MATEMATIKA KEHIDUPAN
"Mbak, kok anak-anak semua pintar matematika sih? Ita dan Amiq langganan LCC mewakili sekolah. Yang lain nilainya juga jauh melampaui rata-rata kelas. Apa rahasianya sih?" tanya Ambar, guru kelas anakku.
"Tak ada rahasia," jawabku pendek. Ini adalah pertanyaan yang sama yang berulangkali harus kujawab dari orang yang berbeda.
"Bagaimana mereka belajar? Biar dicontoh anakku. Matematikanya jeblok terus nih," katanya lagi.
"Aku hanya mengajarkan mereka untuk mencintai hidup. Bukankah hidup penuh matematika?" kataku balas bertanya. Dia terdiam, entah apa yang dipikirkannya.
"Coba kauamati hidupmu. Bagaimana kau mengatur waktunya yang 24 jam sehari dengan segala aktivitasmu? Itu adalah matematika. Saat engkau membelanjakan rejekimu, itu pun penuh dengan perhitungan matematika. Untuk mempelajari ilmu apapun, matematika memudahkanmu," jawabku panjang lebar.
"Ya, aku mengerti. Untuk kalimat yang terakhir bisa kaujelaskan? Kalau fisika, kimia, biologi aku paham, tapi yang lain?" tanyanya heran.
"Kaupikir Bahasa Indonesia tak butuh matematika? Bagaimana menghitung baris dan paragrafnya? Menghitung jumlah katanya? Yang lain juga begitu. Geografi, sejarah, agama. Pendek kata hidup penuh matematika," kataku menjelaskan.
"Tapi, hidup kan tidak cuma belajar di sekolah," sahutnya. Sepertinya ia ingin memprotesku.
"Hidup itu pembelajaran, Ambar," kataku kesal.
"Bahkan hidup harus berbagi, membagi perhatian, menambahkan kasih sayang, mengurangi ego kita, mengalikan kesyukuran dan membulatkan cinta, keimanan kita pada Allah yang Maha Pencipta. Itu semua matematika yang diajarkan-Nya. Maka cintailah matematika seperti kau mencintai hidup. Itu rahasia untuk menguasainya," kataku menutup pembicaraan kami di telepon.
Sebulan sesudah pembicaraan kami, Ambar datang ke rumah dengan wajah berseri-seri.
"Angin apa yang membawamu kemari?" tanyaku.
"Angin surga Mbak," jawabnya tersenyum, "selama ini Nisa kudampingi belajar dengan bentakan dan celaan setiap kali dia salah menuliskan jawaban. Tapi setelah kupraktekkan nasehat Mbak, dia lebih fokus dalam belajar. Ternyata kita harus lebih dulu mengajarkan kasih sayang sebelum yang lainnya. Dan dia membalasku dengan memperlihatkan nilai-nilainya yang membaik. Begitu juga nilai matematikanya," katanya panjang lebar.
"Alhamdulillah, barokallah ya," jawabku.
"Oh ya, sekalian mau minta ijin. Mau ajak jalan-jalan Ita sama Nisa. Sekalian merayakan ulang tahun mereka berdua," katanya lagi.
"Bener nih Mah? Boleh gak Mi?" Ita yang sedari tadi di belakangku langsung bersuara. Dia memang terbiasa memanggil Ambar dengan sebutan Amah.
Aku melihat kalender, tanggal 28 Desember, hari ulang tahun Nisa. Dan tiga hari lagi ulang tahun Ita.
"Boleh ya Mi?" rajuk Ita lagi. Aku tersenyum mengiyakan.
"Oleh-olehnya jangan lupa ya!" teriakku mengantar kepergian mereka. Sungguh, ini pun buah dari matematika kehidupan.
#Demak, 25022015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar