Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Rabu, 30 September 2015

Kyai Boestam Kertoboso

MENGENAL KYAI BOESTAM KERTOBOSO

MASA penjajahan yang berlangsung tak kurang dari 350 tahun lamanya di Nusantara ini, memberikan pilihan-pilihan terbatas bagi para penghuni kepulauan ini. Paling banyak ada tiga pilihan.

Pilihan pertama adalah melawan dengan atau tanpa senjata, termasuk dalam golongan ini adalah Sultan Agung Hanyokrokusumo, Cut Nyak Dien, dan masih banyak lagi yang kemudian memilih merdeka atau gugur di medan perang. Mereka inilah para pahlawan yang ikhlas berjuang dan mengorbankan seluruh apa yang dipunyai untuk membebaskan negeri dari cengkeraman penjajah.

Pilihan kedua adalah takluk dan bekerjasama dengan para penjajah, pilihan ini pun banyak diambil oleh raja-raja yang haus kekuasaan semisal Sunan Amangkurat I, II dan IV, juga masih banyak lagi. Mereka tidak malu menjadi begundal para penjajah dan memeras rakyat sendiri yang seharusnya mereka lindungi dan sejahterakan.

Pilihan ketiga adalah menolak tapi tak melawan. Pilihan ini banyak diambil oleh para rakyat kebanyakan yang memang merasa tidak punya daya dan kekuatan untuk melawan. 

Tetapi sebenarnya masih ada suatu situasi keempat, yang bukan termasuk pilihan, yakni tak memahami perbedaan-perbedaan kekuasaan yang ada dan menerimanya sebagai bagian dari takdir kehidupan. Keadaan yang disebut terakhir ini, situasi keempat, barangkali adalah yang paling banyak dijalani oleh rakyat Nusantara. Di masa kekuasaan kolonial maupun di masa kekuasaan bangsa sendiri. Di antara mereka ada yang terus berbuat sesuatu untuk negerinya, mengajarkan ilmu agama dan ilmu-ilmu lainnya dan mengajarkan budi pekerti dan kebaikan sepanjang hidupnya.

Pada masa dahulu, pernah ada seorang tokoh, kyai Jawa, seorang ulama yang disegani, bernama Ki Boestam/Kyai Boestam. Beliau bekerja untuk pemerintahan kolonial, namun juga berbuat banyak bagi rakyat jajahan, tak terkecuali bagi umat Islam. Dan, berperan untuk mengakhiri sebuah peperangan, yang kemudian melahirkan Kesultanan Yogyakarta  pada tahun 1755 dan bertahan sampai tahun 1949 sebagai suatu kerajaan, dengan pengakuan keistimewaan yang berlangsung hingga saat ini di masa Indonesia merdeka.

Tak banyak kisah yang mengulas tentang sejarah Kyai Boestam. Konon, beliau dilahirkan pada tahun 1681 dan meninggal di tahun 1759.

Kyai Boestam seorang yang pandai dalam bidang baca tulis dan sangat teliti, maka pada tahun 1708 beliau diangkat menjadi juru tulis kabupaten oleh Kanjeng Adipati Sosromenggolo ( Bupati Semarang pada waktu itu). Walaupun mengawali tugas dengan terpaksa, Kyai Boestam mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik sehingga gajinya terus dinaikkan. Sekian lama bertugas menumbuhkan sikap setia Kyai Boestam terhadap pemerintahan Belanda pada waktu itu. Perlu diketahui bahwa sejak tahun 1675, Pelabuhan Semarang dan wilayahnya berada dalam kekuasaan pemerintahan Belanda (VOC) sebagai hadiah atas bantuan VOC kepada Raja Mataram, Sunan Amangkurat I dalam memadamkan pemberontakan Adipati Trunojoyo.

Seiring berkembangnya waktu, Pelabuhan Semarang menjadi jalur yang ramai tempat perdagangan antar bangsa. Banyak para pedagang asal Cina, Arab, India, Pakistan dan Melayu yang kemudian memutuskan untuk menetap di Semarang. Mereka hidup berkelompok dalam satu tempat bersama rekan senegara asalnya, semakin lama semakin banyak dan membentuk kampung-kampung. Orang-orang Cina menetap di kawasan Pecinan dan Pedamaran. Orang-orang Arab, India dan Pakistan mendiami kawasan Pekojan. Orang-orang Melayu tinggal di Kampung Darat dan Kampung Melayu. Dan orang-orang pribumi menghuni Kampung Jawa.

Dalam pada itu, para ulama murid dan keturunan Ki Ageng Pandanaran (Sunan Tembayat) pun semakin beranak pinak dan menyebarluaskan ajaran Islam. Kanjeng Adipati Suromenggolo (Bupati Semarang pada waktu itu) kemudian mendirikan sebuah masjid besar untuk mewadahi aktifitas peribadahan umat Islam. Masjid itu terletak di kawasan Bubakan dan dikenal dengan nama Masjid Agung Semarang.

Pada tahun 1740 mulai pecah pemberontakan orang-orang Cina karena mereka merasa diperlakukan tidak adil. Para pribumi yang bekerja di kantor pemerintah ketakutan, mengundurkan diri dan lari keluar kota. Namun Kyai Boestam tetap bertahan, bahkan beliau juga mengerjakan tugas teman-temannya dengan baik. Beliau juga membantu pemerintah Belanda dalam menghadapi pemberontakan orang-orang Cina. Pada akhirnya tahun 1743 pemberontakan dapat dipadamkan. Lebih dari 10.000 orang Cina menjadi korban. Karena keikutsertaannya dalam menumpas pemberontakan, Kyai Boestam diberikan kedudukan sebagai 'onder regent' untuk wilayah Terboyo.

Kepada beliau juga diberikan sebidang tanah yang luas untuk keluarga di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Bustaman. Dengan kedudukannya sebagai 'onder regent' (wakil bupati/ bupati anom) beliau mempunyai hak dan wewenang setara dengan bupati dalam mengelola pemeeintahan di wilayahnya (Terboyo) dan mendapat gelar Kyai Ngabehi Kertoboso.

Pada tahun 1747, pecah pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi (adik Paku Buwono II) karena beliau tidak setuju dengan pengukuhan putra Paku Buwono II sebagai penggantinya dan bergelar Paku Buwono III. Perang berlangsung sangat lama dan membuat pemerintah Belanda kehilangan akal, apalagi Raden Mas Said ikut bergabung dengan Pangeran Mangkubumi dan sekutunya. Sedikit demi sedikit wilayah Mataram dikuasai Pangeran Mangkubumi dan orang-orangnya. Pangeran Mangkubumi sendiri memindahkan pusat pemerintahannya dari Yogya ke Magelang.

Kehilangan akal, pemerintah Belanda pun memanggil Kyai Boestam dan meminta sarannya. Kyai Boestam mengatakan pada pemerintah Belanda bahwa Pangeran Mangkubumi lebih pantas menjadi raja karena beliau putra Sunan Amangkurat IV dan adik Paku Buwono II. Agar peperangan tidak berkepanjangan, beliau juga menyarankan agar Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta di bawah Sunan Paku Buwono III dan Kasultanan Yogyakarta di bawah Pangeran Mangkubumi. Oleh pemerintah Belanda akhirnya dibuatlah surat pengakuan kekuasaan Pangeran Mangkubumi yang dicap dan ditandatangani oleh gubernemen. Dan surat ini harus disampaikan oleh salah seorang bupati kepada Pangeran Mangkubumi sendiri. Para bupati tidak berani menjalankan tugas ini dan beramai-ramai mengundurkan diri. Mereka lebih memilih mati dibunuh panglima/ dihukum pemerintah daripada dibunuh kaum pemberontak. Di luar dugaan, Kyai Boestam menawarkan diri untuk menunaikan tugas ini seorang diri. Gubernemen melepas kepergian Kyai Boestan yang memilih menyamar sebagai rakyat biasa. Beliau memakai baju dan celana gombor hitam dan ikat pinggang putih berbintik-bintik untuk menyelipkan surat yang harus diserahkan pada Pangeran Mangkubumi. Beliau bertemu dua orang pemotong rumput dari desa Jetak, kemudian membantu mereka memotong rumput dan membawanya masuk desa Jetak, Magelang.

Di Magelang, beliau ditangkap oleh pasukan Pangeran Mangkubumi dan membuat geger sehingga dibawa ke hadapan Pangeran Mangkubumi. Kepada Pangeran Mangkubumi beliau mengatakan bahwa beliau membawa surat dari gubernemen untuk Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi sangat senang membaca surat yang dibawa oleh Kyai Boestam. Beliau pun diberikan pakaian kebesaran dan diperlakukan penuh kehormatan. Perang dihentikan dan diperoleh kesepakatan sesuai Perjanjian Giyanti atau disebut juga Palihan Nagari pada tanggal 13 Februari 1755. Sebulan berikutnya, 13 Maret 1755, Pangeran Mangkubumi resmi memerintah di Kasultanan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I.

Atas jasa-jasanya, pemerintah Belanda memberikan banyak hadiah pada Kyai Boestam. Orang-orang Belanda memanggil beliau dengan sebutan 'Bapa Boestam.' Dalam catatan pemerintah Hindia Belanda, disebutkan tentang seorang Jawa, “terkenal sebagai Bapa Boestam yang telah menunjukkan banyak pengabdiannya yang tulus kepada Gubernemen." Dalam catatan itu –yang terjemahannya dilampirkan Mr Hamid Alqadri dalam bukunya mengenai Snouck Hurgronje, Penerbit Sinar Harapan, 1984, lebih jauh menyebutkan bahwa "Gubernemen, demi kehormatannya, menjanjikan, sepanjang matahari dan bulan memancarkan sinarnya dan pulau Jawa berada dalam kekuasaan pemerintah Hindia Belanda, akan membantu Kiai Boestam atau anak turunannya.

Kyai Boestam meninggal dunia pada tahun 1759 dalam masa jabatannya. Pada tahun 1773-1841, pemerintah Belanda mengangkat cucu-cucu Kiai Boestam menjadi Bupati Semarang. Salah satu cucu beliau yang juga dikenal luas oleh masyarakat Semarang adalah Sayyid Muhammad atau lebih dikenal dengan sebutan Kanjeng Sunan Terboyo.

Sejak kecil Sayyid Muhammad dididik oleh kakeknya dengan didikan yang kental dengan nilai-nilai agama. Pada masa mudanya, beliau berguru dan diangkat menjadi putra angkat Ki Ageng Pandanaran. Beliau juga menikah dengan Raden Ayu Suci Satiyah, putri dari Raden Mas Said atau lebih dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Menurut catatan sejarah, beliau diangkat menjadi Bupati Semarang pada tahun 1802 dengan gelar Kanjeng Adipati Surohadimenggolo V.

Berbeda dengan kakeknya yang mau bekerja sama dengan pemerintah Belanda, Kanjeng Sunan Terboyo lebih mendekat kepada para ulama dan membantu Pangeran Diponegoro melawan Belanda.

Beliau juga membangun kembali Masjid Kauman yang dulu dibangun Kanjeng Adipati Suromenggolo di daerah Kauman dan rusak berat karena kebakaran. Kanjeng Sunan Terboyo membangun kembali Masjid Kauman dan memindahkannya di alun-alun Kota Semarang. Bangunan ini masih tegak berdiri sampai sekarang walaupun berkali-kali mengalami pemugaran.

Dalam beberapa kisah diriwayatkan bahwa beliau sangat prihatin dengan perpecahan umat Islam akibat politik 'devide et impera' yang dimainkan pemerintah Belanda. Salah satu di antaranya termasuk perbedaa  penetapan awal bulan puasa. Dengan mencari masukan dari para ulama maka dibuatlah binatang rekaan untuk mengingatkan rakyatnya. Binatang rekaan ini diberi nama 'warak ngendog'. Berasal dari kata 'wara' (bahasa arab yang berarti menahan diri) dan 'ngendog/bertelur' sebagai simbol pahala. 'Warak ngendog' dipahami sebagai pesan bahwa apabila selama bulan puasa kita benar-benar menjaga diri dari nafsu dan perbuatan dosa, maka kita akan mendapatkan pahala.

Warak ngendok digambarkan dalam bentuk binantang dengan kepala dan leher berwarna merah, bersudut tegas, bertanduk, mata melotot dan mulut menganga menampakkan lidah yang menjulur dan gigi-gigi yang runcing menyeramkan. Ini melambangkan nafsu ammarah manusia yang rakus, pemarah dan suka sewenang-wenang. Badannya dan kakinya empat seperti kambing dengan bulu-bulu terbalik berwarna-warni. Dan ekor agak panjang dengan surai di ujungnya. Hal ini diartikan agar manusia merubah dirinya dari sifat-sifat yang buruk dirubah dengan sifat-sifat yang baik/halus. Di antara ujung kedua kaki belakangnya terdapat sebutir telur yang diyakini sebagai simbol pahala.

Pada sore hari menjelang bulan puasa, seluruh elemen masyarakat dikumpulkan. Imam masjid mengumumkan hari dimulainya bulan puasa, Kanjeng Bupati pun memukul bedug dan membunyikan meriam sebagai tanda dimulainya bulan puasa. Bunyinya dug-dug-der, sehingga kemudian dikenal dengan sebutan 'dugderan.' Kemudian 'warak ngendog' diarak mengelilingi alun-alun Kota Semarang dan berakhir di dwpan Masjid Kauman. Pesta rakyat dan pertunjukan diselenggarakan untuk memeriahkan penyambutan bulan puasa. Para pedagang pun mulai menggelar dagangannya. Lambat laun para pedagang berkumpul di sana dan alun-alun pun berubah menjadi Pasar Johar/Yaik.

Karena Kanjeng Sunan Terboyo lebih sering membantu Pangeran Diponegoro, pemerintah Belanda tidak menyukainya. Beliau pun ditangkap dan diasingkan di 'Polluck' sampai menemui ajalnya.  Sebelum ditangkap, pada tahun 1821 beliau mendirikan Masjid Terboyo di desa Tambakrejo. Cungkupnya berciri khas seperti cungkup Keraton Solo. Di dalamnya terdapat sebuah sumur tua yang konon dipercaya sebagai sumur keramat. Letaknya yang berdekatan dengan laut tidak menjadikan airnya asin, tetapi tetap berasa tawar seperti air yang mengalir dari pegunungan. Airnya pun diyakini bisa mengobati penyakit dan membalikkan sumpah orang yang berdusta.

Kanjeng Sunan Terboyo meninggal pada tahun 1834, jenazahnya dikembalikan kepada keluarganya dan dimakamkan di areal Masjid Terboyo. Setiap tahun diadakan haul untuk menghormati dan mendoakan beliau. Makamnya banyak diziarahi oleh para peziarah dari berbagai kota. Namun, apabila ada orang yang berziarah dengan niat jahat maka diyakini, penunggu makam yang berwujud harimau tak kasat mata akan mengusirnya. Masjid Terboyo sempat diperbaiki dan ditinggikan beberapa kali karena rob, namun pengunjungnya tak pernah berkurang.

Kanjeng Sunan Terboyo sangat memperhatikan pendidikan putra-putranya, beliau mengirim mereka kepada ulama-ulama pilihan. Kelak salah satu cucunya yang bernama Ibrahum bin Raden Thohir bin Adipati Surohadimenggolo mendirikan pondok Ibrohimiyah dan dikenal luas di kalangan masyarakat.

Raden Saleh kecil  disekolahkan pemerintah Belanda di Batavia agar tidak terbawa didikan pamannya (Kanjeng Sunan Terboyo) yang membantu Pangeran Diponegoro dan memusuhi Belanda. Raden Saleh tumbuh menjadi seniman hebat dan paham agama.

Sejak Kanjeng Sunan Terboyo ditangkap Belanda, tradisi dugderan dan warak ngendog pun hilang. Dan baru dihidupkan lagi pada jaman Kanjeng Adipati Aria Purbaningrat menjabat sebagai Bupati Semarang pada tahun 1881.

Dewasa ini warak ngendog tak hanya diyakini sebagai pesan bijak dalam mengisi bulan puasa. Warak ngendog juga diyakini sebagai perpaduan tiga budaya yang berbeda. Kepalanya digambarkan seperti naga yang siap menyemburkan api, binatang keramat orang-orang Cina. Badannya digambarkan seperti buroq, kendaraan yang dinaiki Rasulullah saw ketika Isro' dan Mi'roj ke Sidratul Muntaha. Bagian ini mewakili kultur orang- orang Arab. Dan kakinya digambarkan seperti kaki kambing. Bagian ini mewakili kultur masyarakat Jawa. 

Pada jaman Kanjeng Adipati Aria Purbaningrat, warak ngendok diarak dari Balai Kota Semarang menuju Masjid Kauman. Setelah itu, bedug baru ditabuh oleh Kanjeng Bupati dan meriam baru dibunyikan sebagai tanda dimulainya bulan puasa dengan disaksikan gubernemen dan masyarakat.

Pada tahun 1974, festival warak ngendog dimulai dari Masjid Baiturrohman Simpanglima menuju Balai Kota Semarang dan berakhir di Masjid Kauman.

Mulai tahun 2006, festival warak ngendok dimulai dari Masjid Baiturrohman Simpang lima dan Balai Kota, bertemu di depan Masjid Kauman dan diarak lagi menuju Masjid Agung Jawa Tengah. Festival dugderan pun digelar di Jalan Soekarno Hatta, tak jauh dari Masjid Agung Jawa Tengah.

Demikianlah sekelumit cerita sejarah tentang Kyai Boestam atau Kyai Ngabehi Boestam Kertoboso. Apa yang dilakukannya banyak menorehkan sejarah, demikian pula dengan keturunannya.

#Demak, 20082015

Referensi:
#Sejarah Semarang, wikipedia
#Dari Kebenaran Lahir Keadilan MenuSkip to content Home About Kisah Seorang Kiai Jawa di Masa Kolonial Belanda SEPTEMBER 22, 2009 BY SOCIOPOLITICA
#E-JOURNAL ELSAONLINE Posted on February 26, 2015 Sosial Kebudayaan Masyarakat Kota Semarang: Warak Ngendok sebagai Simbol Akulturasi dalam Tradisi Dugderan Oleh: Muhamad Zainal Mawahib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar