Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Minggu, 16 Agustus 2015

Pelangi di Mata Ibu

PELANGI DI MATA IBU

Bicara tentang Ibu, seakan tak ada habisnya untuk kuceritakan. Ibu perempuan sederhana, bersuami Bapak yang pemarah tak menghilangkan kelembutannya.

Ada dua hal yang kuingat selalu bergantian menghiasi kedua bola matanya. Hujan dan pelangi.

Ibu bukan perempuan cengeng yang sering menangis terisak-isak dan berteriak tersedu sedan seperti perempuan-perempuan yang sering kulihat menghiasi layar kaca. Bukan, walau acapkali tubuh dan wajahnya menjadi perisai saat Bapak marah kepada kami. Tak sekalipun, sampai Bapak selesai menumpahkan kemarahan. Namun, diam-diam, aku selalu melihat hujan yang tertahan di putik matanya. Menunggu saatnya untuk turun melukis anak sungai di pipinya, bila Bapak sudah tertidur kelelahan. Tak ada rintihan, tak ada isakan, tak ada suara. Dan aku, hanya bisa diam dan mengusap bahunya yang sedikit berguncang.

"Bapak jahat, aku tidak mau punya Bapak yang itu. Aku mau Bapak yang tak suka marah-marah."

Kuucapkan kalimat itu saat usiaku masih SD. Dan Ibu selalu meletakkan telunjuknya di bibirku setiap aku mengatakannya, hingga aku mengerti beliau tak suka mendengar ucapan itu.

Sekali waktu, aku bertanya padanya mengapa selalu menangis setelah Bapak tertidur. Beliau bilang, "Ibu tidak menangis, Ibu hanya sedih dan berusaha memadamkan kemarahan Ibu sendiri."

"Ibu marah pada Bapak?"

"Tidak, Ibu marah pada diri Ibu sendiri, karena anak-anak Ibu masih saja membuat Bapak marah."

"Ibu tidak marah pada Bapak?"

"Bapakmu berhak marah, Nduk. Karena dia sudah lelah seharian bekerja mencari nafkah untuk kalian, untuk makan, untuk sekolah, dan untuk memenuhi kebutuhan lainnya."

"Tapi Ibu juga tidak duduk manis tanpa melakukan apa-apa. Ibu juga berjualan. Ibu juga  mengajar anak-anak TK, Ibu juga masih mengurus rumah dan kami."

Ibu mengusap kepalaku lembut, "kalau ndak ada bapakmu, ndak akan ada kamu, Nduk. Ndak boleh berpikir seperti itu. Kelak, kamu akan mengerti."

Ibu memang perempuan hebat. Hujan tak pernah menghilangkan senyum dari bibirnya untuk kami, walau apapun yang terjadi. Sebagai putri tertua, Ibu memang lebih sering bertukar pikiran denganku ketimbang dengan kakak laki-lakiku. Sedikit banyak, aku jadi tahu beban berat yang ditanggungnya.

Aku sangat suka melihat Ibu tersenyum. Selalu ada pendar pelangi di bola matanya yang bening. Seolah ada sebuah telaga di sana, dikelilingi hamparan bunga-bunga berwarna-warni. Senyum yang mampu menyibak kekhawatiranku dan menyembunyikan luka hatinya.

Semakin dewasa, aku semakin mengerti. Ibu adalah sekolah kehidupan bagiku. Darinya, aku belajar menerima dan menyampaikan keberatan dengan santun. Juga menganalisa setiap masalah dan mencari jalan keluarnya. Darinya, aku menimba kesabaran dan keteguhan. Bahwa segala sesuatu akan menjadi indah pada waktunya. Dan ketika pada akhirnya Bapak pergi meninggalkan kami, dia bukan lagi sosok keras hati yang ditakuti karena perangai kasarnya dahulu. Di hari tuanya, kami baru bisa menangkap kecintaannya yang berlebih, yang membuatnya terkadang terlihat over protektif.

Kini, di usianya yang semakin renta, Ibu masih bertahan dalam kesendiriannya. Kami berenam sudah mempunyai kekuarga sendiri. Tak jarang kami membujuk beliau untuk tinggal bersama kami, salah satu dari anak-anaknya. Beliau selalu menolak.

"Rumah ini meninggalkan banyak kenangan bersama Bapak, juga masa kecil kalian. Ibu tak bisa membiarkan kenangan itu hilang, setidaknya saat Ibu masih ada. Ibu tetap sayang kalian dan menunggu. Rumah ini rumah kalian juga, kembalilah sewaktu-waktu," begitu jawabnya selalu.

Itulah Ibu, hingga saat ini pun selalu ada hujan yang menderas setiap kali kami berkunjung. Hujan yang selalu diikuti pelangi, membanjirkan kerinduannya dan membiaskan bahagianya. Dan aku, selalu ingin melihatnya tersenyum. Ah Ibu, senyummu mendewasakanku.

#Demak, 15082015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar