Menimbang Cinta
Oleh: Titien SDF
Pagi ini, seorang anak datang padaku. Mata beningnya yang polos terasa seperti ujung jarum menghujam ke dalam bola mataku. Perih dan dalam, meluberkan anak sungai yang tiba-tiba terlukis di pipi.
"Umi menangis?" tanyanya mengerjap polos. Kedua tangan mungilnya mengusap pipiku lembut.
"Umi kelilipan," jawabku sekenanya.
"Sini, Mas tiup. Biar kelilipnya hilang," katanya lagi. Diletakkannya dua tangan membuka mataku, disorongkannya bibirnya meniup.
Aku mengerjap haru, "terima kasih, Mas. Umi sayang Mas karena Allah," bisikku.
"Mas juga sayang Umi," katanya membalas pelukanku. Sejenak kemudian dilepasnya pelukan, "Mas main dulu ya, Mi."
Mataku mengikutinya sampai hilang dari pandangan. Tapi hatiku berdetak keras, aku menyayanginya karena Allah, benarkah? Pertanyaan itu mengaduk-aduk segala rasa yang ada. Aku tahu, harta dan anak-anak hanya ujian. Hati ini mencintainya, tapi bagaimana akhirnya? Akankan Dia mengumpulkan kami dalam jannah-Nya. Atau memisahkan kamj seperti Dia memisahkan Nabi Nuh as dan Nabi Luth as dengan keluarganya?
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)."
Bunyi QS Ali Imran: 14 itu terngiang lagi di telinga. Kecintaan pada sesuatu yang diingini, wanita/pendamping, anak-anak, rumah, kendaraan, dan yang lainnya. Itu adalah fitrah, kecenderungan yang diperbolehkan Allah. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi, yang di sisi Allah jauh lebih baik dari dunia seisinya, cinta Allah lebih baik dari segalanya. Karenanya, kita perlu menimbang cinta.
Lalu Allah berfirman:
Katakanlah: "jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah, Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. [QS. At-Taubah: 24]
Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu’anhuma meriwayatkan, suatu saat dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin itu merasa cemburu, sedangkan Allah lebih besar rasa cemburunya -daripada dirinya-.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kita mungkin seringkali berkata: ” Setiap orang yang kucintai tak pernah langgeng menemaniku, entah karena ghibah, maut, permusuhan, ataupun karena ludesnya kekayaanku."
Tidaklah engkau tahu wahai yang dicintai Allah Swt, wahai yg didamba dan dirindukannya, bahwa Allah Swt sangat cemburu kepadamu sekiranya engkau terlalu mencintai selainNya ( sampai-sampai engkau melupakanNya). Tidakkah engkau mendengar firman-Nya : ” Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya?”…..(QS Al-Maidah 5;54) dan firman yang lain : Dan tidaklah Kuciptakan manusia dan jin melainkan untuk menyembah kepadaKu ( QS Al Dzariyat 51:56).
Cinta tak bisa lepas dari cemburu, saudaraku. Begitupun dengan kecintaan Allah dengan hamba-Nya. Dia akan cemburu bila kita lebih mencintai yang selain-Nya. Dia akan memberi ujian untuk menimbang cinta kita kepada-Nya.
Setiap ujian yang diberikan Allah pada kita, adalah ujian untuk menimbang cinta kita. Diperintahkan-Nya kita berinfaq dalam keadaan lapang dan sempit. Dimulai dengan senyum dan wajah berseri-seri kepada saudara kita. Yang terlihat demikian ringan dan mudah inipun terkadang sulit untuk kita lakukan saat dada kita sempit. Lalu Dia minta sebagian harta kita melalui sodaqoh dan zakat. Tak jarang kita merasa berat untuk menunaikannya.
Setiap orang diuji pada sisi-sisi kelemahannya. Jika dia sangat menyukai harta, dia akan terus diuji dengan hartanya. Jika dia sangat mencintai wanita, dia akan banyak disibukkan dengan wanita. Begitupun bila dia sangat menyayangi anak, dia akan terus diberi masalah yang berkaitan dengan anak.
Tidakkah kau mendengar sabda Rasullullah, "jika Allah Swt mencintai seorang hamba, maka Ia mengujinya; jika ia bersabar; maka Ia memeliharanya." Di antara sahabat bertanya, "Bagaimana pemeliharaan-Nya ya Rasullullah?”. Nabi menjawab, “Ia tak menyisihkan baginya kekayaan atau anak.”
Karena jika ia memiliki harta atau anak yg di cintainya, maka cinta kepada Tuhan akan terbagi, kemudian sirna, kemudian terbagikan antara Allah Swt dan selainNya. Ia cemburu. Sampai hatinya menjadi bersih dari segala selain Allah Swt, dan berhala-berhala seperti istri, harta, anak, keturunan, kenikmatan dan syahwat, segala bentuk kekuasaan, kepemimpinan, kemuliaan serta segala bentuk dan derajat kemuliaan. .
Ambilah suri tauladan pada kisah Nabi Ibrahim as, bagaimana Allah mengujinya dengan kekafiran ayahanda yang sangat dia cintai? Bagaimana Allah mengujinya dengan kecantikan Sarah, istrinya? Bagaimana Allah menimbang cintanya terhadap Hajar dan Ismail? Dan dia membuktikan cintanya, maka Allah mengembalikan apa yang dicintainya dan melipatgandakan karunia-Nya.
Belajarlah pada kisah Rasulullah saw. Bagaimana Allah mengujinya dengan keadaan yatim dan piatu? Bagaimana Allah mengujinya dengan mengambil semua anak lelakinya? Bagaimana Allah mengujinya dengan tugas-tugas kenabian yang begitu berat untuk ditunaikan? Dan Allah memuliakannya di atas para malaikat dan utusan-Nya yang lain.
Lalu bagaimana dengan cinta kita, saudaraku? Acapkali kita berucap, "aku mencintai Allah di atas segalanya." Namun, apa yang kita persembahkan pada-Nya? Kita masih berat berinfaq, kita masih keliru merawat karunia Allah, keliru dalam menanamkan kecintaan pada anak-anak kita. Seringkali, tarikan dunia itu jauh lebih kuat, hingga kemudian Allah merampasnya dari kita, untuk mengembalikan kita ke jalan cinta-Nya.
Cukuplah QS Attaubah; 24 menjadi pengingat agar kita selalu menimbang cinta kita kepada-Nya.
Katakanlah: "jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah, Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. [QS. At-Taubah: 24]
#Demak, 11082015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar