Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 19 Februari 2015

Sepatu persahabatan

SEPATU PERSAHABATAN

Kelas kami kedatangan siswa baru, namanya Arif. Perawakan kurus, kecil, hitam, mata bulat, rambut keriting. Kesan pertama saat dia datang terasa begitu lucu dan menyenangkan.

"Kenalkan, saya saudara jauh Barack Obama. Saya Arif, Arif 'baraknya obah," kata perkenalannya waktu itu. Seisi kelas pun tertawa.

"Kok 'baraknya obah' sih?" tanya Lina.

"Soalnya rumahku 'rumah bambu' kalau angin bertiup kencang, rumah terasa bergoyang-goyang," begitu jawabnya, santai.

Arif anak yang pintar, walau dia baru di kelas kami, nilai-nilai ulangannya selalu bertengger di urutan tiga ke atas. Hebat! Terkadang aku merasa iri dengannya, stttt... itu tidak baik ya.

Suatu siang, saat istirahat tiba, semua anak keluar kelas. Kulangkahkan kaki menuju tempat dudukku untuk mengambil bekal makanan yang masih tersimpan dalam tas. Meja Arif di depan serasa menarik perhatian. Tasnya yang setengah terbuka, tergeletak di atasnya.

"Barangkali selama ini dia menyontek," gumamku," coba kuintip ah,"

Tanganku pun segera bekerja menggeledahnya. Isinya hanya beberapa buku tulis saja. Bagaimana cara dia belajar? Tak ada satu pun buku pelajaran. Hebat! Benar-benar hebat, pikirku.

"Kalau begitu, bertemanlah dengannya. Barangkali dia juga bisa mengajarimu beberapa pelajaran yang belum kaukuasai. Terkadang isi jauh lebih baik dari bungkusnya," kata Ibu setelah mendengarkan ceritaku tentang Arif.

"Maksud Ibu?" tanyaku tak mengerti.

"Andi, jangan menilai seseorang dari penampilannya. Banyak anak yang kelihatannya oke, wajah cakep, jajan banyak, perlengkapan sekolah bagus, tapi gak pernah belajar, jadi gak tahu apa-apa," jelas Ibu.

"Banyak juga anak yang tidak beruntung. Wajah pas-pasan, perlengkapan sekolah ala kadarnya, tapi otaknya pintar karena selalu belajar," jelasnya lagi. Aku merasa tersindir, ah Ibu....

Keesokkan harinya, kucoba mendekati Arif seperti saran Ibu. Dia menyambut dengan gembira, kami pun berbicara tentang banyak hal.

"Ke perpustakaan sekolah yuk!" ajaknya, "aku suka membaca di sini."

Ada rasa malu yang tiba-tiba menyergap. Empat tahun sekolah di sini, tak sekalipun kulangkahkan kaki memasukinya. Aku lebih sering mengisi jam istirahat dengan bermain, atau jajan di kantin. Pantas, Arif jadi begitu pintar.

Hari-hari selanjutnya kuhabiskan bersama Arif di perpustakaan sekolah. Tentunya di sela-sela jam pelajaran sekolah, saat jam istirahat tiba. Nilai-nilai ulanganku pun mulai beranjak naik. Walau masih di bawah Arif, nilai-nilaiku bertengger di sepuluh besar.

"Kita lomba lari yuk!" katanya suatu hari.

"Di mana?" tanyaku celingukan.

"Memutari lapangan sekolah tiga kali, yang kalah harus menggendong yang menang. Bagaimana, kamu berani?" tanyanya lagi.

"Ayyuuk! Siapa takut?" jawabku menerima tantangannya. Malu dong kalau kalah, badanku masih lebih besar dan lebih tinggi darinya. Aku pasti menang, pikirku.

Dua kali putaran sudah kuselesaikan, napas mulai terengah-engah, kaki pun mulai terasa pegal dan berat untuk berlari. Arif masih saja memacu larinya dengan cepat walau peluh sudah membasahi seragam sekolahnya. Kupaksa langkah agar terus berlari, jangan sampai kalah. Sejauh apapun usahaku, Arif lebih dulu menyelesaikan putaran ketiga. Dengan sisa-sisa tenaga kugendong Arif melintasi lapangan, untung badannya kecil.

Kami melepas lelah di bawah pohon talok di pinggir lapangan sekolah. Satu satu buahnya yang kecil jatuh di pangkuan. Arif memunguti dan memakannya.

"Enak, manis," katanya.

Kutebar pandangan, menghitung buah talok yang berjatuhan. Terlihat jari-jari Arif bergerak-gerak, menyembul dari ujung sepatunya yang robek.

"Ah... kamu, sepatu robek parah begitu masih dipakai," kataku.

"Yang penting kan bukan sepatunya. Biar begini, kamu juga masih kalah dariku," katanya sambil tertawa.

Rasa iba menyelusup dalam hatiku. Kuteringat setumpuk sepatu di lemari. Semua masih bagus dan baru dipakai beberapa kali. Kuajak Arif ke rumah agar memilih beberapa yang dia suka.

"Wowww..., rumahmu bagus sekali," katanya. Kutarik dia menuju kamar, membuka lemari sepatu dan menyuruhnya memilih.

"Banyak sekali Andi... beneran nih? Aku boleh ngambil sesukaku?" tanyanya masih tidak percaya.

"Tentu saja boleh. Anggap saja sepatu persahabatan," jawabku.

Arif terlihat gembira, dipilihnya dua pasang sepatu yang pas di kakinya. Sejenak, dia menatapku sambil tersenyum.

"Tapi, ibu mengajariku untuk tidak menerima pemberian cuma-cuma. Bagaimana kalau aku mencucikan sepedamu selama satu bulan?" tanyanya tiba-tiba.

Rasa haru menyelimuti rasa, alangkah beruntungnya diri ini. Tapi aku sadar diri, dia lebih banyak memberiku. Karena dia, nilai-nilaiku membaik. Ah... apalah artinya sepatu bila dibanding dengan apa yang dia ajarkan padaku.

"Tidak perlu Arif, bayar saja dengan kesediaanmu menemaniku belajar," sahutku mantap.

"Terima kasih Andi," katanya penuh bahagia. Dia memelukku hangat. Aku balas memeluknya.

"Terima kasih juga, Arif. Kauajari aku banyak hal, berbagi dan mensyukuri hidup. Kau adalah sahabat terbaikku," jawabku pelan. Ah... dunia serasa indah bila kita bersyukur.

#Demak, 18022015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar