Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Senin, 29 Januari 2018

Melukis harapan

MELUKIS HARAPAN

Kampung Bedono terlihat senyap. Hanya ada beberapa rumah yang masih bertahan tanpa ditinggalkan penghuninya. Memang,  sepuluh tahun terakhir rob dan abrasi susul menyusul, mengabadikan laut di dalam rumah-rumah warga. Bukan hanya sekali dua, pemkab setempat membantu warga meninggikan jalan dan rumah mereka, namun laut seakan tak mau membiarkan begitu saja daratan bertahan agak lama di sana.

"Pak, kenapa Bapak tak mau pindah saja ke rumah kami?" tanya Ahmad memecah hening malam, "di sini hampir tak ada tempat yang kering, nyamuknya juga luar biasa."

"Rumah Bapak di sini, Ahmad. Sudah berpuluh tahun, sejak kamu belum lahir. Dan Bapak ingin mati di sini," tutur lelaki tua itu sambil melepas udang yang diperolehnya dari jala, "nyamuk-nyamuk itu sudah menjadi teman Bapak sehari-hari. Orang tua itu memang menggantungkan hidupnya dengan menjala udang.

Muna menghela napas, tangannya sibuk menepuk nyamuk yang memaksa hinggap di tubuh Bilqis dan Aisyah. Dua bocah itu tampak tak nyenyak tidurnya. Sebentar-sebentar mereka tampak berebut selimut yang sebenarnya cukup dipakai berdua.

"Apa ndak ada cara untuk mengusir nyamuk-nyamuk ini to, Bi. Sudah dipasang obat nyamuk, mereka makin banyak aja," keluh Muna.

"Ya ndak apa-apa to, Mi. Kan ndak setiap hari kita di sini. Nyamuk-nyamuk itu cuma 'mbagekke' (bahasa jawa, artinya menyambut tamu)."

"Iya nih, apa enaknya tinggal di sini to, Pak? Sudahlah, Bapak sama Ibu tinggal sama kita aja, di kota, ndak ada banjir, nyamuknya juga sedikit," bujuk Muna lagi.

Sayup-sayup lantunan Alqur'an masih terdengar dari balik kamar. Suara Jiddah, terkadang diselingi suara batuknya yang khas. Mereka, bapak dan ibu Ahmad memang tinggal sendiri di rumahnya yang terpencil. Keempat anak-anaknya sudah menikah dan memiliki rumah tangga sendiri, namun mereka tak pernah mau tinggal bersama salah satu anaknya.

"Kau tahu, Ahmad? Bapak-ibumu ini masih bisa melukis harapan. Gusti Allah ora sare, Ahmad. Semua orang punya rejekinya sendiri, jadi jangan cemaskan kami."

Itu kalimat yang selalu diulang-ulang orang tua itu bila mereka bertandang ke sana. Itu pula yang menjadi teka-teki baginya sehingga Ahmad selalu berupaya singgah ke sana, walau diiringi dengan gerutuan istrinya.

"Apa bapakmu punya harta terpendam? Sampai-sampai ndak mau meninggalkan rumah menyedihkan itu?" tanya Muna suatu hari.

Dan mereka begitu tergopoh-gopoh saat mendapat kabar bahwa rumah orang tuanya tertimpa pohon besar. Orang tua itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Beruntung, tim sar dapat mengevakuasi mereka berdua. Hanya saja,  ketika ajal sudah datang siapa pula yang dapat menolaknya? Tak ada raut muka ketakutan, wajah-wajah mereka penuh dengan senyuman.

Ketika jenazah hendak dimandikan, Ahmad menemukan secarik kertas kecil. Kertas itu tersimpan rapi dalam lipatan peci Bapak. Dalam lipatan kain Jiddah pun terdapat lipatan yang sama.

"Dunia hanya perhiasan yang menipu, akhiratlah kehidupan kekal yang akan kita tuju.  Harta, keluarga dan jabatan bukan segalanya, di sisi Allahlah seharusnya kita melukis harapan."

Ahmad mengusap air matanya yang meleleh, mengulurkan carikan kertas pada istrinya, warisan yang membangunkan kesadaran mereka dari kecintaan yang berlebihan pada dunia. Disimpannya kembali carikan kertas itu baik-baik, menunggu ketiga kakaknya pulang. Bersama mereka akan membagi warisan itu, melukis harapan yang sesungguhnya di sisi Allah.

#Demak, 30112015