"Sang Pencerah dan Prinsipnya"
Adzan isya belum lagi usai saat pintu rumah Fatimah diketuk. Rumah yang terletak agak ke pojok gang perumahan itu tergolong sederhana walau pemiliknya seorang anggota legislatif tingkat propinsi Jawa Tengah. Pak Anto namanya. Sudah dua puluh tahun lebih beliau tinggal di sana bersama Fatimah, istri dan ibu dari delapan putra-putrinya. Beberapa putranya disekolahkan di pondok pesantren, jauh dari rumah, tinggal lima orang saja yang masih ada di rumah.
"Assalamu'alaikum, wa rahmatullahi wa barakatuh. Abi pulang ...!"
"Wa'alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh. Alhamdulillah ...," jawab Fatimah menyambut tangan suaminya. Bergegas diambilnya tas sang suami untuk diletakkan pada tempatnya.
"Anak-anak mana, Mi?" tanya sang suami sambil melepas sepatu.
"Sudah berangkat ke masjid, Bi," jawab Fatimah, "Abi nggak ke masjid?"
"Iya, ini mau ke sana, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Selepas menunaikan sholat isya, Fatimah bergegas menyiapkan makan malam. Suami dan anak-anaknya sudah pulang dari masjid.
"Assalamu'alaikum ...!" salam mereka bersahut-sahutan.
"Wa'alaikum salam, ayo semua duduk melingkar, Umi sudah siapkan makan malam," kata Fatimah.
"Ayo berdoa dulu," kata sang ayah mengingatkan, "allahumma baariklana fiima razaqtana wa qiina azab annaar, aamiin."
Seusai makan, anak-anak pun mengaji di rumah ustadzah sebelah rumah mereka.
"Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, secerdas-cerdas siasat ...," gumam Anto lirih.
"Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, secerdas-cerdas siasat ...," ulang Anto lagi.
"Abi sedang membicarakan apa sih?" tanya Fatimah penasaran, diletakkannya piring-piring kotor di tempat cucian. Dicuci nanti saja, pikirnya.
"Umi pernah dengar kalimat tadi?" tanya Anto, "setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, secerdas-cerdas siasat."
"Kayak pernah baca, tapi di mana ya ...? Eh, itu ... kan ...."
"Prinsip pemikirannya HOS Cokroaminoto!" seru Anto cepat.
"Habis lihat film Sang Pencerah ya? Kok Umi nggak diajak ...," sahut Fatimah cemberut.
"Hehe, cuma agak kesal tadi. Kok yang banyak ditonjolkan Soekarno dan Semaun."
"Mereka belajar pada beliau kan?"
"Iya sih, tapi kan nggak cuma mereka, masih ada Kartosuwiryo dan tokoh-tokoh Islam lainnya."
"Hemmm, mungkin karena Soekarno, Semaun dan teman-temannya cukup meninggalkan jejak sejarah sepeninggal beliau."
"Iya, tapi kan sebenarnya mereka tidak menangkap pesan beliau secara utuh."
"Maksud Abi?" tutur Fatimah dengan kening berkerut.
"Prinsip beliau tadi itu loh, Umi sayang. Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, secerdas-cerdas siasat. Prinsip itu tidak terekam dan diikuti oleh Soekarno dan Semaun dengan baik. Juga oleh pengelola negeri ini. Makanya negeri ini, pasca merdeka tetap saja terpuruk. Kalau dulu Bung Karno mencanangkan revolusi mental, mengubah mindset dari 'aku untuk aku' menjadi 'aku untuk bangsa,' tapi beliau sendiri mengkotak-kotakkan elemen masyarakat pada kelompok nasionalis, agamis dan komunis. Karena berbeda ideologi dalam bernegara, kelompok-kelompok ini terus bentrok dan menyuarakan kepentingan kelompoknya sendiri-sendiri. Bukan 'aku untuk negara' tapi 'aku untuk kelompok.' Maka kita lihat, kebobrokan, penjarahan di mana-mana. Sekarang pun tak jauh beda, hampir semua berpikir 'aku untuk aku' dan 'aku untuk kelompokku.' Akhirnya, korupsi, kolusi dan nepotisme menggurita dan mengakar dari golongan atas sampai ke lapisan bawah."
"Umi masih belum mengerti maksud Abi ...."
"Prinsip HOS Cokroaminoto itu bagus banget, Mi. Beliau tak hanya bicara tapi memberi contoh. Beliau menganjurkan pada banyak orang untuk bersungguh-sungguh mencari ilmu. Beliau tak hanya bersekolah tinggi tapi juga mempelajari ilmu agama. Beliau juga membuktikan bahwa menuntut ilmu bisa di mana saja. Banyak anak-anak asuhnya yang menjadi tokoh pergerakan ...."
Udara malam terasa sejuk, mereka pun berpindah ke teras rumah. Samar-samar suara anak-anak yang mengaji di rumah sebelah turut membelai pendengaran, mengalun melenakan.
"Assalamu'alaikum, lagi santai nih, Abi dan Umi?"
"Wa'alaikum salam, sudah makan, Mas?" tanya Fatimah kepada pemilik suara yang baru saja datang, putra sulung mereka, Khairi.
"Sudah, Mi. Lagi diskusi apa sih? Kayaknya asyik banget."
"Sini! Ini penting loh buat pemuda macam kamu. Calon pemimpin je ...," Anto menarik tangan putranya agar duduk mendekat.
"Iya, beda sama Umi, kerjaannya paling nyuci, masak, bersih-bersih ...," celetuk Fatimah sambil berdiri.
"Eit ..., Umi juga harus paham. Kalau Abi tidak ada, Umi kan yang harus memahamkan pada anak-anak, Umi kan ibunya calon-calon pemimpin ...," sahut Anto, "eh, Mas, kamu kan sudah belajar hukum, belajar politik, apa yang kamu tahu tentang HOS Cokroaminoto?"
"Abi bener tuh, Mi," tutur pemuda tanggung 21 tahun itu, "eh, kalau nggak salah, seumuranku beliau sudah jadi pamong praja jaman Belanda ya. Terus, beliau mengundurkan diri karena tidak suka dengan aturan pemerintah yang merendahkan rakyat. Beliau tidak suka memposisikan dirinya sebagai 'gusti' dan rakyat sebagai 'kawulo alit.' Beliau kemudian memutuskan untuk berdagang ...."
"Itu karena beliau sangat memegang ajaran Islam. Di mata Allah kedudukan orang kaya dan miskin sama, yang pejabat dan yang rakyat juga sama, yang membedakan hanya kadar keimanannya saja. Maka, beliau takut, terlalu dimuliakan manusia tetapi dihinakan oleh Allah ...," tukas sang Abi.
"Padahal pejabat sekarang gila hormat, kerjanya cuma plesiran. Gimana mau menyuarakan kepentingan rakyat, ditemui aja susah. Rumahnya dijaga ketat, nggak mau turba. Gayanya sudah kayak raja ...," celetuk Fatimah, "eh, kecuali Abi ya ...."
Fatimah tersenyum kecil, terlintas kembali ingatannya beberapa hari yang lalu ketika tetangganya mengantar seorang tamu yang mencari suaminya.
"Ibu, ini ada yang mencari Pak Anto," tutur Bu Warni diikuti dua orang bapak berpakaian rapi, "ini lho Pak, rumahnya Pak Anto."
"Sampeyan ampun gojekan, mosok aleg propinsi daleme kados ngoten," kata si Bapak agak berang.
"Pripun, Pak? Niki memang daleme Pak Anto, dos pundi? Pak Anto saweg tindhak luwar kutha. Monggo nek badhe pesen, mangke kulo aturke. Kulo garwane," sapa Fatimah halus.
"Oh ..., leres niki daleme? Sanes griya tingkat ageng ngajeng menika?" tanya si Bapak masih tak percaya.
"Menawi badhe tindak mrika nggih pikantuk, ning sanes daleme Pak Anto," jawab Fatimah lagi.
"Ealah, kok yo ono yo, aleg propinsi sing daleme biasa wae, ora koyo pangiroku. Nggih sampun, salam mawon kagem Bapak, mangke sanes wekdal taksowan malih, silaturahmi ...," kata si Bapak sebelum pamit.
"Kok senyum-senyum sih, Mi?" tegur si Abi penasaran.
"Hemmm, cuma keinget tamu yang salah masuk rumah orang," jawab Fatimah, "Abi sih, rumah dari dulu begini-begini saja."
"Apa Umi merasa nggak nyaman tinggal di rumah yang begini-begini aja?"
"Ya nggak gitu, Bi. Kalau Umi sih, yang penting Abi nggak melanggar syari'at, menafkahi keluarga dengan rejeki yang halal, jujur dan tetap perhatian sama keluarga. Tapi ..., kalau punya rumah bagus, ya mau juga, Bi ...."
"Rumah bagus, mewah, uang banyak, hasil korupsi mau? ...," selidik si Abi.
"Ya enggaklah. Buat apa kalau Allah tidak ridha, entar malah diazab dunia akhirat. Hiii ...."
"Nah itu tadi, artinya kembali pada prinsipnya HOS Cokroaminoto ...." Anto kembali mengupas pembicaraan sebelumnya, "manusia memang perlu mencari ilmu setinggi langit, tapi enggak boleh lupa, jika ilmu seluruh penduduk bumi ditambahkan, maka yang sedemikian itu hanya bagai setetes air dibanding selautan ilmu-Nya yang meliputi seluruh semesta. Maka, manusia harus memurnikan tauhid kepada Allah sehingga tak ada ketakutan pada makhluk dalam menjalankan syariat-Nya."
"Kok ...? Ah, Umi mau ambil air minum sama camilan dulu deh di dalam. Abi lanjutin diskusinya sama calon pemimpin kita," tutur Fatimah. Sebentar kemudian kedua tangannya sudah membawa nampan berisi teh hangat dan camilan. Alhamdulillah.
"Kamu ngapain, Mas? Malah mainan hape ...," tegur si Abi pada putra sulungnya. Pemuda itu hanya tertawa kecil sambil asyik dengan hapenya.
"Ini lho, Bi. Saya ingat nyimpen kalimatnya HOS Cokroaminoto yang bunyinya, "Kalau alat-alat pemerintahan yang memegang tampuk kekuasaan pemerintahan, baik pihak pejabat sampai bawahan, sudah tidak takut lagi kepada hukuman Allah, yakinlah negara akan rusak dan hancur dengan sendirinya. Sebab, segala perbuatan jahat, korupsi, penipuan, suap dan sebagainya yang secara terang-terangan merugikan negara, dilakukan dengan aman oleh mereka; rakyat yang menjadi korban.”
"Lha ... itu! Bener itu, Mas. Abi kira mainan hape. Diajak diskusi sama orang tua kok ...."
"Kalau secerdas-cerdas siasat maksudnya apa, Bi?" tanya Fatimah ingin tahu.
"Seorang pemimpin harus pandai mengambil hati orang-orang uyang berseberangan pendapat dengannya agar mereka bisa diberdayakan sesuai kapasitas mereka tapi tidak sampai membahayakan kepentingan negara."
"Oooh ..., bagus itu. Kenapa Abi agak kesal tadi?" tanya Fatimah.
"Soalnya, seolah-olah beliau mengajarkan pemerataan dan kesetaraan ala komunis. Sosialisme yang beliau tanamkan itu sosialisme dalam Islam, jauh beda dengan sosialisme ala komunis ...."
"Sosialisme dalam Islam?" tanya Fatimah lagi.
"Iya, hablum minannas, mengatur hubungan antar manusia, saling menghargai, saling membantu, saling menanggung beban. Umi ingat kisah Sayidina Umar ibnul Khathab ra saat menjadi kalifah? Beliau mengumpulkan zakat dari orang-orang muslim, juga mengumpulkan jizyah dari masyarakat non muslim, menyatukannya dalam baitul maal. Beliau juga menjamin uang kesejahteraan/ biaya hidup tiap-tiap masyarakatnya, sedang beliau dan keluarganya sendiri hidup dalam kesederhanaan, padahal seluruh harta benda yang tak terbilang nilainya dihimpunkan di hadapan beliau. Kita lihat, pada masa pemerintahannya yang singkat, pernah dijumpai tak ada lagi yang merasa pantas menjadi mustahik (penerima zakat), maka beliau mempergunakannya untuk membantu mereka yang kesulitan biaya untuk menikah. Itulah sosialisme yang sesuai dengan ajaran Islam."
Alunan suara mengaji anak-anak sudah tak terdengar, satu per satu dari mereka pun pulang sambil mengacung-acungkan buku ngajinya. Tanpa dikomando, mereka bergegas menempatkan diri di pangkuan kakak, abi dan uminya.
"Wah, calon-calon pemimpin masa depan, gimana tadi ngajinya?" tanya Anto lembut.
"Jayyid jiddan, Bi!" sahut Iffat, Aisy dan Thoriq bersahutan.
"Alhamdulillah, robbana hablana min azwajina wa dzuriyatina qurota 'ayunin lil muttaqiina immaman. Aamiin."
"Aamiin ...." Semua turut mengaminkan doa Fatimah. Jauh di dalam hatinya, ada tekad kuat untuk mewariskan nilai-nilai luhur pendahulunya agar ada di antara mereka yang siap meneruskan perjuangan yang tertunda.
#Demak, 12092015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar