Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Rabu, 30 September 2015

Tersenyum itu (tidak) sulit

"Tersenyum itu (Tidak) Sulit"

Seorang gadis kecil masuk ke dalam rumah, dilemparnya tas dan sepatu ke sudut ruang,. Sebentar kemudian ia lari menghambur ke pelukan ibunya.

"Loh, salamnya mana, Sayang? Ayo salim dulu sama Bu Fatimah," tegur sang Ibu.

"Assalamu'alaikum!" serunya pendek. Diulurkannya tangannya tanpa menoleh.

"Wa'alaikumussalam, kok salimnya begitu?" tanya sang Ibu lagi, "sambil senyum dong. Entar dikira Mbak Aisy lagi marah."

"Emang lagi marah, sama temen."

"Yaaah, temennya kan enggak di sini. Masak Bu Fatimah sama Ibu kena marah juga? Ayooo, senyum dong. Tarik ujung bibir ke atas, nah ... gitu dong ...."

Mau tak mau gadis kecil itu mengikuti arahan ibunya. Jadilah sebentuk senyuman yang tentu akan lebih manis bila tak dilakukan secara terpaksa.

Memang, tersenyum itu sepertinya mudah sekali untuk dilakukan. Tinggal tarik ujung bibir kanan dan kiri kira-kira 1-2 cm ke arah atas. Jadi deh, sebuah lengkungan bulan sabit secara horisontal di wajah kita. Nyatanya, tak semudah itu.

Suatu ketika, saya pernah berpapasan dengan tetangga sepulang belanja. Karena sedang di atas motor, saya hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum. Di luar dugaan, beliau berhenti dan bertanya, "Bu, kenapa sih? Ibu-ibu kalau di rumah jarang banget tersenyum? Apalagi kalau pas tanggal tua ... Padahal kalau sama orang lain mudah sekali tersenyum ...."

Deg. Pertanyaan ini bagai sindiran bagi saya. Jangan-jangan suami juga merasakan hal yang sama. Wah ....

"Masak sih, Pak? mungkin karena biasanya masalah rame-rame bertamu pas tanggal tua," jawabku bercanda.

Peristiwa siang itu tak urung memaksa diri untuk mencermati kembali keseharian kita.

"Tabassumuka fii wajhi lii akhihi sodaqotun." Begitu hadits Rasul saw yang anak-anak paud pun hafal. Senyummu di wajahmu kepada saudaramu adalah sedekah. Alangkah indah, alangkah ringan dan mudah, tanpa biaya. Namun yang demikian itu ternyata tak semudah yang kita kira.

Mudah kok! Setiap hari saya tersenyum kok! Begitu mungkin alibi kita. Benar, tapi belum tepat.

Mari sama-sama kita cermati, kepada siapa kita tersenyum? Mungkin benar. Saat bertemu dengan saudara kita yang lama tak bertemu, bibir kita dengan mudah melukis senyuman. Saat bertemu guru-guru, murid-murid, atau teman-teman, kita bisa dengan mudah mengukir senyum. Saat di kantor, di pasar, di sekolah, di angkutan umum, atau bahkan di jalan, senyum itu tetap terasa lebih mudah. Tapi, semudah itukah pula kita mengukir senyum dalam keseharian kita di rumah?

Sebagian besar kaum ibu, mindsetnya sudah dipenuhi dengan tugas-tugas keseharian. Hampir selalu kita dapati mereka terbangun dengan pikiran-pikiran 'habis mengerjakan ini, nanti terus itu, terus bla bla bla enggak ada habisnya.' Hebatnya, kalau mereka nyapu di teras rumah, terus ada yang nyapa, mereka akan menyempatkan diri menoleh dan tersenyum, sekedar membalas sapaan. Pagi-pagi sedekah, pikirnya. Alhamdulillah. Tapi, saat kembali masuk rumah, senyum itu nyaris tak berbekas. Duh, kalau yang ini, kadang-kadang aku juga begitu sih, lupa.

Bapak-bapak tak jauh berbeda keadaannya. Banyak sekali yang terbangun dengan mindset 'sholat-olahraga-nyantai-kerja.' Alih-alih membantu pekerjaan rumah tangga, mereka lebih asyik dengan kesibukannya sendiri. Jadilah, banyak ibu rumah tangga yang berkeluh kesah, suaminya jarang di rumah, sekalinya di rumah kerjaannya makan, baca koran, jogging terus tidur. Bener gak sih?

Anak-anak dibangunkan dengan sederet perintah 'bangun terus begini, habis itu begitu, lalu bla bla bla.' Alhasil, senyum kita hanya dinikmati oleh orang lain, sedekah kita hanya dirasakan oleh orang lain. Tapi, rumah tangga kita sendiri tak beroleh sedekah. Padahal, keluarga kita lebih berhak untuk menikmati senyuman kita sebelum diberikan ke orang lain.

Saudaraku yang dirahmati Allah, terkadang kita menyepelekan hal seperti ini. Sebuah senyuman dapat membuka pintu-pintu rejeki, apalagi bila diawali dari rumah kita, kepada pasangan hidup kita, kepada anak-anak, keluarga kita.

Sebuah senyuman bisa berarti tanda kesyukuran. Karena hidup ini indah dan diatur oleh-Nya yang Maha Indah. Dan satu kesyukuran membuka pintu-pintu nikmat lainnya. Bukankah Allah berfirman, "la in syakartum la aziidanakum ...." Jika kalian bersyukur, pasti akan Kami tambahkan nikmat untuk kalian."

Baiklah, coba kita bandingkan seorang ibu yang mengawali harinya dengan senyuman dengan yang tidak. Ibu yang pertama membangunkan suami dan anaknya dengan suara lembut dan tersenyum saat mereka membuka mata. Ibu yang kedua membangunkan suami dan anaknya dengan tepukan dan muka cemberut. Manakah yang lebih disukai? Tentu saja yang pertama. Yang pertama akan menumbuhkan kasih sayang, yang kedua dapat menumbuhkan rasa enggan atau benci. Dan setiap sesuatu yang dilakukan dengan kasih sayang selalu berbuah hal positif. Ketika minta tolong akan dibantu, bertukar pikiran pun akan lebih nyaman. Begitu juga sebaliknya, sesuatu yang dilakukan dengan enggan, hasilnya pun biasanyanya negatif.

Senyuman itu mengikatkan hati, karenanya jangan pelit tersenyum untuk keluarga. Bukankah kita selalu menginginkan keluarga kita menjadi penyejuk mata? Kita sering memohon dan berdoa, "rabbana hablana min azwajiina wa dzurriyatiina qurrota 'ayunin waj 'alna lil mutaqiina immaman." Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Seperti apakah qurrota 'ayun (penyejuk mata) itu? Ialah yang bila dipandang menyenangkan, bila diperintah mentaati, bila kita tiada, dia menjaga rumah, harta dan nama baik kita. Ialah yang mengingatkan saat lupa, meluruskan saat keliru, yang menyembunyikan kekurangan kita dan memupuk kelebihan kita. Ialah yang selalu kita rindukan di dunia dan diharapkan berkumpul di akhirat. Dan seperti halnya kita, pasangan hidup kita pun mendamba hal yang sama. Maka mulailah dengan senyuman, jadilah penyejuk mata bagi keluarga maka dengan ijin Allah, mereka pun berusaha menjadi penyejuk mata bagi kita.

Tersenyumlah, karena senyum dapat menjaga dan memulihkan kesehatan seseorang. Dipandang dari segi kesehatan, tentu saja orang yang murah senyum akan jauh dari stress, jantungnya berdetak normal, peredaran darahnya juga mengalir dengan baik. Karena peredaran darahnya baik, oksigen untuk ptak juga tercukupi, berpikir pun akan lebih jernih. Pendek kata, orang yang terbiasa tersenyum akan terhindar dari berbagai ketegangan hidup yang biasanya dapat membuat seseorang jenuh dan mudah stress. Sebabnya karena senyuman mendorong hati seseorang menjadi lebih bahagia dan gembira. Dan sebagai akibatnya, selain menyehatkan dan menguatkan tubuh, juga akan membuat seseorang awet muda.

Tersenyumlah, karena senyum adalah ibadah. Para sahabat Rasulullah saw menggambarkan pribadi Rasulullah saw sebagai pribadi yang selalu berhias senyuman. Bila beliau marah, beliau pun tetap memelihara senyumnya.

Tersenyumlah, karena tersenyum itu tidak sulit dan baik untuk diri kita, dunia dan akhirat.

#Demak, 02092015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar