Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Jumat, 09 Januari 2015

bila saatnya tiba

..
"Bila saatnya tiba"

"Ayo, Arief, kita pulang..." kata seorang perempuan muda. Penampilannya anggun dengan balutan baju kurung dan jilbab coklat muda. Tangannya menggamit seorang anak laki-laki usia sepuluh tahunan. Tangan kirinya memegang keranjang berisi buah dan sayuran. Perempuan itu adalah ibunya, dan anak laki-laki itu adalah dirinya beberapa tahun yang lalu. Tiba-tiba sekelebat bayangan menyambar, mengambil sebagian kesadarannya. Sayup-sayup masih didengarnya suara ibunya yang tak henti-henti memanggil.

"Arief... Arief..." Suara itu masih terus terdengar, kali ini terasa ada yang menggenggam tangannya, perlahan Arief pun membuka mata.

Arief mendapati dirinya berada dalam sebuah ruangan putih bersih, selang-selang terpasang di tubuhnya. Tubuhnya menggigil kedinginan walau tertutup selimut tebal. Di pinggir tempat tidur, seorang gadis menangis, menelungkupkan muka sambil menggenggam tangannya. Seperti Ayu, adiknya, tapi... mengapa tangannya hanya sebelah? Ke mana tangan kanannya? Ah, pasti bukan Ayu, lalu siapa? Berbagai pertanyaan memenuhi benak Arief, tiba-tiba kepalanya pusing sekali, seolah dipukul palu godam yang sangat besar. Sontak, Arief menarik tangannya memegangi kepala. Gadis di depannya terlonjak kaget, didongakkanlah muka menatap tubuh Arief.

"Alhamdulillah, Mas Arief sudah siuman. Terima kasih Ya Allah, atas kuasaMu." Gadis itu menghambur memeluk Arief dengan berurai air mata.

"Syukurlah, Mas. Ayu takut kehilanganmu," isaknya perih. Arief membuka mata, diturunkannya kedua tangannya.
"Kamu... Ayu?" tanya Arief terbata.

"Iya, Mas. Kecelakaan itu... kereta... Mas Arief tidak ingat?"

Arief menggeleng. Dicobanya mengingat-ingat... kecelakaan... kereta... ah, samar-samar ingatan itu pun muncul di kepalanya. Saat itu mereka melepas penat setelah seharian bekerja di pasar. Ya, Arief adalah ketua kelompok anak jalanan. Berbeda dengan kelompok anak jalanan lain yang kerjaannya tak jauh dari malak, nyuri dan ngemis, Arief tak segan-segan menghajar anah buahnya yang kedapatan melakukan tiga hal tersebut.

"Biar kita tak punya apa-apa, kita harus makan dari yang halal, kerja apa saja boleh, mbantu tukang semir, ikut tukang loper koran, atau mbantu bawakan belanjaan orang di pasar atau bantu cuci piring di warung. Itu semua mereka lakukan agar bisa makan makanan halal.

Malam itu, mereka bersembilan. Seperti biasanya, mereka memanfaatkan gerbong kereta barang yang kosong untuk melepas penat. Lelah yang bersangatan mengantar kantuk yang tak tertahan, lelap sudah setiap diri di alam mimpi, hingga tak sadar kereta ikut berangkat malam itu dengan tujuan Surabaya.

Laju kereta meninabobokan semua. Ayu berbaring di dekat pintu dan Arief di sebelahnya untuk menjaga. Yang lain meringkuk di dalam. Semua terbawa dalam lelap. Entah mengapa kereta berguncang keras, Ayu yang terbangun, setengah sadar berusaha melihat keluar. Laju kereta memelantingkan tubuhnya keluar, spontan dia berteriak keras. Arief dan yang lainnya terbangun kaget. Panik rasanya melihat Ayu tak ada di sisi, hanya terdengar teriakannya. Arief pun meloncat di antara deru laju kereta. Hups... dan entahlah... apa yang terjadi selanjutnya, tahu-tahu dirinya sudah berada di sini.

"Apa yang terjadi, Yu?" tanyanya ingin tahu.

"Malam itu, saat terjatuh tanganku berusaha bertahan memegang pintu kereta, tapi sia-sia. Laju kereta begitu cepatnya, rodanya melindas tangan kananku, setelahnya aku tak ingat apapun."

Ayu mengambil segelas aqua di meja, meminumnya beberapa teguk lalu melanjutkan ceritanya.

"Saat kuterjaga, tanganku sudah tak ada. Aku mencarimu, ternyata kau pun terbaring di sini, tiga hari tak sadarkan diri, dengan kepala terbalut perban, benar-benar membuatku cemas setengah mati."

Arief menghapus air mata di pipi Ayu, hatinya tersayat melihatnya kehilangan satu tangannya. Kau pasti sudah susah payah menahan lukamu sendiri Yu, dan tak kauhiraukan rasa sakit itu karena kecemasanmu terhadapku, jerit batinnya.

Arief masih memandangi Ayu, tiba-tiba ia merasa bersalah. Ah, andai dia tak mengajaknya pergi, andai Ayu tetap di Sukabumi. Bersama Emak dan ayah tirinya, atau bersama Bapak dan ibu tirinya, atau bersama Nenek, pasti tangannya masih utuh. Arief menghela nafas, penyesalannya tak putus-putus.

"Yu, maafkan Mas Arief ya, tidak bisa menjagamu dengan baik," katanya lembut.

"Tak ada yang perlu dimaafkan, Mas. Mas Arief adalah kakak yang paling baik buat Ayu. Ayu sudah cukup senang melihatmu berangsur membaik," jawab Ayu.

"Tapi Yu, siapa nanti yang membiayai perawatan kita?"

"Saat kecelakaan pada malam itu, ada sepasang suami istri yang sedang dalam perjalanan pulang. Hanya mereka yang kebetulan ada di sana. Merekalah yang membawa kita kemari, mereka pula yang menanggung semua biaya perawatan kita," jelas Ayu.

Tak berapa lama, Pak Agus dan Bu Dian muncul dari balik pintu. Wajah mereka cerah bersinar, tersenyum melihat Arief sudah siuman.

"Kenalin Mas, ini dokter Agus dan suster Dian, mereka yang kuceritakan tadi," kata Ayu.

"Ayu sudah cerita banyak tentang kalian. Bagaimana kalau selanjutnya nanti kalian ikut membantu mengasuh anak-anak jalanan di rumah singgah yang kami kelola. Di sana ada beberapa teman relawan yang memberi kursus ketrampilan dan berbagi pengetahuan juga," tawar Bu Dian pada Arief dan Ayu.

Arief memandang Bu Dian dan Pak Agus berganti-ganti, benaknya dipenuhi rasa tak percaya, lagi pula dia belum tahu kabar tentang ke tujuh anak asuhnya, entah bagaimana nasib mereka sekarang.

"Tak usah dijawab sekarang. Pikirkan saja dulu. Dua tiga hari nanti mungkin kamu sudah bisa meninggalkan rumah sakit," kata Pak Agus.

"Teman-teman saya, kabarnya bagaimana, Pak?" tanya Arief.

"Sementara mereka ditampung di rumah singgah, Mas. Pas kejadian itu, mereka semua ikut meloncat turun dari kereta," jawab Ayu.

Arief menghela nafas lega, bagaimana pun ia merasa ikut bertanggungjawab atas keselamatan mereka. Hilangnya sebelah tangan Ayu sudah cukup memangkas ketegaran hatinya dan membuatnya merasa bersalah.

"Oke..., silakan dipikirkan masak-masak, kami mau melihat keadaan pasien-pasien yang lain," kata Pak Agus lagi. Arief dan Ayu mengangguk.

"Ayu, maafkan Mas ya. Andai kau tetap bersama Emak..." kata Arief lirih. Angannya kembali melayang ke masa silam. Saat itu Bapak ketahuan berselingkuh dan memiliki istri lagi. Dia yang memergokinya memberitahu Emak. Mereka pun bertengkar hebat, Bapak marah dan mengusirnya pergi. Usianya baru sepuluh tahun waktu itu, dan keras kepala, tak dihiraukannya seruan Emak yang memanggilnya berkali-kali, yang berlari mengejarnya tapi ditahan Bapak.

Arief memandang Ayu lagi. Sejak kejadian itu Arief hidup di pasar, bersama Ibu tua penjual daun pisang. Dia selalu menyempatkan diri menengok rumah, sekedar melepas rindu kepada Emak dan Ayu, walau hanya memandangnya dari balik pagar. Karena Bapak mengurung mereka berdua di rumah. Dua tahun kemudian, entah apa yang terjadi, Emak dan Bapak berpisah, tapi tak lama kemudian Emak menikah lagi. Arief sempat pulang, tapi ternysta ayahnya yang sekarang lebih kejam. Dia tak segan menyiksa mereka bertiga. Arief tak tahan, diajaknya Ayu lari dari rumah dan kembali ke pasar, bersama Ibu tua penjual daun pisang.

Pikiran Arief menerawang, entah di mana sekarang Emak berada. Tiba-tiba rasa rindu menyergapnya, mengingatkannya pada masa kecilnya yang indah saat Emak dan Bapak masih bersatu dalam kemesraan.

Ayu tertidur lelap di sampingnya, gurat-gurat kelelahan tergambar di wajahnya, wajah gadis lima belas tahun yang seharusnya penuh binar ceria, melewati masa remaja dengan teman sebayanya. Bukan seperti sekarang, bersamanya, apa yang dia tahu tentang wanita. Ah, Arief benar-benar merasa bersalah.

"Tuhan, beri aku waktu. Mudahkanlah menjaga adikku, sampaikanlah pada satu waktu di mana aku dapat membawanya pulang dan melukis sebentuk senyum di bibir ibuku. Arief berjanji Mak, bila saatnya nanti kami akan pulang membasuh kakimu, insya Allah," gumamnya.

#Demak, 31122014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar