Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 26 Februari 2015

Berawal dari ejekan

"Berawal dari Ejekan"

"Cina loleng, Cina loleng. Cina loleng, Cina loleng."

Teriakan anak-anak itu selalu kudengar setiap melewati jalanan depan rumah saat akan berangkat atau pulang sekolah. Mulanya tak begitu kuperhatikan, tapi... lama-lama terasa kalau teriakan itu ditujukan untukku.

Siang ini, teriakan itu kudengar lagi. Kali ini kuberanikan diri bertanya pada Ibu tentang maksud kata-kata itu. Ibu hanya mengelus dada.

"Oh... anak-anak itu mungkin ingin mengenalmu. Kan kita baru pindah di sini. Kita juga yang salah, belum mengenalkan diri," jawab Ibu.

"Kok bilang Cina loleng sih," kataku, tak puas dengan jawaban Ibu.

"Mungkin mereka pikir kita orang Cina, karena kulitmu putih, dan matamu sipit. Tak apalah, lain kali kalau mereka berteriak begitu lagi, tirukan saja," jawab Ibu lagi.

Hari berikutnya kupraktekkan apa yang dikatakan Ibu padaku. Mereka langsung diam dan menghampiriku.

"Kok kamu ikut-ikutan sih? Kita kan sedang ejekin kamu," kata salah seorang di antara mereka.

"Kenapa? Kan aku bukan orang Cina...," tanyaku.

"Kok kamu sipit sih? Putih lagi, seperti orang Cina. Nama kamu siapa?" tanyanya lagi.

"Tien, Titien, kalian siapa?" jawabku balik bertanya.

"Aku Tanto, itu Martono, Heri dan Arief," jawabnya mengulurkan tangan.

"Kita berteman?" tanyaku menyambut tangan mereka.

"Tapi kamu perempuan," katanya lagi.

"Memangnya kenapa kalau aku perempuan," jawabku agak tersinggung.

"Nangisan, bisanya cuma pasaran sama main boneka," sahut Arief, yang lain tertawa.

"Kalian mau adu gundu? Main layangan?" tantangku.

"Memangnya kamu bisa?" ejek mereka meremehkanku, "kalau berani nanti siang ke lapangan Citarum!"

Pulang sekolah, aku bergegas mengambil sekantung gundu, layang-layang dan benangnya yang kusembunyikan di kolong tempat tidur. Ibu tak pernah suka melihatku main gundu, apalagi main layangan. Ibu bilang, anak perempuan harusnya main masak-masakan, main boneka atau bekelan. Tapi aku kurang suka main dengan anak perempuan, mereka cerewet dan suka jotakan (mendiamkan temannya).

Siang itu aku mengendap-endap keluar rumah, berlari menuju lapangan yang tak terlalu jauh dari rumahku. Di sana mereka sudah menunggu.

"Dasar perempuan! Lelet...!" tegur mereka.

"Layangan dulu apa main gundu?" tantangku.

Kami pun beradu gundu. Mereka tampak geram melihat gundu-gundu mereka berkurang dan menjadi milikku.

"Kita main layangan saja!" kata Tanto.

Angin sedang bersahabat, layang-layang kami membubung tinggi, menari-nari di angkasa.

"Ayo kita adu!" kata Arief meledekku, "kalau putus jangan nangis."

Kubiarkan tali layang-layang mereka melilit tali layang-layangku. Untunglah benangnya terbuat dari nilon gelasan (benang nilon yang dilumuri serbuk kaca). Tak berapa lama satu per satu layang-layang mereka pun terputus. Aku tertawa girang, tapi benang layang-layangku tersangkut di pohon cemara. Terpaksa, kuputuskan saja benang dan meninggalkannya di atas sana.

"Aku menang kan?" kataku bangga. Mereka pun akhirnya mau berteman denganku.

Hari-hari selanjutnya kami nikmati bersama setelah pulang sekolah. Apalagi setelah kutahu ternyata Tanto adalah putra dari seorang guruku walau kami tak bersekolah di tempat yang sama. Tempat tinggal kami pun masih dalam kampung yang sama.

"Main ke rumah Ibu ya Tien, ajàk Tanto belajar bersama, "pinta Bu Harti, ibunya Tanto suatu hari. Aku pun mengiyakan permintaannya. Dia adalah guru yang paling sabar di sekolah kami.

Keluarga Tanto ternyata menyenangkan juga. Ada lemari besar penuh buku dan majalah yang menarik perhatianku. Dari sanalah aku jadi tertarik pada buku dan dunia kepenulisan. Terkadang sampai berjam-jam kuhabiskan waktu untuk membaca.

"Rumahmu seperti surga," kataku padanya.

"Ah, kamu tidak asyik lagi diajak main," katanya merajuk.

"Anak laki-laki kok merajuk," kataku," baca buku itu penting, tahu!"

"Kamu sudah kayak ibuku saja, nyuruh-nyuruh baca, bosen, tahu!" katanya marah.

"Kamu belum pernah baca buku ya?" selidikku. Karena menurutku baca buku itu mengasyikan.

"Sini! Kuberitahu kau satu cerita yang bagus." Kutarik dia agar ikut membaca apa yang kubaca. Awalnya kelihatan kalau dia hanya setengah hati, tapi lama-lama kulihat dia juga menikmatinya.

"Kamu benar, ceritanya bagus. Aku belum pernah membaca semua buku-buku itu. Kupikir semua buku isinya pelajaran yang membosankan," katanya.

"Sayang sekali, padahal aku ingin sekali punya buku sebanyak ini," kataku.

"Kalau begitu, main saja setiap hari di sini. Kamu bisa baca buku sepuasmu. Tapi..., jangan menolak kalau kuajak main gundu atau layangan lagi," katanya.

Aku bersorak," yes! Yang penting aku bisa baca buku sepuasku. Buku itu sumber ilmu. Buat kita pintar, kalau teman kita juga jadi suka baca buku kan bagus. Bisa sama-sama pintar. Orang tua kita juga pasti senang.

#Demak, 27022015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar