Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Senin, 28 September 2015

Bocah Pelukis Ka'bah

"Bocah Pelukis Ka'bah"

"Apelnya satu kilo ya, Bu!" seru Asih tanpa memandang penjualnya. Tangan dan matanya sibuk memilih buah yang ingin dibelinya. Ibu penjual buah itu mengangguk ramah, dengan telaten memunguti apel yang diulurkan Asih.

"Astaga, Tian mana ya?!" seru Asih saat menyadari tangan Tian tak lagi memegang tangannya. Dia pun menoleh ke kanan-kiri dengan panik, "Bu! Lihat anak saya ndak? Balita laki-laki yang pake kaus merah. Tadi ada di sebelah saya."

Ibu penjual buah meletakkan apel-apel di atas timbangan. Perlahan pandangannya berputar melewati kios dagangannya. Seluruh tubuh gempalnya seakan ikut menoleh. "Itu bukan, Bu?" tanyanya sambil menunjuk di tepian trotoar.

"Sebentar ya, Bu," kata Asih sambil berjalan mengikuti arah tangan si Ibu penjual buah.

"Tian!" panggilnya.

Balita itu menoleh sekilas, "itu!" serunya menunjuk pada sederet lukisan yang berjajar di tepian trotoar. Asih memperhatikannya, semua tentang Ka'bah dari berbagai sisi.

"Lukisan-lukisan ini punya siapa?" tanyanya pada seorang anak laki-laki yang dilihatnya sedang duduk di sana. Umurnya mungkin baru 14 tahun, matanya bulat, hidung mancung,  tubuhnya putih gempal.

Anak itu tersenyum malu-malu, "saya, Bu," katanya lirih, "Ibu mau beli?"

"Itu, Ma! Itu!" rengek Tian.

"Enggak ada lukisan yang lain?" tanya Asih.

Bocah gempal itu menggeleng, "saya enggak bisa melukis yang lain," gumamnya.

"Melukis Ka'bah itu tidak mudah loh. Benar? Ini lukisan kamu sendiri?" tanya Asih tidak percaya.

"Ini Bu, apelnya. Jadi dibeli enggak?" tanya Ibu penjual buah menghampiri mereka, "Re! Yang sopan sama pembeli!"

"Ibu kenal dia?" tanya Asih sanbil menunjuk bocah gempal di dekatnya.

"Namanya Reandra Abdullah, anak saya, Bu," jawab si Ibu sopan, "dia memang cuma melukis Ka'bah."

"Kenapa, Re? Biasanya anak seusiamu suka melukis apa yang mereka lihat dalam film-film," tanya Asih lagi.

"Dia enggak pernah liat film, Bu. Kami enggak punya TV, sengaja ... TV sekarang acaranya banyak yang tidak baik, bisa merusak akhlak," jawab si Ibu, "dia lahir di Mekkah, waktu saya jadi TKI. Saya bawa pulang dengan penuh harapan, suatu saat nanti dia bisa kembali ke sana, tidak sebagai TKI, tapi sebagai tamu Allah."

"Jadi itu yang membuatmu hanya menjadikan Ka'bah sebagai obyek lukisanmu?" tanya Asih pada Re. Bocah itu mengangguk.

"Iya, almarhum Abah banyak mengoleksi foto-foto Ka'bah. Keindahan dan keagungannya menumbuhkan rinduku untuk mengunjunginya."

Deg. Satu dentuman mampir di jantung Asih, teringat olehnya ajakan suaminya, "kita berhaji tahun ini ya, Dik. Bertiga,  sama Tian."

"Terlalu repot bawa balita berhaji, Mas. Entar aja, kalau Tian sudah dewasa," tolaknya.

"Mumpung masih ada kesempatan," bisik suaminya.

Dan kini, dia melihat kerinduan yang begitu membuncah akan bertamu di rumah-Nya di mata Re, anak 14 tahun.

"Kau benar, Mas," gumamnya.

"Gimana, Bu?" tanya si Ibu penjual buah.

"Eh, oh. Iya ..., ini uangnya. Sekalian beli lukisan yang itu!" tunjuk Asih pada sebuah lukisan di samping Tian. Diulurkannya 5 lembar ratusan ribu rupiah untuk membayar semuanya.

Di ujung jalan, seorang laki-laki menyambut mereka dengan mesra.

"Kau benar, Mas. Mumpung masih ada kesempatan," bisik Asih di telinganya. Laki-laki itu menatapnya heran.

"Bocah pelukis Ka'bah itu telah menyadarkanku," bisiknya lagi.

#Demak, 31082015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar