Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 26 Februari 2015

Arinda dan ikan ajaib

Putri Arinda dan Ikan Ajaib
Oleh: Titien SDF

Tersebutlah Kerajaan Permatapuri yang besar dan sejahtera, dipimpin oleh Raja Mandala yang bijaksana. Sang Raja memiliki seorang putri jelita yang terlahir buta bernama Arinda. Sayang sekali, Permaisuri jatuh sakit dan meninggal saat Putri Arinda berumur lima tahun. Sang Raja pun menikah lagi dengan seorang putri kerajaan tetangga yang kemudian bergelar Ratu Carita.

Arinda kecil hidup bersama ayahanda dan ibu tirinya dalam istana. Tahun berganti, Ratu Carita pun melahirkan seorang putri yang sempurna dan kemudian diberi nama Cantika.

Arinda sangat menyayangi Cantika. Apapun miliknya yang diinginkan Cantika pasti diberikan dengan sukarela. Sayang sekali, Cantika mewarisi sifat ibunya yang serakah. Dia memanfaatkan kebaikan Arinda untuk menyusahkannya.

"Kakakku yang baik, terimalah hadiah dariku ini," kata Cantika mengulurkan sebuah gaun penuh noda kepada Arinda. Arinda yang buta menerimanya dengan suka cita dan langsung memakainya.

"Wowww... kau cantik sekali. Kalau Ayahanda pulang dari negeri seberang pasti terpesona," kata Cantika dan Ratu Carita memuji Arinda dengan pujian palsu. Dayang-dayang istana hanya mengelus dada melihat itu semua. Mereka iba dan sangat menyayangi Arinda tapi tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa mendoakan kebaikan untuknya.

Tak disangka, Ayahanda pulang dalam keadaan sakit dan tak sadarkan diri. Tak berapa lama, beliau pun menyusul ibu kandung Arinda ke alam baka. Tinggallah Arinda yang beranjak remaja bersama Ratu Carita dan Cantika.

Dari hari ke hari, Ratu Carita dan Cantika sibuk menggelar pesta. Harta istana pun semakin berkurang jumlahnya.

Syahdan, negara Antah Berantah mengadakan sayembara, mencari seorang gadis yang bersedia menikah dengan ikan raksasa milik Ratu Lavenia. Hadiahnya berpeti-peti perhiasan emas permata.

Ratu Carita dan putrinya pun mengatur siasat untuk mencelakakan Arinda.

"Arinda, ibu lihat engkau telah tumbuh dewasa. Sudah saatnya untuk menikah. Kami sudah menyiapkan segala sesuatunya, besok pagi kami antar engkau menghadap Ratu Lavenia di Kerajaan Antah Berantah untuk menjadi menantunya," kata Ratu Carita penuh tipu daya.

"Tapi Ibu Ratu, Arinda hanya seorang gadis buta. Apakah mungkin mereka mau menerima Arinda?" tanya Arinda penuh ragu.

"Ayolah kak... siapa yang bisa menolak putri sejelita kakak Arinda?" jawab Cantika.

Keesokan harinya Arinda dirias sedemikian rupa. Gaun yang paling indah dikenakan di tubuhnya. Ratu Carita, Cantika dan segenap pengawal mengantarnya dengan kereta kencana. Dayang-dayang melepasnya dengan berurai air mata.

Ratu Lavenia di Kerajaan Antah Berantah menyambut mereka dengan suka cita. Sungguh tak disangka, calon menantunya seorang putri yang cantik jelita dan halus budi bahasanya.

"Benarkah engkau bersedia menjadi menantuku, Putri Arinda?" tanya Ratu Lavenia. Arinda mengangguk penuh malu.

"Menikah dengan ikan raksasa peliharaanku?" tanyanya lagi.

Arinda tersentak kaget. Dengan ikan? Ibu dan adikku tidak memberitahukannya lebih dulu. Arinda terdiam, tetapi tidak ingin mempermalukan ibu tiri dan adiknya. Dia pun mengangguk perlahan mengiyakan. Ratu Carita dan Cantika meninggalkannya dengan senyum kemenangam. Turut mereka bawa pula hadiah berpeti-peti perhiasan emas permata yang Ratu Lavenia janjikan.

Ratu Lavenia mengantar Arinda ke tepian kolam raksasa di belakang istana.

"Di dalam sana suamimu berada. Baik-baiklah kau mengambil hatinya. Kalau tidak, kau bisa menjadi santapannya," kata Sang Ratu sebelum meninggalkan Arinda.

Arinda duduk di tepian kolam tanpa takut. Semua makhluk ciptaan Tuhan dan manusia adalah makhluk termulia, pikirnya. Dipanjatkannya doa pada Tuhan agar diberikan jalan keluar dari masalahnya.

Arinda mulai bersuara lirih, menyenandungkan puji-pujian kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Air kolam mulai berriak, seekor ikan raksasa menyembulkan kepala, memandang takjub pada gadis jelita yang bersenandung lirih di sudut kolam.

"Kau tak takut padaku, putri cantik?" sapanya.

Arinda menoleh ke arah suara dan berkata, "aku dan engkau sama-sama makhluk ciptaan-Nya. Aku tak berbuat jahat padamu dan aku yakin engkau pun tak akan berbuat jahat padaku. Bukan begitu, suamiku?" jawab Arinda.

"Engkaukah itu putri yang rela menjadi istri bagiku? Sedang aku hanya seekor ikan raksasa?" tanya sang ikan padanya.

"Untuk itulah aku di sini, ibu dan adikku mengantarku di sini untuk menjadi istri bagimu. Tapi aku tidak tahu apakah engkau rela beristri putri buta sepertiku," jawab Arinda.

"Aku adalah ikan ajaib, usaplah kepalaku kemudian gosokkan pada kedua matamu. Bila Tuhan mengijinkan, engkau akan bisa melihat," kata sang ikan sambil berenang mendekati Arinda.

Arinda menjulurkan kedua tangannya ke dalam kolam dan meraba-raba. Diusapnya kepala sang ikan dan digosokkan pada kedua matanya. Berikan keajaiban-Mu, Tuhan, pintanya dalam hati.

Arinda mencoba membuka kedua matanya. Ajaib, dia bisa melihat segala macam benda dan warna. Dan juga segala sesuatu yang belum pernah dilihatnya. Dilihatnya pula sosok menyeramkan di dalam kolam di hadapannya.

"Engkaukah ikan itu? Yang telah membuatku bisa melihat?" tanya Arinda.

"Tuhanlah yang membuatmu bisa melihat. Masih bersediakah engkau menjadi istriku? Setelah melihat bentuk tubuhku yang seperti ini?" tanya sang ikan.

"Akan kulakukan sebagai wujud terima kasihku. Pada Tuhan dan juga padamu. Mudah-mudahan Dia akan menolong kita," jawab Arinda.

"Dulu, aku adalah pangeran nakal yang kemudian dikutuk menjadi ikan. Menurut petunjuk yang kuterima, hanya dengan meminum air mata gadis yang suci hatinya maka aku bisa berubah kembali menjadi manusia. Bisakah kau melakukannya?" tanya sang ikan.

Arinda pun mencari cara agar bisa menangis. Dimasukkannya tangannya ke mulut sang ikan dan menyentuh gigi-giginya dengan keras. Gigi-gigi itu mengoyak kulitnya dan mengucurkan darah. Air matanya pun menetes menahan sakit. Ditangkupkannya dua tangan untuk menampungnya dan meminumkannya pada sang ikan. Sang ikan pun terharu dan meneteskan air mata. Butiran-butiran air matanya seketika berubah menjadi mutiara.

Perlahan, air kolam pun bergolak. Sosok menyeramkan pun berangsur lenyap, berganti seorang pangeran tampan yang menggenggam mutiara. Ditempelkannya mutiara pada luka Arinda. Ajaib, mutiara itu hilang bersama lenyapnya luka Arinda.

"Bersyukur pada Tuhan, kau telah dibebaskan dari kutukan," kata Arinda.

"Tentu, mari kita bersama-sama menghadap Ibunda Ratu Lavenia.

"Wijaya... anakku..., kau sudah pulih seperti sedia kala anakku? Bunda sangat gembira. Terima kasih Arinda. Engkau benar-benar putri berhati malaikat yang dikirimkan-Nya," kata Ratu Lavenia menyambut mereka berdua. Segaka sesuatunya pun disiapkan untuk menyelenggarakan pesta pernikahan mereka.

Arinda dan suaminya bersyukur. Arinda tidak menaruh dendam pada ibu tiri dan adiknya. Disempatkannya bersilaturahmi bersama suami tercinta. Terkadang diundangnya ibu tiri dan adiknya untuk berkunjung di istananya. Mereka pun hidup bahagia.

#Demak, 25022015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar