Ini senja kesekian kalinya lelaki tua itu duduk sendirian bangku taman. Tepatnya sejak lima bulan yang lalu aku melihatnya selalu duduk disana. Di bangku yang sama, di waktu yang sama, lepas ashar sampai menjelang maghrib, sendirian.
Awalnya aku tak begitu peduli dengannya. Ada banyak orang yang memilih menikmati senja dengan duduk di taman. Itu biasa saja, bukan hal yang aneh. Terkadang mereka datang berdua, bertiga, berramai-ramai, tapi ada juga beberapa orang yang datang sendirian. Aku mulai tergelitik penasaran setelah dua minggu berturut-turut kudapati lelaki tua itu selalu datang sendirian. Dia terlihat asyik melihat pengunjung taman yang lalu lalang sambil sesekali bergumam. Suaranya lirih saja, tapi terdengar seperti sebuah keluhan. Tentu saja itu membuatku penasaran.
"Boleh duduk di sini, Pak?" tanyaku berusaha sesopan mungkin meminta ijin untuk duduk di sampingnya. Bapak itu menatapku sekilas dan mengangguk.
"Capeknya... ," gumamku berusaha memancing reaksinya. Kuselonjorkan kedua kakiku dan menggerakkan badanku ke samping kiri dan kanan, 'ngeluk boyok' beberapa saat. Bapak itu hanya menoleh sekilas dan tersenyum.
"Kok sendirian saja, Pak? Eh, maaf, perkenalkan, saya Adin. Bagaimana saya harus memanggil Bapak?" kataku sambil menyodorkan tangan menyalaminya.
"Panggil saja Pak Cahyo," jawabnya sambil menyambut tanganku.
"Maaf, Pak. Dua minggu ini saya perhatikan Bapak selalu datang dan duduk di bangku ini, sendirian saja. Saya belum pernah melihat Bapak sebelumnya. Di mana Bapak tinggal?" (anak muda kalau lagi kepo nanyanya gak tanggung-tanggung, hehe)
"Rumah saya dekat sini saja, Nak," jawabnya sambil tersenyum, "hanya 15 menit jalan kaki dari sini."
"Kok sendirian, Pak?"
"Sebulan yang lalu istri saya meninggal...," jawabnya lirih.
"Oh, maaf, Pak. Saya ikut berduka, semoga Ibu husnul khotimah ya, Pak. Dan anak-anak, Bapak?"
Bapak itu menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Salahku sendiri... salahku sendiri...." Begitu dia bergumam berkali-kali, aku merasa kecut, menyesal telah menanyakan hal itu padanya.
"Maaf, Pak. Lupakan saja pertanyaan saya," aku benar-benar merasa serba salah dan segera menyudahi saja percakapan kami dengan berpamitan padanya.
Hari-hari selanjutnya kami jadi saling menyapa. Pak Cahyo ternyata enak dijadikan teman ngobrol. Terkadang kami berbincang-bincang tentang apa saja yang kami lihat di taman. Beliau juga sering menanyakan aktifitasku sehari-hari. Beliau suka membawa sebuah bola tangan. Terkadang beliau mengajak main lempar-tangkap dengannya. Kami jadi semakin akrab. Pak Cahyo mulai tak segan bercerita tentang almarhumah istri dan anak-anaknya.
"Sebenarnya, Bapak punya beberapa istri dan beberapa anak. Dulu, Bapak pikir uang adalah segalanya. Apapun yang Bapak lakukan, semuanya untuk mendapatkan uang yang banyak. Bapak bangga, bisa beli rumah, mobil, membesarkan perusahaan. Hampir tidak ada waktu untuk keluarga di rumah, toh kebutuhan mereka juga sudah tercukupi semua. Itu pemikiran Bapak, tapi ternyata salah. Istri Bapak kabur, anak dibawa juga."
"Bapak tidak mencari mereka?" tanyaku hati-hati.
"Tidak, yang ada hanya perasaan marah dan merasa tidak dihargai. Hingga ketika ada perempuan lain yang mendekat, Bapak pun menanggapi dan memperistrinya. Ternyata sama saja, dia juga kabur, untungnya kami belum punya anak. Itupun tidak berlangsung lama. Bapak pun menikah lagi, kali ini Bapak ketipu mentah-mentah. Perempuan itu hanya menguras kekayaan dan mengambil alih perusahaan Bapak saja. Hingga akhirnya Bapak bertemu dengan almarhum istri Bapak yang belum lama ini meninggal. Meski dia hanya perempuan desa yang tidak berpendidikan tinggi, tapi dia begitu sabar memperlakukan Bapak. Dia menyadarkan Bapak akan kekeliruan selama ini, dia mengajarkan berbagi sebagai ladang amal dan rejeki... "
"Subhanallah..., " gumamku tertahan, "Bapak tidak ingin mencari keluarga yang dulu?"
"Sebenarnya, kepikiran untuk mencari istri pertama dan anak. Almarhum istri juga mendukung keinginan itu, harapannya bisa menebus kesalahan di masa lalu. Tapi, sampai hari ini Bapak belum bisa menemukan mereka. Mereka seperti hilang ditelan bumi begitu saja. Semua ini memang salahku. Tuhan mungkin sedang menghukumku. Semua ini salahku. Tuhan menghukumku...,' katanya berulang-ulang.
Tiba-tiba ada yang terasa perih menusuk dada. Aku teringat ayah yang hanya sempat kulihat wajahnya beberapa tahun saja. Ibu bilang ayah pergi meninggalkan kami tanpa pesan. Pak Cahyo jelas bukan ayahku, tapi ceritanya sungguh menusuk perih di hati. Ada gamang di sini, ada amarah atas apa yang dia lakukan di masa lalu, seolah-olah aku adalah anak yang dia sia-siakan. Tapi ada rasa iba dengan kesepian yang beliau rasakan dan rasa bersalah yang terus mengikutinya kemana pun beliau pergi.
Senja ini, seperti biasa, Pak Cahyo duduk di bangku yang sama. Beliau pasti sedang menungguku juga, berharap bisa berbincang-bincang menyampaikan kegelisahannya. Tapi, masih ada rasa amarah yang tersisa dalam hati ini. Beliau jelas bukan ayahku, tak layak bagiku untuk ikut-ikutan marah padanya.
Maafkan Adin, Pak Cahyo. Kali ini Adin tidak bisa menemani, Adin hanya ingin mengendalikan hati Adin yang merasa ditinggalkan ayah sejak kecil. Adin takut keceplosan marah. Setidaknya, Adin bisa mengambil hikmah dari kisah Bapak. Nanti kalau Adin sudah enggak kepikiran ayah, Adin pasti akan temani Bapak lagi. Dulu Ibu pernah bilang, setiap kisah ada hikmahnya, setiap perbuatan ada balasannya. Karenanya, pertimbangankan kembali segala sesuatu yang ingin kamu lakukan. Bila itu baik untuk akhiratmu, teruskanlah. Bila itu tidak baik untuk akhiratmu, urungkanlah. Karena bila engkau salah mengambil keputusan, sesal kemudian yang engkau dapat.
#Demak, 09032020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar