Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Selasa, 31 Maret 2020

PESAN ALLAH VIA CORONA


إنكم لا تُنصرون على عدوِّكم بقوة العدة والعتاد، إنما تنصرون عليه بطاعتكم لربكم ومعصيتهم له، فإن تساويتم في المعصية، كانت لهم الغلبة 
عليكم بقوة العدة والعتاد."

"Sesungguhnya kalian tidak ditolong/dimenangkan Allah atas musuh kalian dengan kekuatan jumlah pasukan dan peralatan tempur kalian. Sesungguhnya kalian akan ditolong/dimenangkan Allah karena  ketaatan kalian kepada Robb kalian dan maksiyat  yang mereka(musuh kalian)  lakukan.  Seandainya kalian (dan musuh kalian) sama dalam kemaksiyatan,  niscaya Allah akan memenangkan mereka atas kalian dengan kekuatan jumlah pasukan dan peralatan tempur mereka."

(pesan Sayyidina Umar bin Khathab  ra kepada Sa'id bin Abi Waqqash dalam perang Qadisiyah)

Apa yang dialami kaum muslimin pada perang Qadisiyah sesungguhnya tak jauh berbeda dengan apa yang dialami kaum muslimin saat ini di negri ini.  Bedanya hanya tempat kejadian  dan siapa yang diperangi.  

Dalam perang Qadisiyah,  kaum muslimin berhadapan dengan pasukan kafir beserta seluruh strategi dan muslihat mereka untuk kaum muslimin.  Kemana pun pasukan lawan bergerak,  semuanya jelas terlihat wujudnya oleh pasukan muslim. Mereka hanya bergerak di medan pertempuran dan sekitarnya. Strategi dan muslihatnya pun dapat diperkirakan.

Sementara  kondisi umat muslim negri ini sekarang,  dihadapkan pada lawan yang berupa virus corona. Dan Kemana mereka bergerak, jelas tidak terlihat oleh penglihatan kita yang memang sangat terbatas.  Pasukan virus tersebut sangat leluasa berpindah dan menyerang siapa saja.  Bisa laki-laki,  bisa pula perempuan tanpa pandang usia,  bisa pejabat,  bisa pula orang yang hanya dipandang sebelah mata. Strateginya jelas susah diperkirakan. 

Dalam hal ini musuh kita adalah virus, dan virus itu sendiri juga merupakan tentara Allah swt yang sudah pasti datang ke negri ini atas ijin/perintah Allah swt.  Maka sebenarnya Allah swt sedang memperingatkan kita bahwa musuh sebenarnya ada dalam diri kita sendiri, yang cenderung egois dan mau menang sendiri,  kurang peduli pada sebagian yang lain,  bermalas-malasan dalam mengikuti perintah-Nya,  serta bermudah-mudah melanggar perintah-Nya.  

Mari muhasabah diri,  berapa kali kita menunda-nunda shalat?  Sebelum virus ini datang,  sudahkah kita memanfaatkan masjid sebagaimana fungsinya? Berapa banyak jamaah shalatnya?  Siapa saja yang berjamaah di sana?  Adakah para pemudanya?  Ataukah hanya didominasi oleh para lansia?  Sudahkah masjid ramah untuk kanak-kanak kita yang sedang belajar sholat?   Berapa banyak masjid yang disalahgunakan fungsinya? Bisa jadi Allah swt turunkan virus tersebut untuk menyadarkan kita dan mempergunakannya sesuai fungsinya.  

Kemudian,  ketika diserukan untuk sholat di rumah dan menonaktifkan masjid sementara,  sebagian orang terburu-buru berprasangka bahwa ini bagian dari konspirasi. Padahal di jaman khalifah Umar ra,  dan pada jaman kekhalifahan sesudahnya,  hal semacam ini pun pernah diberlakukan.  Mengapa tidak positif thinking saja,  ini hanya sementara. Bila memang tak bisa sholat di masjid,  hadirkan saja masjid dalam rumah-rumah kita.  Jaga kebersihan dan kesuciannya dan pelihara adab di dalamnya. Hidupkan sholat jamaah bersama seluruh anggota keluarga,  dari yang kecil sampai yang lansia.  Perbanyak jadwal majelis ilmu di dalamnya,  melingkar  bukan hanya untuk belajar ilmu agama, tahsin dan tahfidz, tapi juga ilmu dan ketrampilan lainnya. Melingkar juga untuk mengokohkan ikatan hati antar anggota keluarga.  Bukankah Allah swt memerintahkan dalam QS At Tahrim ayat 6:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

'Ala kulli hal alhamdulillah,  Allah swt ingatkan kita dua bulan sebelum ramadhan untuk kembali ke rumah,  memperbaiki segala sesuatunya dari rumah,  dari keluarga, untuk mempersiapkan diri dan keluarga kita lebih baik lagi dalam menjalankan tugas sebagai makhluk Allah swt yang Dia ciptakan semata-mata untuk menjalani kehidupan dalam rangka beribadah kepada-Nya.  

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi/ beribadah kepada-Ku.
(Adz-dzariyat:56)

Ketika setiap keluarga muslim menjalankan dua perintah di atas,  pasti akan dimudahkan pula untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang lain dan menghindari kemaksiyatan. Dan tersebab apa yang dilakukan hamba-Nya, Allah pasti akan mengganti musibah ini  dengan banyak kebaikan, rahmat dan kasih sayang. Seperti dalam firman-Nya dalam QS Ar Rahman :60

هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ

"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)."

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ 

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi" (QS Al A'raf:96)

Sementara itu,  ketika tidak digunakan untuk beribadah,  masjid bisa dibersihkan dan didesinfektan seluruh ruangannya, karpet dan perabotannya. Sertakan dalam doa-doa kita agar menjelang ramadhan nanti,  keadaan membaik dan masjid dapat  digunakan kembali dalam keadaan bersih dari kuman, suci, lebih rapi dan lebih nyaman. Demikian pula untuk seterusnya. In syaa Allah,  bi idznillah.  Aamiin.  

#hadirkanmasjiddirumahkita

#Demak, 26032020#

KULTUMER


"Siapa jatah kultum nih?" celetuk Umi sambil mesam-mesem.  Bukan gak tahu sih,  cuma pengen ngetes kesiapan si Bungsu aja. Abi yang duduk di sebelah Umi ikut mesam-mesem, begitu juga yang lain.  

"Aku, Mi!" seru si Bungsu mengacungkan jari, "udah tahu kok. Ma'tsurotan dulu kan?"

Alhamdulillah,  awal yang baik.  Yang penting pede dulu,  siap dulu. Perihal yang mau disampaikan apa,  itu gak masalah,  apapun boleh. 

"Iya,  hayukkk!" sahut Umi sambil sesekali memberi isyarat kepada yang lain untuk melingkar. 

"A'udzubillahi sami'il 'aliimi minnasysyaithonirrojiim.  Bismillahir rohmaanir rohiim.... "

Alhamdulillah semua melantunkannya dengan sungguh-sungguh  sampai akhir.  Tibalah waktu kultum yang kami nanti-nantikan.  Iyalah,  semua sibuk menduga-duga apa yang akan disampaikan si Bungsu dalam kultumnya.  Kalau melihat bahasa tubuhnya sih,  ia terlihat siap aja dan gak terdengar keluhan belum siap memberi kultum. 

Sejak adanya social distancing dua pekan lalu,  otomatis pula menjadi momen 'back to home'.  Sekolah dan pondok memberlakukan 'school at home - learn at home'. Begitu pula tempat abinya anak-anak bekerja memberlakukan  'work from home'.  Ini jadi momen membahagiakan emak karena bisa kumpul bersama keluarga lebih lama. Korelasinya emak jadi tambah pekerjaan,  cucian,  kebutuhan masak,  listrik,  air, kuota dan lain-lain ikut bertambah juga. 

Kumpul keluarga dengan tujuh anak   dalam waktu lama berarti harus menjadwal ulang kegiatan mereka agar efektif dan bermanfaat,  bagi mereka, juga bagi abi-uminya.  Jadilah, kemudian kami menambahkan jadwal setiap pagi sehabis jama'ah sholat subuh,  membaca alma'tsurat bersama dan mendengarkan kultum.  Pengisian kultum ini  dijadwalkan bergantian dari abi,  umi,  kakak ke-dua,  ke-tiga,  dan seterusnya. Sementara kakak pertama yang sudah menikah dapat giliran setiap kali menginap di rumah kami.  Semua dapat giliran  tak terkecuali si Bungsu yang baru berusia sepuluh tahun. 

"Yuk,  Nang.  Kultum!" daulat Abi sambil mengusap kepala si Bungsu.  

"Isinya sama kayak kultumnya Embak,  gak apa-apa yah?" anak itu menatap abi-uminya sambil cengar-cengir. 

"Ya,  gak apa-apa," sahut Umi sambil melipat sajadah. 

"Salam dulu,  dong, " celetuk Abi melihat si Bungsu yang masih cengar-cengir sambil memandangi kakak-kakaknya. 

"Eh iya,  assalamu'alaikum warrohmatullahi wa barokatuh.  Saya akan menyampaikan hadits larangan marah.  Laa taghdhob wa lakal jannah.  Jangan marah bagimu surga.  Dah, selesai. "

"Masak cuma gitu thok?  Aku kemarin gak segitu aja loh, " protes kakak ke-enam yang dibenarkan oleh yang lainnya. 

"Yo wis,  itu maksudnya kita enggak boleh suka marah-marah. Nanti gak bisa masuk surga,  gitu," tambah si Bungsu.  

"Wah,  kultum kok singkat amat.  Belum ada tujuh menit loh, " celetuk kakak ke-tujuh sambil ketawa.

"Enggak mau nerusin,  Embak sih...  malah divideo ... Emoh! " protes si Bungsu.  Dilemparkannya sajadah ke arah kakak ke-dua yang asyik video-in aksi adiknya. Yang lain tertawa-tawa geli melihat tingkah si Bungsu.  

"Lah,  kan kultumer.  Entar takmasukin you tube, jadi you tuber deh, "  goda kakak ke-dua yang dijawab dengan manyunnya bibir si Bungsu. 

"Kenapa kita gak boleh marah?" tanya Umi mencoba mengalihkan perhatian si Bungsu dari kakak ke-duanya. 

"Karena...  karena marah itu...  dari..., " sahut kakak ke-lima berusaha membantu adiknya,  "dari...?"

"Dari malaikat...," jawab si Bungsu disambut ketawa yang lain. 

"Kok dari malaikat sih? " celetuk kakak ke-empat. 

"Eh... dari iblis!  Salah ngomong og...."

"Iya,  terus...  terus.... "

"Udah ah,  dibedoni terus og,  pokoknya gitu. Wassalamu'alaikum warrohmatullahi wabarokatuh.  Udah. Hehe, " tutup si Bungsu sambil tetap cengar-cengir. 

'ala kulli hal alhamdulillah,  pembelajaran memang harus dimulai dari kanak-kanak.  Kelak mereka pun akan punya masa untuk memikul beban dakwah ini.  Meski ini terbilang agak terlambat karena di Palestina sana anak-anak usia delapan atau sembilan tahun sudah piawai menyampaikan ilmu di hadapan banyak orang. Semoga ini jadi tangga kebaikan bagi anak-anak untuk menyiapkan mereka menjadi generasi tangguh yang tidak alay dan tidak mudah tumbang menghadapi kemajuan teknologi yang tentunya punya dampak negatif yang harus dihindari. 

Robbana hablana min azwajina wa qurrota a'yun waj'alna lil muttaqiina imama,  aamiin

#Demak,01042020

#D1
#30MM
#30APIAPRIL
#MENULISSEMUDAHBERNAFAS

Kamis, 12 Maret 2020

ARTI SEBUAH NAMA


Aku baru saja menyelonjorkan kaki di atas sofa saat kudengar suara 'bruk' dari luar rumah. Sepertinya ada sesuatu yang jatuh, atau mungkin dijatuhkan?! Entahlah, biarkan saja, sekarang waktunya 'ngeluk boyok', rasanya penat sekali seharian ini.

"Umiiii!" Suara cempreng yang kurindukan sepertinya sudah datang. Tapi kenapa terdengar tak seperti biasanya ya? Hm, ada sesuatu nih.

"Assalamu'alaikum," sapaku sambil tetap pada posisi pe we. Bocah sepuluh tahun itu masuk sambil menekuk mulut (pengen takkuncir tuh mulut, asli).

"Kum salam," jawabnya ogah-ogahan. Alamat sesuatunya bikin dongkol dia amat sangat nih. Maka kutarik saja tangan kecilnya saat dia mengulurkan tangan untuk salim. Tubuh kecil itu kini terduduk di atas pangkuanku. Ups, udah lumayan berat juga dia.

"Ada apa dengan jagoannya Umi? Kok mukanya jelek banget?" 

"Temen-temen bilang namaku gak keren. Kenapa sih Umi gak kasih nama Boy, Leon atau apalah yang kedengerannya keren. Kenapa harus Rijal?"

Ealah, ini anak. Dikasih nama bagus malah ngerasa malu. Yah, namanya juga masih sepuluh tahun, belum pernah jadi orang tua... eh. Kupeluk dia lebih erat, mencoba menenangkan hatinya yang sedang gundah.

"Boy itu artinya apa?" tanyaku lembut.

"Anak laki-laki, Mi."

"Rijal itu artinya juga laki-laki loh, tapi dari bahasa Arab. Sama kan artinya?"

"Rijal hampir sama dengan rijlun kan Mi? Rijlun kan kaki. Masak Rijal disamakan dengan kaki sih. Kenapa enggak kepala saja...?" sungutnya mulai tumbuh nih anak. Kuusap-usap kepalanya lembut sambil mencari kalimat yang pas dan mudah dimengerti anak seusia dia.

"Memang, Umi-Abi memilih nama Rijal itu terinspirasi ayat arrijalu qowamuna 'ala nisa. Artinya laki-laki itu pemimpin atas perempuan. Nah arrijalu itu sebenarnya bermakna jamak, berarti secara fitrah, semua laki-laki itu pemimpin, kedudukannya lebih tinggi dari perempuan."

"Pemimpin kan qowwam, Mi. Urutannya di atas. Masak disamakan dengan kaki sih. Kaki kan letaknya di bawah. Maksudnya gimana?"

Rijal membalikkan badannya, menatap penuh rasa ingin tahu.

"Setiap apa yang ditetapkan Allah, pasti ada hikmahnya, ada nilai kebaikannya. Menurut Rijal, untuk apa Allah memberi kita sepasang kaki?"

"Buat jalan, lari dan berdiri."

"Kalau mau duduk sama tiduran butuh bantuan kaki ndak?"

"Ya butuh lah, Mi."

Menurutmu, seberapa pentingnya kaki itu bagi kita?"

"Penting bangetlah. Tanpa kaki kita gak bisa kemana-mana. Kalau gak bisa kemana-mana gerak kita juga terbatas, itu... kayak orang yang lumpuh."

"Kalau kepala?"

"Kan kita lagi bahas kaki, Mi."

"Tadi katanya pemimpin itu urutannya di atas, kepala dong."

"Eh iya. Penting buanget nget nget lah. Gak ada kepala ya gak bisa hidup to, Mi."

"Lebih penting mana? Kepala sama kaki?"

Rijal garuk-garuk kepala, bingung. Kusodorkan air mineral di atas meja, dia meminumnya beberapa tegukan.

"Setiap organ yang ada di tubuh kita, itu sama pentingnya, punya fungsi dan kegunaan masing-masing yang tidak bisa digantikan organ yang lain. Kepala, mata, mulut, tangan, kaki. Juga jantung, paru-paru, ginjal dan yang lainnya. Terkadang, kita meremehkan bagian tubuh dari tubuh kita. Seperti kamu bilang tadi, kaki kan tempatnya di bawah, seolah-olah yang dibawah itu selalu remeh dan tidak berharga."

"Umi bahasannya susah." 

Duh, rasanya pengen nelen botol deh. Tapi kasihan para pemulung kalau para emak konsumsi air minerak sebotol-botolnya, gak jadi deh. Gemas, kedua tangan ini refleks mengacak-acak rambutnya. 

"Kita sederhanakan ya. Arrijalu qowamuna, laki-laki itu pemimpin. Kenapa disebut rijal? Kenapa bukan ro'is. Ro'is itu akar katanya ro'sun, kepala. Tanpa ditambahi kata qowwam sudah jelas kedudukannya di atas, pemimpin. Tapi dipakai kata arrijalu, rojulun, rijlun, punya makna sepadan dengan kaki, kaki letaknya di bawah. Tapi ditambahi kata qowwam. Artinya semua laki-laki, apapun jabatannya, dia adalah pemimpin di rumahnya. Yang namanya pemimpin harus dihormati dan ditaati, betul ndak?"

Bocah sepuluh tahun itu melepaskan pelukanku. Sekarang dia membaringkan tubuhnya, tengkurap di sofa di depanku, kedua telapak tangannya menopang dagu, kedua sikunya dijadikan tumpuan. Mata beningnya menatapku lekat-lekat. 

"Seorang pemimpin tidak boleh hanya memikirkan dirinya saja, dia juga harus memikirkan orang yang dipimpinnya, tidak boleh meremehkan dan harus menghargainya juga. Ibaratnya, seorang laki-laki itu harus bisa berfungsi sebagai kepala sekaligus kaki bagi keluarganya. Kepala itu kan tugasnya berpikir. Jadi, dia harus memikirkan yang terbaik untuk keluarganya, bagaimana supaya bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan, buat makan, beli baju, beli rumah, sekolah, ngaji, dan seterusnya.  Nah, kaki kan tugasnya menopang seluruh anggota badan. Gak mungkin kan, kaki jalan-jalan sendirian, anggota badannya yang lain ditinggal. Pasti kemana-mana kaki  juga membawa seluruh anggota badan di atasnya. Jadi, dia harus menopang seluruh keluarganya, anak, istri, orang tua,  bahkan mungkin juga saudara dan kerabat. Laki-laki harus bisa melakukan itu semua, harus kuat, maka dia layak disebut qowam, pemimpin."

"Berarti nama Rijal itu gak jelek kan, Mi?" 

"Menurutmu?"

"Keren juga." Mata bocah itu terlihat berbinar sekarang, alhamdulillah.

"Ada satu lagi alasan Umi-Abi memberimu nama Rijal."

"Apa itu, Mi?"

"Apa yang  terlihat di pasir pantai saat kita meninggalkannya?"

"Jejak kaki."

"Benar. Harapan Umi-Abi, di mana pun kamu menuju, melangkahlah dengan niat dan tujuan amal kebaikan. Dan dari mana pun kamu akan pergi, jangan tinggalkan apapun kecuali jejak-jejak kebaikan."

"Iya, Mi."

"Nah, sekarang kamu sudah tahu arti namamu kan. Sebelum menjadi qowam yang sebenarnya, tentu kamu harus lebih dulu belajar menjadi laki-laki. Belajar menjadi shalih, belajar amanah, belajar bertanggungjawab dan belajar mengambil semua peluang kebaikan. Sanggup?"

"In syaa Allah, Mi. Aku sayang Umi-Abi. Aku janji... akan berusaha memenuhi harapan Umi-Abi."

Bocah itu bangun dan memelukku kini, ada gerimis yang seketika turun memenuhi hatiku. Maafkan bila ada kalimat Umi yang takkaupahami, sayang. Umi hanya ingin yang terbaik untukmu. Pun ketika memilihkan nama untukmu. Pelan-pelan bocah itupun melepaskan pelukannya. 

"Maaf, Mi. Rijal mau nyenderin sepeda di halaman dulu ya. Tadi Rijal jatuhin begitu saja di depan." Katanya setengah berlari. 

"Nah, itu baru namanya belajar bertanggungjawab. Sudah diberi amanah sepeda harus dijaga, biar bisa selalu bermanfaat. Ya, kan." Alhamdulillah ya Allah, atas segala hikmah yang Engkau berikan hari ini. Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a'yunin waj'alna lil muttaqiina imamman. Aamiin. 

#Demak, 13032020 

 

Rabu, 11 Maret 2020

FILOSOFI TANGAN


"Ih, kakak tangannya belang!" 

Deg, spontan Riri melihat kedua tangannya. Memang sih, kalau diperhatikan kedua  bagian punggung telapak tangan dan jari-jarinya terlihat lebih gelap daripada bagian pergelangan tangan ke atas. Ini pasti karena dia sering lupa pakai kaos tangan bila berkendara siang-siang, jadi gosong deh. Huft. 

"Enggak cuma kakak, yo. Tuh, punyamu juga! Nih, lihat!" refleks disambarnya tangan Muti dan diacungkan di depan adik semata wayangnya itu. 

"Tapi tanganku lebih halus," kilah Muti mengejek, "punya kakak kasar."

"Kalau punya Umi?" 

Sepasang tangan yang sudah mulai menua terulur merangkul Riri dan Muti. Mereka seketika menoleh, ternyata Umi sudah berada di belakang mereka sejak tadi memperhatikan mereka. Riri dan Muti pun menyambut tangan  itu dan menciumnya lembut.

"Tangan Umi lebih mulia." Riri dan Muti serempak menarik sepasang tangan Umi seraya bergumam, "sukaaa... sekali. Dipeluk Umi seperti ini."

"Kenapa?" selidik Umi sambil menatap kedua anak gadisnya bergantian.

"Karena tangan ini yang mengantarkan kami dari belum mengenal apapun sampai sebesar ini," jawab Muti.

"Dan penuh berkah dari doa dan restu Umi untuk kami," tambah Riri.

"Sebenarnya.... "  Umi diam sejenak sambil menatap kedua putrinya bergantian, kemudian lanjut bertanya, "kenapa sih Allah memberi kita dua tangan? Masing-masing dengan lima jari yang berbeda lagi."

"Ehm,  supaya memudahkan kita melakukan segala sesuatu, Mi. Iya kan, Kak?"

"Kenapa kelima pasang jari tangan kita berbeda satu sama lain? Kenapa gak sama saja bentuk dan ukurannya?" tanya Umi lagi.

Riri memandang adiknya sekilas, kemudian nyeletuk, "kan fungsinya beda-beda, Umi. Jempol untuk memuji, telunjuk untuk menunjukkan sesuatu atau pas kita disuruh tunjuk jari sama bu guru tuh. Jari tengah sama jari manis buat tempat cincin. Jari kelingking buat pemanis, biar terlihat cantik gitu, tangannya."

"Kalau ini jawabnya ngasal deh, dicocok-cocokin," sahut Umi tersenyum geli. 

"Habis apa dong?" tanya mereka kompak. 

"Inget bunyi wahyu Allah yang pertama turun?"

"Ingetlah, Mi. Surah Iqro'  satu sampe lima kan?" jawab Muthi.

"Yee... bukan Surah Iqro', Surah Al-Alaq kaliii... " Riri meluruskan jawaban adiknya.

"Sama ajalah, Kak. Kan bunyinya Iqro' bismi robbikalladzi kholaqo, dan seterusnya..." Muthi tak mau kalah.

"Iya, iya... maksud ayat itu apaan nih?"

"Ehm, itu... anu, Mi... kita disuruh belajar, lewat ayat-ayat qouliyah dan kauniyah. Ayat-ayat qouliyah itu apa yang Allah sampaikan dalam Alqur'an. Ayat-ayat kauniyah itu apa yang Allah ajarkan lewat penciptaan segala sesuatu di alam semesta, termasuk tubuh kita ya, Mi?"

"Betul, Allah bekali manusia dengan hati, akal dan jasad. Tentunya bukan tanpa maksud dan bukan tanpa pelajaran. Yuk, sambil minum teh panas, lebih asyik kali ya."

Umi mengajak Riri dan Muthi untuk duduk di ruang keluarga. Di sana sudah tersedia sepiring pisang goreng yang masih mengepulkan asap,  seteko teh panas dan beberapa gelas kosong. Riri dengan sigap mengambil teko dan menuangkan isinya ke dalam gelas.

"Coba perhatikan, bila tangan kita tidak memiliki lima jari yang berbeda. Apakah kita bisa leluasa menuang teko dan memegang gelas untuk meminum isinya?" tanya Umi lagi.

"Kalo adanya jempol saja pasti enggak bisa, Mi. Kalau jempol sama telunjuk, bisa pegang gelas kosong sih, tapi enggak kuat ngangkat  kalau ada isinya, panas lagi. Kalau tambah jari tengah bisa lebih kuat, tambah jari manis dan kelingking lebih kuat lagi. Apalagi kalau pakai dua tangan, Mi. Alhamdulillah, hangat, manis, sedap..., " kata Muthi sambil mempraktekkan apa yang dia ucapkan dan meminum habis isi gelasnya. 

"Pinter, anak Umi." Umi menjentik hidung Muthi. Sang kakak ikut-ikutan menjentik hidungnya, membuat pemiliknya nyengir. 

"Kalian masih hapal rukun islam kan?"

"Iyalah, Mi. Masak segedhe ini lupa?" jawab mereka serempak.

"Perhatikan, bukan tanpa maksud Allah ciptakan jari-jari kita berjumlah lima, sama dengan jumlah rukun islam. Yang pertama ibu jari, itu mewakili syahadat, telunjuk mewakili sholat, jari tengah puasa, jari manis zakat dan jari kelingking haji. Bila diibaratkan dengan membangun sebuah rumah di surga, tentu kita butuh tiang-tiang yang kokoh untuk menopangnya. Seperti Muthi bilang tadi. Kita tidak bisa memegang apapun hanya dengan ibu jari. Begitu juga belum bisa menyelamatkan kita bila hanya bersyahadat saja. Tak ada rumah yang bisa tegak berdiri dengan satu tiang saja. Dengan ibu jari dan telunjuk, kita bisa memegang sesuatu yang kecil dan ringan. Begitu pula dengan syahadat bila ditambah sholat, bisa menyelamatkan kita dari dosa-dosa kecil, mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar. Namun, rumah yang dibangun hanya dengan dua tiang pun tidak akan kokoh berdiri. Ketika ditambah jari tengah dan jari kelingkin, tangan kita lebih kuat memegang sesuatu yang lebih besar. Begitu pula bila ditambah dengan puasa dan zakat, maka rumah yang ditopang empat tiang tentu jauh lebih kuat daripada hanya ditopang oleh dua tingan. Dan akan lebih sempurna kekuatannya bila ditambah dengan satu tiang lagi, yaitu haji."

"Tapi, Mi. Tanpa ibu jari, keempat jari kita juga bisa memegang gelas loh. Berarti tanpa syahadat, masih ada empat tiang lainnya, kalau mengerjakan rukun yang lain tetep berdiri kan rumahnya?" protes Muthi."

"Itu benar. Tapi, coba dirasakan lagi, enak mana memegang gelas dengan lima jari, atau memegang gelas dengan empat jari?"

"Yo jelas, enak megang pakai lima jari to, Mi."

"Itulah fitrah. Islam itu agama fitrah. Syahadat pembuka pintu surga sekaligus tiang pertama bangunan rumah ahli surga.  Bila tak punya kuncinya, bagaimana bisa masuk dan membangun rumah di surga?"

Muthi garuk-garuk kepala. Masuk akal juga ya, penjelasan Umi. 

"Satu lagi, Allah ciptakan lima jari dalam bentuk dan fungsi yang berbeda juga menggambarkan bahwa setiap makhluk ciptaan-Nya, termasuk manusia, semua punya karakter dan tugas yang berbeda di muka bumi. Namun,  jari-jari tangan kita bisa bekerja sama dalam memegang atau melakukan sesuatu. Demikian juga manusia, meskipun punya karakter dan tugas yang berbeda-beda, selayaknya saling melengkapi dan bekerja sama dalam mewujudkan kebaikan."

"Dengerin tuh, Kak. Jangan pelit bantuin adiknya." 

"Kamu juga tuh, jangan pura-pura gak denger kalau kakak minta bantuan." Dua kakak beradik itu saling meledek dengan riang,  Umi tersenyum mendengarnya.

"Satu lagi... coba bayangkan bila Allah tidak melengkapi tubuh kita dengan dua tangan...."

"Jangan...!!" teriak mereka kompak.

"Makanya harus..." Umi menggantung kalimatnya.

"Bersyukur...!!" sahut Muthi.

"Meskipun gosong!!" timpal Riri. Dan mereka bertiga pun tertawa. Alhamdulillah, batin Umi.

#Demak, 11032020






Senin, 09 Maret 2020

SESAL



Ini senja kesekian kalinya  lelaki tua itu duduk sendirian bangku taman. Tepatnya sejak lima bulan yang lalu aku melihatnya selalu duduk disana.  Di bangku yang sama, di waktu yang sama, lepas ashar sampai menjelang maghrib, sendirian.

Awalnya aku tak begitu peduli dengannya. Ada banyak orang yang memilih menikmati senja dengan duduk di taman. Itu biasa saja, bukan hal yang aneh. Terkadang mereka datang berdua, bertiga, berramai-ramai, tapi ada juga beberapa orang yang datang sendirian. Aku mulai tergelitik penasaran setelah dua minggu berturut-turut kudapati lelaki tua itu selalu datang sendirian. Dia terlihat asyik melihat pengunjung taman yang lalu lalang sambil sesekali bergumam. Suaranya lirih saja, tapi terdengar seperti sebuah keluhan. Tentu saja itu membuatku penasaran.

"Boleh duduk di sini, Pak?" tanyaku berusaha sesopan mungkin meminta ijin untuk duduk  di sampingnya. Bapak itu menatapku sekilas dan mengangguk. 

"Capeknya... ," gumamku berusaha memancing reaksinya. Kuselonjorkan kedua kakiku dan menggerakkan badanku ke samping kiri dan kanan, 'ngeluk boyok' beberapa saat. Bapak itu hanya menoleh sekilas dan tersenyum. 

"Kok sendirian saja, Pak? Eh, maaf, perkenalkan, saya Adin. Bagaimana saya harus memanggil Bapak?" kataku sambil menyodorkan tangan menyalaminya. 

"Panggil saja Pak Cahyo," jawabnya sambil menyambut tanganku.

"Maaf, Pak. Dua minggu ini saya perhatikan Bapak selalu datang dan duduk di bangku ini, sendirian saja. Saya belum pernah melihat Bapak sebelumnya. Di mana Bapak tinggal?" (anak muda kalau lagi kepo nanyanya gak tanggung-tanggung, hehe)

"Rumah saya dekat sini saja, Nak," jawabnya sambil tersenyum, "hanya 15  menit jalan kaki dari sini." 

"Kok sendirian, Pak?" 

"Sebulan yang lalu istri saya meninggal...," jawabnya lirih. 

"Oh, maaf, Pak. Saya ikut berduka, semoga Ibu husnul khotimah ya, Pak. Dan anak-anak, Bapak?"

Bapak itu menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Salahku sendiri... salahku sendiri...." Begitu dia bergumam berkali-kali, aku merasa kecut, menyesal telah menanyakan hal itu padanya.

"Maaf, Pak. Lupakan saja pertanyaan saya," aku benar-benar merasa serba salah dan  segera menyudahi saja percakapan kami dengan berpamitan padanya. 

Hari-hari selanjutnya kami jadi saling menyapa. Pak Cahyo ternyata enak dijadikan teman ngobrol. Terkadang kami berbincang-bincang tentang apa saja yang kami lihat di taman. Beliau juga sering menanyakan aktifitasku sehari-hari. Beliau suka membawa sebuah bola tangan. Terkadang beliau mengajak main lempar-tangkap dengannya. Kami jadi semakin akrab. Pak Cahyo mulai tak segan bercerita tentang almarhumah istri dan anak-anaknya.

"Sebenarnya, Bapak punya beberapa istri dan beberapa anak. Dulu, Bapak pikir uang adalah segalanya. Apapun yang Bapak lakukan, semuanya untuk mendapatkan uang yang banyak. Bapak bangga, bisa beli rumah, mobil, membesarkan perusahaan. Hampir tidak ada waktu untuk keluarga di rumah, toh kebutuhan mereka juga sudah tercukupi semua. Itu pemikiran Bapak, tapi ternyata salah. Istri Bapak kabur, anak dibawa juga."

"Bapak tidak mencari mereka?" tanyaku hati-hati.

"Tidak, yang ada hanya perasaan marah dan merasa tidak dihargai. Hingga ketika ada perempuan lain yang mendekat, Bapak pun menanggapi dan memperistrinya. Ternyata sama saja, dia juga kabur, untungnya  kami belum punya anak.  Itupun tidak berlangsung lama. Bapak pun menikah lagi, kali ini Bapak ketipu mentah-mentah. Perempuan itu hanya menguras kekayaan dan mengambil alih perusahaan Bapak saja. Hingga akhirnya Bapak bertemu dengan almarhum istri Bapak yang belum lama ini meninggal. Meski dia hanya perempuan desa yang tidak berpendidikan tinggi, tapi dia begitu sabar memperlakukan Bapak.  Dia menyadarkan Bapak akan kekeliruan selama ini, dia mengajarkan berbagi sebagai ladang amal dan rejeki... "

"Subhanallah..., " gumamku tertahan, "Bapak tidak ingin mencari keluarga yang dulu?"

"Sebenarnya, kepikiran untuk mencari istri pertama dan anak. Almarhum istri juga mendukung keinginan itu, harapannya bisa menebus kesalahan di masa lalu. Tapi, sampai hari ini Bapak belum bisa menemukan mereka. Mereka seperti hilang ditelan bumi begitu saja. Semua ini memang salahku. Tuhan mungkin sedang menghukumku. Semua ini salahku. Tuhan menghukumku...,' katanya berulang-ulang. 

Tiba-tiba ada yang terasa perih menusuk dada. Aku teringat ayah yang hanya sempat kulihat wajahnya beberapa tahun saja.  Ibu bilang ayah pergi meninggalkan kami tanpa pesan. Pak Cahyo jelas bukan ayahku, tapi ceritanya sungguh menusuk perih di hati. Ada gamang di sini, ada amarah atas apa yang dia lakukan di masa lalu, seolah-olah aku adalah anak yang dia sia-siakan. Tapi ada rasa iba dengan kesepian  yang beliau rasakan dan rasa bersalah yang terus mengikutinya kemana pun beliau pergi. 

Senja ini, seperti biasa, Pak Cahyo duduk di bangku yang sama. Beliau pasti sedang menungguku juga, berharap bisa berbincang-bincang menyampaikan kegelisahannya. Tapi, masih ada rasa amarah yang tersisa dalam hati ini. Beliau jelas bukan ayahku, tak layak bagiku untuk ikut-ikutan marah padanya. 

Maafkan Adin, Pak Cahyo. Kali ini Adin tidak bisa menemani, Adin hanya ingin mengendalikan hati Adin yang merasa ditinggalkan ayah sejak kecil. Adin takut keceplosan marah. Setidaknya, Adin bisa mengambil hikmah dari kisah Bapak. Nanti kalau Adin sudah enggak kepikiran ayah, Adin pasti akan temani Bapak lagi. Dulu Ibu pernah bilang, setiap kisah ada hikmahnya, setiap perbuatan ada balasannya. Karenanya, pertimbangankan kembali segala sesuatu yang ingin kamu lakukan. Bila itu baik untuk akhiratmu, teruskanlah. Bila itu tidak baik untuk akhiratmu, urungkanlah. Karena bila engkau salah mengambil keputusan, sesal kemudian yang engkau dapat. 

#Demak, 09032020







Minggu, 08 Maret 2020

PerihalAyah



Ayah adalah profesi yang disandangkan langsung oleh Sang Pemilik Kehidupan. Melekat karena beban dan tanggungjawab yang tak boleh terabaikan. 

Ayah bukanlah sekedar panggilan dari seorang anak yang lahir dari rahim seorang perempuan, di mana benihnya dititipkan. Hakikatnya ayah adalah petani yang menyemai benih di ladang pilihan, dia pula yang harus menyiraminya, memupuknya, menyianginya, menjaganya siang dan malam, dengan penuh cinta dan pengharapan. Lelah tak boleh melengahkan. Hama tak boleh sampai mendekat membinasakan. Biji yang meranum tak boleh melalaikan. Perhatian haruslah selalu dicurahkan.

Ayah haruslah sebaik-baik penjaga. Membangunkan iman membentengi dari azab neraka. Bukan dengan pandangan marah, bentakan keras, tendangan dan kepalan tangannya. Namun dengan sorot hangat penuh cinta, lisan tegas dan bersahaja, serta usapan lembut di kepala. Maka sang permata pun merasa nyaman berlindung dalam rengkuhannya.

Terkadang, kita sulit memahaminya. Namun perannya tak lebih ringan dari ibunda. Air matanya tak pernah tertumpah di depan mata, selalu disimpannya untuk malam gelap gulita, menyertai doa-doa untuk keluarganya tercinta.

Dia memang  terlihat tegar dan gagah tak tergoyahkan. Bahu dan pundaknya pun begitu kuat menanggung beban. Petuah nasehatnya janganlah diabaikan, jangan pula dirinya kau banding-bandingkan. Dia kan terluka, harga dirinya jatuh berserakan. 

Ayah adalah imam keluarga. Kehati-hatiannya mengantarkan taqwa ke jalan menuju surga. Kecerobohannya menggelincirkan bahtera terjatuh ke dalam jurang neraka. Maka ingatkanlah dia, dengan tutur kata bijaksana, tanpa menggurui dan tetap memuliakannya.
Karena murka Allah melingkupi kemarahannya, dan ridho Allah menyertai ridhonya.

Rasul saw bersabda, "muliakanlah ibumu... ibumu... ibumu... lalu ayahmu."

#Demak,09032015

Perihal Ibu



Ibu adalah profesi terhebat karena bayarannya surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Kenikmatan yang belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, terlintas dalam pikiran kita. Adakah yang lebih berharga dari itu semua?

Ibu juga profesi termulia, pekerjaannya diawasi langsung oleh Pencipta alam semesta, doanya didengar langsung dari langit ke tujuh, dari arsy, singgasana-Nya yang Maha A'la. Adakah yang lebih dahsyat darinya?

Ibu pun profesi dengan ujian berlipat-lipat beratnya. Menyimpan buah hati belahan jiwa. Sembilan bulan dalam rahimnya yang penuh keajaiban. Merelakan air susunya mengaliri dahaga dua tahun sesudahnya. Mendampingi mereka dalam sehat dan sakitnya, dalam senang dan susahnya, dalam keberhasilan dan kegagalannya.
Adakah yang sebanding dengan pengorbanannya?

Ibu pulalah yang setia menunggu kita datang  padanya. Walau sering kali kita melupakannya saat kebahagiaan tiba. Dan datang tiba-tiba untuk mengadukan berbagai macam problema. Lisannya selalu tulus menguntai ribuan dedoa dalam sujud-sujud malamnya. Dedoa penuh harap untuk anak yang dikasihinya.

Karenanya... muliakanlah ibumu.
Muliakanlah ibumu... muliakanlah ibumu...

#Demak,06032015

Sabtu, 07 Maret 2020

Optimalisasi Fungsi Keluarga dalam Memujudkan Masyarakat Sejahtera



Keluarga adalah satuan terkecil dari masyarakat. Bila sebuah batu bata, disusun dengan banyak batu bata lain dan direkatkan dengan elemen-elemen yang baik kualitasnya maka akan berdiri sebuah bangunan yang megah dan kuat.  Apabila bangunan itu diumpamakan sebagai suatu bangsa, maka keluarga adalah batu-batanya, dan elemen-elemen yang merekatkan itu adalah pengelolanya. 

Ketahanan suatu negara dipengaruhi oleh dua hal ini. Pertama, keluarga sebagai satuan terkecil dari masyarakat. Bayangkan, bila sebuah bangunan disusun dari batu bata-batu bata yang rapuh, sebaik apapun kualitas elemen perekatnya maka, ia akan tetap ambruk. Demikian pula sebuah negara, apabila keluarga-keluarga di dalamnya bermasalah, broken home, maka ia tak akan jadi bangsa yang kuat. Kedua, pengelola negara itu sendiri, baik lembaga  eksekutifnya, legislatifnya maupun yudikatifnya. Dan kita ketahui pula, mereka pun hanya bagian dari sebuah keluarga. Baik buruknya kualitas pengelola, sedikit banyak dipengaruhi oleh ketahanan keluarga tempat dia dilahirkan, dibesarkan, dididik dan ditempa sampai waktu mengubahnya menjadi seorang pengelola negara.

Dari sini, kita bisa melihat adanya suatu peran penting orang tua (ayah dan ibu) dalam menjalankan dan mengoptimalkan fungsi keluarga. Semua ini mutlak perlu dilakukan, agar anak-anak yang lahir mendapatkan hak-haknya dengan baik, memperoleh pendidikan yang baik, sehingga tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang sadar kewajiban dan bertanggung jawab.

Apa fungsi keluarga yang perlu dioptimalkan?
(1) Fungsi Keagamaan.
Sebuah keluarga mestinya menjadi tempat di mana setiap penghuninya bisa beribadah secara benar dan nyaman. Orang tua memberikan pendidikan sesuai yang diajarkan risalah agama. Atau mengundang ulama/ahli agama untuk menambah pengetahuan agama bagi semua anggota keluarga. 

Firman Allah dalam QS At Tahrim ayat:6 -" Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

Kesholehan seorang muslim tidak hanya bersifat pribadi. Dengan makna bahwa ia menjadi baik tidak hanya untuk dirinya sendiri dan kepentingan keluarganya saja tapi kesholehannya juga harus ditunjukkan dalam bentuk kesholehan sosial. Hal ini karena dalam Islam ada dua hubungan yang harus dijalani dan berjalan seimbang. Yaitu hubungan vertikal kepada Allah SWT yang disebut dengan “hablum minallah”, dan hubungan horizontal kepada sesama manusia dan alam sekitarnya yang disebut dengan “hablum minannas”.

(2) Fungsi Sosial Budaya
Sebuah keluarga mestinya menjadi tempat yang mengajarkan nilai-nilai sosial dan budaya. Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan, dan masing-masing daerah tempat tinggal kita memiliki adat dan budaya. Namun, tidak kemudian kita harus mengikuti adat dan budaya yang masuk ke ranah kita begitu saja. Namun harus memilih dan memilahnya agar tak menyelisihi syari'at agama.

Kehidupan masyarakat kita, baik dalam skala kecil maupun besar menghadapi begitu banyak persoalan yang menuntut pemecahan dan jalan keluar. Karena itu peran sosial keluarga di tengah masyarakat sangat diperlukan, sehingga keberadaannya dan kemanfaatannya bisa dirasakan oleh masyarakat banyak. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling besar kemanfaatannya bagi umat manusia.

Firman Allah dalam QS An Nisa ayat 36 - "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri."

(3) Fungsi Cinta Kasih
Sebuah keluarga mestinya menjadi tempat yang dapat menumbuhkan cinta dan kasih sayang pada setiap penghuninya, walau tak semua keluarga dibangun atas dasar cinta. Rumah, hendaknya menjadi surga dunia bagi setiap penghuninya, yang menjadikan mereka merasa nyaman dan ingin selalu pulang. Yang menjadikan mereka leluasa untuk saling curhat, berbagi dan saling menguatkan. Yang menjadikan semua masalah lebih cepat diketahui dan lebih cepat diselesaikan.

Firman Allah dalam QS Ar Ruum ayat 21 - "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."

Kecenderungan dan ketentraman ini, tak hanya tumbuh pada diri suami dan istri saja, namun juga pada diri anak-anak mereka dan setiap anggota keluarga.

(4) Fungsi Melindungi
Sebuah keluarga hendaknya saling memenuhi hak dan kewajiban setiap penghuninya. Orang tua wajib memenuhi hak-hak anak (hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan kasih sayang, hak untuk menyatakan pendapat, hak untuk mendapatkan perlindungan, hak untuk dihargai, dll). Orang tua pun punya hak untuk didengar dan dipatuhi. Istri mendapatkan perlindungan dan nafkah dari suami, namun ia juga wajib menjaga kehormatan dan harta suaminya. 

Firman Allah dalam QS An Nisa ayat 9"- Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar."

Firman Allah dalam QS An Nisa ayat:34 - "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)."

(5) Fungsi Reproduksi
Sebuah keluarga adalah sebuah tempat yang dihalalkan oleh agama untuk pemenuhan kebutuhan seksual. Di mana salah satu tujuan berkeluarga itu adalah untuk memperbanyak keturunan. Namun demikian, sebuah keluarga mestinya juga memberikan pengetahuan yang benar tentang fungsi seksual sesuai ajaran agama dan kesehatan. Semua ini diperlukan untuk melindungi anak-anak yang dilahirkan agar tak jatuh dalam pemahaman konsep seksual yang salah. Tidak melakukan kegiatan seksual yang menyimpang dan agar kesehatan alat reproduksinya terjaga dan terpelihara baik. Lebih-lebih pada anak perempuan, padanya nanti tertanggung tugas untuk melahirkan generasi. Dewasa ini lebih dari 45% perempuan Indonesia berresiko terkena kanker serviks, dan itu setara dengan 52 juta jiwa. Celakanya, penyakit kanker serviks merupakan penyebab kematian no 1 bagi perempuan yang seringkali terlambat penanganannya. Karena baru disadari keberadaannya pada stadium II, III atau bahkan lebih parah lagi. Dari data 2009, didapatkan angka 3-4 kematian perempuan karena kanker serviks setiap jamnya. Di samping itu, angka kematian remaja putri karena aborsi (akibat pergaulan bebas) juga terus meningkat tajam.

Anak laki-laki pun perlu mendapatkan pengetahuan reproduksi/ fungsi seksual secara benar, tentunya semua itu harus diberikan sesuai usia dan perkembangan jiwanya. Hal ini perlu, agar mereka dapat tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang sehat, jasmani dan rohaninya, sehingga kelak mampu mengemban tanggungjawab besar yang nantinya diestafetkan ke pundaknya.

Karenanya, terapkan ajaran syariat yang benar, in syaa Allah itu akan menjaga mereka dari perbuatan terlarang sampai pada waktunya mereka harus menunaikan kewajiban menikah dan melahirkan generasi penerus.

Allah berfirman, " Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (QS An Nuur ayat 30-31)

 (6) Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan
Sebuah keluarga mestinya menjadi tempat yang mengajarkan kepada anak-anak, bagaimana cara bersosialisasi/bermasyarakat yang baik, yang sesuai ajaran agama. Bagaimana cara kita menghormati orang lain yang berbeda agama dan berbeda keyakinan. Bagaimana cara kita menunjukkan kepedulian dengan hal-hal yang terjadi di masyarakat. Sebuah keluarga juga seharusnya menjadi tempat berbagi pengetahuan. Orang tua memilihkan sekolah yang baik untuk anak-anaknya. Menyediakan buku-buku pengetahuan yang diperlukan, baik yang berkaitan dengan pengetahuan agama maupun yang memuat pengetahuan ilmu terapan seperti ilmu hitung, ilmu alam, ilmu sejarah dan masih banyak lagi. Dan ada kalanya memanggil guru/pendidik ke rumah untuk mengajarkan suatu pengetahuan yang diperlukan anak, atau kemudian orang tua ikut belajar bersama.

Dalam hal ini, diutamakan untuk mendahulukan pendidikan agama sebelum memberikan pengetahuan tentang ilmu-ilmu dunia agar mereka terbiasa dengan akhlaqul karimah dalam memanfaatkan ilmu yang telah mereka pelajari. Ini adalah warisan terbaik yang dapat dirasakan di dunia maupun di akhirat.

(7) Fungsi ekonomi
Manusia tidak bisa lepas dari kebutuhan ekonomi, untuk pemenuhan kebutuhannya kepada pangan, sandang, papan dan kebutuhan terhadap sarana-sarana lainnya. Oleh karena itu, ayah berkewajiban mencari nafkah yang halal untuk memenuhinya. Ibu bertugas mengelola keuangan rumah tangga, namun bisa ikut berpartisipasi dalam mencarinya (nafkah)  dengan tidak mengabaikan tugasnya dalam rumah tangga dan sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya. Anak-anak diajarkan kejujuran, bersedekah dan membelanjakan sesuai kebutuhan. Semua ini diperlukan agar mereka nanti mendewasa dengan nilai-nilai kejujuran, amanah, tidak korupsi dan tidak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain dan negara.

(8) Fungsi Pembinaan Lingkungan.
Sebuah keluarga mestinya menjadi tempat untuk melakukan pembinaan lingkungan. Membiasakan anak-anak untuk peduli dan melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Juga memberi contoh dalam pemeliharaan kebersihan lingkungan dan fasilitas-fasilitas umum di sekitarnya. 

Manusia adalah khalifah fiil ardh, dengan demikian ia juga wajib menjaga kelestarian bumi sebagai tempat tinggalnya. Bukan hanya untuk dirinya sendiri dan keluarganya, namun juga untuk diwariskan kepada generasi yang akan menjadi penghuni bumi selanjutnya. Karena hidup ini hanya pinjaman dan kelak akan diminta pertanggungjawabannya. 

Ketahanan keluarga hanya dapat tercipta apabila keluarga yang bersangkutan dapat melaksanakan 8 fungsi keluarga secara serasi, selaras dan seimbang. Sebuah keluarga tidak akan pernah mencapai tahapan sejahtera apabila fungsi-fungsi keluarga tersebut berjalan secara timpang atau beberapa fungsi tidak dapat dilaksanakan meskipun fungsi lainnya mampu berjalan secara mantap.

Di tengah pola kehidupan masyarakat yang cenderung hedonis dan permisif ini, menjadi suatu kewajiban bagi keluarga muslim untuk membangun ketahanan dalam keluarganya. Kehidupan masyarakat sekarang dengan tantangan yang sedemikian berat menuntut kehadiran keluarga yang memiliki ketahanan yang kokoh sehingga diharapkan akan lahir masyarakat dengan ketahanan pribadi yang baik.

Dengan melaksanakan hal tersebut, berarti keluarga telah memberikan kontribusi besar terhadap masyarakat dan bangsa, karena keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat dan bangsa itu sendiri.

Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang kokoh (ketahanan keluarganya kuat) akan tumbuh mendewasa menjadi pribadi-pribadi yang beriman, bertaqwa, jujur, peduli, mandiri dan bertanggung jawab. Sehingga, kelak mereka bisa memimpin negeri ini dengan amanah, penuh pertimbangan dalam mengambil kebijakan, tidak mementingkan kepentingan pribadi dan golongan tertentu, berusaha adil dan mendahulukan kemaslahatan umat, bangsa dan negara. Di tangan orang-orang yang demikianlah, pemerintahan dapat sampai pada ketahanan nasional yang kokoh dan berdaulat, mandiri secara ekonomi dan tidak bergantung pada bangsa lain. Juga berbudaya dan mengukir sejarah yang harum dan mulia.

Oleh karena itu, program penguatan ketahanan keluarga merupakan agenda penting yang harus dilakukan di seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya untuk masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah, tetapi juga untuk kaum elitnya ( golongan ekonomi kelas atas). Begitupun, program ketahanan keluarga ini perlu dimasukkan dalam setiap elemen masyarakat, di instansi-instansi, departemen, bahkan dalam PKK desa, rw dan rt. 

#Demak, 08032016