Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Jumat, 09 Januari 2015

kepada pengukir jiwaku

.KEPADA PENGUKIR JIWAKU
Kupersembahkan ungkapan hatiku ini untuk Ibundaku tercinta, Ibu Endang Djuwitaningsih
Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu.
Salam takzimku, Bunda. Semoga selalu dalam lindunganNya, yang tak pernah tidur dan lelah, Penerang segala gulita dan Penghilang segala resah, Pembuka jalan keluar dan Pemutus segala masalah. Dan aku bergantung kepadaNya atas segala sesuatu.
Mohon maaf, Bunda. Belum bisa kulukis senyum bahagia, di sebentuk lisan nan mulia. Pun tiada mampu, guratkan rasa bahagia di wajah nan penuh cahaya, milikmu. Kejujuran yang pernah kauajarkan, terkadang menyempitkan langkah kami. Namun kusadari kini, itulah jalan yang Dia ridhai. Kelembutan yang kauberikan, sirami hati kami, tumbuhkan rumpun- rumpun bunga, berputik kasih sayang pada sesama. Warnanya segar menyejukkan mata, terus bertumbuh di segala cuaca, buatku dikelilingi banyak teman dan saudara.
Masih kuingat, Bunda. Bagaimana kauhentikan tangisku, saat kanak-kanak dahulu. Kauledakkan tawa gembira yang membuncah di dada, saat di dekapmu, saat bersama rengkuhanmu. Untaian cerita dari bibirmu, tentang akhlak mulia dan pohon kebajikan. Kubawa selalu dalam kalbu dan kubagikan untuk anak-anakku.
Masih tergambar nyata, Bunda. Saat penyakit mendera, belai lembutmu di kepala antarku tertidur, pulas dalam dekapan kasihmu, obati segala derita dan bangunkan dalam rasa segar seolah tak pernah terjadi apa-apa. Taman indah yang kaubangun di hati kami, sungguh tiada bandingannya. Amarahmu memagari kami dari perbuatan tercela. Danau kecil yang kaubuat tiada pernah kering dari petuah-petuah yang kaukucurkan setiap harinya. Tak habis kami reguk dan berenang sepuasnya di dalamnya. Lalu kupindahkan pada surga kecil yang kubuat sendiri, di rumah kami, di hati kecil cucu-cucumu.
Bunda, darimu aku belajar, menajamkan lisanku dengan ajaran mulia, agar rumah tanggaku sakinah, mawaddah wa rahmah, agar cucu-cucumu sholih-sholihah. Kau telah memahat kehidupanku dengan sangat indah, mengukir jiwaku dengan penuh kasih, dengan tanganmu yang lembut, tatapan teduh di matamu, dan seluruh anggota tubuhmu. Begitu pun yang ingin kulakukan. Kan kupersembahkan anak-anak yang kan mengukir sejarah, selayak Ibunda para nabi, selayak Ibunda para syuhada, selayak Ibunda para pemimpin, selayakmu jua, Ibundaku.
Aku tahu, Bunda. Duka kami adalah dukamu, masalah kami hilangkan kantukmu, suka cita kami cucurkan air matamu dan kami seolah tak punya waktu. Tuk mengunjungi taman kecil di hatimu. Tempat pohon kesabaran tumbuh menjulang. Di setiap cabang dan rantingnya menyembul buah keimanan. Menyenangkan hati sesiapa yang memandang, mengundang takjub dan rasa hormat pada jiwamu nan mulia.
Aku tahu, Bunda. Di senja usia, engkau masih punya cita-cita, melihat semua putra bahagia, kemudian bertamu ke rumahNya penuh cahaya, di Baitullah, tempat umat seluruh dunia berkumpul, bertasbih, bertahmid, bertahlil dan mengucap takbir mengagungkan asmaNya. Berlari kecil antara Shofa dan Marwa selayaknya Hajar Bundanya Ismail as. Thawwaf, mencium Hajar Aswad dan melempar jumrah di sana. Wukuf di Padang Arafah, menggulirkan semua asa dan harap agar Dia anugrahi kami kebaikan dunia-akhirat.
Bukan, Bunda. Kami tak pernah lupa pada jejak cinta yang kautinggal dalam sanubari, hanya belum bisa merawat bunganya. Amanah yang kami terima, kadang-kadang melenakan, melipat banyak waktu untuk kebersamaan, menggunting kesempatan untuk bersilaturahmi. Namun kami tetap berupaya, mengayuh kewajiban agar tertunai semua, juga untukmu, Bundaku.
Bunda, biar kutemuimu di ujung sajadah, di sepertiga malam yang terakhir. Pintaku kan memeluk harapmu, doaku kan mendekap impianmu, kita lantunkan bersama dalam ketundukkan, menagih simpatiNya untuk wujudkan mimpi kita.
Bunda, bersabarlah, aku juga rindu. Pasti kan kuluangkan waktu, mengetuk pintu rumah bersama suami dan anak-anakku, bawakanmu sebongkah rindu yang kusimpan, mengkristalkan air mata haru di pelupuk mata. Tunggu aku, Bunda, saatnya hampir tiba.
Wassalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu.
Peluk cium penuh kasih sayang dari kami, permata hatimu.
#Demak, 27 Desember 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar