"Ih, kakak tangannya belang!"
Deg, spontan Riri melihat kedua tangannya. Memang sih, kalau diperhatikan kedua bagian punggung telapak tangan dan jari-jarinya terlihat lebih gelap daripada bagian pergelangan tangan ke atas. Ini pasti karena dia sering lupa pakai kaos tangan bila berkendara siang-siang, jadi gosong deh. Huft.
"Enggak cuma kakak, yo. Tuh, punyamu juga! Nih, lihat!" refleks disambarnya tangan Muti dan diacungkan di depan adik semata wayangnya itu.
"Tapi tanganku lebih halus," kilah Muti mengejek, "punya kakak kasar."
"Kalau punya Umi?"
Sepasang tangan yang sudah mulai menua terulur merangkul Riri dan Muti. Mereka seketika menoleh, ternyata Umi sudah berada di belakang mereka sejak tadi memperhatikan mereka. Riri dan Muti pun menyambut tangan itu dan menciumnya lembut.
"Tangan Umi lebih mulia." Riri dan Muti serempak menarik sepasang tangan Umi seraya bergumam, "sukaaa... sekali. Dipeluk Umi seperti ini."
"Kenapa?" selidik Umi sambil menatap kedua anak gadisnya bergantian.
"Karena tangan ini yang mengantarkan kami dari belum mengenal apapun sampai sebesar ini," jawab Muti.
"Dan penuh berkah dari doa dan restu Umi untuk kami," tambah Riri.
"Sebenarnya.... " Umi diam sejenak sambil menatap kedua putrinya bergantian, kemudian lanjut bertanya, "kenapa sih Allah memberi kita dua tangan? Masing-masing dengan lima jari yang berbeda lagi."
"Ehm, supaya memudahkan kita melakukan segala sesuatu, Mi. Iya kan, Kak?"
"Kenapa kelima pasang jari tangan kita berbeda satu sama lain? Kenapa gak sama saja bentuk dan ukurannya?" tanya Umi lagi.
Riri memandang adiknya sekilas, kemudian nyeletuk, "kan fungsinya beda-beda, Umi. Jempol untuk memuji, telunjuk untuk menunjukkan sesuatu atau pas kita disuruh tunjuk jari sama bu guru tuh. Jari tengah sama jari manis buat tempat cincin. Jari kelingking buat pemanis, biar terlihat cantik gitu, tangannya."
"Kalau ini jawabnya ngasal deh, dicocok-cocokin," sahut Umi tersenyum geli.
"Habis apa dong?" tanya mereka kompak.
"Inget bunyi wahyu Allah yang pertama turun?"
"Ingetlah, Mi. Surah Iqro' satu sampe lima kan?" jawab Muthi.
"Yee... bukan Surah Iqro', Surah Al-Alaq kaliii... " Riri meluruskan jawaban adiknya.
"Sama ajalah, Kak. Kan bunyinya Iqro' bismi robbikalladzi kholaqo, dan seterusnya..." Muthi tak mau kalah.
"Iya, iya... maksud ayat itu apaan nih?"
"Ehm, itu... anu, Mi... kita disuruh belajar, lewat ayat-ayat qouliyah dan kauniyah. Ayat-ayat qouliyah itu apa yang Allah sampaikan dalam Alqur'an. Ayat-ayat kauniyah itu apa yang Allah ajarkan lewat penciptaan segala sesuatu di alam semesta, termasuk tubuh kita ya, Mi?"
"Betul, Allah bekali manusia dengan hati, akal dan jasad. Tentunya bukan tanpa maksud dan bukan tanpa pelajaran. Yuk, sambil minum teh panas, lebih asyik kali ya."
Umi mengajak Riri dan Muthi untuk duduk di ruang keluarga. Di sana sudah tersedia sepiring pisang goreng yang masih mengepulkan asap, seteko teh panas dan beberapa gelas kosong. Riri dengan sigap mengambil teko dan menuangkan isinya ke dalam gelas.
"Coba perhatikan, bila tangan kita tidak memiliki lima jari yang berbeda. Apakah kita bisa leluasa menuang teko dan memegang gelas untuk meminum isinya?" tanya Umi lagi.
"Kalo adanya jempol saja pasti enggak bisa, Mi. Kalau jempol sama telunjuk, bisa pegang gelas kosong sih, tapi enggak kuat ngangkat kalau ada isinya, panas lagi. Kalau tambah jari tengah bisa lebih kuat, tambah jari manis dan kelingking lebih kuat lagi. Apalagi kalau pakai dua tangan, Mi. Alhamdulillah, hangat, manis, sedap..., " kata Muthi sambil mempraktekkan apa yang dia ucapkan dan meminum habis isi gelasnya.
"Pinter, anak Umi." Umi menjentik hidung Muthi. Sang kakak ikut-ikutan menjentik hidungnya, membuat pemiliknya nyengir.
"Kalian masih hapal rukun islam kan?"
"Iyalah, Mi. Masak segedhe ini lupa?" jawab mereka serempak.
"Perhatikan, bukan tanpa maksud Allah ciptakan jari-jari kita berjumlah lima, sama dengan jumlah rukun islam. Yang pertama ibu jari, itu mewakili syahadat, telunjuk mewakili sholat, jari tengah puasa, jari manis zakat dan jari kelingking haji. Bila diibaratkan dengan membangun sebuah rumah di surga, tentu kita butuh tiang-tiang yang kokoh untuk menopangnya. Seperti Muthi bilang tadi. Kita tidak bisa memegang apapun hanya dengan ibu jari. Begitu juga belum bisa menyelamatkan kita bila hanya bersyahadat saja. Tak ada rumah yang bisa tegak berdiri dengan satu tiang saja. Dengan ibu jari dan telunjuk, kita bisa memegang sesuatu yang kecil dan ringan. Begitu pula dengan syahadat bila ditambah sholat, bisa menyelamatkan kita dari dosa-dosa kecil, mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar. Namun, rumah yang dibangun hanya dengan dua tiang pun tidak akan kokoh berdiri. Ketika ditambah jari tengah dan jari kelingkin, tangan kita lebih kuat memegang sesuatu yang lebih besar. Begitu pula bila ditambah dengan puasa dan zakat, maka rumah yang ditopang empat tiang tentu jauh lebih kuat daripada hanya ditopang oleh dua tingan. Dan akan lebih sempurna kekuatannya bila ditambah dengan satu tiang lagi, yaitu haji."
"Tapi, Mi. Tanpa ibu jari, keempat jari kita juga bisa memegang gelas loh. Berarti tanpa syahadat, masih ada empat tiang lainnya, kalau mengerjakan rukun yang lain tetep berdiri kan rumahnya?" protes Muthi."
"Itu benar. Tapi, coba dirasakan lagi, enak mana memegang gelas dengan lima jari, atau memegang gelas dengan empat jari?"
"Yo jelas, enak megang pakai lima jari to, Mi."
"Itulah fitrah. Islam itu agama fitrah. Syahadat pembuka pintu surga sekaligus tiang pertama bangunan rumah ahli surga. Bila tak punya kuncinya, bagaimana bisa masuk dan membangun rumah di surga?"
Muthi garuk-garuk kepala. Masuk akal juga ya, penjelasan Umi.
"Satu lagi, Allah ciptakan lima jari dalam bentuk dan fungsi yang berbeda juga menggambarkan bahwa setiap makhluk ciptaan-Nya, termasuk manusia, semua punya karakter dan tugas yang berbeda di muka bumi. Namun, jari-jari tangan kita bisa bekerja sama dalam memegang atau melakukan sesuatu. Demikian juga manusia, meskipun punya karakter dan tugas yang berbeda-beda, selayaknya saling melengkapi dan bekerja sama dalam mewujudkan kebaikan."
"Dengerin tuh, Kak. Jangan pelit bantuin adiknya."
"Kamu juga tuh, jangan pura-pura gak denger kalau kakak minta bantuan." Dua kakak beradik itu saling meledek dengan riang, Umi tersenyum mendengarnya.
"Satu lagi... coba bayangkan bila Allah tidak melengkapi tubuh kita dengan dua tangan...."
"Jangan...!!" teriak mereka kompak.
"Makanya harus..." Umi menggantung kalimatnya.
"Bersyukur...!!" sahut Muthi.
"Meskipun gosong!!" timpal Riri. Dan mereka bertiga pun tertawa. Alhamdulillah, batin Umi.
#Demak, 11032020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar