ADIK BARU
Sudah dua minggu ini Fifi selalu murung Setiap kali teman-temannya menanyakan kabar ibunya, dia selalu marah dan tersinggung. Seperti pagi ini ....
"Fi, gimana kabar ibumu?" tanya Hana, teman terdekatnya.
"Kenapa sih, tanya-tanya kabar ibuku terus?" tanyanya ketus.
"Oh nggak, aku kan pengen tahu, adikmu sudah lahir belum?" tanya Hana lagi.
"Memang apa hubungannya sama kamu. Sudah lahir atau belum, itu kan adikku."
"Aku kan ikut senang ...."
"Senang? Huhhh ...!" Fifi mendengus kesal meninggalkan sejuta tanya di benak Hana.
Siang itu Fifi pulang tanpa menunggu Hana. Dikayuhnya sepeda cepat-cepat supaya segera sampai di rumah. Sesampainya di rumah, diletakkannya sepeda begitu saja di halaman, dilemparkannya tasnya di sudut ruang tamu, dihempaskannya badannya di atas sofa dengan keras.
Bruk ... bug ....
Bunda yang mendengar suara benda jatuh segera beranjak dari kamarnya. Dengan hati-hati, dilangkahkannya kaki turun dari tempat tidur agar Arya tidak terbangun. Bocah dua tahun itu baru saja terlelap dalam tidurnya. Perlahan, Bunda berjalan sambil memegang perutnya yang terlihat besar.
"Oh, kamu sudah pulang? Kok enggak beri salam dulu?" katanya pada Fifi.
"Assalamu'alaikum!" katanya ketus.
"Wa'alaikum salam, ada apa sih? Kok putri Bunda cemberut begitu?" tanya Bunda lembut, beliau mengambil tempat duduk di samping Fifi.
"Kok Bunda harus punya adik lagi sih?! Kan sudah ada Arya?!" protes Fifi, "Fifi enggak pengen punya adik lagi. Satu udah cukup!"
"Kenapa? Ini kan anugrah dari Allah. Fifi enggak boleh begitu ...."
"Pokoknya Fifi enggak suka punya adik lagi! Mesti Bunda nanti enggak sayang sama Fifi lagi. Mesti semua-semua buat adik."
Fifi berlari masuk ke kamarnya. Bocah kelas dua SD itu mengunci pintu kamar dan menghempaskan diri di kasur. Ditutupnya kedua telinga dengan bantal agar tak mendengar panggilan Bunda yang terus membujuknya dari balik pintu. Begitu terus ... sampai ia lelah dan tertidur.
Hari sudah mulai gelap saat Fifi terbangun dengan perut lapar. Dicarinya saklar lampu dan menekannya. Lampu pun menyala menerangi kamarnya. Fifi menarik kursi ke depan jendela yang terbuka. Dia segera naik ke atasnya supaya bisa menutup daun jendela. Perutnya mulai berkeriuk. Dia segera ingat, setoples kacang coklat yang disimpannya. Aih, ternyata sudah habis. Dibukanya laci meja, berharap masih ada permen atau camilan yang bisa dimakan. Aih, ternyata sama saja, semuanya sudah habis.
Fifi menempelkan telinganya ke pintu, sepi ... tak terdengar suara dari balik pintu. Perlahan, dibukanya dan mengendap-endap ke dapur. Dengan hati-hati, diambilnya piring, menyendok nasi dan lauk tanpa suara. Dengan tangan kanan membawa makanan dan tangan kiri membawa minuman, Fifi kembali mengendap-endap ke kamar dan mengunci kembali pintunya. Lalu menenangkan perutnya yang bernyanyi.
Malam mulai merayap, rasa sepi dan sendiri mulai membosankan bagi Fifi. Sendiri, tak ada teman, makanan dan minuman yang diambilnya dari dapur juga sudah habis. Fifi kembali mengendap-endap keluar kamar menuju dapur mencari makanan.
Aneh, mengapa sepi sekali? bisik hatinya heran. Dicobanya mengintip ke kamar Ibu, juga sepi. Bunda ke mana ya? Arya juga tidak ada ... Fifi mulai gelisah, dijelajahinya semua ruang, hasilnya sama, tak ada siapa-siapa. Fifi sendirian. Rasa lelah mulai menyelimutinya. Tiba-tiba ....
"Eh, Mbak Fifi sudah bangun. Mandi dulu, nanti terus makan, sudah malam ...," tutur Bik Sarah, tetangga sebelah. Bik Sarah memang sering dimintai tolong Bunda untuk membantu pekerjaan rumah.
"Bunda mana, Bik?" tanya Fifi lirih.
"Bunda dibawa ke rumah sakit bersalin. Arya ikut sama Ayah karena nangis, ndak mau ditinggal. Nanti, Mbak Fifi tidur di rumah Bibik saja ya. Dari pada di sini sendirian aja," kata Bik Sarah panjang lebar.
Tuh kan, Bunda dan Ayah sama saja. Enggak sayang sama Fifi. Masak Fifi ditinggal sendirian di rumah, bisik hati Fifi nelangsa, air matanya menetes satu-satu membasahi pipinya yang chubby.
"Eh, kok nangis? Kenapa, Mbak Fifi?" tanya Bik Sarah bingung.
"Bunda sudah enggak sayang sama aku kan, Bik. Buktinya, aku ditinggal sendirian ...."
"Eh, siapa bilang? Setiap ibu sayang sama anaknya. Buktinya, ibu kamu menitipkan kamu ke Bibik selagi beliau tidak di rumah. Kalau beliau ndak sayang, pasti ndak akan dipedulikan ...."
"Tapi ..., dulu Bunda suka jemput Fifi sekolah, sekarang endak. Dulu ..., Bunda suka ngajakin jalan-jalan, dongengin cerita, sekarang endak," sergah Fifi.
"Perasaan, baru satu bulan lalu Bunda ngerayain ulang tahunnya Fifi deh. Hayoo ..., Fifi dapat kado banyak kan? Dari Bunda, dari Ayah, juga dari teman-teman Fifi. Tul nggak? Itu artinya, Bunda masih sayang sama Fifi."
"Tapi kan ... kalau kadonya mainan buat barengan sama adik."
"La terus ... kalau enggak mainan bareng adik mau main bareng siapa? Nunggu temen-temen Fifi main kemari? Mereka kan enggak bisa sewaktu-waktu diajak main. Kan malah asyik, ada yang nemenin."
"Tapi kan ... adik bisanya cuman berantakin aja. Sebel kan?"
"Makanya, Fifi ajarin dong mainan yang benar, habis main dibereskan lagi. Entar lama-lama adik kan jadi pinter."
"Ah pokoknya Fifi enggak suka adik, ..."
"Ya udah, sementara ini Fifi tidur di rumah Bibik aja. Di rumah Bibik kan enggak ada anak kecil."
Fifi menerima tawaran Bibik dengan gembira. Ditatanya beberapa mainan, buku dan alat tulis lainnya dalam tas. Tak lupa disiapkannya beberapa potong baju, kebetulan sekolah libur tiga hari dikarenakan kakak-kakak kelss 6 sedang melaksanakan ujian nasional. Bunda juga masih di rumah sakit.
Tiga hari di rumah Bibik ternyata tidak semenyenangkan apa yang dia bayangkan. Main sendirian, enggak ada yang diajak ngobrol, enggak ada yang digodain, enggak ada yang diusilin. Aduuuh ... Fifi benar-benar tersadar bahwa apa yang dia pikir adalah salah.
"Bik, kapan Bunda pulang?" tanyanya, "kangen nih."
"Loh, katanya enggak suka adik, kalau Bunda pulang bawa adik lagi gimana?"
Di tengah rasa kangennya, Fifi merasakan ada tangan halus yang menyentuh bahunya dan membuatnya menoleh.
"Bunda! Kapan datangnya? Fifi kangen nih," teriaknya sambil berbalik memeluk ibunya, "eh, perut Bunda sudah kempes? Adik mana, Bunda?"
"Yakin mau ketemu adik? Katanya enggak mau punya adik?"
"Maafin Fifi, Bunda. Sendirian ternyata enggak enak. Fifi kangen Dek Arya. Juga adik yang baru."
Beriringan mereka kembali ke rumah. Dek Arya ternyata sedang tidur pulas sambil memeluk mainannya. Di dekatnya, terbaring seorang bayi yang montok dan terlihat menggemaskan. Fifi mengusap pipinya. Bayi itu terlihat bergerak-gerak mengikuti usapan Fifi. Benar-benar lucu.
"Maafin kata-kata Fifi kemarin, Bunda. Fifi sayang sama Adik tapi Fifi takut Bunda lebih sayang Adik daripada Fifi."
"Jangan kawatir, Sayang. Bunda akan selalu berusaha bersikap adil pada kalian. Kalian semua anak-anak Bunda, sudah tentu Bunda sayang kalian semua."
Bunda memeluk Fifi dengan sayang. Gundah pun pergi dari hati Fifi, dirinya kini mengerti mengapa Hana begitu sering menanyakan tentang kelahiran adiknya. Karena Hana sangat ingin punya adik. Dalam hati dia berjanji, esok pagi akan mengajak Hana main ke rumahnya agar dia bisa ikut melihat adik barunya. Punya adik baru ternyata menyenangkan.
#Demak, 15082015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar