Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Rabu, 18 Februari 2015

Akhir kisah raja Andara

Akhir Kisah Raja Andara
Oleh: Titien SDF

Tersebutlah sebuah negeri yang luas wilayahnya. Hamparan sawah nan subur indah dipandang mata. Hasil bumi berlimpah, penduduk sejahtera. Semua dalam kekuasaan Kerajaan Zamrud dipimpin Raja Wismaya yang arif bijaksana. Sayang beribu sayang, sang raja wafat dipanggil Tuhan yang maha kuasa. Sudah saatnya putra mahkota menggantikannya.

"Andara, putraku, bersikaplah bijaksana. Engkau adalah calon raja yang akan menggantikan ayahanda," begitu nasehat Raja Wismaya semasa hidup dahulu.

"Andara selalu siap, Ayahanda. Kapan saja," jawabnya penuh jumawa.

Seluruh isi istana bekerja keras mempersiapkan segala sesuatunya. Rakyat pun menyambut dengan penuh harap, semoga sang raja muda sebijak ayahandanya.

Hari yang dinanti pun tiba, Penasehat kerajaan menyematkan mahkota di atas kepala Andara. Pertanda bahwa Raja Andara telah resmi berkuasa. Hadiah dan ucapan selamat datang dari seluruh penjuru memenuhi istana. Sang raja bukan kepalang bahagia. Bertumpuk harta serasa menyulut sifat serakahnya.

Raja Andara  membuat peraturan, membagi wilayahnya dalam tujuh bagian. Setiap pekan rakyat harus menyerahkan upeti bergantian. Setiap wilayah berlaku hari yang ditetapkan. Wilayah satu harus menyerahkan upeti tiap hari Senin, wilayah dua tiap hari Selasa, wilayah tiga hari Rabu, begitu pun seterusnya.

Penduduk pun menyetorkan hasil jerih payahnya. Mereka datang dengan sukarela pada minggu pertama, kedua dan ketiga. Minggu-minggu berikutnya terasa amat memberatkan. Para penduduk juga butuh menjual hasil sawah dan kebun untuk berbagai keperluan mereka sendiri.

Keserakahan sang raja menjadi-jadi, nasehat ayahanda dahulu tak diingat lagi. Ibunda bersedih, jatuh sakit dan menyusul ayahanda pergi.

"Baginda perlu meninjau ulang keputusan penyerahan upeti," kata Penasehat kerajaan memberi saran.

"Akulah rajanya, aku yang menentukan semua, kalau kau tak suka silakan pergi saja," jawab Raja Andara marah. Penasehat mengundurkan diri dan memutuskan pergi dari istana.

Di istana, Raja Andara uring-uringan. Penduduk mulai enggan mematuhi peraturan yang telah ditetapkan. Dipanggilnya semua pengawal yang berbadan kekar dan bertampang bengis menakutkan.

"Hai pengawal, tugasmu adalah memastikan semua rakyatku menyerahkan upeti. Masing-masing dari kalian harus mendatangi mereka. Yang tidak mau menyerahkan, dicambuk saja," demikian titah sang raja.

Para pengawal melaksanakan titah sang raja. Mereka mendatangi masing-masing bagian wilayah sesuai jadwal harinya. Mereka tak segan merampas yang ada bila penduduk tak menyerahkan upetinya.

"Ayo geledah rumahnya, ambil semua harta yang tersisa. Dia sudah berkali-kali tak menyerahkan upeti," teriak kepala pengawal pada anak buahnya.

Kemuning kecil memandangi ibu dan bapaknya yang hanya diam membiarkan para pengawal mengobrak-abrik isi rumah mereka.

"Tak ada yang bisa kita lakukan, Nduk. Kita ini rakyat jelata," kata sang bapak mengingatkan.

"Kita akan pindah ke seberang sungai. Tempat yang menjadi wilayah kerajaan sebelah. Mudah-mudahan penguasanya mengijinkan kita tinggal di sana," kata sang bapak setelah para pengawal itu pergi.

Banyak penduduk yang mengalami nasib serupa. Satu persatu mengikuti jejak Kemuning dan keluarganya. Di tempat yang baru mereka lebih leluasa bekerja, menggarap sawah dan kebun lalu memanfaatkan hasilnya.

Hari berganti, bulan pun berlalu. Para pengawal datang tanpa hasil menemui sang raja. Raja Andara marah dan kecewa. Para pengawal pun diusirnya pergi.

Raja Andara memutuskan untuk turun sendiri berkeliling ke semua wilayah kerajaannya. Disiapkannya pakaian terbagus dan kuda tunggangan terbaik milik ayahanda. Penduduk harus tahu bahwa dia adalah raja muda terhebat yang harus dihormati dan dipatuhi, begitu pikirnya.

"Mengapa sawah dan ladang terbengkalai tak terurus?" teriaknya berang.

Hampir tak ada sambutan pada setiap rumah yang didatanginya. Hanya perabotan yang tertinggal dan debu tebal menutupi permukaannya.

"Ke mana perginya seluruh penduduk?" tanyanya geram pada kakek tua yang tertinggal di salah satu rumah.

"Mereka pindah ke kerajaan sebelah. Karena rajanya bijaksana, tak seperti engkau, Raja muda?" jawabnya tanpa takut.

Raja Andara teringat kata-katanya pada Penasehat waktu itu," kalau tak suka, silahkan pergi saja. Tak usah jadi rakyatku."

Sesal menyelimuti pikirannya, apalah artinya seorang raja bila tak ada rakyat yang dipimpinnya. Tapi semua sudah terlambat. Hamparan sawah ladang yang luas menghijau dulu tinggal tanah-tanah gersang kering kerontang.

Sang raja terduduk lemas, taj ada yang melihat pakaian kebesarannya dan kuda tunggangan terbaiknya. Tak ada decak kagum dan salam hormat untuknya. Bahkan seorang tua renta yang ditemuinya pun tak takut menghardiknya. Semua sia-sia. Penduduk meninggalkannya. Seisi istana terasa tak berharga bila hidup hanya sendirian saja. Dia pun mati karena merana.

#Demak, 19022015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar