إنكم لا تُنصرون على عدوِّكم بقوة العدة والعتاد، إنما تنصرون عليه بطاعتكم لربكم ومعصيتهم له، فإن تساويتم في المعصية، كانت لهم الغلبة
عليكم بقوة العدة والعتاد."
"Sesungguhnya kalian tidak ditolong/dimenangkan Allah atas musuh kalian dengan kekuatan jumlah pasukan dan peralatan tempur kalian. Sesungguhnya kalian akan ditolong/dimenangkan Allah karena ketaatan kalian kepada Robb kalian dan maksiyat yang mereka(musuh kalian) lakukan. Seandainya kalian (dan musuh kalian) sama dalam kemaksiyatan, niscaya Allah akan memenangkan mereka atas kalian dengan kekuatan jumlah pasukan dan peralatan tempur mereka."
(pesan Sayyidina Umar bin Khathab ra kepada Sa'id bin Abi Waqqash dalam perang Qadisiyah)
Apa yang dialami kaum muslimin pada perang Qadisiyah sesungguhnya tak jauh berbeda dengan apa yang dialami kaum muslimin saat ini di negri ini. Bedanya hanya tempat kejadian dan siapa yang diperangi.
Dalam perang Qadisiyah, kaum muslimin berhadapan dengan pasukan kafir beserta seluruh strategi dan muslihat mereka untuk kaum muslimin. Kemana pun pasukan lawan bergerak, semuanya jelas terlihat wujudnya oleh pasukan muslim. Mereka hanya bergerak di medan pertempuran dan sekitarnya. Strategi dan muslihatnya pun dapat diperkirakan.
Sementara kondisi umat muslim negri ini sekarang, dihadapkan pada lawan yang berupa virus corona. Dan Kemana mereka bergerak, jelas tidak terlihat oleh penglihatan kita yang memang sangat terbatas. Pasukan virus tersebut sangat leluasa berpindah dan menyerang siapa saja. Bisa laki-laki, bisa pula perempuan tanpa pandang usia, bisa pejabat, bisa pula orang yang hanya dipandang sebelah mata. Strateginya jelas susah diperkirakan.
Dalam hal ini musuh kita adalah virus, dan virus itu sendiri juga merupakan tentara Allah swt yang sudah pasti datang ke negri ini atas ijin/perintah Allah swt. Maka sebenarnya Allah swt sedang memperingatkan kita bahwa musuh sebenarnya ada dalam diri kita sendiri, yang cenderung egois dan mau menang sendiri, kurang peduli pada sebagian yang lain, bermalas-malasan dalam mengikuti perintah-Nya, serta bermudah-mudah melanggar perintah-Nya.
Mari muhasabah diri, berapa kali kita menunda-nunda shalat? Sebelum virus ini datang, sudahkah kita memanfaatkan masjid sebagaimana fungsinya? Berapa banyak jamaah shalatnya? Siapa saja yang berjamaah di sana? Adakah para pemudanya? Ataukah hanya didominasi oleh para lansia? Sudahkah masjid ramah untuk kanak-kanak kita yang sedang belajar sholat? Berapa banyak masjid yang disalahgunakan fungsinya? Bisa jadi Allah swt turunkan virus tersebut untuk menyadarkan kita dan mempergunakannya sesuai fungsinya.
Kemudian, ketika diserukan untuk sholat di rumah dan menonaktifkan masjid sementara, sebagian orang terburu-buru berprasangka bahwa ini bagian dari konspirasi. Padahal di jaman khalifah Umar ra, dan pada jaman kekhalifahan sesudahnya, hal semacam ini pun pernah diberlakukan. Mengapa tidak positif thinking saja, ini hanya sementara. Bila memang tak bisa sholat di masjid, hadirkan saja masjid dalam rumah-rumah kita. Jaga kebersihan dan kesuciannya dan pelihara adab di dalamnya. Hidupkan sholat jamaah bersama seluruh anggota keluarga, dari yang kecil sampai yang lansia. Perbanyak jadwal majelis ilmu di dalamnya, melingkar bukan hanya untuk belajar ilmu agama, tahsin dan tahfidz, tapi juga ilmu dan ketrampilan lainnya. Melingkar juga untuk mengokohkan ikatan hati antar anggota keluarga. Bukankah Allah swt memerintahkan dalam QS At Tahrim ayat 6:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
'Ala kulli hal alhamdulillah, Allah swt ingatkan kita dua bulan sebelum ramadhan untuk kembali ke rumah, memperbaiki segala sesuatunya dari rumah, dari keluarga, untuk mempersiapkan diri dan keluarga kita lebih baik lagi dalam menjalankan tugas sebagai makhluk Allah swt yang Dia ciptakan semata-mata untuk menjalani kehidupan dalam rangka beribadah kepada-Nya.
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi/ beribadah kepada-Ku.
(Adz-dzariyat:56)
Ketika setiap keluarga muslim menjalankan dua perintah di atas, pasti akan dimudahkan pula untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang lain dan menghindari kemaksiyatan. Dan tersebab apa yang dilakukan hamba-Nya, Allah pasti akan mengganti musibah ini dengan banyak kebaikan, rahmat dan kasih sayang. Seperti dalam firman-Nya dalam QS Ar Rahman :60
هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ
"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)."
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi" (QS Al A'raf:96)
Sementara itu, ketika tidak digunakan untuk beribadah, masjid bisa dibersihkan dan didesinfektan seluruh ruangannya, karpet dan perabotannya. Sertakan dalam doa-doa kita agar menjelang ramadhan nanti, keadaan membaik dan masjid dapat digunakan kembali dalam keadaan bersih dari kuman, suci, lebih rapi dan lebih nyaman. Demikian pula untuk seterusnya. In syaa Allah, bi idznillah. Aamiin.
#hadirkanmasjiddirumahkita
#Demak, 26032020#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar