Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Rabu, 30 September 2015

Bisa jadi, masalah itu bersumber pada diri kita

"Bisa Jadi, Masalah itu Bersumber pada Diri Kita"

Siang begitu terik, seorang anak berlarian pulang ke rumah dengan bersungut-sungut. Terlihat sekali bekas-bekas kemarahan pada raut mukanya. Tanpa mengucap salam, dilemparnya tas sekolahnya di atas meja. Kemudian dihempaskannya badannya dengan keras di atas sofa.

Sang ibu yang mendengar suaranya bergegas keluar kamar. Dengan senyum mengembang, dihampirinya buah hatinya.

"Assalamu'alaikum, Mbak Ifa sholihah. Salamnya mana ya?" sapanya lembut.

"Wa'alaikum salam!" jawab sang anak ketus.

Sang ibu tetap tersenyum, lalu duduk di samping sang anak, mengusap kepalanya dan berkata, "kok pulang-pulang cemberut?"

"Mi, aku pengen pindah sekolah. Temen-temenku tuh jahaaat semua. Aku bosen dinakalin terus. Pokoknya aku mau pindah sekolah. Kalo Umi gak mau mindahin, aku mau bilang Abi," jawab si anak nyerocos kayak kereta api.

"Masak sih? Perasaan kemaren-kemaren kamu seneng-seneng aja."

"Iya, itu kan kemaren-kemaren, aku masih bisa sabar. Sekarang, enggak lagi."

"Memangnya, siapa sih yang buat kamu marah?"

"Banyak, Siti, Rini, Tuti, Lia, Tya, ... pokoknya semua."

###

Dalam kisah yang lain, tersebutlah seorang pengrajin kursi yang sedang larut dalam pekerjaannya. Sebuah rangka kayu telah dibuatnya, tinggal menambahkan ukirannya. Maka, diambillah alat ukir untuk menyelesaikannya.

Di tengah-tengah kesibukannya, secara tak sengaja ada serpihan kayu yang sangat kecil masuk ke dalam ujung jarinya. Pasti sakit bila dicabut, pikirnya. Jadilah telusukan itu dibiarkan saja ada di sana. Sehari, dua hari, masih bisa ditahan sakitnya. Hari selanjutnya, jarinya makin memerah dan bengkak, kemudian bernanah. Satu sentuhan saja, akan membuat sakitnya tak tertahankan, apalagi bila ada yang mengajak berjabat tangan. Maka, semua yang menyentuhnya menjadi salah di matanya. Semua dianggap mencari masalah dengannya. Padahal masalah ada dalam dirinya sendiri, telusukan itu. Bila dia segera mencabutnya, memang akan terasa sakit, tapi masalah terselesaikan. Bukan sebaliknya.

###

Dalam kisah yang lain, seorang ibu membelikan celana panjang untuk putranya. Setelah dicoba, ternyata kepanjangan. Sang putra pun menggerutu, "Ibu ini bagaimana sih? Beli celana kepanjangan tiga jari, kan gak enak dipakai."

Selanjutnya, setiap orang dicurhati dan diharapkan membantu, sedang dirinya sendiri pergi untuk membunuh waktu.

Sang ibu pun bergegas mengambil gunting dan memotongnya tiga jari. Selanjutnya beliau rapikan ujungnya sehingga rapi seperti sedia kala. Diletakkannya celana itu di kamar putranya.

Sang kakak perempuan pun begitu sayang pada adiknya, ditengoknya kamar adiknya kemudian dipotongnya celana baru sang adik. Tak lupa dirapikannya ujungnya.

Kakak kedua pun tak kalah sayang, tanpa setahu yang lainnya, dia pun melakukan hal yang sama.

Demikian pula sang ayah, untuk si bungsu apapun akan dilakukan untuk menyenangkannya.

Lihatlah, bukankah itu wujud rasa peduli? perhatian? Lalu, apa masalahnya selesai? Dan ketika anak muda itu pulang, celana barunya memang sudah tidak kepanjangan. Tetapi, karena dipotong empat kali jadi celana pendek. Di mana sumber masalahnya?

###

Begitulah kita. Bisa jadi kita mengalami yang serupa dengan cerita pertama, tetapi sebenarnya, sumber masalahnya ada pada diri kita. Seperti halnya cerita kedua dan ketiga. Dan kita, seringkali sibuk menyalahkan yang lain.

Semestinya kita bercermin, bukankah kita hanya bisa melihat anggota tubuh bagian depan, yang berada langsung di depan cermin. Bisakah kita melihat punggung kita? Lalu mengapa kita tidak bercermin pada saudara kita. Mukmin itu cermin untuk mukmin lainnya. Saling mengingatkannlah. Kemudian, introspeksilah, di saat engkau melihat saudaramu tidak menyenangkan/ menyakiti hatimu, mungkin, engkau lebih dulu tidak menyenangkan/ menyakiti hatinya. Bisa jadi, masalahmu tidak bersumber dari orang lain, tapi bersumber dari dalam dirimu sendiri.

#Demak, 25052015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar