Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Jumat, 07 Agustus 2020

Amalan Ahli Surga atau Ahli Neraka? (bagian 1)



Sesungguhnya, dunia ini diisi oleh delapan golongan manusia,  empat di antaranya termasuk golongan yang mengerjakan amalan ahli surga, in syaa Allah, dan empat di antaranya termasuk golongan yang mengerjakan amalan ahli neraka, na'udzuu billahi min dzalik.


Golongan yang pertama adalah golongan orang-orang yang senantiasa menampakkan wajah yang cerah, berseri-seri, kapan pun, di mana pun dan dalam situasi apapun. 


Nabi Muhammad saw bersabda:

((لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئاً وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ))

"Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun (hanya dengan) engkau menemui saudaramu dengan wajah yang berseri-seri."[1]

Dan telah diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhu ketika beliau ditanya tentang al-birr (kebajikan), beliau menjawab:

وَجْهٌ طَلْقٌ وَلِسَانٌ لَيِّنٌ

"Wajah yang berseri-seri dan ucapan yang lembut."


Maka berseri-serinya wajah akan memasukkan kegembiraan kepada orang dan menarik simpati dan kecintaan, serta menyebabkan lapangnya dadamu dan dada orang yang menemuimu.

 

Hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang senantiasa bersyukur atas nikmat Tuhannya. Maka Allah pun menambah karunia-Nya berlipat ganda, juga banyak teman dan saudara. Banyak kemudahan pula yang akan didapatnya. Ini sejalan dengan firman Allah ta'ala dalam QS Ibrahiim ayat 7,


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".


Golongan yang kedua adalah kebalikan dari golongan yang pertama, yaitu golongan orang-orang yang suka bermuka masam.


Jika engkau bermuka masam, suka merengut, sungguh manusia akan lari darimu. Mereka tidak akan merasa lapang untuk duduk bersamamu atau berbicara denganmu. Dan mungkin saja engkau bisa dihinggapi oleh kerumitan-kerumitan kejiwaan, atau mungkin saja engkau akan terserang penyakit yang berbahaya yaitu stress. Maka kelapangan dada dan bermanis muka termasuk ramuan yang paling berkhasiat untuk mencegah penyakit ini.


Berkaitan dengan muka masam ini, Rasulullah saw pernah ditegur langsung oleh Allah swt dalam QS Abasa. Dalam surat ini dikisahkan bagaimana Allah menegur Rasulullah saw yang bermuka masam kepada Abdullah Umi Maktum, seorang sahabat yang buta matanya. Subhanallah, bermuka masam kepada orang buta saja tidak diperbolehkan, apalagi kepada saudara kita yang tidak buta. 


Orang yang bermuka masam juga akan membuka celah kepada orang lain untuk berprasangka buruk sehingga tumbuh bibit-bibit kebencian dan permusuhan yang sangat merugikan dan dibenci Allah.


Golongan ketiga adalah lisan yang lembut dan berkata baik.


'Mulutmu harimaumu', pepatah ini memang sangat tepat. Lisan/ lidah, adalah organ kecil yang sering menggelincirkan pemiliknya ke jurang permasalahan, di dunia maupun di akhiirat. Karenanya, Nabi saw berpesan kepada kita,


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ


Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam.


Hadits ini menjelaskan beberapa hal, antara lain:

*  termasuk kesempurnaan iman adalah perkataan yang baik dan diam dari selainnya.

* berlebih-lebihan dalam pembicaraan dapat menyebabkan kehancuran, sedangkan menjaga pembicaraan merupakan jalan keselamatan.

Islam sangat menjaga agar seorang muslim berbicara apa yang bermanfaat dan mencegah perkataan yang diharamkan dalam setiap kondisi.

* tidak memperbanyak pembicaraan yang diperbolehkan, karena hal tersebut dapat menyeret kepada perbuatan yang diharamkan atau yang makruh.

* wajib berbicara saat dibutuhkan, khususnya jika bertujuan menerangkan yang haq dan beramar ma’ruf nahi munkar.


Diam bisa mengendalikan lidah dan menjadikan pikiran lebih konsentrasi. Luqman Al Hakim berkata,


“Diam itu hikmah, namun sedikit orang yang melakukannya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Siapa yang menjamin bagiku apa yang ada diantara dua tulang dagunya (lidah) dan apa yang ada diantara dua kakinya (kemaluannya), maka aku menjaminnya surga.


Sebaliknya, golongan keempat adalah golongan orang-orang yang suka berbicara buruk/ kotor ataupun mengajak kepada kemaksiyatan/ kejahatan. Amalan yang seperti ini hendaklah dihindari sejauh-jauhnya karena bisa menyeret pelakunya pada bencana.


#Demak, 060817

Tidak ada komentar:

Posting Komentar