Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 01 Oktober 2015

Istana Firdaus

ISTANA FIRDAUS

Membayangkan adaMu ...
Menghitung jenak-jenak langkah  berlalu
Tertinggal begitu jauh, masih cukupkah waktu?
Mengambil lipatan masa lalu
Menukarnya dengan lebih baik, menepis ragu

Meyakini adaMu ...
Memacu napas berlari di atas jalan terjal berliku
Entah berapa luka coba hentikan langkahku
Sederas  darah mengalir tanpa jemu
Terbasuh hilang kerana airmata rindu

Terngiang kembali surahMu dalam asa
Terlantun pinta istri Fir'aun  teraniaya
"Tuhan, bangunkan sebuah rumah untukku di surga"
Dan Kauperlihatkan seketika padanya
Sebentuk istana indah tiada bandingnya

Ya Robbi, aku tahu Engkau mengijabah segala doa
Engkau pembeli yang memberi keuntungan berlipat ganda
Kugadaikan seluruh yang aku punya
PadaMu Maha Mulia lagi Bijaksana
Agar kepulanganku Kausambut dalam istana surga

#Demak,01102015

Rabu, 30 September 2015

Rumah Hantu

RUMAH HANTU

Adzan maghrib sayup-sayup terdengar berkumandang. Ifa dan ketiga sahabatnya masih harus berjalan melewati sawah untuk sampai ke kampung mereka.

"Kita kemalaman nih," keluh Ifa.

"Iya nih, gegara Fatim nih," sambung Hanan.

"Kok aku?" tanya Fatimah bingung, "kita kan sepakat pulang bareng."

"Iya, tapi kan beli bandonya bisa besok aja. Mana milihnya lama banget lagi," gerutu Hanan lagi.

"Iya deh, maaf. Bentar lagi juga sampe kok," sahut Fatimah.

"Udah, jangan dibahas. Dzikir aja yuk, udah maghrib nih, gelap lagi ... menakutkan tau," sela Syifa yang sedari tadi diam.

Ifa dan ketiga sahabatnya memandang sekeliling. Hanya sawah tanpa penerangan. Di ujungnya ada sebuah rumah tua yang terletak terpisah dengan rumah-rumah lainnya. Anak-anak kampung menyebutnya rumah hantu.

Rumah itu sudah terlihat, membuat mereka mempercepat jalannya, sesekali terdengar dzikir terucap dari lisan mereka. Tepat di depan rumah itu terdengar suara mendesah dari dalam rumah, membuat bergidik. Tanpa dikomando pun, mereka bergegas ambil langkah seribu.

"Stop ... stop ... hoss hoss ... capek tau ...hoss hoss," keluh Fatimah yang paling lambat larinya.

Ketiga temannya bergegas menoleh ke belakang. Beruntung, mereka sudah cukup jauh meninggalkan rumah menakutkan itu dan sampai di ujung kampung.

"Iya ... hhh, aku juga capek nih. Udahan larinya yuk. Bentar lagi sampe rumah," sahut Ifa mengiyakan, "eh, teman-teman, tadi itu suara apa ya?"

"Tau ah. Jangan-jangan benar, di rumah itu ada hantunya," sergah Hanan bergidik.

"Masak sih? Kata Pak Ustadz kita enggak boleh takut sama hantu," kata Syifa.

"Lah, kamu sendiri larinya paling kenceng, Syif," tegur Hanan.

"Aku sih enggak takut hantu, tapi takut gelap," kata Syifa membela diri.

"Halah, sama aja, sama-sama takut," ledek Hanan lagi.

"Enggak! Oke, besok kita buktikan pas siang-siang," tantang Syifa.

"Ogah! Aku enggak mau!" seru Hanan.

"Aku mau! Aku juga pengen tau ada apa di dalam rumah itu," kata Ifa.

Mereka pun berpisah menuju rumah masing-masing. Syifa dan Ifa saling berjanji untuk bertemu besok siang di rumah menakutkan itu.

###

Keesokkan harinya, Hanan dan Fatimah mendatangi rumah Ifa.

"Fa, kamu enggak usah berangkat ke rumah hantu itu deh. Paling-paling Syifa juga enggak berangkat. Dia kan penakut," bujuk mereka, "entar kenapa-napa loh."

"Enggak ah. Aku kan udah janji sama Syifa. Janji harus ditepati kan? Enggak boleh kayak orang munafik. Lagipula, aku juga penasaran sama itu rumah," jawab Ifa.

"Kalau ada apa-apa gimana?" tanya Hanan.

"Kita teman kan? Syifa juga teman kita kan? Kita hadapi bersama-sama saja. Berempat lebih baik daripada sendirian kan?" tutur Ifa yang kemudian diiyakan oleh dua temannya. Mereka pun beriringan bersepeda ke rumah Syifa untuk selanjutnya menuju rumah yang katanya berhantu itu.

Sesampai di sana, mereka menyandarkan sepeda dengan hati-hati dekat pohon besar yang tumbuh di dekat rumah itu. Mereka mengendap-endap menghampiri jendela dan pintu yang tertutup rapat. Dari celah-celah lubang angin, mereka melihat keadaan di dalam.

"Uh ... uh ... uh ...," samar-samar terdengar suara orang merintih. Ifa dan Syifa memutari rumah, mencari celah yang lebih besar. Ternyata di bagian belakang rumah terdapat pintu yang setengah terbuka. Dengan hati-hati, mereka pun berjingkat masuk ke dalam.

Rumah itu terlihat berdebu dan tak terawat. Pada salah satu ruangannya terlihat sebuah dipan kecil di pojok ruangan. Ada seorang nenek terbaring di sana, rupanya dialah sumber suara rintihan yang mereka dengar.

"Pulang yuk, Fa. Takut ...," ajak Syifa.

"Tanggung nih, samperin yuk!" ajak Ifa. Kakinya terus melangkah mendekati sang nenek.

"Heh! Kenapa kalian di sini! Mau mencuri ya!" teriak seseorang di belakang mereka.

Ifa dan Syifa serempak menoleh ke belakang. Terlihat seorang anak lelaki sebaya mereka di sana. Di tangannya ada sebuah kail dan bubu tempat menaruh ikan hasil tangkapan. Anak itu terlihat sangat marah.

"Eh, bukan! Kami bukan pencuri," kata Syifa, "cuma mau bertamu ...."

"Kenapa enggak ketuk pintu depan? Malah nyelonong masuk lewat pintu belakang?" tukas anak laki-laki itu sambil mengacung-acungkan tongkat kailnya.

"Habisnya ... ini rumah seperti rumah kosong, tapi aneh ...," celetuk Ifa.

"Kalian memang keterlaluan!" teriak anak laki-laki itu bersiap memukul.

"An ... to ... ja ... ngan ... hhh ...," kata nenek itu tiba-tiba.

"Kalian lihat itu! Ibuku sakit, tidak bisa bangun dari tempat tidur. Tidak ada yang peduli! Makanya, pintu rumah kami selalu terlihat tertutup ...," kata anak lelaki yang dipanggil Anto itu.

"Sudah dibawa ke dokter?" tanya Ifa sambil menghampiri nenek itu.

"Kami tak punya biaya," kata Anto lirih, "aku memancing ikan setiap hari, lalu kujual di pasar untuk beli makanan. Itu pun pas-pasan."

"Sudah berapa lama nenek sakit?" tanya Syifa, "kebetulan papaku dokter."

"Sudah hampir setahun. Tapi kami juga tidak bisa beli obat," kata Anto sambil menatap ibunya yang terbaring lemah.

"Aku akan bilang pada orang tuaku, beliau pasti bisa membantu," kata Ifa mantap, "kami pulang dulu, nanti kami kembali. Maaf kalau kami tadi lancang."

"Ya, terima kasih atas niat baik kalian. Maaf kalau aku kasar tadi," jawab Anto.

Syifa dan Ifa pun bergegas kembali ke tempat mereka meletakkan sepeda. Di sana sudah ada Hanan dan Fatimah yang menunggu dengan harap-harap cemas.

"Lama amat sih. Kita jadi takut, jangan-jangan kalian dibawa hantu beneran!" seru mereka berdua.

"Hus! Kita punya tugas penting nih. Habis ini, Hanan ikut pulang Syifa dan ajak papanya Syifa ke sini. Fatimah ikut aku pulang dan meyakinkan orang tuaku agar mau kemari," kata Ifa.

"Memangnya kenapa?" tanya Hanan dan Fatimah.

"Sudah ikut aja, ceritanya panjang," jawab Syifa.

Pada hari itu juga, orang tua Syifa dan Ifa mengunjungi rumah itu. Dengan dibantu Pak RT dan warga, mereka membawa ibunya Anto ke rumah sakit dan bergantian menjaganya.

"Maaf kalau selama ini kami tidak tahu tentang kalian. Kami kira rumah itu rumah kosong," kata Pak RT mewakili warga.

"Karena kami tidak berani memberitahu Bapak-bapak," kata Anto yang diiyakan oleh ibunya.

Sejak saat itu, julukan 'rumah hantu' tidak lagi terdengar. Ifa dan teman-temannya jadi suka bermain dan berkumpul di sana. Apalagi di belakangnya ada sungai yang airnya jernih dan banyak ikannya. Rumah itu pun terlihat terawat dengan kehadiran mereka di sana karena mereka tak segan membantu membersihkan halamannya. Anto menjadi anak asuh papanya Syifa sehingga bisa memulai lagi sekolahnya yang tertunda.

#Demak, 28092015

Telaga Cinta

Telaga Cinta
Oleh: Titien SDF

Entah berapa ribu kali sudah
Aku pulang menujui sejuk nan melimpah
Membenamkan seluruh perih jerih, menenggelamkan resah
Menciduk bergantang petuah, memburu sakinah
Menyesap selaksa doa dari lisanmu yang sarat berkah

Pun kini, langkah kaki ini selalu ingin menjejak kembali
Merasai debur-debur kecil pusaran air yang menari
Di binar  kedua bening telagamu yang kian menua, sunyi
Berkabut rindu berjela-jela pekat melingkupi
Akan kami, seriak air yang mencari genangannya sendiri

Kau yang tak pernah bosan memercikkan cinta
Meredam kecipak was-was yang selalu kubawa saat tiba
Padamkan bara amarah yang mendebur ombak di dada
Terpecah karang tutur lembut namun tegas bijaksana

Duhai Bunda, ijinkan kubawa telaga cintamu
Tuangkannya dalam danau kecil buatanku
Membumikan rindu nan menderu, menyatu di ceruk kalbu
Memulangkan rasaku setiap saat, bersamamu selalu
#Demak, 26092015

Pengendara Kehidupan

PENGENDARA KEHIDUPAN

Setiap kita adalah pengendara. Duduk di atas kursi keinginan dan nafsu dunia. Tergambar jelas di jendela matanya yang sebening kaca. Begitu elok semua perjalanan yang terlihat di luar sana. Lalu lalang kuda tunggangan, barisan gedung bahkan istana. Semua terlihat gagah, cemerlang menyilaukan mata.

Masih asyik kita bertahan di sana. Bercengkerama bersama keluarga, orang-orang tercinta. Namun, acapkali penglihatan terpesona dengan keindahan yang berbeda. Bisikan nafsu mengajak untuk berbelok ke  arah semu belaka. Kaki terlupa akan rem keimanan yang tersembunyi di bawah sana. Keluar sudah dari jalur yang sudah semestinya, tersesat dalam rimba belantara alpa.

Di mana spion yang ada di kanan kiri kita? Bukankah dia selalu ada di sana, tak sekalipun meninggalkan tempatnya? Diri yang terlupa memang acap beralih pandang pada selainnya. Hingga keberadaannya tak lagi menciutkan nyali, sifat kehati-hatian perlahan sirna. Tiada lagi rasa takut menurunkan kaki ke lembah khilaf, pun dosa.

Setiap kita adalah pengendara nafsu yang menggelegak memanaskan jiwa. Walau mesin ruh kita buatan Sang Maha Sempurna, tiada duanya. Kita jualah yang harus senantiasa merawat dan menjaganya. Mengganti pelumas syahwat yang kotor dengan melumaskan istighfar, berdzikir kepada-Nya. Membersihkan daki-daki hasad, dengki yang menutup bohlam qolbu kita.

Setiap kita adalah pengendara yang pasti akan ditanya. Perihal tanggungjawab atas seluruh penumpangnya. Atas penglihatan, pendengaran, perkataan, penciuman dan perbuatan anggota tubuh kita. Di hari yang ditentukan di mana mulut terkunci, lisan tiada dapat berkata. Dan tiada pengetahuan, akankah mereka semua menghujat ataukah membela.

Maka, wahai saudaraku, ikhwatii semua. Berhentilah pada sebagian waktumu yang ada. Periksalah perlengkapanmu, yang utama dibawa, juga sunnahnya. Kenali jalanmu, pelajari peta yang diimlakan Sang Maha Pencipta. Baca petunjuknya dengan seksama agar tak tersesat nantinya.

Lengkapi diri dengan surat ijin menjadi muslim seutuhnya. Juga surat tanda nikah sesuai kaidah agama. Perhatikan rambu-rambu kehidupan  dengan seksama. Bahan bakarnya dipilih berdasar kehalalannya. Karena yang berasal dari yang haram selalu mengantarkan ke arah neraka.

Setiap kita adalah pengendara di atas roda waktu yang senantiasa berputar tanpa jeda. Alpa dan khilaf tak pernah bosan dan berhenti menyapa. Melenakan diri, memotong usia tanpa beroleh sesuatu apa. Roda waktu terus berlari, dan kita tak beranjak dari tempat semula, usia pun tersia-sia. Tiba-tiba saja, neraka sudah menghadang di depan mata, titian surga entah ada di mana.

Sungguh nyata benar adanya, kehidupan dunia hanya perhiasan yang menipu mata. Membesarkan syahwat dan menciutkan iman dan taqwa. Jangankan beroleh mulia, dia hanya mengantar ke lembah nista. Penduduk dunia memandang sebelah mata, penduduk langit melaknatinya. Surga menutup pintu, terlemparlah jiwa ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Setiap kita adalah pengendara yang lemah, tiada daya di hadapan-Nya. Basahkan lisan memuji dan memohon hanya pada-Nya. Berusahalah dan yakinlah tiada yang sia-sia, semua selalu ada balasannya. Istighfar, mohon ampun atas segala khilaf dan dosa. Tawakallah, yakinilah cahaya-Nya akan menerangi jalanmu berujung surga.

#Demak, 17092015

Sang Pencerah dan prinsipnya

"Sang Pencerah dan Prinsipnya"

Adzan isya belum lagi usai saat pintu rumah Fatimah diketuk. Rumah  yang terletak agak ke pojok gang perumahan itu tergolong sederhana walau pemiliknya seorang anggota legislatif tingkat propinsi Jawa Tengah. Pak Anto namanya. Sudah dua puluh tahun lebih beliau tinggal di sana bersama Fatimah, istri dan ibu dari delapan putra-putrinya. Beberapa putranya disekolahkan di pondok pesantren, jauh dari rumah,  tinggal lima orang saja yang masih ada di rumah.

"Assalamu'alaikum, wa rahmatullahi wa barakatuh. Abi pulang ...!"

"Wa'alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh. Alhamdulillah ...," jawab Fatimah menyambut tangan suaminya. Bergegas diambilnya tas sang suami untuk diletakkan pada tempatnya.

"Anak-anak mana, Mi?" tanya sang suami sambil melepas sepatu.

"Sudah berangkat ke masjid, Bi," jawab Fatimah, "Abi nggak ke masjid?"

"Iya, ini mau ke sana, assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum salam."

Selepas menunaikan sholat isya, Fatimah bergegas menyiapkan makan malam. Suami dan anak-anaknya sudah pulang dari masjid.

"Assalamu'alaikum ...!" salam mereka bersahut-sahutan.

"Wa'alaikum salam, ayo semua duduk melingkar, Umi sudah siapkan makan malam," kata Fatimah.

"Ayo berdoa dulu," kata sang ayah mengingatkan, "allahumma baariklana fiima razaqtana wa qiina azab annaar, aamiin."

Seusai makan, anak-anak pun mengaji di rumah ustadzah sebelah rumah mereka.

"Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, secerdas-cerdas siasat ...," gumam Anto lirih.

"Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, secerdas-cerdas siasat ...," ulang Anto lagi.

"Abi sedang membicarakan apa sih?" tanya Fatimah penasaran, diletakkannya piring-piring kotor di tempat cucian. Dicuci nanti saja, pikirnya.

"Umi pernah dengar kalimat tadi?" tanya Anto, "setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, secerdas-cerdas siasat."

"Kayak pernah baca, tapi di mana ya ...? Eh, itu ... kan ...."

"Prinsip pemikirannya HOS Cokroaminoto!" seru Anto cepat.

"Habis lihat film Sang Pencerah ya? Kok Umi nggak diajak ...," sahut Fatimah cemberut.

"Hehe, cuma agak kesal tadi. Kok yang banyak ditonjolkan Soekarno dan Semaun."

"Mereka belajar pada beliau kan?"

"Iya sih, tapi kan nggak cuma mereka, masih ada Kartosuwiryo dan tokoh-tokoh Islam lainnya."

"Hemmm, mungkin karena Soekarno, Semaun dan teman-temannya cukup meninggalkan jejak sejarah sepeninggal beliau."

"Iya, tapi kan sebenarnya mereka tidak menangkap pesan beliau secara utuh."

"Maksud Abi?" tutur Fatimah dengan kening berkerut.

"Prinsip beliau tadi itu loh, Umi sayang. Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, secerdas-cerdas siasat. Prinsip itu tidak terekam dan diikuti oleh Soekarno dan Semaun dengan baik. Juga oleh pengelola negeri ini. Makanya negeri ini, pasca merdeka tetap saja terpuruk. Kalau dulu Bung Karno mencanangkan revolusi mental, mengubah mindset dari 'aku untuk aku' menjadi 'aku untuk bangsa,' tapi beliau sendiri mengkotak-kotakkan elemen masyarakat pada kelompok nasionalis, agamis dan komunis. Karena berbeda ideologi dalam bernegara, kelompok-kelompok ini terus bentrok dan menyuarakan kepentingan kelompoknya sendiri-sendiri. Bukan 'aku untuk negara' tapi 'aku untuk kelompok.' Maka kita lihat, kebobrokan, penjarahan di mana-mana. Sekarang pun tak jauh beda, hampir semua berpikir 'aku untuk aku' dan 'aku untuk kelompokku.' Akhirnya, korupsi, kolusi dan nepotisme menggurita dan mengakar dari golongan atas sampai ke lapisan bawah."

"Umi masih belum mengerti maksud Abi ...."

"Prinsip HOS Cokroaminoto itu bagus banget, Mi. Beliau tak hanya bicara tapi memberi contoh. Beliau menganjurkan pada banyak orang untuk bersungguh-sungguh mencari ilmu. Beliau tak hanya bersekolah  tinggi tapi juga mempelajari ilmu agama. Beliau juga membuktikan bahwa menuntut ilmu bisa di mana saja. Banyak anak-anak asuhnya yang menjadi tokoh pergerakan ...."

Udara malam terasa sejuk, mereka pun berpindah ke teras rumah. Samar-samar suara anak-anak yang mengaji di rumah sebelah turut membelai pendengaran, mengalun melenakan.

"Assalamu'alaikum, lagi santai nih, Abi dan Umi?"

"Wa'alaikum salam, sudah makan, Mas?" tanya Fatimah kepada pemilik suara yang baru saja datang, putra sulung mereka, Khairi.

"Sudah, Mi. Lagi diskusi apa sih? Kayaknya asyik banget."

"Sini! Ini penting loh buat pemuda macam kamu. Calon pemimpin je ...," Anto menarik tangan putranya agar duduk mendekat.

"Iya, beda sama Umi, kerjaannya paling nyuci, masak, bersih-bersih ...," celetuk Fatimah sambil berdiri.

"Eit ..., Umi juga harus paham. Kalau Abi tidak ada, Umi kan yang harus memahamkan pada anak-anak, Umi kan ibunya calon-calon pemimpin ...," sahut Anto, "eh, Mas, kamu kan sudah belajar hukum, belajar politik, apa yang kamu tahu tentang HOS Cokroaminoto?"

"Abi bener tuh, Mi," tutur pemuda tanggung 21 tahun itu, "eh, kalau nggak salah, seumuranku beliau sudah  jadi pamong praja jaman Belanda ya. Terus, beliau mengundurkan diri karena tidak suka dengan aturan pemerintah yang merendahkan rakyat. Beliau tidak suka memposisikan dirinya sebagai 'gusti' dan rakyat sebagai 'kawulo alit.' Beliau kemudian memutuskan untuk berdagang ...."

"Itu karena beliau sangat memegang ajaran Islam. Di mata Allah kedudukan orang kaya dan miskin sama, yang pejabat dan yang rakyat juga sama, yang membedakan hanya kadar keimanannya saja. Maka, beliau takut, terlalu dimuliakan manusia tetapi dihinakan oleh Allah ...," tukas sang Abi.

"Padahal pejabat sekarang gila hormat, kerjanya cuma plesiran. Gimana mau menyuarakan kepentingan rakyat, ditemui aja susah. Rumahnya dijaga ketat, nggak mau turba. Gayanya sudah kayak raja ...," celetuk Fatimah, "eh, kecuali Abi ya ...."

Fatimah tersenyum kecil, terlintas kembali ingatannya beberapa hari yang lalu ketika tetangganya mengantar seorang tamu yang mencari suaminya.

"Ibu, ini ada yang mencari Pak Anto," tutur Bu Warni diikuti dua orang bapak berpakaian rapi, "ini lho Pak, rumahnya Pak Anto."

"Sampeyan ampun gojekan, mosok aleg propinsi daleme kados ngoten," kata si Bapak agak berang.

"Pripun, Pak? Niki memang daleme Pak Anto, dos pundi? Pak Anto saweg tindhak luwar kutha. Monggo nek badhe pesen, mangke kulo aturke. Kulo garwane," sapa Fatimah halus.

"Oh ..., leres niki daleme? Sanes griya tingkat ageng ngajeng menika?" tanya si Bapak masih tak percaya.

"Menawi badhe tindak mrika nggih pikantuk, ning sanes daleme Pak Anto," jawab Fatimah lagi.

"Ealah, kok yo ono yo, aleg propinsi sing daleme biasa wae, ora koyo pangiroku. Nggih sampun, salam mawon kagem Bapak, mangke sanes wekdal taksowan malih, silaturahmi ...," kata si Bapak sebelum pamit.

"Kok senyum-senyum sih, Mi?" tegur si Abi penasaran.

"Hemmm, cuma keinget tamu yang salah masuk rumah orang," jawab Fatimah, "Abi sih, rumah dari dulu begini-begini saja."

"Apa Umi merasa nggak nyaman tinggal di rumah yang begini-begini aja?"

"Ya nggak gitu, Bi. Kalau Umi sih, yang penting Abi nggak melanggar syari'at, menafkahi keluarga dengan rejeki yang halal, jujur dan tetap perhatian sama keluarga. Tapi ..., kalau punya rumah bagus, ya mau juga,  Bi ...."

"Rumah bagus, mewah, uang banyak, hasil korupsi mau? ...," selidik si Abi.

"Ya enggaklah. Buat apa kalau Allah tidak ridha, entar malah diazab dunia akhirat. Hiii ...."

"Nah itu tadi, artinya kembali pada prinsipnya HOS Cokroaminoto ...." Anto kembali mengupas pembicaraan sebelumnya, "manusia memang perlu mencari ilmu setinggi langit, tapi enggak boleh lupa, jika ilmu seluruh penduduk bumi ditambahkan, maka yang sedemikian itu hanya bagai  setetes air dibanding selautan ilmu-Nya yang meliputi seluruh semesta. Maka, manusia harus memurnikan tauhid kepada Allah sehingga tak ada ketakutan pada makhluk dalam menjalankan syariat-Nya."

"Kok ...? Ah, Umi mau ambil air minum sama camilan dulu deh di dalam. Abi lanjutin diskusinya sama calon pemimpin kita," tutur Fatimah. Sebentar kemudian kedua tangannya sudah membawa nampan berisi teh hangat dan camilan. Alhamdulillah.

"Kamu ngapain, Mas? Malah mainan hape ...," tegur si Abi pada putra sulungnya. Pemuda itu hanya tertawa kecil sambil asyik dengan hapenya.

"Ini lho, Bi. Saya ingat nyimpen kalimatnya HOS Cokroaminoto yang bunyinya, "Kalau alat-alat pemerintahan yang memegang tampuk kekuasaan pemerintahan, baik pihak pejabat sampai bawahan, sudah tidak takut lagi kepada hukuman Allah, yakinlah negara akan rusak dan hancur dengan sendirinya. Sebab, segala perbuatan jahat, korupsi, penipuan, suap dan sebagainya yang secara terang-terangan merugikan negara, dilakukan dengan aman oleh mereka; rakyat yang menjadi korban.”

"Lha ... itu! Bener itu, Mas. Abi kira mainan hape. Diajak diskusi sama orang tua kok ...."

"Kalau secerdas-cerdas siasat maksudnya apa, Bi?" tanya Fatimah ingin tahu.

"Seorang pemimpin harus pandai mengambil hati orang-orang uyang berseberangan pendapat dengannya agar mereka bisa diberdayakan sesuai kapasitas mereka tapi tidak sampai membahayakan kepentingan negara."

"Oooh ..., bagus itu. Kenapa Abi agak kesal tadi?" tanya Fatimah.

"Soalnya, seolah-olah beliau mengajarkan pemerataan dan kesetaraan ala komunis. Sosialisme yang beliau tanamkan itu sosialisme dalam Islam, jauh beda dengan sosialisme ala komunis ...."

"Sosialisme dalam Islam?" tanya Fatimah lagi.

"Iya, hablum minannas, mengatur hubungan antar manusia, saling menghargai, saling membantu, saling menanggung beban. Umi ingat kisah Sayidina Umar ibnul Khathab ra saat menjadi kalifah? Beliau mengumpulkan zakat dari orang-orang muslim, juga mengumpulkan jizyah dari masyarakat non muslim, menyatukannya dalam baitul maal. Beliau juga menjamin uang kesejahteraan/ biaya hidup tiap-tiap masyarakatnya, sedang beliau dan keluarganya sendiri hidup dalam kesederhanaan, padahal seluruh harta benda yang tak terbilang nilainya dihimpunkan di hadapan beliau. Kita lihat, pada masa pemerintahannya yang singkat, pernah dijumpai tak ada lagi yang merasa pantas menjadi mustahik (penerima zakat), maka beliau mempergunakannya untuk membantu mereka yang kesulitan biaya untuk menikah. Itulah sosialisme yang sesuai dengan ajaran Islam."

Alunan suara mengaji anak-anak sudah tak terdengar, satu per satu dari mereka pun pulang sambil mengacung-acungkan buku ngajinya. Tanpa dikomando, mereka bergegas menempatkan diri di pangkuan kakak, abi dan uminya.

"Wah, calon-calon pemimpin masa depan, gimana tadi ngajinya?" tanya Anto lembut.

"Jayyid jiddan, Bi!" sahut Iffat, Aisy dan Thoriq bersahutan.

"Alhamdulillah, robbana hablana min azwajina wa dzuriyatina qurota 'ayunin lil muttaqiina immaman. Aamiin."

"Aamiin ...." Semua turut mengaminkan doa Fatimah. Jauh di dalam hatinya, ada tekad kuat untuk mewariskan nilai-nilai luhur pendahulunya agar ada di antara mereka yang siap meneruskan perjuangan yang tertunda.

#Demak, 12092015

Amara

AMARA

Seorang gadis kecil mengayuh sepedanya dengan cepat. Peluh membasahi wajah dan sebagian baju seragamnya. Namun demikian, dia terlihat sangat gembira. Tempat yang ditujunya susah terlihat, sebuah rumah mungil yang asri dan teduh.

"Assalamu'alaikum, Bunda ...! Amara pulang ...!" serunya riang. Disandarkannya sepeda di sudut teras, lalu bergegas masuk menemui dan mencium tangan  sang Bunda yang menyambutnya.

"Wa'alaikum salam, segera ganti baju lalu sholat dhuhur dulu. Makan siang sudah Bunda siapkan di meja makan."

Amara bergegas melaksanakan pesan bundanya. Sehabis sholat, dibukanya tudung saji di atas meja makan.

"Ah, kangkung lagi, tempe lagi,  males ah ...," gerutunya.

Amara berjalan dengan gontai menuju sepedanya, bunda yang melihat segera menegurnya, "mau ke mana, Amara? Kok enggak makan dulu?"

"Bosen, Bunda ... kangkung lagi, tempe lagi, Amara mau main aja ..., ke rumah Rona. Assalamu'alaikum!"

"Wa'alaikum salam, pulangnya jangan kesorean ya. Jangan lupa sholat ashar!" jawab Bunda.

Rumah Rona tidak terlalu jauh dari rumah Amara. Hanya saja, Amara tinggal di perumahan dan Rona tinggal di kampung yang terletak di dekatnya.

Amara menyandarkan sepedanya di bawah pohon mangga yang tumbuh rindang di halaman rumah Rona. Rumah Rona dikelilingi kebun sayuran milik keluarganya. Ada kangkung, wortel, bayam, tomat, kacang panjang, juga cabe dan bawang.

"Assalamu"alaikum! Rona ...! Kamu di mana ...?" panggilnya.

"Di sini! Ayo ke sini aja! Bantuin aku, Amara!"

Amara menoleh ke kanan dan ke kiri, akhirnya ditemukannya Rona, pemilik suara yang dicarinya. Gadis kecil itu sedang membawa keranjang yang setengah terisi sayuran.

"Lagi ngapain, Na?" tanya Amara.

"Nih, metik sayuran buat dimasak nanti," jawab Rona sambil asyik memetik kangkung, "tolong petikin tomat merah dua buah sama cabe beberapa biji ya."

Tak berapa lama, mereka pun selesai memetik sayuran yang dibutuhkan. Rona mengajak Amara masuk ke dalam dapur, mereka pun duduk di atas bangku panjang yang ada di sana. Dengan cekatan, Rona memotong-motong sayuran dan meletakkannya di wadah yang berbeda.

"Kamu mau masak, Na?" tanya Amara heran, "ibumu ke mana?"

"Iya, ibuku bekerja, Amara. Jadi buruh pabrik, pulangnya sore. Ayah juga. Jadi aku yang masak, kalau pulang sekolah. Kalau pas libur, ibuku yang masak. Masakannya enak sekali loh."

"Terus siapa yang belanja?" tanya Amara lagi.

"Kalau libur, ibu belanja bumbu-bumbu, kadang juga ayam sama telur. Tapi kalau enggak libur, ya enggak ada yang belanja. Bapak dan ibu suka berkebun, jadi kalau hari-hari begini kita masak hasil kebun."

Amara memperhatikan Rona yang cekatan menumis bumbu dan memasak sayuran. Tak berapa lama, tumis kangkung buatannya sudah matang. Rona menuangkannya dengan hati-hati dalam mangkuk sayur.

"Makan yuk! Laper nih," seru Rona sambil membawakan piring dan sendok untuk Amara.

Amara mengambil sedikit nasi dan sayur. Bagaimana pun, perutnya juga lapar, dan dia tidak sampai hati menolak tawaran Rona yang sudah berpayah-payah memasak. Siang itu mereka makan dengan sayur kangkung dan kerupuk. Tak jauh beda dengan masakan bundanya di rumah. Amara dtergugu.

"Kamu belajar masak dari mana, Na?"

"Ibu yang mengajariku."

Lagi-lagi Amara tergugu. Mereka sama-sama anak tunggal. Dia yang setiap pulang sekolah selalu disambut Bunda dengan senyuman. Mau makan juga tinggal makan, karena Bunda selalu sudah menyiapkannya. Betapa selama ini dirinya hampir tak pernah membantu bundanya. Sungguh jauh berbeda dengan Rona. Gadis itu hampir setiap hari pulang tanpa disambut ibunya. Bahkan masih harus memasak untuk dirinya dan melakukan pekerjaan rumah yang lain.

"Kok melamun. Kamu kenapa, Amara?"

"Eh, oh ... enggak kok. Eh, kamu enggak bosan, Na? Setiap hari repot sendiri. Kok ibumu enggak berhenti kerja aja sih?"

"Amara ... Amara ..., ibu dan ayahku itu cuma buruh pabrik. Kalau ibu enggak bantu ayah kerja, gimana nanti aku bisa sekolah. Aku kan enggak ingin kalau besar nanti cuma jadi buruh pabrik seperti mereka ..."

"Tapi ... rumahmu cukup besar."

"Ini peninggalan almarhum kakekku. Beliau pernah berpesan agar aku selalu membantu orang tua dan menghormati mereka, bagaimana pun keadaannya. Begitu juga kata guru agama kita kan, Amara."

"Ah, kamu kayak ustadz-ustadzah aja."

"Amara, Amara, kita ini enggak mungkin ada kalau enggak ada mereka ...."

"Assalamu'alaikum, eh ada tamu to ini, siapa namanya?" tanya seorang perempuan setengah baya yang tiba-tiba sudah ada di dekat mereka. Seorang lelaki paruh baya mengikutinya.

"Wa'alaikum salam. Alhamdulillah Ibu sama Bapak sudah pulang. Ini Amara, teman Rona," sambut Rona mencium tangan mereka. Dengan agak canggung, Amara mencoba tersenyum dan mengikuti Rona  mencium tangan mereka.

"Kayaknya lagi asyik banget nih," tutur ibunya Rona.

"Mungkin Amara pikir, seorang anak hanya punya hak dan kewajiban hanya milik orang tua," tutur Rona.

"Amara senang tidak kalau semua hal dicukupi orang tua?" tanya ibunya Rona.

"Tentu saja, Tante."

"Kalau suatu hari tiba-tiba Amara tidak mendapatkan sesuatu yang biasanya didapat? Misalnya, orang tua tiba-tiba sakit dan tidak bisa melakukan apa-apa yang biasa dilakukan?"

Amara tercenung, hal itu memang tudak pernah terpikirkan olehnya. Namun demikian, dia mencoba menjawab, "kalau begitu, gantian saya yang melayani orang tua."

"Menurut Amara, bisa enggak kita melakukan sesuatu yang enggak pernah kita lakukan."

Amara terdiam.

"Maka, membantu orang tua semasa mereka masih berdaya, masih sehat, itu adalah kewajiban dan kebutuhan. Kewajiban untuk belajar, karena suatu saat nanti kalian juga akan jadi orang tua. Juga kebutuhan untuk mendapatkan kasih sayang yang lebih banyak lagi."

"Amara lebih senang mana? Teman yang suka membantu atau teman yang enggak suka peduli?"

"Tentu saja dengan yang suka membantu, Tante."

"Nah, itu. Setiap orang tua pasti mengasihi dan menyayangi anaknya. Tapi, mereka pasti akan lebih sayang dan cinta, bila anak-anak mereka suka membantu dan patuh pada orang tua. Jadi ...."

Perkataan ibunya Rona membuka tabir yang menyelimuti hati Amara. Terbayang kembali saat-saat dia merajuk marah ketika Bunda atau Ayah tidak segera menuruti permintaannya. Tergambar kembali bagaimana dia selalu meninggalkan kamarnya dalam keadaan berantakan, namun ketika pulang semua sudah tertata rapi. Terlintas saat dia tak suka dengan masakan Bunda, dia selalu pergi main, namun Bunda selalu memasak untuknya. Peristiwa demi peristiwa mengetuk-ngetuk kesadaran Amara akan apa yang selama ini dia lakukan.

"Ehm, sudah sore. Amara pulang dulu ya, Tante, Om. Dadah Rona, makasih untuk semuanya ya. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum salam," balas mereka.

Amara bergegas mengayuh sepedanya untuk pulang. Dalam hati dia  berjanji, akan membuang sifat buruknya, belajar membantu orang tua dan menghargai jerih payahnya. Maafkan Amara, Bunda, jerit hatinya.

#Demak, 14092015

Bisa jadi, masalah itu bersumber pada diri kita

"Bisa Jadi, Masalah itu Bersumber pada Diri Kita"

Siang begitu terik, seorang anak berlarian pulang ke rumah dengan bersungut-sungut. Terlihat sekali bekas-bekas kemarahan pada raut mukanya. Tanpa mengucap salam, dilemparnya tas sekolahnya di atas meja. Kemudian dihempaskannya badannya dengan keras di atas sofa.

Sang ibu yang mendengar suaranya bergegas keluar kamar. Dengan senyum mengembang, dihampirinya buah hatinya.

"Assalamu'alaikum, Mbak Ifa sholihah. Salamnya mana ya?" sapanya lembut.

"Wa'alaikum salam!" jawab sang anak ketus.

Sang ibu tetap tersenyum, lalu duduk di samping sang anak, mengusap kepalanya dan berkata, "kok pulang-pulang cemberut?"

"Mi, aku pengen pindah sekolah. Temen-temenku tuh jahaaat semua. Aku bosen dinakalin terus. Pokoknya aku mau pindah sekolah. Kalo Umi gak mau mindahin, aku mau bilang Abi," jawab si anak nyerocos kayak kereta api.

"Masak sih? Perasaan kemaren-kemaren kamu seneng-seneng aja."

"Iya, itu kan kemaren-kemaren, aku masih bisa sabar. Sekarang, enggak lagi."

"Memangnya, siapa sih yang buat kamu marah?"

"Banyak, Siti, Rini, Tuti, Lia, Tya, ... pokoknya semua."

###

Dalam kisah yang lain, tersebutlah seorang pengrajin kursi yang sedang larut dalam pekerjaannya. Sebuah rangka kayu telah dibuatnya, tinggal menambahkan ukirannya. Maka, diambillah alat ukir untuk menyelesaikannya.

Di tengah-tengah kesibukannya, secara tak sengaja ada serpihan kayu yang sangat kecil masuk ke dalam ujung jarinya. Pasti sakit bila dicabut, pikirnya. Jadilah telusukan itu dibiarkan saja ada di sana. Sehari, dua hari, masih bisa ditahan sakitnya. Hari selanjutnya, jarinya makin memerah dan bengkak, kemudian bernanah. Satu sentuhan saja, akan membuat sakitnya tak tertahankan, apalagi bila ada yang mengajak berjabat tangan. Maka, semua yang menyentuhnya menjadi salah di matanya. Semua dianggap mencari masalah dengannya. Padahal masalah ada dalam dirinya sendiri, telusukan itu. Bila dia segera mencabutnya, memang akan terasa sakit, tapi masalah terselesaikan. Bukan sebaliknya.

###

Dalam kisah yang lain, seorang ibu membelikan celana panjang untuk putranya. Setelah dicoba, ternyata kepanjangan. Sang putra pun menggerutu, "Ibu ini bagaimana sih? Beli celana kepanjangan tiga jari, kan gak enak dipakai."

Selanjutnya, setiap orang dicurhati dan diharapkan membantu, sedang dirinya sendiri pergi untuk membunuh waktu.

Sang ibu pun bergegas mengambil gunting dan memotongnya tiga jari. Selanjutnya beliau rapikan ujungnya sehingga rapi seperti sedia kala. Diletakkannya celana itu di kamar putranya.

Sang kakak perempuan pun begitu sayang pada adiknya, ditengoknya kamar adiknya kemudian dipotongnya celana baru sang adik. Tak lupa dirapikannya ujungnya.

Kakak kedua pun tak kalah sayang, tanpa setahu yang lainnya, dia pun melakukan hal yang sama.

Demikian pula sang ayah, untuk si bungsu apapun akan dilakukan untuk menyenangkannya.

Lihatlah, bukankah itu wujud rasa peduli? perhatian? Lalu, apa masalahnya selesai? Dan ketika anak muda itu pulang, celana barunya memang sudah tidak kepanjangan. Tetapi, karena dipotong empat kali jadi celana pendek. Di mana sumber masalahnya?

###

Begitulah kita. Bisa jadi kita mengalami yang serupa dengan cerita pertama, tetapi sebenarnya, sumber masalahnya ada pada diri kita. Seperti halnya cerita kedua dan ketiga. Dan kita, seringkali sibuk menyalahkan yang lain.

Semestinya kita bercermin, bukankah kita hanya bisa melihat anggota tubuh bagian depan, yang berada langsung di depan cermin. Bisakah kita melihat punggung kita? Lalu mengapa kita tidak bercermin pada saudara kita. Mukmin itu cermin untuk mukmin lainnya. Saling mengingatkannlah. Kemudian, introspeksilah, di saat engkau melihat saudaramu tidak menyenangkan/ menyakiti hatimu, mungkin, engkau lebih dulu tidak menyenangkan/ menyakiti hatinya. Bisa jadi, masalahmu tidak bersumber dari orang lain, tapi bersumber dari dalam dirimu sendiri.

#Demak, 25052015

Revolusi mental dan pendidikan ala Nabi

REVOLUSI MENTAL DAN PENDIDIKAN ALA NABI (SHIBGHOH WAL 'INQOLAB)

Kita teramat sering mendengar ungkapan 'revolusi mental' disebut dan diperbincangkan di berbagai media. Ungkapan ini seolah menjadi kalimat yang spektakuler dan menyihir, sampai-sampai Kementrian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, merasa perlu membuat website dan mencanangkan 'Gerakan Nasional Revolusi Mental' dengan biaya fantastis, 140 milliar dan menuai banyak kritikan karena dianggap tak profesional dan menghambur-hamburkan uang negara.

Ungkapan 'revolusi mental' sendiri pertama kali diungkapkan oleh Bung Karno, bapak presiden I negeri ini di tahun 1957. Pada waktu itu, beliau melihat semangat nasionalisme cenderung terus menurun pasca kemerdekaan. Mereka yang sebelum kemerdekaan bertindak dan berpikir 'aku untuk semua, aku untuk Indonesia', mulai berubah. Sedikit demi sedikit terjadi pergeseran nilai,  nasionalisme pun terkikis, keegoisan membudaya, mindset berubah menjadi 'aku untuk aku." Karenanya, beliau mencanangkan gerakan revolusi nasional, melalui perubahan besar-besaran. Dari mulai langkahnya yang memutus ketergantungan dengan negara Barat dan mencanangkan ekonomi kerakyatan sampai pada sektor pendidikan dan kesehatan. Memang bukan langkah yang langsung terlihat hasilnya dalam waktu dekat, karena proses ini perlu waktu yang teramat panjang dan berkelanjutan.

Kemudian, ungkapan 'revolusi mental' ini pun mencuat lagi da dipopulerkan oleh Pak Jokowi yang pada waktu itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Yang kemudian banyak diperbincangkan masyarakat seolah hal yang baru dan banyak yang tak memahami artinya. Kehadirannya yang seolah tak membawa perubahan yang berarti, sehingga tumbuh idiom di masyarakat serupa sindiran 'revolusi mental atau revolusi mental?' Kalau yang pertama bermakna perubahan pola pikir yang lebih baik, kata yang kedua merujuk pada perbendaharaan bahasa Jawa yang berarti revolusi yang gagal (mental=memantul=berbalik ke belakang).

Dalam Islam sendiri, revolusi mental hanya bahasa lain dari 'shibghoh wal inqolab.' Terjemahannya 'terwarnai dan berubah total.' Maknanya adalah bahwa seseorang yang berIslam, akan mempelajari syariat dan hukum-hukumnya secara menyeluruh, kemudian mengamalkannya dan mengajarkannya sepanjang sisa kehidupan. Maka kita kemudian mengenal Sayyidina Umar ibnul Khaththab ra, yang sebelum Islam adalah seorang pegulat, preman pasar yang kasar lagi keras, yang mengikuti tradisi jahiliyah dengan mengubur putrinya hidup-hidup, yang menyelesaikan segala sesuatu dengan kekerasan. Dan ketika cahaya Islam menyelimutinya, kemudian kita mendapati beliau sebagai kalifah berhati lembut dan sangat memikirkan rakyatnya. Beliau memanggul sendiri persediaan makanan untuk seorang ibu yang terpaksa memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya yang kelaparan. Beliau menggunakan tangannya sendiri dan istrinya untuk menolong musafir yang hendak melahirkan. Beliau menerjang badai pasir yang ganas demi menyelamatkan anak unta bagian dari zakat yang lepas dan tersesat. Pada kekhalifahan beliau semua hak umat ditunaikan dengan adil, dan harta hasil zakat hampir tak mempunyai daftar penerima karena semua penduduk merasa tak layak menerima zakat.

Dan kita pun mengenal seorang yang dulunya penyamun, berasal dari daerah yang sebagian besar masyarakatnya hidup dari barang rampokan. Setelah berIslam, Rasulullah saw mengganti namanya menjadi 'Abi Dzar Al-ghifari' dan mengutusnya kepada kaumnya. Di sana beliau berdakwah dan berhasil mengislamkan mereka semua. Mereka pun bertaubat dan memulai penghidupan secara halal dan berhenti berbuat dholim.

Ada banyak lagi kisah yang tak kalah menakjubkan. Mereka yang berhasil tershibghoh wal inqolab, mereka yang berhasil merevolusi mental dirinya, dari mana mereka mulai? Jawabannya, tak lain dan tak bukan adalah karena apa yang diajarkan Rasulullah saw kepada mereka, karena pendidikan Nabi saw yang menyentuh, tak hanya kulit luarnya, namun juga sampai ke pori-porinya, terus menembus ke dalam hati mereka.

Kita bisa melihat, sepanjang kurun waktu gerakan nasional revolusi mental ini dicanangkan, tak ada perubahan yang berarti. Budaya korupsi, kolusi dan nepotisme seolah mengakar kuat tak mau tumbang. Para pejabat hanya bisa teriak 'revolusi mental' sementara perut mereka terisi penuh tangis kelaparan rakyat yang tempat tinggalnya dirampas, dengan tatapan kosong mereka yang tak bisa berobat dan tak bisa sekolah. Dan anak-anak sekolah lebih disibukkan tawuran dan ikut arus pergaulan bebas daripada belajar.

Apa yang salah? Apa pencanangan gerakan nasional revolusi mental yang digagas pemerintah salah? Tidak. Hanya saja, pencanangan itu perlu pembuktian yang nyata, sebagai pembelajaran seluruh elemen bangsa. Bukan dengan membuat website yang menghabiskan 140 milliar setahun yang mungkin tak akan pernah dibaca seluruh penduduk Indonesia, kecuali beberapa gelintir saja. Gunakan saja dananya untuk memperbaiki sekolah-sekolah yang sudah tak layak ditempati, bukannya malah mengambrukkan bangunannya dan mendirikan bangunan lain yang tak ada sangkut pautnya dengan pendidikan. Gunakan saja dananya untuk menggaji guru-guru madrasah yang berlelah-lelah mengajar anak-anak ilmu pengetahuan dan budi pekerti. Gunakan saja dananya untuk menjamin pendidikan anak-anak tak mampu. Bukankah dalam Undang-Undang Dasar negeri ini tercantum bahwa, "fakir miskin dan anak terlantar dibiayai negara?"

Manusia adalah makhluk peniru dan pembelajar ulung. Apa yang dia lihat dan alami akan menjadi bahan ajar yang akan ia ikuti. Maka pencanangan gerakan nasional revolusi mental itu perlu pembuktian. Merevolusi mental para pemimpinnya dan para pejabatnya sebagaimana Rasulullah saw merevolusi mental Sayyidina Umar, Abi Dzar Al-ghifari dan sahabat-sahabatnya yang lain sehingga mereka tershibghoh dan benar-benar menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan bermanfaat,  berbeda dari sebelumnya. Dengan pendidikan ala Nabi saw, menjadikan mereka merasa diawasi Tuhan tanpa henti, sehingga berpikir berribu kali ketika akan melakukan tindakan yang tak terpuji. Rakyat pun akan merasa terayomi, sehingga bisa bekerja dan berbakti untuk negeri sepenuh hati.

Maka perlu pula merevolusi mental para guru sebagai ujung tombak pendidikan. Dengan pendidikan robbani, pendidikan ala Nabi saw. Agar tak ada lagi guru-guru yang keluyuran pada jam pelajaran, menyerahkan tugas pada mahasiswa keguruan yang baru praktek mengajar. Agar tak ada lagi guru-guru yang malas masuk kelas, hanya memberikan tugas dan catatan. Agar tak ada lagi guru-guru yang melanggar adab kesopanan dan suka melecehkan. Maka akan terbentuk siswa-siswa yang beradab, berpengetahuan dan berbudi pekerti menakjubkan. Mereka akan tumbuh menjadi pemuda-pemudi yang bertanggungjawab, sadar akan tugas dan kewajiban. Kelak tangan mereka akan merubah masa depan, menghapus yang suram, menorehkan sejarah yang menawan. In syaa Allah.

Revolusi mental dalam Islam, hanya bisa ditanamkan melalui pendidikan ala Nabi saw, oleh mereka yang mengerti dan memahami syariat dan hukum-hukum Allah. Mereka yang mendidik tak hanya akal pikiran, namun juga hati dan seluruh anggota badan, menyelaraskan amal dan perbuatan. Maka muliakanlah para ulama, hidupkan pesantrennya, karena di sanalah pola pendidikan ala Nabi saw diwariskan. Bukan dengan mencurigai mereka dan menghembuskan tuduhan yang tak beralasan. Agar manusia tak hanya mengerti ilmu pengetahuan tapi juga beriman dengan sebenar-benar iman. Mereka yang beriman selalu lebih peka menolong yang membutuhkan. Mereka yang beriman selalu lebih peduli dan mudah mengulurkan tangan. Mereka yang beriman selalu mengedepankan etos kerja dan amal, tidak menjatuhkan diri dalam permainan dan kesia-siaan. Mereka yang beriman selalu lebih mudah diingatkan ketika melakukan kesalahan. Mereka yang beriman selalu lebih mengutamakan persatuan dan kebersamaan dan mengecilkan 'keakuan'.

Pada akhirnya, inilah sebuah jawaban 'dari mana hendaknya revolusi mental harus dimulakan?' Dengan pendidikan ala Rasulullah saw, dengan menumbuhkan iman di setiap hati dan jiwa manusia, merubah keburukannya dan membangunkan sifat kebajikan. Butuh waktu lama dan terus menerus, namun dengan doa, usaha, istighfar dan tawakal, yakinlah semua akan indah pada waktunya.

Ingat pula firman-Nya dalam QS Ar-Ra'du ayat 11, "Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
Negeri ini adalah negeri kita, maka kitalah yang harus merubahnya menjadi jauh lebih baik, agar kita tak mewariskan keburukan untuk generasi selanjutnya. Kita bisa, in syaa Allah.

#Demak, 27082015

Muhasabah

MUHASABAH I
Oleh: Titien SDF

Aku mengeluhkan kekesatan hatiku ya Rabbi. Yang melekat kuat di selembar bumi. Tergopoh-gopoh menyongsong kilau imitasi. Di atas kereta usia yang cuma selintas ini. Sedang rel-Mu melambai memanggil untuk kususuri.

Ampuni alpa ini ya Pemilik segala ampunan. Berjejal jinjingan penuhi  kedua tangan. Berharap menaiki hidup penuh keselamatan. Hampir terlupa, tiket surga belum kusiapkan. Sedang kereta melaju tiada dapat ditangguhkan.

Dan ketika penjaga-Mu menanyaiku. Merapal asmaul husna pun lidah terasa kelu. Kalam suci-Mu terpojok di sudut kalbu. Terabai terselimutkan debu-debu. Dan lisan ini masih saja berucap yang tak perlu.

Beri aku waktu, wahai Pemilik Kehidupan. Biar kuhapus semua jejak keburukan. Hiasi pakaianku dalam ketaqwaan. Isi ceruk palung rinduku sepenuh iman. Di sini, kuhasung pinta dengan nama-Mu yang Maha Rahman.

#Demak, 04092015

MUHASABAH II
Oleh: Titien SDF

Terang teramat menyilaukan. Surya mendekat, panasnya tak tertahankan. Padang pasir membentang sepanjang pandangan. Tergigil insan tanpa tutupan, berhamburan. Ke mana gerangan kucari naungan?

Di manakah ini? Teriakku terus berlari. Peluh menenggelamkan raga lemah ini. Napas seolah terputus namun tak hendak berhenti. Tiada jawaban, tiada yang peduli. Sepenuh mata tersibuk, selamatkan diri sendiri.

Inikah hari perhitungan itu? Mengapa begitu cepat mendatangi waktu. Sedang perjalanan terlalu banyak arah tak tentu. Tersesat dalam jurang bahgia nan semu. Mempecundangi usia yang berlalu.

Sepercik tirta turun bagai hujan menerpaku. Bangunlah wahai jiwa yang tertipu. Waktumu belum tiba, cepat siapkan dirimu. Ambil air wudhu, pacu kendali kudamu. Hapus jejak keburukan, di atas jalan lurus-Nya kita kan menuju.

#Demak, 04092015


Bukan sekedar bendera

Bukan Sekedar Bendera
Oleh: Titien SDF

Merah putih
Bagiku
Bukan sekedar bendera
Dikibarkan setiap upacara
Diturunkan setelahnya
Dilipat dan disimpan
Nyaris hanya sebagai formalitas
Bahwa kita punya bendera

Merah putih
Bagiku
Adalah merahnya darah para pejuang
Yang mengalir menyuburkan negri
Walau kadang sering dikhianati
Ulah petinggi negri ini
Membanjirkan tangis
Anak-anak pertiwi

Merah putih
Bagiku
Adalah putihnya niat yang suci
Yang dipintal menyatu satu-satu
Disusun bertangga-tangga cita
Dari ujung barat sampai ujung timur
Untuk menorehkan sejarah
Bangsa ini bukan bangsa durjana

Merah Putih
Bagiku
Adalah janji
Perbaiki negri
Bangun peradaban
Untuk memuliakan
Untuk sejahterakan
Merdeka sebenar-benar merdeka

#Demak, 15082015

Bercerminlah, namun jangan seperti Narcissus

Bercerminlah, Namun Jangan Seperti Narcissus
Oleh: Titien SDF

Di sebuah hutan di Yunani, ada sebuah telaga yang airnya jernih. Terkisahkan pula seorang pemuda nan rupawan, Narcissus. Setiap hari, dia selalu duduk berlutut di tepian telaga, mengagumi keindahan wajahnya sendiri tanpa jemu dan enggan beringsut. Dia pun melupakan segala hajatnya sehingga semakin lama tubuhnya semakin lemah dan jatuh tenggelam ke dalam telaga.

Dikisahkan, air telaga yang semula berasa tawar menyegarkan, airnya pun berubah menjadi seasin air mata. Semua itu karena telaga menangisi kematian Narcissus.

"Mengapa kau menangis?" tanya Peri hutan.

"Aku menangisi Narcissus," sahut telaga itu,  "karena sejak ketiadaan Narciscus, aku tak bisa melihat keindahanku sendiri yang terpantul di kedua bola matanya saat dia berlutut."

Narcissus, ataupun telaga tempat dia bercermin, mengingatkan sifat manusia yang cenderung mengagumi diri sendiri/sesuatu secara berlebihan. Kekaguman yang melahirkan cinta yang salah, yang selalu ingin berdekatan tanpa melakukan sesuatu apapun, dan berujung pada kebinasaan.

Memang benar adanya, firman Allah dalam QS ayat 4, "laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk."

Dia karuniakan penglihatan yang sempurna. Bola mata yang ukurannya hanya sebesar kelereng, lembek dan mudah robek, tetapi dapat menangkap aneka warna dan ribuan bentuk, dilengkapi dengan kelopaknya yang dapat membuka dan menutup untuk melindunginya. Bulu mata yang tersusun rapi menjadikannya terlihat indah. "Fabi ayyi alaa-irobbikumaa tukadzdzibaan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS Ar-Rahman 12).

Dia anugerahkan pendengaran yang menakjubkan. Lubang telinga yang menghadap ke samping, beserta saluran pendengaran yang begitu rumit. Tersembunyi oleh daun telinga yang lembut, terlindung dari sumber suara secara langsung. Padanya, segala macam bunyi dan irama dapat terdengar, dari yang keras menggelegar, yang merdu mendayu-dayu, yang sayu penuh pilu, sampai bisikan lirih selembut salju. "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Dia hiasi dengan tampilan tubuh yang mempesona. Tiap helai rambut tersusun begitu rapi dan terus bertumbuh. Tiap ruas tulang yang tersusun kokoh. Tiap serat daging yang menyatu, padanya melekat saraf-saraf dan pembuluh darah, yang kecil dan yang besar, yang lembut serta liat dan fungsinya yang tiada tergantikan oleh apapun. Paras yang rupawan, anggota badan yang lengkap, organ dalam yang memikat, indera yang melekat, semua begitu mengagumkan. "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Dia sematkan pula segumpal hati di antara kesempurnaan manusia. Dengannya, manusia dapat menentukan pilihannya, apakah ia memilih selamat atau binasa, beriman ataukah ingkar, mengikuti syariat-Nya atau meninggalkannya? Maka ia bersama dengan apa yang dipilihnya.

Narcissus telah memilih untuk mencintai dirinya sendiri,  jasadnya yang rupawan dan menyilaukan. Maka dia hanya duduk diam dan memandang penuh kagum pada apa yang dia cinta, pada pantulan dirinya yang tergambar jelas di air telaga. Dia lupa, yang dia cinta hanya karunia, hanya anugerah, hanya ciptaan. Sedang semua ciptaan itu pada hakikatnya fana, tidak kekal, tidak abadi. Karenanya berdiam diri dalam mencintai karunia adalah sesuatu yang sia-sia.

Salahkah Narcissus? bila ia mengagumi bentuk penciptaan dirinya? Bukankah itu harus disyukuri?

Benar, mengagumi keindahan bentuk penciptaan kita adalah bagian dari rasa syukur. Namun, kekaguman yang hakiki lebih layak ditujukan pada Sang Pencipta, Dia yang Maha Memberi, Dia yang menjadikan jasad kita terlihat begitu indah. Kepada-Nyalah sepenuh cinta dan harapan mestinya kita tujukan. Kemudian menjaga apa yang Dia karuniakan sesuai dengan petunjuk-Nya.

Rasulullah saw mengajarkan, apabila engkau bercermin, maka ucapkanlah, "allahumma inni hasanta kholqi fahasiin khuluqii. Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah membaguskan penciptaanku, maka baguskanlah pula akhlaqku. "

Apa yang terlihat indah di dzahir pada hakekatnya tidak dapat menyelamatkan kita dari murka Sang Pencipta, Sang Pemilik segala sesuatu.

Dia tak melihat keindahan dzahir. Tangan-Nya berkuasa untuk mencipta yang jauh lebih indah dan mengagumkan, yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, bahkan tak terbayangkan oleh akal pikiran kita. Maka, menyandarkan keselamatan hakiki kepada keindahan dzahir adalah sia-sia.

Dan Dia berfirman dalam QS Al-Hujurat ayat 13, "inna akromakum 'indallahi atqookum. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa."

Taqwa adalah amalan hati, keindahannya terpancar dalam perilaku yang terpuji, selayak yang telah dicontohkan oleh khotamul 'anbiya, penutup para nabi, Muhammad Rasulullah saw yang begitu indah dan tinggi menjulang. Hatta ketika para sahabat menanyakan kepada Ummul Mukminin Aisyah ra perihal akhlaq beliau, dijawab, "semuanya menakjubkan. Akhlaq beliau adalah khuluqul qur'an." Subhanallah.

Allah pun berfirman dalam QS Al Ahzab ayat 21, "laqod kaanalakum fii rosuulillahi uswatun hasanatun liman kaana yarjullaha wal yaumal akhiro wadzakarollaha katsiiron. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."

Kelak, beliau akan berjaga di tepi telaga yang airnya begitu jernih dan tiada duanya. Telaga yang hanya terdapat di surga, telaga Kautsar. Beliau yang berwajah teduh dan berseri-seri, akan menyambut sesiapa yang datang dan memberi minum dengan tangannya sendiri yang penuh berkah. Dan tiap sesiapa dihalau dari telaganya, beliau berseru, "ya Robbi, ummati ... ummati .... Ya Allah, umatku ... umatku ...."

Maka Allah menjawab, "engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu."

Beliau yang memberikan minum dari air telaga Kautsar itu adalah Muhammad Rasulullah saw, sesiapa yang diberinya minum adalah orang-orang beriman, yang mengambil suri tauladan dari kehidupan beliau yang penuh ujian dan berkah, yang mengundang decak kagum kawan maupun lawan, yang membuat sesiapa yang berdekatan dengannya merasa paling dicintai.

Bercermin bukanlah sesuatu yang salah. Dia hanya satu pintu untuk membuka kebaikan dan menutup kejelekan. Bahkan Rasulullah saw bersabda, "al mukminu mirr-atul mukmin. Seorang mukmin itu adalah cermin dari saudaranya."

Tak seperti Narcissus yang bercermin di air telaga. Narcissus dan telaganya, masing-masing hanya ujub pada diri sendiri dan tidak memperdulikan semua yang ada di sekelilingnya. Seorang mukmin dan mukmin lainnya senantiasa saling mengingatkan yang alpa, meluruskan yang keliru, menguatkan yang lemah dan menambahkan yang kekurangan. Dengannya ukhuwah disatukan dan cinta diikatkan di bawah naungan ridho dan ampunan Allah.

Seorang mukmin mestinya menggunakan penglihatannya untuk memahami ayat-ayat Allah, menggunakan pendengarannya untuk mendengar hukum-hukum Allah, dan menggunakan hatinya untuk memilih menaati syariat-syariat Allah. Dengan demikian dia tak hanya mengagumi keindahan lahiriahnya, namun juga berupaya menghiasi sisi-sisi batiniahnya dengan akhlaq mulia.

"Allahumma hasanta kholqii fa hasiin khuluqii. Aamiin."

#Demak, 28082015

Tersenyum itu (tidak) sulit

"Tersenyum itu (Tidak) Sulit"

Seorang gadis kecil masuk ke dalam rumah, dilemparnya tas dan sepatu ke sudut ruang,. Sebentar kemudian ia lari menghambur ke pelukan ibunya.

"Loh, salamnya mana, Sayang? Ayo salim dulu sama Bu Fatimah," tegur sang Ibu.

"Assalamu'alaikum!" serunya pendek. Diulurkannya tangannya tanpa menoleh.

"Wa'alaikumussalam, kok salimnya begitu?" tanya sang Ibu lagi, "sambil senyum dong. Entar dikira Mbak Aisy lagi marah."

"Emang lagi marah, sama temen."

"Yaaah, temennya kan enggak di sini. Masak Bu Fatimah sama Ibu kena marah juga? Ayooo, senyum dong. Tarik ujung bibir ke atas, nah ... gitu dong ...."

Mau tak mau gadis kecil itu mengikuti arahan ibunya. Jadilah sebentuk senyuman yang tentu akan lebih manis bila tak dilakukan secara terpaksa.

Memang, tersenyum itu sepertinya mudah sekali untuk dilakukan. Tinggal tarik ujung bibir kanan dan kiri kira-kira 1-2 cm ke arah atas. Jadi deh, sebuah lengkungan bulan sabit secara horisontal di wajah kita. Nyatanya, tak semudah itu.

Suatu ketika, saya pernah berpapasan dengan tetangga sepulang belanja. Karena sedang di atas motor, saya hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum. Di luar dugaan, beliau berhenti dan bertanya, "Bu, kenapa sih? Ibu-ibu kalau di rumah jarang banget tersenyum? Apalagi kalau pas tanggal tua ... Padahal kalau sama orang lain mudah sekali tersenyum ...."

Deg. Pertanyaan ini bagai sindiran bagi saya. Jangan-jangan suami juga merasakan hal yang sama. Wah ....

"Masak sih, Pak? mungkin karena biasanya masalah rame-rame bertamu pas tanggal tua," jawabku bercanda.

Peristiwa siang itu tak urung memaksa diri untuk mencermati kembali keseharian kita.

"Tabassumuka fii wajhi lii akhihi sodaqotun." Begitu hadits Rasul saw yang anak-anak paud pun hafal. Senyummu di wajahmu kepada saudaramu adalah sedekah. Alangkah indah, alangkah ringan dan mudah, tanpa biaya. Namun yang demikian itu ternyata tak semudah yang kita kira.

Mudah kok! Setiap hari saya tersenyum kok! Begitu mungkin alibi kita. Benar, tapi belum tepat.

Mari sama-sama kita cermati, kepada siapa kita tersenyum? Mungkin benar. Saat bertemu dengan saudara kita yang lama tak bertemu, bibir kita dengan mudah melukis senyuman. Saat bertemu guru-guru, murid-murid, atau teman-teman, kita bisa dengan mudah mengukir senyum. Saat di kantor, di pasar, di sekolah, di angkutan umum, atau bahkan di jalan, senyum itu tetap terasa lebih mudah. Tapi, semudah itukah pula kita mengukir senyum dalam keseharian kita di rumah?

Sebagian besar kaum ibu, mindsetnya sudah dipenuhi dengan tugas-tugas keseharian. Hampir selalu kita dapati mereka terbangun dengan pikiran-pikiran 'habis mengerjakan ini, nanti terus itu, terus bla bla bla enggak ada habisnya.' Hebatnya, kalau mereka nyapu di teras rumah, terus ada yang nyapa, mereka akan menyempatkan diri menoleh dan tersenyum, sekedar membalas sapaan. Pagi-pagi sedekah, pikirnya. Alhamdulillah. Tapi, saat kembali masuk rumah, senyum itu nyaris tak berbekas. Duh, kalau yang ini, kadang-kadang aku juga begitu sih, lupa.

Bapak-bapak tak jauh berbeda keadaannya. Banyak sekali yang terbangun dengan mindset 'sholat-olahraga-nyantai-kerja.' Alih-alih membantu pekerjaan rumah tangga, mereka lebih asyik dengan kesibukannya sendiri. Jadilah, banyak ibu rumah tangga yang berkeluh kesah, suaminya jarang di rumah, sekalinya di rumah kerjaannya makan, baca koran, jogging terus tidur. Bener gak sih?

Anak-anak dibangunkan dengan sederet perintah 'bangun terus begini, habis itu begitu, lalu bla bla bla.' Alhasil, senyum kita hanya dinikmati oleh orang lain, sedekah kita hanya dirasakan oleh orang lain. Tapi, rumah tangga kita sendiri tak beroleh sedekah. Padahal, keluarga kita lebih berhak untuk menikmati senyuman kita sebelum diberikan ke orang lain.

Saudaraku yang dirahmati Allah, terkadang kita menyepelekan hal seperti ini. Sebuah senyuman dapat membuka pintu-pintu rejeki, apalagi bila diawali dari rumah kita, kepada pasangan hidup kita, kepada anak-anak, keluarga kita.

Sebuah senyuman bisa berarti tanda kesyukuran. Karena hidup ini indah dan diatur oleh-Nya yang Maha Indah. Dan satu kesyukuran membuka pintu-pintu nikmat lainnya. Bukankah Allah berfirman, "la in syakartum la aziidanakum ...." Jika kalian bersyukur, pasti akan Kami tambahkan nikmat untuk kalian."

Baiklah, coba kita bandingkan seorang ibu yang mengawali harinya dengan senyuman dengan yang tidak. Ibu yang pertama membangunkan suami dan anaknya dengan suara lembut dan tersenyum saat mereka membuka mata. Ibu yang kedua membangunkan suami dan anaknya dengan tepukan dan muka cemberut. Manakah yang lebih disukai? Tentu saja yang pertama. Yang pertama akan menumbuhkan kasih sayang, yang kedua dapat menumbuhkan rasa enggan atau benci. Dan setiap sesuatu yang dilakukan dengan kasih sayang selalu berbuah hal positif. Ketika minta tolong akan dibantu, bertukar pikiran pun akan lebih nyaman. Begitu juga sebaliknya, sesuatu yang dilakukan dengan enggan, hasilnya pun biasanyanya negatif.

Senyuman itu mengikatkan hati, karenanya jangan pelit tersenyum untuk keluarga. Bukankah kita selalu menginginkan keluarga kita menjadi penyejuk mata? Kita sering memohon dan berdoa, "rabbana hablana min azwajiina wa dzurriyatiina qurrota 'ayunin waj 'alna lil mutaqiina immaman." Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Seperti apakah qurrota 'ayun (penyejuk mata) itu? Ialah yang bila dipandang menyenangkan, bila diperintah mentaati, bila kita tiada, dia menjaga rumah, harta dan nama baik kita. Ialah yang mengingatkan saat lupa, meluruskan saat keliru, yang menyembunyikan kekurangan kita dan memupuk kelebihan kita. Ialah yang selalu kita rindukan di dunia dan diharapkan berkumpul di akhirat. Dan seperti halnya kita, pasangan hidup kita pun mendamba hal yang sama. Maka mulailah dengan senyuman, jadilah penyejuk mata bagi keluarga maka dengan ijin Allah, mereka pun berusaha menjadi penyejuk mata bagi kita.

Tersenyumlah, karena senyum dapat menjaga dan memulihkan kesehatan seseorang. Dipandang dari segi kesehatan, tentu saja orang yang murah senyum akan jauh dari stress, jantungnya berdetak normal, peredaran darahnya juga mengalir dengan baik. Karena peredaran darahnya baik, oksigen untuk ptak juga tercukupi, berpikir pun akan lebih jernih. Pendek kata, orang yang terbiasa tersenyum akan terhindar dari berbagai ketegangan hidup yang biasanya dapat membuat seseorang jenuh dan mudah stress. Sebabnya karena senyuman mendorong hati seseorang menjadi lebih bahagia dan gembira. Dan sebagai akibatnya, selain menyehatkan dan menguatkan tubuh, juga akan membuat seseorang awet muda.

Tersenyumlah, karena senyum adalah ibadah. Para sahabat Rasulullah saw menggambarkan pribadi Rasulullah saw sebagai pribadi yang selalu berhias senyuman. Bila beliau marah, beliau pun tetap memelihara senyumnya.

Tersenyumlah, karena tersenyum itu tidak sulit dan baik untuk diri kita, dunia dan akhirat.

#Demak, 02092015

Bercerminlah, namun jangan seperti Narcissus

"Bercerminlah, Namun Jangan Seperti Narcissus"

Di sebuah hutan di Yunani, ada sebuah telaga yang airnya jernih. Terkisahkan pula seorang pemuda nan rupawan, Narcissus. Setiap hari, dia selalu duduk berlutut di tepian telaga, mengagumi keindahan wajahnya sendiri tanpa jemu dan enggan beringsut. Dia pun melupakan segala hajatnya sehingga semakin lama tubuhnya semakin lemah dan jatuh tenggelam ke dalam telaga.

Dikisahkan, air telaga yang semula berasa tawar menyegarkan, airnya pun berubah menjadi seasin air mata. Semua itu karena telaga menangisi kematian Narcissus.

"Mengapa kau menangis?" tanya Peri hutan.

"Aku menangisi Narcissus," sahut telaga itu,  "karena sejak ketiadaan Narciscus, aku tak bisa melihat keindahanku sendiri yang terpantul di kedua bola matanya saat dia berlutut."

Narcissus, ataupun telaga tempat dia bercermin, mengingatkan sifat manusia yang cenderung mengagumi diri sendiri/sesuatu secara berlebihan. Kekaguman yang melahirkan cinta yang salah, yang selalu ingin berdekatan tanpa melakukan sesuatu apapun, dan berujung pada kebinasaan.

Memang benar adanya, firman Allah dalam QS ayat 4, "laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk."

Dia karuniakan penglihatan yang sempurna. Bola mata yang ukurannya hanya sebesar kelereng, lembek dan mudah robek, tetapi dapat menangkap aneka warna dan ribuan bentuk, dilengkapi dengan kelopaknya yang dapat membuka dan menutup untuk melindunginya. Bulu mata yang tersusun rapi menjadikannya terlihat indah. "Fabi ayyi alaa-irobbikumaa tukadzdzibaan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS Ar-Rahman 12).

Dia anugerahkan pendengaran yang menakjubkan. Lubang telinga yang menghadap ke samping, beserta saluran pendengaran yang begitu rumit. Tersembunyi oleh daun telinga yang lembut, terlindung dari sumber suara secara langsung. Padanya, segala macam bunyi dan irama dapat terdengar, dari yang keras menggelegar, yang merdu mendayu-dayu, yang sayu penuh pilu, sampai bisikan lirih selembut salju. "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Dia hiasi dengan tampilan tubuh yang mempesona. Tiap helai rambut tersusun begitu rapi dan terus bertumbuh. Tiap ruas tulang yang tersusun kokoh. Tiap serat daging yang menyatu, padanya melekat saraf-saraf dan pembuluh darah, yang kecil dan yang besar, yang lembut serta liat dan fungsinya yang tiada tergantikan oleh apapun. Paras yang rupawan, anggota badan yang lengkap, organ dalam yang memikat, indera yang melekat, semua begitu mengagumkan. "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Dia sematkan pula segumpal hati di antara kesempurnaan manusia. Dengannya, manusia dapat menentukan pilihannya, apakah ia memilih selamat atau binasa, beriman ataukah ingkar, mengikuti syariat-Nya atau meninggalkannya? Maka ia bersama dengan apa yang dipilihnya.

Narcissus telah memilih untuk mencintai dirinya sendiri,  jasadnya yang rupawan dan menyilaukan. Maka dia hanya duduk diam dan memandang penuh kagum pada apa yang dia cinta, pada pantulan dirinya yang tergambar jelas di air telaga. Dia lupa, yang dia cinta hanya karunia, hanya anugerah, hanya ciptaan. Sedang semua ciptaan itu pada hakikatnya fana, tidak kekal, tidak abadi. Karenanya berdiam diri dalam mencintai karunia adalah sesuatu yang sia-sia.

Salahkah Narcissus? bila ia mengagumi bentuk penciptaan dirinya? Bukankah itu harus disyukuri?

Benar, mengagumi keindahan bentuk penciptaan kita adalah bagian dari rasa syukur. Namun, kekaguman yang hakiki lebih layak ditujukan pada Sang Pencipta, Dia yang Maha Memberi, Dia yang menjadikan jasad kita terlihat begitu indah. Kepada-Nyalah sepenuh cinta dan harapan mestinya kita tujukan. Kemudian menjaga apa yang Dia karuniakan sesuai dengan petunjuk-Nya.

Rasulullah saw mengajarkan, apabila engkau bercermin, maka ucapkanlah, "allahumma inni hasanta kholqi fahasiin khuluqii. Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah membaguskan penciptaanku, maka baguskanlah pula akhlaqku. "

Apa yang terlihat indah di dzahir pada hakekatnya tidak dapat menyelamatkan kita dari murka Sang Pencipta, Sang Pemilik segala sesuatu.

Dia tak melihat keindahan dzahir. Tangan-Nya berkuasa untuk mencipta yang jauh lebih indah dan mengagumkan, yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, bahkan tak terbayangkan oleh akal pikiran kita. Maka, menyandarkan keselamatan hakiki kepada keindahan dzahir adalah sia-sia.

Dan Dia berfirman dalam QS Al-Hujurat ayat 13, "inna akromakum 'indallahi atqookum. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa."

Taqwa adalah amalan hati, keindahannya terpancar dalam perilaku yang terpuji, selayak yang telah dicontohkan oleh khotamul 'anbiya, penutup para nabi, Muhammad Rasulullah saw yang begitu indah dan tinggi menjulang. Hatta ketika para sahabat menanyakan kepada Ummul Mukminin Aisyah ra perihal akhlaq beliau, dijawab, "semuanya menakjubkan. Akhlaq beliau adalah khuluqul qur'an." Subhanallah.

Allah pun berfirman dalam QS Al Ahzab ayat 21, "laqod kaanalakum fii rosuulillahi uswatun hasanatun liman kaana yarjullaha wal yaumal akhiro wadzakarollaha katsiiron. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."

Kelak, beliau akan berjaga di tepi telaga yang airnya begitu jernih dan tiada duanya. Telaga yang hanya terdapat di surga, telaga Kautsar. Beliau yang berwajah teduh dan berseri-seri, akan menyambut sesiapa yang datang dan memberi minum dengan tangannya sendiri yang penuh berkah. Dan tiap sesiapa dihalau dari telaganya, beliau berseru, "ya Robbi, ummati ... ummati .... Ya Allah, umatku ... umatku ...."

Maka Allah menjawab, "engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu."

Beliau yang memberikan minum dari air telaga Kautsar itu adalah Muhammad Rasulullah saw, sesiapa yang diberinya minum adalah orang-orang beriman, yang mengambil suri tauladan dari kehidupan beliau yang penuh ujian dan berkah, yang mengundang decak kagum kawan maupun lawan, yang membuat sesiapa yang berdekatan dengannya merasa paling dicintai.

Bercermin bukanlah sesuatu yang salah. Dia hanya satu pintu untuk membuka kebaikan dan menutup kejelekan. Bahkan Rasulullah saw bersabda, "al mukminu mirr-atul mukmin. Seorang mukmin itu adalah cermin dari saudaranya."

Tak seperti Narcissus yang bercermin di air telaga. Narcissus dan telaganya, masing-masing hanya ujub pada diri sendiri dan tidak memperdulikan semua yang ada di sekelilingnya. Seorang mukmin dan mukmin lainnya senantiasa saling mengingatkan yang alpa, meluruskan yang keliru, menguatkan yang lemah dan menambahkan yang kekurangan. Dengannya ukhuwah disatukan dan cinta diikatkan di bawah naungan ridho dan ampunan Allah.

Seorang mukmin mestinya menggunakan penglihatannya untuk memahami ayat-ayat Allah, menggunakan pendengarannya untuk mendengar hukum-hukum Allah, dan menggunakan hatinya untuk memilih menaati syariat-syariat Allah. Dengan demikian dia tak hanya mengagumi keindahan lahiriahnya, namun juga berupaya menghiasi sisi-sisi batiniahnya dengan akhlaq mulia.

"Allahumma kammaa hassanta kholqii fa hassiin khuluqii. Aamiin."

#Demak, 28082015

Kyai Boestam Kertoboso

MENGENAL KYAI BOESTAM KERTOBOSO

MASA penjajahan yang berlangsung tak kurang dari 350 tahun lamanya di Nusantara ini, memberikan pilihan-pilihan terbatas bagi para penghuni kepulauan ini. Paling banyak ada tiga pilihan.

Pilihan pertama adalah melawan dengan atau tanpa senjata, termasuk dalam golongan ini adalah Sultan Agung Hanyokrokusumo, Cut Nyak Dien, dan masih banyak lagi yang kemudian memilih merdeka atau gugur di medan perang. Mereka inilah para pahlawan yang ikhlas berjuang dan mengorbankan seluruh apa yang dipunyai untuk membebaskan negeri dari cengkeraman penjajah.

Pilihan kedua adalah takluk dan bekerjasama dengan para penjajah, pilihan ini pun banyak diambil oleh raja-raja yang haus kekuasaan semisal Sunan Amangkurat I, II dan IV, juga masih banyak lagi. Mereka tidak malu menjadi begundal para penjajah dan memeras rakyat sendiri yang seharusnya mereka lindungi dan sejahterakan.

Pilihan ketiga adalah menolak tapi tak melawan. Pilihan ini banyak diambil oleh para rakyat kebanyakan yang memang merasa tidak punya daya dan kekuatan untuk melawan. 

Tetapi sebenarnya masih ada suatu situasi keempat, yang bukan termasuk pilihan, yakni tak memahami perbedaan-perbedaan kekuasaan yang ada dan menerimanya sebagai bagian dari takdir kehidupan. Keadaan yang disebut terakhir ini, situasi keempat, barangkali adalah yang paling banyak dijalani oleh rakyat Nusantara. Di masa kekuasaan kolonial maupun di masa kekuasaan bangsa sendiri. Di antara mereka ada yang terus berbuat sesuatu untuk negerinya, mengajarkan ilmu agama dan ilmu-ilmu lainnya dan mengajarkan budi pekerti dan kebaikan sepanjang hidupnya.

Pada masa dahulu, pernah ada seorang tokoh, kyai Jawa, seorang ulama yang disegani, bernama Ki Boestam/Kyai Boestam. Beliau bekerja untuk pemerintahan kolonial, namun juga berbuat banyak bagi rakyat jajahan, tak terkecuali bagi umat Islam. Dan, berperan untuk mengakhiri sebuah peperangan, yang kemudian melahirkan Kesultanan Yogyakarta  pada tahun 1755 dan bertahan sampai tahun 1949 sebagai suatu kerajaan, dengan pengakuan keistimewaan yang berlangsung hingga saat ini di masa Indonesia merdeka.

Tak banyak kisah yang mengulas tentang sejarah Kyai Boestam. Konon, beliau dilahirkan pada tahun 1681 dan meninggal di tahun 1759.

Kyai Boestam seorang yang pandai dalam bidang baca tulis dan sangat teliti, maka pada tahun 1708 beliau diangkat menjadi juru tulis kabupaten oleh Kanjeng Adipati Sosromenggolo ( Bupati Semarang pada waktu itu). Walaupun mengawali tugas dengan terpaksa, Kyai Boestam mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik sehingga gajinya terus dinaikkan. Sekian lama bertugas menumbuhkan sikap setia Kyai Boestam terhadap pemerintahan Belanda pada waktu itu. Perlu diketahui bahwa sejak tahun 1675, Pelabuhan Semarang dan wilayahnya berada dalam kekuasaan pemerintahan Belanda (VOC) sebagai hadiah atas bantuan VOC kepada Raja Mataram, Sunan Amangkurat I dalam memadamkan pemberontakan Adipati Trunojoyo.

Seiring berkembangnya waktu, Pelabuhan Semarang menjadi jalur yang ramai tempat perdagangan antar bangsa. Banyak para pedagang asal Cina, Arab, India, Pakistan dan Melayu yang kemudian memutuskan untuk menetap di Semarang. Mereka hidup berkelompok dalam satu tempat bersama rekan senegara asalnya, semakin lama semakin banyak dan membentuk kampung-kampung. Orang-orang Cina menetap di kawasan Pecinan dan Pedamaran. Orang-orang Arab, India dan Pakistan mendiami kawasan Pekojan. Orang-orang Melayu tinggal di Kampung Darat dan Kampung Melayu. Dan orang-orang pribumi menghuni Kampung Jawa.

Dalam pada itu, para ulama murid dan keturunan Ki Ageng Pandanaran (Sunan Tembayat) pun semakin beranak pinak dan menyebarluaskan ajaran Islam. Kanjeng Adipati Suromenggolo (Bupati Semarang pada waktu itu) kemudian mendirikan sebuah masjid besar untuk mewadahi aktifitas peribadahan umat Islam. Masjid itu terletak di kawasan Bubakan dan dikenal dengan nama Masjid Agung Semarang.

Pada tahun 1740 mulai pecah pemberontakan orang-orang Cina karena mereka merasa diperlakukan tidak adil. Para pribumi yang bekerja di kantor pemerintah ketakutan, mengundurkan diri dan lari keluar kota. Namun Kyai Boestam tetap bertahan, bahkan beliau juga mengerjakan tugas teman-temannya dengan baik. Beliau juga membantu pemerintah Belanda dalam menghadapi pemberontakan orang-orang Cina. Pada akhirnya tahun 1743 pemberontakan dapat dipadamkan. Lebih dari 10.000 orang Cina menjadi korban. Karena keikutsertaannya dalam menumpas pemberontakan, Kyai Boestam diberikan kedudukan sebagai 'onder regent' untuk wilayah Terboyo.

Kepada beliau juga diberikan sebidang tanah yang luas untuk keluarga di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Bustaman. Dengan kedudukannya sebagai 'onder regent' (wakil bupati/ bupati anom) beliau mempunyai hak dan wewenang setara dengan bupati dalam mengelola pemeeintahan di wilayahnya (Terboyo) dan mendapat gelar Kyai Ngabehi Kertoboso.

Pada tahun 1747, pecah pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi (adik Paku Buwono II) karena beliau tidak setuju dengan pengukuhan putra Paku Buwono II sebagai penggantinya dan bergelar Paku Buwono III. Perang berlangsung sangat lama dan membuat pemerintah Belanda kehilangan akal, apalagi Raden Mas Said ikut bergabung dengan Pangeran Mangkubumi dan sekutunya. Sedikit demi sedikit wilayah Mataram dikuasai Pangeran Mangkubumi dan orang-orangnya. Pangeran Mangkubumi sendiri memindahkan pusat pemerintahannya dari Yogya ke Magelang.

Kehilangan akal, pemerintah Belanda pun memanggil Kyai Boestam dan meminta sarannya. Kyai Boestam mengatakan pada pemerintah Belanda bahwa Pangeran Mangkubumi lebih pantas menjadi raja karena beliau putra Sunan Amangkurat IV dan adik Paku Buwono II. Agar peperangan tidak berkepanjangan, beliau juga menyarankan agar Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta di bawah Sunan Paku Buwono III dan Kasultanan Yogyakarta di bawah Pangeran Mangkubumi. Oleh pemerintah Belanda akhirnya dibuatlah surat pengakuan kekuasaan Pangeran Mangkubumi yang dicap dan ditandatangani oleh gubernemen. Dan surat ini harus disampaikan oleh salah seorang bupati kepada Pangeran Mangkubumi sendiri. Para bupati tidak berani menjalankan tugas ini dan beramai-ramai mengundurkan diri. Mereka lebih memilih mati dibunuh panglima/ dihukum pemerintah daripada dibunuh kaum pemberontak. Di luar dugaan, Kyai Boestam menawarkan diri untuk menunaikan tugas ini seorang diri. Gubernemen melepas kepergian Kyai Boestan yang memilih menyamar sebagai rakyat biasa. Beliau memakai baju dan celana gombor hitam dan ikat pinggang putih berbintik-bintik untuk menyelipkan surat yang harus diserahkan pada Pangeran Mangkubumi. Beliau bertemu dua orang pemotong rumput dari desa Jetak, kemudian membantu mereka memotong rumput dan membawanya masuk desa Jetak, Magelang.

Di Magelang, beliau ditangkap oleh pasukan Pangeran Mangkubumi dan membuat geger sehingga dibawa ke hadapan Pangeran Mangkubumi. Kepada Pangeran Mangkubumi beliau mengatakan bahwa beliau membawa surat dari gubernemen untuk Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi sangat senang membaca surat yang dibawa oleh Kyai Boestam. Beliau pun diberikan pakaian kebesaran dan diperlakukan penuh kehormatan. Perang dihentikan dan diperoleh kesepakatan sesuai Perjanjian Giyanti atau disebut juga Palihan Nagari pada tanggal 13 Februari 1755. Sebulan berikutnya, 13 Maret 1755, Pangeran Mangkubumi resmi memerintah di Kasultanan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I.

Atas jasa-jasanya, pemerintah Belanda memberikan banyak hadiah pada Kyai Boestam. Orang-orang Belanda memanggil beliau dengan sebutan 'Bapa Boestam.' Dalam catatan pemerintah Hindia Belanda, disebutkan tentang seorang Jawa, “terkenal sebagai Bapa Boestam yang telah menunjukkan banyak pengabdiannya yang tulus kepada Gubernemen." Dalam catatan itu –yang terjemahannya dilampirkan Mr Hamid Alqadri dalam bukunya mengenai Snouck Hurgronje, Penerbit Sinar Harapan, 1984, lebih jauh menyebutkan bahwa "Gubernemen, demi kehormatannya, menjanjikan, sepanjang matahari dan bulan memancarkan sinarnya dan pulau Jawa berada dalam kekuasaan pemerintah Hindia Belanda, akan membantu Kiai Boestam atau anak turunannya.

Kyai Boestam meninggal dunia pada tahun 1759 dalam masa jabatannya. Pada tahun 1773-1841, pemerintah Belanda mengangkat cucu-cucu Kiai Boestam menjadi Bupati Semarang. Salah satu cucu beliau yang juga dikenal luas oleh masyarakat Semarang adalah Sayyid Muhammad atau lebih dikenal dengan sebutan Kanjeng Sunan Terboyo.

Sejak kecil Sayyid Muhammad dididik oleh kakeknya dengan didikan yang kental dengan nilai-nilai agama. Pada masa mudanya, beliau berguru dan diangkat menjadi putra angkat Ki Ageng Pandanaran. Beliau juga menikah dengan Raden Ayu Suci Satiyah, putri dari Raden Mas Said atau lebih dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Menurut catatan sejarah, beliau diangkat menjadi Bupati Semarang pada tahun 1802 dengan gelar Kanjeng Adipati Surohadimenggolo V.

Berbeda dengan kakeknya yang mau bekerja sama dengan pemerintah Belanda, Kanjeng Sunan Terboyo lebih mendekat kepada para ulama dan membantu Pangeran Diponegoro melawan Belanda.

Beliau juga membangun kembali Masjid Kauman yang dulu dibangun Kanjeng Adipati Suromenggolo di daerah Kauman dan rusak berat karena kebakaran. Kanjeng Sunan Terboyo membangun kembali Masjid Kauman dan memindahkannya di alun-alun Kota Semarang. Bangunan ini masih tegak berdiri sampai sekarang walaupun berkali-kali mengalami pemugaran.

Dalam beberapa kisah diriwayatkan bahwa beliau sangat prihatin dengan perpecahan umat Islam akibat politik 'devide et impera' yang dimainkan pemerintah Belanda. Salah satu di antaranya termasuk perbedaa  penetapan awal bulan puasa. Dengan mencari masukan dari para ulama maka dibuatlah binatang rekaan untuk mengingatkan rakyatnya. Binatang rekaan ini diberi nama 'warak ngendog'. Berasal dari kata 'wara' (bahasa arab yang berarti menahan diri) dan 'ngendog/bertelur' sebagai simbol pahala. 'Warak ngendog' dipahami sebagai pesan bahwa apabila selama bulan puasa kita benar-benar menjaga diri dari nafsu dan perbuatan dosa, maka kita akan mendapatkan pahala.

Warak ngendok digambarkan dalam bentuk binantang dengan kepala dan leher berwarna merah, bersudut tegas, bertanduk, mata melotot dan mulut menganga menampakkan lidah yang menjulur dan gigi-gigi yang runcing menyeramkan. Ini melambangkan nafsu ammarah manusia yang rakus, pemarah dan suka sewenang-wenang. Badannya dan kakinya empat seperti kambing dengan bulu-bulu terbalik berwarna-warni. Dan ekor agak panjang dengan surai di ujungnya. Hal ini diartikan agar manusia merubah dirinya dari sifat-sifat yang buruk dirubah dengan sifat-sifat yang baik/halus. Di antara ujung kedua kaki belakangnya terdapat sebutir telur yang diyakini sebagai simbol pahala.

Pada sore hari menjelang bulan puasa, seluruh elemen masyarakat dikumpulkan. Imam masjid mengumumkan hari dimulainya bulan puasa, Kanjeng Bupati pun memukul bedug dan membunyikan meriam sebagai tanda dimulainya bulan puasa. Bunyinya dug-dug-der, sehingga kemudian dikenal dengan sebutan 'dugderan.' Kemudian 'warak ngendog' diarak mengelilingi alun-alun Kota Semarang dan berakhir di dwpan Masjid Kauman. Pesta rakyat dan pertunjukan diselenggarakan untuk memeriahkan penyambutan bulan puasa. Para pedagang pun mulai menggelar dagangannya. Lambat laun para pedagang berkumpul di sana dan alun-alun pun berubah menjadi Pasar Johar/Yaik.

Karena Kanjeng Sunan Terboyo lebih sering membantu Pangeran Diponegoro, pemerintah Belanda tidak menyukainya. Beliau pun ditangkap dan diasingkan di 'Polluck' sampai menemui ajalnya.  Sebelum ditangkap, pada tahun 1821 beliau mendirikan Masjid Terboyo di desa Tambakrejo. Cungkupnya berciri khas seperti cungkup Keraton Solo. Di dalamnya terdapat sebuah sumur tua yang konon dipercaya sebagai sumur keramat. Letaknya yang berdekatan dengan laut tidak menjadikan airnya asin, tetapi tetap berasa tawar seperti air yang mengalir dari pegunungan. Airnya pun diyakini bisa mengobati penyakit dan membalikkan sumpah orang yang berdusta.

Kanjeng Sunan Terboyo meninggal pada tahun 1834, jenazahnya dikembalikan kepada keluarganya dan dimakamkan di areal Masjid Terboyo. Setiap tahun diadakan haul untuk menghormati dan mendoakan beliau. Makamnya banyak diziarahi oleh para peziarah dari berbagai kota. Namun, apabila ada orang yang berziarah dengan niat jahat maka diyakini, penunggu makam yang berwujud harimau tak kasat mata akan mengusirnya. Masjid Terboyo sempat diperbaiki dan ditinggikan beberapa kali karena rob, namun pengunjungnya tak pernah berkurang.

Kanjeng Sunan Terboyo sangat memperhatikan pendidikan putra-putranya, beliau mengirim mereka kepada ulama-ulama pilihan. Kelak salah satu cucunya yang bernama Ibrahum bin Raden Thohir bin Adipati Surohadimenggolo mendirikan pondok Ibrohimiyah dan dikenal luas di kalangan masyarakat.

Raden Saleh kecil  disekolahkan pemerintah Belanda di Batavia agar tidak terbawa didikan pamannya (Kanjeng Sunan Terboyo) yang membantu Pangeran Diponegoro dan memusuhi Belanda. Raden Saleh tumbuh menjadi seniman hebat dan paham agama.

Sejak Kanjeng Sunan Terboyo ditangkap Belanda, tradisi dugderan dan warak ngendog pun hilang. Dan baru dihidupkan lagi pada jaman Kanjeng Adipati Aria Purbaningrat menjabat sebagai Bupati Semarang pada tahun 1881.

Dewasa ini warak ngendog tak hanya diyakini sebagai pesan bijak dalam mengisi bulan puasa. Warak ngendog juga diyakini sebagai perpaduan tiga budaya yang berbeda. Kepalanya digambarkan seperti naga yang siap menyemburkan api, binatang keramat orang-orang Cina. Badannya digambarkan seperti buroq, kendaraan yang dinaiki Rasulullah saw ketika Isro' dan Mi'roj ke Sidratul Muntaha. Bagian ini mewakili kultur orang- orang Arab. Dan kakinya digambarkan seperti kaki kambing. Bagian ini mewakili kultur masyarakat Jawa. 

Pada jaman Kanjeng Adipati Aria Purbaningrat, warak ngendok diarak dari Balai Kota Semarang menuju Masjid Kauman. Setelah itu, bedug baru ditabuh oleh Kanjeng Bupati dan meriam baru dibunyikan sebagai tanda dimulainya bulan puasa dengan disaksikan gubernemen dan masyarakat.

Pada tahun 1974, festival warak ngendog dimulai dari Masjid Baiturrohman Simpanglima menuju Balai Kota Semarang dan berakhir di Masjid Kauman.

Mulai tahun 2006, festival warak ngendok dimulai dari Masjid Baiturrohman Simpang lima dan Balai Kota, bertemu di depan Masjid Kauman dan diarak lagi menuju Masjid Agung Jawa Tengah. Festival dugderan pun digelar di Jalan Soekarno Hatta, tak jauh dari Masjid Agung Jawa Tengah.

Demikianlah sekelumit cerita sejarah tentang Kyai Boestam atau Kyai Ngabehi Boestam Kertoboso. Apa yang dilakukannya banyak menorehkan sejarah, demikian pula dengan keturunannya.

#Demak, 20082015

Referensi:
#Sejarah Semarang, wikipedia
#Dari Kebenaran Lahir Keadilan MenuSkip to content Home About Kisah Seorang Kiai Jawa di Masa Kolonial Belanda SEPTEMBER 22, 2009 BY SOCIOPOLITICA
#E-JOURNAL ELSAONLINE Posted on February 26, 2015 Sosial Kebudayaan Masyarakat Kota Semarang: Warak Ngendok sebagai Simbol Akulturasi dalam Tradisi Dugderan Oleh: Muhamad Zainal Mawahib

Pentingnya Ketahanan Keluarga dalam mewujudkan Ketahanan Nasional

Pentingnya Ketahanan Keluarga dalam Mewujudkan Ketahanan Nasional
Oleh : Titien SDF

Ketahanan nasional adalah kondisi dinamik suatu bangsa yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi dalam keuletan dan ketangguhan untuk mengembangkan kekuatannya dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan , baik yang datang dari dalam maupun luar untuk menjamin identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan Negara, serta perjuangan mencapai tujuan nasional.

Ketahanan nasional suatu bangsa, sedikit banyak dipengaruhi oleh kondisi rakyatnya, baik secara ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Suatu bangsa dikatakan kokoh apabila kondisi rakyatnya sejahtera, melek politik dan bersemangat untuk memajukan bangsa, beradab dan berbudaya, menghargai hak-hak sesama dan jauh dari perilaku yang nista.

Suatu bangsa bermula dari sebuah keluarga. Yang menyatukan berjuta-juta keluarga, saling bergandeng tangan dalam satu tujuan yang sama. Mengukir sejarah, berharap jejak yang terhormat dan mulia. Oleh karenanya, membangun ketahanannya harus dimulai dari keluarga.

Bagaimana dengan bangsa kita tercinta, Indonesia?

Konsepsi ketahanan nasional Indonesia adalah konsepsi pengembangan kekuatan nasional melalui pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang seimbang, serasi dan selaras dalam selurh aspek kehidupan secara utuh dan menyeluruh serta terpadu berlandaskan Pancasila, UUD 1945 dan wawasan nusantara.

Adapun asas-asas ketahanan nasional adalah :

1)    Asas kesejahteraan dan keamanan. Realisasi kondisi kesejahteraan dan keamanan dapat dicapai dengan menitik beratkan kepada kesejahteraan, tanpa mengabaikan keamanan. Sebaliknya, memberikan prioritas pada keamanan tidak boleh mengabaikan kesejahteraan. Baik kesejahteraan maupun keamanan harus selalu berdampingan pada kondisi apa pun. Dalam kehidupan nasional, tingkat kesejahteraan dan keamanan nasiona yang dcapai merupakana tolak ukur ketahanan nasional.

2)    Asas Komprehensif integral : Sistem kehidupan nasional mencakup segenap aspek kehidupan bangsa secara utuh, menyeluruh, terpadu dalam perwujudan persatuan dan perpaduan yang seimbang, serasi dan selaras dalam seluruh aspek kehidupan.

3)    Asas mawas diri ke dalam dan keluar. Mawas ke dalam bertujuan menumbuhkan hakikat, sifat dan kondisi kehidupan nasional itu sendiri berdasarkan nilai-nilai kemandirian yang proporsional untuk meningkatkan kualitas derajat kemandirian bangsa yang ulet dan tangguh. Hal ini tidak berarti bahwa ketahanan nasiona mengandung sikap isosiasi atau nasionalisme sempit. Mawas Diri ke luar bertujuan untuk dapat berpartisipasi dan ikut berperan mengatasi dampak lingkungan strategis luar negeri serta menerima kenyataan adanya saling interaksi dan ketergantungan dalam dunia internasional.

4)    Asas kekeluargaan; mengandung keadilan, kearifan, kebersamaan, kesamaan, gotong royong , tenggang rasa, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sudah kokohkah ketahanan nasional bangsa kita?

Ibarat tubuh manusia, dikatakan kokoh bila dia bisa berdiri tegak di atas dua kakinya. Tulang punggungnya kuat sehingga bisa menopang seluruh tubuhnya. Begitu pun dengan suatu bangsa, bisa dikatakan kokoh bila bisa berdiri di atas dua kaki sendiri. Ini bisa dilihat pada profil pemudanya sebagai tulang punggung negara.

Bagaimana profil pemuda kita, Indonesia? Bagaimana kondisi anak-anak kita? Bagaimana realitas calon pewaris negeri ini?

Dari data yang kita dapat dari BNN (Badan Narkotika Nasional) 2014, sebanyak 3,7 juta-4,7 juta penduduk Indonesia ditengarai pecandu narkoba (sebagian juga pengedar). Dengan kerugian materiil sebesar 48,2 triliun. Bayangkan jika dana sebesar itu digunakan untuk memberantas kemiskinan dan kebodohan.

Yang lebih membuat miris, hampir 70% pecandu narkoba adalah pelajar dan mahasiswa (usia 14-20an). Itu adalah 2,2% dari total jumlah penduduk Indonesia. Sebagian besar berasal dari keluarga broken home, di mana orang tuanya bercerai atau bermasalah dalam keluarga.

Seperti kita ketahui, anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga broken home/ bermasalah, cenderung mengalami dampak negatif, yaitu:
- gangguan psikologis, di antaranya adalah, anak-anak yang cenderung introvert/menutup diri, berjiwa labil, temperamental/mudah terbawa emosi atau bahkan cenderung apatis dan tidak peduli dengan sekelilingnya.
- masalah akademik dan turunnya prestasi karena turunnya semangat belajar/ malas.
-perilaku menyimpang, di antaranya adalah hilangnya konsep diri, berusaha eksis dengan melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji seperti bullying, merokok, minum miras, menggunakan narkoba, berjudi, mencuri, free sex (pergaulan bebas) dan perilaku seks yang menyimpang.

Dari Granat (Gerakan Nasional Anti Narkoba), diperoleh data bahwa:
# Tahun 2010, tercatat kasus narkoba yang melibatkan 531 pelajar dan 515 mahasiswa.
# Tahun 2011, tercatat kasus narkoba yang melibatkan 605 pelajar dan 607 mahasiswa.
# Tahun 2012, tercatat kasus narkoba yang melibatkan 695 pelajar dan 709 mahasiswa.
# Tahun 2013, tercatat kasus narkoba yang melibatkan 1121 pelajar dan 857 mahasiswa.

Dari data-data di atas, bisa kita lihat bahwa angka keterlibatan pelajar dan mahasiswa terus meningkat tajam setiap tahunnya.

Diperoleh pula data bahwa 50 orang meninggal setiap hari karena narkoba. Disinyalir 15 ribu orang meninggal setiap tahunnya karena narkoba. Dan di tahun 2015 ini, diprediksi  pecandu narkoba naik menjadi 2,8% dari total jumlah penduduk di Indonesia atau setara dengan 5,1 juta jiwa.

Di samping itu, dari data kementrian sosial tahun 2014, di dapat angka 5,4 juta anak-anak terlantar, tersebar di seluruh wilayah Indonesia. 420.000 anak jalanan juga tersebar di seluruh Indonesia, sedang program kementrian sosial yang diupayakan sejak 2011 baru dapat mengentaskan 80% anak jalanan.

Dari data-data ini bisa kita bayangkan keselamatan anak Indonesia makin mencemaskan.  Hampir tiap hari juga terjadi kasus terhadap anak berupa eksploitasi ekonomi, kejahatan seksual, kekerasan fisik dan mental, penculikan, perdagangan, kasus pedophilia, penelantaran, penganiayaan, bahkan anak sebagai korban pembunuhan.

Dari kementrian agama, diperoleh data:
* 20 tahun yang lalu, angka perceraian di Indonesia mencapai 7,5%
* 15 tahun yang lalu, angka perceraian meningkat menjadi 12,5%
* 5 tahun yang lalu, angka perceraian meningkat tajam menjadi 22%

* tahun demi tahun selalu meningkat

Ini adalah potret kegagalan sebuah keluarga dalam membangun eksistensi dan ketahanan dirinya. Dan, kegagalan sebuah keluarga yang diikuti oleh kegagalan keluarga-keluarga lainnya, bisa menjadi bom waktu yang mengancam ketahanan nasional negara kita.

Bayangkan, bila lebih dari 25% keluarga di negara ini merupakan keluarga gagal/bermasalah. Berapa banyak anak-anak yang terkena dampak negatifnya. Sudah barang tentu, ini merupakan ancaman yang serius bagi masa depan bangsa ini. Karena anak-anak kita, pemuda-pemuda kita, adalah tulang punggung negara. Di pundak merekalah nasib/ masa depan bangsa ini diletakkan. Kalau saat ini saja ketahanan nasional bangsa kita belum kokoh, apa jadinya masa depan bangsa kita di tangan pemuda-pemuda yang bermasalah.

Inilah yang harus kita pikirkan untuk masa depan generasi pewaris negeri ini. Apa yang bisa kita lakukan? Membuat program penguatan ketahanan keluarga adalah pilihan yang bijak.

Ketahanan keluarga yang dimaksud adalah kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik materiil dan psikis mental-spiritual guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir maupun kebahagiaan batin.

Disinyalir ada beberapa faktor yang menjadi pemicu utama berkembangnya masalah anak dan keluarga. Beberapa diantaranya yaitu pembangunan yang tidak merata antara pedesaan dan perkotaan, disharmoni keluarga dan pola pengasuhan yang salah serta pola dan gaya hidup. Bahkan tidak sedikit orang tua yang justru secara sengaja mendidik anaknya menjadi anak yang tidak baik, seperti anak jalanan, anak jambret/copet, dll. Untuk itu salah satu pola pembinaan yang harus diupayakan pemerintah adalah dengan terus berupaya melakukan bimbingan untuk mengokohkan ketahanan keluarga terhadap para keluarga pelaku anak-anak yang bermasalah serta kepada keluarga yang berpotensi mengikuti jejak ke arah itu. Dalam hal ini, setiap elemen masyarakat bisa dilibatkan. Karena ketahanan keluarga dibutuhkan oleh setiap lapisan masyarakat.

Ketahanan keluarga juga merupakan konsep dalam menjaga kehidupan rumah tangga Islami dari virus-virus kejahiliahan dan westernisasi. Dimana virus-virus ini dapat mengancam eksistensi nilai-nilai Islam dalam tatanan kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Kehidupan global yang begitu dahsyatnya dapat memberikan dampak negatif dalam kehidupan manusia, walau di sisi lainnya juga meberikan dampak positif. Oleh karena itu, terwujudnya ketahanan keluarga menjadi sesuatu yang amat penting agar kehidupan berkeluarga bisa berlangsung sebagaimana yang diharapkan. Baik harapan yang berusaha membangun kehidupan keluarga sejahtera dan menjadikannya samara (sakinah, mawaddah, wa rohmah) maupun harapan masyarakat yang ada di sekitarnya.

Secara operasional, keluarga sejahtera berkarakteristik keluarga yang dapat melaksanakan 8 fungsi keluarga, yakni :

(1) Fungsi Keagamaan.
Sebuah keluarga mestinya menjadi tempat di mana setiap penghuninya bisa beribadah secara benar dan nyaman. Orang tua memberikan pendidikan sesuai yang diajarkan risalah agama. Atau mengundang ulama/ahli agama untuk menambah pengetahuan agama.

Kesholehan seorang muslim tidak hanya bersifat pribadi. Dengan makna bahwa ia menjadi baik tidak hanya untuk dirinya sendiri dan kepentingan keluarganya saja tapi kesholehannya juga harus ditunjukkan dalam bentuk kesholehan sosial. Hal ini karena dalam Islam ada dua hubungan yang harus dijalani dan berjalan seimbang. Yaitu hubungan vertikal kepada Allah SWT yang disebut dengan “hablum minallah”, dan hubungan horizontal kepada sesama manusia dan alam sekitarnya yang disebut dengan “hablum minannas”.

(2) Fungsi Sosial Budaya
Sebuah keluarga mestinya menjadi tempat yang mengajarkan nilai-nilai sosial dan budaya. Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan, dan masing-masing daerah tempat tinggal kita memiliki adat dan budaya. Namun, tidak kemudian kita harus mengikuti adat dan budaya yang masuk ke ranah kita begitu saja. Namun harus memilih dan memilahnya agar tak menyelisihi syari'at agama.

Kehidupan masyarakat kita, baik dalam skala kecil maupun besar menghadapi begitu banyak persoalan yang menuntut pemecahan dan jalan keluar. Karena itu peran sosial keluarga di tengah masyarakat sangat diperlukan, sehingga keberadaannya dan kemanfaatannya bisa dirasakan oleh masyarakat banyak. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling besar kemanfaatannya bagi umat manusia.

(3) Fungsi Cinta Kasih
Sebuah keluarga mestinya menjadi tempat yang memberikan cinta dan kasih sayang pada setiap penghuninya. Menjadi surga dunia bagi setiap penghuninya, yang menjadikan mereka merasa nyaman dan ingin selalu pulang. Yang menjadikan mereka leluasa untuk saling curhat, berbagi dan saling menguatkan. Yang menjadikan semua masalah lebih cepat diketahui dan lebih cepat diselesaikan.

(4) Fungsi Melindungi
Sebuah keluarga hendaknya saling memenuhi hak dan kewajiban setiap penghuninya. Orang tua wajib memenuhi hak-hak anak (hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan kasih sayang, hak untuk menyatakan pendapat, hak untuk mendapatkan perlindungan, dll). Orang tua pun punya hak untuk didengar dan dipatuhi.

(5) Fungsi Reproduksi
Sebuah keluarga adalah sebuah tempat yang dihalalkan oleh agama untuk pemenuhan kebutuhan seksual. Di mana salah satu tujuan berkeluarga itu adalah untuk memperbanyak keturunan. Namun demikian, sebuah keluarga mestinya juga memberikan pengetahuan yang benar tentang fungsi seksual sesuai ajaran agama dan kesehatan. Semua ini diperlukan untuk melindungi anak-anak yang dilahirkan agar tak jatuh dalam pemahaman konsep seksual yang salah. Tidak melakukan kegiatan seksual yang menyimpang dan agar kesehatan alat reproduksinya terjaga dan terpelihara baik. Lebih-lebih pada anak perempuan, padanya nanti tertanggung tugas untuk melahirkan generasi. Dewasa ini >45% perempuan Indonesia berresiko terkena kanker serviks, dan itu setara dengan 52 juta jiwa. Celakanya, penyakit kanker serviks merupakan penyebab kematian no 1 bagi perempuan yang seringkali terlambat penanganannya. Karena baru disadari keberadaannya pada stadium II, III atau bahkan lebih parah lagi. Dari data 2009, didapatkan angka 3-4 kematian perempuan karena kanker serviks setiap jamnya.

(6) Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan
Sebuah keluarga mestinya menjadi tempat yang mengajarkan kepada anak-anak, bagaimana cara bersosialisasi/bermasyarakat yang baik, yang sesuai ajaran agama. Bagaimana cara kita menghormati orang lain yang berbeda agama dan berbeda keyakinan. Bagaimana cara kita menunjukkan kepedulian dengan hal-hal yang terjadi di masyarakat. Sebuah keluarga juga seharusnya menjadi tempat berbagi pengetahuan. Orang tua memilihkan sekolah yang baik untuk anak-anaknya. Menyediakan buku-buku pengetahuan yang diperlukan, baik yang berkaitan dengan pengetahuan agama maupun yang memuat pengetahuan ilmu terapan seperti ilmu hitung, ilmu alam, ilmu sejarah dan masih banyak lagi. Dan ada kalanya memanggil guru/pendidik ke rumah untuk mengajarkan suatu pengetahuan yang diperlukan anak, atau kemudian orang tua ikut belajar bersama.

(7) Fungsi ekonomi
Manusia tidak bisa lepas dari kebutuhan ekonomi, untuk pemenuhan kebutuhannya kepada pangan, sandang, papan dan kebutuhan terhadap sarana-sarana lainnya. Oleh karena itu, ayah berkewajiban mencari nafkah yang halal untuk memenuhinya. Ibu bertugas mengelola keuangan rumah tangga, namun bisa ikut berpartisipasi dalam mencarinya (nafkah)  dengan tidak mengabaikan tugasnya dalam rumah tangga dan sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya. Anak-anak diajarkan kejujuran, bersedekah dan membelanjakan sesuai kebutuhan. Semua ini diperlukan agar mereka nanti mendewasa dengan nilai-nilai kejujuran, amanah, tidak korupsi dan tidak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain dan negara.

(8) Fungsi Pembinaan Lingkungan.
Sebuah keluarga mestinya menjadi tempat untuk melakukan pembinaan lingkungan. Membiasakan anak-anak untuk peduli dan melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Juga memberi contoh dalam pemeliharaan kebersihan lingkungan dan fasilitas-fasilitas umum di sekitarnya.

Ketahanan keluarga hanya dapat tercipta apabila keluarga yang bersangkutan dapat melaksanakan 8 fungsi keluarga secara serasi, selaras dan seimbang. Sebuah keluarga tidak akan pernah mencapai tahapan sejahtera apabila fungsi-fungsi keluarga tersebut berjalan secara timpang atau beberapa fungsi tidak dapat dilaksanakan meskipun fungsi lainnya mampu berjalan secara mantap.
Di tengah pola kehidupan masyarakat yang cenderung hedonis dan permisif ini, menjadi suatu kewajiban bagi keluarga muslim untuk membangun ketahanan dalam keluarganya. Kehidupan masyarakat sekarang dengan tantangan yang sedemikian berat menuntut kehadiran keluarga yang memiliki ketahanan yang kokoh sehingga diharapkan akan lahir masyarakat dengan ketahanan pribadi yang baik.

Dengan melaksanakan hal tersebut, berarti keluarga telah memberikan kontribusi besar terhadap masyarakat dan bangsa, karena keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat dan bangsa itu sendiri.

Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang kokoh (ketahanan keluarganya kuat) akan tumbuh mendewasa menjadi pribadi-pribadi yang beriman, bertaqwa, jujur, peduli, mandiri dan bertanggung jawab. Sehingga, kelak mereka bisa memimpin negeri ini dengan amanah, penuh pertimbangan dalam mengambil kebijakan, tidak mementingkan kepentingan pribadi dan golongan tertentu, berusaha adil dan mendahulukan kemaslahatan umat, bangsa dan negara. Di tangan orang-orang yang demikianlah, pemerintahan dapat sampai pada ketahanan nasional yang kokoh dan berdaulat, mandiri secara ekonomi dan tidak bergantung pada bangsa lain. Juga berbudaya dan mengukir sejarah yang harum dan mulia.

Oleh karena itu, program penguatan ketahanan keluarga merupakan agenda penting yang harus dilakukan di seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya untuk masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah, tetapi juga untuk kaum elitnya ( golongan ekonomi kelas atas). Begitupun, program ketahanan keluarga ini perlu dimasukkan dalam setiap elemen masyarakat, di instansi-instansi, departemen, bahkan dalam PKK desa, rw dan rt.

Demikianlah, analisa ini kami sampaikan sebagai wujud tanggung jawab kami sebagai abdi masyarakat, sebagai warga negara Indonesia tercinta. Karena kami bagian dari kalian.

#Demak, 20 April 2015

Biodata penulis:
Titien Sumartini Dwifatmasari, ibu tiga orang putra dan lima orang putri. Alumnus ilmu keperawatan, profesi sebagai ibu rumah tangga yang mencoba menulis karena didorong oleh rasa keprihatinan yang mendalam atas kondisi karut marut negeri ini. Penulis bisa dihubungi via facebook di akun yang sama, via twitter dengan akun @f_titien, via email di alamat titienfatmasari@gmail.com atau via telpon di no 087733846543.