Sahabat keluarga Indonesia Berbekal ilmu, iman dan amal shalih membangun peradaban mulia
Pengikut
Cari Blog Ini
Pengikut
Jumat, 30 Januari 2015
kejutan cinta untuk mutia
Oleh: Titien SDF
"Dik, kulihat engkau sudah siap menikah. Saya punya teman yang juga sudah siap menikah, berakhlak baik, sudah mapan, kalau kamu siap, datanya segera saya kirim."
Kalimat itu terus terngiang- ngiang di telinga Mutia, semenjak Mbak Lena, manajer di tempatnya bekerja mengutarakannya seminggu lalu.
"Ma'af Mbak, mungkin ada yang lebih baik daripada saya. Lagi pula saya sama sekali belum mengenal teman yang Mbak maksud," tolaknya halus waktu itu.
"Tidak, Dik. Dari pengamatan selama dua tahun ini, engkau muslimah yang paling siap berumahtangga. Teman saya ini sangat baik dan sudah seperti saudara. Tentu saja saya tidak sembarangan mengajukan calon untuknya," jelas Mbak Lena.
"Tolong pikirkan baik-baik ya, kutunggu kabarmu dua minggu lagi."
Mutia meninggalkan ruangan Mbak Lena dengan selaksa gundah. Bagaimana mungkin dia bisa memutuskan secepat itu, sedang melihatnya saja belum pernah. Tapi Mbak Lena orang yang shalihah, suaminya juga orang shalih, sudah pasti mereka juga hanya akan menyodorkan calon yang shalih. Jadi, bagaimana dong, pikirnya galau.
"Assalamu'alaikum," sapa sebuah suara. Suara yang sangat dikenal Mutia. Suara Richie, seorang teman lama yang pernah dikaguminya, yang berakhlak santun putra pemilik pondok pesantren tahfidzul qur'an tempatnya dulu pernah menuntut ilmu.
"Wa'alaikum salam," jawabnya agak kikuk. Apalagi ketika Mutia melihat Richie membawa serta kedua orang tuanya. Bertambah sudah tanya melengkapi gundahnya. Dengan bingung, diajaknya kedua orang tua untuk menemui mereka.
"Maksud kami, ingin melamar ananda Mutia untuk anak kami, Richie," kata Ustad Isa Alamsyah.
Mutia bagai disambar petir di siang bolong. Mimpikah aku, pikirnya. Dicubitnya tangan sendiri, sakit, ternyata semuanya nyata, tapi dia masih belum percaya.
"Bagaimana? Masih mau nunggu seminggu lagi untuk menjawab? Entar keduluan orang lho." Tiba-tiba Mbaj Lena sudah berada di belakanfnya sambil tersenyum menggoda.
Oh...ternyata, begitu pikir Mutia. Dengan malu-malu dianggukkannya kepala. Hatinya berbunga-bunga mendapat kejutan cinta.
#Demak, 17012015
selalu ada cahaya
"Selalu Ada Cahaya"
"Apa yang harus kulakukan, Tuhan?" keluh Salsa.
Pagi ini dia melakukan semuanya seperti biasa. Bangun lebih awal, menyiapkan semua perlengkapan yang akan dipakai suami dan anak-anak. Menyiapkan sarapan mereka, dan sejumlah tugas-tugas rumah tangga lainnya. Nyaris sempurna menurutnya, setidaknya ada rasa bahagia melihat semua menghabiskan masakannya dengan lahap tak bersisa.
Anak-anak sudah berangkat bersama ayahnya. Si bungsu masih lelap di kamarnya. Direbahkannya sebentar badan di atas sofa, sedikit mengurai penat sebelum pergi berbelanja sambil menunggu Bungsu terjaga dari tidurnya.
"Tok...tok...tok...."
Terdengar pintu diketuk, Salsa pun bangkit bergegas membuka pintu rumahnya.
"Apa ini rumah Pak Hendra?" tanya seorang bapak kepada Salsa.
"Benar, ada apa ya Pak?" jawabnya sambil balik bertanya.
"Saya hanya mengantarkan tagihan atas nama Pak Hendra. Tolong segera diselesaikan sebelum jatuh temponya. Karena kalau tidak, rumah ini akan kami lelang."
Petir serasa menyambar di pagi hari. Salsa bingung tak habis mengerti. Tergagap, cepat dikuasainya hati lalu memberi jawaban.
"Oh...maaf Pak, surat ini kami terima. Biar saya bicarakan dulu dengan suami saya. Mohon pengertiannya."
Si Bapak mengangguk dan segera berlalu, meninggalkan Salsa yang termangu. Tangannya membuka sampul dan membaca isinya dengan lesu. Hutang sebegini besar mengapa dia tak pernah diberitahu. Untuk apa? Mengapa? Haruskah sampai menggadaikan sertifikat rumahnya? Kapan? Mengapa tak sepengetahuannya?..." sejuta tanya memenuhi rongga dadanya.
Salsa tak ingin gegabah, baiknya menunggu suami pulang sajalah. Segera disimpan surat di dalam lemari tanpa celah, agar tak hilang dan jelas segala masalah. Dilihatnya Bungsu duduk menatapnya berlama-lama. Rupanya sudah hilang lepas kantuknya. Diraihnya segera diajak berbelanja, untuk makan siang, malam dan esok hari yang hendak tiba.
###
Makan siang sudah siap di atas meja. Bungsu bermain di teras sesudah menghabiskan makan siangnya. Satu per satu anak-anak pulang, mencium tangan Salsa yang bergegas mengambilkan makan siang mereka.
Anak-anak yang polos dan menyenangkan. Cukup menjadi hiburan pengganti lelah seharian bagi Salsa. Si Sulung mulai hafal surat-surat pendek dalam juz 'amma. Si Tengah yang terbata-bata tak mau kalah dengan kakaknya. Ketiga, satu-satunya jagoan kecil belajar menghafal doa-doa. Dan Bungsu, dua tahun tapi acapkali menirukan apa yang diucapkan kakak-kakaknya. Mereka adalah permata paling berharga di dunia.
"Assalamu'alaikum."
Salsa mendongakkan kepala. Disambutnya suami tercinta dengan mencium tangannya. Anak-anak mengikuti apa yang dilakukan bundanya.
"Ayah bawa apa hari ini?" celetuk Ketiga, jagoan kecilnya. Salsa memberi isyarat telunjuk di mulutnya, memintanya agar tak menyusahkan sang ayah. Ketiga merengut, Salsa sigap merengkuhnya, menyembunyikan bulir bening di mata ananda.
"Maaf, Ayah lelah. Mau istirahat."
Hendra bergegas masuk ke dalam kamar, menghempaskan tubuhnya di kasur. Sekejap kemudian hanya suara dengkuran yang terdengar. Salsa mengelus dada, ditahannya kesabaran yang ingin segera melempar tanya. Sudahlah, nanti malam saja, setelah hilang semua lelahnya.
"Kring...kring...kring...."
Telepon berbunyi, Salsa sigap mengangkatnya. Ternyata Sang Ibu yang menanyakan kabar cucu-cucunya.
"Tak apa-apa Bu, semua baik-baik saja," jawab Salsa menenangkan Sang Ibu.
"Jangan bohong sama Ibu, Salsa. Ibu sangat tahu kesulitan keuanganmu saat ini. Andai kau masih kerja seperti dulu, tentu Ibu tak terlalu cemas denganmu," sahut Sang Ibu di seberang sana.
"Tak apa Bu, kalau Salsa tetap bekerja siapa yang menjaga anak-anak. Salsa bisa menghemat uang belanja kok, dan juga memangkas pengeluaran untuk dua pembantu per bulannya," Salsa masih mencoba meyakinkan Sang Ibu atas keputusannya menjadi ibu rumah tangga.
"Memangnya Hendra bisa kauandalkan. Suamimu itu hanya numpang hidup. Kalau dulu kamu tak kerja pasti sampai sekarang tak punya rumah dan perabotan."
Salsa mengelus dada, kata-kata Sang Ibu ada benarnya. Namun, bukankah Hendra suaminya, imamnya, hatinya merasa harus memberi kesempatan pada suaminya untuk menunjukkan tanggungjawabnya sebagai kepala rumah tangga.
"Sudahlah Bu, mohon doanya saja. Semoga Mas Hendra dimudahkan urusannya dan bisa menjadi suami dan ayah yang baik."
Salsa menutup telepon, menghentikan pembicaraan. Dia tak ingin terjebak dalam obrolan berkepanjangan, agar tak terlepas rahasia hati yang disimpannya rapat, meskipun dengan Sang Ibu tercinta.
###
Malam merangkak dalam gelap. Anak-anak telah didekap lelap. Salsa menyiapkan dirinya untuk lelaki tercinta. Lelaki yang mengikatnya dalam ikatan suci, disaksikan orang-orang tercinta. Sejauh ini dia telah memberikan segalanya, salahkah bila dia meminta kejelasan? Dikuatkannya hati untuk bertanya, sesaat setelah melihat gurat kepuasan di wajah yang pernah amat dikaguminya, dan sekarang pun masih dihormatinya.
"Mas, ada masalah apakah? Hingga harus berhutang begitu banyak?" tanyanya penuh kehati-hatian.
Hendra terhenyak dalam diam. Dibiarkannya Salsa bercerita tentang kejadian pagi tadi.
"Bukan apa-apa. Hanya investasi masa depan," jawab Hendra ringan.
"Apa Mas Hendra tidak memikirkan untung ruginya?" tanya Salsa gusar.
"Habis bagaimana? Sudah terlanjur. Ya sudah, dibayar saja," jawab Hendra lagi. Dipunggunginya Salsa dan melanjutkan tidurnya. Dibayar pakai apa? Salsa hanya bisa mengelus dada.
"Mas, cobalah minta tolong ayah bundamu. Mungkin mereka bisa meminjami kita dulu," kata Salsa sambil menggoyang-goyangkan tubuh Hendra.
"Kenapa tidak ayah ibumu saja?" balas Hendra malas.
"Aku malu Mas, selama ini sudah banyak merepotkan mereka," jawab Salsa.
"Ya," jawab Hendra sambil melanjutkan tidurnya. Setidaknya, itu mengurangi sedikit beban di hati Salsa. Malam itu masih menyisakan segurat gulana di dalam dada.
Salsa terjaga dari tidurnya yang gelisah, dilangkahkannya kakinya ke kamar mandi. Diambilnya wudhu, lalu mengguyur sekujur badannya, membersihkan setiap kotoran yang tersisa. Dingin malam yang menyegarkan, aku siap menemuimu Tuhan, bisik hatinya.
Hati-hati digelarnya sajadah, menekuni rakaat demi rakaat pertemuan dengan Tuhan, memanjangkan sujud, menghiba sepenuh pinta, mohon ditunjukkan jalan keluar dari masalah yang ada. Serasa Tuhan membelainya lembut, tiupkan kantuk menghantar tidur dalam sujud.
Azan subuh membangunkan lelapnya. Bergegas ditunaikannya salat subuh, kemudian memulai aktifitas seperti biasa. Hampir tiada beda dari hari lainnya. Diantarnya suami dan anak-anak di depan pintu, mengantar kepergian mereka dengan doa nan tulus.
###
Salsa baru selesai memasak, saat didengarnya pintu depan dibuka. Dibalikkannya badannya mencari tahu siapakah adanya? Kiranya Sang Ibu Mertua telah melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Ibu, bagaimana kabarnya?" sapa Salsa sopan, digamitnya tangan Sang Mertua dan diciumnya.
"Tak usah pura-pura baik," jawabnya ketus. Salsa hanya diam.
"Harusnya kau tak keluar dari pekerjaanmu. Harusnya kaubantu suamimu. Bukan hanya menghambur-hamburkan uangnya," katanya lagi penuh amarah.
Salsa tersentak, selama ini justru dirinya yang menanggung beban keluarga. Apa salah bila dia ingin memposisikan suami pada tempatnya. Agar Mas Hendra tak dipandang sebelah mata oleh keluarga besarnya. Hati Salsa berontak, namun rasa hormat pada mertua melarangnya bicara. Dia hanya diam sambil menahan air mata.
Puas berbicara, Sang Mertua pergi begitu saja. Hilang sudah harapan untuk mendapatkan pinjaman, diputarlah otak mencari jalan keluar. Samar-samar terdengar suara ceramah di sebelah rumah, kiranya ada kajian di rumah tetangga. Ingin bergabung tetapi malu rasanya, biarlah dirinya mencuri dengar saja.
"Ibu-ibu yang dirahmati Allah, kita semua terlahir hebat. Coba pikirkan, adakah yang sanggup membawa anak dalam kandungan selama sembilan bulan kecuali wanita? Adakah yang sabar berkarib dengan kotoran dan air mata balita selain wanita? Siapa yang disebut dan dicari saat sakit? Ibu! Wanita!"
Salsa menghela nafas, semua itu benar adanya. Dipasangnya lagi telinganya lebar-lebar.
"Karena itu ibu-ibu, jangan pernah putus asa. Semua pasti ada jalan keluarnya. Inna ma'al 'usri yusro. Fainna ma'al 'usri yusro ( sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan).
Allah menjamin semua. Dia hanya menguji sesuai kemampuan kita. Kalau bersabar, hadiahnya surga. Adakah orang yang tidak ingin masuk surga?" jelas Sang Ustazah panjang lebar.
"Bagaimana kalau ujiannya itu bertubi-tubi Ustazah? Lama-lama kan habis juga sabarnya," terdengar suara ibu-ibu bertanya.
"Rasulullah saw mengajarkan kita, sering-seringlah baca QS Albaqarah ayat terakhir, di dalamnya adalah doa yang artinya: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."
Salsa mengusap wajahnya penuh syukur, apa yang didengarnya tadi menguatkan keyakinan bahwa Tuhannya tidak tidur. Dia Maha mendengar setiap doa. Diambilnya sebuah buku, dicatatnya semua pelajaran hari ini. Kan kubaca setiap waktu agar tak lupa ada Dia yang menjagaku dengan rahmat-Nya, bisiknya.
Samar-samar terdengar suara orang-orang berpamitan dari rumah sebelah, kiranya kajian sudah selesai. Terdengar alunan nasyid sesudahnya, berirama syahdu menghentak-hentak jiwanya.
"Saat lelah, tanpa arah
Terus melangkah, jangan pernah menyerah
Tetap tegar, janganlah pudar
Harus dikejar, biarkan dia berpijar
Meraih semua mimpi, cinta kerja harmoni
Tetap tegak berdiri, bangkitlah dan berlari
Bila ada cahaya, sambutlah dengan cinta
Hapus jejak derita, tetap terus bekerja
Hingga mentari pagi, menumbuhkan harmoni..."
Salsa bersyukur, dadanya kini terada lapang. Selalu ada cahaya, selalu ada jalan keluar, bisiknya penuh percaya.
#Demak, 29012015
persahabatan
"Persahabatan"
Ant adalah seekor semut hitam yang hidup dalam koloninya. Mereka selalu rukun dan tolong menolong. Mengumpulkan makanan bersama-sama dan membaginya dengan adil sesuai kebutuhan. Setiap hari semua anggota koloni berpencar untuk mencari makanan. Bila ada makanan yang tak bisa dipikulnya maka dia akan memanggil kawanannya agar bisa bersama-sama membawa makanan itu pulang ke sarang. Mereka memang selalu mengumpulkan persediaan makanan untuk berjaga-jaga bilamana musim kemarau tiba berkepanjangan.
Pagi itu Ant mencari makanan seperti biasanya. Matanya menangkap sepotong roti ukuran besar. Memikulnya sendiri tentulah sangat menyulitkan, maka ditandainya semua jalan yang dilalui dan dipanggilnya kawan-kawan untuk membantu.
Tidak perlu waktu lama bagi Ant untuk menunjukkan pada kawan-kawannya ke tempat si roti. Hanya saja, mereka mendapati seekor semut merah mendekati roti itu. Tak lama kemudian, dia pun pergi. Mungkin akan memanggil teman-temannya juga, tak boleh keduluan nih, pikir Ant.
Ant mengajak teman-temannya untuk segera berbagi tugas sesaat setelah semut merah pergi. Karena terlalu besar, mereka membagi roti tersebut menjadi dua bagian. Satu bagian mereka pindahkan di tempat yang lain, dua ekor yang lain bertugas menjaganya. Sedang bagian yang lain mereka angkat bersama-sama menuju sarang.
A dan N, bertugas dengan sangat baik. Dari tempat persembunyian, mereka dapat melihat semut merah datang bersama kelompoknya. Semut-semut yang bertampang seram itu seperti gusar mendapati tempat yang ditunjukkan teman mereka kosong, tak ada makanan.
"Kau berbohong!" kata mereka sengit.
"Tidak, demi Tuhan, tadi aku melihat sepotong roti besar di sini. Maka kupanggil kalian untuk membantu," kata semut merah membela diri.
"Mana buktinya! Di sini tak ada apa-apa. Kau membuang-buang waktu kami saja," jawab mereka gusar. Mereka pun segera pergi meninggalkan semut merah sendiri.
Semut merah penasaran dengan apa yang dilihatnya. Jelas-jelas tadi ada sepotong besar roti di sini, ke mana perginya? Dia tak percaya roti itu hilang begitu saja A dan N segera bersembunyi di balik roti yang mereka sembunyikan. Dengan cemas mereka mengamati apa yang dilakukan semut merah. Semut merah sangat gigih mencari, akhirnya dia pun menemukan roti itu.
"Itu dia! Mengapa menjadi lebih kecil? Mengapa bisa sampai di sini?" gumam semut merah.
"Tapi ini masih terlalu besar untuk kupikul sendirian. Baiknya kupanggil lagi teman-temanku. Kali ini mereka akan buktikan kalau aku tak bohong," gumamnya lagi. Dia pun bergegas pergi.
A dan N menunggu dengan harap-harap cemas. Bagaimana kalau teman-teman mereka tak segera kembali? Bagaimana kalau semut merah dan kelompoknya datang lebih dulu? A dan N berdoa, semoga itu tidak terjadi.
A dan N tak perlu menunggu terlalu lama, teman-teman mereka pun segera sampai. Ant meminta semuanya untuk segera membawa roti itu ke sarang mereka. A dan N menceritakan apa yang dilihatnya. Ant memutuskan untuk tinggal dan bermaksud untuk mencari makanan yang lain. Bangsa semut memang terkenal rajin dalam berusaha dan suka bekerja sama.
Ant sedang duduk melepas lelah di belakang batu besar. Semut merah dan teman-temannya pun sampailah ke tempat itu, namun mereka tak melihat Ant.
"Kau berbohong lagi! Kau memang pembohong!" kata semut merah besar, tampangnya seram sekali.
"Tidak, demi Tuhan, aku tak bohong. Tadi ada di sini, terlalu besar kalau kupikul sendirian," jawab semut merah ketakutan.
Semut-semut merah bertampang seram itu merangsek maju, mereka terlihat marah.
"Kau sudah buang-buang waktu kami! Kau harus dihukum!" kata semut merah besar, yang lain membenarkan. Mereka pun mulai memukuli semut merah yang sudah ketakutan. Ant melihat itu semua dari tempat persembunyiannya, hatinya bergidik ngeri. Untung hal semacam itu tak pernah terjadi di koloninya, Ant benar-benar bersyukur memiliki teman-teman yang baik dan begitu dekat seperti sebuah keluarga.
Semut-semut merah seram itu meninggalkan teman mereka dalam kesakitan, kakinya patah dan sekujur badannya lebam-lebam. Ant sungguh merasa kasihan, didekatinya si semut merah yang sudah tak berdaya. Dia mencari selembar daun kecil dan membantu semut merah berbaring di atas daun kemudian menarik dengan sekuat tenaganya. Dia bermaksud membawa makhluk tak berdaya itu ke sarangnya dan merawatnya di sana. Teman-temannya pasti akan membantunya.
Dengan susah payah, akhirnya Ant sampai juga di sarang. Dipanggilnya teman-temannya untuk membantu mengangkat si semut merah ke dalam salah satu
bilik.
"Akan...kau...a...pa...kan...a...ku...?" tanya si semut merah.
"Jangan takut, aku Ant dan mereka teman-temanku, kami akan menolongmu," jawab Ant, di belakangnya A dan N mengangguk membenarkan.
"Oh...te...ri...ma...ka...sih..., pang...gil...a...ku...Mut...," kata semut merah terbata.
Ant dan teman-temannya merawat Mut dengan tulus. Beberapa hari kemudian Mut mulai membaik. Dia mulai bisa berjalan dan melakukan aktifitasnya sendiri. Meskipun Ant dan teman-temannya memperlakukan dengan sangat baik, namun Mut tetap merindukan keluarganya sendiri.
"Maaf Ant, bolehkah aku pulang?" tanyanya suatu hari.
"Mengapa Mut? Bukankah mereka jahat padamu?" Ant balik bertanya.
"Tidak Ant, mereka hanya menegakkan disiplin. Memang, aturan di koloni kami sangat keras. Semua pembohong harus dihukum agar tak berbohong lagi. Yang malas harus dilatih dengan keras supaya rajin. Itu bukan jahat Ant," jelas Mut.
"Tapi, bukankah waktu itu kau tak berbohong?" tanya Ant lagi.
"Tapi aku gagal membuktikan perkataanku, " jawab Mut," bagaimanapun, mereka adalah keluargaku. Yang membersamai hingga aku tumbuh dan menjadi besar."
Mut sudah membulatkan tekad untuk pulang, Ant pun tak bisa menahannya lebih lama. Mereka berpisah dengan janji akan tetap menjadi sahabat dan saling mengunjungi.
#Demak, 30012015
elis di negri ajaib
Elis di Negri Ajaib
Oleh: Titien SDF
Siang terasa panas membakar, menerbitkan haus dan rasa lapar di perut Elis. Anak perempuan usia sepuluh tahun itu bergegas mengayuh sepedanya lebih cepat. Sesekali diusapnya keringat yang menetes di wajahnya, bocah bermata bulat itu lekat memandang ke depan, ke arah rumahnya yang sudah mulai terlihat. Tak berapa lama kemudian, dia pun tiba di rumah. Rumah mungil bercat hijau dan kuning, di halaman terdapat sebuah pohon mangga yang cukup rimbun dan lebat buahnya. Di sudut-sudut halaman berjajar buna mawar dan melati. Sungguh sebuah rumah mungil yang cukup asri.
Elis menyandarkan sepedanya di teras. Masuk ke dalam, meletakkan tas sekolah dan mengganti baju seragamnya. Musik di dalam perutnya semakin keras terdengar olehnya.
"Bu, Ibu..., masak apa hari ini? Elis sudah lapar nih."
Elis menengok ke setiap kamar mencari ibunya. Ternyata ibu sedang menidurkan Sisi, adik bungsunya yang berusia tiga tahun.
Elis bergegas membuka meja makan. Dilihatnya sepiring tempe dan tahu goreng, semangkuk sayur bayam, semangkuk nasi dan dua butir telur tersaji di sana.
"Huh, tempe tahu lagi, bayam lagi... bosan...," gumamnya.
"Elis, kalau sudah selesai makan nanti, tolong cari adikmu. Tadi pamitnya mau beli jajan sebentar tapi kok tak pulang pulang," kata Ibu yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Elis. Rupanya Sisi sudah tidur.
"Elis malas makan Bu. Mau ambil mangga saja," jawabnya bersungut-sungut.
Ibu hanya mengelus dada. Toko Ayah sedang sepi, jadi Ibu harus menyiasati begitu rupa agar akhir bulan mereka tak terlalu kebingungan dengan urusan perut.
Elis melangkah keluar, dipanjatnya pohon mangga dan mengambil beberapa yang sudah masak. Dengan pisau yang dibawanya dari dapur, Elis mulai mengupas dan memotong mangga. Potongan daging buah mangga yang manis itu dimasukkan satu demi satu ke mulut sambil duduk di bawah pohon. Sepoi angin membawa kantuk mengatupkan kedua kelopak matanya.
Tiba-tiba Elis melihat seekor kelinci memakai pakaian layaknya manusia. Dilihatnya dia berlari menuju sebuah lubang besar. Rasa ingin tahu membuat Elis mengikutinya. Elis melongokkan kepala ke dalam lubang di mana kelinci tadi menghilang. Elis mulai memasukkan kakinya ke sana. Terasa badannya meluncur dalam sebuah terowongan yang amat panjang.
"Ini seperti main papan seluncur," gumamnya sambil tertawa.
Ujung terowongan berakhir pada sebuah padang rumput yang amat luas. Terlihat sebuah rumah kecil di sana, bentuknya benar-benar menyerupai tempat tinggalnya.
Elis melangkahkan kakinya, dilihatnya kelinci tadi sedang duduk di teras rumah. Terlihat jelas dia memakai kaus merah bertuliskan huruf B berwarna biru. Itu seperti yang sering dilihatnya di sebuah majalah anak-anak, pikir Elis.
"Hai!" sapa Elis.
"Hai juga! Bagaimana kau bisa sampai sini?" tanya kelinci itu.
"Wowww...kau bisa bicara ya. Aku mengikutimu tadi," jawab Elis.
"Panggil aku Bobo," kata si kelinci menunjuk ke dadanya sendiri.
"Aku Elis. Ehm, mau main ke rumahmu, bolehkah?" tanya Elis lagi.
"Tentu saja boleh, ayo masuk!" ajak Bobo.
Elis melangkah masuk ke dalam rumah. Ditebarkannya pandangan ke seluruh penjuru, penataan dalam rumah ini pun benar-benar menyerupai tempat tinggalnya. Elis tertegun. Di sebuah sudut ada kelinci tua sedang membaca koran.
"Itu Bapak, ayahku," kata Bobo memperkenalkan. Kelinci itu menurunkan sedikit korannya, melihat Elis, tersenyum lebar, kemudian melanjutkan membaca.
Seekor kelinci lain muncul membawa nampan berisi kue-kue dan meletakkannya di meja. Dia memakai rok panjang.
"Itu Emak, ibuku," lanjut Bobo lagi.
Emak mengulurkan tangannya menyalami Elis, kemudian kembali masuk ke dalam.
Seekor kelinci berkaus kuning berlari sambil membawa sesuatu. Satu lagi yang berkaus hijau mengejarnya. Kelihatannya mereka sedang berebut.
Emak kembali muncul dengan beberapa gelas minuman. Sepertinya menyegarkan, pikir Elis. Dia tak menyia-nyiakan kesempatan saat Bobo menyodorinya segelas. Dituangkannya isi gelas di mulutnya hingga tak bersisa.
"Coreng, berbagilah dengan adikmu!" seru Emak kepada kelinci berkaus kuning. Oh, namanya Coreng, pikir Elis.
"Upik nakal Mak, dia mematah-matahkan krayonku," jawab Coreng sambil terus mempertahankan sesuatu. Kiranya itu adalah sekotak krayon miliknya.
"Upik! Sini!" panggil Bobo. Kelinci berkaus hijau berhenti mengejar Coreng dan bergegas menghampiri Bobo.
"Kakak punya sesuatu untukmu. Ini...," kata Bobo sambil mengeluarkan sekotak krayon dan sebuah buku dari dalam tas dan memberikannya kepada Upik," jangan berebut lagi dengan Kak Coreng ya...."
"Upik, minta maaf dulu sama Kak Coreng. Lain kali jangan merusak milik kakak ya. Itu tidak baik, sayang...," kata Emak menasehati.
Upik pun dengan malu-malu mendekati Coreng. Diulurkannya tangannya untuk meminta maaf. Coreng menyambutnya hangat dan menariknya dalam pelukan.
"Maafkan kakak juga ya," katanya," kakak sayang Upik."
Elis tergugu melihat itu, ada rasa malu yang menjalar di hatinya. Terbayang olehnya bagaimana dia marah saat Asep atau pun Sisi mengambil barang-barangnya tanpa ijin. Elis selalu langsung merebutnya sehingga barang itu menjadi rusak dan Elis selalu menyalahkan adik-adiknya.
Diingat-ingatnya siang tadi, Ibu menyuruh mencari Asep tetapi dirinya sama sekali tak melakukannya. Ah... tiba-tiba perutnya terasa lapar sekali. Elis mengelus perutnya yang sejak pulang sekolah tadi belum diisi.
"Sepertinya sudah waktunya makan nih. Yuk kita makan sama-sama, ayo... Nak Elis, makanlah bersama kami," kata Emak kepada semua. Emak sudah menyiapkan berbagai makanan di atas meja makan. Ada nasi, tempe dan tahu goreng, sayur bayam dan irisan buah mangga. Lagi-lagi seperti di rumah, pikir Elis.
Emak menyendokkan nasi, sayur dan tahu tempe di piring Elis. Sebenarnya Elis ingin menolak, tapi demi melihat ketulusan di wajah Emak dirinya jadi tidak tega melakukannya. Lagi pula musik di dalam perutnya semakin keras menghentak, dia malu kalau yang lain sampai mendengarnya.
"Ayo berdoa dulu!" kata Bapak memimpin yang lain untuk berdoa," ya Allah, berkahilah apa-apa yang Engkau limpahkan kepada kami, dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka, aamiin."
"Aamiin...," semua mengaminkan doa Bapak.
Elis mencoba menikmati makanannya seperti yang lain. Ajaib, semua terasa lezat sekali di mulutnya. Dengan malu-malu Elis minta ijin untuk menambah makanannya. Perutnya terasa kenyang sekali sekarang.
"Maaf Mak. Kenapa masakan buatan Emak terasa lezat sekali? Tidak seperti masakan Ibu di rumah. Padahal kan masakannya sama," tanya Elis penasaran.
"Di rumah Elis sudah baca doa sebelum makan?" tanya Emak,"atau... makannya sambil marah?"
Elis menggeleng, kok Emak tahu sih kalau dia sering lupa baca doa.
"Lain kali, jangan pernah lupa berdoa. Keberkahan itu ada pada doa-doa kita, itu yang membuat kita bisa merasakan kelezatan," jelas Emak panjang lebar.
"Satu lagi, kalau kita makan sambil marah, rasa lezat yang ada pada makanan kita akan hilang, tertutup oleh pahitnya rasa marah," kata Emak lagi," kenapa Nak Elis makan sambil marah?"
"Elis kan juga ingin makan pakai lauk ayam, ikan atau daging. Kalau tahu, tempe, telur sama sayur terus kan bosaaan...," rajuk Elis.
"Hargailah jerih payah orang tua, mereka sudah susah payah bekerja. Semua untuk kalian, anak-anaknya. Bersyukurlah, masih banyak anak-anak yang tak seberuntung kalian. Nak Elis pernah lihat anak-anak berrumah kardus di pinggiran kali? Atau yang hidup dekat pembuangan sampah?"
"Pernah lihat mereka di TV, Mak. Memangnya mereka ada?" tanya Elis.
Emak tersenyum, kemudian berkata," mereka ada Nak Elis, bersyukurlah, engkau tidak hidup dalam keadaan seperti mereka."
"Bagaimana cara bersyukur, Mak?" tanya Elis lagi.
"Kita harus tolong menolong, sayang menyayangi, tidak suka bertengkar, tidak suka marah, mau berbagi...bla...bla...bla...," kata Bobo.
Emak tersenyum, mengelus kepala Bobo kemudian berkata," Bobo benar. Kalau kalian berbuat demikian tentu ayah dan ibu akan senang, ridho. Kalau sudah demikian Allah juga akan ridho kepada kita."
Elis menunduk, betapa selama ini dia hanya mementingkan perasaannya saja. Selalu menutup telinga setiap kali Ibu menasehati. Berantem dengan adiknya sudah biasa. Ah, Elis merasa bersalah. Tiba-tiba rindu memenuhi hatinya. Air matanya menetes, ingin rasanya berlari dan minta maaf kepada Ibu dan juga adik-adiknya.
"Hari sudah sore, baiknya Nak Elis pulang. Orang tua Nak Elis tentu cemas mencarimu," kata Emak," Bobo, antar Nak Elis pulang ya."
"Baik Mak. Ayo Elis...ikuti aku," kata Bobo.
Elis pun berjalan mengikuti Bobo, mereka berhenti di bawah pohon mangga. Angin bertiup kencang, Elis pun menutupi matanya dengan dua tangan agar tak kemasukkan debu.
"Mbak Elis! Bangun Mbak! Sudah sore... dicari Ibu."
Sebuah suara terdengar sangat dekat di telinga Elis, serasa ada yang mengguncang-guncang badannya. Elis pun membuka mata.
"Eh...Asep," katanya kaget campur senang. Ditariknya sang adik dalam pelukan dan berbisik," maafkan kakak ya."
Asep mengangguk senang, mereka pun bergandengan masuk ke dalam rumah.
"Eh...kalian sudah pulang, ayo segera mandi gih," kata Ibu saat melihat mereka.
Elis mendekati Ibu, mencium tangannya dan berkata," maafkan Elis, Bu. Selama ini sering menyusahkan Ibu."
"Sudah Ibu maafkan sebelum Elis minta. Ibu sayang Elis, Asep dan Sisi. Ibu sayang kalian semua," kata Ibu lembut, dipeluknya Elis dan Asep dengan bahagia. Elis terharu dan berjanji dalam hatinya, mulai sekarang Elis akan jadi anak yang baik dan sholihah. Senyum pun mengembang di wajahnya. Ah, dunia kini terasa lebih berwarna.
###tamat###
#Demak, 31012015
Selasa, 20 Januari 2015
munajat
Oleh: Titien SDF
Ya Robb, aku menaburkan syukur, di atas bumi tempatku bersujud, merendahkan kepala dan segenap anggota tubuh, di bawah pengawasan netraMu yang Maha Teduh, memutari setiap celah semesta penuh seluruh.
Wahai Pembagi Keadilan, tak terbilang sudah karunia nikmat Kauberikan, anggota tubuh yang amat menakjubkan, rejeki dan anugrah berkecukupan, keluarga sakinah nan menyejukkan, kumohon juga padaMu akhlak yang ihsan, dan tundukkan hati penuh keikhlasan.
Wahai Penguasa Semesta, aku menerbitkan asa, pada sebulir ilmu yang kutanam, berharap darinya kan tumbuh pohon kebajikan, melempar buahnya yang manis tuk jiwa-jiwa dahaga, melumat angkara membersihkan dosa, bekal perjalananku ke akhirat sana.
Ya Illahi Penerima taubat, tak terbilang sudah gulma maksiyat, memenuhi kebun dalam dada menutup makrifat, sungguh tak putus kuberharap rahmat, agar tak ada celah untuk hati yang khianat, semoga tak menjadi bagian dari hambaMu yang terlaknat.
Ya Robbi, aku menagih simpati, berlindung dari neraka dan adzab keji, mencoba membeli surga penuh kenikmatan haqiqi, bersanding dengan para kekasihmu yang kurindui, berpuas memandang keelokan wajahMu Yang Maha Suci, kabulkanlah pintaku ini, aamiin
#Demak, 15012015
aku mencarimu
AKU MENCARIMU
Aku mencariMu Tuhan, dalam dunia penuh kenikmatan, pada anak keturunanku nan elok menawan, dalam naungan rumah megah nan nyaman, di antara semua perniagaan, firmanMu pun turun penuh ancaman, di ayat dua puluh empat surah sembilan
Aku mengunjungiMu, membawa semua keberdayaanku, dalam kesakitan para hambaMu, terbawa tangisan si yatim penuh pilu, dhuafa menahan lapar nan membelenggu, tertindas dan terkapar sendu, dengan sedikit uluran tanganku.
Aku memanggilMu Ya Rohmaan, melalui setiap huruf kueja, kupungut dari kitab mulia, menyelisik mempelajari maknanya, hayati dan coba amalkan isinya, membacakan dan mengajarkannya, kepada setiap jiwa, berharap keberkahanMu di sana.
Aku menemuiMu, menyungkurkan kepala menyempurnakan ketundukan, berbasah air mata mendesah do'a, menghiba seluruh cemas mengikuti untaian dosa, melabuhkan harap diterima selaksa taubat, angankan ridho dan ampunanMu, maka temuilah aku dan kabulkanlah pintaku, aamiin
#Demak, 15012015
senandung rasaku
Oleh: Titien SDF
Senja masih terlihat sama
Hampir tak berbeda di hari-hari lalu
Semburat merah di ufuk barat
Tetap saja tak mengedipkan mataku
Awan yang menindih nakal
Tak pudarkan pendar sinarmu
Senja masih berlama-lama
Mengarak burung-burung camar
Melintasi ufuk entah kemana
Dan laut yang menangkap cahaya
Membiaskan dengan indahnya
Melagukan nyanyian penghuninya
Aku masih di sini
Sama seperti hari kemarin
Menapaki senja berbalut sepi
Meniup ilalang, menerbangkan mimpi
Membisikkan pada angin sebuah elegi
Mengajak kupu-kupu menari
Senja mulai temaram
Membangunkan kunang-kunang
Cahayanya berkerlipan
Menampakkan wajah sendu
Melagukan tarian rindu
Dalam asaku..dalam rasaku
#24112014#
Puisi ini ada dalam buku 'senandung serunai'
bukan perempuan biasa
Bukan Perempuan Biasa
Oleh: Titien SDF
"Assalamu'alaikum. Boleh pinjam catatannya? Tadi ane telat," kata Richie pada Mutia. Gadis itu hanya mengangkat kepala, menjawab salam, menyodorkan sebuah buku, dan kemudian berlalu, nyaris tanpa kata.
Richie menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ini sudah modus ketiga yang dilakukannya untuk memperoleh perhatian Mutia. Kemarin Mutia hanya menggeleng saja saat disodorkannya seikat bunga dan sekotak coklat. Beberapa hari yang lalu, surat cintanya bahkan diberikan Mutia pada Lena, mantan yang masih suka rese kepedean.
"Kasihan...kasihan...kasihan, " celetuk Permana sambil geleng-gelenf kepala," dicuekin lagi ya Chie...hehe."
"Bantuin kek, malah ngeledek...sialan lu," umpat Richie kesal.
"Gue bilangin ya, Mutia itu bukan perempuan biasa, tak seperti Dian, Lena, Widi atau mantan-mantanmu yang lain," jelas Permana sambil tersenyum. Gue juga ngarep Chie, bukan cuma elu aja yang naksir Mutia, pikirnya.
"Maksud lu Mutia termasuk jeruk makan jeruk?" selidik Richie penasaran.
"Jiaahh...sekate-kate elu ye," sungut Permana," Mutia tuh bukan cewek yang mau diajak pacaran. Kalau elu masih ngarepin dia, pantesin dulu diri elu, ibadahnye, ngajinye, kalau udah, buruan lamar die."
"Begitu ya? Kok, elu tau sih?" kata Richie.
"Soalnya Babenya bilang gitu kemarin, waktu gue coba main ke rumahnya," jawab Permana kalem.
"Jadi...???"
#Demak, 18012015
.
Jumat, 09 Januari 2015
sajadah cintax
Penulis: Titien SDF
Sebongkah asa menyelinap diam-diam
Menyusup perlahan ke ceruk batin paling dalam
Hembuskan semilir segar udara di rongga dada
Berkembang kempis nafas mencium aromanya
Mataku menangkap bias cahaya
Pada seraut wajah bersinar penuh pesona
Menunduk khusyuk melantunkan ayat-ayatNya
Menenggelamkan fikir di kedalam risalah mulia
Hanyutkan luka, sampaikan pada muara
Mensyukuri setiap nikmat yang selalu saja ada
Mengagungkan asmaul husna, di ujung sajadah cinta
#Demak,09012015
teruntuk imamku
Penulis; Titien SDF
Aku memujamu dalam hening diam
Tak mampu merangkai aksara pujangga. Hanya berharap, olehmu kan terbaca
Cinta yang kusematkan dalam setiap bahasa
Dalam gerak, pun apa yang terhidangkan
Ada kasih sayang dan doa melengkapi bumbunya
Agar sampai padamu segala rasa di jiwa
Wahai zauji mulia
Shighot nikah yang kausabda
Adalah payung segala gelisah yang menghujani asa
Bukakan langkah bersama meniti jembatan ridhoNya
Lindungi kehormatan dari fitnah dunia
Menapaki jalan beriringan menuju surga
Padamu kuserahkan jiwa dan raga
#Demak, 05012015
dunia sudah tua
Penulis: Titien SDF
Ada yang menari gembira
Tenggelam dalam gemerlapan pesta
Bau alkohol di mana-mana
Pikiran melayang entah kemana
Terangguk berputar ke dunia mimpi
Kesucian pun sudah tiada arti
Kata mereka: hidup cuma sekali
Mari puaskan diri
Ada yang menatap hampa
Pikiran kosong tak ada isinya
Kerjanya cuma makan dan tidur saja
Seharian tak lakukan apa-apa
Mungkin baginya hidup tak berasa
Mati pun tiada beda
Lalu dengan sadar
Mengusir sendiri nyawanya
Ada yang menangis pilu
Sekedar makan pun tiada mampu
Apalagi untuk mencari ilmu
Lalu mereka turun ke jalan
Berharap pada para dermawan
Terkadang pun bermain sulap
Memindahkan isi dompet orang
Ke dalam perut tanpa ketahuan
Aih...dunia sudah tua
Tangan dan kakinya tak lagi kuasa
Menahan manusia dari berbuat dosa
Hanya air matanya
Berlinang menenggelamkan
Badannya berguncang membinasakan
Tak berguna sesal kemudian
Berubahlah selagi ada kesempatan
#Demak, 29122014
petuah bunda
Penulis: Titien SDF
Dunia masih berputar pada porosnya
Setiap yang bernyawa melangkah mengikuti pusarannya
Siang berganti malam dan juga sebaliknya
Hampir tak terasa dua puluh empat tahun lamanya
Sezaman tangis si sulung nan keras menyapanya
Lalu lisanku pun menguntai selarik pesan penuh makna
Ananda, banyak sudah pemuda mengambil masanya
Mengukir sejarah menorehkan tinta
Membumikan karya, mengilhami dunia
Menggoreskan nama nan dikenang selamanya
Tugasmu kini tuk menggantikannya
Buat alam semesta tersenyum bangga
Masa manja pun lewat
Petuah bunda harus slalu diingat
Senyum bahagia di wajahnya, lukislah dan pahat
Ridhonya memesankan sebuah tempat di akhirat
Rasul memberi syafaat, bagimu ampunan dan rahmat
Duniamu selamat, surga firdaus pun kaudapat
#Demak,09012015
oh, tidak
OH, TIDAK
Penulis: Titien SDF
Oh, tidak
Kesempurnaanmu menyilaukan mata
Menyeret arus kesetiaan berujung petaka
Sampan yang kupunya hanya sampan biasa
Tak kan mampu arungi jeram berbahaya
Bencana mengintai di tiap tikungannya
Biar saja, tak mengapa
Kaubilang diriku terpenjara
Dalam balutan pakaian taqwa berjela-jela
Sembunyikan mahkota pada tempatnya
Biar saja seribu cela nyinyir menyapa
Asal tak kehilangan cinta kasihNya
Oh, tidak
Inikah yang kausebut cinta?
Meminta berdua, bermesra sebelum waktunya
Hendak renggut ketaatanku dan mencampakkannya
Pada akhirnya kan kautinggalkan jua
Biar saja, tak mengapa
Kunanti seorang lelaki sederhana
Bijak bestari, bersandar diri padaNya
Santun bertutur, muliakan yang tua
Ikatkan janji dalam naungan Yang Maha Kuasa
#Demak, 06012015
jejak cemburu
JEJAK CEMBURU
Penulis; Titien SDF
Hening memecah kesunyian
Memeluk selimut tertinggal bayangan
Angan berlari mengejar kerlip bintang
Mengintai tiap sudut istana langit, di manakah kau gerangan?
Ekor mataku menemukan dirimu
Bersimpuh syahdu dalam balutan wudhu
Air mata tercurah berlantun sendu
Dia yang kautuju, padamkan api cemburu
Kutuang seluruh isi lesung kejujuran
Biar kudampingimu tanpa keraguan
Nyalakan pelita dalam biduk kehidupan
Bercinta bersama denganNya sebagai tujuan
Pelangi di matamu membias syahdu
Rengkuh asaku dalam dekap harapmu
Tapaki jalan yang sama hendak dituju
Hilangkan risau, hapus jejak cemburu
#Demak, 06012015
cinta bukan nafsu, anakku...
CINTA BUKAN NAFSU, ANAKKU...
Penulis: Titien SDF
Kenang waktu masa kanak-kanak dahulu
Dalam buaian, elok nian menggemaskann
Sakit yang kaurasa habiskan istirahatku
Celoteh riangmu sulut rasa bahgia
Aih, besar nampaknya buah hatiku
Ranum merona kemilau serupa bunga
Menggoda kumbang dan kupu-kupu
Berebut hampir tuk hisap madumu
Ada rasa menggelegak jiwa
Saat bibir mungilmu melepas tanya
Meminta ijin berkasih mesra
Kiranya seseorang hendak mencuri putiknya
Cinta bukanlah nafsu, anakku
Waspadalah pada setiap bujuk rayu
Mahkotamu hanya ada satu
Selayaknya kau jaga selalu
Cinta bukanlah nafsu, ananda
Yang mencinta kan mengikatnya
Menjaga dan melindungi dari azabNya
Dalam shighot nikah yang diridhoiNya
#Demak, 06012015
biarkan ku mendua
BIARKAN KU MENDUA
Penulis: Titien SDF
Y
Kidung malam mengelus lembut
Selaraskan nada dalam temaram peraduan
Sentuhanmu menembus ceruk kalbu
Melukis mahligai dalam surga dunia
Lambungkan asa semaikan rasaku
Detak waktu pun mengguncang malam
Bangunkan ruh-ruh pencari rahmatNya
Mata mengerjap dalam selimut cinta
Akal melintas mencari seribu cara
Membayang sabda Rasul atas kekasihnya
Biarkan aku mendua
Melepas selimut bersuci rasa
Menghampiri rahmat dan ampunanNya
Memohon segala pinta sepenuh jiwa
Satukan kita juga di akhirat sana
#Demak, 06012015
maaf, aku tak bisa
MAAF, AKU TAK BISA
Penulis: Titien SDF
Masih kuingat saat-saat pertama dahulu
Tak sengaja bertatap muka denganmu
Tubuh tegap ideal tanpa celaan
Bintang lapangan dalam setiap kesempatan
Mata elangmu membuat penasaran
Aku membaca pesanmu
Kausematkan di mading sekolah waktu itu
Aksara indah menguntai menjadi satu
Melambungkan anganku
Merebut seceruk asa nan tersimpan rapi dalam kalbu
Bimbang mengembara relung jiwa
Saat pintamu beriring jalan berdua saja
Tak kenal waktu inginmu ku slalu ada
Sedang ikatan tak jua payungi rasa
Celotehmu hanya ingin senang-senang saja
Maaf, aku tak bisa
Biarkan lidah ularmu memagut asa
Jiwa ragaku masih milikNya
Penguasa cinta dan pemilik segala
PadaNya kupasrahkan semua
#Demak, 06012015
assalamu'alaikum, Indonesia
Penulis: Titien Sumartini Dwifatmasari
Assalamu'alaikum, Indonesia
Begitu banyak burung yang terbang hari ini
Terbang membawa berbagai berita
Tentang artis, pengamat dan pemimpin negri
Pun hiburan, bencana serta peristiwa lainnya
Assalamu'alaikum, Indonesia
Aku mencintamu dengan sederhana
Tak ada harta, permata, juga istana
Tuk buktikan rasa yang kupunya
Hanya jiwa dan raga
Assalamu'alaikum, Indonesia
Untukmu kurapal mantra-mantra cinta
Mendoa keselamatan, rahmat dan berkahNya
Mengulurkan tanganku, hapus air mata
Mencoba mengukir lagi sejarah mulia
Assalamu'alaikum, Indonesia
Yang bisa kuberi tak seberapa
Hanya guratan ajakan pada sesama
Bangkitkan semangat cipta, karsa dan karya
Harumkan kembali namamu, bersihkan nodanya
Assalamu'alaikum, Indonesia
Setulus pinta pada Pemilik Segala Kuasa
Rengkuhmu dalam setangkup doa
Lantunkannya bersama sujudku di sepertiga malam
Semoga selamat, rahmat dan berkah menaungimu senantiasa
#Demak, 08012015
serumpun pinta
Penulis: Titien SDF
Siang membagi rata cahayanya
Mengguratkan pesan pada kuntum- kuntum bunga
Kembara menerbangkannya, menabur rangkaian cerita
Bertutur perihal seutas luka
Benteng alam menghijau tak lagi ada
Yang tertinggal hanya jejak-jejak bencana
Nasionalisme kehilangan gelora
Tertimbun individualisme bermahkota angkara
Pertiwi bersimbah darah dan air mata
Malam menjawab dalam senyap
Mengutus bintang rembulan menembus gelap
Cahayanya menebar asa penuh harap
Bertutur dari lisan-lisan mulia
Di ujung sajadah sepertiga malamnya
Melantunkan ayatNya dalam serumpun doa
Ya Robb, pintaku sederhana saja
Bangkitkan negriku, sadarkanlah pemimpinnya
Rahmati bangsaku, sejahterakanlah rakyatnya
Angin berhembus semilir
Mengaminkan setiap alunan dzikir
Sisipkan isyarat pada setiap jiwa
Bahagia itu sederhana saja
Saat jiwamu bermakrifat padaNya
Ujian pun serasa bagai karunia
Karna hidup hanya bersandar padaNya
PemberianNya, dan kembali padaNya
#Demak, 08012015
bila saatnya tiba
..
"Bila saatnya tiba"
"Ayo, Arief, kita pulang..." kata seorang perempuan muda. Penampilannya anggun dengan balutan baju kurung dan jilbab coklat muda. Tangannya menggamit seorang anak laki-laki usia sepuluh tahunan. Tangan kirinya memegang keranjang berisi buah dan sayuran. Perempuan itu adalah ibunya, dan anak laki-laki itu adalah dirinya beberapa tahun yang lalu. Tiba-tiba sekelebat bayangan menyambar, mengambil sebagian kesadarannya. Sayup-sayup masih didengarnya suara ibunya yang tak henti-henti memanggil.
"Arief... Arief..." Suara itu masih terus terdengar, kali ini terasa ada yang menggenggam tangannya, perlahan Arief pun membuka mata.
Arief mendapati dirinya berada dalam sebuah ruangan putih bersih, selang-selang terpasang di tubuhnya. Tubuhnya menggigil kedinginan walau tertutup selimut tebal. Di pinggir tempat tidur, seorang gadis menangis, menelungkupkan muka sambil menggenggam tangannya. Seperti Ayu, adiknya, tapi... mengapa tangannya hanya sebelah? Ke mana tangan kanannya? Ah, pasti bukan Ayu, lalu siapa? Berbagai pertanyaan memenuhi benak Arief, tiba-tiba kepalanya pusing sekali, seolah dipukul palu godam yang sangat besar. Sontak, Arief menarik tangannya memegangi kepala. Gadis di depannya terlonjak kaget, didongakkanlah muka menatap tubuh Arief.
"Alhamdulillah, Mas Arief sudah siuman. Terima kasih Ya Allah, atas kuasaMu." Gadis itu menghambur memeluk Arief dengan berurai air mata.
"Syukurlah, Mas. Ayu takut kehilanganmu," isaknya perih. Arief membuka mata, diturunkannya kedua tangannya.
"Kamu... Ayu?" tanya Arief terbata.
"Iya, Mas. Kecelakaan itu... kereta... Mas Arief tidak ingat?"
Arief menggeleng. Dicobanya mengingat-ingat... kecelakaan... kereta... ah, samar-samar ingatan itu pun muncul di kepalanya. Saat itu mereka melepas penat setelah seharian bekerja di pasar. Ya, Arief adalah ketua kelompok anak jalanan. Berbeda dengan kelompok anak jalanan lain yang kerjaannya tak jauh dari malak, nyuri dan ngemis, Arief tak segan-segan menghajar anah buahnya yang kedapatan melakukan tiga hal tersebut.
"Biar kita tak punya apa-apa, kita harus makan dari yang halal, kerja apa saja boleh, mbantu tukang semir, ikut tukang loper koran, atau mbantu bawakan belanjaan orang di pasar atau bantu cuci piring di warung. Itu semua mereka lakukan agar bisa makan makanan halal.
Malam itu, mereka bersembilan. Seperti biasanya, mereka memanfaatkan gerbong kereta barang yang kosong untuk melepas penat. Lelah yang bersangatan mengantar kantuk yang tak tertahan, lelap sudah setiap diri di alam mimpi, hingga tak sadar kereta ikut berangkat malam itu dengan tujuan Surabaya.
Laju kereta meninabobokan semua. Ayu berbaring di dekat pintu dan Arief di sebelahnya untuk menjaga. Yang lain meringkuk di dalam. Semua terbawa dalam lelap. Entah mengapa kereta berguncang keras, Ayu yang terbangun, setengah sadar berusaha melihat keluar. Laju kereta memelantingkan tubuhnya keluar, spontan dia berteriak keras. Arief dan yang lainnya terbangun kaget. Panik rasanya melihat Ayu tak ada di sisi, hanya terdengar teriakannya. Arief pun meloncat di antara deru laju kereta. Hups... dan entahlah... apa yang terjadi selanjutnya, tahu-tahu dirinya sudah berada di sini.
"Apa yang terjadi, Yu?" tanyanya ingin tahu.
"Malam itu, saat terjatuh tanganku berusaha bertahan memegang pintu kereta, tapi sia-sia. Laju kereta begitu cepatnya, rodanya melindas tangan kananku, setelahnya aku tak ingat apapun."
Ayu mengambil segelas aqua di meja, meminumnya beberapa teguk lalu melanjutkan ceritanya.
"Saat kuterjaga, tanganku sudah tak ada. Aku mencarimu, ternyata kau pun terbaring di sini, tiga hari tak sadarkan diri, dengan kepala terbalut perban, benar-benar membuatku cemas setengah mati."
Arief menghapus air mata di pipi Ayu, hatinya tersayat melihatnya kehilangan satu tangannya. Kau pasti sudah susah payah menahan lukamu sendiri Yu, dan tak kauhiraukan rasa sakit itu karena kecemasanmu terhadapku, jerit batinnya.
Arief masih memandangi Ayu, tiba-tiba ia merasa bersalah. Ah, andai dia tak mengajaknya pergi, andai Ayu tetap di Sukabumi. Bersama Emak dan ayah tirinya, atau bersama Bapak dan ibu tirinya, atau bersama Nenek, pasti tangannya masih utuh. Arief menghela nafas, penyesalannya tak putus-putus.
"Yu, maafkan Mas Arief ya, tidak bisa menjagamu dengan baik," katanya lembut.
"Tak ada yang perlu dimaafkan, Mas. Mas Arief adalah kakak yang paling baik buat Ayu. Ayu sudah cukup senang melihatmu berangsur membaik," jawab Ayu.
"Tapi Yu, siapa nanti yang membiayai perawatan kita?"
"Saat kecelakaan pada malam itu, ada sepasang suami istri yang sedang dalam perjalanan pulang. Hanya mereka yang kebetulan ada di sana. Merekalah yang membawa kita kemari, mereka pula yang menanggung semua biaya perawatan kita," jelas Ayu.
Tak berapa lama, Pak Agus dan Bu Dian muncul dari balik pintu. Wajah mereka cerah bersinar, tersenyum melihat Arief sudah siuman.
"Kenalin Mas, ini dokter Agus dan suster Dian, mereka yang kuceritakan tadi," kata Ayu.
"Ayu sudah cerita banyak tentang kalian. Bagaimana kalau selanjutnya nanti kalian ikut membantu mengasuh anak-anak jalanan di rumah singgah yang kami kelola. Di sana ada beberapa teman relawan yang memberi kursus ketrampilan dan berbagi pengetahuan juga," tawar Bu Dian pada Arief dan Ayu.
Arief memandang Bu Dian dan Pak Agus berganti-ganti, benaknya dipenuhi rasa tak percaya, lagi pula dia belum tahu kabar tentang ke tujuh anak asuhnya, entah bagaimana nasib mereka sekarang.
"Tak usah dijawab sekarang. Pikirkan saja dulu. Dua tiga hari nanti mungkin kamu sudah bisa meninggalkan rumah sakit," kata Pak Agus.
"Teman-teman saya, kabarnya bagaimana, Pak?" tanya Arief.
"Sementara mereka ditampung di rumah singgah, Mas. Pas kejadian itu, mereka semua ikut meloncat turun dari kereta," jawab Ayu.
Arief menghela nafas lega, bagaimana pun ia merasa ikut bertanggungjawab atas keselamatan mereka. Hilangnya sebelah tangan Ayu sudah cukup memangkas ketegaran hatinya dan membuatnya merasa bersalah.
"Oke..., silakan dipikirkan masak-masak, kami mau melihat keadaan pasien-pasien yang lain," kata Pak Agus lagi. Arief dan Ayu mengangguk.
"Ayu, maafkan Mas ya. Andai kau tetap bersama Emak..." kata Arief lirih. Angannya kembali melayang ke masa silam. Saat itu Bapak ketahuan berselingkuh dan memiliki istri lagi. Dia yang memergokinya memberitahu Emak. Mereka pun bertengkar hebat, Bapak marah dan mengusirnya pergi. Usianya baru sepuluh tahun waktu itu, dan keras kepala, tak dihiraukannya seruan Emak yang memanggilnya berkali-kali, yang berlari mengejarnya tapi ditahan Bapak.
Arief memandang Ayu lagi. Sejak kejadian itu Arief hidup di pasar, bersama Ibu tua penjual daun pisang. Dia selalu menyempatkan diri menengok rumah, sekedar melepas rindu kepada Emak dan Ayu, walau hanya memandangnya dari balik pagar. Karena Bapak mengurung mereka berdua di rumah. Dua tahun kemudian, entah apa yang terjadi, Emak dan Bapak berpisah, tapi tak lama kemudian Emak menikah lagi. Arief sempat pulang, tapi ternysta ayahnya yang sekarang lebih kejam. Dia tak segan menyiksa mereka bertiga. Arief tak tahan, diajaknya Ayu lari dari rumah dan kembali ke pasar, bersama Ibu tua penjual daun pisang.
Pikiran Arief menerawang, entah di mana sekarang Emak berada. Tiba-tiba rasa rindu menyergapnya, mengingatkannya pada masa kecilnya yang indah saat Emak dan Bapak masih bersatu dalam kemesraan.
Ayu tertidur lelap di sampingnya, gurat-gurat kelelahan tergambar di wajahnya, wajah gadis lima belas tahun yang seharusnya penuh binar ceria, melewati masa remaja dengan teman sebayanya. Bukan seperti sekarang, bersamanya, apa yang dia tahu tentang wanita. Ah, Arief benar-benar merasa bersalah.
"Tuhan, beri aku waktu. Mudahkanlah menjaga adikku, sampaikanlah pada satu waktu di mana aku dapat membawanya pulang dan melukis sebentuk senyum di bibir ibuku. Arief berjanji Mak, bila saatnya nanti kami akan pulang membasuh kakimu, insya Allah," gumamnya.
#Demak, 31122014
cermin retak
Cermin Retak
Penulis:Titien SDF
"Mah, taklihatin statusnya Pakd
e Putra," kata Musa tiba-tiba. Tina yang sedang membaca koran mendongak seketika. Dihampirinya Musa yang sedang asyik di depan laptop. Di layar terlihat jelas akun facebook dengan nama 'Pangeran Sambernyowo' dengan gambar seorang laki-laki muda tampan melipat tangan di depan dada. Jelas sekali itu bukan gambar kakaknya.
"Lihat, Mah. Statusnya berpacaran sama Aisyah. Aisyah itu temanku, Mah. Dia anak SMA kelas 3 di Semarang, ini taklihatkan fbnya.
"Ah, masak sih. Di situ kan tidak ada foto-foto Pakde," jawab Tina tak percaya.
"Fbnya Pakde gak cuma ini Mah. Ada lima, pertemanan sama aku semua. Nih taklihatkan kalau Mamah gak percaya." Musa memperlihatkan beberapa akun fb dengan nama 'Denmas Sastro, George Michael, Peniup Seruling dan Lukisan Malam'. Semua dengan gambar orang lain, dan semua berstatus berpacaran dengan anak-anak SMA.
"Di situ juga gak ada foto-foto Pakde, jangan ngaco ah," kata Tina, tetap tak percaya.
"Ya udah, Mamah gak percayaan, kasihan Bude Mah, Pakde main gila." Setengah putus asa, Musa mematikan laptopnya, dan berpamitan mau main futsal dengan teman-temannya. Tina hanya tersenyum mengiyakan.
"Kriiiinnng....kriiiinnng!"
"Assalamu'alaikum," jawab Tina.
"Wa'alaikum salam. Dek Tina ya, Mas Putra di situkah?" Rupanya itu suara
Mbak Omi, istri Mas Putra, ada apa gerangan ya, pikirnya.
"Gak ada ki Mbak, memangnya ada apa?" tanya Tina.
"Beberapa waktu yang lalu, hapenya kubuka saat dia tidur. Isinya buat kumenangis. Sms-an dengan anak-anak SMA, isinya menjurus-menjurus gitu. Waktu kutanyakan, dia malah marah dan pergi dari rumah," kata Mbak Omi sambil terisak. Oalah, jangan-jangan yang disampaikan Musa benar.
"Memangnya Mas Putra sms-an sama siapa sih, Mbak?"
"Banyak kok, Dik. Ada Aisyah, Cacha, Meli, Santi sama Novi."
"Masak iya sih, Mas Putra pacaran dengan banyak gadis remaja. Gak level kan kalau pria 40 tahun pacaran dengan gadis belasan tahun. Apa mereka lihat sambil merem?" sergah Tina masih tak percaya.
"Kata Bagus, mereka kenal lewat fb," kata Mbak Omi.
"Jadi, Bagus tahu kalau ayahnya begitu?" tanya Tina.
"Iya, Bagus pernah bilang dulu, katanya Musa juga tahu, tapi aku gak percaya." Tina terhenyak, jadi Musa benar. Kalau begitu, penyakit lamanya kambuh. Dia tahu betul Mas Putranya itu memang playboy waktu muda. Tapi, saat menikah dengan Mbak Omi, dia jadi bapak dan suami yang baik, setidaknya menurut pemikirannys. Siapa sangka penyakitnya itu bisa kembali setelah sekian lama. Bagus sudah tujuh belas tahun, seumuran Musa dan dua adiknya Aji dan Nana, masing-masing usia dua belas dan delapan tahun. Ini mesti gara-gara facebook, pikirnya.
"Ya sudah, Dik. Kalau Mas Putra mampir situ, suruh pulang ya, Nana sakit," kata Mbak Omi menutup pembicaraan.
"Beep...beep...beep." Ada sms masuk, dari nomor yang tak ada dalam kontak, siapa ya," pikir Tina.
"Dik, tolong mintakan restu Ibu, Mas mau nikah. Ttd: Mas Putra." Ternyata dari Mas Putra, dicobanya menelponnya, tidak ada yang mengangkat. Dicobanya lagi beberapa kali, masih tak ada jawaban. Ditulisnya sms balasan.
"Kenapa Mas? Nana sakit, Mbak Omi mencarimu ke mana-mana, kok Mas malah mau nikah lagi?"
"Mas terpaksa, keluarganya mengancam kalau Mas gak menikahi Aisy, dia sudah telat dua bulan, Mas khilaf," bunyi sms balasan.
"Sudah berapa lama Mas, kamu menjalin hubungan dengannya?"
"Dua tahun, tapi baru ketemu lima kali," balasnya lagi.
"Baru ketemu lima kali, dan sekarang sudah hamil dua bulan? Bagaimana bisa?"
"Jangan menghakimiku, mintakan restu saja pada Ibu, aku malu mengatakannya sendiri," balasnya lagi. Dasar keras kepala, Tina benar-benar bingung menghadapi kakaknya.
Ibu marah besar ketika mendengar kabarnya, maklum Ibu pemuja kesetiaan dan beliau down saat tahu anak kesayangannya ternyata pengkhianat kesetiaan.
"Aku tak mau dia datang ke sini dengan istri barunya. Bagiku menantuku hanya Omi, cucuku hanya Bagus, Aji dan Nana," katanya sambil berurai air mata.
"Anak-anakku cucu Ibu juga kan, suamiku masih menantu Ibu juga kan?" kata Tina agak cemas, jangan-jangan dia harus ikut menanggung kesalahan Mas Putra.
"Tentu saja," jawab Ibu. Huft lega rasanya.
Tina tak habis pikir, apa yang ada di kepala Mas Putra. Punya banyak akun facebook dengan nama yang berbeda satu sama lain, identitas palsu dan status yang mengundang kontroversi hati. Apa enaknya hidup dikejar-kejar masalah. Keluarga berantakan, ortu marah, saudara juga tak ada yang mau membela. Seperti cermin retak.
"Sa, Mamah gak mau kamu ikut-ikutan Pakde, merugikan banyak orang tahu. Dan, suatu saat nanti itu pasti mengundang banyak masalah buat dirimu sendiri. Seperti pakdemu," nasehat Tina pada Musa.
"Tentu dong Mah, kalau Musa mau nakal, Musa gak akan ceritakan keburukan Pakde sama Mamah, karena Musa pengen Mamah nasehatin Pakde. Kan gak pantes kalau Musa yang nasehatin," jawab Musa.
Tina bersyukur, hatinya tak putus berdo'a," robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota 'ayunin waj'alna lil muttaqiina imaama, aamiin."
#tamat#
Demak, 01012015
kepada pengukir jiwaku
.KEPADA PENGUKIR JIWAKU
Kupersembahkan ungkapan hatiku ini untuk Ibundaku tercinta, Ibu Endang Djuwitaningsih
Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu.
Salam takzimku, Bunda. Semoga selalu dalam lindunganNya, yang tak pernah tidur dan lelah, Penerang segala gulita dan Penghilang segala resah, Pembuka jalan keluar dan Pemutus segala masalah. Dan aku bergantung kepadaNya atas segala sesuatu.
Mohon maaf, Bunda. Belum bisa kulukis senyum bahagia, di sebentuk lisan nan mulia. Pun tiada mampu, guratkan rasa bahagia di wajah nan penuh cahaya, milikmu. Kejujuran yang pernah kauajarkan, terkadang menyempitkan langkah kami. Namun kusadari kini, itulah jalan yang Dia ridhai. Kelembutan yang kauberikan, sirami hati kami, tumbuhkan rumpun- rumpun bunga, berputik kasih sayang pada sesama. Warnanya segar menyejukkan mata, terus bertumbuh di segala cuaca, buatku dikelilingi banyak teman dan saudara.
Masih kuingat, Bunda. Bagaimana kauhentikan tangisku, saat kanak-kanak dahulu. Kauledakkan tawa gembira yang membuncah di dada, saat di dekapmu, saat bersama rengkuhanmu. Untaian cerita dari bibirmu, tentang akhlak mulia dan pohon kebajikan. Kubawa selalu dalam kalbu dan kubagikan untuk anak-anakku.
Masih tergambar nyata, Bunda. Saat penyakit mendera, belai lembutmu di kepala antarku tertidur, pulas dalam dekapan kasihmu, obati segala derita dan bangunkan dalam rasa segar seolah tak pernah terjadi apa-apa. Taman indah yang kaubangun di hati kami, sungguh tiada bandingannya. Amarahmu memagari kami dari perbuatan tercela. Danau kecil yang kaubuat tiada pernah kering dari petuah-petuah yang kaukucurkan setiap harinya. Tak habis kami reguk dan berenang sepuasnya di dalamnya. Lalu kupindahkan pada surga kecil yang kubuat sendiri, di rumah kami, di hati kecil cucu-cucumu.
Bunda, darimu aku belajar, menajamkan lisanku dengan ajaran mulia, agar rumah tanggaku sakinah, mawaddah wa rahmah, agar cucu-cucumu sholih-sholihah. Kau telah memahat kehidupanku dengan sangat indah, mengukir jiwaku dengan penuh kasih, dengan tanganmu yang lembut, tatapan teduh di matamu, dan seluruh anggota tubuhmu. Begitu pun yang ingin kulakukan. Kan kupersembahkan anak-anak yang kan mengukir sejarah, selayak Ibunda para nabi, selayak Ibunda para syuhada, selayak Ibunda para pemimpin, selayakmu jua, Ibundaku.
Aku tahu, Bunda. Duka kami adalah dukamu, masalah kami hilangkan kantukmu, suka cita kami cucurkan air matamu dan kami seolah tak punya waktu. Tuk mengunjungi taman kecil di hatimu. Tempat pohon kesabaran tumbuh menjulang. Di setiap cabang dan rantingnya menyembul buah keimanan. Menyenangkan hati sesiapa yang memandang, mengundang takjub dan rasa hormat pada jiwamu nan mulia.
Aku tahu, Bunda. Di senja usia, engkau masih punya cita-cita, melihat semua putra bahagia, kemudian bertamu ke rumahNya penuh cahaya, di Baitullah, tempat umat seluruh dunia berkumpul, bertasbih, bertahmid, bertahlil dan mengucap takbir mengagungkan asmaNya. Berlari kecil antara Shofa dan Marwa selayaknya Hajar Bundanya Ismail as. Thawwaf, mencium Hajar Aswad dan melempar jumrah di sana. Wukuf di Padang Arafah, menggulirkan semua asa dan harap agar Dia anugrahi kami kebaikan dunia-akhirat.
Bukan, Bunda. Kami tak pernah lupa pada jejak cinta yang kautinggal dalam sanubari, hanya belum bisa merawat bunganya. Amanah yang kami terima, kadang-kadang melenakan, melipat banyak waktu untuk kebersamaan, menggunting kesempatan untuk bersilaturahmi. Namun kami tetap berupaya, mengayuh kewajiban agar tertunai semua, juga untukmu, Bundaku.
Bunda, biar kutemuimu di ujung sajadah, di sepertiga malam yang terakhir. Pintaku kan memeluk harapmu, doaku kan mendekap impianmu, kita lantunkan bersama dalam ketundukkan, menagih simpatiNya untuk wujudkan mimpi kita.
Bunda, bersabarlah, aku juga rindu. Pasti kan kuluangkan waktu, mengetuk pintu rumah bersama suami dan anak-anakku, bawakanmu sebongkah rindu yang kusimpan, mengkristalkan air mata haru di pelupuk mata. Tunggu aku, Bunda, saatnya hampir tiba.
Wassalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu.
Peluk cium penuh kasih sayang dari kami, permata hatimu.
#Demak, 27 Desember 2014
pengorbanan seorang ibu
.
PENGORBANAN SEORANG IBU
Aku mengelus-elus perut. Hari ini kandunganku genap berusia delapan bulan, berarti tak lama lagi anak pertamaku akan segera lahir. Aku dan Mas Anto sudah menyiapkan beberapa nama, untuk bayi laki-laki dan perempuan. Kami memang belum tahu jenis kelaminnya, aku menolak diUSG walaupun mendapatkan fasitas gratis di RS tempatku bekerja. Biar surprise, laki-laki atau perempuan sama saja, toh selama ini kandunganku baik-baik saja.
Setahun ini aku ditugaskan di Ruang Kebidanan setelah tiga tahun sebelumnya bertugas di Ruang ICU. Praktis, aku sudah biasa melayani pasien yang akan melahirkan sehingga tidak kawatir. Kami telah menyiapkan baju-baju dan perlengkapan bayi lainnya.
Siang itu, seorang pasien masuk dengan diagnosa G2P1A0, 32 tahun, usia kehamilan 36 minggu, gemeli, bekas sc. Aku segera memeriksanya.
"Bukaan 4, ketuban masih utuh, satu letak kepala, satu sungsang, kepala sudah turun, djj jelas, " kataku pada Bu Woro, bidan seniorku.
" Sipp," sahut Bu Woro," tapi pasien minta diusahakan partus normal. Tolong kau konsulkan ke dokternya Wi," katanya lagi.
Aku segera menghubungi dr Risty, kebetulan beliau sudah selesai dengan praktek siangnya sehingga bisa langsung datang ke ruangan.
"Oke, kita upayakan normal dulu. Bayinya tidak besar kok, insya Allah bisa. Anak pertama sudah empat tahun kan," kata dr Risty setelah memeriksa keadaan pasien.
"Mbak, kayaknya sudah bukaan 7 nih, siapkan alat-alatnya sekarang ya," katanya lagi.
Kami pun segera menyiapkan alat-alat dan mulai membantu persalinan. Alhamdulillah, Bu Kamila, pasien itu, tidak termasuk pasien yang rewel. Bibirnya tak henti-henti berdzikir. Kami pun bisa bekerja dengan tenang.
Memang, ada sebagian ibu yang terus menangis dan berteriak-teriak selama proses persalinan, dan yang begini kami rasa agak mengganggu. Terkadang, teman-teman yang kurang sabar sampai berkata," istighfar to bu, bikinnya aja ketawa-ketawa kok sesudah jadi, tinggal ngeluarin aja pake teriak-teriak."
Tak sampai 30 menit bayi pertama pun lahir, seorang bayi perempuan, lengkap dan sehat. Tangisnya nyaring sekali. Kami sedikit lega, Bu Woro segera menyerahkannya pada Mbak Marni untuk dibersihkan. Tinggal satu bayi lagi.
Aku memberi minum Bu Kamila, memberi sedikit waktu baginya untuk memulihkan tenaganya. Dia meminumnya sedikit dan melanjutkan dzikirnya. Dr Risty melakukan palpasi di perutnya untuk mengetahui posisi bayi yang kedua.
"Subhanallah, posisinya berbalik," serunya tertahan," sekarang kepalanya sudah mulai turun."
Sepuluh menit kemudian bayi perempuan yang kedua lahir, lengkap dan sejat pula. Tangisnya tak kalah keras dari yang pertama. Tak berapa lama placentanya pun keluar. Alhamdulillah, ibu dan bayinya selamat.
"Alhamdulillah," desisku lega. Sejujurnya, aku ikut tegang selama proses persalinan. Perutku mengeras karena kontraksi. Mungkin bayiku juga merasakan ketegangan yang sama, kuelus-elus perutku untuk menenangkannya.
Kejadian itu sangat membekas di hatiku, menenangkan hatiku menghadapi kelahiran bayiku yang semakin dekat.
#####
Seminggu kemudian...
Saat itu pukul sembilan malam. Aku dan Mas Anto sedang asyik menonton TV di rumah. Kami suka acara 'dagelan' Semar, Gareng, Petruk. Mereka bertiga sukses mengocok perut kami. Perutku sampai keras sekali dibuatnya.
"Yang, ambilkan minum dong. Kering nih," pinta suamiku manja.
Aku segera bangun. Tapi, apa ini, pikirku. Aku tidak merasa buang air kecil, tetapi mengapa banyak sekali air yang keluar dari bawah perutku. Kiranya ketubanku telah pecah. Bajuku basah semua. Mas Anto panik.
"Kamu kenapa Yang?," tanyanya kebingungan.
"Mungkin sudah waktunya Mas," kataku. Aku bergegas mengganti bajuku yang basah kuyup dan memberitahu Ibu di kamarnya. Memang, sejak 4 bulan lalu kami memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuaku supaya bisa membantu Ibu merawat Bapak yang terkena Gagal Ginjal Akut. Alhamdulillah sekarang Bapak sudah membaik, sudah bisa turun dari tempat tidur dan ke kamar mandi sendiri.
Mas Anto segera memesan taksi. Ibu membawakan tas yang sudah kupersiapkan sejak seminggu yang lalu. Malam itu juga aku berangkat ke RS ditemani suami dan ibuku. Aku belum merasakan sakit sedikitpun.
Perjalanan ke RS hanya memakan waktu 20 menit dari rumah. Teman-teman menyambutku dengan canda. Aku menolak duduk di kursi roda dan memilih jalan sendiri sampai ruangan. Bu Woro dan Bu Wahyu menyambutku sambil tersenyum.
"Ndak takut kan, Dewi. Ndak apa-apa kok, ingat Bu Kamila?," tanya Bu Woro.
Kulukis sebentuk senyum di bibirku," ya, Dewi ingat kok. Insya Allah Dewi bisa," kataku kemudian.
"Bapak dan Ibu keluar sebentar ya, kami mau periksa Dewi dulu," kata Bu Wahyu pada suami dan ibuku. Mereka pun segera keluar ruangan.
"Gimana Wi, sudah mulai sering kontraksi? Tiap berapa menit?," tanya Bu Wahyu sambil melakukan palpasi di atas perutku.
"Ehm...belum sering sih Bu, kira-kira tiap seperempat jam," jawabku sambil mengingat-ingat berapa kali tadi sudah kontraksi.
" Kepalanya masih tinggi nih, belum turun," katanya.
"VT dulu ya Wi," kata Bu Wahyu.
Aku mengangguk, menekuk kedua kakiku dan membukanya lebar-lebar.
"Baru bukaan dua, ketuban sudah pecah, kepala belum turun," katanya lagi.
Bu Woro mengambil vetalphone, mengoleskan jelly di atas perutku dan mulai memainkan sticknya mencari letak denyut jantung bayiku. Terdengar suara detaknya olehku, aku lega, bayiku baik- baik saja.
"Masih lama Wi. Jangan turun dulu, nanti ketubanmu habis. Biar kupanggilkan suami dan ibumu. Kalau sudah mulai sering kontraksi bilang ya. Kami mau melihat keadaan para bayi dulu," pamit Bu Woro.
Hatiku mulai dag dig dug.
Suami dan ibuku pun masuk. Ibu banyak bercerita tentang saat-saat beliau melahirkan aku dan adik-adikku. Semua berjalan normal dan baik-baik saja. Tentunya beliau ingin menenangkanku agar tidak terlalu tegang.
Mas Anto menghiburku dengan cerita-cerita lucu sehingga membuatku ingin tertawa walau perutku mulai mengencang, punggungku terasa pegal-pegal.Kugigit bibirku, berusaha menahan semua kesakitan yang kurasakan. Ibu memintaku berbaring miring, beliau memijat-mijat punggungku dengan lembut. Itu sedikit mengurangi rasa sakitku. Mas Anto berhenti bercerita, digenggamnya tanganku erat-erat seolah ingin menyalurkan kekuatannya padaku.
Jam dinding menunjukkan pukul 02.10 saat Bu Woro dan Bu Wahyu datang untuk memeriksaku kembali. Suami dan ibuku keluar. Gigiku gemeriyut menahan sakit.
"Aku periksa lagi ya Wi," kata Bu Wahyu. Aku mengangguk.
"Baru bukaan tiga. Sebentar, aku konsulkan dr Risty ya Wi kayaknya harus dipacu. Takut ketubannya keburu habis."
Bu Wahyu segera menelpon dr Risty mengabarkan keadaanku.
Tak berapa lama dia sudah membawa infus dan peralatan lainnya. Aku hanya diam saat jarum infus menusuk lenganku. Hatiku mulai ciut, rasa takut mulai merayap. Obat pemacu dimasukkan ke dalam cairan infus yang terpasang di lenganku. Perlahan-lahan rasa sakit di perutku semakin lama semakin bertambah. Ya Robbana, seperti inikah sakit yang dirasakan Ibu saat melahirkanku.
Aku memejamkan mata mencoba berdzikir, namun sakit ini tiada berkurang juga. Bayang-bayang kenakalanku melintas silih berganti. Betapa seringnya aku menyakiti hatinya. Betapa seringnya aku membuatnya menangis. Ampuni aku Ya Allah, aku merasa jadi anak durhaka. Kupanggil Ibu dan suamiku. Kupegang tangan mereka berdua dan meminta maaf atas semua salahku. Ibu memelukku, membuatku agak tenang.
"Ya Robbi, aku sudah minta maaf pada ibuku tapi mengapa sakit ini semakin menjadi, " aku gusar, aku meracau. Suamiku membawakan semangkuk bubur kacang hijau hangat dan memintaku makan, tapi aku tidak merasa lapar.
"Makanlah Wi biar cuma sedikit. Supaya kamu ada tenaga untuk mengejan nanti." Ibu mengulurkan tangannya menyuapiku. Perutku terasa mual, ingin muntah rasanya. Mas Anto menggenggam tanganku erat-erat.
"Dewi ndak kuat Bu."
"Istighfar Wi. Mohon ampun pada Allah. Mohon diberi kekuatan. Berjuanglah Wi, kamu kuat. Kamu pasti bisa." Mas Anto masih menggenggam erat tanganku. Perlahan air matanya menetes satu-satu. Kesadaranku pulih. Ya Robb, bila ini caraMu memanggilku, aku ikhlas. Bila ini caraMu mensucikan dosa-dosaku, aku ikhlas.
"Bu, boleh Dewi minta sesuatu?," tanyaku.
Ibu mengangguk, memandangku sambil berurai air mata.
"Apapun Wi," katanya," andai Ibu bisa menggantikan penderitaanmu, Ibu ikhlas."
"Kalau Dewi harus pergi nanti, tolong sampaikan permintaan maaf Dewi pada Bapak, pada adik-adik dan semuanya." Aku memandang Ibu dan Mas Anto penuh harap. Mereka mengangguk. Perutku serasa diaduk-aduk, semakin lama tak bisa kutahan. Kumuntahkan isi perutku, lagi, lagi dan lagi sampai tak ada lagi yang bisa kumuntahkan. Mulutku terasa pahit, tenagaku habis. Lelah sekali rasanya.
"Mas, aku ingin mendengarkan Surah Yasin. Bisakah Mas bacakan untukku," kataku kemudian. Mas Anto mengangguk, diambilnya Alqur'an yang selalu ada di dalam tasku. Lantunan suaranya merdu membuatku tertidur. Aku serasa ada dalam dunia antara ada dan tiada. Rasanya melayang-layang. Entahlah, aku tak tahu apa yang terjadi, tapi rasa sakit itu hilang lenyap.
Aku masih menikmati kesunyianku yang menyenangkan, tapi...ada suara-suara memanggilku. Begitu dekat di telingaku.
"Wi, Dewi, bangun sayang. Kita periksa lagi ya," kata Bu Wahyu.
Aku mengangguk pelan. Aku tak tahu sejak kapan dia datang. Aku melihat jam dinding, sudah pukul 04.40. Sudah subuh ternyata. Rasa sakit itu datang lagi, lebih hebat dari sebelumnya. Kubiarkan Bu Wahyu memeriksaku.
"Bukaan tujuh Wi. Insya Allah tak lama lagi. Sabar ya," katanya.
Aku mengangguk, badanku terasa lemas.
####
Sementara itu, di mushola RS, jamaah sholat subuh sudah bubar. Hanya tinggal seorang lelaki muda dan perempuan setengah baya. Mereka larut dalam isak tangis, melantunkan doa untuk orang yang dicintai, yang berjuang dalam di antara hidup dan mati untuk melahirkan keturunannya.
Tak berapa lama kemudian, mereka kembali ke dalam ruangan, mencari tahu keadaan orang yang dikasihi.
Dr Risty sudah datang sejak pukul enam tadi. Dewi sudah mulai ingin mengejan.
"Miringkanlah badanmu, tahan dulu, jangan mengejan sekarang. Jalan lahir belum terbuka sempurna. Simpan tenagamu," katanya.
Ya Robbi, berapa lama lagi? Akankah Kau memanggilku pulang atau Kauselamatkan aku dan bayiku? keluhku dalam hati.
Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi, rasanya aku ingin buang air.
.
"Dok," aku mencengkeram lengan dr Risty," aku sudah tidak kuat, aku ingin buang air," kataku sambil menahan sakit.
Dr Risty mengangguk, memeriksaku lalu memberi isyarat. Bu Woro dan Bu Wahyu segera menghampiri dengan seperangkat alat partus. Aku mengerahkan segenap tenagaku. Hhhh..., aku mulai mengejan.
"Ambil nafas sedalam-dalamnya Wi, angkat kepalamu lalu keluarkan." Bu Wahyu mulai memberikan aba-aba.
"Ayo Wi, sedikit lagi. Kepalanya sudah mulai kelihatan," kata Bu Woro pula. Aku mengerahkan segenap tenagaku, sampai tak bersisa, namun bayiku tak keluar juga. Anggota badanku serasa dilepas satu persatu. Aku lelah. Aku pasrah padaMu ya Allah.
"Sepertinya terlilit tali pusat, kalau dia mengejan ujung kepala keluar tapi kalau berhenti kepala masuk lagi. Kita akan coba vacum extraction lebih dulu. Kalau 15 menit tak keluar juga terpaksa sectio.Tolong persiapkan ruang operasi. Salah satu memberitahu keluarganya. Yang lain bantu saya," perintah dr Risty.
Aku merasakan sesuatu dipasang di bagian bawah tubuhku. Aku merasakan kontraksi yang sangat kuat, tapi aku sudah tak punya tenaga untuk mengejan. Kedua mataku terasa berat.
"Wi, Dewi, jangan tidur Wi. Berjuanglah Wi, Ayo Wi, jangan menyia-nyiakan usaha kami Wi." Aku mendengar suara teman-temanku tapi aku benar-benar payah.
"Ayo kita lakukan,' dr Risty memberi aba-aba. Aku masih sadar walaupun tanpa daya. Kulihat Bu Wahyu dan Bu Woro naik ke sisi kanan dan kiri tempat tidurku. Mereka mendorong dari atas perutku sementara dr Risty menarik dari bawah. Kurasakan bayiku keluar pelan-pelan diikuti sesuatu, mungkin placentanya. Namun aku tak mendengar tangisannya. Kalau aku harus kehilangan bayiku, aku ikhlas Ya Allah, bisikku dalam hati.
Bu Woro mengusap kepalaku lembut, sementara yang lain membawa bayiku entah kemana.
"Sudah berakhir," katanya ," istirahatlah Wi. Kau pasti lelah sekali."
Dia memanggil suami dan ibuku setelah selesai membersihkan tubuhku.
Ibu memelukku begitu lama seolah-olah kami telah berpisah begitu lama. Begitu pula Mas Anto.
"Aku takut kehilanganmu Wi," bisiknya di telingaku. Aku menangis haru.
"Anak kita Mas?," tanyaku padanya.
"Anak kita laki-laki, lengkap, sempurna," katanya.
"Tapi aku tak mendengar dia menamgis," kataku tak percaya.
"Dia hidup sayang, hanya sedikit lemah. Biar dokter yang menanganinya. Sekarang, istirahatlah. Kau pasti sangat lelah. Aku dan Ibu akan menunggu di sini."
Aku lega sekali. Perlahan rasa kantuk membawaku pergi ke alam mimpi. Mimpi yang menyenangkan. Sampai sebuah ciuman membangunkanku.
"Sudah sore sayang, si kecil ingin dipeluk nih. Sejak lahir jam sepuluh tadi belum ketemu ibunya," kata Mas Anto sambil meletakkan bayi kami di sampingku. Aku menyentuhnya, indah, sempurna. Aku merasa benar-benar menjadi perempuan. Aku bahagia menjadi seorang ibu, walau harus melalui perjuangan yang amat sangat berat.Aku menatap wajah Ibu, kulihat ada bahagia di sana.
"Terima kasih Bu, Ibu adalah ibu yang terbaik bagiku," kataku sambil mencium tangannya. Ibu balas memelukku penuh haru.
"Boleh gabung ndak nih," protes suamiku.
Aku tersenyum dan mengedipkan mataku. Diciumnya pipiku dengan gemas. Aku berdoa dalam hati, Ya Robbana ampuni dosa kami, jadikanlah pendamping kami dan anak-anak kami sebagai penyejuk hati, berikanlah kebaikan di dunia dan di akhirat dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang shalih. Aamiin.
Semarang, 5 Desember 2014.
catatan kecil:
G2P1A0 : istilah medis, artinya kehamilan kedua, pernah melahirkan satu kali, tidak ada riwayat abortus/keguguran
gemeli : kembar
sc : sectio caesar (tindakan operasi pada persalinan)
djj : detak jantung janin
partus ; melahirkan
palpasi : pemeriksaan dengan cara meraba
vt ; vaginal touche ( pemeriksaan dalam )
vetalphone ; alat untuk mendengarkan detak jantung janin
bening
.
BENING
Penulis: Titien Sumartini Dwi Fatmasari
Senja baru saja tiba saat Sri sampai di rumah. Diparkirnya motor di halaman rumah mungil nan asri. Serumpun melati dan anggrek tanah tertata rapi, bunganya yang putih berseri seolah tersenyum menyambut sang majikan pulang. Sri menunduk, mengecup kuntum-kuntum melati, merasakan kesegarannya, kemudian bergegas masuk ke dalam.
"Assalamu'alaikum," ucap Sri sambil meletakkan barang belanjaan di atas meja.
"Wa'alaikum salam, horee... Umi sudah pulang," sambut keempat anaknya sambil mencium tangan Sri. Sri membuka belanjaannya, mengeluarkan sebungkus roti tawar dan susu kental manis. Diambilnya selembar, dituangkannya susu dengan hati-hati, diambilnya selembar roti lagi, ditangkupkannya di atasnya.
"Siapa yang mau roti?" tanyanya sambil menyodorkan setangkup roti isi susu. Dibuatnya beberapa tangkup lagi. Senang rasanya melihat anak-anak menyambutnya, berebut menerima oleh-olehnya dan memakannya dengan lahap. Dibantunya si bungsu Hamzah
"memotong-motong roti dan menyuapkan ke mulutnya. Dalam sekejap oleh-olehnya sudah tak bersisa.
"Bulik di mana? Belum pulang kuliah?" tanyanya pada si sulung Fafa. Sudah satu semester ini Yuni, adiknya ikut tinggal bersamanya. Kampusnya memang lebih dekat dijangkau dari rumahnya ketimbang dari rumah Ibu.
"Kata Bulik Yuni tadi, pulang kuliah langsung balik ke rumah Nenek," jawab Fafa.
"Oh... ya sudah," jawab Sri. "Mungkin Bulik lagi ada perlu."
Sri bergegas membereskan rumah dan membersihkan anak-anak. Seperti biasa, dia ingin saat suaminya pulang, rumah dalam kondisi bersih dan tertata rapi.
"Tuuut...tuuut...tuuut," ponsel berdering, terbaca di layar, nama adiknya, Tri.
"Assalamu'alaikum, ada apa Tri?" tanyanya agak cemas. Tadi Yuni langsung pulang ke rumsh Ibu dan sekarang Tri telfon, ada aps dengan Ibu ya, pikirnya.
"Mas Abi dah pulang, Mbak?" tanya duara di seberang.
"Belum, ada apa Tri? Apa Ibu sakit?"
"Ndak kok Mbak. Ini tentang Mas Abi."
"Mas Abi kenapa?" tanya Sri kaget.
"Mbak yang sabar ya. Ibu sama Mas Eko tadi sudah manggil Mas Abi kok."
"Memang ada apa dengan Mas Abi?" Sri semakin bingung.
"Tadi Yuni pulang sambil nangis, katanya semalam Mas Abi mengganggunya."
"Mengganggu bagaimana?"
"Emm... ya... berbuat tidak pantas." Sri dipenuhi kecamuk rasa. Tergambar lagi beberapa peristiwa akhir-akhir ini. Dulu Mas Abi begitu memujanya, hampir tak pernah berkata kasar padanya. Akhir- akhir ini dirasakannya memang berubah, Mas Abi jadi suka menyindirnya. Dengan Yuni, Mas Abi seolah tak punya capek, dia bahkan selalu menawarkan diri untuk membantu mengedit skripsinya, dia jadi agak malas membantu pekerjaan rumahnya. Sri benar-benar kecewa, ditutupnya ponselnya begitu saja.
Malam telah lama datang, anak-anak sudah tidur, Sri tak juga bisa memejamkan mata. Kandungannya yang sudah menginjak usia delapan bulan membuatnya tak nyaman dalam posisi apa saja, apalagi dengan rasa gulana seperti ini. Sri beranjak bangun, dibuatnya dua cangkir kopi panas sambil menunggu suaminya. Bagaimana pun, Mas Abi adalah imamnya, dia merasa harus tetap menghormatinya, apalagi apa yang disampaikanTri belum tentu benar, dia merasa harus mendengar dari mulut Mas Abi sendiri. Karenanya, dia tidak ingin tertidur saat Mas Abi pulang.
Jam menunjukkan pukul dua belas malam saat terdengar ketukan di pintu, dibukanya dan diciumnya tangan orang terkasih itu.
"Mau mandi dulu, Bi? Umi masakkan air ya," tawarnya halus. Mas Abi menggeleng.
"Gak usah, Mi. Biar Abi mandi pakai air dingin saja,"
Sri menunggu suaminya dengan sabar, disiapkannya kopi yang tadi dibuatnya di meja. Digelarnya matras di sampingnya, dibaringkannya badannya di sana.
"Lho, kok tiduran di bawah, Mi? Nanti masuk angin lho, ingat kandunganmu."
Sri hanya diam, hatinya masih sakit,' tega kau Mas, mengkhianatiku, menggoda adik kandungku sendiri, sekarang masih berpura-pura mencemaskanku? Munafik,' jerit hati Sri. Air matanya menetes satu-satu.
"Eh, kok malah nangis?" Mas Abi menghampiri Sri, berbaring di sampingnya dan memeluknya dari belakang.
"Apa yang Mas rasakan saat memeluk Yuni seperti ini, Mas?" akhirnya, keluar juga pertanyaan yang inginditahannya. Mas Abi kaget, dilonggarkannya pelukannya.
"Si...siapa yang bilang? Yuni...?"
"Siapa pun yang bilang, apa bedanya, Mas memang melakukannya kan? Sejauh mana, Mas?"
"Tidak, ini hanya salah paham. Kukira itu dirimu."
"Apa Mas tidak bisa membedakan tidurnya perempuan hamil dan yang bukan? Lagi pula, aku dan Yuni selisih sepuluh tahun, bagaimana mungkin tidak berbeda. Naif sekali kau, Mas."
"Oke, aku salah. Aku melihatnya tidur dengan celana pendek. Aku seperti melihatmu saat seumur dengannya, dan aku khilaf. Aku merangkulnya dari belakang, persis seperti sekarang. Dia terbangun, menoleh dan menampar mukaku. Lalu aku kembali untuk minta maaf, tapi dia malah marah."
"Sampai dua kali, Mas?"
"Tidak, yang kedua aku hanya ingin minta maaf padanya."
Sri diam, hatinya masih sakit, namun dia berusaha percaya pada suaminya. Malam itu ditunaikannya tugasnya dengan hati kosong. Dibiarkannya laki-laki terkasih itu menghapus air matanya yang terus berderai.
Hari-hari berikutnya adalah hari-hari hampa bagi Sri. Hanya tawa anak-anak yang menghiburnya. Tak ada lagi rasa untuk suaminya, kecuali hanya sekedar menunaikan kewajiban saja.
Usia kandungan Sri pun telah mencukupi waktunya. Entah mengapa, tiba-tiba Mas Abi seperti kesakitan, sebentar-sebentar memegangi perutnya, kemudian punggungnya, mengaduh dan mengerang. Sri pun mengajaknya ke rumah sakit. Mas Abi membawa mobil sambil menahan rasa sakit, kasihan sekali Sri melihatnya. Untunglah, tak berapa lama kemudian mereka sampai di sana. Sri baru saja membuka pintu mobil dan berdiri, tiba-tiba... shorrr... keluar cairan dari bagian bawah Sri, kiranya ketubannya sudah pecah, Sri mau melahirkan. Mas Abi kaget, mendadak rasa sakitnya hilang. Sekarang Sri yang jadi pasien. Tak berapa lama, lahirlah seorang bayi perempuan. Begitu suka cita Mas Abi, diciumnya kening Sri.
"Umi, jangan hukum Abi dengan aksi diammu. Abi tidak tahan. Abi tahu Abi salah, tapi Abi serius ingin memperbaiki, demi kita, demi anak-anak."
Sri memandang wajah sayu itu, berangsu-angsur kemarahannya mencair.Mas Abi benar, semua orang pernah berbuat salah, dan setiap orang berhak diberi kesempatan untuk memperbaiki. Dilihatnya, satu per satu anak-anaknya, bagaimana bisa dia mengurusnya sendirian. Bagaimana mungkin merenggut seorang ayah dari sisi mereka. Dihelanya nafas, dia sudah menemukan jawaban, bebannya kini berkurang seiring dengan pintu maaf yang mulai terbuka. Biarlah waktu yang menyembuhkan lukanya. Disambutnya uluran tangan Mas Abi, diciummya lembut dan diletakkan di dadanya.
"Umi ikhlas, Abi. Abi masih tetap imamku. Ayah dari anak-anakku. Semua orang pernah salah, Umi pun merasa bersalah, karena Umi yang mengusulkan Yuni tinggal dengan kita. Umi lupa, ipar adalah bahaya, karena dia bukan mahram. Jadi, maafkan Umi juga ya."
Hari pun menjadi cerah, satu per satu mendung pun menjauh, meninggalkan semburat cahaya kemerahan di ufuk barat.
"Kunamakan dia Bening, sebening hati ibu yang melahirkannya. Semoga demikian juga dengan persangkaan kita satu sama lain. Karena engkau pakaianku dan aku pakaianmu, 'hunna libasulakum wa antum libasulahunna'." Kata-kata Mas Abi benar-benar meredam hati Sri, memberi ketenangan, menyemaikan harap 'esok kan lebih baik'.
#tamat#
#Demak, 27122014#
seputih hati ibu
.. SEPUTIH HATI IBU
Hari menjelang siang, anak-anak sekolah dan pekerjaanku sudah selesai. Entah mengapa tiba-tiba aku kangen Ibu. Kupacu motorku ke rumah Ibu yang tidak terlalu jauh dari rumahku, hanya satu jam perjalanan.
Kuparkir motor di halaman, sepasang bunga kamboja menyambutku ramah, bersamanya ada mawar, ephorbia, cempaka dan beberapa gelombang cinta. Semuanya tersusun rapi seolah sekelompok gadis yang berderet-deret siap menerima tamu. Ah, tangan ibuku memang piawai menata taman di halaman rumahnya.
"Assalamu'alaikum," teriakku sambil melangkah masuk rumah. Di ruang tamu tak ada seorang pun, hanya lukisan pemandangan di dinding yang tersenyum memyambutku ramah.
"Wa'alaikum salam, sendiri to Tien? Anakmu ndak ada yang ikut?" Terdengar suara Ibu dari arah kamar. Sekejap kemudian beliau keluar, kucium tangan dan kedua pipinya. Beliau memelukku erat.
"Bagaimana kabar rumah, Nduk? Ibu kangen," tanyanya sambil mengelus kepalaku. Ibu menatapku seolah lama tak pernah bertemu. Maklum, Ibu tidak bersedia ikut dengan salah satu anaknya, " ndak ono sing meri ( nanti ada yang iri)," katanya. Jadilah Ibu tinggal sendirian. Kakakku di Ungaran sama dua orang adikku (tidak serumah), satu adikku di Solo, satu lagi di Kendal dan aku sendiri di Demak. Namun demikian, minimal sebulan sekali kusempatkan sowan Ibu. Kalau Abi sedang luang, biasanya kami ke rumah Ibu bersama anak-anak, namun kalau Abi lagi sibuk tetap kusempatkan ke sana walaupun sendiri, seperti sekarang.
"Ibu heran, Tien. Akhir-akhir ini uang koperasi yang Ibu bawa sering hilang. Kalau Ibu hitung, setiap hari hilang Rp 100.000, ini sudah hari kelima. Mau cerita ke Joko, Ibu ndak enak. Takut kalau dia merasa dituduh, kan setiap hari dia ke sini, jagain bengkelnya Bapak (almarhum). Masak iya sih, ada tuyul di rumah ini," akhirnya Ibu cerita juga.
"Coba deh, kalau Ibu tindak (pergi), usahakan sepuluh menit kemudian pulang lagi. Kalau memang ada yang mencuri, Ibu pasti akan memergoki. Lemari Ibu kuncinya ndak pernah dilepas kan," usulku. Memang, Ibu tinggal sendirian, tapi adikku Joko dan beberapa karyawannya setiap pagi sampai sore pasti datang di bengkel Bapak yang menyatu dengan rumah Ibu. Begitu juga Mbok Nah, buruh cuci yang membantu Ibu. Kadang-kadang Mbok Nah juga menemani Ibu kalau malam.
Keesokan harinya, Ibu mempraktekkan apa yang kuusulkan. Beliau begitu terkejut ketika mendapati Mbok Nah sedang mengambil uang di lemarinya. Hebatnya, Ibu tidak marah. Beliau bertanya pada Mbok Nah tentang masalah keuangannya dan dengan ikhlas membantu menyelesaikannya. Akhirnya, Mbok Nah minta berhenti karena malu, selama ini sudah menyusahkan Ibu namun selalu dimaafkan dan dibantu.
Tidak sekali ini saja Ibu berkorban. Aku sangat tahu bahwa Ibu ingin Umroh dan berhaji maka kami pun menyisihkan sedikit rejeki untuk itu. Setiap kali tabungan sudah mencukupi selalu saja di antara anak-anaknya yang membutuhkan, dan beliau selalu ikhlas menunda keinginannya demi menolong anak-anaknya. Sampai tahun ini, Ibu sudah menunda tiga kali keberangkatan Umroh, dua tahun lagi adalah jadwal keberangkatan Haji beliau yang sudah kami daftarkan di Depag.
Ibu memang bukan pendakwah, namun ia mengajariku nilai kehidupan yang diridhoi Allah. Satu pesannya yang selalu kuingat, "jagalah Allah, jadilah pemaaf dan jangan berhenti berdoa padaNya." Ibu, engkaulah surgaku, ajari aku miliki hati sepertimu.
#Demak, 25 Desember 2014.
Cermin ini kupersembahkan untuk Ibunda tercintaku, Endang Djuwitaningsih, semoga Allah berikan umur yang penuh keberkahan, dimudahkan dan disegerakan menemuiNya di Baitullah dan diberikan husnul khotimah. Aamiin.