mengirim beras secara berkala dalam jumlah dan harga yang ditentukan kompeni. Selain itu, pemerintah Batavia mempunyai hak untuk campur tangan dalam masalah keamanan di wilayah Mataram. Setelah Pakubuwono I wafat, VOC mengangkat salah seorang puteranya sebagai pengganti dengan gelar Amangkurat IV (1719-1726). Selanjutnya Amangkurat IV diganti Pakubuwono II (1726-1749). Kedua raja ini memiliki ketergantungan militer kepada Belanda, dan karena setiap bantuan berarti biaya, maka hutang kerajaan kepada VOC makin menggunung. Pada tahun 1708, Boestam yang tergolong pintar, pandai baca-tulis dan dianggap ahli dalam perihal agama Islam, dipanggil menghadap Regent (Bupati) Semarang Kiai Adipati Sosromenggolo (Bedakan dengan Kiai Adipati Suromenggolo atau Kiai Mertonoyo atau Kiai Tumenggung Judonegoro, bupati Semarang 1674-1701). Boestam diangkat oleh bupati menjadi jurutulis di salah satu kantor pemerintah di Semarang. Sebenarnya pengangkatan itu sedikit memaksa, karena kala itu orang Jawa yang pandai baca tulis cenderung tak mau bekerja di kantor pemerintahan Hindia Belanda. Meski dimulai dengan sedikit paksaan, Boestam, ternyata menjadi seorang pegawai yang tekun bekerja. Ia menerima gaji yang memadai, lengkap dengan beberapa bidang tanah yang dikenal sebagai ‘pancen’ di beberapa desa (Pekampuan, Kumenjing, Langkap dan Kemiri). Setelah tiga tahun mengabdi gajinya naik setingkat dengan boekhouder (pemegang buku) Belanda dan mendapat tambahan ‘pancen’ berupa sawah di Kendal yang harganya 400 gulden. Walau pangkatnya tak naik-naik, gajinya naik terus hingga mencapai gaji setingkat commies. Selain tekun, Boestaman ‘tumbuh’ menjadi seorang setiawan terhadap penguasa Belanda. Keahliannya mengenai agama Islam membuatnya mudah dalam mendekati masyarakat yang beragama Islam, sehingga muncul pengakuan atas dirinya sebagai seorang kiai. Ia banyak berperan dalam pelbagai masalah sosial politik dan kemasyarakatan. Sewaktu terjadi pemberontakan orang-orang Cina di Batavia terhadap penguasa Belanda, sekitar 1740, percikan peristiwanya juga menjalar ke seluruh pulau Jawa tak terkecuali ke wilayah Mataram di pantai utara Jawa. Pakubuwono II yang sudah sesak napas oleh tindihan hutang kepada Belanda, banyak membantu para pemberontak Cina ini. Sehingga banyak bupati-bupati Jawa yang tadinya sudah tenang-tenang menjalankan kekuasaan dalam suasana pro Belanda, mengikuti jejak Susuhunan Pakubuwono II. Tapi bantuan para raja dan orang-orang Jawa ini tidak sepenuh hati, karena banyak yang kemudian balik badan berpihak kembali kepada VOC, sehingga pemberontakan bisa dipadamkan tahun 1743. Selama peristiwa, tak kurang dari 10.000 orang Cina mati dibantai. Kalau bantuan para raja Jawa dilakukan sepenuh hati, nasib VOC di pulau Jawa mungkin lain, bisa terusir ke luar. Ketika peristiwa berkecamuk, banyak di antara orang Jawa yang bekerja sebagai pegawai pemerintahan Belanda di Semarang, melarikan diri meninggalkan tugas mengungsi ke luar kota. Kiai Boestam Kertoboso tidak ikut arus. Catatan dalam arsip Belanda menyebutkan “Kiai Boestam seorang diri melaksanakan berbagai pekerjaan kantor, antara lain menyelesaikan berkas dari Susuhunan, dan menyediakan tenaga kerja untuk pemerintah”. “Dalam masa pertentangan dan keributan ini telah meninggal dunia seorang penerjemah bahasa Jawa, dan Boestam menjadi penggantinya”. Dikisahkan bahwa pemberontakan di sekitar Semarang dapat diselesaikan, dengan perantaraan Kiai Boestam. Atas jasanya, Kiai Boestam mendapat ganjaran kenaikan pangkat sebagai Sekertaris Pemerintahan, selain sebagai penerjemah. “Dia diberikan sebidang tanah oleh pemerintah yang dapat diwariskannya”. Sekarang tempat itu dikenal sebagai kampung Boestaman di Semarang. Ia juga menerima hadiah beberapa bidang tanah di kabupaten Demak. “Pada waktu itu di Jawa belum ada jaksa kepala”. Kiai Boestaman menjadi orang pertama yang diangkat untuk jabatan jaksa kepala itu di Semarang. Pangkat dan jabatannya kemudian dinaikkan lagi menjadi onder regent Terboyo Semarang, semacam jabatan wakil bupati di wilayah tertentu. Seorang onder regent mempunyai hak dan kewajiban penuh di wilayahnya sebagaimana halnya dengan bupati. Beberapa tugas lamanya, tetap dirangkap. Dalam jabatan baru itu ia mengganti namanya menjadi Kiai Ngabei Kertoboso. Bersamaan dengan jabatan baru itu bertambah pula hartanya dengan beberapa bidang tanah yang bernilai kurang lebih 1200 gulden, suatu jumlah yang besar untuk seorang pribumi pada masa itu. Orang-orang Belanda amat menyenangi Boestam, dan dengan akrab mereka menyapanya sebagai “Bapa Boestam”. Berdasar kepada laporan pemerintah kolonial Belanda, kisah Kiai Boestam Kertoboso, dapat dipaparkan lebih lanjut berikut ini, dengan beberapa penyempurnaan dan tambahan data dari sumber lain untuk kejelasan. TATKALA Kiai Boestam menjadi onder regent di Terboyo Semarang, meletus peperangan antara gubernemen dengan Pangeran Mangkubumi. Beberapa tahun sebelum mangkat, Pakubuwono II melakukan kesepakatan kekuasaan dengan Gubernur Jenderal Kompeni, yang tak lain untuk menjamin pewarisan tahta kepada puteranya Pangubuwono III karena menyadari kelemahan kekuasaannya jika tak dibantu kekuasaan luar, yakni Kompeni. Pada tahun 1743, Pakubuwono II melalui suatu perjanjian menyerahkan kekuasaan atas seluruh daerah sepanjang pantai Utara Jawa dan Blambangan di ujung timur Jawa kepada Belanda. Pakubuwono III juga memberikan hak pengendalian khusus kepada Belanda atas seluruh pelabuhan laut di Jawa. Kesepakatan tahun 1743 ini juga seakan menjadi pembayaran ‘dosa’ Pakubuwono II atas ‘pengkhianatan’nya di tahun 1740 ketika membantu pemberontakan orang-orang Cina. Pakubuwono dipulihkan tahtanya oleh Belanda. Dengan demikian sejak 1743, Mataram menjadi bawahan Belanda. Dengan topangan Belanda, Pakubuwono III naik tahta (1749-1788) menggantikan ayahandanya, Pakubuwono II. Pemulihan tahta dan kemudian naiknya Pakubuwono III mengalami banyak penolakan. Pangeran Mangkubumi, salah satu saudara Pakubuwono II adalah satu di antara yang menolak pemulihan tahta Pakubuwono II dan karenanya memutuskan untuk naik ke gunung melancarkan perang gerilya. Kiai Boestam Kertoboso dan Pangeran Mangkubumi. Konflik bersenjata ini berlangsung lama, bertahun-tahun, sampai setelah Pakubuwono II mangkat dan diganti Pakubuwono III. Memakan begitu banyak energi Belanda. “Wilayah Peterongan, Jomblang dan Magelang dikuasai  pasukan-pasukan Mangkubumi di bawah pimpinan Pangeran Ario Panoelar… Sementara itu Pangeran Mangkubumi pindah dari Yogyakarta ke Magelang”. Panglima pasukan Belanda Ossen Bruggen yang berkedudukan di Semarang, “kalang kabut dan kehilangan akal menghadapi peperangan ini”. Dan akhirnya ia pun bertanya kepada Kiai Boestam, “Tindakan apa yang harus dijalankan untuk menyelesaikan perkara yang satu ini?”. Kepada sang panglima, Kiai Boestam mengutarakan, “Sesungguhnya Pangeran Mangkubumi adalah orang yang tepat untuk menjadi raja”, karena ia adalah putera dari Amangkurat IV dan saudara muda dari Pakubuwono II. Sehingga, “pengangkatan Pangeran Mangkubumi menjadi sultan akan bisa menghentikan peperangan”. Mungkin Kiai Boestam juga yang menyarankan agar Mataram dibagi dua. Adalah Kiai Boestam yang membuat konsep pengangkatan Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan di Yogyakarta dan Pakubuwono III melanjutkan sebagai Sultan di Surakarta. Konsep itu ditulis dalam dua bahasa, satu bahasa Jawa dan satunya lagi dalam bahasa Belanda untuk disampaikan kepada Gubernur Jenderal Jacob Mossel (1750-1761) agar mendapat pengesahan. “Setelah naskah itu ditandatangani oleh Yang Mulia Gubernur Jenderal, surat pengangkatan itu diterima kembali oleh Panglima Ossen Bruggen, disertai catatan bahwa surat pengangkatan itu harus disampaikan melalui seorang bupati”. Tak seorang pun bupati bersedia mengantar surat itu, karena takut kehilangan nyawa. “Mereka mengembalikan epok, lampit dan payung mereka sebagai tanda mengundurkan diri dari jabatannya, dan menyatakan lebih suka mati dibunuh di depan panglima atau tewas di medan perang daripada mati hina dina dibunuh kaum pemberontak”. Panglima Ossen Bruggen sungguh naik amarahnya melihat perilaku para bupati itu. Dan pada saat itulah Kiai Boestam maju ke depan panglima dan menyatakan bersedia memikul beban untuk menjalankan tugas tersebut. “Mendengar kesediaan itu, nampak kegembiraan bersinar di mata panglima. Maka Ossen Bruggen pun berkata, Kiai Boestam boleh memilih sendiri salah seorang dari para bupati itu untuk menemaninya. Tetapi Kiai Boestam menolak tawaran itu, dan menyampaikan bahwa dia sendirian dapat melaksanakan tugas”. Pada hari keberangkatannya, Panglima Ossen Bruggen, datang ke kabupatenan Semarang untuk mengucapkan selamat jalan kepada Kiai Boestam. Dengan memakai celana pendek hitam, baju berwarna sama hitamnya, sarung melilit di pinggang, ikat pinggang berbintik-bintik di mana surat untuk Pangeran Mangkubumi itu diselipkan, Kiai Boestam pun berangkat meninggalkan kota. “Setibanya di Candi, Kiai Boestam bertemu dua orang yang sedang memotong rumput. Atas pertanyaan Kiai Boestam, mereka mengatakan diri adalah pemotong rumput  dari Demang kota Jetak dan mereka akan segera berangkat pulang. Kiai Boestam mengatakan kepada mereka, dirinya adalah penduduk Magelang dan tak berani pulang sendirian, takut dibunuh di tengah jalan. Lalu ia menolong kedua orang itu memotong rumput dan mengangkatnya ke atas bahu, berjalan mengiringi kedua orang itu. Dengan cara itulah ia sampai ke Jetak. Setelah enam hari di Jetak, Kiai Boestam melanjutkan perjalanan. Di Magelang ia ditangkap oleh pasukan pemberontak pengikut Pangeran Mangkubumi. Penangkapan ini menimbulkan kegemparan, sehingga Mangkubumi langsung turun tangan dan memerintahkan tangkapan itu dibawa menghadap”. “Pangeran Mangkubumi bertanya kepada sang tangkapan, apa gerangan maksudnya datang ke Magelang. Dengan terus terang, Kiai Boestam mengatakan bahwa dirinya diutus Gubernur Jenderal untuk menyampaikan sepucuk surat kepada paduka yang mulia. Mangkubumi amatlah terkejut, orang yang berpakaian compang camping itu menyampaikan sepucuk surat untuknya”. Kepada Pangeran Mangkubumi, Kiai Boestam menuturkan bahwa ia berpakaian demikian kotor, tak lain agar dapat melaksanakan tugasnya dengan mudah. Seandainya ia mengenakan seragam bupati, maka “saya hanya mengantarkan mayat saja ke hadapan paduka yang mulia”. Pangeran memaklumi taktik sang kiai, lalu meminta agar surat Gubernur Jenderal itu dibacakan untuknya. Ternyata Pangeran Mangkubumi sangat senang mendengar isi surat itu, dan hari itu juga memerintahkan menarik mundur pasukan-pasukannya. Kiai Boestam diberi hadiah seperangkat pakaian dodet, kuluk, sikepan, jas, blangkon dan sepucuk keris emas. Penghormatan yang tinggi diberikan kepada sang kiai selama berada di Magelang. Dan ketika ia pamit untuk pulang, Pangeran memerintahkan dibuatkan suatu surat jawaban. “Didampingi oleh beberapa pejabat tinggi dan bertjalan di bawah payung emas, Kiai Boestam sampai kembali di Semarang. Ia pun diterima dengan segala kebesaran oleh Panglima Ossen Bruggen. Surat jawaban Pangeran Mangkubumi pun disampaikan kepada panglima”. Sebuah tempat dalam sejarah? Kiai Boestam telah mengabdikan diri kepada Gubernemen Belanda selama lima puluh tahun, dan meninggal dalam ‘masa jabatannya’, pada usia 78 di tahun 1759, 4 tahun setelah Perjanjian Giyanti. VOC sendiri berakhir tahun 1799 setelah merugi karena korupsi yang merajalela di tubuhnya. Kekuasaannya di Indonesia dilanjutkan oleh pemerintahan langsung oleh Kerajaan Belanda hingga 1942 dan sempat coba diteruskan lagi pada 1945-1949. Kiai Boestam Kertoboso, bekerja untuk pemerintahan kolonial, namun juga berbuat banyak bagi rakyat jajahan, tak terkecuali bagi umat Islam. Dan, berperan untuk mengakhiri sebuah peperangan, yang kemudian melahirkan Kesultanan Yogyakarta yang bertahan hingga tahun 1949 sebagai suatu kerajaan, dengan pengakuan keistimewaan yang berlangsung hingga saat ini di masa Indonesia merdeka. Bagaimana sejarah akan menempatkannya? Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Maaf Lahir Batin. Loading... Post navigation← Indonesia: Satu Masa Pada Suatu Wilayah Merah (3)September 1965: Konspirasi dan Pertumpahan Darah (1) → LEAVE A REPLY Your email address will not be published. Required fields are marked * Name * Email * Website Comment Notify me of new comments via email. Search CATEGORIES Buku (2) Ekonomi (4) Ensiklopedi (5) Falsafah & Budaya (14) Historia (327) Hukum (76) Intermezzo (52) Politik (496) Sosial (162) Uncategorized (1) ARCHIVES Archives TOP POSTS & PAGES Sisa PKI dan Keluarga PKI, 49 Tahun Setelah Peristiwa 30 September 1965 Kini, Kisah Tiga Jenderal: Jejak Rekam Masa Lampau (7) Kisah Jenderal Sarwo Edhie Wibowo dan RPKAD 1965-1966 (1) Kisah Aksi Tempeleng, Tendang dan Tembak Oleh Petinggi Negara Kisah Jenderal Sarwo Edhie Wibowo dan RPKAD 1965-1966 (4) Kisah Jenderal Sarwo Edhie Wibowo dan RPKAD 1965-1966 (3) Perintah Presiden Soeharto Kepada Jenderal Wiranto, Mei 1998 Liem Soei Liong: 'Penjaga Telur Emas' Bagi Kekuasaan Jenderal Soeharto (2) Kisah Jenderal Sarwo Edhie Wibowo dan RPKAD 1965-1966 (2) Kisah Legiun Penggempur Naga Terbang, Doa Di Bawah Rumpun Bunga Matahari (2) RECENT COMMENTS Mari belajar politik… on Dari Nawaksara Soekarno Ke Naw… Untung on Humor Presiden dan Presiden Hu… sociopolitica on Kisah Jenderal Sarwo Edhie Wib… jono adiguno on Kisah Jenderal Sarwo Edhie Wib… Lorrie on Muhammadiyah: Islam Kota Yang… sociopolitica on Pancasila dan Piagam Jakarta (… TAGS Abdurrahman Wahid ABRI Aburizal Bakrie Adnan Buyung Nasution Aidit Akbar Tandjung Ali Moertopo Anas Urbaningrum Antasari Azhar Bank Century BJ Habibie Bung Karno DI/TII DPR Dr Midian Sirait Dwifungsi ABRI FPI Gayus Tambunan Golkar Gus Dur Hariman Siregar Hatta Albanik Hatta Rajasa HMI ITB Jenderal AH Nasution Jenderal Soeharto Jenderal Soemitro Jenderal Wiranto Jokowi Jusuf Kalla KAMI KPK Letnan Jenderal Ahmad Yani Letnan Kolonel Untung Marzuki Darusman Masjumi Megawati Soekarnoputeri Mingguan Mahasiswa Indonesia mohammad hatta Muhammadiyah Muhammad Jusuf Kalla nasakom NU Orde Baru PAN Pancasila Partai Demokrat Partai Golkar PDIP Peristiwa 15 Januari 1974 Peristiwa 30 September 1965 Pertamina PKB PKI PKS PNI Polri PPP Prabowo Subianto Presiden SBY Presiden Soeharto Presiden Soekarno Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Rahman Tolleng Rum Aly SBY Soebandrio Soeharto Soekarno Susilo Bambang Yudhoyono Syamsir Alam Universitas Padjadjaran Universitas Parahyangan Wiranto Blog at WordPress.com. | The Sunspot Theme.

Bupati2 semarang

Blog Sejarah, Sains, Astrologi, Metafisika Tempatnya penggemar Sejarah, Sains, Astrologi, Teknologi, dan Metafisika Minggu, 06 Juni 2010 Bupati-bupati Semarang Sebelum Masa Kemerdekaan (Regents of Semarang) Bupati-bupati Semarang Sebelum Masa Kemerdekaan Regents of Semarang before 1945 Disalin oleh Ivan Taniputera (5 Juni 2010) • Ki Pandan Arang II (1547 – 1553) • Raden Ketib (Pangeran Kanoman atau Ki Pandan Arang III, 1553 – 1586) • Tiga orang bupati: Astrayuda, Menggala, Nayamarta (1586 – 1589) • Tiga orang bupati: Waraganaya, Nayamerta, Aryawangsa (1589 – 1631) • Pangeran Mangkubumi II (Kyai Khalifah, 1631 – 1657) • Mas Tumenggung Tambi (1657 – 1659) • Mas Tumenggung Wongsorejo (1659 – 1666) • Mas Tumenggung Prawiroprojo (1666 – 1670) • Mas Tumenggung Alap-Alap (1670 – 1674) • Kyai Mertonoyo (Kyai Tumenggung Yudonegoro atau Kyai Adipati Suromenggolo, 1674 – 1713) • Raden Mertoyudo (Raden Suminingrat, 1713 – 1723) • Tumenggung Astroyudo (1723 – 1742) • Raden Suminingrat (Surohadimenggolo I, 1743 – 1751) • Martowijoyo (Sumowijoyo, Sumonegoro, atau Surohadimenggolo II, 1751 – 1773) [tidak jelas mengapa tidak ada Surohadimonggolo III dalam daftar urutan bupati-bupati Semarang] • Surohadimenggolo IV (1773 – 1778) • Surohadimenggolo V (Kanjeng Terboyo, 1778 – 1841) • Surohadimenggolo VI (1841 – 1845) • Raden Tumenggung Surahadiningrat (1845 – 1855) • Mas Ngabehi Reksonegoro (1855 – 1860) • Raden Tumenggung Pangeran (RTP) Suryokusumo (1860 – 1887) • RTP. Reksodirjo (1887 – 1891) • RMTA Purbaningrat (1891) • Raden Tjokrodipuro (1891 – 1897) • RM Subijono (1897 – 1942) • RM. Amin Sujitno (1942) • RMAA Soekarman Mertohadinegoro (1942 – 1945) Sumber: Tjokrowinoto, Prof. Drs. H. Sardanto. Sejarah Hari Jadi Kota Semarang: Edisi Revisi, Wisma Tjakrawinatan, Semarang 2004 Sejarah, Sains, Astrologi, Ivan Taniputera di 05.39 Tidak ada komentar: Poskan Komentar ‹ › Beranda Lihat versi web Mengenai Saya Sejarah, Sains, Astrologi, Ivan Taniputera Saya merupakan pemerhati sejarah, sains, teknologi, astrologi Barat dan Timur, serta mefasika. Dahulu saya studi di Technische Fachhoschule (University of Applied Science)Berlin jurusan Teknik Mesin email: ivan_taniputera@yahoo.com Lihat profil lengkapku Diberdayakan oleh Blogger.

Sejarah semarang

Subscribe by RSS semua tentang semarang dan sekitarnya Semarangan.loenpia.netHomeTentang Kami Tentang Semarang browse ↓ Tentang Semarang Sejarah kota Semarang dimulai dari seorang putra mahkota kesultanan Demak bernama Pangeran Made Pandan. Pangeran ini diharapkan untuk menjadi penerus dari ayahandanya, yaitu Pangeran Adipati Sepuh atau Sultan Demak II. Sayangnya, beliau tidak ingin menggantikan kedudukan ayahnya. Beliau bermaksud menjadi seorang ulama besar. Pada saat ayahandanya wafat, kekuasaan diserahkan kepada Sultan Trenggana. Bersama putranya yang bernama Raden Pandan Arang, Pangeran Made Pandan kemudian meninggalkan kesultanan Demak menuju ke arah barat daya. Selama di perjalanan, beliau selalu memperdalam agama Islam dan mengajarkannya kepada orang lain. Akhirnya, sampailah beliau ke suatu tempat yang terpencil dan sunyi. Beliau memutuskan untuk menetap di sana. Di situlah Made Pandan mendirikan pondok pesantren untuk mengajarkan agama Islam. Makin lama muridnya makin banyak yang datang dan menetap di sana. Dengan seizin sultan Demak, Made Pandan membuka hutan baru dan mendirikan pemukiman serta membuat perkampungan. Karena di hutan tersebut banyak ditumbuhi pohon asam yang jaraknya berjauhan, maka disebutnya Semarang. Berasal dari kata asem dan arang. Sebagai pendiri desa, beliau menjadi kepala daerah setempat dan diberi gelar Ki Ageng Pandan Arang I. Sepeninggal beliau, pemerintahan dipegang oleh putra beliau yaitu Ki Ageng Pandan Arang II. Di bawah pemerintahan Pandan Arang II, daerah Semarang semakin menunjukkan pertumbuhan yang meningkat. Semarang kemudian dijadikan kabupaten, dan Pandan Arang II diangkat menjadi bupati Semarang yang pertama. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 12 Rabiul Awwal 954 H, bertepatan dengan maulid Nabi Muhammad SAW atau tanggal 2 Mei 1547 M. Masa kemakmuran yang dialami rakyat bersama bupati Pandan Arang II ternyata tidak berlangsung lama. Sebab Pandan Arang II melakukan banyak kekhilafan yang akhirnya membuat Sunan Kalijaga datang untuk memperingatkannya. Sesuai dengan nasihat Sunan Kalijaga, Bupati Pandan Arang II mengundurkan diri dari jabatannya dan kemudian meninggalkan Semarang menuju arah selatan. Beliau menetap di Bukit Jabalkat sampai akhir hayat. Bupati pengganti Pandan Arang II adalah Raden Ketib, Pangeran Kanoman atau Pandan Arang III yang merupakan adik dari Pandan Arang III. Beliau memerintah selama 33 tahun. Adanya pusat penyiaran agama Islam menarik orang untuk datang dan bermukim di Semarang sehingga daerah ini semakin ramai. Semarang juga dikenal sebagai pelabuhan yang penting, sehingga pedagang-pedagang yang datang pun tidak hanya berasal dari sekitar Semarang namun juga dari Arab, Persia, Cina, Melayu dan juga Belanda (VOC). Bangsa asing tersebut juga membuat pemukiman mereka di Semarang. Wilayah permukiman di Semarang terkotak-kotak menurut etnis. Dataran Muara Kali Semarang merupakan pemukiman orang-orang Belanda dan Melayu, di sekitar jalan R. Patah bermukim orang-orang Cina, sedangkan orang Jawa menempati sepanjang kali Semarang dan cabang-cabangnya. Pada tahun 1678, karena terbelit hutang pada Belanda akhirnya Amangkurat II menggadaikan Semarang untuk Belanda. Sejak saat itulah, Semarang berada di bawah kekuasaan Belanda dan berubah fungsi dominannya menjadi daerah pertahanan militer dan perniagaan Belanda karena letak yang strategis. Belanda menangkat Kyai Adipati Surohadimenggolo IV menjadi bupati Semarang. Belanda juga memindahkan kegiatan pertahanan militer Belanda dari Jepara ke Semarang, atas dasar perjanjian dengan Paku Buwono I. Sejak itu terjadi perubahan status, fungsi, fisik serta kehidupan sosial Semarang. Semarang menjadi pusat kegiatan politik VOC. Di bawah kolonialisme Belanda, perkembangan Semarang cukup pesat. Belanda banyak sekali membangun fasilitas-fasilitas publik, membangun villa-villa, penduduk pribumi pun juga mengembangkan perkampungannya. Semarang telah menjadi pusat pemerintahan Belanda di Jawa Tengah. Pada tahun 1864 dibangun rel kereta api pertama di Indonesia mulai dari Semarang menuju Solo, Kedungjati sampai Surabaya, serta Semarang menuju Magelang dan Yogyakarta. Dibangun pula dua stasiun kereta api di Semarang, yaitu stasiun Tawang dan stasiun Poncol yang hingga kini masih ada dan beroprasi dengan baik. Tidak hanya itu, pelabuhan Semarang juga berkembang pesat dengan berlabuhnya pedagang dari berbagai negara. Pelabuhan ini kemudian dibangun dalam bentuk dan kapasitas yang lebih memadai dan mampu didarati oleh kapal-kapal besar. Di samping itu kaum pribumi pun ikut memajukan perekonomiannya dengan berdagang berbagi keperluan yang sangat dibutuhkan para pedagang tersebut. Selanjutnya secara berturut-turut muncul pula perkembangan lainnya seperti pada tahun 1857 layanan telegram antara Batavia – Semarang – Ambarawa – Soerabaja mulai dibuka, tahun 1884 Semarang mulai melakukan hubungan telepon jarak jauh (Semarang-Jakarta&Semarang-Surabaya), dibukanya kantor pos pertama di Semarang pada tahun 1862. Di tengah perkembangan yang amat pesat tersebut, agama Islam tetap berkembang. Kebudayaan Islam pun turut berkembang, antara lain dengan munculnya tradisi dugderan, yaitu tradisi untuk mengumumkan kepaada rakyat bahwa bulan ramadhan telah dimulai. Tradisi itu dimulai pada tahun 1891. Istilah dugderan diperoleh dari tatacara tradisi tersebut yaitu membunyikan suara beduk(dugdugdug) kemudian disertai dengan suara meriam (duerrrr!!!), kemudian jadilah istilah dugderan. Tidak hanya kebudayaan Islam, agama lainpun juga mengalami perkembangan. Hal ini terlihat dengan munculnya berbagai tempat ibadah selain masjid seperti gereja dan kelenteng. Ini terjadi karena banyak sekali pendatang yang masuk semarang dengan membawa agama serta budaya mereka masing-masing. Mulai tahun 1906 Semarang terlepas dari kabupaten dan memiliki batas kekuasaan pemerintahan kota praja. Pada tahun 1916, Ir.D.de longh diangkat menjadi walikota pertama di Semarang. Pembangunan terus ditingkatkan. Kota Semarang mulai dibenahi dengan sistem administrasi pembangunan. Dengan semakin berkembangnya kota Semarang, mulai tumbuh rasa tidak suka dari kaum pribumi terhadap kolonial Belanda. Mulailah muncul kesadaran untuk melawan penjajah. Akibatnya, politik Belanda berubah dengan menekan pertumbuhan kota Semarang. Kedatangan Jepang pada tahun 1942 membuat kota Semarang tersentak. Mereka datang serentak di berbagai kota Indonesia. Semarang pun diambil alih oleh Jepang. Pemerintahan Kota Semarang dipegang oleh seorang militer Jepang (Shico), dengan dibantu oleh dua wakil (Fucu Shico) dari Jepang dan Semarang. Pendudukan Jepang ternyata lebih menyengsarakan rakyat. Semua yang dimiliki rakyat diarahkan untuk keperluan peperangan Jepang. Akhirnya dengan semangat tinggi pada tahun 1945 rakyat dan para pemuda bangkit untuk melawan penjajah. Tanggal 14-19 Oktober 1945 pecahlah pertempuran lima hari di Semarang. Pusat pertempuran terjadi di sekitar Tugu Muda. Pertempuran ini turut menewaskan Dr.Karyadi, yang kemudian namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit umum terbesar di Jawa Tengah. Akhirnya Jepang pun menyerah dan pergi dari Indonesia. Pasca kemerdekaan, pada tahun 1950 kota Semarang menjadi kotapraja di propinsi Jawa Tengah. Walaupun masih harus menghadapi berbagai keprihatinan, Semarang terus mencoba untuk berbenah diri. Tahun 1976 wilayah Semarang mengalami pemekaran sampi ke Mijen, Gunungpati, Tembalang, Genuk, dan Tugu. Dengan adanya perkembangan dan perluasan wilayah ini maka perintah mulai menata pusat-pusat industri, pendidikan, pemukiman dan pertahanan di tempat strategis. Berikut ini adalah nama-nama bupati Semarang : Pandan Arang II Raden Ketib atau Pandan Arang III Mas.R.Tumenggung Tambi Mas Tumenggung Wongsorejo Mas Tumenggung Prawiroprojo Mas Tumenggung Alap-alap Kyai Adipati Suromenggolo Raden Maotoyudo Surohadimenggolo Surohadimenggolo IV Adipati Surohadimenggolo V atao Kanjeng Terboyo Raden Tumenggung Surohadiningrat Putro Surohadimenggolo Mas Ngabehi Reksonegoro RTP Suryokusumo RTP Reksodirejo RMTA Purbaningrat Raden Cokrodipuro RM Soebiyono RM Amin Suyitno RM AA Sukarman Mertohadinegoro R.Soediyono Tarun Kusumo M.Soemardjito Priyohadisubroto RM.Condronegoro R.Oetoyo Koesoemo Sedangkan nama –nama walikota Semarang adalah : Mr. Moch.lchsan. Mr. Koesoebiyono (1949 – 1 Juli 1951). RM. Hadisoebeno Sosrowardoyo ( 1 Juli 1951 – 1 Januari 1958). Mr. Abdulmadjid Djojoadiningrat ( 7Januari 1958 – 1 Januari 1960). RM Soebagyono Tjondrokoesoemo ( 1 Januari 1961 – 26 April 1964). Mr. Wuryanto ( 25 April 1964 – 1 September 1966). Letkol. Soeparno ( 1 September 1966 – 6 Maret 1967). Letkol. R.Warsito Soegiarto ( 6 Maret 1967 – 2 Januari 1973). Kolonel Hadijanto ( 2Januari 1973 – 15 Januari 1980). Kol. H. Imam Soeparto Tjakrajoeda SH ( 15 Januari 1980 – 19 Januari 1990). Kolonel H.Soetrisno Suharto ( 19Januari 1990 – 19 Januari 2000). H. Sukawi Sutarip SH. ( 19 Januari 2000 – sekarang ). Before the year 1594, the city of Semarang was an infamous place on the island of Java. Although the city contributed to the prosperity of Hindia Mataram Kingdom from its seaports, the city is not well known. It was only then, during the reign of the Demak-Pajang Kingdom, Semarang had its very first city mayor, Kyai Pandan Arang (also known as Sultan Tembayat). He was one of the crown princes of Demak, who refused to be the successor of his father, because he wanted to become ulama (Islamic preacher). He decided to move to Semarang. As he gained many students and followers, the city was then intended to become the trade center and Islamic center of the kingdom. Just over a decade later, when the Dutch occupied, Semarang was given to the Dutch East Indie Company (VOC), by the Susuhunan Surakarta Kingdom. In 1678, they turned the city into a military defense base; but the same time VOC trade center, due to its strategic location. Since then, the city developed so fast that it quickly became the center of VOC’s political activity. In 1705 it became the second largest city, after Batavia (now, called Jakarta). This demanded the provision of railway system (established in 1830) and post services (established in 1862) to support the pace of the activity. During the World War II, the city was taken over by the Japanese, and development stopped. It was only after 5 years of the Indonesian independence, the city began to grow again. In 1950 transportation services are operational (bus terminals are built); and factories that had closed down began to operate again. Highlights: When in town, do stop (or pass) by the Kota Lama area. Kota Lama means Old City, where you can find some remnants of those very old historical buildings that go way back to the Dutch colonial times. Reading: There are a few other places on the web, if you’d like to read more about the history of semarang; and pictures taken in the olden days. Here is a good place to start Sumber/ Sources: http://dpkotasemarang.edublogs.org/2007/05/14/sejarah-kota-semarang/ http://www.topmdi.com/java/Sejarah/Tokoh/Pandanaran.htm http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Semarang http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Tembayat http://www.semarang.go.id/cms/index.php?option=com_content&task=view&id=34&Itemid=53 http://kumis-kucing.blogspot.com/2005_05_01_archive.html http://www.semarang.go.id/cms/profile/awal-pendirian.htm http://semarang.go.id/cms/pemerintahan/dinas/pariwisata/kota_lama/peta_kl.htm http://www.arsitekturindis.com/index.php/archives/2003/04/13/kota-lama-semarang http://ms.wikipedia.org/wiki/Pelancongan_di_Semarang http://www.kompas.com/ver1/Negeriku/0706/05/205327.htm http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/08/jateng/52810.htm http://kontak.club.fr/Mengenang%20kembali%20arti%20Hari%20Pahlawan%2010%20November.htm http://www.smansa-semarang.net/tt_semarang2.html http://www.semarang.nl http://ms.wikipedia.org/wiki/Semarang_kabupaten Recent Posts Wisata Kereta Uap, Ambarawa Bus Rapid Transit (BRT) Taman Srigunting atau Parade Plein Taman Diponegoro atau Raadplein BLPT Techno Expo 2008 Pesona Putri Cina di Klenteng Tay Kak Sie Semawis Semarang Search Link to Us Code: Meta Log in Entries RSS Comments RSS WordPress.org Categories Bangunan Bersejarah Events Fasilitas Kota Kuliner Sejarah Seni & Budaya Umum Wisata Wisata Alam Recent Posts Wisata Kereta Uap, Ambarawa Bus Rapid Transit (BRT) Taman Srigunting atau Parade Plein Taman Diponegoro atau Raadplein BLPT Techno Expo 2008 Pesona Putri Cina di Klenteng Tay Kak Sie Semawis Semarang Kondisi Geografis Kota Semarang Reservoir Siranda Masih Berfungsi Tahu Pong Jalan Gajah Mada Video Currently Not Available Theme modified: Faniez - Loenpia [based on: iamww] . Back to Top ↑ Copyright © 2007 Semarangan.loenpia.net. All rights reserved.

Senin, 17 Agustus 2015

Jurnal budaya semarang

E-JURNAL ELSAONLINE Posted on February 26, 2015 Sosial Kebudayaan Masyarakat Kota Semarang: Warak Ngendok sebagai Simbol Akulturasi dalam Tradisi Dugderan Oleh: Muhamad Zainal Mawahib Pendahuluan Perkembangan peradaban yang dikenal sebagai era globalisasi di dunia ini semakin menunjukkan eksistensinya sebagai peradaban yang selalu berkembang. Dampak dari perkembangan era yang serba digital ini sangat signifikan dalam kehidupan manusia. Ia datang kepada manusia untuk memudahkan manusia dalam segala aktifitasnya. Bahkan imbas dari peradaban tersebut masuk ke dalam kebudayaan, termasuk ke dalam budaya-budaya bangsa Indonesia. Masuknya era globalisasi ke dalam kebudayaan manusia menganggap bahwa sebagian kebudayaan tersebut ketinggalan zaman. Walaupun masih ada sebagian masyarakat yang mentradisikan kebudayaan tersebut. Akan tetapi sebagian masyarakat sebagai pelestari kebudayaan lambat laun mulai meninggalkan kebudayaan yang diciptakan oleh nenek moyang. Bahkan muncul anggapan kebudayaan yang baru dipercaya sebagai kebudayaan yang modern. Sejatinya apabila ditelusuri kebudayaan merupakan refleksi dari nilai-nilai, pandangan, kebutuhan, keyakinan dan gagasan yang secara integratif diyakini oleh kemunitas pendukungnya. Kebudayaan ini juga dapat dinyatakan sebagai jati diri sebuah masyarakat.[1] Karena kebudayaan itu sendiri adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Diartikan juga sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.[2] Oleh karena itu, betapa pentingnya kedudukannya dalam kehidupan masyarakat, maka perlu adanya pernyataan dan sosialisasi dan proses pewarisan pada generasinya berikutnya. Seluruh total dari kelakuan manusia yang berpola, tentu bisa kita perinci menurut fungsi-fungsi khasnya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup manusia dalam masyarakatnya. Suatu sistem aktivitas khas dari kelakukan berpola, beserta sistem norma dan tata kelakukannya, serta peralatannya. Ditambah dengan manusia sebagai personal yang melakukan kebudayaan tersebut. totalitas tersebut yang merupakan pranata kebudayaan.[3] Sehingga seluruh komponten tersebut menjadi sebuah satu kesatuan yang membentuk kebudayaan. Warak Ngendok merupakan salah satu unsur utama dari tradisi Dugderan yang ada di kota Semarang. Tradisi Dugderan ini dilakukan setiap menjelang wulan poso (bulan Ramadlan). Di mana tradisi Dugderan tidak lain merupakan warisan sejarah dan budaya masyarakat Semarang. Keberadaan Warak Ngendok sebagai simbol dalam ritual Dugderan ini mampu bertahan hingga sekarang ini di tengah perubahan sosial-kultur masyarakat. Bahkan Warak Ngendok menjadi maskot masyarakat Semarang.[4] Hal itu karena dukungan secara signifikan dari masyarakat pendukungnya, termasuk pemerintah kota. Berangkat dari latar belakang di atas, maka makalah ini akan mengkaji tentang bentuk Warak Ngendok yang merupakan simbol dalam tradisi Dugderan yang dilakukan oleh masyarakat Semarang setiap menjelang bulan Ramadlan. Sehingga dalam artikel ini ingin mengurai tentang mengapa masyarakat Semarang menyelenggarakan tradisi Dugderan dan menampilkan Warak Ngendok setiap menjelang bulan Ramadlan? Bagaimana bentuk akulturasi Warak Ngendok dalam tradisi Dugderan? Serta apa nilai-nilai yang terkandung dalam Warak Ngendok?. Dengan demikian kita akan melihat secara komprehenshif dari sebuah simbol Warak Ngendok dalam tradisi Dugderan yang ada di Kota Semarang. Sosio-kultur Masyarakat Kota Semarang Masyarakat yang ada di Kota Semarang[5] termasuk masyarakat yang religius. Di mana setiap individu memeluk dan menjalankan agama dan kepercayaannya masing-masing. Hal ini tidak lepas dari sejarah kota Semarang yang merupakan salah satu kota yang menjadi obyek persinggahan dan penyebaran agama, terutama agama Islam yang mayoritas penduduk kota Semarang beragama Islam.[6] Dalam catatan, sejarah Kota Semarang ini didirikan oleh seorang pemuda bernama Ki Pandan Arang pada tahun 1476 M. Ki Pandan Arang inilah dalam msyarakat Semarang disebut sebagai pendiri Kota Semarang dan sekaligus menjadi bupati[7] Semarang yang pertama.[8] Ki Pandan Arang diberikan izin dari Kesultanan Demak untuk membuka wilayah yang berada di sebelah barat Demak, yang belakang hari disebut Semarang.[9] Sehingga inilah yang menjadikan mayoritas masyarakat Kota Semarang beragama Islam. Selain agama Islam, penduduk kota Semarang juga mengakut agama lain seperti Katholik, Kristen, Buddha, Hindu, Konghucu dan lain-lain. Dalam kehidupan beragama, masyarakat Semarang juga memiliki ritual-ritual khas keagamaan yang dilaksanakan sebagai tradisi masyarakat. Selain ritual ibadah yang telah diwajibkan agama masing-masing. Ritual tersebut yang mentradisi dilakukan secara kolektif oleh masyarakat secara turun-menurun dengan tata cara tertentu. Dalam proses tersebut terjadi akulturasi antara nilai-nilai agama yang dianut dengan budaya etnik tertentu, bahkan ada yang merupakan akulturasi multikultural. Terlebih dalam sejarahnya Semarang menjadi kota banyak disinggahi dari berbagai etnis pendatang dari berbagai negara. Keberagaman etnis ini tergambar dengan adanya pemukiman seperti wilayah Pacinan dan Pedamaran. Wilayah ini sekarang berada di sekita jalan Gang Pinggir sampai jalan Mataram. Pemukiman ini didirikan oleh pendatang dari daratan Cina pada masa Laksamana Chen Ho. Kemudian ada pemukiman orang-orang muslim melayu yang mendirikan pemukiman di kawasan Kampung Darat dan Kampung Melayu. Demikian juga orang muslim Arab, India, Pakistan dan Persia yang datang mendirikan pemukiman di wilayah Pakojan. Kawasan ini di sekitar jalan Kauman, jalan Wahid Hasyim sampai jalan Petek di Semarang Bagian Utara.[10] Keberagaman penduduk tersebut juga membuat keberagaman kebudayaan. Setiap warga Semarang mempunyai kebudayaannya sendiri-sendiri berdasarkan negara asalnya. Namun seiring berjalannya zaman terjadi sebuah pembauran secara kultur. Seolah tidak ada batas antara kelompok masyarakat satu dengan masyarakat yang lain. Sehingga jadi sebuah masyarakat yang multikultul dan multietnis. Keberadaan Semarang yang termasuk dalam wilayah budaya Jawa pesisiran menjadikan tempat pergumulan budaya lokal dengan berbagai ragam etnis berhasil menghasilkan mozaik budaya lokal yang plural. Tampak pada aktivitas kultur upacara atau tradisi yang berkembang. Karakter masyarakat pesisir yang bersemangat kerakyatan, terbuka, apa adanya dan religius diimplementasikan dalam bentuk tradisi, seminal sedekah laut di kampung nelayan Tambak Lorok dan Bandarjo.[11] Dalam hal tradisi keagamaan yang masih diselenggarakan oleh pendudukan muslim Semarang misalnya tradisi selamatan atas syukuran, Yasinan, Tahlilan, Khataman, Manaqiban, Berzanzii, Takbiran dan Dugderan. Selain tradisi keagamaan umat Islam, di Kota Semarang juga memiliki tradisi ritual yang dikembangkan oleh warga umat yang lain. terutama dari etnik Tionghua. Semenjak berakhirnya orde baru, tradisi-tradisi budaya maupun ritual warga Tionghua kembali semarak hingga sekarang ini. Tradisi tersebut seperti arak-arakan Dewa Bumi, perayaan Imlek, arak-arakan Sam Po Kong dan larung sesaji untuk Dewa Samudra.[12] Tradisi yang banyak menarik masyarakat Semarang dan diselenggarakan setiap tahun adalah perayaan ritual Dugderan. Dugderan ini dilakukan setiap menjelang bulan Ramadlan. Sebagai maskot dalam perayaan tradisi tersebut dihadirkan sebuah binatang khayalan yang disebut dengan Warak Ngendok yang merupakan simbol harmonisasi kehidupan budaya yang membentuk kesatuan identitas bersama dalam realitas budaya yang beragam. Tradisi Dugderan Menjalang Ramadhan Setiap menjelang datangnya bulan Suci Ramadlan, masyarakat Kota Semarang mengenal tradisi Dugderan. Sebuah pasar malam yang berlangsung meriah dan seru dilakukan hingga sekarang ini dengan berbagai macam perkembangannya. Tradisi ini sudah mulai berlangsung sejak zaman pemerintahan Bupati Kyai Raden Mas Tumenggung (KRMT) Purbaningrat. Pada tahun 1881 M, di Kota Semarang pada masa Bupati KRMT Purbaningrat, berkembanglah serbuah tradisi berupa arak-arakan menyambut datangnya bulan Ramadlan atau bulan Puasa. Masyarakat Kota Semarang menyebutkanya dengan istilah Dugderan. Setelah sesaat umat Islam melaksanakan shalat Ashar, tepat sehari menjelang bulan Ramadlan, dipukullah bedug Masjid Besar Kauman disusul dengan penyulutan meriam di halaman pendapa kabupaten di Kanjengan. Begud mengeluarkan bunyi “dug” dan meriam mengeluarkan bunyi “der” yang berkali-kali pada akhirnya digabungkan menjadi istilah Dugderan.[13] Mendengar suara Dug dan Der yang keras dari sekitar alun-alun pusat kota, masyarakat pun berbondong-bondong datang untuk menyaksikan apa yang terjadi. Masyarakat pun berkumpul di alun-alun di depan masjid, keluarlah Kanjeng Bupati dan Imam Masjid Besar memberikan sambutan dan pengumuman. Pada saat itu yang menjadi Imam Masjid Besar Kauman adalah Kyai Tafsir Anom.[14] Salah satu isinya adalah informasi yang pasti tentang penentuan awal bulan puasa bagi masyarakat pelosok dan golongan. Selain itu ada pula ajakan untuk selalu meningkatkan tali silaturrahim atau persatuan dan ajakan untuk senantiasa meningkatkan kualitas ibadah. Tradisi ini pun berjalan berulang-ulang, dari tahun ke tahun dan menjadi sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Semarang. Bupati RMT Purbaningrat mempunyai tujuan luhur dibalik tradisi baru tersebut. semuanya didasari keprihatinan terhadap kedamaian masyarakat Semarang yang dibangun selama ini. Ketika datang penjajah dari Belanda, ternyata ada gerakan pecah belah yang merusak tatanan masyarakat saat itu. Pembauran masyarakat dari berbagai suku, agama dan golongan, ternyata menjadikan persaingan tidak sehat dengan alasan yang dihembuskan oleh pihak penjajah. Warga Belanda mengemlompok di perkampungan Belanda di wilayah Semarang atas, warga Cina di daerah Pacinan, warga Arab di daerah Pakojan, warta perantauan luar Jawa mengelompok di kampung Melayu dan masyarakat pribumi Jawa menamakan wilayahnya dengan kampung Jawa. Ketegangan tersebut diperparah dengan perbedaan di kalangan umat Islam sendiri dalam menentukan awal bulan puasa yang berujung pada perbedaan hari-hari besar Islam lainnya. Dengan keberanian dan kecerdasan Bupati melakukan usaha untuk memadukan berbagai perbedaan, termasuk salah satunya untuk menyatukan perbedaan penentuan awal bulan Ramadlan. Usaha Bupati ini sangat didukung dari kalangan ulama yang berada di Kota Semarang. Salah satunya yang banyak berperan adalah Kyai Saleh Darat. Selain itu, tujuan dari diciptakannya tradisi Dugderan tersebut untuk mengumpulkan lapisan masyarakat dalam suasana suka cita untu bersatu, berbaur dan bertegur sapa tanpa pembedaan. Selain itu dapat dipastikan pula awal bulan Ramadlan secara tegas dan serentak untuk semua paham agama Islam berdasarkan kesepakatan Bupati dengan imam Masjid. Sehingga terlihat semangat pemersatu dangat terasa dalam tradisi yang diciptakan tersebut.[15] Dalam sejarah, Dugderan pertama kali dilaksanakan di Masjid Kauman, Bupati Semarang selaku umara datang ke Masjid Besar Kauman untuk bersama-sama ulama menyampaikan hasil keputusan tantang awal puasa. Dari peristiwa tersebut dapat dipahami bahwa Dugderan merupakan ritual keaagamaan dan masjid merupakan pusat perkumpulan umat. Prosesi tradisi Dugderan terdiri dari tiga agenda yakni pasar (malam) Dugder, prosesi ritual pengumuman awal puasa dan kirab budaya Warak Ngendok. Tiga agenda tersebut yang sekarang menjadi satu kesatuan dalam tradisi Dugderan. Tradisi hingga sekarang masih terus dilestarikan dan dilakukan dengan segala dinamika dan perkembangannya. Pasar Dugderan dilakukan selam satu bulan penuh mulai siang sampai malam dan dipusatkan di Pasar Johar atau sekitar Masjid Besar Kauman. Menariknya pasar Dugderan ini ramai dikunjungi oleh masyarakat pada malam hari untuk menikmati pasar malam. Setelah diadakan pasar malam selama satu bulan penuh kemudian dilanjutkan dengan prosesi ritual pengumumann awal bulan Ramadlan dan kirab Dugderan. Proses ritual diawali dengan persiapan peserta arak-arakan Dugderan dan pentas Warak Ngendok serta tari Semarangan di Balaikota. Rombongan yang dipimpin oleh Walikota Semarang yang memerankan Bupati Semarang mulai berangkat dari Balaikota menuju Masjid Besar Kauman sekitar pukul 14.00 WIB dengan rute melewati jalan Pemuda. Rombongan Bupati Semarang dikawal oleh prajurti patang puluh dan arak-arakan Warak Ngendok. Sementara itu di serambi Masjid Besar Kauman telah berkumpul puluhan ulama dan habaib termuka di Semarang. Para ulama dan habaib membahas tentang awal bulan puasa dari berbagai dasar ilmu perhitungan. Musyawarah dipimpin oleh ulama tertua Masjid Besar Kauman. Setelah diambil keputusan bahwa puasa dimulai pada besok hari, maka dibuatlah surat keputusan ualama pada selembar kertas.[16] Tidak lama kemudian, rombongan Bupati dan hadir pul Gubernur Jawa Tengah yang memerankan pemimpin Kesultanan Mataram atasan dari Bupati Semarang. Para ulama menyambut kedatangan para umara dengan suka cita di pelataran masjid. Setelah itu diteruskan dengan ramah tamah dan penyampaikan keputusan ulama tentang awal bulan puasa di serambi masjid. Dalam hal ini Bupati mengikuti keputusan para ulama dan sebagai pengukuhan atas keputusan ulama, Bupati berdiri dan membacakan teks surat keputusan ulama dimulainya ibadah puasa di bulan Ramadlan. Setelah Bupati selesai membakan surat keputusan, Bupati memukul Bedug Masjid Besar Kauman disaksikan segenap undangan. Bunyi meriam berdentuman dari kawasan Kanjengan seusai tabuhan bunyi gedug. Suasana semakin meriah dengan datangnya arak-arakan Warak Ngendog dan rombongan lainnya.[17] Pada awalnya, pada saat Bupati membacakan surat keputusan suasana menjadi hehing dan penuh perhatian. Seusai membacakan naskah kemudian Bupati memukul Bedug dan pada saat itu juga disulut meriam sehingga masyarakat merasa gembira dan senang. Dalam suasana bingarnya meriam dan bedug, dikeluarkan sebuah karya fenomenal dan menarik perhatian yang berupa seekor binatang khayal yang selanjutnya disebut dengan Warak Ngendok. Hadirnya Warak Ngendok dalam tradisi tersebut sebagai seekor binatang khayalan yang dapat menarik perhatian masyarakat sekitar. Hingga kemudian disebut dengan Warak Ngendok sebagai simbol tradisi Dugderan yang diadakan setiap menjelang bulan Ramadlan. Perkembangan selanjutnya tradisi ini tidak lagi menggunakan meriam sebagai penggantinya digunakankanlah bom udara dan sekarang sirene untuk menandai dimulainya tradisi Dugderan. Saat ini, tradisi ini sudah berkembang lebih semarak ditandai dengan datangnya para pedagang “tiban” yang menjajakan aneka permainan anak, makanan dan banyak lagi yang lain. Kondisi demikian memberikan warna baru terhadap trasidi Dugderan.[18] Warak Ngendok sebagai Simbol dalam Tradisi Dugderan Menurut penuturan sejarawan Semarang, Amen Budiman dan Djawahir Muhammad, tidak pernah bisa menyebutkan siapa pembuat Warak Ngendok karena tidak pernah ada dalam catatan sejarah.[19] Akan tetapi seperti halnya dengan sejarah Dugderan, Warak Ngendok diyakini juga sebagai kreasi dari Kyai Saleh Darat dan Bupati KRMT Purbaningrat, bisa sebagai kreasi perorangan di antara mereka atau kolaborasi keduanya. Menurut Supramono, bahwa ide Warak Ngendok berkaitan dengan tradisi Dugderan menyambut bulan Ramadlan tidak lain untuk memeriahkan acara sesuai ritual musyawarah dan pembacaan pengumuman awal puasa perlu dipukul bedug dan disulut meriam sebagai simbol pemersatu antara ulama dengan pemerintahan. Dalam pembacaan pengumuman, tidak semua lapisan masyarakat sekitar Semarang menyaksikan dan mendengar suara bedug dan meriam. Sehingga diperlukan ikon yang menarik perhatian dan fungsinya setara dengan pengumuman awal puasa. Sesuatu yang menarik adalah bentuk binatang yang belum pernah dilihat muncullah Warak Ngendok. Warak Ngendok ini kepalanya berbentuk rakus dan menakutkan, badan, leher, kaki dan ekor ditutup dengan bulu yang tersusun terbalik. Pada tahun 1881 an, Warak Ngendok terbuat dari bahan-bahan yang sangat sederhana seperti kayu, bambu dan sabut kelapa. Namun pada sekarang ini, bahan-bahan yang digunakan adalah kayu, kertas minyak ditambah berbagai ornamen dari kertas karton, gabus dan sebagainya. Dalam perkembangannya ditemukan tiga kelompok Warak Ngendok berdasarkan bentuknya,[20] yaitu: 1. Warak Ngendok Klasik, Warak Ngendok yang masi menampilkan unsur dan struktur asli serta diciptakan turun-menurun dalam wujud sama. Kepala terdiri dari bagian mulut bergigi tajam, mata melotot, telinga tegak atau tanduk, jenggot yang panjang lebat. Badan, leher dan keempat kakinya ditutup bulu yang terbalik dengan warna berselang-seling merah, kuning, putih, hijau dan biru. Terdapat ekor panjang, kaku melengkung berbulu serupa badan dan terdapat surai di ujungnya. Bentuk telur atau endhok terletak di antara dua kakai belakangnya. 2. Warak Ngendok Modifikasi, secara umum sama dengan Warak Ngendok Klasik. Perbedaannya hanya dibagian kepala yang mirip dengan kepala naga. Ada kesamaan bentuk naga Cina atau naga Jawa. Mocong yang mirip buaya dengan deretan gigi tajam, lidah bercabang menjulur, mata melotot, berkumis dan berjanggut, bertanduk kecil bercabang seperti rusa, kulit bersisik, bersurai di bagian belakang kepala. Naga Jawa biasanya memakai mahkota di atas kepalanya. 3. Warak Ngendok Kontemporer, secara struktur sama dengan Warak Ngendok Klasik, namun detail-detail kepala dan bulu tidak sesuai. Misalnya kepalanya seperti harimau, bulunya tidak terbalik, tidak berbulu tapi bersisik dan sebagainya. Ada ragam pendapat mengenai binatang Warak ini. Ada yang berpendapat bahwa binatang Warak ini merupakan perwujudan dari binatang sakti dalam kebudayaan Islam. Ada pula yang mengatakan, karena kota Semarang merupakan kota pelabuhan maka, tidak mustahil terjadi pembauran kebudayaan berbagai bangsa pendatang, di mana Warak ini menyerupai binatang dalam mitos kebudayaan Cina.[21] Perbedaan pandangan tentang binatang yang disebut Warak ini diakui oleh Supramono dalam penelitiannya. Supramono mengatakan bahwa ada anggapan bahwa Warak ini berasal dari perpaduan beberapa simbol budaya. Binatang itu berkepala Kilin sebagai binatang paling berkuasan dan berpengaruh di Cina dengan badan Buroq sebagai binatang Nabi Muhammad saat Isra’ Mi’raj. Ada juga yang berpendapat bahwa Warak berkepala naga, binatang simbol milik orang cina dengan badan kaming, binatang yang banyak dimiliki orang pribumi Jawa dan sering digunakan untuk berkorban saat Idul Adha. Selain itu juga ada pendapat yang mengatakan bahwa Warak merupakan hadiah dari warga Cina agar digunakan untuk memeriahkan tradisi ritual Dugderan sebagai bukti ketulusan mereka untuk bersatu dan berdamai guna menebus kesalahannya waktu membakar masjid besar saat pemberontakan warga Pecinan dulu. Namun pendapat tersebut sangat lemah dasarnya, karena hanya mengacu pada pembentukan kepala Kilin atau naga pada Warak Ngendok. Sementara dari unsur nama, bentuk keseluruhan dan makna karya lebih dominan pengaruh kebudayaan Jawa dan Islam.[22] Sebagaimana yang dikutip dalam buku Semarang Tempo Doeloe menyebutkan bahwa Legirah, seorang pembuat Warak Ngendok dari Kampung Purwodinatan Semarang, tidak mengetahui Warak itu binatang apa, dia hanya bisa membuat. Dia menuturkan bahwa dia juga berpikir terus kenapa binatang kakinya empat dan punya daun telinga tapi bisa memiliki telur.[23] Belum lama ini, ada warga Trimulyo Genuk, H Kholid yang mengaku mempunyai sanad kesaksian atas sejarah awal mula Warak Ngendok dan tradisi Dugderan. Dia mengau bahwa Warak Ngendok diciptakan oleh Kyai Abdul Hadi seoarang seniman, mantan tukang kau dan pandai mendalang dan membuat patung hewan yang sampai sekarang dikenal dengan Warak Ngendok. Menurutnya Kyai Abdul Hadi merangkai kayu dan rumput menjadi hewan sebagai simbol nafsu manusia, yaitu bersisik, mulutnya menganga dengan gigi bertaring, serta bermuka seram dengan badan seperti kambing. Itu gambaran nafsu yang harus dikalahkan dengan puasa. Maskot yang dilengkapi dengan telur (endhok) ini maksudnya apabila seseorang bisa bersikap wirai atau warak yang artinya menjaga nafsunya, maka akan mendapatkan ganjaran yang disimbolkan dengan telur atau endhok.[24] Meskipun demikian, keragaman budaya multietnik sampai dalam keutuhan karya yang disebut dengan Warak Ngendok. Warak Ngendok sebagai Simbol Akulturasi Budaya Sebagai maskot kota Semarang, Warak Ngendok merupakan hasil dari sebuah karya seni rupa juga memiliki keindahan secara intrinsik maupun ekstrinsik yang sangat kompleks dan integratif. Warak Ngendok dapat memiliki keindahan secara formalistik, kontekstual, simbolik, dan ekspresionistik. Secara formalistik bahwa tampilan kombinasi antar garis, bentuk, warna, tekstur yang didapatkan dari bahan untuk diolah dengan alat dan teknik kreatornya pada akhirnya telah menghasilkan satu kesatuan bentuk Warak Ngendok yang indah. Penggunaan kertas berwarna-warni, ukuran antar badan dan anggota badan, kepala yang penggarapannya menunjukkan kesan irama, perbandingan, dan pusat perhatian. Apabila di dari aspek waktu pelaksanaan kirab Warak Ngendok maka keindahannya bersifat kontekstual karena penanda awal bulan puasa yang unik dan khas di Semarang. Dari aspek keindahan simboliknya, kepala dan leher yang bewarna merah merupakan hewan yang rakus dan berangas sebagai simbol nafsu manusia. Sedangkan dari aspek tingkat ekspresinya, secara deskriptif kepala, leher, kaki, dan badan Warak Ngendok secara dominan memiliki struktur sudut-sudut bentuk dan garis yang lurus, tegas dan kaku. Berbagai konfigurasi unsur-unsur rupa pembentuk raut muka juga telah berhasil memunculkan karakter hewan yang berangas, menakutkan, dan rakus. Hal ini berbeda manakala dilihat dari sejarah awal kemunculannya maka sesungguhnya, Warak Ngendok bukanlah dimaksudkan sebagai simbol akulturasi budaya Cina, Jawa, dan Arab. Ia hanyalah sebuah binatang rekaan hasil rekayasa ulama pada masa itu yang ditujukan sebagai sarana penanaman nilai-nilai keislaman kepada masyarakat untuk bersemangat dan senang menyambut datangannya bulan suci Ramadlan. Semangat seperti ini yang digambarkan oleh Clifford Geertz melahirkan sebuah kebudayaan sebagai pedoman dan strategi adaptasi dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan hidup dengan menyesuaikan dan memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sekitar.[25] Sebagai sebuah tradisi budaya ketika sudah menjadi milik dan ekspresi suatu kelompok masyarakat maka akan mengalami perkembangan dan bahkan perubahan baik bentuk maupun pemaknaannya. Dengan didukung kondisi Kota Semarang sebagai kawasan pesisiran maka relatif terbuka dan terpengaruh dari luar dalam dinamika kehidupan masyarakat dan budayanya yang bersifat multietnis dan multikultur. Akhirnya, Warak Ngendok dipersepsikan, ditafsirkan, oleh masyarakatnya sebagai simbol akulturasi budaya karena adanya keinginan atau kebutuhan semua warga masyarakat Semarang yang terdiri atas etnis Jawa, Arab, dan Cina agar beridentitas dan berintegrasi secara budaya. Meskipun Warak Ngendok ini merupakan hasil ekspresi dari seseorang. Namun sejarah kemunculannya itu sebagai bentuk perayaan menyambut datangnya bulanya Ramadlan. Sehingga berangkat dari sejarah terebut, tentuk makna dan nilai yang ingin disampaikan tidak lepas dari spirit agama Islam untuk mengajak masyarakat Semarang yang beragama Islam menyambut bulan puasa. Sebagaimana yang dijelaskan di atas bahwa, kata Warak mendekati kata bahasa Arab wara’ berarti menghindari yang dilarang oleh Allah Swt. Dari ungkapan bentuk kepala Warak (yang asli) dengan kepala mendongak ke atas mulut membuka lebar sehingga terlihat ada gigi- gigi taring menyimbolkan sifat manusia yang suka makan dan sifat rakus, buas, serta amarah pada manusia. Bentuk leher hingga kepala yang dibalut dengan bulu berwarna merah menyimbolkan watak jelek, negatif, atau angkara murka manusia. Sifat-sifat negatif manusia harus dihilangkan melalui laku puasa melalui simbolisasi bulu keriting seperti bulu pitik walik. Sebaiknya manusia membalik (mengembalikan) sifat atau nafsu jelek manusia menjadi baik kembali melalui kegiatan berpuasa dengan harapan fitrah kembali yang dilambangkan (endhog). Telur adalah simbol kesucian layaknya janin yang ada dalam kandungan yang masih suci dari segala dosa.[26] Pesan budaya yang terkandung pada Warak Ngendog itu, setidaknya sesuai memiliki nilai, pertama, egaliter, yaitu bersifat kerakyatan tidak memperhatikan hal-hal yang formalitas dan kedudukan. Kedua, religiusitas tercermin pada kirab Warak Ngendok yang merupakan ritual keagamaan menyambut bulan Ramadan. Ketiga, spontanitas, yaitu kehadiran Warak Ngendog merupakan ekspresi keindahan, dan kegembiraan yang lebih bersifat spontan bagi masyarakat Semarang. Keempat, kejawen, yaitu bagi orang Jawa memiliki makna bahwa dalam menyambut datangnya bulan Ramadlan melakukan kegiatan seprti tradisi “Nyadran”. Berangkat dari penjelasan di atas, maka model empirik realitas ynag disebut dengan nama Warak Ngendok sebagai simbol akulturasi budaya untuk dijadikan sebagai sebuah model strategi untuk membangun integrasi budaya dalam masyarakat multikultur. Dalam peristiwa ritual Dugderan, ada tiga pihak yang secara aktif berperan di dalamnya secara sinergis tradiri Dugderan, yaitu Ulama, Pemerintah dan masyarakat. Dalam konteks ini, peran ulama sebagai pihak yang memberikan rujukan atau legalitas kepada pemerintah dan masyarakat dalam menentukan awal puasa di bulan Ramadlan. Sedangkan pemerintah selaku penguasa memiliki kewenangan mengatur apa dan bagaimana berjalannya prosesi ritual tersebut. Khususnya dalam hal menentukan awal puasa berdasarkan keputusan sidang para ulama dan menjadikan Warak Ngendok sebagai maskot di dalamnya. Masyarakat selain berperan sebagai pelaku dalam prosesi ritual Dugderan dan pembuat maskot Warak Ngendok, juga beperan sebagai subjek sasaran untuk menikmati sajian ritual Dugderan dan subjek sasaran untuk menerima pengumuman dari pemerintah. Warak Ngendok yang diciptakan dan dikembangkan oleh warga masyarakat kemudian diangkat oleh pemerintah sebagai maskot dalam prosesi tradisi ritual Dugderan. Seiring perkembangan waktu, kehadiran Warak Ngendok dengan perannya sebagai maskot ritual Dugderan, oleh masyarakat luas dimaknai sebagai simbol akulturasi budaya atas dasar pertimbangan karena keseluruhan perupaannya merepresentasikan simbol budaya tiga etnis warga yang merupakan mayoritas masyarakat Kota Semarang, khususnya di bagian Semarang bagian Utara, yaitu etnis Jawa yang disimbolkan melalui perupaan badan kambing, etnis Arab yang disimbolkan melalui perupaan leher unta dan etnis Cina disimbolkan smelalui perupaan kepala naga.[27] Dengan demikian interaksi tiga pihak yang berperan dalam peristiwa ritual Dugderan yang kemudian memunculkan penciptaan maskot Warak Ngendok dengan pemberian maknanya sebagai simbol akulturasi budaya bernilai estetik dan edukatif Islami itu, sesungguhnya bermuara pada terciptanya entitas budaya baru milik bersama yang dapat mempersatukan identitas budaya warga masyarakat yang bersifat multikultur. Dengan demikian sebagai simbol budaya akulturasi budaya, Warak Ngendok dapat berfungsi sebagai sarana untuk membangun integrasi budaya masyarakat Kota Semarang secara keseluruhan keseluruhan,yakni warga masyarakat pada umumnya, pemerintah dan ulama. Epilog Prosesi tradisi Dugderan merupakan tradisi tahunan yang diselenggarakan oleh masyarakat Kota Semarang. Tradisi ini mulai dilakukan sejak tahun 1881 M di Masjid Besar Kauaman Semarang. Dalam tradisini ini terdiri dari tiga agenda yakni pasar (malam) Dugder, prosesi ritual pengumuman awal puasa dan kirab budaya Warak Ngendok. Tiga agenda tersebut yang sekarang menjadi satu kesatuan dalam tradisi Dugderan. Tradisi hingga sekarang masih terus dilestarikan dan dilakukan dengan segala dinamika dan perkembangannya. Dalam ritual pengumaman awal bulan Ramadlan bertujuan untuk membertahukan kepada seluruh masyarakat Semarang mengenai penetapan awal puasa. Selain itu, sebagai sarana untuk berkumpulnya masyarakat Semarang yang multientis dalam suasana yang menyenangkan. Berkumpul menjadi satu tanpa memandang perbedaan. Suasana semakin membaur dengan hadirnya binatang khayalan yang dinamakan Warak Ngendok. Melihat sejarah awal kemunculannya maka sesungguhnya, Warak Ngendok bukanlah dimaksudkan sebagai simbol akulturasi budaya Cina, Jawa, dan Arab. Ia hanyalah sebuah binatang rekaan hasil rekayasa ulama pada masa itu yang ditujukan sebagai sarana penanaman nilai-nilai keislaman kepada masyarakat untuk bersemangat dan senang menyambut datangannya bulan suci Ramadlan. Walaupun demikian sebagai sebuah tradisi budaya ketika sudah menjadi milik dan ekspresi suatu kelompok masyarakat maka akan mengalami perkembangan dan bahkan perubahan baik bentuk maupun pemaknaannya. Dengan didukung kondisi Kota Semarang sebagai kawasan pesisiran maka relatif terbuka dan terpengaruh dari luar dalam dinamika kehidupan masyarakat dan budayanya yang bersifat multietnis dan multikultur. Akhirnya, Warak Ngendok dipersepsikan, ditafsirkan, oleh masyarakatnya sebagai simbol akulturasi budaya karena adanya keinginan atau kebutuhan semua warga masyarakat Semarang yang terdiri atas etnis Jawa, Arab, dan Cina agar beridentitas dan berintegrasi secara budaya. DAFTAR PUSTAKA Budiman, Amen, Semarang Riwayatmu Dulu, Semarang: Penerbit Tanjung Sari, 1978. Djawahir, Muhammad, Semarang Sepanjang Jalan Kenangan, Semarang: Kerja Sama DKJT, Pemda Semarang dan Aktor Studio, 1995. Koentjaraningrat, Membangun Mentalitas dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1987. Muspriyanto, Edy dkk, Semarang Tempo Doeloe; Meretas Masa, Semarang: Terang Publishing, 2006. Pemerintah Kota Semarang, Semarang dalam Angka 2012, Semarang: Pemerintah Kota Semarang bekerjsama dengan Bappeda Kota Semarang dan Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2013. Rosidi, T.R., Kesenian Suatu Pendekatan Kebudayaan, Bandung: Penerbit STISI, 2000. Sahal, Hamzah, Ihwal Warak Ngendok dan Dugderan, Senin, 01 Agustus 2011, NU Online. Diakses 27 November 2014. Supramono, Makna Warak Ngendog dalam Tradisi Ritual Dugderan di Kota Semarang, Tesis, Universitas Negeri Semarang, 2007. T.O. Ihromi (ed.), Pokok-pokok Antropologi Budaya, Jakarta: Gramedia, 1980. Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. I, Edisi ke-VI, Jakarta: Gramedia, 2008. Tio Jongkie, Semarang City, a Glance into the Past, Semarang: Lembaga Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang, 2007. ——–, Kota Semarang dalam Kenangan, Semarang: Lembaga Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang, 2007. Triyanto dkk, Warak Ngendhog: Simvol Akulturasi Budaya pada Karya Seni Rupa, Jurnal Komunitas, Edisi 5, Vol. 2, 2013.   Catatan Akhir [1] Lihat Koentjaraningrat, Membangun Mentalitas dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1987, hlm. 1-4. Lihat juga T.O. Ihromi (ed.), Pokok-pokok Antropologi Budaya, Jakarta: Gramedia, 1980, hlm. 13-14. [2] Kata budaya ini bisa juga diartikan sebagai adat istiadat, sesuatu yang mengenai kebudayaan yang sudah berkembang dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sudar untuk dihilangkan. Selengkapnya lihat Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. I, Edisi ke-VI, Jakarta: Gramedia, 2008, hlm. 214-215. [3] Selengkapnya baca Koentjaraningrat, op.cit., hlm. 14-18. [4] Muhammad Djawahir , Semarang Sepanjang Jalan Kenangan, Semarang: Kerja Sama DKJT, Pemda Semarang dan Aktor Studio, 1995, hlm. 72-75. [5] Kota Semarang merupakan salah satu kota yang ada di pesisir utara di Jawa Tengah. Secara geografis, Kota Semarang berada di garis 6o 50’-7o 10’ Lintang Selatan dan garis 109o 35’ – 110o 50’ Bujur. Sebelah utara dibatasi oleh Laut Jawa, sebelah timur dibatasi oleh Kabupaten Demak, sebelah selatan dibatasi oleh Kabupaten Semarang dan sebelah Barat dibatasi oleh Kabupaten Kendal. Kota Semarang terbagi menjadi 16 Kecamatan dan 177 Kelurahan dengan luas wilayah 373,70 Km-2. Selengkapnya lihat, Pemerintah Kota Semarang, Semarang dalam Angka 2012, Semarang: Pemerintah Kota Semarang bekerjsama dengan Bappeda Kota Semarang dan Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2013, hlm. 2. [6] Ibid. [7] Mulai tahun 1945, pemerintahan dipimpin oleh Walikota, lihat Triyanto dkk, Warak Ngendhog: Simbol Akulturasi Budaya pada Karya Seni Rupa, Jurnal Komunitas, Edisi 5, Vol. 2, 2013, hlm. 164. [8] Amen Budiman, Semarang Riwayatmu Dulu, Semarang: Penerbit Tanjung Sari, 1978, hlm. 36. [9] Selengkapnya baca Ibid., hlm. 47. Mengenai asal-usul nama “Semarang” berasal dari kata “Asam Arang”. Karena di daerah Semarang dulu banyak tumbuh pohon Asam yang sangat berguna untuk masyarakat dan daunnya yang tumbuh bergerombol dan arang-arang (bahasa Jawa untuk Jarang) hingga disebut dengan Semarang. Lihat juga Jongkie Tio, Kota Semarang dalam Kenangan, Semarang: Lembaga Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang, 2007, hlm. 8-9. [10] Supramono, Makna Warak Ngendog dalam Tradisi Ritual Dugderan di Kota Semarang, Tesis, Universitas Negeri Semarang, 2007, hlm. 50. [11] Triyanto dkk, loc.cit. [12] Ibid., hlm. 61. [13] Selengkapnya baca Edy Muspriyanto dkk, Semarang Tempo Doeloe; Meretas Masa, Semarang: Terang Publishing, 2006, hlm. 111-112. [14] Triyanto dkk, op.cit., hlm. 165. [15] Supramono, op.cit., hlm. 65-66. [16] Ibid., hlm. 82 [17] Selengkapnya baca Ibid., hlm. 83-87. [18] Edy Muspriyanto, op.cit. hlm. 113. [19] Hamzah Sahal, Ihwal Warak Ngendok dan Dugderan, Senin, 01 Agustus 2011, NU Online. Diakses 27 November 2014. [20] Ibid., hlm. 93-95. [21] Jongkie Tio, op.cit., hlm. 37. Lihat juga Jongkie Tio, Semarang City, a Glance into the Past, Semarang: Lembaga Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang, 2007, hlm. 143. [22] Supramono, op.cit., hlm. 88-89 [23] Edy Muspriyanto, op.cit,. hlm. 114. [24] Hamzah Sahal, op.cit. [25] T.R. Rosidi, Kesenian Suatu Pendekatan Kebudayaan, Bandung: Penerbit STISI, 2000, hlm.3 [26] Triyanto, op.cit., hlm. 169. [27] Ibid., hlm. 170. Post navigation ← Rousseau, Kontrak Sosial dan Agama Sipil: Sebuah PengantarAdil Bagimu, Belum Tentu Bagiku; Keadilan dalam Filsafat Hukum → Leave a Reply Your email address will not be published. Required fields are marked * Name * Email * Website Comment You may use these HTML tags and attributes:
Proudly powered by WordPress | Theme: Adaption by Automattic.

Tentang Kyai Sholeh Darat

Menu Thariqat Sarkubiyah Santun Berdakwah Sejuk Beribadah Biografi Kiai Shaleh Darat Semarang Posted by Tim Sarkub Sarkub Share: Muhammad Shalih bin Umar (1820 M), yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai Shaleh Darat, adalah seorang ulama besar pada zamannya. Ketinggian ilmunya tidak hanya bisa dilihat dari karya-karya monumental dan keberhasilan murid-muridnya menjadi ulama-ulama besar di Jawa, tetapi juga bisa dilihat dari pengakuan penguasa Mekkah saat ia bermukim di sana. Ia dinobatkan menjadi salah seorang pengajar di Tanah Suci tersebut. . Selain itu, ia adalah seorang ulama yang sangat memperhatikan orang-orang Islam awam dalam bidang agama. Ia menulis ilmu fiqih, aqidah, tasawuf dan akhak dengan bahasa yang mudah dipahami orang awam, yakni dengan bahasa Jawa. . Kelahirannya Nama lengkapnya Muhammad Shalih bin Umara al-Shamarani, atau lebih dikenal dengan sebutan Kiai Shalih Darat. Ayahnya Kiai Umar merupakan salah seorang pejuang dan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro di Jawa Bagian Utara, Semarang, di samping Kiai Syada’ dan Kiai Mutadha Semarang. Kiai Shaih Darat dilahirkan di desa Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sekitar 1820 M. Sedangkan informasi lainnya menyatakan bahwa, Kiai Shaih Darat dilahirkan di Bangsri, Jepara. Ia wafat di Semarang pada 28 Ramadhan 1321 H/18 Desember 1903 M. . Ia disebut Kiai Shaih Darat, karena ia tinggal di kawasan yang bernama Darat, yaitu suatu daerah di pantai utara Semarang, tempat mendarat orang-orang dari luar Jawa. Kini daerah Darat termasuk wilayah Semarang Barat. Adanya penambahan Darat sudah menjadi kebiasaan atau ciri dari oang-orang yang terkenal di masyarakat. . Kiai-Kiai Seperjuangan Sebagai seorang putra Kiai yang dekat dengan Pangeran Diponegoro, Kiai Shalih Darat mendapat banyak kesempatan untuk berkenalan dengan teman-teman orang tuanya, yang juga merupakan kiai terpandang. Inilah kesempatan utama Kiai Shalih Darat di dalam membuat jaringan dengan ulama senior di masanya, sehingga ketokohannya diakui banyak orang. Di antara kiai senior yang memiliki hubungan dekat dengan Kiai Shalih Darat adalah: . Kiai Hasan Bashari ( putra Kyai Nur Iman Mlangi dari garwa Gegulu ;tambahan oleh ravie ananda ), ajudan Pangeran Diponegoro. Salah seorang cucunya ( nya yang dimaksud adalah Kiai Hasan Bashari) KH. M. Moenawir, pendiri pesanten Krapyak Yogyakarta, adalah salah seorang murid Kiai Shalih Darat. Kiai Syada’ dan Kiai Darda’, dua orang prajurit Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran Diponegoro tertawan, Kiai Darda’ yang beasal dari Kudus, kemudian menetap di Mangkang Wetan, Semarang bagian barat, dan memnbuka pesantren di sana. Kepadanya, Kiai Shalih Darat pernah menuntut ilmu. Kiai Bulkin, putera Kiai Syada’, dikawinkan dengan Natijah, puteri Kiai Darda’, dan memperoleh anak yang bernama Kiai Tahir. Kyai Tahir ini, cucu kiai Darda’ adalah murid Kiai Shalih Darat setelah pulang dari Makkah. Kiai Murtadha, teman seperjuangan Kiai Umar ketika melawan Belanda. Shafiyyah, puteri Kiai Muartadha, dijodohkan dengan Kiai Shalih Darat setelah pulang dari Makkah. Kiai Jamasari, prajurit Pangeran Diponegoro di daerah Solo dan pendiri Pondok pesantren Jamsaren, Surakarta. Ketika kiai Jamsari ditangkap Belanda, pesantrennya tidak ada yang melanjutkan, lalu ditutup. Pesanten tersebut dihidupkan kembali oleh Kiai Idris, salah seorang santri senior Kiai Shalih Darat. Dialah yang menggantikan Kiai Shalih Darat selama ia sakit hingga wafatnya. Menikah Selama hayatnya, Kiai Shalih Darat pernah menikah tiga kali. Perkawinannya yang pertama adalah ketika ia masih berada di Makkah. Tidak jelas siapa nama istrinya. Dari perkawinanya pertama ini, ia dikarunia seorang anak yang diberi nama Ibrahim. Tatkala Kiai Shalih Darat pulang ke Jawa, istrinya telah meninggal dunia dan Ibrahim tidak ikut serta ke Jawa. Ibrahim ini tidak mempunyai keturunan. Untuk mengenang anaknya (Ibrahim) yang pertama ini, Kiai Shalih Darat menggunakan nama Abu Ibrahim dalam halaman sampul kitab tafsirnya, Faidh al-Rahman. Perkawinannya yang kedua dengan Sofiyah, puteri Kiai Murtadha teman karib bapaknya, Kiai Umar, setelah ia kembali di Semarang. Dari pekawinan ini, mereka dikarunia dua orang putera, Yahya dan Khalil. Dari kedua putranya ini, telah melahirkan beberapa anak dan keturunan yang bisa dijumpai hingga kini. Sedangkan perkawinannya yang ketiga dengan Aminah, puteri Bupati Bulus, Purworejo, keturunan Arab. Dari perkawinannya ini, mereka dikaruniai anak. Salah satu keturunannya adalah Siti Zahrah. Siti Zahrah dijodohkan dengan Kiai Dahlan santri Kiai Shalih Darat dari Tremas, Pacitan. Dari perkawinan ini melahirkan dua orang anak, masing masing Rahmad dan Aisyah. Kiai Dahlan meninggal di Makkah, kemudian Siti Zahrah dijodohkan dengan Kiai Amir, juga santri sendiri asal Pekalongan. Perkawinan kedua Siti Zahrah tidak melahirkan keturunan. . Kiai-kiainya di Tanah Jawa Sebagaimana anak seorang Kiai, masa kecil dan remaja Kiai Shalih Darat dilewatinya dengan belajar al-Qur’an dan ilmu agama. Sebelum meninggalkan tanah airnya, ada beberapa kiai yang dikunjunginya guna menimba ilmu agama. Mereka adalah : 1.      KH. M. Syahid. Untuk pertama kalinya Kiai Shalih Darat menuntut ilmu dari Kiai M. Syahid, seorang ulama yang memiliki pesantren Waturoyo, Margoyoso Kajen, Pati. Pesantren tersebut hingga kini masih berdiri. Kiai M. Syahid adalah cucu Kiai Mutamakkin yang hidup semasa Paku Buwono II (1727-1749M). kepada Kiai M. Syahid ini, Kiai Shaleh Darat belajar beberapa kitab fiqih. Di antaranya adalah kiab Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Minhaj al-Qawwim, Syarh al-Khatib, Fath al-Wahab dan lain-lain. 2.      Kiai Raden Haji Muhammad Shaleh bin Asnawi, Kudus. Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Tafsir al-Jalalain karya Imam Suyuti. 3.      Kiai Ishak Damaran, Semarang. Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Nahwu dan Sharaf. 4.      Kiai Abu Abdillah Muhammad bin Hadi Buquni, seorang Mufti di Semarang. Kepadanya Kiai Shaleh Darat ilmu falak. 5.      Kiai Ahmad Bafaqih Ba’alawi, Semarang. Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar kitab Jauhar al-Tauhid karya Syekh Ibrahim al-Laqqani dan Minhaj al-Abidin karya imam Ghazali. 6.      Syekh Abdul Ghani Bima, Semarang. Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar kitab Masail al-Sittin karya Abu Abbas Ahmad al-Mishri. Yaitu sebuah kiab yang beisi ajaran-ajaran dasar Islam yang sangat populer di Jawa pada abad ke-19 M. 7.      Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim Bulus Gebang Purworejo Kepadanya Kiai Shaleh Darat mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tasawuf dan tafsir al-Qur’an. Oleh Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim ini, Kiai Shaleh Darat diperbantukan kepada Zain al-Alim ( putra Mbah Ahmad Alim ), untuk mengasuh sebuah pesantren di Dukuh Salatiyang, Desa Maron, Kecamatan Loano, Purworejo. Melihat keragaman kitab-kitab yang diperoleh oleh Kiai Shaleh Darat dari beberapa gurunya, menunjukkan betapa kemampuan dan keahlian Kiai Shaleh Darat di bidang ilmu agama. . Pergi ke Makkah Setelah belajar di beberapa daerah di Jawa, Kiai Shaleh Darat bersama ayahnya berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ayahnya wafat di Makkah, kemudian Kiai Shaleh Darat menetap di Makkah beberapa tahun untuk memperdalam ilmu agama. Pada waktu itu, abad ke-19, banyak santri Indonesia yang berdatangan ke Makkah guna menuntut ilmu agama di sana. Termasuk Kiai Shaleh Darat. Ia pergi ke Makkah dan bermukim di sana guna menuntut ilmu agama dalam waktu yang cukup lama. Sayangnya, tidak diketahui secara pasti tahun berapa ia pergi ke Makkah dan kapan ia kembali ke tanah air. . Kiai-Kiainya di Makkah Yang jelas, selama di Makkah, Kiai Shaleh Darat telah berguru kepada tidak kurang dari sembilan ulama setempat. Mereka adalah : 1.      Syekh Muhammad al-Maqri a-Mishri al-Makki. Kepadanya ia belajar ilmu-ilmu aqidah, khusunya kitab Ummul Barahin karya Imam Sanusi (al-Sanusi). 2.      Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah. Ia adalah pengajar di Masjid al-Haram dan al-Nabawi. Kepadanya, Kiai Shaleh Darat belajar fiqih dengan menggunakan kitab Fath al-Wahhab dan Syarh al-Khatib, serta Nahwu dengan menggunakan kitab Alfiyah Ibnu Malik. Sebagaimana tradisi belajar tempo dulu, setelah menyelesaikan pelajaran-pelajaran tersebut, Kiai Shaleh Darat juga memperoleh “Ijazah”. Adanya istilah ijazah dikarenakan penerimaan ilmu tersebut memiliki sanad. Dalam hal ini, Kiai Shaleh Darat mendapatkan ilmu dari Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah yang memperoleh ilmu tersebut dari gurunya, Syekh Abdul Hamid a-Daghastani, dan al-Dagastani mendapatkan dari Ibrahim Bajuri yang mendapatkan ilmunya dari al-Syarqawi, pengarang kitab Syarh al-Hikam. 3.      Al-‘Allamah Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, mufti madzab Syafi’iyah di Makkah. Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Ihya’ Ulum al-Diin. Dari sini ia juga mendapatkan ijazah. 4.      Al-‘Allamah Ahmad An-Nahawi al-Mishri al-Makki. Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar al-Hikam karya Ibnu Atha’illah. 5.      Sayyid Muhammad Shalih al-Zawawi al-Makki, salah seorang guru di Masjid Nabawi. Darinya, Kiai Shaleh Darat belajar kitab Ihya’ Ulum al-Din juz 1 dan 2. 6.      Kiai Zahid. Darinya Kiai Shaleh Darat juga belajar kitab Fath al-Wahhab. 7.      Syekh Umar a-Syami. Darinya Kiai Shaleh Darat juga belajar kitab Fath al-Wahhab. 8.      Syekh Yusuf al-Sanbalawi al-Mishri. Darinya Kiai Shaleh Darat belajar Syarh al-Tahrir karya Zakaria al-Anshari. 9.      Syekh Jamal, seoang Muftti Madzab Hanafiyyah di Makkah. Darinya Kiai Shaleh Darat belajar Tafsir al-Qur’an. Dari sinilah, Kiai Shaleh Darat mendapatkan ijazah ketika selesai mempelajari kitab-kitab tertentu, semisal Fath al-Wahhab, Syarh al-Khatib dan Ihya’ Ulum a-Din. Dari sini pulalah apa yang dipelajari Kiai Shaleh Darat dari kitab-kitab tersebut, berpengaruh besar terhadap isi kitab yang dikarangnya, yaitu Majmu’ al-Syariat al-Kafiyah li al-awwam. . Jaringan Keulamaan Kiai Shaleh Darat : Semasa belajar di Makkah, Kiai Shaleh Darat banyak bersentuhan dengan ulama-ulama Indonesia yang belajar di sana. Di antara para ulama yang sezaman dengannya adalah: 1.      Kiai Nawawi Banten, disebut juga Syekh Nawawi al-Bantani. 2.      Syekh Ahmad Khatib. Ia seorang ulama asal Minangkabau. Lahir pada 6 Dzulhijjah 1276 (26 Mei 1860 M) dan wafat di Makkah pada 9 Jumadil Awwal (1916 M). Dalam sejarahnya, dua tokoh pendiri NU dan Muhamadiyyah KH. Hasyim As’ari dan KH. Ahmad Dahlan pernah menjadi murid Ahmad Khatib. Tercatat ada sekitar 49 karya yang pernah ditulisnya. Di antaranya kiitab Al-Nafahat dan Al-Jawahir fi A’mal a-Jaibiyyat. 3.      Kiai Mahfuzh a-Tirmasi. Ia adalah kakak dari Kiai Dimyati. Selama di Mekkah, ia juga berguru kepada Ahmad Zaini Dahlan. Ia wafat tahun 1338 H (1918 M). 4.      Kiai Khalil Bangkalan, Madura. Ia adalah salah seorang teman dekat Kiai Shaleh Darat. Namanya cukup terkenal di kalangan para Kiai pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. ia belajar di Mekkah sekitar pada tahun 1860 dan wafat pada tahun 1923. . Diajak pulang oleh Kiai Hadi Girikusumo Ketinggian ilmu Kiai Shaleh Darat tidak hanya bisa dilihat dari karya-karya monumental dan keberhasilan para santrinya menjadi para kiai besar tetapi juga bisa dilihat dari pengakuan penguasa Mekkah saat Kiai Shaleh Darat bermukim di Mekkah. Ia dipilih menjadi salah seorang pengajar di Mekkah. Di sinilah Kiai Shaleh Darat bertemu dengan Mbah Hadi Girikusumo pendiri pondok pesantren Ki Ageng Girikusumo, Mranggen, Demak, Jawa Tengah. Ia merupakan figur yang sangat berperan dalam menghadirkan Kiai Shaleh Darat ke bumi Semarang.Melihat kehebatan Kiai Shaleh Darat Mbah Hadi Girikusumo merasa terpanggil untuk mengajaknya pulang bersama-sama ke tanah air untuk mengembangkan islam dan mengajar umat islam di Jawa yang masih awam. . Namun karena Kiai Shaleh Darat sudah diikat oleh penguasa Mekkah untuk menjadi pengajar di Mekkah, sehingga ajakan pulang itu ditolak. Namun Mbah Hadi nekat, Kiai Shaleh Darat diculik, di ajak pulang. Agar tidak ketahuaan, saat mau naik kapal untuk pulang ke! Jawa, Kiai Shaleh Darat dimasukkan ke dalam peti bersama barang bawaannya. Namun di tengah jalan ketahuan, jika Mbah Hadi menculik salah seorang ulama di Masjid Mekkah. Akhirnya pada saat kapal merapat di pelabuhan Singapura, Mbah Hadi ditangkap. Jika ingin bebas maka harus mengganti dengan sejumlah uang sebagai denda. Para murid Mbah Hadi yang berada di Singapura mengetahui bila gurunya sedang menghadapi masalah besar, akhirnya membantu menyelesaikan masalah tersebut dengan mengumpulkan dana iuran untuk menebus kesalahan mbah Hadi dan menebus uang ganti kepada penguasa Mekkah atas kepergian Kiai Shaleh Darat. Akhirnya, mbah Hadi dan Kiai Shaleh Darat berhasil melanjutkan perjalanan dan berhasil mendarat ke Jawa. . Mbah Hadi langsung kembali ke Girikusumo, sedangkan Kiai Shaleh Darat menetap di Semarang, mendirikan pesantren dan mencetak kader-kader pelanjut perjuangan Islam. Sayang sekali, sepeninggalan Kiai Shaleh Darat, pesantrennya tidak ada yang melanjutkan, kini di bekas pesantren yang dulu digunakan oleh Kiai Shaleh Darat untuk mengajar mengaji hanya berdiri sebuah masjid yang masih digunakan untuk menjalankan ibadah umat islam di kampung Darat Semarang. . Tentang Teori Kebebasan Manusia Ia juga terkenal sebagai pemikir dalam bidang ilmu kalam. Menurut Nur Kholis Majid, seorang cendikiawan muslim Indonesia, Kiai Shaleh Darat sangat kuat mendukung paham teologi Asy’ariyyah dan Maturidiyah. Pembelaannya pada paham ini jelas kelihatan dalam bukunya Tarjamah Sabil al-‘Abid ‘ala Jauhar al-Tauhid. Di sini ia mengemukakan penafsirannya tentang sabda Nabi SAW bahwa akan terjadi perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang selamat, yaitu mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW, yakni melaksanakan akaid, pokok-pokok kepercayaan ahlus sunnah wajama’ah, Asy’aiyah dan Maturidiyah. . Selanjutnya dalam teori ilmu kalam yang berkaitan dengan perbuatan manusia, ia menjelaskan bahwa paham Jabariyah dan Qadariyah tentang perbuatan manusia adalah sesat. Yang benar adalah paham Ahlus Sunnah yang berada di tengah antara Jabariyah dan Qodariyah. Sebagai ulama yang berfikir maju, ia senantiasa menekankan perlunya ikhtiar dan kerja keras, setelah itu baru menyerahkan diri secara pasrah kepada Yang Maha Esa. Ia sangat mencela orang yang tidak mau bekerja keras karena memandang segala nasibnya telah ditaqdirkan Allah SWT. sebaliknya, ia juga tidak setuju dengan teori kebebasan manusia yang menempatkan manusia sebagai pencipta hakiki atas segala perbuatannya. . Sang Delegator Pesantren Dalam sejarah pesantren, Kiai Shaleh Darat layak disebut sebagai “ elegator Pesantren”. Karena ia tidak pernah ikut membesarkan pesantren orang tuanya, sebagaimana mafhumnya anak-anak kiai. Ia justru lebih memilih membantu memajukan pesantren orang lain dan membuat pesantren sendiri, dengan tanpa maksud menobatkan dirinya sebagai pengasuh pesantren. . Karir kekiaian Kiai Shaleh Darat diawali sebagai guru yang diperbantukan di pesantren Salatiyang yang terletak di Desa Maron, Kecamatan Loano, Purworejo. Pesantren ini didirikan sekitar abad 18 oleh tiga orang sufi, masing-masing Kiai Ahmad ( Muhammad ) Alim, Kiai Muhammad Alim ( putra Mbah Kyai Ahmad Alim ), dan Kiai Zain al Alim ( Muhammad Zein, juga putra Mbah Kyai Ahmad Alim ). Dalam perkembangan selanjutnya pesanten ini dipercayakan kepada Kiai Zain al Alim. Sementara Mbah Kiai Ahmad ( Muhammad )Alim mengasuh sebuah pesantren, belakangan bernama al-Iman, di desa Bulus, Kecamatan Gebang. Adapun Kiai Muhamad Alim ( putra Mbah Kyai Ahmad Alim ) mengembangkan pesantrennya juga di Desa Maron, yang kini dikenal dengan pesantren al-Anwar. Jadi kedudukan Kiai Shaleh Darat adalah sebagai pengajar yang membantu Kiai Zain al Alim ( Muhammad Zein ). . Pesantren Salatiyang sendiri lebih menfokuskan pada bidang penghafalan al-Qur’an, di samping mengajar kitab kuning. Di sinilah besar kemungkinannya, Kiai Shaleh Darat diperbantukan untuk mengajar kitab kuning, seperti fiqh, tafsir dan nahwu Sharaf, kepada para santri yang sedang menghafal al-Qur’an. Di antara santri jebolan Salatiyang adalah Kiai Baihaqi (Magelang). Kiai Ma’aif, Wonosobo, Kiai Muttaqin, Lampung Tengah, Kiai Hidayat (Ciamis) Kiai Haji Fathulah (Indramayu), dan lain sebagainya. . Tidak jelas, berapa lama Kiai Shaleh Darat mengajar di pesantren Salatiyang. Sejarah hanya mencatat, bahwa pada sekitar 1870-an Kiai Shaleh Darat mendirikan sebuah pesantren baru di Darat, Semarang. Hitungan angka ini didasarkan pada kitabnya , alHikam, Yang ditulis rampung dengan menggunakan Bahasa Arab Pegon pada tahun 1289 H/1871 M. pesantren Darat merupakan pesanten tertua kedua di Semarang setelah pesantren Dondong, Mangkang Wetan, Semarang yang didirikan oleh Kiai Syada’ dan Kiai Darda’, dua mantan prajurit Diponegoro. Di pesantren ini pula Kiai Shaleh Darat pernah menimba ilmu sebelum pergi ke Mekkah. . Selama mengasuh pesanten, Kiai Shaleh Darat dikenal kurang begitu memperhatikan kelembagaan pesantren. Karena factor inilah, pesantren Darat hilang tanpa bekas sepeninggalan Kiai Shaleh Darat, pada 1903 M. konon bersamaan meninggalnya Kiai Shaleh Darat, salah seorang santri seniornya, Kiai Idris dari Solo, telah memboyong sejumlah santri dari Pesantren Darat ini ke Solo. Kiai Idris inilah yang kemudian menghidupkan kembali pondok pesantren Jamsaren, yang pernah didirikan oleh Kiai Jamsari. . Ada versi lain yang menyebutkan bahwa pesantren yang didirikan oleh Kiai Shaleh Darat bukanlah pesantren dalam arti sebenarnya, di mana ada bangunan fisik yang mendukung. Pesantren Darat hanyalah majelis pengajian dengan kajian bermutu yang diikuti oleh parasantri kalong. Ini mungkin terjadi, mengingat kedekatan pesantren Darat dengan pesantren Mangkang, dimana Kiai Shaleh Darat pernah belajar di sana, bisa mempengaruhi tingkat ketawadlu’an kiai senior. . Santri-santrinya Di antara tokoh yang pernah belajar kepada Kiai Shaleh Darat adalah: KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhamadiyah), Kiai R. Dahlan Tremas, seorang Ahli Falak (w. 1329 H), Kiai Amir Pekalongan (w. 1357 H) yang juga menantu Kiai Shaleh Darat, Kiai Idris (nama aslinya Slamet) Solo, Kiai Sya’ban bin Hasan Semarang, yang menulis artikel “Qabul al-‘Ataya ‘an Jawabi ma Shadara li Syaikh Abi Yahya, untuk mengoreksi salah satu dari salah satu bagian dari kitab Majmu’at al-Syari’ah karya Kiai Shaleh Darat; Kiai Abdul Hamid Kendal; Kiai tahir, penerus pondok pesantren Mangkang Wetan, Semarang; Kiai Sahli kauman Semarang; Kiai Dimyati Tremas; Kiai Khalil Rembang; Kiai Munawir Krapyak Yogyakarta; KH. Dahlan Watucongol Muntilan Magelang, Kiai Yasin Rembang; Kiai Ridwan Ibnu Mujahid Semarang; Kiai Abdus Shamad Surakarta; Kiai Yasir Areng Rembang, serta RA Kartini Jepara. . Persinggungannya dengan A Kartini Adalah sosok yang tidak terikat dengan alian-aliran dalam Islam. Ia justru sangat menghargai aliran yang berkembang saat itu. Ia lebih menekankan pada nilai-nilai pokok (dasar) Islam, dan bukan furu’iyyah (cabang). Lebih dari itu, Kiai Shaleh Darat dikenal sebagai sosok penulis tafsir al-Quran dengan menggunakan bahasa Jawa. Ia sering memberikan pengajian, khusunya tafsir al-Quran di beberapa pendopo Kabupaten di sepanjang pesisir Jawa. . Sampai suatu ketika RA Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan, khususnya untuk anggota keluarga. RA Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama para Raden Ayu yang lain di balik hijab (tabir/tirai). RA Kartini merasa tertarik tentang materi yang disampaikan pada saat itu, tafsir al-Fatihah, oleh Kiai Shaleh Darat. Setelah selesai pengajian, RA. Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemaninya untuk menemui Kiai Shaleh Darat. Ia mengemukakan: “saya merasa perlu menyampai! kan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada rormo kiai dan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT atas keberanian romo kiai menerjemahkan surah al-Fatihah ke dalam bahasa Jawa sehingga mudah difahami dan dihayati oleh masyarakat awam, seperti saya. Kiai lain tidak berani berbuat seperti itu, sebab kata mereka al-Quran tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa lain.” Lebih lanjut Kartini menjelaskan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tidak mengerti sedikit pun akan maknanya, tetapi sejak hari ini menjadi terang benderang sampai kepada makna yang tersirat sekalipun, karena romo kiai menjelaskannya dalam bahasa Jawa yang saya fahami.” . Kiai Shaleh Darat selalu menekankan kepada muridnya agar giat menimba ilmu. Karena intisari ajaran al-Quran, menurutnya,, adalah dorongan kepada umat manusia agar mempergunakan akalnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan di akhirat nanti. . Karya Tulisnya Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, banyak ulama Indonesia yang menghasilkan karya tulis besar. Tidak sedikt dari karya-karya mereka yang ditulis dengan bahasa Arab. Setelah Kiai Ahmad Rifa’I dari Kalisalak (1786-1875 M) yang banyak menulis kitab yang berbahasa Jawa, tampaknya Kiai Shaleh Darat adalah satu-satunya kiai akhir abad ke-19 yang karya tulis keagamaanya berbahasa Jawa. . Adapun karya-karya Kiai Shaleh Darat yang sebagiannya merupakan terjemahan, berjumlah tidak kuang dari 12 buah, yaitu: 1.      Majmu’at Syari’at al-Kafiyat li al-Awam. Kitab ini khusus membahas persoalan fiqih yang ditulis dengan bahasa Jawa dengan huruf Arab Pegon. 2.      Munjiyat Metik Sangking Ihya’ Ulum al-Din al-Ghazali. Sebuah kitab yang merupakan petikan dari kitab Ihya’ Ulum al-Din juz 3 dan 4. 3.      Al-Hikam karya Ahmad bin Athailah. Merupakan terjemahan dalam bahasa Jawa. 4.      Lathaif al-Thaharah. Berisi tentang hakikat dan rahasia shalat, puasa dan keutamaan bulan muharram, Rajab dan Sya’ban. Kitab ini ditulis dengan bahasa Jawa. 5.      Manasik al-Haj. Berisi tuntunan atau tatacara ibadah haji. 6.      Pasolatan. Berisi hal-hal yang berhubungan dengan shalat (tuntunan shalat) ima waktu, kitab ini ditulis dengan bahasa Jawa dengan Huruf Arab pegon. 7.      Sabillu ‘Abid terjemahan Jauhar al-Tauhid, karya Ibrahim Laqqani. Merupakan terjemahan berbahasa Jawa. 8.      Minhaj al-Atkiya’. Berisi tuntunan bagi orang orang yang bertaqwa atau cara-cara mendekatkan diri kepada Allah SWT. 9.      Al-Mursyid al-Wajiz. Berisi tentang ilmu-ilmu al-Quran dan ilmu Tajwid. 10.  Hadits al-Mi’raj 11.  Syarh Maulid al-Burdah 12.  Faidh al-Rahman. Ditulis pada 5 Rajab 1309 H/1891M. kitab ini diterbitkan di Singapura. 13.  Asnar al-Shalah . Kini, Kiai Shaleh Darat memiliki sekitar 70 trah (keturunan) yang tersebar di berbagai daerah. Biasanya, dalam waktu-waktu tertentu mereka berkumpul dan bersilaturahmi di Masjid Kiai Shaleh Darat di Jln. Kakap/Darat Tirto, Kelurahan Dadapsari yang terletak di Semarang Utara. . Dari pertemuan silaturahmi ini, telah 13 kitab karya Kiai Shaleh Darat berhasil dikumpulkan. Sebagian kitab tersebut dicetak di Bombay (India) dan Singapura. Hingga kini, keturunan Kiai Shaleh Darat terus melakukan pencarian dan penelusuran kitab-kitab tersebut ke masing-masing keluarga keturunan Kiai Shaleh Darat di Jepara, Kendal, bahkan sampai ke negara-negara Timur Tengah. Sumber:  http://tamashared.wordpress.com/ Anda mungkin juga meminati: Bakiak Kiai Abbas Rontokkan Pesawat-2 Sekutu Mengenang KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy KH. Cholil Nawawie Sidogiri, Teladan dari Kitab Berjalan Linkwithin Menyan Terkait: Prof. DR. Buya Hamka Pengikut Thariqat KH. Abdul Wahid Hasyim – Dari Pesantren Untuk Bangsa Wali Quthb Yang Menghadirkan Cinta Ilahi Mengenang Haul 10 Tahun Abah Guru Sekumpul Habib Neon, Penerang Umat 16/04/201215 Replies « Previous Next » Leave a Reply Your email address will not be published. Required fields are marked * Name * Email * Website Komentar, Silahkan Tulis Jimat * − 6 = 0 Comment Notify me of follow-up comments by email. Notify me of new posts by email. Mahrizal on 20/04/2012 at 16:24 Terima kasih saya jadi tahu sejarahnya ulama besar kyai ini Reply Ashwin on 21/04/2012 at 09:28 Terima kasih infonya semoga menjadi amal ibadah kita semua. Kelompok yang menginginkan penghapusan hari kartini adalah upaya menghilangkan sejarah yang telah ditemukan kembali dari upaya penggelapan sejarah yang sebenarnya. Kelompok itu menggunakan nama Freemasonry-Belanda-lah yang mengupayakan agar RA. Katini menjadi bagian sejarah Nasional Indonesia, agar semua ummat islam juga terpancing untuk menolaknya karena adanya Freemason. Hari Kartini sudah sangat baik tinggal kita semua ummat Islam menambhakannya dengan mengingatkan kepada pahlawan wanita lainnya seperti : Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, Malahayati dan lainya. Wassalam Reply Nebula Phoenix on 24/04/2012 at 02:50 Insya 4JJ1, beliau termasuk salah satu ulama besar yang memiliki berbagai disiplin ilmu agama yang pada masanya masih sedikit orang yang seperti beliau, dari keseluruhan hasil-hasil karya beliau yang berjumlah kurang lebih sekitar 40 buah buku, dan yang terselamatkan baru sekitar 13 kitab karya beliau, dan yang lainnya masih tersebar, karena ketinggian ilmu beliau itulah, banyak memberikan inspirasi beberapa ulama terutama ulama-ulama di tanah jawa dan beberapa pejuang-pejuang pada masa-masa sebelum kemerdekaan negeri ini. Beliau termasuk ulama yang bisa memberikan ayoman kepada hampir seluruh lapisan masyarakat yang memiliki berbagai latar belakang budaya dan mengarahkan kepada masyarakat untuk mengenal ketauhid an dengan bijak. Namun sangat di sayangkan, bekas petilasan pondok pesantren peninggalan mertua beliau yang berada di kampung darat telah hilang, yang tersisa hanyalah bangunan baru berupa masjid, yang di pugar menjadi bangunan baru oleh cucu keturunan beliau, dan saat ini pun cucu keturunan beliau telah di panggil oleh Allah SWT. Dan ironis lagi, tempat tersebut sebegitu sepinya di karenakan perbedaan sebuah faham yang di ikuti oleh cucu keturunan beliau, yang saat itu cucu keturunan beliau berfaham dari salah satu murid kyai sholeh darat, yaitu kyai ahmad dahlan, yang seharusnya bukan sebuah faham, namun hanyalah sebuah organisasi yang bisa meneruskan perjuangan gurunya, melalui masyarakat yang intelek pada waktu itu, untuk membuka wawasan kaum intelek untuk berjuang membebaskan negeri ini melalui pendidikan dan jalur diplomasi atau dengan tujuan utama mencerdaskan lapisan masyarakat untuk maju. Sepeninggal cucu keturunan beliau, sampai saat ini pun di tempat peninggalan Kyai Sholeh Darat, konflik semakin meruncing, antara beberapa pengurus takmir yang diangkat dan di pilih oleh cucu keturunan beliau yang se faham dan bahkan lebih keras, dengan sebagian keluarga keturunan cucu Kyai Sholeh Darat.Takmir yang di bentuk menolak dan melarang beberapa bentuk kegiatan seperti maulid, tahlil, manakib, sholawatan, puji-pujian dan apapun yang menurut takmir itu tidak sesuai dengan qur’an dan hadist, di nash bid’ah dan di larang. Dan beberapa keluarga keturunan Kyai Sholeh Darat mengikuti ajaran yang sesuai dengan beberapa kitab-kitab Kyai Sholeh Darat, seperti maulid burdah, tahlil, dan lainnya, dan masih mengacu pada Qur’an dan Hadist sudah dianggap oleh takmir itu tidak sesuai dengan aqidah, dan dianggap bukan keturunan cucu kyai sholeh darat dan bukan orang islam. Ironis sekali ucapan dan statement yang di keluarkan takmir yang di bentuk oleh cucu keturunan Kyai Sholeh Darat. Dan itu menunjukkan, seperti inikah ummat Muhammad SAW ?, masing-masing merasa paling benar, dan masing-masing mengucapkan sesuai dengan Qur’an dan Hadist ?, Ironis, kita melupakan satu bagian terpenting selain Al Qur’an dan Hadist, yaitu ahlaq Muhammad SAW, kearifan dan kebijaksanaan Muhammad SAW, di lupakan oleh ummatnya, dan hasilnya adalah saling mengkafirkan saudara-saudaranya sendiri, Masyaa 4JJ!, maaf, ini sekelumit ungkapan hati yang sangat sedih melihat pertikaian antar saudara sesama muslim. Reply Pingback: ASAL USUL “HABIS GELAP TERBITLAH TERANG” « Hasanain Juaini's Media Pingback: RA Kartini dan Kyai Sholeh Darat, Sejarah Bangsa yang Digelapkan Orientalis Belanda | Membangun Negeri Dengan Cinta Ibu (MNDCI) doktertoeloes malang on 03/07/2012 at 11:46 Amat sangat disayangkan tiada penerus atau pewaris dari pondok pesantren seperti lazimnya kyai2 besar pada umum nya …… benar2 amat sayang sekali . Reply bobytok on 04/07/2012 at 10:20 aku pengen ziaroh ke sana…..tapi nanti di katakan bid’ah ,,, Reply Pingback: Muhamadiyah & NU di Persimpangan | Zona Menyan aunurrofiq rizal on 28/07/2012 at 01:14 maaf mas, perkenalkan saya salah satu keluarga asli pondok dondong yg masih keturunan Mbah Kyai Darda’. tolong hubungkan saya dengan penulis artikel ini. saya mencari informasi mengenai silsilah dan kisah leluhur saya guna menambah wawasan mengenai leluhur dan sejarah. terima kasih. Reply nebula phoenix on 08/08/2012 at 04:33 Ada informasi, bahwa organisasi Muhammadiyah sekarang sudah bukan lagi sebagai organisasi, namun menjadi sebuah faham, faham yang di anut bukan lagi faham dari KH Ahmad Dahlan, namun faham dari Muhammad Basya Dahlan, yang merupakan orang bentukan kolonial Belanda waktu itu, Van Der Plassk, Muhammad Basya Dahlan merupakan orang sumatera (Aceh?) yang di tugaskan untuk melemahkan organisasi Muhammadiyah dengan memasukkan faham-faham garis keras. yang menolak semua madzhab, terutama syafi’i, dan menganggap bid’ah semua laku yang di lakukan oleh KH Hasyim Ashari, benarkah demikian ? Reply aviv on 15/08/2012 at 16:04 Lihatlah Agama jangan dari Kebesaran orang, lihatlah agama ini dari sumbernya, yaitu Rasulullah yang diteruskan oleh para sahabat lalu ulama’ sesudahnya sampai pada kurun ketiga termasuk para Ahlul Hadist dan Imam 4 Madzhab dan orang2 yang mengikuti mereka (seperti ibnu hajar imam nawawi imam suyuti merekalah pembesar penganut syafi’i lalu Ibnu Taimiyah dll dari pembesar madzhab Ahmad bin hambal lalu imam syatibi dll dari pembesar mazdhab imam malik dan lainnya yang tidak bisa disebutkan disini), siapakah yang benar2 mengikuti mereka dalam ilmu dan fatwa2nya yang telah dituliskan dalam karangan beliau. Apakah Muhammadiyah atau NU? saya hanya mau mengingatkan imam madzhablah ibarat sanat (penghubung sampai nabi) yang dipercaya oleh orang yang menyebutnya sebagai penganut ahli sunnah. menurut hemat saya yang benar yang mengikuti mereka dalam ilmu dan fatwanya. siapakah mereka …. (pelajarilah kitab2 asli para ulama’ itu, maka kamu akan tahu siapa mereka (yang berhak menyebut sebagai orang yang telah benar dalam menjalankan agamanya). Reply Pingback: Sejarah Bangsa yang Tidak Tercatat | Zona Menyan Firin David Ulujami on 12/09/2012 at 13:07 Sungguh menggugah perjuangan Kyai Sholeh Darat. Sebagai inspirasi bagai anak cucunya dan warga semarang pada umumnya serta seluruh ummat Islah di asia tenggara. Mohon ijin saya copas ya. Terima kasih FRU Reply khoirul on 05/11/2012 at 13:43 Saya pecinta karya ulama terutama karya mbah soleh darat trus dimana kira2 bisa saya dadatkan karya mbah soleh darat tersebut? Mhn kasih kbr hub.081334454846 Reply Muhammad Fadilah Ramdhan on 21/04/2015 at 04:51 Matur suwun kyai…. Reply View Full Site Proudly powered by WordPress