Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 23 Juli 2015

Bab 8_DBT

#Bab_8_DBT
Adakah Jawab?
Oleh : Titien SDF

Siang beranjak petang, Angga dan Lena baru saja tiba dari sekolah. Mereka tampak heran melihat pintu kamar tamu yang setengah terbuka.

"Ada tamukah?" gumam Lena melongok ke dalamnya. Terlihat olehnya Mbok Nah sedang menyuapi Laisa ditunggui seorang gadis kecil.

"Itu siapa, Mbok? Kenapa dia ada di sini?" tanya Lena menunjuk Renata dan Laisa.

"Eh anu ... Non, ini Non Renata, tetangga baru. Non Laisa sakit, Nyonya yang minta dia dipindahkan ke sini," jawab Mbok Nah lirih.

"Oh ... Mama mana?"

"Di kamar Non, sedang istirahat."

"Laisa sakit apa, Mbok?"

"Tidak tahu, Non. Badannya panas, tadi sampai kejang."

Lena, gadis itu hanya menengok ke arah Laisa  dan Renata sebentar saja. Dia bergegas masuk ke kamarnya sendiri. Sekejap kemudian menyusul Angga yang sudah menunggu di meja makan.

"Kalian baru pulang?" tanya Laila yang sedang menuruni tangga, "sudah sore."

"Mas Angga telat jemputnya, Ma," kata Lena mengadu.

"Tadi ada pertandingan futsal di sekolah, sayang kalau dilewatkan, Ma. Tim Angga menang lho," kata Angga memberi alasan. Mulutnya sibuk mengunyah makanannya.

"Laisa sakit, Ma?" tanya Lena yang dijawab dengan anggukan Laila.

"Rina mau nginep di sini nanti malam. Boleh kan, Ma?" tanya Lena.

"Boleh. Ajak tidur di kamarmu saja ya. Kamar tamu dipakai Laisa," jawab Laila.

"Memang Laisa mau seterusnya pakai kamar tamu? Itu kan lebih luas dari kamar Lena, Ma," protesnya.

"Ndaklah. Cuma sementara saja, sampai dia sehat," jawab Laila.

"Ooo ... kirain ... ya udah deh," celetuk Lena sambil berlalu.

"Ma, habis latihan nanti Angga mau nginep di rumah Doni, boleh gak?" tanya Angga. Laila mengangguk.

Mata Laila mengikuti langkah Lena dan Angga menuju kamar mereka. Ah, anak-anak sudah besar, pikirnya. Angga sudah 16 tahun dan Lena, 14 tahun. Mereka sudah memiliki dunianya sendiri. Rasanya terlalu terlambat untuk mengetahui bahwa Laisa adik mereka. Semua salahmu, Laila, bisik hatinya. Kamu keterlaluan, membiarkan anak-anakmu tidak mengenal adiknya, padahal mereka serumah dengannya setiap hari. Apa yang harus kulakukan. Bagaimana menjelaskannya? Laila gundah. Diambilnya air minum, diteguknya sekali habis berharap bisa menghilangkan gundahnya. Deru mobil terdengar memasuki halaman. Pasti suaminya pulang. Laila bergegas berlari keluar menyongsongnya.

"Sudah enakan, Ma?" tanya Sampurno melihat Laila. Dikecupnya kening istrinya dengan lembut. Laila mengambil tangan suaminya dan mengecupnya.

"Laisa sakit, Mas," bisik Laila hati-hati. Entah bagaimana reaksi suaminya nanti, dia berusaha menyiapkan diri.

Sampurno tersentak kaget, "sakit apa? Selama ini dia tak pernah sakit kan?"

Laila menggeleng, "tadi dia kejang. Badannya panas sekali. Aku sudah panggil dokter Adrian untuk memeriksa dan mengobatinya. Sementara, biarkan dia di kamar tamu ya. Setidaknya sampai dia sembuh."

"Kenapa tidak di kamarnya saja? Biasanya dia di sana juga kan?" protes Sampurno tak suka.

"Mas, tolong dengar aku. Dokter Adrian bilang, dia harus dipindahkan di tempat yang lebih terang. Satu-satunya kamar yang masih kosong, ya cuma kamar tamu."

"Dokter itu menanyakan tentang siapa dia?"

"Ya," jawab Laila, "Mbok Nah sudah katakan itu momongannya. Ah sudahlah, aku tak mau membicarakan ini lagi," tukas Laila.

Sementara itu, Mbok Nah sudah selesai menyuapi Laisa. Dia baru akan meletakkan piring kotor ke dapur saat kedua majikannya berbincang sambil berjalan. Sedikit banyak, telinganya ikut menangkap pembicaraan mereka, membuatnya menghentikan langkah dan menunggu sampai mereka berlalu. Orang tua aneh, batinnya.

"Ta ... Sa ... mau ... itu ...," pinta Laisa menunjuk foto di dinding. Foto keluarga Sampurno. Renata mengambilnya dengan takut-takut dan memberikannya pada Laisa. Gadis kecil itu mengusap wajah Laila dengan lembut, juga wajah Lena.

"Sa ... mau ... di sini ...," katanya penuh harap. Didekapnya foto itu di dadanya erat. Renata hanya mengangguk, pemikiran kanak-kanaknya mengatakan, ya minta saja foto bareng. Begitu aja kok repot.

"Sudah sore, Non. Non ndak pulang? Nanti dicari lho," kata Mbok Nah pada Renata, "Laisa sudah baikan. Dia hanya butuh istirahat. Non pulang saja dulu, besok main lagi."

Renata menurut saja, Mbok Nah benar. Apa jadinya kalau papa mamanya pulang saat dia tidak ada. Lagi pula dia harus mulai menyiapkan perlengkapan sekolah yang dia butuhkan. Besok pagi dia sudah harus masuk sekolah baru.

"Ya Mbok. Renata pulang. Mungkin Renata ndak bisa main setiap hari karena besok pagi sudah harus mulai sekolah. Cepat sembuh ya Laisa," pamitnya.

"Na ... Sa ... mau ... se ... kolah. Sama ... Ta ...."

"Non harus sehat dulu ... baru boleh sekolah. Biar nanti Mbok bilang Nyonya."

"Yeee ... Sa ... mau ... sekolah ... sama ... Ta ...."

"Orang kayak gitu mana bisa sekolah, " celetuk Lena dari balik pintu. Ditariknya tangan seorang gadis berkerudung biru ke kamarnya. Si gadis ikut melongok melihat Laisa, dahinya mengernyit memandang Lena dan Laisa berganti-ganti. Wajah mereka memang hampir serupa.

"Adikmu, Len?" tanyanya.

"Please deh, Rin. Masak aku punya adik begitu," jawab Lena ketus. Mbok Nah hanya mengelus dada, matanya mengikuti langkah mereka sampai menghilang di balik pintu. Dia benar-benar adikmu, Non, jerit hatinya.

"Na ... Sa ... boleh ... sekolah?"

"Non lihat-lihat buku ini dulu ya. Sambil belajar," kata Mbok Nah menyorongkan beberapa buku cerita bergambar yang dibawa Renata untuknya. Laisa kegirangan, dibolak baliknya buku-buku itu dengan penuh sukacita.

"Baca ... Na ... baca ...," pinta Laisa pada Mbok Nah.

"Sini Mbok bacakan. Non perhatikan  ya," jawab Mbok Nah mengambil tempat duduk di sebelah Laisa. Tangan keriputnya menunjuk gambar demi gambar yang ada dan dengan sabar membacakan cerita untuk Laisa. Hatinya terus berharap, semoga Nyonya mengijinkan Laisa sekolah. Semoga, untuk kebaikan Laisa. Mungkinkah?

#Demak, 17052015


Mengembalikan baiti jannati di ramadhan kita

MENGEMBALIKAN BAITI JANNATI DI RAMADHAN KITA

Alhamdulillah, salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan sahabatnya.
Anda telah berkeluarga? Bagaimana pengalaman Anda selama mengarungi bahtera rumah tangga? Semulus dan seindah yang Anda bayangkan dahulu?
Saudaraku, kehidupan rumah tangga memang penuh dengan dinamika, lika-liku, dan pasang surut. Kadang Anda senang, dan kadang Anda bersedih. Tidak jarang, Anda tersenyum di hadapan pasangan Anda, dan kadang kala Anda cemberut dan bermasam muka.
Bukankah demikian, Saudaraku?
Berbagai tantangan dan tanggung jawab dalam rumah tangga senantiasa menghiasi hari-hari Anda. Semakin lama umur pernikahan Anda, maka semakin berat dan bertambah banyak perjuangan yang harus Anda tunaikan. Tanggung jawab terhadap putra-putri, pekerjaan, karib kerabat, masyarakat, dan lain sebagainya. Di antara tanggung jawab yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan Anda ialah tanggung jawab terhadap pasangan hidup Anda.
Sebelum menikah, sah-sah saja Anda sebagai calon suami membayangkan bahwa pasangan hidup Anda cantik rupawan, bangsawan, kaya raya, patuh, pandai mengurus rumah, penyayang, tanggap, sabar, dan berbagai gambaran indah.
Bukankah demikian, Saudaraku?
“Biasanya, seorang wanita dinikahi karena empat pertimbangan: harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, hendaknya engkau lebih memilih wanita yang beragama, niscaya engkau beruntung.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ وَلاَ تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ وَلَأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ
‘Janganlah engkau menikahi wanita hanya karena kecantikan parasnya, karena bisa saja parasnya yang cantik menjadikannya sengsara. Jangan pula engkau menikahinya karena harta kekayaannya, karena bisa saja harta kekayaan yang ia miliki menjadikan lupa daratan. Akan tetapi, hendaklah engkau menikahinya karena pertimbangan agamanya. Sungguh, seorang budak wanita berhidung pesek dan berkulit hitam, tetapi ia patuh beragama, lebih utama dibanding mereka semua.'” (Hr. Ibnu Majah; oleh al-Albani dinyatakan sebagai hadits yang lemah)
Akan tetapi, sekarang, setelah Anda menikah, terwujudkah seluruh impian dan gambaran yang dahulu terlukis dalam lamunan Anda?
Bila benar-benar seluruh impian Anda terwujud pada pasangan hidup Anda, maka saya turut mengucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat. Bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati atau kecewa.
Saudaraku, besarkan hati Anda, karena nasib serupa tidak hanya menimpa Anda seorang, tetapi juga menimpa kebanyakan umat manusia. Saudaraku, berbahagia dan berbanggalah dengan pasangan hidup Anda, karena pasangan hidup Anda adalah wanita terbaik untuk Anda!
Anda tidak percaya? Silakan Anda membuktikannya. Bacalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini, lalu terapkanlah pada istri Anda.
لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Tidak pantas bagi lelaki yang beriman untuk meremehkan wanita yang beriman. Bila ia tidak menyukai satu perangai darinya, pasti ia puas dengan perangainya yang lain.” (Hr. Muslim)
Saudaraku, Anda kecewa karena istri Anda kurang pandai memasak? Tidak perlu khawatir, karena ternyata istri Anda adalah penyayang.
Anda kurang puas dengan istri Anda yang kurang pandai mengurus rumah dan kurang sabar? Tidak usah berkecil hati, karena ia begitu cantik rupawan.
Anda berkecil hati karena istri Anda kurang cantik? Segera besarkan hati Anda, karena ternyata istri Anda subur sehingga Anda mendapatkan karunia keturunan yang shalih dan shalihah.
Demikianlah seterusnya.
Tidak etis dan tidak manusiawi bila Anda hanya pandai mengorek kekurangan istri, namun Anda tidak mahir dalam menemukan kelebihan-kelebihannya. Buktikan Saudaraku, bahwa Anda benar-benar seorang suami yang berjiwa besar, sehingga Anda peka dan lihai dalam membaca kelebihan pasangan Anda.
Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu peka dan mahir dalam membaca segala hal, termasuk suasana hati istrinya. Aisyah mengisahkan,
“Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Sungguh, aku mengetahui bila engkau ridha kepadaku, demikian pula bila engkau sedang marah kepadaku.’ Spontan, Aisyah bertanya, ‘Darimana engkau dapat mengetahui hal itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Bila engkau sedang ridha kepadaku, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Muhammad. Adapun bila engkau sedang dirundung amarah, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Ibrahim.’’ Mendengar penjelasan ini, Aisyah menimpalinya dan berkata, ‘Benar, sungguh demi Allah, wahai Rasulullah, ketika aku marah, tiada yang aku tinggalkan, kecuali namamu saja.’” (Muttafaqun ‘alaihi)
Demikianlah teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau begitu peka dengan suasana hati istrinya, sehingga beliau bisa membaca isi hati istrinya dari ucapan sumpahnya. Walaupun Aisyah berusaha untuk menyembunyikan isi hatinya, tetap bermanis muka, senantiasa berada di sanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berbicara seperti biasa, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat menebak suasana hatinya dari perubahan cara bersumpahnya. Luar biasa, perhatian, kejelian, dan kepekaan yang tidak ada bandingnya.
Tidak mengherankan, bila beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang terbaik di antara kalian ialah orang yang terbaik dalam memperlakukan istrinya, dan aku adalah orang terbaik di antara kalian dalam memperlakukan istriku.” (Hr. At-Tirmidzi)
Bagaimana dengan Anda, Saudaraku? Dengan apa Anda dapat mengenali dan meraba suasana hati pasangan Anda?
Saudaraku, tidak ada salahnya bila sejenak Anda kembali memutar lamunan dan gambaran tentang istri ideal dan idaman yang pernah singgah dalam benak Anda. Selanjutnya, bandingkan gambaran istri idaman Anda dengan gambaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kaum wanita berikut ini, “Wanita itu bagaikan tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah, dan bila engkau bersenang-senang dengannya, niscaya engkau dapat bersenang-senang dengannya, sedangkan ia adalah bengkok.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Nah, sekarang, silakan Anda mengorek memori Anda tentang wanita pendamping hidup Anda. Temukan berbagai kelebihan padanya, dan selanjutnya tersenyumlah, karena ternyata istri Anda memiliki banyak kelebihan.
Lalu, bila pada suatu hari Anda merasa tergoda oleh kecantikan wanita lain, maka ketahuilah bahwa sesuatu yang dimiliki oleh wanita itu ternyata juga telah dimiliki oleh istri Anda. Maka, bergegaslah untuk membuktikan hal ini pada istri Anda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bila engkau melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu! Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal yang dimiliki oleh wanita yang engkau lihat itu.” (Hr. At-Tirmidzi)
Demikianlah caranya agar Anda dapat senantiasa puas dan bangga dengan pasangan hidup Anda. Anda selalu dapat merasa bahwa ladang Anda tampak hijau, sehijau ladang tetangga, dan bahkan lebih hijau.
Selamat berbahagia dengan pasangan hidup yang telah Allah karuniakan kepada Anda. Semoga Allah memberkahi bahtera rumah tangga Anda.
Sebaliknya, sebagai calon istri, Anda juga berhak untuk mendambakan pasangan hidup yang tampan, gagah, kaya raya, pandai, berkedudukan tinggi, penuh perhatian, setia, penyantun, dermawan, dan lain sebagainya.
Betapa indahnya gambaran rumah tangga Anda, dan betapa istimewanya pasangan hidup Anda, andai gambaran Anda ini dapat terwujud. Bukankah demikian, Saudariku?
Saudariku, setelah Anda menikah, benarkah seluruh kriteria suami ideal yang pernah menghiasi lamunan Anda ini terwujud pada pasangan hidup Anda?
Bila benar terwujud, maka saya ucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat, dan bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati.
Besarkan hatimu, wahai Saudariku! Percayalah, bahwa pada pasangan hidup Anda ternyata terdapat banyak kelebihan.
Bila selama ini, Saudari ciut hati karena suami Anda miskin harta, maka tidak perlu khawatir, karena ia penuh dengan perhatian dan tanggung jawab.
Bila selama ini, Saudari kecewa karena suami Anda ternyata kurang tampan, maka percayalah bahwa ia setia dan bertanggung jawab.
Andai selama ini, Saudari kurang puas karena suami Anda kurang perhatian dengan urusan dalam rumah, tetapi ia begitu membanggakan dalam urusan luar rumah.
Juga, andai selama ini, sikap suami Anda terhadap Anda kurang simpatik, maka tidak perlu hanyut dalam duka dan kekecawaan, karena ia masih punya jasa baik yang tidak ternilai dengan harta. Ternyata, selama ini, suami Anda telah menjaga kehormatan Anda, menjadi penyebab Anda merasakan kebahagiaan menimang putra-putri Anda.
Saudariku, Anda tidak perlu hanyut dalam kekecewaan karena suatu hal yang ada pada diri suami Anda. Betapa banyak kelebihan-kelebihan yang ada padanya. Berbahagia dan nikmatilah kedamaian hidup rumah tangga bersamanya.
Berlarut-larut dalam kekecewaan terhadap suatu perangai suami Anda dapat menghancurkan segala keindahan dalam rumah tangga Anda. Bukan hanya hancur di dunia, bahkan berkelanjutan hingga di akhirat kelak.
Saudariku, simaklah peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Agar anda dapat menjadikan bahtera rumah tangga Anda seindah dambaan Anda, “Aku diberi kesempatan untuk menengok ke dalam neraka, dan ternyata kebanyakan penghuninya ialah para wanita, akibat ulah mereka yang selalu kufur/ingkar.” Spontan, para shahabat bertanya, “Apakah yang engkau maksud adalah mereka kufur/ingkar kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka terbiasa ingkar terhadap perilaku baik, dan ingkar terhadap jasa baik. Andai engkau berbuat baik kepada mereka seumur hidupmu, lalu ia mendapatkan suatu hal padamu, niscaya mereka begitu mudah berkata, ‘Aku tidak pernah mendapatkan kebaikan sedikit pun darimu.’” (Muttafaqun ‘alaihi)

Anda mendambakan kebahagian dalam rumah tangga? Temukanlah bahwa kebahagian hidup dan berumah tangga terletak pada genggaman tangan suami Anda. Pandai-pandailah membawa diri, sehingga suami Anda rela membentangkan kedua telapak tangannya, dan memberikan kebahagian berumah tangga kepada Anda.
Percayalah Saudariku, suami Anda adalah pasangan terbaik untuk Anda.
“Bila seorang istri telah mendirikan shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadan, menjaga kesucian dirinya, dan taat kepada suaminya, niscaya kelak akan dikatakan kepadanya, ‘Silakan engkau masuk ke surga dari pintu mana pun yang engkau suka.’” (Hr. Ahmad dan lainnya)
Tidakkah Anda mendambakan termasuk orang-orang mukminah yang mendapatkan kebebasan masuk surga dari pintu yang mana pun?

Lalu bagaimanakah dengan rumah kita?

Megah atau tidaknya suatu rumah tidak menjadi jaminan anggota keluarganya betah tinggal dirumah. Banyak terjadi kasus ketika suami istri berangkat kerja, anak-anak diasuh oleh para pembantu dan tv, akhirnya komunikasi orang tua dengan anak semakin jauh, berangkat dari hal ini anak-anaknya berkembang sesuai dengan pergaulannya. Pengaruh teman sangat dominan, sehingga tidak terjadi keharmonisan dalam keluarga. Demikian pula banyak terjadi suami berselingkuh , atau seorang istri juga mempunyai pria idaman lain. Dengan demikian hubungan mereka menjadi kaku, komunikasi yang dibangun hanya bersifat lahiriyah, adapun hatinya berpaling pada orang lain.

Ada lagi rumah tangga yang salah satu anggota keluarganya bekerja dan yang lain tinggal dirumah, katakan saja misalnya suami yang bekerja dan istri yang berada di rumah. Ternyata setiap kali suami pulang kerja di rumah tidak ada makanan, bahkan kadang istri sedang ngrumpi dengan tetangganya. Dengan demikian rasa letih dan capek yang seharusnya mendapat sambutan ternyata tidak ada yang menyambut. Maka jadilah percekcokan. Satu sama lain sama-sama egoisnya mempertahankan pendapatnya dengan mengumbar nafsu.

Demikian pula dalam keluarga yang selalu memandang harta kekayaan masih kurang bila dibandingkan dengan yang lain, sehingga muncul keinginan untuk mencukupi kebutuhaanya dengan cara-cara yang tidak wajar, misalnya mencari pinjaman dengan melebihi dari panghasilan yang diperoleh tiap bulannya, atau yang lebih parah lagi melakukan kegiatan tindak penipuan, perampokan, bahkan mengedarkan uang palsu atau menjadi Bandar Narkoba. Bahagiakah keluarga yang dibangun dengan cara yang demikian ini?
Ada suatu kisah keluarga besar di masyarakat pedesaan, antara keluarga terjalin komunikasi yang baik, dengan tetangga saling menolong, saling menghurmati, bahkan pendidikan anak berlangsung secara alami. Rumah mereka dari bangunan yang sederhana, beratapkan rumbia, berdindingkan bambu, rumah mereka hanya dipisahkan kamar tidur yang merupakan tempat privasi suami istri. Sekalipun penghasilannya pas-pasan, makan dan minum hanya sekedarnya saja, bahkan makanan hanya sekedar untuk menegakkan punggung namun kehidupannya nampak bahagia.
Pada zaman Rasulullah SAW pernah ada seorang wanita tua yang bernama Ibu Muti’ah. Suatu saat Rasulullah SAW memerintahkan kepada putrinya Fatimah, bila ingin menjadi wanita yang mulia belajarlah kepada Muti’ah. Segeralah  Fatimah berangkat dengan ditemani putranya Hasan, setelah berjalan cukup jauh sampailah pada rumah yang dimaksud, lalu dia mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Setelah disambut, dipersilahkan Fatimah untuk masuk ke dalam rumah, dan Hasan disuruh untuk tetap tinggal diluar, karena penghuni rumah tidak mau menerima tamu  laki-laki tanpa seijin suaminya.
Setelah dipersilahkan duduk, Fatimah menengok sisi kanan, kiri, atas bawah. Dalam hati berkata, apa kelebihan wanita ini hingga ayahandanya menyuruh berguru kepadanya. Dilihatnya di pojok ruangan terdapat baskom berisi air, lalu kain lap dan cemeti.
Fatimah bertanya, “untuk apakah benda-benda tersebut.” Lalu dijelaskan bahwa ketika suaminya pulang kerja, suaminya lalu disambut, karena melihat nampak kusut, maka dibilaslah muka, tubuh, tangan dan kakinya. Setelah itu di lap dengan kain yang telah tersedia. Kemudian suaminya beristirahat sejenak sambil menyantap hidangan yang telah disediakan oleh istrinya. Setelah itu suaminya mandi dan menegakkan shalat. Setelah selesai sambil duduk dan hilang rasa capeknya, saya ambilkan cemeti untuk suami sambil saya berkata,” Wahai kanda, jika pelayanan saya kepadamu masih kurang saya mohon, kanda untuk menyambuk saya sebagai tebusan atas kelalaian saya.”
Fatimah terkejut lalu bertanya lagi, “bagaimanakah sikap suamimu?
Ibu Muthiah menjawab, “dia menerima cemeti lalu diletakkan di sebelah tempat duduknya, dan dia menarik tanganku lalu memelukku dengan penuh kasih sayang.”
Dari kejadian tersebut barulah Fatimah mengetahui, mengapa rasul memerintahkan untuk belajar kepada Ibu Muti’ah.
Karena itu bersyukurlah, bila kita diberikan kemampuan untuk membangun rumah sesuai dengan perkembangan zaman, dan wujud syukurnya hendaknya keindahan dan kemegahan rumah diimbangi dengan keikhlasan dalam menegakkan syariat Allah, dan semangatnya didalam malaksanakan amar makruf nahi munkar.
Keluarga merupakan bangunan suatu negara yang paling kecil, agar banguan tersebut tetap menjadi keluarga idaman, rumah yang mendatangkan kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan penghuninya dapat melakukan kiat-kiat sebagai berikut:
1. Menjaga dan melaksanakan hak dan kewajiban setiap anggota keluarga.
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.” (Qs. al-Baqarah: 228)
Hak pasangan Anda setimpal dengan kewajiban yang ia tunaikan kepada Anda. Semakin banyak Anda menuntut hak Anda, maka semakin banyak pula kewajiban yang harus Anda tunaikan untuknya.
Seorang istri berdandan untuk suaminya, begitupun sebaliknya. Seorang istri hendaknya memahami pekerjaan suaminya, begitupun sebaliknya. Suami adalah pakaian bagi istri dan istri adalah pakaian bagi suami, maka hendaklah mereka saling terbuka satu sama lain dan menutup aib keluarga dan pasangan dari orang lain.
2. Saling menasehati di dalam melaksanakan kebenaran, kesabaran dan keikhlasan atas dasar kasih sayang dengan cara yang baik.
“ Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al Ashr: 2-3)
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 159)
3. Seluruh anggota keluarga yang meliputi suami, istri anak-anak dan anggota yang lain saling berlomba-lomba, tolong menolong dan bekerjasama  dalam kebaikan untuk mewujudkan surga dunia dan akhirat.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui.” (QS. Ali Imran: 133-135)
“… dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (QS. Al Maidah: 2)
Ramadhan bulan penuh berkah, dan ini merupakan bulan yang baik untuk menjadikan rumah kita sebagai surga. Tak hanya bagi diri kita pribadi, tapi bagi semua anggota keluarga. Maka buatlah kegiatan ramadhan yang menyatukan semua anggota keluarga, misalnya: bersih-bersih rumah bareng, buka bersama keluarga, jamaahan tarawih/qiyamul lail, tadarusan bareng. Suami hendaknya memberi waktu cukup bagi istri untuk mengkhatamkan Alqur’an, begitupun sebaliknya.
Keluarga merupakan bangunan negara yang paling kecil, sehingga untuk mewujudkan bangunan rumah tangga yang kokoh tiada pilihan kecuali setiap anggota keluarga untuk menyibukkan diri pada hal-hal yang baik. Membiasakan diri melakukan yang baik untuk memberi dan menjadi teladhan dalam keluarga. Walaupun suami adalah merupakan kepala keluarga, namun bisa jadi akan mencontoh pada istri dan anak-anaknya dalam ketaatan kepada Allah.
Sesungguhnya rapuhnya bangunan rumah tangga sering dipicu oleh pihak ketiga, yaitu syetan yang mengajak dan membisikkan hawa nafsunya sehingga melakukan hal-hal yang tidak baik. Ketika nilai-nilai kebaikan dalam keluarga senantiasa menjadi kebiasaan hidup niscaya bisikan hembusan nafsu syetan akan sirna. Namun karena syetan selalu menciptakan tipu muslihat maka setiap anggota keluarga agar mengaca pada orang-orang shalih.
Lihatlah kepada orang yang lebih tinggi dalam hal kesalihannya nsicaya akan menjadi hamba yang selalu istiqomah dalam menegakkan syari’at Allah.
Semoga ramadhan kali ini benar-benar bias mengembalikan baiti jannati dalam keluarga kita, aamiin

Hampa


Oleh : Titien SDF
Jenis : Puisi

Seperti biasa
Kembara mendesah tanpa jeda
Berbutir-butir debu dikulumnya
Mengecup daun yang mengikut
Bersandar pada rasa nglangut
Hampa ...

Semua masih sama
Ricik air meriuh sunyi
Hinggap pada batu-batu kali
Diam mencari rasa yang tlah pergi
Mengejar matahari
Membumikan mimpi

Dan aku: masih di sini
Menyusuri pucuk-pucuk langit
Bergayut pada bulan sabit
Mengintip isi malam
Adakah matanya terpejam
Dan impian kubawa pulang

Diorama

Diorama
Oleh: Titien SDF

Dan aku seperti kembali ke masa lalu
Irama yang memburu melarikan nafasku
Ombak menangkapnya dalam gemuruh membiru
Raga memucat pasi, darah seakan berhenti melaju
Ah, andai saja tak kutambatkan perahu
Mungkin takkan jadi sesalan rindu
Apalah daya, tiada mungkin 'tuk memutar waktu

#Demak, 30062015

Kejutan Cinta

Kejutan Cinta
Oleh; Titien SDF

Entah kenapa, hari ini semua begitu aneh sikapnya. Tidak hanya Mas Bram, juga anak-anak dan Bik Ross. Apapun yang kukerjakan selalu diminta. Mereka malah menyuruhku pergi saja.

Seharian ini kuhabiskan untuk melihat-lihat pameran lukisan. Hanya melihat, karena dompet ternyata hanya berisi recehan. Hhh, semua hanya membuat kesal dan tersisihkan. Kuputuskan pulang, mungkin yang kubutuhkan cuma tidur.

Rumah terlihat sepi, kunaiki tangga dengan gontai. Pintu kamarku terbuka, sebuah meja jamuan terpampang di sana, hidangan spesial lengkap dengan lilin dan rangkaian bunga. Lantunan Surat Arrahman menghiasi suasana.

"Selamat ulang tahun, Mi. Cukuplah Surat Arrahman menjadi pengingat. Engkau adalah kenikmatan yang tak tergantikan untuk kami."

Dan aku, tak bisa berkata-kata. Hanya menyambut pelukan Abi dan anak-anak penuh haru.

#Demak, 30062015

Baju baru Dinda

Baju Baru Dinda
Oleh : Titien SDF

Dinda termenung di sudut halaman, teman-temannya asyik berkejaran menuju masjid. Masing-masing memakai baju baru, bagus dan indah.

"Tidak ikut buka bersama di masjid, Din?" tegur Ibu lembut.

"Dinda agak pusing, Bu," jawabnya pelan. Dia tak berani meminta ibunya untuk membelikan baju baru.

"Kalau begitu, istirahatlah, supaya kuat sampai waktu berbuka nanti," sahut ibunya. Dinda mengangguk dan masuk ke kamarnya.

"Kau ingin baju baru ya?" bisik Diah pada adiknya,"beberapa hari ini kakak perhatikan kamu selalu memandangi anak-anak itu dengan iri."

"Aku tak berani minta sama Ibu. Coba kalau Ayah masih ada ...," gumamnya. Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu, ibunya menjadi buruh cuci yang penghasilannya tak seberapa.
###
Diah membuka bungkusan kain pemberian Tante Monik. Kain itu bermotif bunga-bunga kecil, panjangnya 2,5 meter. Diambilnya lagi bungkusan yang lain. Isinya perca satin warna warni ukuran kurang dari 0,5 meter. Tante Monik memberikannya juga, "untuk latihan menjahit di rumah," katanya.

Hampir dua tahun ini, Diah memang bekerja paruh waktu membantu Tante Monik bersih-bersih tempat kursus jahitnya. Kalau sedang luang, Tante Monik juga mengajarinya jahit menjahit.

Diah tersenyum kecil, digelarnya kain-kain itu di lantai. Dia mulai membuat pola dan memotong seperti yang diajarkan Tante Monik.

"Sedang apa, Diah?" tanya Ibu. Gadis 14 tahun itu menoleh.

"Diah mau latihan membuat baju, Bu. Nanti ajari Diah menjahitnya ya," katanya.

Dengan dibantu ibu, Diah berhasil membuat dua buah baju. Satu untuknya sendiri dan satu untuk Dinda. Modelnya memang sederhana, namun cukup bagus. Diah juga menambahkan pita-pita untuk mempermanisnya.

"Selesai sudah, mudah-mudahan Dinda suka," katanya sambil tersenyum menatap ibunya.

"Aamiin," jawab ibunya tersenyum, "makasih ya, Nak. Kau memang kakak yang baik. Dinda pasti suka." Lalu, Ibu menggantungkan kedua baju itu di kamar mereka.

Sebentar kemudian, Dinda pulang dari belajar mengaji di rumah Ustadzah Rani. Dia langsung saja masuk ke kamarnya. Hatinya langsung dibalut rasa gembira melihat baju-baju baru yang tergantung di sana.

"Ibu, ini baju baru Dinda sama Mbak Diah!?" teriaknya, "bagus sekali, makasih ya, Bu."

Ibu dan Diah  sedang menyiapkan masakan untuk berbuka di dapur. Dinda menghampiri mereka dengan senyum mengembang.

"Berterima kasihlah pada kakakmu, dia yang membuatkannya untukmu," kata Ibu sambil menoleh ke arah Diah. Gadis itu tersipu malu bercampur senang.

"Ini juga berkat Ibu kok. Kalau tak dibantu Ibu, mungkin hasilnya tak sebagus itu," sahut Diah.
"Makasih Ibu, makasih Mbak Diah. Dinda benar-benar sayang deh ... sama kalian," jawab Dinda memeluk mereka berdua, "kalian memang yang terbaik."

"Hallah ... begitu ya kalau ada maunya," bisik Diah ke telinga adiknya. Dinda tertawa kecil.

"Terima kasih ya Allah, Kauberi kami keluarga yang saling menyayangi. Segala puji bagi-Mu, lindungilah kami dari adzab neraka. Aamiin," gumam Ibu.

"Aamiin," sahut Diah dan Dinda bersamaan.

#Demak, 01072015

Mutiara Putri Tiram

Mutiara Putri Tiram
Oleh : Titien SDF

Kerajaan Tiram Laut sedang dilanda badai pasir. Entah dari mana datangnya, pasir-pasir itu seakan bala tentara musuh yang ribuan jumlahnya.

"Angkat tinggi-tinggi perisai kalian, jangan sampai pasir-pasir itu masuk istana," titah Raja Tiram.

Para prajurit segera melaksanakannya. Mereka mengangkat sebelah perisainya tinggi-tinggi. Masing-masing membentuk formasi laksana dinding yang tinggi menjulang, melingkari istana raja. Di luar mereka rakyat tiram bahu membahu melakukan hal yang sama.

"Ayahanda tidak adil, berlindung di balik rakyat yang lemah. Bukankah seharusnya kita yang melindungi mereka?" protes Putri Tiram.

"Tidak, sudah seharusnya rakyat yang melindungi rajanya," kata Sang Raja dengan marah.

"Aku akan ikut bersama mereka," kata Putri Tiram.

"Jangan, anakku. Pasir-pasir itu akan melukai seluruh anggota tubuhmu yang lemah,"pinta Ibu Ratu melarangnya.

"Tak apa Ibu, aku akan gunakan perisaiku," jawab Putri sambil berlari. Seluruh prajurit dan hulubalang istana juga sudah keluar semua, maka tak ada lagi yang bisa mencegahnya.

Putri Tiram terus betlari sambil mengangkat tinggi-tinggi perisainya. Badanya yang ramping lincah melompati para prajurit. Terus naik ke benteng istana. Hujan pasir tak dihiraukannya. Rasanya seperti sembilu yang mengiris dagingnya.

"Kalau begini terus, pasir-pasir itu pasti akan mudah mengenai mereka. Seharusnya mereka menangkupkan perisainya untuk melindungi diri. Dan terus bergerak perlahan," gumamnya setelah melihat keadaan yang ada.

"Wahai rakyatku semua! Pakai perisai kalian untuk berlindung. Pasir takkan bisa masuk ke dalam tubuh kalian. Lakukan sampai badai berhenti," teriaknya keras, "tapi usahakan agar terus bergerak, agar tak terkubur hidup-hidup." .

Serentak semua melakukan perintahnya. Mereka semua menangkupkan kedua perisainya, beringsut perlahan agar pasir tak sampai membenamkan tubuh mereka.

Sang Putri beringsut turun perlahan sambil terus menangkupkan perisainya. Tak urung beberapa pasir berhasil masuk melukai tubuhnya. Tak dihiraukannya rasa sakit. Dicobanya untuk mengeluarkan pasir-pasir itu, tetapi sia-sia. Maka dibalutnya butiran pasir-pasir itu dengan air liurnya. Perlahan, rasa sakit itu mulai berkurang. Terus dan terus sampai lelah menidurkannya.

Saat terbangun, badai pasir telah berhenti, tapi semua rakyat Negeri Tiram terkapar tak berdaya.

"Maafkan aku rakyatku, aku hanya bisa menyarankan kalian untuk membalut pasir-pasir yang terlanjur masuk ke dalam mulut kalian dengan air liur, selapis demi selapis. Maka rasa sakit itu akan berkurang. Dan lihatlah, apa yang kudapat setelah melakukannya."

Putri Tiram pun membuka mulutnya. Ajaib, pasir-pasir itu telah berubah menjadi mutiara indah yang berkilauan. Sejak saat itu, semua rakyat di Negeri Tiram melakukan apa yang disarankan Sang Putri. Dari mutiara-mutiara yang mereka hasilkan, mereka dapat membangun negerinya jauh lebih baik dari sebelumnya.

Raja dan Ratu menyadari kekeliruannya. Mereka pun akhirnya undur diri dari pemerintahan dan menobatkan Sang Putri menggantikannya.

#Demak, 01072015

Gara-gara petasan

Gara-gara Petasan
Oleh ; Titien SDF

Dudung merapikan baju-bajunya, menatanya dalam tas ransel. Semalam, ayah sudah memberinya ijin untuk berlibur ke rumah nenek. Terbayang sudah serunya libur lebaran kali ini. Ada Wahyu, ada Agus, Arif juga Lim. Juga kembang api warna-warni dan petasan. Amboi ..., rasanya tak sabar untuk segera ke sana.

Sehabis sahur, Dudung segera mandi dan bersiap-siap.

"Yah, kapan berangkatnya nih?" tanyanya pada Ayah yang sedang membaca Alqur'an.

"Nanti Dung, masih terlalu pagi untuk berangkat. Tunggu adzan subuh dulu, kita sholat jamaah di masjid, habis itu baru berangkat," jawab ayah menghentikan sejenak bacaannya.

"Sholat subuh di rumah nenek kan bisa," sungut Dudung.

"Eh, subuh tinggal sebentar lagi," jawab ayah.

"Iya Dung, siap-siapnya juga belum selesai. Ibu masih mau menyiapkan oleh-oleh buat nenek," sahut ibunya pula.

Sedikit kesal, Dudung meletakkan tas ranselnya di atas dipan bambu di teras rumah. Duduk menatap cicak-cicak yang berkejaran di dinding. Dipencetnya ekor cicak yang terdekat dengannya. Cicak itu pun berlari meninggalkan sebagian ekor yang terputus. Dudung memungut dan meletakkannya di atas dipan. Sambil terkekeh dia mengamati potongan ekor yang terus bergerak-gerak lucu.

Sayup-sayup adzan subuh mulai terdengar. Ayah keluar, menggamit pundak Dudung, mengajaknya berjamaah subuh di masjid. Sementara itu, ibu hampir selesai menyiapkan semua yang akan mereka bawa ke rumah nenek.

Subuh tak memakan waktu lama, mereka pun kembali pada rencana semula, berangkat ke rumah nenek di desa.

"Jangan ada yang ketinggalan ya," kata ayah mengingatkan, sesaat sebelum menghidupkan mobilnya.

"In  syaa Allah tidak, Ayah. Ayo kita berdoa dulu supaya perjalanan lancar dan sampai dengan selamat," kata ibu.

"Subhanalladzi sakhorolana hadza wa ma kunna lahu muqriniin ...," ucap mereka bersama.

Sepanjang perjalanan, Dudung tak henti-henti mengagumi pemandangan alam yang dilihatnya. Sejuknya udara pagi terasa menyegarkan.

Dua jam kemudian, sampailah mereka di rumah nenek. Kedatangan mereka langsung disambut penuh suka cita oleh nenek. Tak ketinggalan pula Wahyu, Agus, Arif dan Lim. Mereka ternyata sudah sampai beberapa hari yang lalu.

"Dung, kita buat mercon sendiri lho," celetuk Agus bangga.

"Emang bisa?" tanya Dudung tak percaya.

"Bisa dong, kita kan buat bareng-bareng. Ya kan Rif, Yu, Lim?" kata Agus sambil memperlihatkan mercon buatannya.

Dudung mengamati gulungan kertas kecil itu penasaran, lalu berkata, "bisa bunyi kayak mercon sungguhan ndak?"

"Dudung, jangan mainan petasan ya, Nak. Berbahaya," pesan ibu. Beliau kemudian mengikuti nenek masuk rumah, meninggalkan Dudung bersama para sepupunya.

Dudung tak menghiraukan pesan ibunya. Diambilnya mercon buatan itu dari tangan Agus. Diambilnya korek dari tangan Arif. Tak menunggu lama, dia pun berjongkok dan mulai menyalakan sumbunya. Tiba-tiba ....

Dhuar .... Aaa ... aaa ....

Ayah, ibu dan nenek terkaget-kaget mendengar suara ledakan disusul suara teriakan Dudung. Mereka pun memburu keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Di luar, Dudung berteriak-teriak menutupi wajahnya. Anak-anak yang lain mengelilinginya dengan bingung dan ketakutan.

"Ada apa, Dung," tanya ibu  dengan panik. Diangkatnya tangan Dudung yang menutupi wajah. Terlihat darah berleleran menutupi sebagian wajahnya. Rupanya petasan yang disulutnya keburu meledak sebelum dia sempat menjauhinya.

"Kalian main petasan lagi ya?!" tegur ayah keras-keras. Anak-anak itu tertunduk lesu dan ketakutan.

Ibu membersihkan wajah Dudung dengan air hangat. Dudung meringis kesakitan.

"Huuu ..., sakit, mata kiri Dudung sakit sekali. Enggak bisa ngeliat ... huuu ... huuu ...," tangis Dudung.

Ibu dan ayah pun membawanya ke puskesmas yang ada di sana. Beruntung, di sana masih ada dokter jaga sehingga Dudung dapat segera ditangani.

Dokter memeriksa luka-luka di wajah Dudung dengan teliti, kemudian menutup mata kiri Dudung dengan plester.

"Beruntung, putra bapak tidak apa-apa. Yang luka hanya tangan, pipi dan sekitar mata sebelah kiri. Tidak sampai mengenai bagian dalam mata, tapi mata kirinya harus diistirahatkan sementara," jelas dokter sambil memberikan obat.

"Wah, jadi pendekar mata satu," goda ayah, "keren tuh."

"Keren gimana, Ayah. Gak enak tau," jawab Dudung kesal.

"Gak nurut pesan ibu sih," sahut ibu, "masih mau main petasan?"

Dudung menggeleng pelan. Duh, gara-gara petasan liburannya kali ini jadi tidak menyenangkan. Dalam hati dia berjanji untuk selalu menuruti nasehat ibunya.
#Demak, 04072015

Burung pipit dan boneka sawah

BURUNG PIPIT DAN BONEKA SAWAH

Upit adalah seekor burung pipit yang ramah dan suka menolong. Dia hidup berkelompok dengan sekawanan pipit lainnya. Mereka suka mencari makan bersama-sama dan saling membantu.

Musim kemarau belum lagi usai, tak banyak pepohonan yang berbuah. Upit dan kawanannya pun terbang mencari daerah sekitar pegunungan. Di sana masih banyak pepohonan, juga dekat dengan persawahan.

Siang itu, Upit dan kawanannya pun sampai di sebuah areal persawahan. Sepanjang lahan terlihat barisan batang padi yang menghijau, bertabur bulir-bilir padi yang mulai menguning keemasan.

"Alhamdulillah, akhirnya kita temukan juga," gumam Upit perlahan.

"Iya, alhamdulillah, perut kami sudah lapar sejak tadi. Makan yuk!" teriak pipit-pipit lainnya.

"Makan secukupnya saja, jangan berlebihan dan jangan merusak!" seru Upit mengingatkan teman-temannya. Mereka pun bergegas terbang ke arah batang-batang padi.

Klontang klontang klontang. Terdengar suara memekakkan riuh rendah menghalau mereka.. Serentak mereka terbang menjauh kembali dan hinggap di atas pohon yang tumbuh di tepian sawah.

Upit dan teman-temannya mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata bunyi-bunyian memekakkan itu berasal dari kaleng-kaleng kecil yang bergelantung di beberapa utas tali yang diikatkan pada boneka sawah.

Upit terbang mendekati boneka sawah, sementara itu teman-temannya tetap diam menunggu. Tak lama kemudian, dia hinggap di bahu boneka sawah.

"Boneka sawah yang baik, bolehkah kami minta beberapa butir bulir padi untuk mengisi perut kami?" tanyanya sopan.

"Tidak boleh, padi-padi itu bukan milikku," jawab boneka sawah ketus. Boneka itu terlihat kusam, pakaiannya pun terlihat basah oleh keringat.

"Engkau terlihat sangat kelelahan, apa yang bisa kulakukan untukmu?" tanya Upit tetap ramah.

Boneka sawah itu melihat Upit penuh selidik, "aku lelah, sepanjang hari harus berdiri di sini. Apalagi kalau siang begini, panas sekali. Badanku jadi berkeringat dan gatal-gatal, "keluhnya.

"Di mana bagian yang gatal? Aku bisa menghilangkan gatalnya," tanya Upit lagi.

"Itu, kepalaku gatal," jawab boneka sawah. Bagaimana caramu melakukannya? pikirnya.

Upit pun hinggap di atas kepala boneka sawah. Dipatuknya bagian itu dengan patukan-patukan kecil.

"Hei, rasanya seperti digaruk, gatal di kepalaku hilang!" teriak boneka sawah girang, "tapi sekujur badanku juga gatal-gatal. Gimana? Kau bisa membantuku menggaruknya juga?"

"Kalau begitu, aku akan memanggil teman-temanku untuk membantumu. Tapi, biarkan kami mengambill bulir padi barang beberapa butir. Kami baru saja melakukan perjalanan jauh karena di desa kami sudah tak ada makanan lagi untuk dimakan. Kasihanilah kami," pinta Upit memelas.

"Oh, kasihan sekali. Kalau cuma beberapa butir, silahkan saja. Tapi jangan merusak batang padi ya," jawabnya.

"Ya, kami janji, "seru Upit girang. Dengan satu suitan, dipanggilnya seluruh teman-temannya. Mereka pun mematuk-matuk badan boneka sawah dengan hati-hati.

"Alhamdulillah. Kalian semua baik sekali. Gatal-gatalku sudah hilang. Sekarang kalian boleh makan beberapa bulir padi. Ingat ya, secukupnya saja dan jangan merusak," kata boneka sawah sambil tersenyum.

Upit dan kawanannya terbang merendah dan hinggap di atas tali, membuat kaleng-kaleng yang ada di sana bergoyang-goyang dan berbunyi nyaring mengagetkan mereka. Klontang klontang klontang.

"Jangan berisik, pipit cantik. Jangan hinggap di atas tali. Hati-hati," kata boneka sawah mengingatkan.

Tak berapa lama kemudian, bulir-bulir padi sudah memenuhi perut kecil mereka. Upit dan kawanannya pun bergegas pergi.

"Terima kasih, boneka sawah, "kata Upit sebelum pergi.

"Terima kasih kembali, pipit cantik. Semoga harimu menyenangkan!" jawab boneka sawah riang.

#Demak, 14072015

Yasmin dan burung-burung kertas

YASMIN DAN BURUNG-BURUNG KERTAS
Oleh: Titien SDF

Syahdan, di Negeri Seribu Satu Mimpi, hiduplah seorang raja yang arif bijaksana. Beliau mempunyai permaisuri dan putri yang cantik jelita bernama Yasmin. Mereka pun berbudi pekerti mulia sehingga sangat dicintai rakyatnya.

Yasmin mempunyai kepandaian untuk membuat kerajinan tangan dari kertas. Dia juga suka mengajarkan ketrampilannya pada anak-anak di sekitar istana.

Suatu hari, mereka kedatangan tamu dari Negeri Seribu Malam yaitu Pangeran Saladin, Putri Salsa dan putri mereka yang bernama Wardah. Raja, permaisuri, sang putri berserta segenap keluarga istana menyambut dengan suka cita. Mereka masih mempunyai ikatan kekerabatan, kunjungan itu pun menjadi tempat untuk saling menumpahkan rindu. Raja dan permaisuri asyik berbincang dengan Pangeran Saladin dan Putri Salsa. Yasmin pun asyik bermain dengan Wardah di taman.

Kebahagiaan itu ternyata tidak bertahan lama, karena keesokan harinya sang raja dan permaisuri diketemukan telah meninggal dunia di atas pembaringan mereka. Tak ada tanda-tanda bila mereka dibunuh. Seisi istana pun berduka.

"Yasmin, kami ikut berduka atas meninggalnya ayahanda dan bundamu. Tinggallah bersama kami di Negeri Seribu Malam. Kami akan membesarkanmu bersama Wardah," pinta Pangeran Saladin dan Putri Salsa.

"Ini rumahku, Paman. Aku tak mau meninggalkan istana dan penduduk Negeri Seribu Satu Mimpi. Biarlah aku tetap di sini bersama inang pengasuh dan keluarga istana yang lain," tolak Yasmin halus, "atau ... kalian yang tinggal di sini?"

"Ehm, bagaimana ya ...," gumam Pangeran Saladin, "baiklah. Masih ada kakakku, Pangeran Nurman yang mendampingi Sultan di Negeri Seribu Malam. Bila aku tinggal di sini, pasti tak akan mengacaukan kerajaan."

Akhirnya Pangeran Saladin, Putri Salsa dan Wardah tinggal di istana Negeri Seribu Satu Mimpi. Karena Yasmin baru berumur 15 tahun, maka tahta kerajaan dipegang oleh Pangeran Saladin sampai Yasmin dianggap layak memerintah.

Tahun pertama terlewati dengan baik, Pangeran Saladin memerintah sesuai dengan yang biasa dilakukan ayahanda Yasmin. Tahun berikutnya, segalanya mulai berubah. Pangeran Saladin dan keluarganya lebih sering menyelenggarakan pesta daripada memenuhi hak-hak rakyat. Kemudian, Yasmin pun dikurung dalam salah satu kamar karena dianggap selalu memprotes kebijakan pamannya.

Di dalam kamar, tak ada yang bisa dilakukan Yasmin. Tak seorang pun boleh masuk ke kamarnya dan menemani, kecuali hanya inang pengasuh yang diperbolehkan masuk untuk mengantarkan makanan dan barang-barang yang dibutuhkan Yasmin. Dia pun menyibukkan diri membuat burung-burung kertas.

"Mengapa Putri selalu membuat burung-burung kertas setiap hari?" tanya inang pengasuhnya suatu pagi. Dilihatnya kamar Yasmin dipenuhi dengan burung-burung kertas yang digantungkan di atas tempat tidur.

"Apa lagi yang bisa kulakukan, Inang? Aku ini sudah seperti burung dalam sangkar. Aku rindu kebebasan seperti burung-burung yang bisa terbang ke mana saja. Aku ingin mengejar mimpi-mimpiku," jawab Yasmin sedih.

"Berdoalah, Putri. Hamba yakin, Tuhan akan mendengar doamu," kata inang pengasuh.

"Kau benar, Inang. Terima kasih telah mengingatkanku," jawab Yasmin.

Yasmin pun tak henti berdoa, hingga suatu hari dia mendapatkan sesuatu dalam mimpinya. Dilihatnya burung-burung kertasnya hidup dan terbang selayak burung yang nyata. Satu di antara mereka tumbuh cepat dan semakin besar selayak burung raksasa.

"Naiklah ke punggungku, Yasmin. Aku akan membawamu terbang mengejar mimpimu," katanya ramah.

Dengan agak takut, Yasmin naik ke atas punggung burung raksasa. Burung itu membawanya terbang menembus atap kamarnya diikuti burung-burung kertas lain yang sangat banyak.

Yasmin seperti dibawa ke masa silam, masa di saat Pangeran Saladin dan Putri Salsa pertama berkunjung ke istananya. Waktu itu, dia dan Wardah sedang bermain di taman istana, sementara orang tua mereka berada di ruangan yang lain.

"Aku haus, Yasmin," kata Wardah.

"Tunggu di sini, biar kuambilkan minuman untukmu," jawab Yasmin kecil.

Yasmin kecil pun berlari ke dapur istana. Saat melintasi salah satu ruangan, dia melihat Pangeran Saladin memberikan sebuah lampu yang indah kepada ayahandanya.

"Kau lihat lampu yang diberikan pada ayahmu, Yasmin? Lampu itu beracun. Racunnya hanya bisa bekerja bila dinyalakan. Kau kecil harus mengambil dan memecahkannya sebelum ayahmu menyalakannya!" perintah burung raksasa.

"Bagaimana cara memberitahunya?" tanya Yasmin.

"Katakan pada dirimu sendiri, "Yasmin, cepat ambil lampu itu dan pecahkan!" perintah burung raksasa.

"Apakah ayahanda dan bundaku akan tetap hidup bila aku melakukannya?" tanya Yasmin.

"Tentu saja. Lakukan sekarang, Cepat!" perintah burung raksasa.

Yasmin pun segera berkata pada dirinya sendiri, "Yasmin, cepat ambil lampu itu dan pecahkan.

Ajaib, Yasmin kecil seperti mendengar perintah itu dan berjalan mendekati ayahandanya.

"Ayahanda, lampunya bagus sekali. Bolehkah Yasmin memegangnya?" tanya Yasmin kecil pada ayahandanya.

Sang raja tersenyum dan memberikan lampu itu kepada Yasmin sambil berkata, "tentu boleh, sayang."

Yasmin mengambil lampu itu dari tangan ayahandanya dan menimang-nimangnya. Sementara itu Yasmin yang berada di atas punggung burung raksasa sudah tak sabar untuk memecahkan lampu itu. Dilepasnya cincin yang melingkar di jarinya dan dilempar ke arah lampu. Lemparan itu mengenai tangan Yasmin kecil dan mengagetkannya sehingga lampu itu pun terjatuh dan pecah berkeping-keping. Seketika Yasmin merasakan kantuk yang luar biasa. Saat terbangun, dia mendapatkan dirinya di usia 15 tahun berbaring di atas ranjangnya. Ayahanda dan bundanya berada di sisi kanan dan kiri menatapnya dengan cemas.

"Apa yang terjadi, Ayahanda?" tanyanya saat membuka mata, "mana paman, bibi dan Wardah?"

"Mereka sudah kembali ke negrinya saat engkau belum siuman. Mungkin mereka merasa bersalah saat pecahan lampu itu menusuk jarimu dan membuatmu sakit seperti ini," jawab sang raja.

Terima kasih ya Tuhan, Engkau telah mengabulkan doaku, bisik hati Yasmin. Dia tahu, bukan burung-burung kertas itu yang menolongnya, tapi Tuhanlah yang mengabulkan doanya dengan mengirimkan mereka.

"Terima kasih, Inang, engkau tak pernah lupa mengingatkanku agar tak henti berdoa," bisiknya pada inang pengasuhnya yang juga berada di sana.

#Demak, 16072015

Timun Emas dan Saputangan Ajaib

TIMUN EMAS DAN SAPUTANGAN AJAIB
Oleh: Titien SDF

Syahdan, di sebuah desa di kaki Gunung Semeru, hiduplah seorang ibu tua dengan putri tunggalnya. Si ibu menganggap putrinya yang bertubuh mungil itu sebagai hartanya yang paling berharga. Karenanya, dia memberinya nama 'Timun Emas.'

Timun Emas berhati mulia, dia tak segan berderma walau mereka tak hidup berkecukupan. Setiap hari, dia membuat sulaman yang indah untuk dijual ke kota. Hasil penjualannya digunakan untuk membeli kain dan makanan secukupnya, sisanya dipakai untuk berderma. Timun Emas juga amat menyayangi ibunya.

Suatu hari, ketika hendak menjual hasil sulamannya ke kota, Timun Emas melihat seorang kakek tua. Kakek itu tampak meringkuk di ujung jalan yang dilaluinya. Badannya terlihat gemetar, pakaiannya compang-camping. Timun Emas pun mendekatinya.

"Apa yang bisa kubantu untukmu, Kakek?" tanyanya sopan.

"Aku datang dari jauh, aku kedinginan," jawabnya lirih.

"Beristirahatlah di rumahku, Kek. Rumahku tak begitu jauh kok, hanya di ujung jalan ini," tawar Timun Emas. Dia pun kemudian memapah kakek itu ke rumahnya. Diambilkannya makanan dan  selimut untuknya. Ibunya pun mencarikan pakaian peninggalan ayahnya agar bisa dipakai sang kakek. Mereka benar-benar memperlakukan si kakek seperti keluarga mereka sendiri.

Hari pun berlalu, keesokan paginya si kakek sudah terlihat segar dan sehat. Dia pun pamit untuk melanjutkan perjalanan.

"Bolehkah saya mengantarmu sampai tujuan, Kek?" tawar Timun Emas.

"Tak perlu anak manis, perjalananku sangat jauh. Dan kau juga harus merawat ibumu. Aku sudah sangat berterima kasih dengan bantuanmu," jawabnya.

"Kalau demikian, bawalah  ini agar dapat kaupergunakan di perjalanan, Kek," kata Timun Emas memberikan sebuah bungkusan yang berisi makanan, baju dan selimut. Kakek itu menerimanya dengan senang hati, sebelum pergi dia memberikan sebuah saputangan lusuh untuk Timun Emas.

"Terimalah satu-satunya milikku ini, Nak. Ini saputangan ajaib, simpanlah baik-baik, suatu saat engkau pasti membutuhkannya," kata kakek sebelum pergi meninggalkannya.

Timun Emas memandang saputangan lusuh itu sekilas, kemudian menyimpannya di saku bajunya. Setelah itu, dia pun melanjutkan perjalanannya ke kota untuk menjual hasil sulaman. Karena kurang berhati-hati, sebuah kereta kuda hampir menabraknya. Timun Emas pun terjatuh, kakinya terantuk bebatuan sampai berdarah. Untunglah, bungkusan berisi hasil sulamannya masih utuh dan tidak rusak. Timun Emas mengeluarkan saputangan lusuh pemberian si kakek untuk membebat lukanya kemudian melanjutkan perjalanan.

Sesampai di kota, Timun Emas segera menggelar dagangannya. Dalam waktu tak begitu lama, semua hasil sulamannya terjual habis. Sambil beristirahat, Timun Emas membuka bebat lukanya. Ajaib, kakinya sudah sembuh seperti sedia kala, tak ada bekas luka, pun tak ada bekas darah pada saputangan lusuh itu. Kiranya, inilah keajaiban itu.

"Terima kasih, Tuhan, atas semua karunia-Mu hari ini," gumamnya. Disimpannya kembali saputangan itu dan bergegas membeli beberapa barang yang dia perlukan.

Kota begitu ramai, orang-orang membicarakan tentang penyakit putri raja yang sangat aneh. Sudah begitu banyak tabib didatangkan, tetapi penyakit sang putri tak kunjung ditemukan obatnya. Timun Emas teringat dengan saputangan lusuhnya. Dia bermaksud mencobanya untuk menyembuhkan sang putri.

"Tuan, dapatkah memberitahuku jalan ke istana raja?" tanya pada seorang lelaki berkuda yang lewat di dekatnya.

Lelaki itu memandangnya dan balik bertanya, "ke istana raja? Mau apa kau ke sana, gadis kecil?"

"Aku mendengar tuan putri sakit keras, aku ingin menolongnya. Bila tak mungkin menyembuhnya, setidaknya aku akan menghiburnya," jawab Timun Emas.

Setelah berbincang-bincang sekian lama, lelaki berkuda itu pun bersedia mengantarkannya ke istana raja. Kiranya dia adalah salah seorang prajurit yang bertugas di luar istana.

Sesampai di istana, Timun Emas segera dibawa ke kamar sang putri. Sang putri terlihat pucat terbaring di pembaringan, bibirnya bergerak-gerak ingin menyampaikan sesuatu.

"Selamat siang, Tuan Putri. Ijinkan hamba mengusap Paduka dengan saputangan ini. Mudah-mudahan Tuhan berkenan menyembuhkan Paduka," kata Timun Emas sopan.

Sang putri hanya mengangguk lemah. Timun Emas pun mulai mengusa sang putri dari bagian kepala sampai kaki. Bibirnya tak henti berdoa, "Tuhan, sembuhkanlah Tuan Putri. Sesungguhnya Engkau Maha Menyembuhkan."

Keajaiban pun terjadi, wajah sang putri berangsur-angsur memerah cerah.

"Terima kasih, Gadis kecil. Sekarang aku merasa lebih baik," katanya pada Timun Emas.

"Berterimakasihlah kepada Tuhan, Tuan Putri," jawab Timun Emas lirih.

Seisi istana bergembira dengan kesembuhan sang putri. Raja pun meminta Timun Emas dan keluarganya untuk tinggal di istana. Mereka pun hidup bahagia. Meskipun demikian, Timun Emas tetap rendah hati dan mengerjakan sulaman. Dia juga membagi ilmunya kepada siapa saja yang ingin belajar menyulam.

#Demak, 17072015

Lebaran punya siapa?

Lebaran Punya Siapa?
Oleh: Titien SDF
Jenis: Cermin

Subuh mulai menggema, sesekali disela suara takbir Idhul Fitri. Bersahut-sahutan membangunkan Fitri dari lelap yang baru saja didapatkannya.

"Sudah subuh rupanya," gumamnya mengucek-ucek mata. Hampir semalaman dia terjaga, menyelesaikan pekerjaannya. Subuh ini, dia harus segera mengantar baju-baju setrikaan milik Bu Haji Maemun.

Fitri bergegas turun, mendirikan sholat subuh, lalu membangunkan anak semata wayangnya.

"Dudung, bangun, Sayang. Sholat subuh dulu terus mandi. Emak mau nganter baju-baju Bu Haji dulu."

"Hari ini lebaran kan, Mak?" tanya Dudung setengah merem.

"Iya, makanya cepetan gih, jangan sampai ketinggalan jamaah Idhul Fitri ...."

"Assalamu'alaikum, mau ngambil baju setrikaan, Bu," terdengar suara dari balik pintu.

"Oh, Mang Asep. Ini, Mang, sudah saya siapkan. Baru mau saya anter," jawab Fitri menyodorkan baju-baju yang dimaksud.

"Makasih, Bu. Ini ada titipan zakat dari Bu Haji," kata Mang Asep balas menyodorkan sebuah amplop.

"Alhamdulillah, sampaikan terima kasih saya pada Bu Haji ya, Mang," jawab Fitri sumringah.

Baru saja Mang Asep pulang, beberapa lelaki kekar mendatangi rumah Fitri. Salah seorang di antara mereka langsung merampas amplop yang setengah terbuka di tangan Fitri.

"Ini zakat buat gue, ha ha ha ...," katanya sambil tertawa, "lumayan seratus lima puluh ribu rupiah. Heh, uang sewa rumah mana?!"

"Tapi Bang, kami belum ada uang. Beri kami waktu sampai bulan depan, Bang ...."

"Gak bisa, ini kan lebaran. Kau pasti dapat banyak zakat. Kemarikan! Cepat! Kalian sudah nunggak tiga bulan, bayar sekarang! Kalo tidak, angkat kaki dari rumah ini!"

"Tapi ... kami benar-benar tak punya uang, Bang ...," kata Fitri memelas. Diraihnya Dudung yang ketakutan dalam pelukannya. Bocah yang belum genap 7 tahun itu membenamkan kepalanya dalam-dalam.

Para lelaki itu dengan enaknya mengobrak-abrik semua yang ada di rumah Fitri. Dan ketika mereka tak menemukan apa yang dicari, mereka menyeret Fitri dan anaknya keluar rumah, menjerembabkannya di jalanan. Tak ada yang bisa dilakukan Fitri selain mendekap Dudung erat-erat dan menenangkannya.

"Mak, kita mau ke mana?" tanya Dudung bingung. Fitri hanya menggeleng lemah. Sejenak kemudian bayangan Bu Haji melintas di kepalanya, menuntun langkah untuk ke rumahnya.

Rumah Bu Haji tak seberapa jauh, namun sesampainya di sana tiada sesiapa. Pintu pagar terkunci rapat, hanya ada seorang satpam yang berjaga di sana.

"Bu Haji dan keluarganya baru saja berangkat keluar kota. Saya enggak tau kapan pulangnya," jelas penjaga.

Fitri termangu diam, yang dia tahu, dia harus terus berjalan walau tak tahu ke arah mana mencari harapan. Sementara takbir masih terus bersahutan.

"Ini hari lebaran kan, Mak? Kita ikut merayakan lebaran kan, Mak?" tanya Dudung penuh harap.

Fitri menggeleng pelan, "lebaran bukan untuk kita, Le."

"Lalu, lebaran punya siapa, Mak?" tanya Dudung mengetuk-ngetuk relung hatinya. Pertanyaan yang belum bisa dijawabnya.

#Demak, 21072015

Suara hati Angeli

Suara Hati Angeli
Oleh: Titien SDF

Saat kubuka mata
Dunia sungguh penuh warna
Terkesima; dalam balutan cahaya
Satu demi satu kilatan sirna
Serupa mendung penuh mega
Melukis beribu tangga
Paksaku menaikinya
Ke surgakah? semoga ...

Namaku Angeli
Papa bilang aku malaikat surga
Mama bilang aku setan kecil
Teman-teman bilang aku enak diajak bercanda
Kakak bilang aku si biang centil
Entah; harus percaya siapa

Dan gelap menikam
Mengikatku meringkuk diam
Tanpa suara, tanpa tangisan
Hanya pedih menghujam
Paksaku tapaki tangga langit
Naik dan terus mendaki
Ingin rasanya kembali
Kaki ini tak bisa berhenti

Peluk aku, Tuhan
Tak banyak yang kupinta
Kumohon jangan ada lagi
Angeli-angeli sesudahku
Agar tiada lagi anak tak berdosa
Yang mati sia-sia
Walau kutahu
Kau menghimpun kami di surga
Dalam dekapan penuh cinta

#Demak, 22072015

Lolong

LOLONG
Oleh: Titien SDF

Bara menyala di bumi Tolikora
'Tika bedug fitri menggelora
Lepaskan letih sebulan puasa
Harusnya mereka dipenuhi suka

Inikah negri kita?
Teriak lantangkan demokrasi?
'Tuk bumikan toleransi?
Satukan rasa karna sebangsa?

Satu demi satu luka menganga
Menancapkan bendera angkara
Di Aceh, Maluku, Poso, Papua
Entah mana lagi sasaran berikutnya

Dan sang Ayah terdiam bisu
Si Anak Negri meratap pilu
Iblis berkata, "aku ini masih saudaramu ...
Diamlah, biar kugorok lehermu ...
Kuantar kau ke surga ...
Maka biarkan kami merajalela."

Inikah negri kita?
Kata orang 'ramah tamah penduduknya'
Beribu tanya bergelora
Menguraikan tangis nan menggema
Melolong menanti jawaban
Adakah luka terobatkan
Menunggu; entah sampai kapan
Di sini; masih ada setitik harapan

#Demak, 20072015

Bubur india

BUBUR INDIA
Oleh: Titien SDF

Sudah lama sekali aku ingin mencicipi bubur india. Masakan khas satu ini memang cuma bisa ditemui pada bulan ramadhan. Itupun hanya ada di beberapa tempat di Semarang, salah satunya adalah di Masjid Besar Kauman Semarang.

Sudah menjadi tradisi di sini bahwa setiap hari di bulan ramadhan, pengurus masjid menyediakan sajian bubur india untuk berbuka puasa. Bubur itu disajikan  hangat-hangat dalam mangkok-mangkok yang tertata rapi di teras masjid. Pengurus menyajikan tak kurang dari seribu mangkok setiap harinya.

Sebenarnya, aku bukan penyuka bubur. Aku hanya penasaran dengan rasanya karena kulihat banyak sekali yang rela antri sampai berdesak-desakan. Dan tepat  saat adzan maghrib, bubur itu sudah habis ludes.

Sore itu, kami datang sebelum pukul empat sore. Sampai di sana, bapak-bapak pengurus masjid sedang sibuk menuangkan bubur india ke dalam mangkok-mangkok.

"Belum selesai ditata, Mbak," celetuk seorang bapak.

"Kami bantu menata ya, Pak," kata Isti sok akrab.

"Boleh, kalian bawa mangkok-mangkok yang sudah terisi ke teras ya," jawab mereka.

Aku dan Isti pun segera larut dalam pekerjaan dadakan itu. Sambil bekerja, Isti tak henti bertanya, mulai dari resepnya, cara memasaknya, sampai cerita tentang asal mula tradisi ini. Aku hanya sekali-sekali menimpali. Tak berapa lama, kami selesai menatanya.

"Sudah selesai, Pak," kataku sambil menaruh mangkok terakhir.

"Kemarikan wadah kalian, biar kita isi penuh-penuh," jawabnya.

Aku dan Isti berpandangan. Kami memang sudah diberitahu untuk membawa wadah sendiri karena mangkok buburnya tidak boleh dibawa pulang. Wadah kita ternyata tertinggal di rumah. Aduh, bagaimana ini? Padahal baru jam setengah lima, waktu buka masih lama. Mau kembali takut tidak terburu.

"Eh, oh, wadah kami ketinggalan, Pak," kata Isti penuh kikuk.

Untunglah si bapak berbaik hati. Beliau pun memasukkan bubur bagian kami ke dalam plastik. Setelah berterimakasih kami segera mohon pamit. Alhamdulillah.

Sesampai di rumah, Isti segera loncat dari boncengan motorku. Sementara dari arah dalam rumah adikku Bogi tampak berlari tergesa-gesa sehingga menabrak Isti. Tak ayal, bungkusan berisi bubur pun terjatuh dan pecah berserakan. Kami hanya bisa berpandangan dengan sedih. Duh ... bubur indiaku ....

#Demak, 15072015

Kunci-kunci kebajikan

KUNCI-KUNCI KEBAJIKAN

Kerajaan Pelangi dirundung duka. Raja Awan sudah semakin tua dan sering sakit-sakitan, sementara itu permaisuri juga sudah mangkat tanpa meninggalkan seorang putra. Hanya ada Pangeran Angin, Pangeran Petir dan Putri Hujan, keponakan-keponakan baginda yang masih sangat belia. Baginda sungguh bingung, harus mewariskan tahta kepada siapa. Maka dipanggillah penasehatnya yang bijaksana bernama Resi Semesta ke kamarnya.

"Ada titah apakah sehingga Paduka memanggil hamba?" tanya Resi Semesta penuh hormat.

"Aku bingung mewariskan tahta, Resi. Siapa yang lebih pantas menurutmu? Pangeran Angin, Pangeran Petir atau Putri Hujan?" tanya sang Raja.

"Bagaimana bila kita adakan ujian untuk mereka bertiga, Paduka?" usul Resi Semesta.

"Ujian yang bagaimana menurutmu?"

"Bukankah tongkat pusaka kerajaan berada dalam menara? Bukankah tongkat tersebut hanya bisa diambil setelah melewati tiga pintu? Pintu merah, pintu kuning dan pintu biru? Bukankah pintu-pintu itu hanya bisa dibuka dengan kunci keberanian, kejujuran dan kesetiakawanan?" tanya sang Resi lagi.

"Kau benar, mereka harus mencari kunci-kunci itu dan memasangkannya di setiap pintu. Sekarang, tolong panggil mereka kemari."

Tak lama kemudian, mereka bertiga pun dihadirkan di hadapan Raja Awan.

"Keponakan-keponakanku sayang, usiaku mungkin tak lama lagi. Aku tak memiliki pengganti selain kalian. Tapi, hanya satu yang berhak menjadi raja, karenanya ada ujian yang harus kalian jalani. Hanya dia yang dapat membuka pintu-pintu masuk ruang pusaka. Dan hanya dia yang berhasil mengangkat tongkat pusaka Kerajaan Pelangi yang layak menjadi Raja," titah sang Raja.

"Bagaimana cara kami masuk ke sana, Paduka?" tanya Pangeran Petir penasaran.

"Kalian hanya perlu meletakkan tangan kalian di atas tempat khusus di setiap pintu. Hanya pemilik kunci-kunci itu yang bisa membukanya," jelas sang Resi.

"Baiklah, kami akan segera mengambilnya," kata Pangeran Petir lagi.

"Tunggu dulu, Pangeran. Ruang pusaka itu ada dalam menara yang terletak agak jauh di luar istana. Berhati-hatilah, sesuatu yang tak terduga bisa terjadi," kata Resi Semesta memperingatkan.

Pangeran Angin, Pangeran Petir dan Putri Hujan segera memacu kudanya untuk melaksanakan titah baginda. Pangeran Angin dan Pangeran Petir lebih dulu sampai di depan menara. Ternyata, menara itu dikelilingi danau buatan yang penuh dengan buaya. Serentak, mereka melemparkan tali-tali dengan pengait di ujungnya ke arah dinding menara. Dengan tali itu mereka berayun melewati danau.

Pangeran Petir lebih dulu sampai di pintu merah. Diletakkannya tangannya di atas relief tangan di samping pintu lalu pintu pun terbuka. Dia pun sampai pada kebun strawberi yang indah. Buah-buah strawberi itu terlihat sangat ranum dan menggoda. Pangeran Petir pun tak tahan untuk tidak memetik dan mencicipinya.

Sementara itu, Pangeran Angin terus memasuki pintu yang sudah terbuka. Tak dihiraukannya Pangeran Petir yang masih asyik memetik buah strawberi dan segera mencari pintu kedua yang berwarna kuning. Setelah didapatkannya, diletakkannya tangannya di atas relief tangan di samping pintu. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka.

Putri Hujan baru saja sampai di depan danau penuh buaya, dia pun segera memainkan serulingnya yang selalu dibawanya. Ajaib, buaya-buaya itu segera berbaris rapi seperti dikomando. Sang Putri pun dengan sigap meloncat di atas kepala buaya-buaya itu menyeberangi danau. Dia pun bebas melenggang melewati pintu merah.  Dilihatnya Pangeran Petir asyik memetik buah stawberi dan memakannya.

"Apa yang kaulakukan, Pangeran? Buah-buah itu bukan milikmu, kau tak boleh mengambil tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Paduka memerintahkan kita mengambil tongkat pusaka?" tegurnya halus, tak urung mengagetkan sang Pangeran.

Pangeran Petir seperti baru terbangun dari  tidurnya. Mereka pun bergegas melewati pintu kedua yang sudah terbuka.

Sementara itu, Pangeran Angin sudah sampai di depan pintu biru. Berulang kali diletakkannya tangannya di atas relief namun pintu tetap tidak mau terbuka.

"Biar kucoba, Pangeran," kata Pangeran Petir yang sudah berada di belakangnya. Pangeran Angin pun membiarkan adiknya mencoba. Seperti kakaknya, Pangeran Petir meletakkan tangannya di atas relief, pintu tak juga terbuka. Berulang kali dia mencoba, hasilnya pun tetap sama.

Sekarang giliran Putri Hujan, dia pun meletakkan tangannya di atas relief dan pintu pun segera terbuka. Mereka kini berada tepat di depan tongkat pusaka yang menancap kuat di lantai ruang pusaka.

Putri Hujan mempersilahkan kedua kakaknya untuk mengambilnya. Namun, walau seluruh tenaga mereka kerahkan, tongkat tersebut tetap tak mau tercabut dari tempatnya.

Ajaib, ketika tangan sang Putri menyentuh tongkat pusaka tersebut, keluarlah cahaya warna-warni dari tangannya melingkupi tongkat tersebut. Tongkat pusaka itu pun dengan mudah terangkat oleh Putri Hujan.

"Paduka telah berhasil, Tuan Putri. Paduka telah mewarisi sifat-sifat keberanian, kejujuran dan kesetiakawanan. Sifat-sifat itu memang harus dimiliki oleh seorang raja, agar dia bisa bertindak adil dan bijaksana," kata sang Resi diikuti para punggawa istana. Ternyata diam-diam mereka mengikuti dan mengawasinya.

Putri Hujan pun segera dilantik menjadi Ratu, kedua kakaknya ikut membantunya menjalankan roda pemerintahan. Kerajaan Pelangi pun aman sejahtera.

#Demak, 22072015

Lipatan rindu

Lipatan Rindu
Oleh: Titien SDF

Surya  usai  menabur siang
Rembulan pun menguntit petang
Kehidupan terus berlalu lalang
Aku masih tak tahu, kemana harus pulang

Surga telah hilang
Bersama bencana menerjang
Datang tanpa diundang
Tinggalkan aku terbuang

Rindu ini masih terlipat rapi
Kusimpan jauh di kedalaman hati
Berharap ada saat bersua lagi
Bila tak kini, satu saat nanti

Asa masih mericik cinta
Menabur atma tersisa
Kumpulkan kasih terluka
Mengikatnya di suatu masa

#Demak, 08072015

Kurcaci rakus dan kue ajaib

KURCACI RAKUS DAN KUE AJAIB
Oleh: Titien SDF

Kiku dan Nuni adalah dua kurcaci kecil yang tinggal di tepi hutan. Walaupun bersaudara, mereka sangat berbeda temperamennya. Kiku bertubuh kurus kecil dan selalu ramah. Sedang Nuni bertubuh bulat pendek dan selalu bertampang masam dan cemberut.

Suatu pagi, mereka berjalan-jalan untuk mencari jamur kesukaan mereka menyusuri tepian hutan. Tiba-tiba ....

"Nu, lihat! Apa yang kutemukan?!" teriak Kiku.

"Ah, hanya keranjang. Apa sih isinya? Paling-paling cuma bunga," sahut Nuni. Mereka pun bersama menghampiri keranjang yang mereka temukan di balik pohon dan melihat isinya.

"Lihat, ada sepotong kue di dalamnya. Mungkin milik seseorang tertinggal di sana," kata Kiku lagi.

"Huh, cuma sepotong kue kecil begitu. Kumakan juga enggak kenyang," sahut Nuni.

"Kau tidak lapar?" tanya Kiku pada adiknya.

"Sangat! Tapi kue itu kecil sekali. Kelihatannya juga tidak enak."

Kiku mencubit pinggiran kue dan mencicipinya, "enak," katanya. Dicuilnya lagi pinggiran kue tersebut. Ajaib, setiap kali dia memotongnya, kue itu segera kembali utuh seperti sedia kala. Maka dipotongnya lagi kue itu dengan potongan yang lebih besar untuk Nuni, adiknya.

Nuni pun tertarik untuk ikut mencicipi kue tersebut, "ehm, benar-benar enak," katanya. Dipotongnya lagi kue tersebut, lagi dan lagi, dan kue itu pun tetap kembali utuh seperti semula.

"Nu, kita sudah cukup kenyang, sebaiknya kue ini kita simpan untuk besok sebagai persediaan makanan."

Mungkin kalau kumakan semuanya sekaligus, aku takkan pernah merasa lapar lagi, suara hati Nuni. Sifat serakahnya tak lagi mempedulikan anjuran kakaknya untuk berhenti makan. Kemudian, diambilnya kue tersebut dan dimasukkan ke dalam mulutnya bulat-bulat.

Kiku tak bisa berbuat apa-apa melihat adiknya menghabiskan kue persediaan makanan mereka. Tak berapa lama kemudian ....

"Aduh, Kak. Perutku terasa sakit sekali. Rasanya seperti mau meledak," keluh Nuni sambil memegangi perutnya yang semakin lama semakin membesar. Kiku pun kebingungan, dia tidak tahu bagaimana cara menolong Nuni. Dia pun segera teringat pada kurcaci tua yang tinggal di rumah pohon di dalam hutan. Konon, kurcaci tua itu adalah tabib.

"Tunggulah sebentar di sini, aku akan membawakan tabib untukmu," pesan Kiku pada Ninu.

Untunglah, Kiku tak membutuhkan waktu lama untuk mencari kurcaci tua itu dan membawanya kepada adiknya. Kurcaci tua itu memeriksa Nuni dengan seksama.

"Apa yang dia makan sebelumnya?" tanyanya.

Kiku pun menceritakan apa yang dilakukannya bersama sang adik tadi. Kurcaci tua mendengarkan dengan seksama, sebentar-sebentar kepalanya manggut-manggut.

"Bagaimana, Tabib? Apa yang harus kami lakukan?" tanya Kiku.

"Yang kalian makan adalah kue ajaib milik peri hutan. Kue itu memang diperuntukkan untuk mereka yang kelaparan, tapi tak boleh dimakan bulat-bulat, agar selalu kembali utuh dan dapat dinikmati oleh yang lainnya," jelas kurcaci tua.

"Aduh, lalu bagaimana ini, Kek? Aku terlanjur memakannya bulat-bulat. Kupikir, dengan begitu tak akan pernah merasa lapar lagi, tapi ternyata akhirnya jadi seperti ini," keluh Nuni.

"Satu-satunya cara, kalian harus mencari peri hutan dan minta pertolongannya, hanya dia yang punya obatnya," jawab kurcaci tua.

"Di mana kami bisa menemuinya?" tanya Kiku.

"Temuilah di tempat kalian menemukan keranjangnya. Panggillah dia, mohonlah padanya dan tunggulah sampai dia menampakkan diri."

Kiku dan Nuni pun kembali ke tempat mereka menemukan keranjang. Mereka melakukan seperti apa yang dikatakan kurcaci tua. Setelah begitu lama menunggu, mereka pun tertidur kelelahan.

"Aku sudah memaafkan kalian," kata seorang putri dalam mimpi mereka.

"Kaukah peri hutan?" tanya Kiku.

"Ya, benar. Aku peri hutan. Karena kalian telah menyesal, maka aku akan mengambil kembali kue ajaib itu dari perut Nuni," jawabnya.

"Beb beb bagaimana caranya? Aku tak mau perutku dirobek!" kata Nuni takut.

"Jangan takut, tak perlu merobeknya untuk mengambil kue itu. Namun, kuharap ini jadi pelajaran buat kalian," jawab peri hutan lembut. Diusapnya perut Nuni dengan lembut, kue ajaib itu pun keluar dengan sendirinya dari dalam perut Nuni. Perlahan perutnya berangsur kembali seperti semula.

"Segala puji bagi Tuhan, perutku tak sakit lagi. Mulai saat ini, aku tidak akan serakah lagi!" seru Nuni. Kiku pun senang mendengarnya.
#Demak, 24072015