Sahabat keluarga Indonesia Berbekal ilmu, iman dan amal shalih membangun peradaban mulia
Pengikut
Cari Blog Ini
Pengikut
Senin, 31 Agustus 2015
HOS Cokroaminoto
Santri Menulis
▼
Minggu, 01 Maret 2015
Pemikiran Islam H.O.S. Cokroaminoto
“Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat...”
Kutipan di atas adalah ungkapan yang paling masyhur dari seorang guru bangsa kita: H.O.S. Cokroaminoto. Tokoh Sarekat Islam itu tidak hanya seorang pemikir Islam, tetapi juga seorang bapak ideologis yang melahirkan para pendiri republik ini. Soekarno yang nasionalis, Kartosuwiryo yang islamis, dan Muso-Alimin yang komunis adalah tiga tokoh yang dibesarkan dalam asuhan Cokroaminoto. Dalam tulisan ini saya akan memperkenalkan tokoh besar ini. Meski hanya sekilas semoga catatan ini memberikan manfaat bagi pembaca yang budiman.
Biografi Singkat H.O.S. Cokroaminoto
H.O.S. Cokroaminoto lahir dilahirkan pada tanggal 16 Agustus 1882 Bakur, Ponorogo, Jawa Timur. Umar Said, nama kecilnya, dibesarkan dalam lingkungan keluarga bangsawan Jawa yang religius. Raden Mas Tjokromiseno, Ayahnya, menjadi salah satu pegawai Belanda sebagai Wedana di Kepatihan Pleco. Dari ayahnya ini Umar Said mendapatkan pendidikan agama yang ketat, di samping pendidikan Barat sebagaimana lazimnya anak pejabat pada waktu itu.[1] Perpaduan antara pendidikan agama dan pendidikan ala pendidikan Barat inilah yang kemudian membentuk cakrawala pemikiran Cokroaminoto.
Sebagai anak pejabat pemerintah, Cokro kemudian dikirim ke Magelang untuk melanjutkan pendidikannya di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA), yaitu sekolah administrasi pemerintahan yang diselesaikannya pada tahun 1902. Pada waktu itu, OSVIA dikenal sebagai lembaga pendidikan yang mencetak para pegawai Belanda. Oleh karena itu, begitu lulus dari OSVIA, Cokro kemudian diangkat menjadi juru tulis pada Patih[2] Ngawi. Bekerja sebagai pegawai pemerintah ternyata membosankan baginya. Ia pun keluar dan pergi ke Surabaya[3] dan bekerja di perusahaan gula sambil aktif menulis di harian Bintang Surabaya dan harian Fadjar. Bersama istrinya, Suharsikin, ia mendirikan tempat kos di rumahnya. Di rumah inilah dia membesarkan Sukarno, Kartosuwiryo, dan Muso.
Cokroaminoto terkenal dengan sikapnya yang radikal dengan menentang kebiasaan-kebiasaan yang memalukan bagi rakyat banyak. Ia mengecam tingkah merunduk-runduk di hadapan orang Belanda. Baginya, antara pribumi dan totok adalah sederajat. Dengan manusia mana pun kita adalah sederajat. Sikapnya ini dan juga keberaniannya untuk tidak tunduk kepada pemerintah kolonial di kemudian hari menjadikan dia dikenal sebagai Gatotkoco Sarekat Islam.[4]
H.O.S. Cokroaminoto dan Sarekat Islam
Cokroaminoto bergabung dengan SI pada bulan Mei 1912 atas ajakan dari H. Samanhudi untuk memperkuat organisasi tersebut.[5] Nama Cokroaminoto menjadi terkenal setelah dia sukses menyelenggarakan kongres SI pertama di Surabaya pada tanggal 26 Januari 1913. Dalam sebuah pertemuan di Yogyakarta pada tanggal 18 Februari 1914, SI membentuk suatu pengurus pusat di mana Cokroaminoto duduk sebagai ketuanya dan H. Samanhudi sebagai ketua kehormatan. Mulai tahun 1916, partai ini sudah menggunakan istilah nasional dalam kongres-kongres yang diadakannya. Cokroaminoto segera mengembangkan SI menjadi sebuah gerakan politik terbesar di Indonesia dengan menegakkan cita-cita nasionalisme dan Islam sebagai sebuah ajaran dasar pemikirannya.[6]
Pada kongres nasional pertama tahun 1916 di Bandung , SI telah berani mengajukan tuntutan Indonesia merdeka yang merupakan inti aspirasi masyarakat Indonesia. Dalam kongres tersebut Cokroaminoto berkata bahwa bangsa Indonesia mempunyai hak untuk berpartisipasi di dalam masalah politik. Dia juga menuntut agar bangsa Indonesia juga ikut andil dalam memutuskan berbagai undang-undang dan peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Selanjutnya, pada kongres nasional kedua tahun 1917, SI menyampaikan tuntutan untuk peningkatan pertanian, peningkatan subsidi pemerintah dalam bidang pendidikan, penghapusan hak-hak bangsawan pribumi dan perluasan hak pilih warga Indonesia.[7] Kongres tersebut juga memutuskan bahwa SI akan duduk dalam Volkstraad (Dewan Rakyat) dengan tujuan untuk terus berusaha untuk memperjuangkan mengubah Volkstraad menjadi sebuah parlement yang sejati.[8]
Pada tanggal 18 Mei 1918, Cokroaminoto duduk sebagai anggota Volksraat mewakili SI. Dalam posisinya ini tak kenal lelah dia mengingatkan kepada penyelenggara negara untuk menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan dalam menjalankan roda pemerintahan.[9] Karena sikap kritisnya kepada pemerintah Belanda menyebabkan Belanda menjadi gerah karenanya. Pada tahun 1920, Cokroaminoto dipenjarakan selama delapan karena dianggap terlibat dalam sejumlah pemberontakan di Tanah Air. Selama 8 bulan dia mendekam di dalam jeruji besi danb SI, sebagai gerakan nasional yang dipimpinnya, mulai melemah.[10]
Pemikiran Keagamaan H.O.S. Cokroaminoto
Seperti halnya Ahmad Hassan dan para pembaharu lainnya, Cokroaminoto sangat menekankan pentingnya pemahaman tauhid secara benar. Kepribadian yang tangguh, bebas dari rasa takut dan sedih akan diperoleh umat Islam jika berpegang pada tauhid yang benar. Selain itu, dia juga menganjurkan agar umat Islam tidak hanya berdebat dalam permasalahan furu’ (cabang) saja, tetapi harus berkiprah dalam persoalan yang lebih besar yang sedang di hadapi umat Islam. Menurutnya, sebagai agama yang rasional, modern dan memiliki landasan tauhid yang benar, maka penguasaan atas ilmu pengetahuan harus digalakkan, di samping menanamkan rasa keislaman yang mendalam dan memberikan penghargaan terhadap tanda-tanda kebesaran tradisi Islam.[11]
Ungkapan “semurni-murni tauhid” yang diserukannya itu juga harus mewujud dalam amal nyata. Artinya, Islam sebagai sistem keyakinan itu harus terwujud dalam langkah nyata di tengah kehidupan masyarakat. Kerja-kerja sosial kemanusiaan dalam bentuk peningkatan pertanian dan pemberian subsidi bagi kaum pribumi merupakan bagian dari pelaksanaan ajaran agama.[12] Dengan begitu, menurut penulis, Cokroaminoto menyerukan kepada umat Islam agar memikirkan kepada sendi-sendi kehidupan masyarakat yang luas. Umat Islam sudah seharusnya ikut berkiprah dalam membangun demokrasi, mengentas kemiskinan, meningkatkan kualitas pendidikan, dan lain sebagainya, tidak hanya sibuk berdebat mempermasalahkan urusan-urusan cabang dalam agama Islam.
Pemikiran Politik H.O.S. Cokroaminoto
Dalam bidang politik, Cokroaminoto mempunyai pemikiran tentang negara demokrasi melalui perwakilan di parlemen (Ahl al Hal wal Aqd) untuk memilih orang-orang yang berhak memegang kekuasaan (Ahlul Imamah) yang bebas dari penjajahan.[13] Agama Islam merupakan alat yang tepat untuk membangun persatuan dan rasa nasionalisme di Indonesia. Adapun visi politik Cokroaminoto adalah membentuk sosialisme Islam di mana bangunan ekonomi sosialistik menjadi dasar pijakannya tanpa ada monopoli, riba, dan eksploitasi. Cokroaminoto mencita-citakan bangunan masyarakat yang berdasarkan persaudaraan, kemerdekaan dan persamaan, namun tetap religius dan cinta Tanah Air.
Pemikiran politik dan keislaman Cokroaminoto ini tertuang dalam karyanya Sosialisme Islam. Di lain kesempatan semoga saya bisa mengupas kandungan karya tersebut.
[1] Kholid O. Santosa, Manusia di Panggung Sejarah: Pemikiran dan Gerakan Tokoh-Tokoh Islam, (Bandung: Sega Asri, 2009), hlm. 55.
[2] Patih adalah pejabat dalam lingkungan pegawai negeri pribumi sebagai pembantu utama seorang bupati. Lihat Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: LP3ES, 1982), hlm. 121.
[3] Kholid O. Santosa, Manusia di Panggung Sejarah...hlm. 55.
[4] Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam...,hlm. 121-122.
[5] Ibid., hlm. 118.
[6] Ibid., hlm. 126.
[7] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam Jilid III terj. Gufron A. Mas’adi (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 331.
[8] M. Masykur Amin, H.O.S. Cokroaminoto: Rekonstruksi Pemikiran Dan Perjuangannya, (Yogyakarta: Cokroaminoto University Press, 1995), hlm. 69.
[9] Yudi Latif, Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan (Bandung: Mizan, 2014), hlm. 103.
[10] M. Masykur Amin, H.O.S. Cokroaminoto..., hlm. 72.
[11]Ibid., hlm. 39.
[12] Yudi Latif, Mata Air Keteladanan, hlm. 103.
[13] M. Masykur Amin, H.O.S. Cokroaminoto:, hlm. 95.
Azis Ahmad Pukul 02.44
Berbagi
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
‹
›
Beranda
Lihat versi web
Diberdayakan oleh Blogger.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar