RUMAH HANTU
Adzan maghrib sayup-sayup terdengar berkumandang. Ifa dan ketiga sahabatnya masih harus berjalan melewati sawah untuk sampai ke kampung mereka.
"Kita kemalaman nih," keluh Ifa.
"Iya nih, gegara Fatim nih," sambung Hanan.
"Kok aku?" tanya Fatimah bingung, "kita kan sepakat pulang bareng."
"Iya, tapi kan beli bandonya bisa besok aja. Mana milihnya lama banget lagi," gerutu Hanan lagi.
"Iya deh, maaf. Bentar lagi juga sampe kok," sahut Fatimah.
"Udah, jangan dibahas. Dzikir aja yuk, udah maghrib nih, gelap lagi ... menakutkan tau," sela Syifa yang sedari tadi diam.
Ifa dan ketiga sahabatnya memandang sekeliling. Hanya sawah tanpa penerangan. Di ujungnya ada sebuah rumah tua yang terletak terpisah dengan rumah-rumah lainnya. Anak-anak kampung menyebutnya rumah hantu.
Rumah itu sudah terlihat, membuat mereka mempercepat jalannya, sesekali terdengar dzikir terucap dari lisan mereka. Tepat di depan rumah itu terdengar suara mendesah dari dalam rumah, membuat bergidik. Tanpa dikomando pun, mereka bergegas ambil langkah seribu.
"Stop ... stop ... hoss hoss ... capek tau ...hoss hoss," keluh Fatimah yang paling lambat larinya.
Ketiga temannya bergegas menoleh ke belakang. Beruntung, mereka sudah cukup jauh meninggalkan rumah menakutkan itu dan sampai di ujung kampung.
"Iya ... hhh, aku juga capek nih. Udahan larinya yuk. Bentar lagi sampe rumah," sahut Ifa mengiyakan, "eh, teman-teman, tadi itu suara apa ya?"
"Tau ah. Jangan-jangan benar, di rumah itu ada hantunya," sergah Hanan bergidik.
"Masak sih? Kata Pak Ustadz kita enggak boleh takut sama hantu," kata Syifa.
"Lah, kamu sendiri larinya paling kenceng, Syif," tegur Hanan.
"Aku sih enggak takut hantu, tapi takut gelap," kata Syifa membela diri.
"Halah, sama aja, sama-sama takut," ledek Hanan lagi.
"Enggak! Oke, besok kita buktikan pas siang-siang," tantang Syifa.
"Ogah! Aku enggak mau!" seru Hanan.
"Aku mau! Aku juga pengen tau ada apa di dalam rumah itu," kata Ifa.
Mereka pun berpisah menuju rumah masing-masing. Syifa dan Ifa saling berjanji untuk bertemu besok siang di rumah menakutkan itu.
###
Keesokkan harinya, Hanan dan Fatimah mendatangi rumah Ifa.
"Fa, kamu enggak usah berangkat ke rumah hantu itu deh. Paling-paling Syifa juga enggak berangkat. Dia kan penakut," bujuk mereka, "entar kenapa-napa loh."
"Enggak ah. Aku kan udah janji sama Syifa. Janji harus ditepati kan? Enggak boleh kayak orang munafik. Lagipula, aku juga penasaran sama itu rumah," jawab Ifa.
"Kalau ada apa-apa gimana?" tanya Hanan.
"Kita teman kan? Syifa juga teman kita kan? Kita hadapi bersama-sama saja. Berempat lebih baik daripada sendirian kan?" tutur Ifa yang kemudian diiyakan oleh dua temannya. Mereka pun beriringan bersepeda ke rumah Syifa untuk selanjutnya menuju rumah yang katanya berhantu itu.
Sesampai di sana, mereka menyandarkan sepeda dengan hati-hati dekat pohon besar yang tumbuh di dekat rumah itu. Mereka mengendap-endap menghampiri jendela dan pintu yang tertutup rapat. Dari celah-celah lubang angin, mereka melihat keadaan di dalam.
"Uh ... uh ... uh ...," samar-samar terdengar suara orang merintih. Ifa dan Syifa memutari rumah, mencari celah yang lebih besar. Ternyata di bagian belakang rumah terdapat pintu yang setengah terbuka. Dengan hati-hati, mereka pun berjingkat masuk ke dalam.
Rumah itu terlihat berdebu dan tak terawat. Pada salah satu ruangannya terlihat sebuah dipan kecil di pojok ruangan. Ada seorang nenek terbaring di sana, rupanya dialah sumber suara rintihan yang mereka dengar.
"Pulang yuk, Fa. Takut ...," ajak Syifa.
"Tanggung nih, samperin yuk!" ajak Ifa. Kakinya terus melangkah mendekati sang nenek.
"Heh! Kenapa kalian di sini! Mau mencuri ya!" teriak seseorang di belakang mereka.
Ifa dan Syifa serempak menoleh ke belakang. Terlihat seorang anak lelaki sebaya mereka di sana. Di tangannya ada sebuah kail dan bubu tempat menaruh ikan hasil tangkapan. Anak itu terlihat sangat marah.
"Eh, bukan! Kami bukan pencuri," kata Syifa, "cuma mau bertamu ...."
"Kenapa enggak ketuk pintu depan? Malah nyelonong masuk lewat pintu belakang?" tukas anak laki-laki itu sambil mengacung-acungkan tongkat kailnya.
"Habisnya ... ini rumah seperti rumah kosong, tapi aneh ...," celetuk Ifa.
"Kalian memang keterlaluan!" teriak anak laki-laki itu bersiap memukul.
"An ... to ... ja ... ngan ... hhh ...," kata nenek itu tiba-tiba.
"Kalian lihat itu! Ibuku sakit, tidak bisa bangun dari tempat tidur. Tidak ada yang peduli! Makanya, pintu rumah kami selalu terlihat tertutup ...," kata anak lelaki yang dipanggil Anto itu.
"Sudah dibawa ke dokter?" tanya Ifa sambil menghampiri nenek itu.
"Kami tak punya biaya," kata Anto lirih, "aku memancing ikan setiap hari, lalu kujual di pasar untuk beli makanan. Itu pun pas-pasan."
"Sudah berapa lama nenek sakit?" tanya Syifa, "kebetulan papaku dokter."
"Sudah hampir setahun. Tapi kami juga tidak bisa beli obat," kata Anto sambil menatap ibunya yang terbaring lemah.
"Aku akan bilang pada orang tuaku, beliau pasti bisa membantu," kata Ifa mantap, "kami pulang dulu, nanti kami kembali. Maaf kalau kami tadi lancang."
"Ya, terima kasih atas niat baik kalian. Maaf kalau aku kasar tadi," jawab Anto.
Syifa dan Ifa pun bergegas kembali ke tempat mereka meletakkan sepeda. Di sana sudah ada Hanan dan Fatimah yang menunggu dengan harap-harap cemas.
"Lama amat sih. Kita jadi takut, jangan-jangan kalian dibawa hantu beneran!" seru mereka berdua.
"Hus! Kita punya tugas penting nih. Habis ini, Hanan ikut pulang Syifa dan ajak papanya Syifa ke sini. Fatimah ikut aku pulang dan meyakinkan orang tuaku agar mau kemari," kata Ifa.
"Memangnya kenapa?" tanya Hanan dan Fatimah.
"Sudah ikut aja, ceritanya panjang," jawab Syifa.
Pada hari itu juga, orang tua Syifa dan Ifa mengunjungi rumah itu. Dengan dibantu Pak RT dan warga, mereka membawa ibunya Anto ke rumah sakit dan bergantian menjaganya.
"Maaf kalau selama ini kami tidak tahu tentang kalian. Kami kira rumah itu rumah kosong," kata Pak RT mewakili warga.
"Karena kami tidak berani memberitahu Bapak-bapak," kata Anto yang diiyakan oleh ibunya.
Sejak saat itu, julukan 'rumah hantu' tidak lagi terdengar. Ifa dan teman-temannya jadi suka bermain dan berkumpul di sana. Apalagi di belakangnya ada sungai yang airnya jernih dan banyak ikannya. Rumah itu pun terlihat terawat dengan kehadiran mereka di sana karena mereka tak segan membantu membersihkan halamannya. Anto menjadi anak asuh papanya Syifa sehingga bisa memulai lagi sekolahnya yang tertunda.
#Demak, 28092015