Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 12 April 2018

Ibarat Mengayuh Sepeda

Menjalani pernikahan ibarat mengayuh sepeda.  Ada roda depan,  ada roda belakang.  Ada pedal kanan dan kiri,  apabila yang satu mengarah ke depan,  yang lain akan menyesuaikan diri di belakang.

Begitupun perumpamaan suami istri,  suami diibaratkan roda depan. Posisinya sebagai qowwam,  memimpin. Sedang istri diibaratkan  roda belakang,  yang harus taat kepada suami. Ketika roda depan bergerak maju maka roda belakang harus mengikuti maju,  pun ketika roda depan bergerak mundur,  maka roda belakang pun harus ikut mundur.  Tidak pernah ada dalam sejarah kalau roda depan maju,  roda belakangnya mundur,  atau saat roda depan mundur,  roda belakang malah maju.  Gak bisa bayangin kalo ada 😅

Tapi bukan berarti roda belakang otu boleh dianggap rendah sehingga diremehkan dan diabaikan.  Bukan berarti roda belakang itu gak penting, gak usah dianggap.  Faktanya,  kalau roda belakang bannya kempes/bocor juga gak bisa jalan juga.  Kalau dipaksakan jalan juga gak enak,  malah bisa bikin pelek jadi penyok. Begitu juga roda depan,  sama. Begitupun suami istri,  fungsi dan tugasnya sama-sama penting walaupun beda posisi.  Tetapi mereka harus bisa saling bekerja sama dan saling mengisi agar bisa menyelesaikan misi dan mewujudkan visi masa depan rumah tangga mereka.

Bila istri sebagai ibu menjadi madrosatul ula (sekolah pertama bagi anak-anaknya),  maka suami sebagai ayah adalah kepala sekolahnya/pengelolanya. Sebagai pengelola madrasah,  dia harus memilihkan ibu yang baik untuk menjadi guru pertama anak-anaknya.  Dia juga harus menyiapkan kurikulumnya,  seperti apa nantinya anak-anaknya akan dibentuk dan dididik. Suami dan istri,  masing-masing punya tanggung jawab yang sama besar dalam mendidik anak.

Begitupun dalam tugas-tugas yang lain,  seperti roda depan dan roda belakang sepeda,  suami istri harus  sevisi,  setujuan sehingga bisa saling mendukung, dan saling menjaga.

Ada dua pedal, kanan dan kiri,  ketika yang satu maju ke depan,  yang lainnya menyesuaikan diri dengan mundur ke belakang. Coba kalau dua-duanya berkeras maju ke depan semua,  sepedanya malah mogok gak mau maju.  Begitupun suami istri dalam mengelola emosi/konflik. Bila yang satu agak panas,  yang lain semestinya mendinginkan,  jangan ikut-ikutan  panas. Bila yang satu mulai marah,  jangan ikut-ikutan marah,  lebih baik diam dan berusaha menenangkanya.  Bila yang satu agak melemah,  males atau mungkin mulai putus asa,  yang lain semestinya mendorong  agar terus berusaha tetap tegar dan bangkit.

Bagaimana pun,  pernikahan adalah hajat kerja bersama antara suami dan istri,  dan sebaik-baiknya tujuannya adalah ibadah,  menggenapkan agama,  yang dengannya diharapkan akan dapat sampai pada sebuah rumah surgawi.  Rumah yang di dalamnya tak ada kelelahan dan penderitaan.  Rumah yang kita harapkan menjadi rumah abadi kita bersama orang-orang tercinta. Semoga...

Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota 'ayunin waj'alna lil muttaqiina immama,  aamiin

#Demak, 12042018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar