Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 26 Februari 2015

Kacamata Inna

Kacamata Inna
Oleh: Titien Sumartini Dwifatmasari

Jam menunjukkan tepat pukul tujuh pagi. Lonceng berbunyi, tanda jam pelajaran pertama segera dimulai. Anak-anak kelas enam SDIT Permata sudah duduk rapi, menyiapkan diri di tempat masing-masing. Pak Bagus pun masuk ke dalam kelas.

"Assalamu'alaikum anak-anak," sapanya ramah.

"Wa'alaikum salam Pak Guru!" jawab anak-anak serentak.

"Sekarang, siapkan kertas. Kita akan ulangan IPA, perhatikan soal-soal yang Bapak tulis di papan tulis. Lalu tuliskan jawabannya saja," perintah Pak Bagus. Beliau mulai menuliskan soal-soal di papan tulis sementara anak-anak menyiapkan kertas ulangan dan alat tulis mereka.

Inna melepas kacamatanya dan mengambil selembar saputangan untuk membersihkan kacanya.

"Na, boleh minta kertas folio yang masih kosong? Punyaku habis, aku lupa beli yang baru," kata Hilwa lirih di belakangnya.

Inna meletakkan kacamatanya di atas meja, membuka tas dan mengambil kertas yang diminta Hilwa. Tak sengaja ujung kacamatanya tersangkut tali tas dan dia terlambat menyadarinya.

"Praakk... ," kacamata Inna terjatuh, sebelah kacanya retak.

"Kerjakan sendiri-sendiri, jangan ada yang  berisik, apalagi menyontek," kata Pak Bagus, masih terus sibuk menulis soal di papan tulis.

"Gimana kacamatamu Na?" tanya Hilwa cemas.

"Tidak apa-apa, hanya retak saja. Salahku sendiri kok," jawab Inna.

Inna mengucek-ucek matanya. Pak Bagus sudah selesai menuliskan soal dan mulai berkeliling kelas mengawasi anak-anak.

"Ada apa Inna? Mata kamu sakit?" tanya Pak Bagus menghampirinya.

"Tidak apa-apa Pak Guru. Cuma kurang jelas saja," jawab Inna.

"Oh, kacamata kamu retak. Emmm... begini saja, kamu boleh tukar tempat dengan Dini di bangku terdepan. Dini...! Tolong tukar tempat duduk dengan Inna, biar Inna duduk di kursimu. Dia tak bisa melihat dengan jelas dari sini."

Dini dan Inna pun bangkit berdiri dan bertukar tempat.

"Terima kasih Pak, Dini... terima kasih ya...," kata Inna. Dibetulkannya letak kacamatanya, terlihat lebih baik sekarang, walaupun belum jelas benar. Dikerjakannya soal-soal ulangan dengan teliti, sebentar-sebentar diusapnya mata kirinya yang mulai berair. Akhirnya selesai juga.

Keesokan harinya, Inna masih terlihat dengan kacamata yang sama. Dia terlihat agak susah melihat walaupun sudah   di bangku terdepan.

"Sepertinya kau perlu ganti kacamata Na. Sebentar lagi kita ujian. Hampir setiap hari pasti ada ulangan. Kalau begini terus, aku gak punya saingan," kata Hilwa.

"Bukannya bagus kalau kamu yang jadi juara kelas?" tanya Inna.

"Bagus sih bagus, tapi... kalau keadaannya begini, gak ada tantangannya," jawab Hilwa.

"Habis bagaimana... orang tuaku tak mungkin bisa membelikan yang baru. Kau juga tahu kan, kacamata ini hadiah Pak Guru tahun lalu. Masak mau minta lagi... aku malu," bisik Inna lirih. Hilwa pun terdiam mendengar jawabannya.

Sepulang sekolah, Hilwa mendekati ibunya yang sedang membaca majalah di teras.

"Bu, harga kacamata berapa sih? Itu... seperti yang Ibu pakai?" tanyanya ingin tahu.

"Mata kamu sakit?" tanya Ibu heran.

"Bukan untuk Hilwa, Bu. Tapi untuk Inna, teman Hilwa di sekolah." Hilwa pun menceritakan segala sesuatu tentang Inna. Tentang kebaikannya, kepintarannya, juga keadaan keluarganya yang kurang beruntung.

"Oke, nanti sore ajak dia kemari. Ibu antar kalian ke toko kacamata. Biar dia bisa mendapatkan kacamata sesuai keadaan matanya. Bagaimana?" kata Ibu memberi solusi.

"Terima kasih Bu," kata Hilwa senang. Dengan riang dia pun berpamitan kepada Ibu untuk menjemput Inna.

Inna menurut saja saat Hilwa mengajak ke rumahnya, memperkenalkannya pada ibunya. Dan ikut bersama mereka ke toko kacamata.

"Kau mau beli kacamata ya Hil? Kelihatannya mata kamu baik-baik saja," tanya Inna heran.

Hilwa dan ibunya tersenyum, lalu berkata, "bukan untukku kok Na, tapi... buat kamu."

"Aku??? Kok...???" tanya Inna heran.

"Karena kamu teman terbaikku. Anggap ini tantangan untuk mendapatkan nilai ujian terbaik. Kau berani terima tantangan kan," jawab Hilwa.

Inna memandang Hilwa dan ibunya. Ibu Hilwa mengangguk. Inna tertegun, kemudian memeluk Hilwa erat-erat dan berbisik, "terima kasih Hil, kau memang teman terbaikku."

"Kita berlomba?" tanya Hilwa.

"Tentu, siapa takut...," jawab Inna.

Dan dunia pun tersenyum melihat persahabatan mereka.

#Demak, 24022015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar