Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Sabtu, 28 Februari 2015

Berguru pada kata


Tema : Berguru pada kata
Judul : Hidup adalah Pembelajaran
Oleh  : Titien SDF

Hakikat hidup adalah pembelajaran
Isilah dengan sesuatu yang mengesankan
Dunia hanyalah ladang amal dan perbuatan
Usah berhenti walau kautemui sebuah kegagalan
Padanya berujung awal keberhasilan

Ada banyak hal bisa kita amati
Dari setiap kekata yang acapkali ditemui
Akankah ia tertulis atau tersirat di alam ini
Lesapkan dalam akal pikiran dan pahami
Agar bisa mengambil pelajaran dan maknai
Hati kan paham, raga pun mampu menjalani

Pada setiap kekata kita berguru
Entah dia merujuk yang hidup ataupun ungkapan bisu
Menguntai dan mengurainya bukanlah hal yang tabu
Berusahalah menelaah 'tuk mendapatkan suatu ilmu
Edarkanlah pandangmu ke segala arah penjuru
Larilah mengejar sari patinya bila perlu
Agar mendewasa menyempurna kehidupanmu
Jangan terpaku pada segala permainan tidak bermutu
Asah pola pikir, jangan ulangi kesalahan masa lalu
Renungkan masa depan tunjukkan jati dirimu
Ajak semua generasi bersama melangkah maju
Nyalakan semangat, ukir sejarah peradaban baru

#Demak, 01032015

Surat terbuka untuk terpidana mati narkotika

Bertaubatlah Selagi Bisa
Oleh : Titien SDF

Kutuliskan surat ini sebagai ungkapan rasa. Karena kita dipersaudarakan tersebab nasab nabi pertama. Negeri kita pun bertetangga teramat dekat jaraknya. Sudah selayaknya kuperlakukan kau bagai sesama manusia.

Aku memang tak pernah mengenalmu semula. Hanya kabar berita dari berbagai media. Tentangmu yang salah arah dan berbuat tercela. Mengedarkan narkoba mencelakakan generasi bangsa.

Aku sungguh tak habis mengerti. Dirimu bersalah negrimu membela setengah mati. Mengungkit bantuan yang dulu pernah mereka beri. Di sini, terkadang aku merasa sedih sendiri.

Wahai perusak masa depan generasi. Nyawamu bukan sesuatu yang berarti. Berjuta jiwa karenamu menjadi zombi. Hidup tak berharga mati pun masih membebani.

Tersebab kita sesama umat manusia. Selarik nasehat kuuntai agar kaubaca. Hukuman mati sudah terjadwal di depan mata. Maka, bertaubatlah segera selagi bisa.

#Demak, 01032015

Kamis, 26 Februari 2015

Berawal dari ejekan

"Berawal dari Ejekan"

"Cina loleng, Cina loleng. Cina loleng, Cina loleng."

Teriakan anak-anak itu selalu kudengar setiap melewati jalanan depan rumah saat akan berangkat atau pulang sekolah. Mulanya tak begitu kuperhatikan, tapi... lama-lama terasa kalau teriakan itu ditujukan untukku.

Siang ini, teriakan itu kudengar lagi. Kali ini kuberanikan diri bertanya pada Ibu tentang maksud kata-kata itu. Ibu hanya mengelus dada.

"Oh... anak-anak itu mungkin ingin mengenalmu. Kan kita baru pindah di sini. Kita juga yang salah, belum mengenalkan diri," jawab Ibu.

"Kok bilang Cina loleng sih," kataku, tak puas dengan jawaban Ibu.

"Mungkin mereka pikir kita orang Cina, karena kulitmu putih, dan matamu sipit. Tak apalah, lain kali kalau mereka berteriak begitu lagi, tirukan saja," jawab Ibu lagi.

Hari berikutnya kupraktekkan apa yang dikatakan Ibu padaku. Mereka langsung diam dan menghampiriku.

"Kok kamu ikut-ikutan sih? Kita kan sedang ejekin kamu," kata salah seorang di antara mereka.

"Kenapa? Kan aku bukan orang Cina...," tanyaku.

"Kok kamu sipit sih? Putih lagi, seperti orang Cina. Nama kamu siapa?" tanyanya lagi.

"Tien, Titien, kalian siapa?" jawabku balik bertanya.

"Aku Tanto, itu Martono, Heri dan Arief," jawabnya mengulurkan tangan.

"Kita berteman?" tanyaku menyambut tangan mereka.

"Tapi kamu perempuan," katanya lagi.

"Memangnya kenapa kalau aku perempuan," jawabku agak tersinggung.

"Nangisan, bisanya cuma pasaran sama main boneka," sahut Arief, yang lain tertawa.

"Kalian mau adu gundu? Main layangan?" tantangku.

"Memangnya kamu bisa?" ejek mereka meremehkanku, "kalau berani nanti siang ke lapangan Citarum!"

Pulang sekolah, aku bergegas mengambil sekantung gundu, layang-layang dan benangnya yang kusembunyikan di kolong tempat tidur. Ibu tak pernah suka melihatku main gundu, apalagi main layangan. Ibu bilang, anak perempuan harusnya main masak-masakan, main boneka atau bekelan. Tapi aku kurang suka main dengan anak perempuan, mereka cerewet dan suka jotakan (mendiamkan temannya).

Siang itu aku mengendap-endap keluar rumah, berlari menuju lapangan yang tak terlalu jauh dari rumahku. Di sana mereka sudah menunggu.

"Dasar perempuan! Lelet...!" tegur mereka.

"Layangan dulu apa main gundu?" tantangku.

Kami pun beradu gundu. Mereka tampak geram melihat gundu-gundu mereka berkurang dan menjadi milikku.

"Kita main layangan saja!" kata Tanto.

Angin sedang bersahabat, layang-layang kami membubung tinggi, menari-nari di angkasa.

"Ayo kita adu!" kata Arief meledekku, "kalau putus jangan nangis."

Kubiarkan tali layang-layang mereka melilit tali layang-layangku. Untunglah benangnya terbuat dari nilon gelasan (benang nilon yang dilumuri serbuk kaca). Tak berapa lama satu per satu layang-layang mereka pun terputus. Aku tertawa girang, tapi benang layang-layangku tersangkut di pohon cemara. Terpaksa, kuputuskan saja benang dan meninggalkannya di atas sana.

"Aku menang kan?" kataku bangga. Mereka pun akhirnya mau berteman denganku.

Hari-hari selanjutnya kami nikmati bersama setelah pulang sekolah. Apalagi setelah kutahu ternyata Tanto adalah putra dari seorang guruku walau kami tak bersekolah di tempat yang sama. Tempat tinggal kami pun masih dalam kampung yang sama.

"Main ke rumah Ibu ya Tien, ajàk Tanto belajar bersama, "pinta Bu Harti, ibunya Tanto suatu hari. Aku pun mengiyakan permintaannya. Dia adalah guru yang paling sabar di sekolah kami.

Keluarga Tanto ternyata menyenangkan juga. Ada lemari besar penuh buku dan majalah yang menarik perhatianku. Dari sanalah aku jadi tertarik pada buku dan dunia kepenulisan. Terkadang sampai berjam-jam kuhabiskan waktu untuk membaca.

"Rumahmu seperti surga," kataku padanya.

"Ah, kamu tidak asyik lagi diajak main," katanya merajuk.

"Anak laki-laki kok merajuk," kataku," baca buku itu penting, tahu!"

"Kamu sudah kayak ibuku saja, nyuruh-nyuruh baca, bosen, tahu!" katanya marah.

"Kamu belum pernah baca buku ya?" selidikku. Karena menurutku baca buku itu mengasyikan.

"Sini! Kuberitahu kau satu cerita yang bagus." Kutarik dia agar ikut membaca apa yang kubaca. Awalnya kelihatan kalau dia hanya setengah hati, tapi lama-lama kulihat dia juga menikmatinya.

"Kamu benar, ceritanya bagus. Aku belum pernah membaca semua buku-buku itu. Kupikir semua buku isinya pelajaran yang membosankan," katanya.

"Sayang sekali, padahal aku ingin sekali punya buku sebanyak ini," kataku.

"Kalau begitu, main saja setiap hari di sini. Kamu bisa baca buku sepuasmu. Tapi..., jangan menolak kalau kuajak main gundu atau layangan lagi," katanya.

Aku bersorak," yes! Yang penting aku bisa baca buku sepuasku. Buku itu sumber ilmu. Buat kita pintar, kalau teman kita juga jadi suka baca buku kan bagus. Bisa sama-sama pintar. Orang tua kita juga pasti senang.

#Demak, 27022015

Hal jazaaul ihsaani illal ihsaan

Hal jazaaul ihsaani illal ihsaan
Oleh: Titien SDF

Malam hening sunyi, anak-anak tertidur lelap di kamarnya masing-masing. Kutunaikan kewajiban sebagai seorang istri kepada suaminya. Mencari ridhonya yang dapat menyelamatkanku dari adzab neraka.

Wajah yang tak pernah marah itu begitu teduh. Rupanya dia merasakan pandanganku yang lekat dan enggan beralih. Dia balik menatapku lekat-lekat, membuatku merasa jengah.

"Umi, Abi ingin jadi sukarelawan di Aceh," katanya mengagetkanku. Memang, tiga hari ini semua media marak memberitakannya. Tsunami yang terjadi menjelang subuh 26 Desember 2004 itu diberitakan sebagai bencana tsunami terdahsyat sepanjang sejarah.

"Apa tidak cukup membantu penggalangan dana untuk mereka Bi?" tanyaku penuh kekawatiran mengingat gempa susulan bisa terjadi sewaktu-waktu. Tentu saja, aku takut kehilangan laki-laki yang telah mengukir lima anak yang sedang bertumbuh.

"Ini panggilan jihad Mi, dakwah. Apa kita rela bila anak-anak Aceh yang sudah kehilangan segalanya harus ikut pasukan kemanusiaan negara lain yang belum tentu muslim? Apa kita rela jasad-jasad saudara kita tidak mendapatkan perawatan jenazah sebagaimana layaknya?" tanyanya menyentuh perasaanku. Dia benar, aku tak bisa menolak selain mengangguk mengiyakan.

"Rencana berangkat kapan Bi?" tanyaku kemudian.

"Besok pagi Abi berangkat ke Jakarta, bergabung dengan teman-teman Mer-c BSMI. Lusa mungkin baru terbang ke Aceh. Semoga tak memakan waktu lama," jawabnya.

Malam itu juga kami mempersiapkan segalanya. Disodorkannya sebuah amplop padaku, isinya uang Rp 400.000. Kuambil setengahnya dan sisanya kuberikan padanya.

"Kenapa dikembalikan Mi? Itu untuk belanja harian dan keperluan anak-anak selama Abi tidak ada," katanya.

"Tak apa Bi, in syaa Allah cukup. Abi lebih butuh di sana. Kalaupun tak Abi gunakan, sumbangkan saja untuk korban bencana," jawabku yakin.

Pagi harinya kulepas dia dengan doa tak terputus. Niat baik akan mendapat kemudahan dan berkah, pikirku penuh dengan husnudhon kepada Sang Pencipta.

"Jangan kabari orang tua kita. Abi tak ingin mereka cemas," pesannya. Kuanggukkan kepala dan memintanya agar sering memberi kabar.

Dua hari setelahnya orang tuaku berkunjung ke rumah kami.

"Amir mana?" tanya Ibu," jangan bilang kalau dia berangkat ke Aceh."

Aku terdiam, tak mampu menjawab pertanyaannya.

"Adik-adik sehat Bu?" tanyaku mengalihkan perhatian.

"Tak usah mengalihkan pembicaraan. Mesti Amir jadi sukarelawan. Ibu tahu benar seperti apa dia. Kenapa kaubiarkan? Kalau ada apa-apa dengan dia, bagaimana...?"

"Sudah Bu, doakan saja. Bukankah doa seorang ibu tak akan tertolak. Suamiku putra Ibu juga kan...," jawabku berusaha menenangkannya. Perlahan kemarahannya mereda, alhamdulillah.

"Biar Bapak tirah di sini ya Tien, sekalian ngancani kamu dan anak-anak," ujar Bapak menenangkan Ibu.

Dua hari kemudian, giliran bapak mertuaku datang. Beliau memang sering mengunjungi kami dan menginap bila kangen dengan cucu-cucunya.

"Kudengar Amir ke Aceh ya? Kalau begitu, biar Bapak menginap di sini, sampai Amir pulang," katanya. Aku pun tak bisa menolak.

Mulai saat itu, kebutuhan harian kami bertambah. Ada dua perut lagi yang harus dipenuhi. Juga biaya pengobatan Bapak. Untunglah ada teman dokter yang tinggal tak jauh dari rumah, sehingga sewaktu-waktu dapat kupanggil ke rumah saat dibutuhkan.

Hari berganti hari, dua minghu pun hampir berlalu. Mas Amir tak juga memberi kabar. Kucurahkan segenap perhatian pada anak-anak dan dua orang tua yang berada dalam tanggunganku. Beras habis, uang di tangan pun menipis. Aku hanya bisa memohon pada Allah agar diberikan jalan keluar dari masalah.

Selepas maghrib, ponsel berdering, dari suamiku.

"Assalamu'alaikum Umi, Abi kangen," ucapnya di seberang sana.

"Wa'alaikum salam, Abi di mana?" tanyaku. Seperti mimpi rasanya, bisa mendengar suaranya lagi.

"Abi masih di Meulaboh. Afwan, baru bisa memberi kabar. Begitu banyak yang harus dikerjakan di sini, saluran komunikasi terputus. Umi dan anak-anak baik-baik saja kan?"

Mas Amir banyak bercerita tentang keadaan di sana, tentang keadaan para korban dan juga para pengungsi. Tentang beberapa keajaiban yang terjadi di sana. Bagaimana mereka menyiapkan hari raya qurban yang ada di depan mata. Ah, aku tak sanggup menceritakan keadaan kami. Kukatakan kami baik-baik saja walaupun sebenarnya tak ada yang tersisa untuk belanja  esok hari.

"Abi kapan pulang?" tanyaku pada akhirnya.

"Secepatnya, Sayang. Setelah semua tugas terselesaikan," jawabnya. Mungkin dia merasa aku teramat rindu padanya. Memang sih, tapi bukan itu yang menyesaki dadaku sebenarnya. Aku hanya bisa berharap dan berdoa.

"Ya Robb, kutahu Engkau tak pernah menyia-nyiakan hamba-Mu." Kutumpahkan segala rasa di atas sajadah, di sepanjang malam. Aku tak akan meminta pada orang tua untuk menjaga izzah suami. Pun tak mungkin meminjam pada tetangga karena selama ini mereka sering meminjam kepada kami. Pun aku tak pernah tega untuk menagihnya.

Keesokan harinya, kulakukan pekerjaan rumah seperti biasa. Tiga hari lagi hari raya qurban, tak ada yang bisa kupersiapkan seperti biasanya.

"Sudah siap hewan qurban Bu? Kalau belum, nanti kami siapkan," kata takmir masjid kami saat dilihatnya aku sedang menjemur pakaian di depan rumah.

"Belum pak, mungkin dua hari lagi," kataku tak ingin membuatnya kecewa.

Setelah takmir masjid pergi, seseorang datang diantar tetangga mencari rumah kami.

"Maaf Bu, benar ini rumah Pak Amir Darmanto?" tanya sang tamu padaku.

"Benar, ada apa ya Pak?" tanyaku ingin tahu. Ada rasa cemas, jangan-jangan dia membawa kabar buruk tentang suamiku.

"Ini Bu, saya mendapat tugas untuk mengembalikan uang yang dipinjamkan Pak Amir satu tahun yang lalu," katanya.

"Bapak siapa?" tanyaku setengah tidak percaya.

"Katakan saja pada Bapak, saya orang yang pernah ditolongnya tahun lalu. Maaf, baru bisa mengembalikan. Sampaikan salam saya untuk Bapak ya Bu," kata sang tamu berpamitan.

Aku masih terdiam memegang amplop itu memandanginya sampai hilang di ujung gang. Tangan terasa gemetar membukanya. Uang sebesar Rp 800.000. Subhanallahu walhamdulillahi wa laa illaha illallahu allahu akbar. Tasbih, tahmid, tahlil dan takbir kulantunkan mengiringi syukur yang memenuhi dada. Siang itu aku dapat berbelanja untuk kebutuhan harian kami.

Esok paginya kupanggil takmir masjid dan kuserahkan uang untuk membeli hewan qurban. Uang masih tersisa dan kebutuhan pun tercukupkan sampai suamiku pulang.

Kuceritakan padanya apa yang kami alami selama dia tidak ada.

"Hal jazaaul ihsaani illal ihsaan. Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan. Ingat Mi, Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Tanamkan pada putra-putri kita, agar cinta-Nya selalu membersamai kita," jawabnya sambil mengecup keningku. Rasanya damai menjalari seluruh jiwa. Satu lagi ujian terlewati. Alhamdulillahi robbal alamiin. Semua ini karena rahmat-Mu.

#Demak, 26022015

Matematika kehidupan

MATEMATIKA KEHIDUPAN

"Mbak, kok anak-anak semua pintar matematika sih? Ita dan Amiq langganan LCC mewakili sekolah. Yang lain nilainya juga jauh melampaui rata-rata kelas. Apa rahasianya sih?" tanya Ambar, guru kelas anakku.

"Tak ada rahasia," jawabku pendek. Ini adalah pertanyaan yang sama yang berulangkali harus kujawab dari orang yang berbeda.

"Bagaimana mereka belajar? Biar dicontoh anakku. Matematikanya jeblok terus nih," katanya lagi.

"Aku hanya mengajarkan mereka untuk mencintai hidup. Bukankah hidup penuh matematika?" kataku balas bertanya. Dia terdiam, entah apa yang dipikirkannya.

"Coba kauamati hidupmu. Bagaimana kau mengatur waktunya yang 24 jam sehari dengan segala aktivitasmu? Itu adalah matematika. Saat engkau membelanjakan rejekimu, itu pun penuh dengan perhitungan matematika. Untuk mempelajari ilmu apapun, matematika memudahkanmu," jawabku panjang lebar.

"Ya, aku mengerti. Untuk kalimat yang terakhir bisa kaujelaskan? Kalau fisika, kimia, biologi aku paham, tapi yang lain?" tanyanya heran.

"Kaupikir Bahasa Indonesia tak butuh matematika? Bagaimana menghitung baris dan paragrafnya? Menghitung jumlah katanya? Yang lain juga begitu. Geografi, sejarah, agama. Pendek kata hidup penuh matematika," kataku menjelaskan.

"Tapi, hidup kan tidak cuma belajar di sekolah," sahutnya. Sepertinya ia ingin memprotesku.

"Hidup itu pembelajaran, Ambar," kataku kesal.

"Bahkan hidup harus berbagi, membagi perhatian, menambahkan kasih sayang, mengurangi ego kita, mengalikan kesyukuran dan membulatkan cinta, keimanan kita pada Allah yang Maha Pencipta. Itu semua matematika yang diajarkan-Nya. Maka cintailah matematika seperti kau mencintai hidup. Itu rahasia untuk menguasainya," kataku menutup pembicaraan kami di telepon.

Sebulan sesudah pembicaraan kami, Ambar datang ke rumah dengan wajah berseri-seri.

"Angin apa yang membawamu kemari?" tanyaku.

"Angin surga Mbak," jawabnya tersenyum, "selama ini Nisa kudampingi belajar dengan bentakan dan celaan setiap kali dia salah menuliskan jawaban. Tapi setelah kupraktekkan nasehat Mbak, dia lebih fokus dalam belajar. Ternyata kita harus lebih dulu mengajarkan kasih sayang sebelum yang lainnya. Dan dia membalasku dengan memperlihatkan nilai-nilainya yang membaik. Begitu juga nilai matematikanya," katanya panjang lebar.

"Alhamdulillah, barokallah ya," jawabku.

"Oh ya, sekalian mau minta ijin. Mau ajak jalan-jalan Ita sama Nisa. Sekalian merayakan ulang tahun mereka berdua," katanya lagi.

"Bener nih Mah? Boleh gak Mi?" Ita yang sedari tadi di belakangku langsung bersuara. Dia memang terbiasa memanggil Ambar dengan sebutan Amah.

Aku melihat kalender, tanggal 28 Desember, hari ulang tahun Nisa. Dan tiga hari lagi ulang tahun Ita.

"Boleh ya Mi?" rajuk Ita lagi. Aku tersenyum mengiyakan.

"Oleh-olehnya jangan lupa ya!" teriakku mengantar kepergian mereka. Sungguh, ini pun buah dari matematika kehidupan.

#Demak, 25022015

Arinda dan ikan ajaib

Putri Arinda dan Ikan Ajaib
Oleh: Titien SDF

Tersebutlah Kerajaan Permatapuri yang besar dan sejahtera, dipimpin oleh Raja Mandala yang bijaksana. Sang Raja memiliki seorang putri jelita yang terlahir buta bernama Arinda. Sayang sekali, Permaisuri jatuh sakit dan meninggal saat Putri Arinda berumur lima tahun. Sang Raja pun menikah lagi dengan seorang putri kerajaan tetangga yang kemudian bergelar Ratu Carita.

Arinda kecil hidup bersama ayahanda dan ibu tirinya dalam istana. Tahun berganti, Ratu Carita pun melahirkan seorang putri yang sempurna dan kemudian diberi nama Cantika.

Arinda sangat menyayangi Cantika. Apapun miliknya yang diinginkan Cantika pasti diberikan dengan sukarela. Sayang sekali, Cantika mewarisi sifat ibunya yang serakah. Dia memanfaatkan kebaikan Arinda untuk menyusahkannya.

"Kakakku yang baik, terimalah hadiah dariku ini," kata Cantika mengulurkan sebuah gaun penuh noda kepada Arinda. Arinda yang buta menerimanya dengan suka cita dan langsung memakainya.

"Wowww... kau cantik sekali. Kalau Ayahanda pulang dari negeri seberang pasti terpesona," kata Cantika dan Ratu Carita memuji Arinda dengan pujian palsu. Dayang-dayang istana hanya mengelus dada melihat itu semua. Mereka iba dan sangat menyayangi Arinda tapi tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa mendoakan kebaikan untuknya.

Tak disangka, Ayahanda pulang dalam keadaan sakit dan tak sadarkan diri. Tak berapa lama, beliau pun menyusul ibu kandung Arinda ke alam baka. Tinggallah Arinda yang beranjak remaja bersama Ratu Carita dan Cantika.

Dari hari ke hari, Ratu Carita dan Cantika sibuk menggelar pesta. Harta istana pun semakin berkurang jumlahnya.

Syahdan, negara Antah Berantah mengadakan sayembara, mencari seorang gadis yang bersedia menikah dengan ikan raksasa milik Ratu Lavenia. Hadiahnya berpeti-peti perhiasan emas permata.

Ratu Carita dan putrinya pun mengatur siasat untuk mencelakakan Arinda.

"Arinda, ibu lihat engkau telah tumbuh dewasa. Sudah saatnya untuk menikah. Kami sudah menyiapkan segala sesuatunya, besok pagi kami antar engkau menghadap Ratu Lavenia di Kerajaan Antah Berantah untuk menjadi menantunya," kata Ratu Carita penuh tipu daya.

"Tapi Ibu Ratu, Arinda hanya seorang gadis buta. Apakah mungkin mereka mau menerima Arinda?" tanya Arinda penuh ragu.

"Ayolah kak... siapa yang bisa menolak putri sejelita kakak Arinda?" jawab Cantika.

Keesokan harinya Arinda dirias sedemikian rupa. Gaun yang paling indah dikenakan di tubuhnya. Ratu Carita, Cantika dan segenap pengawal mengantarnya dengan kereta kencana. Dayang-dayang melepasnya dengan berurai air mata.

Ratu Lavenia di Kerajaan Antah Berantah menyambut mereka dengan suka cita. Sungguh tak disangka, calon menantunya seorang putri yang cantik jelita dan halus budi bahasanya.

"Benarkah engkau bersedia menjadi menantuku, Putri Arinda?" tanya Ratu Lavenia. Arinda mengangguk penuh malu.

"Menikah dengan ikan raksasa peliharaanku?" tanyanya lagi.

Arinda tersentak kaget. Dengan ikan? Ibu dan adikku tidak memberitahukannya lebih dulu. Arinda terdiam, tetapi tidak ingin mempermalukan ibu tiri dan adiknya. Dia pun mengangguk perlahan mengiyakan. Ratu Carita dan Cantika meninggalkannya dengan senyum kemenangam. Turut mereka bawa pula hadiah berpeti-peti perhiasan emas permata yang Ratu Lavenia janjikan.

Ratu Lavenia mengantar Arinda ke tepian kolam raksasa di belakang istana.

"Di dalam sana suamimu berada. Baik-baiklah kau mengambil hatinya. Kalau tidak, kau bisa menjadi santapannya," kata Sang Ratu sebelum meninggalkan Arinda.

Arinda duduk di tepian kolam tanpa takut. Semua makhluk ciptaan Tuhan dan manusia adalah makhluk termulia, pikirnya. Dipanjatkannya doa pada Tuhan agar diberikan jalan keluar dari masalahnya.

Arinda mulai bersuara lirih, menyenandungkan puji-pujian kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Air kolam mulai berriak, seekor ikan raksasa menyembulkan kepala, memandang takjub pada gadis jelita yang bersenandung lirih di sudut kolam.

"Kau tak takut padaku, putri cantik?" sapanya.

Arinda menoleh ke arah suara dan berkata, "aku dan engkau sama-sama makhluk ciptaan-Nya. Aku tak berbuat jahat padamu dan aku yakin engkau pun tak akan berbuat jahat padaku. Bukan begitu, suamiku?" jawab Arinda.

"Engkaukah itu putri yang rela menjadi istri bagiku? Sedang aku hanya seekor ikan raksasa?" tanya sang ikan padanya.

"Untuk itulah aku di sini, ibu dan adikku mengantarku di sini untuk menjadi istri bagimu. Tapi aku tidak tahu apakah engkau rela beristri putri buta sepertiku," jawab Arinda.

"Aku adalah ikan ajaib, usaplah kepalaku kemudian gosokkan pada kedua matamu. Bila Tuhan mengijinkan, engkau akan bisa melihat," kata sang ikan sambil berenang mendekati Arinda.

Arinda menjulurkan kedua tangannya ke dalam kolam dan meraba-raba. Diusapnya kepala sang ikan dan digosokkan pada kedua matanya. Berikan keajaiban-Mu, Tuhan, pintanya dalam hati.

Arinda mencoba membuka kedua matanya. Ajaib, dia bisa melihat segala macam benda dan warna. Dan juga segala sesuatu yang belum pernah dilihatnya. Dilihatnya pula sosok menyeramkan di dalam kolam di hadapannya.

"Engkaukah ikan itu? Yang telah membuatku bisa melihat?" tanya Arinda.

"Tuhanlah yang membuatmu bisa melihat. Masih bersediakah engkau menjadi istriku? Setelah melihat bentuk tubuhku yang seperti ini?" tanya sang ikan.

"Akan kulakukan sebagai wujud terima kasihku. Pada Tuhan dan juga padamu. Mudah-mudahan Dia akan menolong kita," jawab Arinda.

"Dulu, aku adalah pangeran nakal yang kemudian dikutuk menjadi ikan. Menurut petunjuk yang kuterima, hanya dengan meminum air mata gadis yang suci hatinya maka aku bisa berubah kembali menjadi manusia. Bisakah kau melakukannya?" tanya sang ikan.

Arinda pun mencari cara agar bisa menangis. Dimasukkannya tangannya ke mulut sang ikan dan menyentuh gigi-giginya dengan keras. Gigi-gigi itu mengoyak kulitnya dan mengucurkan darah. Air matanya pun menetes menahan sakit. Ditangkupkannya dua tangan untuk menampungnya dan meminumkannya pada sang ikan. Sang ikan pun terharu dan meneteskan air mata. Butiran-butiran air matanya seketika berubah menjadi mutiara.

Perlahan, air kolam pun bergolak. Sosok menyeramkan pun berangsur lenyap, berganti seorang pangeran tampan yang menggenggam mutiara. Ditempelkannya mutiara pada luka Arinda. Ajaib, mutiara itu hilang bersama lenyapnya luka Arinda.

"Bersyukur pada Tuhan, kau telah dibebaskan dari kutukan," kata Arinda.

"Tentu, mari kita bersama-sama menghadap Ibunda Ratu Lavenia.

"Wijaya... anakku..., kau sudah pulih seperti sedia kala anakku? Bunda sangat gembira. Terima kasih Arinda. Engkau benar-benar putri berhati malaikat yang dikirimkan-Nya," kata Ratu Lavenia menyambut mereka berdua. Segaka sesuatunya pun disiapkan untuk menyelenggarakan pesta pernikahan mereka.

Arinda dan suaminya bersyukur. Arinda tidak menaruh dendam pada ibu tiri dan adiknya. Disempatkannya bersilaturahmi bersama suami tercinta. Terkadang diundangnya ibu tiri dan adiknya untuk berkunjung di istananya. Mereka pun hidup bahagia.

#Demak, 25022015

Kacamata Inna

Kacamata Inna
Oleh: Titien Sumartini Dwifatmasari

Jam menunjukkan tepat pukul tujuh pagi. Lonceng berbunyi, tanda jam pelajaran pertama segera dimulai. Anak-anak kelas enam SDIT Permata sudah duduk rapi, menyiapkan diri di tempat masing-masing. Pak Bagus pun masuk ke dalam kelas.

"Assalamu'alaikum anak-anak," sapanya ramah.

"Wa'alaikum salam Pak Guru!" jawab anak-anak serentak.

"Sekarang, siapkan kertas. Kita akan ulangan IPA, perhatikan soal-soal yang Bapak tulis di papan tulis. Lalu tuliskan jawabannya saja," perintah Pak Bagus. Beliau mulai menuliskan soal-soal di papan tulis sementara anak-anak menyiapkan kertas ulangan dan alat tulis mereka.

Inna melepas kacamatanya dan mengambil selembar saputangan untuk membersihkan kacanya.

"Na, boleh minta kertas folio yang masih kosong? Punyaku habis, aku lupa beli yang baru," kata Hilwa lirih di belakangnya.

Inna meletakkan kacamatanya di atas meja, membuka tas dan mengambil kertas yang diminta Hilwa. Tak sengaja ujung kacamatanya tersangkut tali tas dan dia terlambat menyadarinya.

"Praakk... ," kacamata Inna terjatuh, sebelah kacanya retak.

"Kerjakan sendiri-sendiri, jangan ada yang  berisik, apalagi menyontek," kata Pak Bagus, masih terus sibuk menulis soal di papan tulis.

"Gimana kacamatamu Na?" tanya Hilwa cemas.

"Tidak apa-apa, hanya retak saja. Salahku sendiri kok," jawab Inna.

Inna mengucek-ucek matanya. Pak Bagus sudah selesai menuliskan soal dan mulai berkeliling kelas mengawasi anak-anak.

"Ada apa Inna? Mata kamu sakit?" tanya Pak Bagus menghampirinya.

"Tidak apa-apa Pak Guru. Cuma kurang jelas saja," jawab Inna.

"Oh, kacamata kamu retak. Emmm... begini saja, kamu boleh tukar tempat dengan Dini di bangku terdepan. Dini...! Tolong tukar tempat duduk dengan Inna, biar Inna duduk di kursimu. Dia tak bisa melihat dengan jelas dari sini."

Dini dan Inna pun bangkit berdiri dan bertukar tempat.

"Terima kasih Pak, Dini... terima kasih ya...," kata Inna. Dibetulkannya letak kacamatanya, terlihat lebih baik sekarang, walaupun belum jelas benar. Dikerjakannya soal-soal ulangan dengan teliti, sebentar-sebentar diusapnya mata kirinya yang mulai berair. Akhirnya selesai juga.

Keesokan harinya, Inna masih terlihat dengan kacamata yang sama. Dia terlihat agak susah melihat walaupun sudah   di bangku terdepan.

"Sepertinya kau perlu ganti kacamata Na. Sebentar lagi kita ujian. Hampir setiap hari pasti ada ulangan. Kalau begini terus, aku gak punya saingan," kata Hilwa.

"Bukannya bagus kalau kamu yang jadi juara kelas?" tanya Inna.

"Bagus sih bagus, tapi... kalau keadaannya begini, gak ada tantangannya," jawab Hilwa.

"Habis bagaimana... orang tuaku tak mungkin bisa membelikan yang baru. Kau juga tahu kan, kacamata ini hadiah Pak Guru tahun lalu. Masak mau minta lagi... aku malu," bisik Inna lirih. Hilwa pun terdiam mendengar jawabannya.

Sepulang sekolah, Hilwa mendekati ibunya yang sedang membaca majalah di teras.

"Bu, harga kacamata berapa sih? Itu... seperti yang Ibu pakai?" tanyanya ingin tahu.

"Mata kamu sakit?" tanya Ibu heran.

"Bukan untuk Hilwa, Bu. Tapi untuk Inna, teman Hilwa di sekolah." Hilwa pun menceritakan segala sesuatu tentang Inna. Tentang kebaikannya, kepintarannya, juga keadaan keluarganya yang kurang beruntung.

"Oke, nanti sore ajak dia kemari. Ibu antar kalian ke toko kacamata. Biar dia bisa mendapatkan kacamata sesuai keadaan matanya. Bagaimana?" kata Ibu memberi solusi.

"Terima kasih Bu," kata Hilwa senang. Dengan riang dia pun berpamitan kepada Ibu untuk menjemput Inna.

Inna menurut saja saat Hilwa mengajak ke rumahnya, memperkenalkannya pada ibunya. Dan ikut bersama mereka ke toko kacamata.

"Kau mau beli kacamata ya Hil? Kelihatannya mata kamu baik-baik saja," tanya Inna heran.

Hilwa dan ibunya tersenyum, lalu berkata, "bukan untukku kok Na, tapi... buat kamu."

"Aku??? Kok...???" tanya Inna heran.

"Karena kamu teman terbaikku. Anggap ini tantangan untuk mendapatkan nilai ujian terbaik. Kau berani terima tantangan kan," jawab Hilwa.

Inna memandang Hilwa dan ibunya. Ibu Hilwa mengangguk. Inna tertegun, kemudian memeluk Hilwa erat-erat dan berbisik, "terima kasih Hil, kau memang teman terbaikku."

"Kita berlomba?" tanya Hilwa.

"Tentu, siapa takut...," jawab Inna.

Dan dunia pun tersenyum melihat persahabatan mereka.

#Demak, 24022015

Rahasia Anisa

RAHASIA ANNISA

Sebuah kamar tertata eksotik, lukisan tiruan monalisa terpampang apik di atas tempat tidurnya yang bergaya klasik. Nyaris tak berbeda dengan lukisan aslinya. Sebuah meja antik dengan sebuah foto di atasnya. Foto dua orang gadis yang serupa berrangkulan penuh tawa ceria.

Seorang gadis terbaring di atas tempat tidur, sama sekali tak terusik dengan bau menyengat yang memenuhi ruangan. Wajah manisnya terlihat putih pucat dengan bibir tersenyum membiru.

Seorang gadis lain masuk dengan memakai masker menutupi hidung dan mulutnya, menyembunyikan seringai jahat yang menghiasi bibirnya.  Dipandangnya lekat-lekat wajah pucat itu.

"Barbie, jaga dirimu baik-baik. Banyak yang harus kulakukan hari ini. Pagi ini aku harus bolos kuliah untuk menghadiri wisudamu. Aku tak egois kan?" katanya sambil tersenyum sinis.

Gadis itu membungkuk dan mencium Barbie. Tak berapa lama dia bergumam, "kau tahu? Aku melukis monalisa sebaik dirimu dan memajangnya di ruang tamu. Kau senang kan? Terima kasih, Sayang. Aku pergi dulu ya."

Kamar itu kembali sunyi seiring lenyapnya suara langkah kaki si gadis yang menjauh pergi. Tinggal Barbie terbaring sendiri, dalam diam.

###

Sebuah taksi berhenti di depan aula kampus UI Jakarta. Sepasang suami istri setengah baya keluar disambut seorang gadis manis lengkap dengan baju toga dan topi di kepalanya. Diciumnya tangan mereka perlahan dan mengajak masuk ke dalam.

"Anita tak kelihatan. Ke mana dia?" tanya mereka.

"Anita ada acara dengan teman-temannya Mom, katanya ada penelitian di rumah sakit," jawab si gadis.

"Oooh... begitu? Dia baik-baik saja kan?" tanya si pria.

"Jangan cemaskan Anita Mom, Dad, Anita baik-baik saja. Oh ya, Anisa gabung teman-teman dulu ya," pamitnya.

Acara wisuda berlangsung lancar. Pak Kusumo dan Bu Arini tampak menikmatinya dengan bahagia.

Setelah acara wisuda selesai, Anisa mengajak kedua orang tuanya melihat rumah yang ditempatinya bersama saudara kembarnya.

"Woww... siapa yang mendesain rumah sebagus ini Nis?" tanya Mom.

"Tentu saja Nisa, Mom. Tapi peliharaan cantik-cantik itu kreasi Nita," jawab Anisa dengan bangga. Ditunjuknya beberapa binatang peliharaan yang sudah diawetkan. Ada kucing anggora yang seolah sedang bermain bola. Seekor anjing pudel seolah menyambut mereka dengan lidah terjulur dan tatapan ramah  Juga beragam serangga menempel di dinding, di sela-sela lukisan yang terpampang di sana.

"Woww... mereka seperti hidup," kata Mom takjub.

"Yang jelas mereka gak akan buang kotoran dalam rumah kan Mom," jawab Anisa.

"Ayo Ma, kita sudah telat nih," kata Dad sambil melihat arlojinya.

"Kenapa buru-buru sih? Mom dan Dad menginap di sini saja. Nita juga pasti senang kok," rajuk Anisa.

"Lain kali saja Sayang, Mom dan Dad harus segera terbang kembali ke Bali sekarang. Ada pertemuan penting nanti malam. Salam untuk Nita ya, kalau dia pulang, love you," kata Mom mengakhiri kunjungannya dengan kecupan di kedua pipi Anisa.

"Selalu saja begitu, tak punya waktu untukku... huhhh...," gumam Anisa kesal, sesaat setelah keduanya pergi.

Dihampirinya lukisan monalisa di ruang tamu dan meraba sesuatu di baliknya. Salah satu dinding ruangan bergeser, menampakkan anak tangga. Ringan kakinya melangkah menyusurinya menuju sebuah kamar tersembunyi, ruangan favoritnya. Diambilnya selembar masker dari kantong baju dan dipakainya.

Kamar itu masih tetap sama seperti ketika ditinggalkannya. Barbie masih tertidur tenang di pembaringan.

"Tadi Mom dan Dad kemari. Seperti yang sudah-sudah, mereka segera pergi lagi. Orang tua egois...," gumam Anisa.

"Beep... beep... beep...," terdengar ada sms masuk. Anisa mengambil handphone yang tergeletak di atas perut Barbie dan membukanya, dari Rudi.

"Nisa, aku mencarimu di mana-mana setelah wisuda tadi. Kau ada di mana? Temui aku di cafe 'Segara' satu jam lagi. Bisakah?"

Anisa mengetik pesan balasan, "ya, aku segera ke sana."

"Lihat Barbie, kekasihmu mengajakku kencan. Kau tak keberatan kan, kalau aku mengajaknya ke sini," katanya penuh kemenangan.

"Aku pergi dulu ya, bersiaplah untuk nanti," katanya misterius.

###

Rudi baru saja memarkir mobilnya saat dilihatnya seorang gadis berdiri di depan pelataran parkir.

"Anisa!" panggilnya. Gadis itu melambai ke arahnya.

"Aku baru mau masuk cafe, kau sudah sampai. Cepat sekali ...," katanya.

"Gak usah masuk cafe, ke rumahku saja ..., dekat kok ...," sergah Anisa. Mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam mobil Rudi, berputar haluan menuju rumah Anisa.

Sampai di rumah Anisa, reaksi Rudi tak jauh berbeda dengan reaksi Mom dan Dad. Begitu takjubnya, sehingga dia berlama-lama mengamati lukisan-lukisan yang terpampang di sana.

"Lukisanmu sendiri?" tanyanya. Anisa hanya berkedip mengiyakan.

"Ayo, cicipi minuman dan camilannya," kata Anisa.

Rudi mengambil minumannya dan meneguk hampir setengahnya. Entah mengapa dunia terasa berputar di kepalanya. Dia pun memejamkan mata.

"Kau lelah Rud? Kuantar ke kamar ya ..., istirahatlah di sana," kata Anisa, tangannya sigap memapah Rudi ke dalam kamar, membaringkan dan meninggalkannya.

"Bau menyengat apa ini?" gumam Rudi lirih. Dicobanya berdiri, tertatih mengikuti Anisa. Apa yang disembunyikan Anisa? pikirnya.

"Lihat apa yang kubawa untukmu, Barbie. Kekasihmu ..., tak berapa lama lagi dia akan menemani tidurmu. Racunnya mulai bekerja ... dan formalin akan mengawetkannya ... hahaha ... kalian adalah milikku."

"Kau... kau... kau bukan Anisa?"

"Rudi... Rudi... kaulihat dua gadis kecil dalam foto itu?" kata Anisa menuding foto di atas meja. Foto gadis kembar.

"Dulu kami tak terpisahkan. Hobi dan bakat kami pun sama. Terkadang kami bertukar peran, aku jadi mahasiswi seni rupa UI dan dia jadi mahasiswi kedokteran Unpad. Rumah ini pun hasil karya kami berdua."

Anisa tersenyum sinis, tangannya menempelkan sebilah belati di leher Rudi yang semakin lemas tak bertenaga, dia masih terus berkata-kata, "aku Anita, dan dia Anisa. Dia mencoba meninggalkanku untuk kaumiliki. Karena itu aku menahannya di sini."

"Kau...  mem... bu... nuh... nya?" tanya Rudi terbata. Badannya terasa lemas tak bisa digerakkan, perlahan ujung belati pun mulai menusuk lebih dalam di lehernya.

"Aku hanya membuatnya tertidur tanpa bisa bangun lagi. Tidur yang cantik, lihat tubuhnya masih utuh seperti dulu."

Anita mengambil sesuatu di saku bajunya, menuangkannya pada sehelai sapu tangan dan membekapkannya di mulut dan hidung Rudi yang sekarat. Telinganya masih sempat menangkap suara Anita.

"Aku tak jahat Rudi..., Anisa mencintaimu..., kuberi apa yang dia mau. Kalian boleh hidup bersama... di kamar ini... tanpa pernah bisa keluar lagi...."

Rudi sudah tak bergerak lagi. Anita menarik tubuh Rudi dan membaringkannya di samping Anisa. Dipandanginya mereka berdua dengan berlinang air mata.

"Barbie, hari ini kubawa Rudi untuk menemanimu. Aku tahu kau masih kesepian .... Aku janji, satu demi satu teman-temanmu akan kubawa untuk menemanimu juga ...."

Kamar kembali sunyi menyimpan rahasia Anisa dan menyembunyikannya.

#Demak,23022015

Jumat, 20 Februari 2015

Permataku obsesiku

Permataku Obsesiku
Oleh: Titien SDF

Memiliki kalian adalah bahagia
Membersamai sejak ada bermula
Ajarkan segala apa yang kubisa
Agar tak ada sesal saat mendewasa

Menjaga kalian adalah tantangan mulia
Kan kulakukan semua apa saja
Agar jiwa tetap dalam fitrah terjaga
Hingga lisan mantap menjawab segala tanya

Menyayangi kalian serupa menyimpan permata
Siapkan bahtera terkuat agar aman berada di atasnya
Kalahkan ombak gelombang dunia penuh tipu daya
Hingga selamat arungi samudra kehidupan nyata

Wahai permata buah hati bunda
Tiada bunda berharapkan harta
Hanya inginkan kalian berakhlak mulia
Pengobat rindu nan terpendam dalam dada

#Demak, 20022015

Pelangi

.PELANGI

Seorang gadis kecil berlari-lari kecil, sesekali melompati genangan air hujan yang membasahi jalan. Terkadang tangannya melambai, membalas sapaan orang-orang yang dilewatinya. Senyum selalu tersungging di bibir mungilnya, menumbuhkan rasa sayang, pada gadis kecil nan ramah bernama Pelangi.

"Pelangi Pelangi, alangkah indahmu
Merah kuning hijau di langit yang biru
Pelukismu agung, siapa gerangan
Pelangi Pelangi ciptaan Tuhan
Prok prok prok...hihihi." Terdengar suara di ujung jalan. Suara tawa dan tepuk tangan setelah nyanyian lagu 'Pelangi-pelangi'.

Pelangi menoleh ke arah suara. Ah, anak-anak itu lagi, gumamnya. Pelangi mempercepat langkahnya, dia tak ingin meladeni anak-anak nakal yang menggodanya itu. Lagi pula tidak ada yang salah dengan lagu itu. Biarpun tidak berada di langit, dia juga bisa membuat orang tersenyum bahagia, dan dirinya memang ciptaan Tuhan juga.

Gerbang sekolah SD Tunas Bangsa sudah kelihatan, Pelangi bergegas menuju kantin sekolah, menitipkan aneka gorengan buatan ibunya.

"Assalamu'alaikum," sapanya di depan kantin.

"Eh, Neng Pelangi, bawa apa saja nih?" tanya Bu Mimin.

"Cuma pisang goreng sama tahu bakso Bu, masing-masing 50 biji. Adik sakit panas, jadi Ibu hanya sempat menggoreng sedikit," jawab Pelangi sopan.

"Tak apa-apa, Bu Mimin doakan supaya dagangannya cepat habis, dan semoga adikmu segera sembuh," kata Bu Mimin, tangannya sibuk menata jajanan di atas meja kantin.

"Aamiin, Pelangi masuk kelas dulu ya Bu, wassalamu'alaikum," pamitnya meninggalkan kantin.

Tak berapa lama, bel tanda masuk berbunyi. Pak Pandu masuk membawa sebuah pengumuman.

"Anak-anak, satu pekan lagi akan ada pemilihan siswa teladan. Hadiahnya adalah, tropi juara dan beasiswa pendidikan selama satu tahun. Rencananya sekolah kita akan mengirim dua orang wakil. Untuk itu... selama sepekan ini kegiatan kita adalah seleksi per mata pelajaran...."

"Huuuu... ceritanya ulangan terus nih," celetuk beberapa siswa.

"Bukan ulangan anak-anak, se-lek-si, untuk menjaring siapa yang benar-benar pantas untuk mewakili sekolah kita," jelas Pak Pandu.

"Satu lagi, yang ketahuan nyontek langsung dicoret. Ayo, sekarang siapkan kertas, kita segera mulai," kata Pak Pandu lagi.

Beberapa siswa menggerutu panjang pendek, mereka kelihatan tidak siap. Tapi tidak demikian halnya dengan Pelangi. Semangatnya langsung tumbuh menggebu-gebu mendengar kata 'beasiswa', dia berharap bisa mendapatkannya.

Siang itu, Pelangi pulang dengan hati gembira. Di kantongnya tersimpan uang titipan dari Bu Mimin. Dagangan Ibu hari ini terjual habis. Di sekolah pun, dia tadi bisa mengerjakan soal-soal seleksi yang diberikan.

"Assalamu'alaikum, Bu...Ibu... Pelangi pulang," sapanya dengan riang.

"Wa'alaikum salam, Pelangi. Dagangannya habis, Nak?" tanya Ibu lembut.

"Alhamdulillah, ini uangnya Bu," jawab Pelangi sambil menyodorkan uang titipan Bu Mimin.

"Kata Pak guru, akan ada pemilihan siswa teladan, hadiahnya beasiswa lo Bu. Do'akan Pelangi ya, supaya Pelangi bisa mendapatkan beasiswa itu. Pelangi ingin mengurangi beban Ibu."

Ibu mengelus kepala Pelangi. "Tentu, Nak," katanya dengan mata berkaca-kaca. Hatinya dipenuhi syukur melihat kebersihan hati putri sulungnya. Ah, andai ayahmu masih ada, bisik hatinya.

"Ibu, mengapa Ibu memberiku nama Pelangi," tanyanya penuh rasa ingin tahu.

"Kau suka melihat pelangi kan? Dia selalu datang setelah hujan reda, memberi rasa damai dan menyenangkan bagi yang melihatnya. Engkau adalah pelangi milik Ibu. Melihatmu, membuat semua duka sirna," jelas Ibu panjang lebar.

"Tapi, banyak yang suka meledekku dengan lagu Pelangi-pelangi," protes gadis kecil itu lagi.

"Tidak apa-apa, itu tandanya mereka memperhatikanmu, peduli dengan kehadiranmu," jawab Ibu menenangkan.
###

Sepekan pun berlalu, tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Tak sabar rasanya melewati setiap jalanan menuju sekolahnya. Hari ini Ibu tidak menitipkan dagangan jadi Pelangi bisa berlari lebih cepat dari biasanya.

"Eh, kamu sudah sampai sekolah, Pelangi? Tidak bawa titipan Ibumu?" tanya Bu Mimin yang sedang membersihkan meja kantin.

"Wa'alaikum salam, eh...iya Bu. Ibu libur, tidak jualan dulu," katanya sambil terus berjalan menuju kelasnya.

Kelas masih sepi, Pelangi mengeluarkan bukunya. Diulangnya pelajaran yang telah diajarkan  kepadanya. Baginya, waktu harus dimanfaatkan untuk sesuatu yang berguna. Bukan hanya untuk bermain-main saja. Satu per satu siswa pun berdatangan. Ada yang menghampirinya untuk belajar bersama, ada pula yang menghampiri sekadar mencolek saja.

Tak berapa lama, bel tanda masuk berbunyi. Pak Pandu masuk disambut riuh rendah siswa yang bertanya.

"Tenang, anak-anak. Hari ini Bapak akan mengumumkan hasil seleksi yang kemarin. Terbaik kedua adalah...." Pak Pandu menghentikan ucapannya. Hati Pelangi berdebar kencang menunggu ucapan Pak Pandu selanjutnya.

"Terbaik kedua adalah... Pu... tri...." Semua bersorak menyemangati Putri. Pelangi makin deg-degan..

"Terbaik pertama adalah...Jingga...."

Jingga? Siapa? Semua siswa berpandangan.

"Terbaik pertama adalah...Jingga...Pelangi Jingga..." kata Pak Pandu mengulangi pengumuman.

Hati Pelangi bersorak, itu namanya. Semua berebut menyalaminya.

"Maaf, teman-teman. Sudah dulu gembiranya. Saya... dan Putri... mohon doanya supaya nanti dimudahkan mengikuti lomba pemilihan siswa teladan," kata Pelangi.

Pelangi dan Putri bergegas menyiapkan peralatan sekolah mereka. Siang itu mereka diantar Pak Pandu menuju SD Teladan, tempat diadakannya lomba pemilihan siswa teladan.
###

Pelangi masih menjalani aktifitas seperti biasa. Setiap pagi berangkat sekolah sambil tak lupa menitipkan dagangan Ibu di kantin sekolah. Pelangi sudah hampir lupa dengan lomba yang telah diikutinya sebulan lalu.

Tak seperti biasanya, kelas sudah ramai saat dia datang. Tapi ada yang membuatnya heran, mengapa semua langsung diam setelah melihat kedatangannya. Mengapa kemudian mereka pergi satu demi satu meninggalkannya. Pelangi tak merasa berbuat salah. Pelangi bingung, dilangkahkannya kaki ke kantin, barangkali mereka ada di sana.

"Semua sudah kumpul di aula Neng," kata Bu Mimin.

Pelangi pun bergegas menuju aula. Tapi, mengapa pintunya tertutup? Pelan-pelan dibukanya pintu aula. Tiba-tiba terasa ada yang mengguyur seluruh tubuhnya dengan kertas warna warni. Pelangi kaget, ada apa ini?

"Panjang umurnya... panjang umurnya... panjang umurnya serta mulia...serta mu...li...a...serta mu...li...a..."

Pelangi tertegun, baru teringat olehnya kalau hari ini tanggal 26 Januari, hari ulang tahunnya. Matanya berkaca-kaca, dilihatnya semua guru juga ada di sana.

"Selamat datang Pelangi, selamat ulang tahun. Semoga beasiswa pendidikan satu tahun menjadi kado terindah buatmu," kata Pak Pandu mewakili guru-guru.

Beasiswa pendidikan satu tahun? Pelangi tersentak kaget. Jadi, dia telah terpilih menjadi siswa teladan. Kejutan yang menakjubkan, bibirnya tak putus mengucap syukur. Dibaginya kegembiraannya dengan semua orang. Rasanya ingin cepat-cepat pulang, memberitahukan kabar gembira ini kepada Ibu. Serasa dia benar-benar menjadi pelangi yang sesungguhnya di langit-langit hati ibunya. Perlahan bibirnya bergerak-gerak, menyenandungkan lagu 'Pelangi-pelangi.'

#Demak, 26012015

Menjemput cahaya


Menjemput Cahaya
Oleh: Titien SDF

Adalah Rie, seorang gadis mungil, sedikit tomboy, cerdas dan penyuka seni, vokal grup punya dan jago menari, cuek dan tak suka basa basi.

Lepas SMA, Rie melanjutkan kuliah di Akper Depkes Semarang. Rie terpaksa kost, karena terlalu jauh dari rumah, dan terkadang jadwal perkuliahan berlangsung sampai malam. Rie satu kost dengan anak-anak Politek dan FNGT, kampus mereka memang berdekatan.

Mbak-mbak yang berpakaian tertutup rapat dan berkerudung lebar itu ternyata sangat ramah, jauh dari kesan eksklusif yang dia tangkap pada sosok muslimah sebelumnya. Mereka suka mengajaknya ikut kajian di masjid kampus. Awalnya Rie menolak, mbak-mbak itu bahkan memberinya satu stel baju panjang dan kerudung agar Rie tak malu diajak kajian.

Semester berikutnya, kampus mewajibkan semua mahasiswa masuk asrama. Rie pun terpaksa meninggalkan kostnya. Baru sebulan di sana Rie sudah bertemu makhluk horor yang selama ini hanya dibacanya dalam buku cerita. Rie menggigil ketakutan, tak tahu apa yang harus diucapkan, yang dia hafal hanya surat-surat pendek saja. Beruntung ada yang terbangun malam itu, sosok mengerikan itu lenyap bersama tepukan si teman di bahu Rie. Menerbitkan kelegaan di hatinya, menumbuhkan kesadaran untuk mempelajari Islam dengan sempurna.

Kajian di masjid kampus sebelah pun berlanjut, kali ini Rie mulai belajar mengaji, mengeja huruf demi huruf dalam Alqur'an dan menghafalkan surat-surat pendek dalam juz ' amma. Namun masih belum menutup aurat setiap harinya, hanya saat kajian saja.

Lepas lebaran Rie kembali ke asrama setelah liburan ramadhan menghabiskan waktu bersama keluarganya. Dia tiba di asrama dengan stelan baju panjang, sebuah kerudung tersemat rapi menutup rambutnya. Seisi asrama seolah menatapnya. Gadis-gadis berucap sinis kepadanya, "sensasi ya!" Para mahasiswa menatapnya berlama-lama, membuatnya jengah, salah seorang di antara mereka menyalaminya, "semoga yang demikian ini akan kaupakai selamanya, barokallah."

Rie gamang dan merasa tidak siap untuk itu, tapi ucapan kakak kelasnya tadi benar-benar membuatnya berusaha bertahan, menutup aurat dengan apa yang dia punya, walau hanya bisa dilakukan di luar jam kuliah, karena terikat seragam kampus yang masih jahiliyah.

Satu semester berlalu, satu per satu teman mengikuti jejaknya. Sudah 23 orang yang berhijab seperti dirinya, memang belum sempurna dan masih buka tutup. Beberapa mahasiswa bergiliran meminjaminya buku-buku tentang Islam, membuatnya makin mengerti kewajibannya sebagai seorang muslimah.

Tahun 1991 terbit SK dari Depdikbud tentang diperbolehkannya pemakaian jilbab di sekolah-sekolah. Rie dan teman-teman ingin memperjuangkannya juga. Disusunlah proposal usulan seragam yang menutup aurat. Dibawanya bersama Yudi dan Nur ke rumah Bapak Direktur, namun hanya bisa menitipkan proposal pada istrinya.

Rie tak patah arang, dikunjunginya semua dosen untuk minta dukungan. Alhamdulillah, enam bulan setelahnya usulan diterima, seragam yang menutup aurat boleh dipakai pada jam perkuliahan di kampus.

Perjuangan belum selesai, pihak kampus masih melarang pemakaian jilbab saat praktek di rumah sakit, puskesmas, rumah bersalin bahkan saat pengabdian masyarakat. Rie dan teman-temannya bergeming, Mereka tetap praktek dengan aurat tertutup rapat.

Suatu hari, sang ibu datang ke asrama, membawa amarah dan tanya. Kiranya pihak kampus mengirim telegram yang bunyinya, "harap datang ke kampus secepatnya, untuk pembinaan atas putri anda."

Sang Ibu memang tak mengetahui sepak terjang putrinya, sehingga berprasangka buruk, beliau pikir putrinya melakukan tindakan asusila.

Rie limbung dengan kemarahan ibunya, sia-sia dia berusaha memahamkan kewajiban menutup aurat, karena latar belakang ibunya berbeda aqidah, menjadi mualaf setelah menikah namun tak mendapat penjelasan yang cukup tentang syariat.

"Jangan panggil aku ibu, kalau kau tak mau buka kerudungmu dan ikuti aturan sekolah. Anak dan istri kyai saja nggak pakai jilbab, nggak usah sok suci kamu."

Rie benar-benar tak mampu menjawab, dunia seakan runtuh, namun Allah masih bersamanya. Malamnya ditemuinya guru ngajinya, kebetulan saat itu jadwal kajian. Oleh Ustadzah Elli, Rie diminta membuka dengan QS Attaubah ayat 24, air matanya mengalir deras, kiranya itu adalah jawaban dari rasa gundahnya. Semalaman dihabiskannya air mata di ujung sajadah, mohon dikuatkan menghadapi ujian.

Apa yang dialami Rie, tak jauh beda dengan teman-temannya, satu per satu pun menyerah, tinggal tersisa enam orang, Aryati, Rie, Yudi, Nurkhasanah, Atun dan Nurhidayah. Bulan berikutnya Aryati memutuskan keluar dan menikah. Tinggallah mereka berlima tidak diperbolehkan ikut ujian karena dianggap tidak pernah hadir pada semua jadwal praktek.

Teman-teman mahasiswa memang luar biasa, mereka masukkan kasus ini dalam surat pembaca berbagai media. Simpati dan dukungan mengalir dari mana saja. Kemudian ada yang memfasilitasi, membawa kasus ini langsung ke Menteri Kesehatan di Jakarta (karena Akper di bawah naungan Departemen Kesehatan).

Allah tak pernah menyia-nyiakan usaha hambaNya, di akhir yang limit, direktur diganti, mereka pun diperbolehkan ikut ujian susulan, dan dapat lulus pada waktunya.
Sebulan sesudahnya, Rie diterima bekerja di RS Roemani Semarang, sang Ibu pun tak lagi marah padanya.

Akulah Rie, terkadang kuberpikir, sekarang serba dimudahkan, kajian digelar di mana-mana, secara langsung ataupun lewat media, namun masih saja
banyak yang mengumbar auratnya dan salah pergaulan, hingga banyak gadis yang hamil sebelum waktunya.

Kuwariskan kesyukuran pada putri-putriku, agar tunaikan semua kewajiban dengan sempurna, maka Allah akan senantiasa menjaga dan memudahkan semua urusannya. Selalu ada jalan untuk menjemput cahaya.

#Demak, 17012015

Kamis, 19 Februari 2015

Sang idola

SANG IDOLA

"Sharmay...! Sharmay...! Sharmay...!"

Terdengar riuh rendah penonton pertandingan basket mengelu-elukan pemain favorit mereka. Teriakan yang memompakan semangat pada Sharmay, Anna dan teman-temannya. Terlebih Sharmay sudah berhasil memasukkan bola ke keranjang lawan beberapa kali.

"Priiit...waktu habis. Pertandingan ini dimenangkan oleh SMA Bina Bangsa dengan score 6:2...."

Terdengar wasit mengakhiri pertandingan. Anak-anak SMA Bina Bangsa kembali bersorak, mengelu-elukan tim basket pujaan mereka.

"BB Basket...memang top, Sharmay...Sharmay...Sharmay...."

Sharmay mengusap peluh yang mengalir deras di wajahnya, sebotol coca cola telah habis memuaskan dahaganya. Beberapa anak SMA Bina Bangsa serentak mendekat dan menyalaminya. Sharmay tersenyum senang menyambut tangan mereka.

"Selamat ya May...," kata seorang gadis menyalami Sharmay. Gadis yang manis, berkulit putih, mata lentik, postur aduhai, membuat Sharmay menatapnya lekat untuk beberapa lama.

"Siapa ya?" tanyanya.
"Lia...Lia Dahlia, anak kelas 11 Bahasa," kata gadis itu sambil menyelipkan secarik kertas terlipat rapi dalam genggaman tangan Sharmay.

Lia mengedipkan sebelah mata dan kemudian berlalu meninggalkan Sharmay dalam tertegun, mencoba mengurai ingatan tentang adik kelasnya itu. Dibukanya lipatan kertas dalam genggamannya, hanya dua baris kalimat isinya,"aku sangat mengagumimu, berbagilah suka duka denganku."

"Apaan sih May, serius amat bacanya."

Tiba-tiba Anna sudah berada di depannya, mengambil kertas dalam genggaman Sharmay lalu bertanya,"dari siapa May? Pengagum rahasia ya?"

"Ih...apaan sih? Ini dari Lia, tau! Anak kelas 11 Bahasa," jawab Sharmay.

"Haaa...si Lia itu kan sukanya jeruk makan jeruk. Udah ah, gak usah dipikirin. Mendingan kita rayakan kemenangan kita ini di cafe Mpok Lilis aja...yuk...," ajak Anna sambil menarik tangan Sharmay. Yang digandeng menurut saja.
###

Hari itu Sharmay latihan basket seperti biasa. Tulisan Lia pun sudah dilupakannya. Tempat latihan masih sepi. Entah kenapa personil BB Basket belum kelihatan batang hidungnya. Sharmay pun berjalan menuju kantin yang terletak di seberang lapangan basket. Dilihatnya seseorang sedang duduk meringkuk sendirian di pojok taman dekat kantin sekolah. Rasa ingin tahu membawa langkahnya untuk menghampiri. Ternyata gadis itu adalah Lia.

"Lia...," serunya tertahan," sedang apa sendirian di sini?"

Lia menoleh, menatapnya sejenak kemudian memeluknya dengan berurai air mata.

"Tolong aku May, aku tak tahu harus bagaimana. Orang tuaku benar-benar bercerai sekarang, dan aku bingung harus memilih ikut siapa. Keduanya sama-sama egois, tak pernah menganggapku ada du antara mereka...," keluh Lia panjang lebar.

Sharmay terhenyak mendengar kisah kehidupan Lia yang begitu menyedihkan. Dia merasa jauh lebih beruntung, empatinya pun muncul. Dianggukkannya kepala ketika Lia memintanya untuk berbagi suka dan duka.

Hari-hari selanjutnya memberi warna pada kehidupan mereka. Lia ternyata asyik juga diajak ngobrol apa saja. Sharmay mulai sering lupa saat jadwal latihan basket tiba. Dia lebih sering mengisi hari-harinya bersama Lia.

Suatu hari Anna tak sengaja berpapasan dengan Sharmay di gerbang sekolah. Saat itu dia hanya sendirian saja.

"Wuih...sibuknya, sampai gak pernah ikut latihan. Kalau begini terus, gimana BB Basket mempertahankan gelar juara?"

Ucapan Anna membangunkan kesadaran Sharmay, selama ini dirinya benar-benar jatuh cinta pada dunia basket. Bagaimana mungkin seorang Lia bisa menjauhkannya dari dunia yang dicintainya. Ah, Lia pasti tak keberatan menunggunya saat latihan, begitu pikirnya.

"Ah, kamu kan sudah jadi bintang basket May. Tak perlulah sering-sering latihan, bikin capek saja. Lagipula aku gak suka kalau mereka mengerumunimu," jawab Lia saat Sharmay mengutarakan keinginannya.

Sharmay benar-benar tak habis pikir, apa jadinya BB Basket kalau dia tak ikut latihan. Padahal sebulan lagi akan diadakan kejuaraan basket tingkat propinsi di kotanya. SMA Bina Bangsa harus bisa membawa medali, BB Basket harus jadi juara. Itu artinya harus latihan dan latihan.Dia pun mulai membagi waktunya untuk latihan dan menemani Lia.

"May, kenalin. Ini Dito, kapten basket SMA Tunas Harapan. Tahun kemarin tim mereka juara nasional lho. Belajar sama dia yuk, biar BB Basket bisa jadi juara terus."

Ucapan Anna tadi pagi terngiang-ngiang di telinga. Bayangan Anna dan Dito silih berganti memasuki pikirannya. Anna benar dan Dito kelihatannya bukan cowok yang sok jual mahal, dia pasti mau diajak berlatih bersama, begitu pikir Sharmay.

"Mikirin apa sih May? Pasti basket lagi ya...aku gak dianggap," rajuk Lia yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya. Kok bisa sih, ini anak mengikutinya terus ke mana-mana, Sharmay mulai jengah.

"Bulan depan ada kejuaraan basket, Lia. Aku tak bisa diam saja. BB Basket harus menang, dan itu artinya kami harus lebih banyak latihan. Kau harus mengerti," kata Sharmay mencoba menjelaskan.

"Ini pasti gara-gara Anna dan Dito. Kau lebih memilih mereka daripada aku kan? Karena mereka jago basket dan aku tak bisa apa-apa!"

Lia berteriak marah, matanya menatap penuh rasa benci.

"Lia, semua orang punya kelebihan. Kamu juga. Cantik, langsing, pintar, kalau tak egois pasti banyak yang suka padamu," balas Sharmay.

"Kau...kau..., tak taukah engkau bila aku mencintaimu? Aku ini milikmu May, kekasihmu...!"

"Tidak Lia, kita ini sama-sama wanita. Tak boleh saling mencinta. Selama ini aku hanya menganggapmu sebagai adik yang harus kulindungi."

"Kau...kau...aku tak mau bertemu denganmu lagi!" teriak Lia sambil berlari.

Sharmay memandangnya  penuh iba, namun ditahannya langkah agar tak berlari mengejar. Barangkali, inilah jalan yang ditunjukkan Allah padanya sebelum hubungan mereka semakin dalam. Biarlah Lia dan dirinya di atas jalan masing-masing. Dalam hati Sharmay berharap agar Lia dapat segera menemukan jalan yang benar.

Hari-hari selanjutnya mulai mengembalikan Sharmay pada aktifitasnya semula. Personil BB Basket sangat gembira seiring dengan kembalinya semangat sang kapten, Sharmay. Sharmay berusaha fokus untuk menghadapi kejuaraan yang akan digelar. Latihan dan latihan menyibukkan hari-harinya. Dito banyak berbagi strategi dan trik untuk BB Basket.
Sharmay bersyukur, Anna telah mempertemukan mereka.

"Kalau kalian rajin berlatih, bukan tidak mungkin kalian menjadi juara nasional tim basket putri," itu kata-kata Dito yang selalu diingat Sharmay.

Sementara itu, Lia diam-diam masih memperhatikan Sharmay dari kejauhan. Terngiang lagi ucapan Sharmay padanya,"kau juga punya kelebihan Lia, pasti banyak yang suka denganmu jika kamu tak egois."

Perlahan tapi pasti, Lia mulai berubah. Terkadang, dia ikut nimbrung dalam latihan tenis meja, permainan yang dulu sering dilakukannya bersama orang tuanya, saat mereka masih harmonis. Seiring waktu, dia pun masuk dalam tim tenis meja sekolah. Lembaran abu-abu yang pernah dilaluinya pun mulai memberkas putih.

Hari digelarnya kejuaraan basket pun tiba, Sharmay dan timnya sudah sangat siap. Kali ini mereka harus berhadapan dengan tim putri SMA Tunas Harapan, sekolah Dito.

"Sekolah kita bertanding May, kuharap BB Basket tidak mengecewakan," kata Dito padanya sesaat sebelum pertandingan.

"Eh...kau menjagokan sekolahku nih?" Sharmay membalas dengan pertanyaan yang menggoda.

"Bukan begitu, tim sekolahku tetap yang terbaik bagiku. Tapi kalau tim kalian menang, aku juga bangga, kan aku ikut latihan juga," jawab Dito.

Sharmay tersenyum, Dito benar-benar cowok yang baik, patut dicontoh nih, begitu pikir Sharmay.

Pertandingan pun dimulai. Lia berdoa untuk kemenangan Sharmay dan tim sekolahnya di antara penonton. Kedua tim sama-sama kuatnya, mereka benar-benar bersaing ketat.

Tak terasa waktu cepat bergulir, pertandingan pun hampir berakhir.  Di titik nadhir Sharmay berhasil memasukkan bola, ketegangan pun mencair. Penonton bersorak riuh rendah.

"Sharmay...Sharmay...Sharmay...BB Basket...juara!"

Teriakkan para penonton pun menutup pertandingan yang dimenangi oleh tim Sharmay dengan angka tipis.

Sharmay menyeka peluhnya, pertandingan kali ini benar-benar menguras tenaganya. Tapi dia bahagia, atas apa yang telah diusahakannya.
Disambutnya tangan orang-orang yang menyalaminya dengan senyum gembira.

"Selamat ya May, tim kalian benar-benar hebat. Aku salut," kata Dito.

"Ah, ini berkat kamu juga, makasih ya...," balas Sharmay.

"May, selamat ya," kata Lia mendekati Sharmay. Lia Dahlia yang berbeda, kini dia seorang atlit tenis meja yang diperhitungkan.

Sharmay tersenyum dan berkata,"aku senang, kau banyak berubah."

"Maafkan salahku dulu ya May, semua ucapanmu benar. Kaulah yang telah merubahku menjadi yang sekarang, dan aku menikmatinya. Bolehkah aku menganggapmu kakak? Aku ingin menjadi adik yang baik bagimu," kata Lia.

"Ajak aku juga dong," kata Anna, tiba-tiba dia sudah berada di antara mereka.

Sharmay tersenyum dan merangkul mereka semua, bisiknya," tapi harus janji, saling mengingatkan untuk lebih baik."

Dunia pun tersenyum menyambut kembalinya sang idola.

#Demak, 06022015

Sepatu persahabatan

SEPATU PERSAHABATAN

Kelas kami kedatangan siswa baru, namanya Arif. Perawakan kurus, kecil, hitam, mata bulat, rambut keriting. Kesan pertama saat dia datang terasa begitu lucu dan menyenangkan.

"Kenalkan, saya saudara jauh Barack Obama. Saya Arif, Arif 'baraknya obah," kata perkenalannya waktu itu. Seisi kelas pun tertawa.

"Kok 'baraknya obah' sih?" tanya Lina.

"Soalnya rumahku 'rumah bambu' kalau angin bertiup kencang, rumah terasa bergoyang-goyang," begitu jawabnya, santai.

Arif anak yang pintar, walau dia baru di kelas kami, nilai-nilai ulangannya selalu bertengger di urutan tiga ke atas. Hebat! Terkadang aku merasa iri dengannya, stttt... itu tidak baik ya.

Suatu siang, saat istirahat tiba, semua anak keluar kelas. Kulangkahkan kaki menuju tempat dudukku untuk mengambil bekal makanan yang masih tersimpan dalam tas. Meja Arif di depan serasa menarik perhatian. Tasnya yang setengah terbuka, tergeletak di atasnya.

"Barangkali selama ini dia menyontek," gumamku," coba kuintip ah,"

Tanganku pun segera bekerja menggeledahnya. Isinya hanya beberapa buku tulis saja. Bagaimana cara dia belajar? Tak ada satu pun buku pelajaran. Hebat! Benar-benar hebat, pikirku.

"Kalau begitu, bertemanlah dengannya. Barangkali dia juga bisa mengajarimu beberapa pelajaran yang belum kaukuasai. Terkadang isi jauh lebih baik dari bungkusnya," kata Ibu setelah mendengarkan ceritaku tentang Arif.

"Maksud Ibu?" tanyaku tak mengerti.

"Andi, jangan menilai seseorang dari penampilannya. Banyak anak yang kelihatannya oke, wajah cakep, jajan banyak, perlengkapan sekolah bagus, tapi gak pernah belajar, jadi gak tahu apa-apa," jelas Ibu.

"Banyak juga anak yang tidak beruntung. Wajah pas-pasan, perlengkapan sekolah ala kadarnya, tapi otaknya pintar karena selalu belajar," jelasnya lagi. Aku merasa tersindir, ah Ibu....

Keesokkan harinya, kucoba mendekati Arif seperti saran Ibu. Dia menyambut dengan gembira, kami pun berbicara tentang banyak hal.

"Ke perpustakaan sekolah yuk!" ajaknya, "aku suka membaca di sini."

Ada rasa malu yang tiba-tiba menyergap. Empat tahun sekolah di sini, tak sekalipun kulangkahkan kaki memasukinya. Aku lebih sering mengisi jam istirahat dengan bermain, atau jajan di kantin. Pantas, Arif jadi begitu pintar.

Hari-hari selanjutnya kuhabiskan bersama Arif di perpustakaan sekolah. Tentunya di sela-sela jam pelajaran sekolah, saat jam istirahat tiba. Nilai-nilai ulanganku pun mulai beranjak naik. Walau masih di bawah Arif, nilai-nilaiku bertengger di sepuluh besar.

"Kita lomba lari yuk!" katanya suatu hari.

"Di mana?" tanyaku celingukan.

"Memutari lapangan sekolah tiga kali, yang kalah harus menggendong yang menang. Bagaimana, kamu berani?" tanyanya lagi.

"Ayyuuk! Siapa takut?" jawabku menerima tantangannya. Malu dong kalau kalah, badanku masih lebih besar dan lebih tinggi darinya. Aku pasti menang, pikirku.

Dua kali putaran sudah kuselesaikan, napas mulai terengah-engah, kaki pun mulai terasa pegal dan berat untuk berlari. Arif masih saja memacu larinya dengan cepat walau peluh sudah membasahi seragam sekolahnya. Kupaksa langkah agar terus berlari, jangan sampai kalah. Sejauh apapun usahaku, Arif lebih dulu menyelesaikan putaran ketiga. Dengan sisa-sisa tenaga kugendong Arif melintasi lapangan, untung badannya kecil.

Kami melepas lelah di bawah pohon talok di pinggir lapangan sekolah. Satu satu buahnya yang kecil jatuh di pangkuan. Arif memunguti dan memakannya.

"Enak, manis," katanya.

Kutebar pandangan, menghitung buah talok yang berjatuhan. Terlihat jari-jari Arif bergerak-gerak, menyembul dari ujung sepatunya yang robek.

"Ah... kamu, sepatu robek parah begitu masih dipakai," kataku.

"Yang penting kan bukan sepatunya. Biar begini, kamu juga masih kalah dariku," katanya sambil tertawa.

Rasa iba menyelusup dalam hatiku. Kuteringat setumpuk sepatu di lemari. Semua masih bagus dan baru dipakai beberapa kali. Kuajak Arif ke rumah agar memilih beberapa yang dia suka.

"Wowww..., rumahmu bagus sekali," katanya. Kutarik dia menuju kamar, membuka lemari sepatu dan menyuruhnya memilih.

"Banyak sekali Andi... beneran nih? Aku boleh ngambil sesukaku?" tanyanya masih tidak percaya.

"Tentu saja boleh. Anggap saja sepatu persahabatan," jawabku.

Arif terlihat gembira, dipilihnya dua pasang sepatu yang pas di kakinya. Sejenak, dia menatapku sambil tersenyum.

"Tapi, ibu mengajariku untuk tidak menerima pemberian cuma-cuma. Bagaimana kalau aku mencucikan sepedamu selama satu bulan?" tanyanya tiba-tiba.

Rasa haru menyelimuti rasa, alangkah beruntungnya diri ini. Tapi aku sadar diri, dia lebih banyak memberiku. Karena dia, nilai-nilaiku membaik. Ah... apalah artinya sepatu bila dibanding dengan apa yang dia ajarkan padaku.

"Tidak perlu Arif, bayar saja dengan kesediaanmu menemaniku belajar," sahutku mantap.

"Terima kasih Andi," katanya penuh bahagia. Dia memelukku hangat. Aku balas memeluknya.

"Terima kasih juga, Arif. Kauajari aku banyak hal, berbagi dan mensyukuri hidup. Kau adalah sahabat terbaikku," jawabku pelan. Ah... dunia serasa indah bila kita bersyukur.

#Demak, 18022015

Sang peramu kata

Sang Peramu Kata
Oleh : Titien SDF

Adamu mengisi lembar demi lembar kehidupan
Ramuan aksara kauracik dalam dedoa keselamatan
Indah terbaca menyelusup setiap jiwa, terbangunkan
Enggan menepi walau terkadang acap menuai kecaman
Fajar esok hari kaubilang selalu menjanjikan harapan

Semangatmu berkarya seolah mentari tak pernah meredup
Ilalang patah pun di tangan sang peramu serasa berdegup
Dawai hati membentang kencang seolah tak pernah gugup
Diselimuti tampilan bersahaja aurat pun tertutup
Irama nada suaramu lembut seperti angin yang meniup
Qolam, salah satu ayatNya yang selalu kauraup

Ringan langkahmu menggemulaikan jemari
Asa tertuang seakan lukisan alam yang sedang menari
Zamrud bertebaran di setiap kekata petuah sarat isi
Ajak sesama berbagi kebajikan dan amal hakiki
Asah asih asuh jangan sampai terkesan menggurui
Nikmat surga-Nya  sebaik-baik tempat kembali

#Demak, 19022015

Rabu, 18 Februari 2015

Hamka

HAMKA
Oleh:Titien SDF

Terlahir dari keluarga muslim terhormat
Dibesarkan dalam asuhan sesuai syariat
Didampingi ulama-ulama teladan penuh berkat
Engkau pun menjadi sosok yang penuh rahmat

Engkaulah guru sekaligus pejuang sejati
Tak berbilang universitas di dalam dan luar negeri
Memanfaatkan ilmumu tebarkan pengetahuan hakiki
Lewat lisan dan karya sastramu nan digemari

Beragam novel kautuliskan
Berbagai kitab falsafah kauajarkan
Tak berbilang petuah kausampaikan
Kisah hidupmu penuh hikmah keteladanan

#Demak, 19022015

Akhir kisah raja Andara

Akhir Kisah Raja Andara
Oleh: Titien SDF

Tersebutlah sebuah negeri yang luas wilayahnya. Hamparan sawah nan subur indah dipandang mata. Hasil bumi berlimpah, penduduk sejahtera. Semua dalam kekuasaan Kerajaan Zamrud dipimpin Raja Wismaya yang arif bijaksana. Sayang beribu sayang, sang raja wafat dipanggil Tuhan yang maha kuasa. Sudah saatnya putra mahkota menggantikannya.

"Andara, putraku, bersikaplah bijaksana. Engkau adalah calon raja yang akan menggantikan ayahanda," begitu nasehat Raja Wismaya semasa hidup dahulu.

"Andara selalu siap, Ayahanda. Kapan saja," jawabnya penuh jumawa.

Seluruh isi istana bekerja keras mempersiapkan segala sesuatunya. Rakyat pun menyambut dengan penuh harap, semoga sang raja muda sebijak ayahandanya.

Hari yang dinanti pun tiba, Penasehat kerajaan menyematkan mahkota di atas kepala Andara. Pertanda bahwa Raja Andara telah resmi berkuasa. Hadiah dan ucapan selamat datang dari seluruh penjuru memenuhi istana. Sang raja bukan kepalang bahagia. Bertumpuk harta serasa menyulut sifat serakahnya.

Raja Andara  membuat peraturan, membagi wilayahnya dalam tujuh bagian. Setiap pekan rakyat harus menyerahkan upeti bergantian. Setiap wilayah berlaku hari yang ditetapkan. Wilayah satu harus menyerahkan upeti tiap hari Senin, wilayah dua tiap hari Selasa, wilayah tiga hari Rabu, begitu pun seterusnya.

Penduduk pun menyetorkan hasil jerih payahnya. Mereka datang dengan sukarela pada minggu pertama, kedua dan ketiga. Minggu-minggu berikutnya terasa amat memberatkan. Para penduduk juga butuh menjual hasil sawah dan kebun untuk berbagai keperluan mereka sendiri.

Keserakahan sang raja menjadi-jadi, nasehat ayahanda dahulu tak diingat lagi. Ibunda bersedih, jatuh sakit dan menyusul ayahanda pergi.

"Baginda perlu meninjau ulang keputusan penyerahan upeti," kata Penasehat kerajaan memberi saran.

"Akulah rajanya, aku yang menentukan semua, kalau kau tak suka silakan pergi saja," jawab Raja Andara marah. Penasehat mengundurkan diri dan memutuskan pergi dari istana.

Di istana, Raja Andara uring-uringan. Penduduk mulai enggan mematuhi peraturan yang telah ditetapkan. Dipanggilnya semua pengawal yang berbadan kekar dan bertampang bengis menakutkan.

"Hai pengawal, tugasmu adalah memastikan semua rakyatku menyerahkan upeti. Masing-masing dari kalian harus mendatangi mereka. Yang tidak mau menyerahkan, dicambuk saja," demikian titah sang raja.

Para pengawal melaksanakan titah sang raja. Mereka mendatangi masing-masing bagian wilayah sesuai jadwal harinya. Mereka tak segan merampas yang ada bila penduduk tak menyerahkan upetinya.

"Ayo geledah rumahnya, ambil semua harta yang tersisa. Dia sudah berkali-kali tak menyerahkan upeti," teriak kepala pengawal pada anak buahnya.

Kemuning kecil memandangi ibu dan bapaknya yang hanya diam membiarkan para pengawal mengobrak-abrik isi rumah mereka.

"Tak ada yang bisa kita lakukan, Nduk. Kita ini rakyat jelata," kata sang bapak mengingatkan.

"Kita akan pindah ke seberang sungai. Tempat yang menjadi wilayah kerajaan sebelah. Mudah-mudahan penguasanya mengijinkan kita tinggal di sana," kata sang bapak setelah para pengawal itu pergi.

Banyak penduduk yang mengalami nasib serupa. Satu persatu mengikuti jejak Kemuning dan keluarganya. Di tempat yang baru mereka lebih leluasa bekerja, menggarap sawah dan kebun lalu memanfaatkan hasilnya.

Hari berganti, bulan pun berlalu. Para pengawal datang tanpa hasil menemui sang raja. Raja Andara marah dan kecewa. Para pengawal pun diusirnya pergi.

Raja Andara memutuskan untuk turun sendiri berkeliling ke semua wilayah kerajaannya. Disiapkannya pakaian terbagus dan kuda tunggangan terbaik milik ayahanda. Penduduk harus tahu bahwa dia adalah raja muda terhebat yang harus dihormati dan dipatuhi, begitu pikirnya.

"Mengapa sawah dan ladang terbengkalai tak terurus?" teriaknya berang.

Hampir tak ada sambutan pada setiap rumah yang didatanginya. Hanya perabotan yang tertinggal dan debu tebal menutupi permukaannya.

"Ke mana perginya seluruh penduduk?" tanyanya geram pada kakek tua yang tertinggal di salah satu rumah.

"Mereka pindah ke kerajaan sebelah. Karena rajanya bijaksana, tak seperti engkau, Raja muda?" jawabnya tanpa takut.

Raja Andara teringat kata-katanya pada Penasehat waktu itu," kalau tak suka, silahkan pergi saja. Tak usah jadi rakyatku."

Sesal menyelimuti pikirannya, apalah artinya seorang raja bila tak ada rakyat yang dipimpinnya. Tapi semua sudah terlambat. Hamparan sawah ladang yang luas menghijau dulu tinggal tanah-tanah gersang kering kerontang.

Sang raja terduduk lemas, taj ada yang melihat pakaian kebesarannya dan kuda tunggangan terbaiknya. Tak ada decak kagum dan salam hormat untuknya. Bahkan seorang tua renta yang ditemuinya pun tak takut menghardiknya. Semua sia-sia. Penduduk meninggalkannya. Seisi istana terasa tak berharga bila hidup hanya sendirian saja. Dia pun mati karena merana.

#Demak, 19022015

Pengingat jiwaku

Pengingat Jiwaku
Oleh : Titien Sumartini Dwi Fatmasari

Terdampar sudah aku di atas pasir dunia
Indah terhampar dalam penglihatan netra
Takjub mengurai berjela-jela memenuhi dada
Ingin rasanya mengecap nikmati semua yang ada
Entah sudah berapa lama berselimutkan asa
Nurani memedar sabda agar jangan ku terlena

Senja menyemburat merah di ufuk barat
Untaian cahayanya bagai selaksa penari berkelebat
Menggemulaikan nada simfoni nan elok memikat
Angan pun terbang melayang sesiapa yang melihat
Resah gundah gulana hilang enggan mendekat
Tergambar pula siluet burung-burung terbang merapat
Ibarat anak panah terlukis warnanya hitam pekat
Nun sepadan di atas permadani nan hebat
Ini semua ciptaan Allah sang pemberi rahmat

Dan jiwaku pun semakin mengagumi-Nya
Walau tiada mungkin menyentuh indah wajah-Nya
Impian senantiasa mengejar ridho ampunan-Nya

Fajar kan datang di penghujung malam
Ajak ragaku menekuri sepertiganya tanpa muram
Terlantun kalam nan suci membuat hati tentram
Mengalun lirih dari lisan penuh syukur terpendam
Asa menggunung mengharap diaminkan seluruh alam
Semoga berkah Sang Penguasa didapat tanpa kecam
Agar diri selalu berbenah masa depan tak suram
Rindu menggelayuti kelopak mataku yang temaram
Indahnya surga dan wajah suci-Mu tergambar dalam diam

#Demak, 18022015

Selasa, 17 Februari 2015

Direjam rindu

Direjam Rindu
Oleh: Titien SDF

Mengenangmu...
Serasa membangunkan ingatanku
Tentang ribuan cerita masa lalu
Senyum bahagia serta tangisan pilu

Menyebut namamu...
Bagai menyusun kenangan dahulu
Setiap kepingnya tergambar wajah nan sendu
Seakan lukisan rindu nan terbelenggu

Mungkin bagimu...
Aku hanya angin yang menderu
Bertiup sepoi-sepoi melambai sayu
Lalu menggulung badai meninggalkan sembilu

Tak tahukah dirimu?
Dalam sepi kuingin selalu temani harimu
Menyisihkan waktu di setiap siang dan malamku
Setulus jiwa walau kauanggap hanya angin lalu

Aku hanya ingin kau tahu
Rindu ini senantiasa menggebu
Mengayun langkah mendekap cinta biru
Milikimu seutuhnya, kekasihku

#Demak, 17022015

Minggu, 15 Februari 2015

Artikel hari ibu

                       HARI IBU DAN PERAN STRATEGIS

        Ibu, adalah sebuah kata yang sarat makna. Begitu fenomenalnya sehingga setiap belahan dunia memiliki cara tersendiri untuk mengapresiasinya. Bila di luar negri kita mengenal istilah 'Mother Day' maka di negri tercinta kita, Indonesia, kita mengenal 'Hari Ibu' yang kita peringati setiap tanggal 22 Desember.
        Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938 melalui Dekrit Presiden no 316 tahun 1959 pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Misi yang dibawanya adalah untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Kemudian menyemangati semua kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja sama dalam upaya peningkatan kwalitas bangsa.
       Dewasa ini, peringatan Hari Ibu lebih sering diisi dengan acara-acara hiburan, untuk memanjakan kaum Ibu atau rehat sebentar dari aktivitas pokoknya sehari-hari. Sepintas, hal ini memang sah-sah saja , namun akan lebih baik bila peringatan Hari Ibu ini diisi untuk pengayaan wawasan kaum ibu agar dapar mengambil porsi dalam peran strategisnya dalam peningkatan kualitas bangsa.
         Ada ungkapan yang sering kita dengar," Wanita adalah tiang negara. Apabila baik wanitanya, maka akan baiklah negara. Dan apabila rusak wanitanya, akan hancurlah negara."
        Ada dua kandungan makna dalam ungkapan di atas. Pertama, dalam pandangan agama Islam, wanita itu adalah makhluk Allah swt yang memiliki kemuliaan, sama halnya dengan kemuliaan yang dimiliki pria. Kedua, wanita juga memiliki peran yang sangat penting dalam memajukan kehidupan bernegara. Peran yang teramat penting, sehingga wanita dijadikan tolok ukur baik buruknya suatu bangsa.
       Sebagai seorang 'ibu', wanita memiliki tiga peran sekaligus, yakni: sebagai istri, sebagai ibu dan sebagai anggota masyarakat..
       Dalam kaitannya dengan rumah tangga, suami dan istri, masing-masing berperan untuk saling melengkapi, saling menghormati, saling menghargsi, saling memuliakan, bekerja sama dan bertenggangrasa agar bisa tercipta kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah (harmonis, penuh cinta dan kasih sayang).
       Seorang ibu, sarat dengan pekerjaan mulia. Merekalah yang melahirkan generasi, menjaganya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, mendidiknya dengan segenap waktu dan tenaga, selalu siap siaga walau dalam keadaan lelah dan lemah. Memulai tugasnya ketika terjaga dini hari dan baru terlelap di akhir hari, saat seluruh anggota keluarga telah lebih dulu lelap dalam tidur mereka. Tangan dingin mereka sigap menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah tangga, mulai dari memasak, membersihkan rumah, mencuci, dan berbagai pekerjaan lainnya. Bukan hanya itu, dalam letihnya, jemari, lisan dan kasih mereka pun selalu lembut menyapa setiap jiwa, menentramkan dan melepaskan semua gundah gulana.
        Allah pun mengapresiasi mereka dengan firmanNya;
" Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a:" Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni' mat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal shaleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan ( memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau, dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS Al Ajqaaf; 15).

"Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam kwadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kedua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu."(QS Luqman'14).

Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata," Seseorang datang kepada Rasulullah saw dan berkata," Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?" Nabi saw menjawab," Ibumu!" Dan orang tersebut kembali bertanya,"Kemudian siapa lagi?" Nabi saw menjawab,"ibumu!" Orang tersebut bertanya kembali," Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab," Ibumu." Oorang tersebut kembali bertanya," Kemudian siapa lagi?" Nabi saw menjawab," Kemudian ayahmu." (HR Bukhari Muslim).

      Seorang ibu mempunyai peran strategis, baik sebagai guru bagi  anak-anaknya, pengasuh bagi keluarga, pendamping bagi suami dan mengatur kesejahteraan rumah tangga. Ibu juga merupakan seorang mentor dan motivator.Turun naik karir seorang suami pun tak lepas dari peran istri.
     Tangis seorang ibu mampu menggetarkan arsy dan do'anya langsung didengar oleh Allah swt. Di tangannya, rejeki yang banyak menjadi terasa sedikit, rejeki yang sedikit bisa menjadi banyak. Dan ibu mempunyai peran yang sangat penting untuk menciptakan generasi masa depan.
         Ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anak yang dilahirkannya, para generasi harapan bangsa. Ibulah yang seharusnya merawat, mengasuh, mengajari berjalan, mengajari berbicara, mengajari segala sesuatu, serta menyaksikan dan memastikan bahwa setiap tingkat perkembangan anaknya terpenuhi sesuai standar. Dengan demikian, kualitas akhlak, moral, intelektual, dan pengetahuan seorang ibu dapat mempengaruhi kualitas generasi muda harapan bangsa tersebut.
        Ibu adalah lautan kasih sayang yang tak bertepi, sampai kapan pun, dan dalam keadaan apa pun, seorang ibu akan selalu menjaga kasih sayang untuk anaknya.
        Sebagai anggota masyarakat, seorang ibu dituntut untuk selalu aktif berbagi dengan para ibu/ anggota masyarakat lainnya, berbagi pengetahuan yang dimiliki, memberi keteladanan, saling menyemangati, memotivasi, kemudian bersatu dan berjuang dalam upaya peningkatan kualitas generasi masa depan.
      Marilah Ibu Indonesia, kita berperan untuk masa depan lebih baik. Salam hari ibu.

Penulis: Sumartini Dwi Fatmasari Amk, alumnus D3 Ilmu Keperawatan Depkes Semarang.

Petualangan tiga sahabat

PETUALANGAN TIGA SAHABAT

 Keluarga Mimi Monyet tinggal di dalam hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi. Mereka hidup berkelompok dengan beberapa keluarga monyet ekor panjang yang lain, di antaranya adalah keluarga Yetty dan keluarga Kiki. Mereka bersahabat satu sama lain.
        
Suatu hari, di pagi yang cerah, Mimi merasa bosan. Dia jenuh dengan keadaan sekitar rumahnya. Letusan Gunung Merapi beberapa waktu yang lalu telah memporak porandakan kampungnya. Banyak sekali pohon yang tumbang ataupun mati karena terkena lahar panas. Beruntung sekali, keluarganya dan beberapa keluarga satwa lainnya bisa menyelamatkan diri dan pindah ke kampungnya yang sekarang, yang letaknya di kaki gunung.
       
Rumah Mimi yang sekarang memang tidak sebesar dan seteduh rumahnya yang dulu. Persediaan buah-buahan sedikit sehingga terkadang ia berebut dengan teman-temannya. Mimi sering teringat rumahnya yang dulu, besar, luas dan juga teduh. Dulu, dia dan teman-temanya sering bermain petak umpet. Terkadang, Riri Rusa dan Sasa Musang ikut bergabung. Mimi, Yetty dan Kiki suka bersembunyi di atas pohon yang tinggi dan rindang. Tentu saja, kan  mereka monyet. Sementara Riri dan Sasa bersembunnyi  di balik semak-semak yang tinggi. Ya iyalah, mereka kan tidak bisa manjat  pohon.
        
Di mana Riri dan Sasa sekarang ya, pikirnya. Waktu itu memang keadaan kacau sekali. Bapak dan Ibu Mimi langsung menarik kedua tangannya, membacanya meloncat dari satu pohon ke pohon yang lain. Begitu juga halnya dengan Yetty dan Kiki. Sementara keluarga Riri dan Sasa serta satwa-satwa yang lain berlarian entah ke arah mana, dia tidak sempat memperhatikan. Panik sih.
        
" Di mana ya mereka sekarang? Mudah-mudahan mereka juga selamat," gumamnya. Mimi jadi rindu kepada mereka.
        
Sendirian di rumah memang tidak enak. Ibu dan Bapak Mimi sedang rapat bersama kepala keluarga monyet-monyet lainnya di sebuah goa tak jauh dari tempat tinggalnya. Bapak Mimi kan ketua kelompok, ya...semacam kepala sukulah.
       
Mimi benar-benar bosan, kemudian dia memutuskan untuk ke rumah Yetty dan Kiki. Dia ingin mengajak dua temannya itu untuk mencari ikan di sungai. Dia pun bergegas menyiapkan ember.
       
Mimi berayun-ayun dari satu pohon ke pohon lainnya. Kakinya menenteng ember kosong. Sambil berayun dia memilih buah-buahan yang sudah mulai ranum, memetik dan meletakkannya dalam ember. Di tengah perjalanan, dilihatnya Yetty dan Kiki sedang asyik mengupas kacang di bawah sebuah pohon puspa.
       
"Mau kemana Mi?," tanya Yetty dengan heran.
       
"Kebetulan kita bertemu di sini. Aku baru saja mau ke rumah kalian. Kita cari ikan di sungai yuk. Pasti seru," sahut Mimi dengan gembira.
       
"Oke, tapi kita selesaikan mengupas kacang-kacang ini dulu ya. Emak akan mengolahnya nanti,"jawab Yetty.
       
Mimi meletakkan embernya. Dia pun mengambil tempat duduk di dekat Kiki dan mulai membantu mengupas kacang. Tak lama kemudian, tugas Emak Yetty pun selesai dikerjakan. Yetty berpamitan untuk pulang sebentar, mengantarkan sekeranjang kacang yang telah dikupas kepada Emak. Sementara itu, Mimi membantu Kiki mengumpulkan kulit kacang dan memasukkannya ke dalam sebuah kantong plastik besar. Kiki mengikat ujungnya agar tidak berceceran kembali.
     
"Hei! Jadi cari ikan tidak?," tanya Yetty yang tiba-tiba muncul di depan mereka.
     
"Jadi dooong!," seru Mimi dan Kiki bersamaan. Kompak deh.
     
Mimi mengambil embernya. Kiki pun menenteng kantong plastik.y
     
"Kamu bawa apa Mi?" tanya Yetty sambil melongokkan kepala, melihat isi ember yang dibawa Mimi.
     
"Oh, ini," jawab Mimi sambil menunjuk embernya." Aku bawa buah-buahan yang aku petik tadi pagi, untuk bekal kita."
     
"Kalau kamu bawa apa Ki?" tanya Yetty menunjuk ke tangan Kiki.
     
"Oh, ini sampah kulit kacang tadi. Mau kubuang ke sungai sekalian," jawab Kiki.
      "Eh, tidak boleh," cegah Yetty.
     
"Iya nih, tidak boleh begitu Kiki," kata Mimi membenarkan ucapan Yetty.
     
"Memangnya kenapa?" tanya Kiki tidak mengerti.
     
"Nanti bisa menyumbat aliran sungai, Kiki," jelas Yetty.
     
"Juga bisa mencemari air sungai, membuatnya menjadi dangkal dan tidak jernih," jelas Mimi pula.
     
"Dan kalau dibiarkan, bisa menyebabkan banjir!!" seru Mimi dan Yetty bersamaan. Lagi-lagi ada yang kompak.
      
"Kalian sudah seperti Bu guru deh. Kalau begitu, sampah ini harus dibuang kemana? Kan juga tidak boleh ditinggalkan di sini begitu saja. Mana di sini tak ada tempat sampahnya lagi," seru Kiki bersungut-sungut.
      
"Tadi aku lihat ada sebuah lubang besar di sebelah sana. Mungkin tadinya bekas perangkap macan tutul.Kita buang di sana saja, lalu kita timbun," kata Yetty sambil menunjuk ke suatu tempat.
      
Kiki dan Mimi setuju, kemudian mereka bergegas menuju tempat yang dimaksud Yetty untuk membuang sampah kulit kacang tadi. Setelah itu mereka berayun-ayun menuju sungai.
      
Tak berapa lama, mereka pun sampai di pinggir sungai. Airnya banyak dan jernih. Di sebagian tempat di sisi sungai terdapat beberapa bongkah batu besar bekas muntahan gunung Merapi. Mimi meletakkan embernya di sampingnya.
      
Kiki dan Yetty duduk di atas batu di bagian pinggir sungai. Mereka menggoyang-goyangkan kaki ke dalam air. Ikan-ikan kecil segera datang  menghampiri dan mengerubuti kaki mereka. Rasanya seperti digelitiki. Tak lama kemudian Mimi ikut bergabung sambil membawa buah-buahan. Mereka bermain air sambil makan buah-buahan. Sesekali mereka membagi buahnya menjadi potongan-potongan kecil dan melemparkannya ke dalam air. Ikan-ikan kecil itu berenang mengejarnya. Tiga sahabat itu tertawa-tawa riang gembira.
     
Tak puas hanya bermain kaki, mereka pun mencebur ke dalam sungai. Mimi menyelam mencari ikan yang besar. Tangannya menyentuh ganggang yang mengambang di dalam air, dia mencabutnya dan melemparkan ke arah dua temannya.
     
"Ulaaarrr....!" teriaknya seolah-olah ketakutan.
      
Yetty dan Kiki terkejut. Mimi tertawa geli. Yetty dan Kiki balas mencipratkan air ke muka Mimi. Mimi gelagapan karena kaget. Mereka pun saling menyipratkan air dan saling melempar apa saja yang tertangkap tangan mereka. Puas bermain air, mereka pun menangkap ikan yang besar. Mereka baru beranjak pulang setelah matahari tinggi di atas kepala.
      
Mimi memasukkan 12 ekor tangkapan mereka ke dalam ember. Pintar juga mereka menangkap ikan. Dalam waktu tidak terlalu lama sudah mendapat 12 ekor ikan besar. Mereka bermaksud memberikan ikan hasil tangkapannya kepada Kakek Hari, seekor macan tutul yang sudah tua. Mereka bertiga kan tidak suka ikan.
      
Kakek Hari memang berbeda dengan macan tutul lainnya. Kakek Hari tak pernah mengejar dan memangsa monyet ekor panjang seperti kebanyakan macan tutul lainnya. Hari lebih suka menangkap beberapa ekor ikan untuk mengganjal perutnya. Oleh karena itu tiga sahabat tidak takut kepadanya. Kadang-kadang mereka malah menangkap ikan untuknya, seperti hari ini.
     
Kakek Hari senang sekali mendapat oleh-oleh ikan. Dia pun memetikkan setandan pisang untuk mereka bertiga sebagai ucapan terima kasih. Tiga sahabat semakin senang.
     
Di tengah perjalanan, Mimi seperti melihat seekor kijang melintas.
     
"Berhenti dulu teman-teman, sepertinya aku melihat seekor kijang. Jangan-jangan Riri. Kalian masih ingat Riri si kijang?" tanya Mimi pada teman-temannya.
     
"Ingat dong, masak sama teman lama lupa sih," jawab Kiki sambil mencari-cari sosok yang disebutkan Mimi.
     
Ternyata di belakang semak-semak ada seekor kijang yang sedang merumput. Tiga sahabat segera mendekatinya. Ternyata benar, kijang itu adalah Riri, teman mereka dahulu.
     
"Eh, Riri, bagaimana kabarnya? Lama tidak pernah bertemu, kamu tinggal di mana?" tanya Mimi.
     
"Aku tinggal di balik bukit. Kalian dari mana, mau kemana? mau mampir ke rumahku?" tanya Riri bertubi-tubi.
     
"Tanyanya satu-satu dong," kata Kiki.
     
"Kami dari rumah Kakek Hari," kata Yetty.
     
"Si Macan tutul tua itu?! Dia juga selamat? Kalian tidak takut?" tanya Riri. Sepertinya dia tidak begitu suka bila tiga sahabat berakrab-akrab dengan Kakek Hari.
      
"Jangan bicara begitu Riri. Kakek Hari baik kok, dia tidak seperti macan tutul yang lain. Lagi pula dia sudah sangat tua. Sesama makhluk Tuhan harusnya saling membantu dan berbuat baik," nasehat Mimi.
      
"Iya Ri, tadi kami menangkap ikan kemudian kami berikan kepada Kakek Hari. Beliau kelihatan senang sekali. Waktu mau pulang, kami diberi oleh-oleh pisang satu tandan. Nih pisangnya, besar-besar dan ranum lagi Hmmmm....," kata Yetty sambil membaui pisang yang dia bawa.
       
"Pisang?...Mauuu...bagi dooong!" seru Riri setelah melihat pisang yang dibawa Yetty.
       
"Eittt....tidak boleh. Tadi mencela Kakek Hari, masak sekarang mau minta pisangnya..," goda Mimi.
      
"Kan aku kira Kakek Hari seperti macan tutul yang lain. Aku minta maaf deh. Sekarang aku minta pisangnya beberapa buah, boleh?" tanya Riri kepada tiga sahabat.
      
"Tentu saja, kami bertiga kan...tidak peliiit!" teriak tiga sahabat kompak. Mereka pun memberikan sesisir pisang untuk Riri. Riri senang sekali, dia mengucapkan terima kasih berkali-kali.
      
Sementara itu, matahari sudah hampir terbenam. Ibu Mimi, Emak Yetty dan Bunda Kiki cemas karena anak-anak mereka belum juga kembali ke rumah.
      
"Mungkin mereka masih di sungai," kata Emak Yetty," soalnya tadi Yetty pamit mau mencari ikan bersama Mimi dan Kiki."
Mereka bergegas menuju sungai, namun sesampai di sana mereka tidak menemukan siapa-siapa. Para ibu semakin cemas. Saat itu terlihat samar-samar seperti nyala api di kawasan hutan pinus, tak berapa jauh dari tempat mereka berdiri.
      
"Jangan-jangan....," seru Ibu Mimi tertahan.
Emak Yetty dan Bunda Kiki terkejut, mereka saling berpandangan.
     
"Jangan-jangan ada kebakaran, jangan-jangan mereka bertiga ada di sana!" teriak mereka bertiga sambil bergegas berayun dari satu pohon ke pohon yang lain dengan sangat cepat agar bisa secepatnya sampai ke tempat itu.
      
Tak berapa lama para ibu pun sampai ke hutan pinus. Terlihat anak-anak mereka sedang asyik membakar pisang. Para ibu segera menggali tanah dengan tangan mereka. Kemudian tanah-tanah itu pun mereka lemparkan di atas api sampai padam. Tiga sahabat pun terkejut.
      
"Ibu??? Mengapa dimatikan?" tanya Mimi heran.
      
"Iya nih, pisangnya kan belum matang!" protes Yetty dan Kiki pula. Mereka bertiga pun berusaha membongkar gundukan tanah itu untuk mengambil pisang mereka.
     
"Maaf sayang, kita tidak bole menyalakan api unggun di kawasan hutan pinus. Apalagi pohon-pohon pinusnya tumbuh rapat begini. Berbahaya," jelas Ibu Mimi.
     
"Apa bahayanya Bu," tanya Yetty ingin tahu.
     
"Bisa terjadi kebakaran besar, nak. Karena pohon pinus mudah terbakar. Kalau sampai terjadi, akan susah sekali memadamkannya. Bahkan, mungkin bisa merambat ke kampung tempat tinggal kita," Bunda Kiki ikut menjelaskan.
      
Tiga sahabat saling berpandangan. Untunglah para ibu cepat menemukan mereka. Kalau sampai terjadi kebakaran mereka akan merasa bersalah.
      
"Sudah, sudah, malam sudah datang, mari kita pulang. Nanti para ayah kebingungan mencari kita. Tapi, Emak harap ini jadi pelajaran berharga buat kalian bertiga. Tempat di mana kita tinggal, kitalah yang harus menjaganya. Kalau tidak dimulai sekarang, mau kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?" kata Emak Yetty panjang lebar.
      
"Iya Mak," sahut tiga sekawan kompak. Mereka berenam pun bergegas pulang.

                   .       
#Demak, 7 Desember 2014

Perempuan di penghujung malam

PEREMPUAN DI PENGHUJUNG MALAM

Pekat menyelimuti malam dalam gelap
hiruk pikuk yang tertinggal hanya senyap
sesosok tubuh bergumul dalam dapur yang pengap
agar esok di perut sang anak lapar tak hinggap

Sunyi masih menggigit tepian malam
dipukulnya lesung memecah gabah
tak dirasa tangan yang lepuh merekah
bunyi alu terdengar riuh rendah

Beras didapat periuk pun ditanak
dicari pula sesuatu di antara bunian
sekedar lauk untuk disandingkan
hitam jelaga pun membalur badan

Hidangan masak badanpun teriak
merajuk meraup air seguyuran
bersihlah badan bentangkan sajadah
meluruh menghiba pinta pada Sang Tuan

Pagi menghabiskan waktu senggangnya
siang menghapus duka anak-anaknya
petang menyerahkan pangkuan pada sang imam
dan dia mulakan harinya di penghujung malam

Perempuan di penghujung malam
hampir tanpa tangisan dan keluhan
senyum sang anak hilangkan kesedihan
pelepas penat di sekujur badan

Perempuan-perempuan perkasa
tak pernah protes dengan nafkah seadanya
yang coba ciptakan surga di rumahnya
wujud nyata surga di telapak kakinya

Perempuan di penghujung malam
engkaulah bunda mulia
malaikat kan mengiring segenap doa
insya Allah kan dikabulkanNya

#30112014#