Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Jumat, 07 Agustus 2020

Amalan Ahli Surga atau Ahli Neraka? (bagian ke 2)

 

Oleh: Titien SDF


Golongan selanjutnya atau golongan kelima adalah golongan yadun sahiyyun. Yaitu golongan orang-orang yang suka berinfak, dermawan dan ringan tangan dalam membantu kesulitan orang lain.  Golongan yang seperti ini sangat dicintai Allah seperti yang difirmankan-Nya dalam QS Ali Imron ayat  133-134,


} وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ


Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,


{134} الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.


Sebaliknya, golongan yang keenam diisi oleh orang-orang yang bakhil/ kikir sehingga tidak disukai sesamanya. Juga tidak disukai Allah dan Rasul-Nya.


Orang yang bakhil/ pelit adalah orang yang menahan (hartanya) dengan tidak menunaikan (hak dan kewajiban) yang berkaitan dengan harta yang dimilikinya tersebut. 


Sedangkan orang kikir adalah orang yang tamak/rakus terhadap apa-apa yang sebenarnya bukan miliknya, dan tentu saja ini lebih parah dari bakhil, karena orang yang kikir itu selalu berambisi terhadap apa-apa yang dimiliki oleh orang lain, dan dirinya tidak menjalankan apa-apa yang Allah wajibkan kepadanya, seperti zakat, berinfak, dan hal-hal lain yang sudah selayaknya dia lakukan (dengan harta yang dimilikinya)


Orang yang bakhil dan kikir akan Allah masukkan ke dalam golongan orang-orang yang merugi di akhirat kelak. Adapun bagi mereka yang dermawan dan mau menginfakkan hartanya di jalan Allah, maka mereka akan tergolong orang-orang yang beruntung. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ


“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS At-Taghabun [64]: 16) atau (QS Al-Hasyr [59]: 9)


Di dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa makna dari ayat ini adalah barangsiapa yang selamat dari sifat kikir, maka sungguh ia tergolong ke dalam orang-orang yang beruntung dan sukses. Kemudian beliau membawakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


إِيَّاكُمْ وَالظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ


“Berhati-hatilah kalian terhadap perbuatan dzalim, karena sesungguhnya dzalim itu merupakan kegelapan yang paling gulita kelak di hari kiamat. Dan berhati-hatilah kalian dari sifat kikir, karena sifat kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir pulalah yang telah membuat mereka tega menumpahkan darah dan menghalalkan kehormatan sesama mereka.” (HR Muslim)


Golongan yang ketujuh adalah golongan orang-orang yang berhati bersih dan lembut, penuh dengan ketaqwaan. 


Mereka senantiasa menyucikan hatinya dari sifat-sifat iri, dengki, khianat, dan sifat-sifat buruk lainnya. Dengan demikian mereka dimudahkan Allah melihat cahaya petunjuk-Nya dan diteguhkan-Nya pula untuk senantiada berjalan di atas jalan-Nya yang lurus.


Ada begitu banyak balasan yang dijanjikan Allah untuk orang-orang yang bertaqwa, baik yang disegerakan-Nya di dunia maupun yang ditahan-Nya untuk kehidupan akhirat (surga). Di antaranya tertuang dalam firman-Nya,


QS Ath Tholaq ayat 2, yang artinya," Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar."


QS Ath Tholaq ayat 3,  "Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya."


QS Ath Tholaq ayat 4 ,"Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya."


QS Ath Tholaq ayat 5, "Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya."


Sedangkan golongan yang kedelapan, adalah golongan orang-orang yang membiarkan hatinya dipenuhi dengan kotoran dan keburukan,  hatinya pun menjadi gelap dan keras, sehingga tak dapat melihat cahaya petunjuk-Nya dan tersesat dari jalan-Nya.أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَة


ِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ


Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allâh hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang hatinya keras)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allâh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.


Saudaraku di jalan Allah, setiap kita pasti menginginkan surga sebagai tempat kembali. Karenanya, berhati-hatilah dalam berucap, beramal dan bertindak, jangan sampai amalan yang kita lakukan justru menyeret diri kita ke dalam neraka, na'udzuu billahi min dzalik. Allah memperingatkan kita dengan firmannya dalam QS Al-Ĥashr ayat 18 , 


" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."


Alhaqu min robbikum, walaa takuunana minal mumtariin, "kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu dan janganlah kalian termasuk golongan yang meragukannya." Wallahu a'lam bishshowab.


#Demak, 080817

Amalan Ahli Surga atau Ahli Neraka? (bagian 1)



Sesungguhnya, dunia ini diisi oleh delapan golongan manusia,  empat di antaranya termasuk golongan yang mengerjakan amalan ahli surga, in syaa Allah, dan empat di antaranya termasuk golongan yang mengerjakan amalan ahli neraka, na'udzuu billahi min dzalik.


Golongan yang pertama adalah golongan orang-orang yang senantiasa menampakkan wajah yang cerah, berseri-seri, kapan pun, di mana pun dan dalam situasi apapun. 


Nabi Muhammad saw bersabda:

((لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئاً وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ))

"Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun (hanya dengan) engkau menemui saudaramu dengan wajah yang berseri-seri."[1]

Dan telah diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhu ketika beliau ditanya tentang al-birr (kebajikan), beliau menjawab:

وَجْهٌ طَلْقٌ وَلِسَانٌ لَيِّنٌ

"Wajah yang berseri-seri dan ucapan yang lembut."


Maka berseri-serinya wajah akan memasukkan kegembiraan kepada orang dan menarik simpati dan kecintaan, serta menyebabkan lapangnya dadamu dan dada orang yang menemuimu.

 

Hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang senantiasa bersyukur atas nikmat Tuhannya. Maka Allah pun menambah karunia-Nya berlipat ganda, juga banyak teman dan saudara. Banyak kemudahan pula yang akan didapatnya. Ini sejalan dengan firman Allah ta'ala dalam QS Ibrahiim ayat 7,


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".


Golongan yang kedua adalah kebalikan dari golongan yang pertama, yaitu golongan orang-orang yang suka bermuka masam.


Jika engkau bermuka masam, suka merengut, sungguh manusia akan lari darimu. Mereka tidak akan merasa lapang untuk duduk bersamamu atau berbicara denganmu. Dan mungkin saja engkau bisa dihinggapi oleh kerumitan-kerumitan kejiwaan, atau mungkin saja engkau akan terserang penyakit yang berbahaya yaitu stress. Maka kelapangan dada dan bermanis muka termasuk ramuan yang paling berkhasiat untuk mencegah penyakit ini.


Berkaitan dengan muka masam ini, Rasulullah saw pernah ditegur langsung oleh Allah swt dalam QS Abasa. Dalam surat ini dikisahkan bagaimana Allah menegur Rasulullah saw yang bermuka masam kepada Abdullah Umi Maktum, seorang sahabat yang buta matanya. Subhanallah, bermuka masam kepada orang buta saja tidak diperbolehkan, apalagi kepada saudara kita yang tidak buta. 


Orang yang bermuka masam juga akan membuka celah kepada orang lain untuk berprasangka buruk sehingga tumbuh bibit-bibit kebencian dan permusuhan yang sangat merugikan dan dibenci Allah.


Golongan ketiga adalah lisan yang lembut dan berkata baik.


'Mulutmu harimaumu', pepatah ini memang sangat tepat. Lisan/ lidah, adalah organ kecil yang sering menggelincirkan pemiliknya ke jurang permasalahan, di dunia maupun di akhiirat. Karenanya, Nabi saw berpesan kepada kita,


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ


Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam.


Hadits ini menjelaskan beberapa hal, antara lain:

*  termasuk kesempurnaan iman adalah perkataan yang baik dan diam dari selainnya.

* berlebih-lebihan dalam pembicaraan dapat menyebabkan kehancuran, sedangkan menjaga pembicaraan merupakan jalan keselamatan.

Islam sangat menjaga agar seorang muslim berbicara apa yang bermanfaat dan mencegah perkataan yang diharamkan dalam setiap kondisi.

* tidak memperbanyak pembicaraan yang diperbolehkan, karena hal tersebut dapat menyeret kepada perbuatan yang diharamkan atau yang makruh.

* wajib berbicara saat dibutuhkan, khususnya jika bertujuan menerangkan yang haq dan beramar ma’ruf nahi munkar.


Diam bisa mengendalikan lidah dan menjadikan pikiran lebih konsentrasi. Luqman Al Hakim berkata,


“Diam itu hikmah, namun sedikit orang yang melakukannya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Siapa yang menjamin bagiku apa yang ada diantara dua tulang dagunya (lidah) dan apa yang ada diantara dua kakinya (kemaluannya), maka aku menjaminnya surga.


Sebaliknya, golongan keempat adalah golongan orang-orang yang suka berbicara buruk/ kotor ataupun mengajak kepada kemaksiyatan/ kejahatan. Amalan yang seperti ini hendaklah dihindari sejauh-jauhnya karena bisa menyeret pelakunya pada bencana.


#Demak, 060817