Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Jumat, 13 Februari 2015

Sebuah tugas berbuah kisah

Sebuah Tugas Berbuah Kisah
Oleh: Titien SDF

"Assalamu'alaikum!"
Satu suara terdengar di depan rumah sederhana yang terlerak di Gang Penjalan, Demak Kota. Penghuninya yang sedang rebahan di kursi bambu terlonjak kaget. Perlahan dia bergegas bangkit dan menyambutnya. Seorang gadis bergamis biru dan jilbab senada.

"Nunik? Kapan datangnya?" tanyanya sambil memeluk sang tamu.

"Kemarin Mbak. Garing di rumah sendirian. Mbak Marni sendirian? Keponakanku mana?" tanya Nunik celingukan. Ah, tak banyak yang berubah dalam dirinya. Masih seperti tiga tahun lalu, dan masih cengengesan.

"Anak-anak kan di Pondok Tahfidul Qur'an," jawab Marni.

Nunik melangkah masuk mengikuti kakaknya. Membuka tudung saji di atas meja dan mencomot tahu bakso di dalamnya.

"Kamu liburan?" tanya Marni. Diseduhnya teh hitam untuk adiknya.

"Cuma beberapa hari. Aku ada tugas buat artikel budaya setempat nih. Bantu dong Mbak," rajuk Nunik, dicomotnya lagi sebuah tahu bakso kedua.

"Kebetulan, malam ini masih ada pasar malam, nanti kita ke sana. Mudah-mudahan Mas Darma mengijinkan," jawab Marni.

"Eh, ada Nunik ya... kebetulan... tadi Mas lewat di Lapangan Tembiring. Pasar malam kali ini kelihatannya lebih meriah. Kita jalan-jalan ke sana yuk," kata Darma yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka.

"Mas, sudah lama? Perasaan, Marni gak dengar salamnya deh," tegur Marni.

"Sudah ya, pantesan aja salam berkali-kali gak dijawab. Lagi pada asyik di sini," jawab Darma. Tangannya ikut mencomot tahu bakso.

"Maaf deh... eh, tadi kami baru mau minta ijin ke sana loh," jawab Marni.

Mereka pun bergegas berangkat berjalan kaki. Lokasi pasar malam memang tak jauh dari rumah Marni. Nunik terlihat takjub dengan keramaian yang dilihatnya. Tentu saja, dia kan tinggal dengan nenek di Semarang.

"Pasar malam ini, biasa diadakan sepekan menjelang Hari Raya Idhul Adha. Ada wahana permainan anak, tuh di sana...," tuding Mbak Marni menunjukkan salah satu stand.

"Wek... memangnya Nunik ingin naik komidi puter? Gak lah," jawab Nunik manyun.

"Tahu gak yang paling Mbak suka?" tanya Marni, "yuuk...." Tanpa menunggu jawaban Nunik yang masih celingak-celinguk ke sana kemari, Marni menarik tangannya menghampiri stand UKM. Darma hanya mengikuti mereka berdua.

"Ini yang aku suka, Pemkab Demak menampung segala jenis usaha penduduknya. Ada pembinaan UKM terutama menyangkut sumber daya alam yang ada di tiap kecamatan." Marni terlihat serius seperti 'guide' yang sedang memandu wisatawan. Sementara Nunik memandangnya takjub.

"Itu stand batik! Kamu harus lihat, batik Demakan gak kalah sama batik Jogja, Solo, Pekalongan atau Banyumasan.
Yang ini motif 'iwak segaran' dari wedung, yang itu motif 'semangka tegalan' dari kadilangu, itu motif 'pintu bledheg', itu motif 'sisik iwak', itu... itu...," Marni masih asyik menerangkan motif-motif batik.

"Kaulihat yang di sebelah sana, banyak barang-barang kerajinan, ada ukiran, kaligrafi, sangkar burung, anyaman, kap lampu dan juga mainan anak-anak."

"Itu juga produk mandiri Mbak?" tanya Nunik menunjuk stand makanan. Darma tertawa.

"Kamu lapar ya..., sama...," katanya sambil melirik Marni. Akhirnya mereka bertiga masuk di stang "soto kerbau", masakan soto khas daerah pesisir Demak, Kudus dan Jepara. Mereka juga memesan 'wedang dandangcoro', minuman khas yang terbuat dari campuran rempah-rempah dan beras ketan, rasanya sungguh legit dan menghangatkan perut.

Puas menikmati sajian pasar malam, mereka pulang dengan memborong, abon ikan, kripik ikan, manisan belimbing dan jambu citra khas Demak.

"Tidur sini saja Nik, dua hari lagi ada 'Gerebeg Besar'. Rugi loh kalau kamu gak ikut dari awal sampai akhir," kata Marni.

"Iya, sekalian nemenin mbakmu. Mas jadi panitia 'Gerebeg Besar' nih, banyak yang harus dipersiapkan," Darma ikut menimpali.

"Yes!" sorak Nunik, "kebetulan, Nunik butuh ahli sejarah buat artikel budaya."

"Ahli sejarah...? Ehm..., aku punya temen di Dinas Pariwisata, namanya Bu Nastiti. Bukan ahli sejarah sih... tapi dia cukup tahu banyak tentang adat dan budaya Demak. Besok kuajak ke sana, mau?" kata Marni panjang lebar.

"Tentu saja mau, entar bantuin nyusun artikelnya sekalian ya Mbak," jawab Nunik ada maunya, dasar....

Hari berikutnya, Marni menepati janjinya untuk mengenalkan Nunik pada Bu Nastiti. Mereka pun berangkat menuju kantor Dinas Pariwisara Demak.

Bu Nastiti menyambut dengan gembira, apapun yang Nunik tanyakan selalu dijawabnya dengan sabar.

"Demak berasal dari bahasa arab 'dimaa' artinya rawa. Ini karena sebagian besar wilayah Demak, dulunya adalah rawa-rawa. Makanya tidak aneh kalau hujan mudah banjir, kalau kemarau tanahnya retak-retak dan tak ada air," jelas Bu Nas.

"Temen saya bilang, dulu ada anak yang ikut ibunya ke Kudus naik bis, di tengah jalan dia mabok lalu mengeluh ke ibunya, "mendem mak." Akhirnya sepanjang perjalanan saat anak itu mabok dinamai daerah Demak. Jadi, cerita itu salah ya Bu?" tanya Nunik.

Marni dan Bu Nastiti tertawa, oalah... ada-ada saja.

"Demak dulu merupakan Kerajaan Islam yang dipimpin oleh Raden Patah, lalu dilanjutkan oleh Pati Unus dan kemudian Sultan Trenggana. Mereka termasuk raja-raja yang aktif memusuhi Belanda."

Bu Nastiti menyodorkan sebuah buku yang berisi katalog daerah pariwisata Demak, hasil buminya dan budayanya.

"Di Demak juga ada perayaan 'Sekaten'. Hampir serupa dengan yang ada di Jogja, perayaan ini diadakan untuk menyambut maulud nabi Muhammad saw. Dinamakan 'Sekaten' karena berasal dari kalimat "syahadat tain" yang artinya dua persaksian. 'Laa illaha illa allahu muhammadur rasuulullah.' Itu adalah pintu masuk ajaran Islam."

Nunik mengangguk-angguk mendengar penjelasan Bu Nas. Sebenarnya banyak yang ingin ditanyakan tapi bingung, dari mana mulainya.

"Besok malam, ada persiapan untuk perayaan 'Gerebeg Besar' di pendopo Kabupaten dan di Kadilangu. Mbak Nunik datang saja," kata Bu Nas sebelum Marni dan Nunik pamit pulang.

Malamnya, mereka berdua ikut Darma ke pendopo Kabupaten. Di sana telah disiapkan 'tumpeng sanga' (tumpeng berjumlah sembilan) sebagai pengingat akan jasa 'wali sanga' (wali sembilan) yang telah bersusah payah mendakwahkan ajaran Islam.
Tumpeng-tumpeng ini dipikul beberapa orang dan dibawa dengan iring-iringan rebana dan shalawat menuju Masjid Agung Demak. Masjid yang terkenal dengan 'soko tatal' karena salah satu tiangnya terbuat dari serpihan-serpihan kayu (tatal) yang ditata sedemikian rupa oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, salah seoranf dari wali sembilan. Salah satu pintunya terukir motif 'bledheg' atau petir dan kemudian dikenal sebagai 'pintu bledheg.'

Marni dan Nunik mengikuti rombongan menuju Masjid Agung Demak. Acara diisi dengan tahlil mendoa memohonkan ampun bagi para leluhurnya dan mendoa keselamatan untuk seluruh warga Demak. Acara ditutup dengan menikmati hidangan tumpeng sembilan bersama-sama.

Tak suka berdesak-desakan berebut isi tumpeng, Darma mengajak Marni dan Nunik menuju Kadilangu. Di sanalah Kanjeng Sunan Kalijaga dimakamkan. Para ahli waris dan keturunan Kanjeng Sunan yang masih hidup berkumpul. Mereka pun mendoa keselamatan bagi pendahulunya dan untuk anak keturunannya di masa mendatang. Warga sekitar makam Kadilangu ikut berkumpul dan mengaminkan. Acara ditutup dengan menikmati nasi 'ancak' yaitu nasi beserta lauk pauknya yang disusun dalam 'ancak' yaitu sebuah wadah yang terbuat dari daun pisang dan potongan bilah bambu yang dianyam."

Malam itu suasana benar-benar meriah. Kumandang takbir bersahut-sahutan menghidupkan suasana gembira. Esok harinya mereka melaksanakan sholat Idhul Adha di Masjid Agung Demak.

Acara puncak baru dimulai setelah selesai penyembelihan hewan qurban. Nunik dan Marni tak mau ketinggalan untuk menyaksikan jalannya acara 'Gerebeg Besar.'

Iring-iringan 'prajurit patang puluhan' sudah kelihatan. Keempat puluh pemuda ini berdandan ala prajurit mataram zaman dulu kala. Mereka mengawal 'bupati terpilih' yang membawa 'minyak jamas' yang sudah disiapkan dari pendopo kabupaten menuju komplek makam Kanjeng Sunan Kalijaga di Kadilangu. Pada kesempatan ini bupati terpilih dan perangkatnya pun diharuskan mengenakan busana adat Jawa. Shalawat dan rebana mengiringi sepanjang perjalanan.

Di Kadilangu, prajurit patang puluhan disambut oleh keturunan Kanjeng Sunan Kalijaga yang masih hidup. Selanjutnya, merekalah yang melakukan penjamasan/ pencucian dua buah pusaka peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga. Namanya baju 'antakusuma' dan keris 'kyai Crubug'. Penjamasan ini dilakukan tertutup, konon apabila ada orang lain di luar keturunan Kanjeng Sunan yang melihat, maka dia akan buta. Wallahu a'lam.

"Mbak, bupatimu ganteng," bisik Nunik di telinga Marni.

"Hush... masih ganteng masmu," balas Marni, tangannya menunjuk seseorang, "tuh, lihat!"

Darma yang ikut dalam rombongan prajurit patangpuluhan terlihat menghampiri mereka. Dia terlihat gagah dengan balutan busana ala prajurit mataram. Dia tak sendirian, di sampingnya ada seorang pemuda belia yang tak kalah tampan dengan balutan busana serupa.

"Kucari-cari... ternyata di sini. Nih, kenalin... Arief, putranya Bu Nastiti. Dia anak sejarah loh. Barangkali kamu butuh bantuannya," kata Darma pada Nunik.

Nunik tersipu, mencuri pandang malu-malu, Marni tertawa. Ditariknya ujung belakang jilbab adiknya.

"Hati-hati... bukan mahram," katanya lagi, "sebagai kakak yang baik, aku mau kok temani kamu."

"Dengan senang hati," bisik Nunik lirih, "aku perlu juru bicara."

Mereka pun tertawa bersama. Siapa sangka, acara 'Gerebeg Besar' itu menjadi awal kisah manis di kemudian hari.

Nunik masih asyik memandangi album foto di hadapannya. Matanya menatap satu sosok lalu tertawa.

"Kenapa Mi? Lihat foto sambil tertawa-tawa sendiri. Ingat masa lalu ya...?" tegur suara di belakangnya. Ternyata Arief, suaminya sudah berdiri di sana. Entah, sejak kapan dia mencuri pandang apa yang dilihatnya.

"Sebentar lagi  ada acara 'Gerebeg Besar' loh, gimana kalau kita ke rumah Mas Darma dan mengulang kejadian tahun lalu?" tanyanya lagi.

"Kalau ke Mas Darmanya... aku mau, tapi kalau Mas Arief ikut serta sebagai prajurit patangpuluhan... aku ogah...," jawab Nunik manja.

"Loh kenapa...?" tanya Arief.

"Entar ada yang jatuh cinta padamu...," jawab Nunik.

"Loh, poligami kan boleh...," jawab Arief sambil berlari, menghindari cubitan-cubitan Nunik di pinggangnya.

#Demak, 12022015
Jumlah kata: 1462


Tidak ada komentar:

Posting Komentar